Anda di halaman 1dari 33

GAYA ANTARMOLEKUL

Molekul tersusun atas atom-atom yang terikat dengan ikatan kovalen. Ikatan kovalen ini
merupakan gaya intramolekul (intramolecular force) yang mengikat atom-atom menjadi satu
kesatuan. Gaya intramolekul ini menstabilkan molekul secara individual. Satu molekul dengan
molekul lain yang sejenis atau berbeda dapat mengadakan interaksi atau tarik-menarik. Gaya
tarik menarik antara molekul-molekul itu disebut dengan gaya antarmolekul atau gaya
intermolekul (intermolecularforce). Gaya antarmolekul lebih lemah daripada gaya intramolekul.
Sebagai contoh, energi penguapan 1 mol air adalah 45 kj, sedangkan energi pemutusan ikatan OH dalam 1 mol air adalah 930 kj. Gaya antarmolekul berhubungan dengan sifat-sifat fisika zat
seperti energi penguapan, titik lebur, titik didih, tekanan uap, dan kekentalan zat.
Gaya antarmolekul dapat terjadi antara: (1) molekul nonpolar dengan molekul nonpolar; (2)
molekul polar dengan molekul nonpolar; dan (3) molekul polar dengan molekul polar. Gaya jenis
pertama dapat terjadi antara molekul-molekul nonpolar yang sama, seperti antara molekulmolekul CC14 dalam cairan karbon tetraklorida, atau antara molekul-molekul nonpolar yang
berbeda, seperti antara molekul CC14 dan molekul CS2 dalam campuran cairan karbon
tetraklorida dengan cairan karbon disulfida. Gaya jenis kedua dapat terjadi antara molekul cisl,2-dikloroetilena dan molekul trans-l,2-dikloroetilena dalam campuran cairan cis-l,2dikloroetilena dan cairan trans-l,2-dikloroetilena. Gaya jenis ketiga dapat terjadi antara molekulmolekul polar yang sama seperti antara molekul-molekul cis-l,2-dikloroetilena dalam cairan cisl,2-dikloroetilena, atau antara molekul-molekul polar yang berbeda, seperti antara molekul cisl,2-dikloroetilena dan molekul 1,1-dikloroetilena dalam campuran cairan cis-l,2-dikloroetilena
dengap cairan 1,1-dikloroetilena. Gaya jenis pertama disebut dengan gaya dipol sesaat-dipol
induksian atau gaya London; gaya jenis kedua disebut dengan gaya dipol-dipol induksian; gaya
jenis ketiga disebut dengan gaya dipol-dipol. Ikatan hidrogni merupakan gaya dipol-dipol yang
terkuat. Semua gaya antarmolekul tersebut secara kolektif disebut dengan gaya van der Waals.
Ikatan hydrogen termasuk dalam gaya dipol-dipol sehingga ikatan hydrogen merupakan
salah satu dari gaya ven der Waals. Akan tetapi ikatan hydrogen kadang-kadang dianggap tidak
termasuk dalam gaya van der Waals karena kekuatannya cenderung paling besar dibandingkan
dengan gaya-gaya antarmolekul yang lain.

Gambar 1. Pembagian Gaya Antar Molekul


Gaya London
Terjadinya Gaya London antara molekul-molekul monoatomik dapat dijelaskan dengan dua
versi. Versi pertama, karena elektron selalu dalam keadaan bergerak maka pada suatu saat yang
sangat singkat dapat terjadi polarisasi rapatan elektron. Bentuk awan elektron dianggap
mengalami deviasi dari simetri bola. Hal ini menyebabkan pusat muatan positif dan pusat muatan
negatif memisah dan molekul dikatakan memiliki dipol sesaat (instantaneous dipol) atau dipol
sekejap seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Pembentukan Dipol Sesaat pada Molekul Nonpolar

Dalam waktu yang sangat singkat dipol sesaat ini akan hilang tetapi kemudian timbul
kembali. Timbul dan hilangnya dipol sesaat ini dianggap terjadi secara terus-menerus dan
bergantian. Apabila di dekatnya ada molekul nonpolar sejenis atau berbeda, maka molekul
dengan dipol sesaat ini akan menginduksi (mengimbas) molekul tersebut sehingga terjadi dipol
induksian (induced dipol) atau dipol imbasan seperti ditunjukkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Terjadinya Gaya London antara Molekul-Molekul Nonpolar, Versi Pertama


Setelah pada dua molekul tersebut terbentuk dipol sesaat dan dipol induksian, maka antara
keduanya terjadi gaya tarik elektrostatik yang disebut dengan gaya London.
Versi kedua, apabila dua molekul monoatomik nonpolar dengan elektron-elektron dalam
kedudukan simetris saling mendekati, maka terjadi gaya tarik inti molekul sebelah kanan
terhadap elektron-elektron pada molekul sebelah kiri (Gambar 4 atas) sehingga kedudukan
elektron-elektron pada molekul sebelah kiri tidak lagi simetris dan padanya terjadi dipol sesaat
(Gambar 4 tengah). Pada kondisi tersebut awan elektron molekul kiri tidak lagi memiliki simetri
bola. Molekul kiri dengan dipol sesaat ini menginduksi molekul sebelah kanan sehingga
kedudukan elektron-elektron pada molekul sebelah kanan tidak lagi simetris dan padanya terjadi
dipol induksian (Gambar 4 bawah). Pada kondisi tersebut awan elektron molekul kanan tidak
lagi memiliki simetri bola. Setelah pada dua molekul tersebut terbentuk dipol sesaat dan dipol
induksian, maka antara keduanya terjadi gaya London.

Gambar 4.
London
MolekulVersi Kedua

Terjadinya Gaya
antara
Molekul Nonpolar,

Pada

waktu

terjadi

polarisasi,

elektron-elektron dan

inti

dalam suatu molekul

atom

mengalami

perpindahan

dari

posisi rata-

ratanya. Mudah atau

tidaknya

dipol sesaat atau dipol

induksian

terbentuk pada suatu

molekul

tergantung

kemudahan

awan

untuk

mengalami polarisasi.

Kemudahan

awan elektron suatu

molekul

untuk

dinyatakan

dengan

kepada
elektronnya

dipolarisasi

kebolehpolaran (polarizabilities, dengan simbol dan satuan m3). Dalam hal ini semakin
mudah awan elektron suatu molekul dipolarisasi, maka kebolehpolaran molekul tersebut
semakin tinggi pula. Kebolehpolaran suatu molekul tergantung pada jumlah dan bentuk awan
elektronnya. Untuk molekul-molekul dengan bentuk yang sama, bertambahnya jumlah
elektron menyebabkan pengaruh inti atom terhadap awan elektron semakin lemah, awan
elektron semakin lunak (soft) sehingga makin mudah dipolarisasi dan kebolehpolarannya
semakin tinggi seperti ditunjukkan dengan data pada Tabel 1.
Tabel 1
Kebolehpolaran a(10~31 m3) beberapa Molekul

Bentuk
Zat
Bentuk
Zat

He

Bola

2,0

H2

Linear

8,2

Ar

Bola

16,6

N2

Linear

17,7

CH4

Tetrahedral

26,0

CC14 Tetrahedral

105

CO2

Linear

26,3

Jumlah elektron dalam suatu molekul berbanding lurus dengan massa molekulnya oleh
karena itu kebolehpolaran suatu molekul semakin tinggi dengan bertambahnya massa
molekulnya. Kenaikan kebolehpolaran molekul menyebabkan semakin mudahnya molekul
tersebut membentuk dipol sesaat dan dipol induksian sehingga gaya London yang terjadi
semakin kuat.
Adanya gaya London antara molekul-molekul nonpolar menyebabkan pada waktu
peleburan dan pendidihan diperlukan sejumlah energi untuk memperbesar jarak antara
molekul-molekul nonpolar. Semakin kuat gaya London antara molekul-molekul, semakin
besar pula energi yang diperlukan untuk terjadinya peleburan dan pendidihan.
Kebolehpolaran molekul-molekul yang berisomer tergantung kepada bentuknya. Dalam
hal ini semakin tinggi tingkat simetri suatu molekul, maka awan elektronnya akan semakin
sulit untuk dipolarisasi sehingga kebolehpolarannya semakin rendah, akibatnya dipol sesaat
pada molekul tersebut semakin sulit terbentuk. Molekul n-pentana dan neopentana
merupakan senyawa yang berisomer tetapi dengan bentuk awan elektron yang berbeda.
Molekul n-pentana yang berbentuk lurus awan elektronnya dapat dianggap berbentuk
silinder, sedangkan neopentana yang berbentuk tetrahedral awan elektronnya dapat dianggap
berbentuk bola. Karena bola lebih simetri daripada silinder, maka awan elektron n-pentana
lebih mudah dipolarisasi daripada awan elektron neopentana, kebolehpolaran n-pentana lebih
tinggi daripada kebolehpolaran neopentana. Akibatnya pada molekul n-pentana lebih mudah
terbentuk dipol sesaat atau dipol induksian dibandingkan pada molekul neopentana.
Mudahnya dipol sesaat dan dipol induksian terbentuk akan memperbesar kekuatan gaya
London yang terjadi.
Untuk molekul yang berisomer, selain ditentukan oleh kemudahan terbentuknya dipol
sesaat, terbentuknya dipol induksian juga ditentukan oleh luas permukaan sentuhan antara
molekul-molekul. Semakin luas permukaan sentuhan (kontak) antara molekul-molekul, maka
induksian semakin mudah terjadi sehingga dipol induksian makin mudah terbentuk. Apa pun
posisi molekul-molekul saat bersentuhan, luas permukaan sentuhan antara molekul-molekul
5

n-pentana selalu lebih besar dibandingkan luas permukaan sentuhan antara molekul-molekul
neopentana seperti ditunjukkan salah satu posisinya pada Gambar 5. Hal ini menyebabkan
timbulnya dipol induksian pada molekul n-pentana cenderung lebih mudah dibandingkan
pada molekul neopentana. Baik dipol sesaat maupun dipol induksian lebih mudah terbentuk
pada molekul-molekul n-pentana dibandingkan pada molekul-molekul neopentana.
Akibatnya gaya London antara molekul-molekul n-pentana lebih kuat dibandingkan gaya
London antara molekul-molekul neopentana, sehingga titik didih n-pentana lebih tinggi
dibandingkan titik didih neopentana.

Gambar 5. Persentuhan antara (a) Dua Molekul n-Pentana; dan (b) Dua Molekul Neopentana
Secara umum dapat dinyatakan bahwa titik didih senyawa-senyawa yang berantai lurus lebih
tinggi dibandingkan titik didih senyawa-senyawa bercabang isomernya.
Gaya London merupakan gaya yang lemah. Kekuatannya 1 sampai 10 kJ/mol. Meskipun
demikian gaya ini amat penting, karena tanpa adanya gaya London senyawa-senyawa nonpolar
tidak mungkin dapat dicairkan

Gaya Dipol-Dipol Induksian


6

Apabila molekul polar dan molekul nonpolar berada pada jarak tertentu, molekul polar
dapat menginduksi molekul nonpolar sehingga pada molekul non-polar tersebut terjadi dipol
induksian. Setelah proses induksian berlangsung, maka antara kedua molekul tersebut terjadi
gaya tarik elektrostatik yang disebut gaya dipol permanen-dipol induksian atau gaya dipoldipol induksian. Dipol permanen pada molekul polar biasanya hanya disebut dipol.
Terjadinya gaya dipol-dipol induksian ditunjukkan dengan Gambar 6.

Gambar 6. Terjadinya Gaya Dipol-Dipol Induksian antara Molekul Polar


dengan Molekul Nonpolar
Gaya Dipol-Dipol

Dalam fase cair, molekul-molekul polar cenderung membentuk susunan di mana pusat
muatan positifya dekat dengan pusat muatan negatif molekul-molekul polar yang lain.
Sebaliknya, pusat muatan negatifnya dekat dengan pusat muatan positif molekul-molekul
polar yang lain seperti ditunjukkan pada Gambar 7.

Gambar 7. Gaya Tarik dan Gaya Tolak


antara Molekul-Molekul Polar

Dalam posisi ini gaya tarik antara molekul-molekul lebih kuat daripada gaya tolaknya.
Karena dalam fase cair molekul-molekul selalu bergerak dan bertumbukan satu dengan yang
lain, maka posisi molekul-molekul selalu berubah namun pusat muatan positif dari satu
molekul tetap berdekatan dengan pusat muatan negatif molekul-molekul yang lain, begitu
juga sebaliknya. Kenaikan energi termal molekul menyebabkan tumbukan antara molekulmolekul semakin sering terjadi dan susunan molekul-molekul menjadi semakin acak
(random). Kekuatan gaya tarik antara molekul-molekul semakin berkurang, sedangkan
kekuatan gaya tolaknya bertambah, akan tetapi kekuatan gaya tarik antara molekul-molekul
masih lebih tinggi daripada kekuatan gaya tolaknya. Pada waktu temperatur mencapai titik
didih cairan maka kekuatan gaya tarik dan gaya tolak adalah seimbang, cairan mulai
mendidih.
Dalam fase padat susunan molekul-molekul polar lebih teratur daripada susunannya
dalam fase cair. Dalam kristal molekuler, molekul-molekul yang ada tersusun secara teratur
dan berulang. Dari banyak susunan teratur dan berulang ini, dua di antaranya diberikan pada
Gambar 8.

Gambar 8. Dua Model Susunan Teratur dan Berulang Molekul-Molekul Polar


dalam Kristal Molekuler

Susunan (a) cenderung diadopsi oleh molekul-molekul polar yang ramping, sedangkan
susunan (b) cenderung diadopsi oleh molekul-molekul polar yang gemuk. Kekuatan gaya
dipol-dipol adalah 3 sampai 4 kj/mol (McMurry & Fay, 2004:391).
Ikatan Hidrogen

Ikatan hidrogen merupakan gaya dipol-dipol yang paling kuat. Energi ikatan hidrogen
adalah antara 4 sampai 45 kj/mol (Lee, 1991: 255), jauh lebih lemah daripada energi ikatan
ionik atau ikatan kovalen yang besarnya antara 400 sampai 500 kj/mol. Meskipun energi
ikatan hidrogen lemah, akan tetapi ikatan ini sangat penting untuk kehidupan organisme di
dunia. Seandainya antara molekul-molekul air tidak terjadi ikatan hidrogen, maka pada
tekanan 1 atm air akan mendidih pada suhu sekitar -100C sehingga tidak memungkinkan
akan terjadinya kehidupan organisme di bumi.
Ikatan hidrogen terjadi apabila atom hidrogen terikat oleh dua atau lebih atom lain (pada
umumnya hanya dua atom) yang memiliki keelektronegatifan tinggi seperti atom N, O, dan
F. Andaikata A dan B merupakan atom-atom yang memiliki keelektronegatifan tinggi, dan
atom hidrogen terikat pada kedua atom tersebut seperti ditunjukkan pada model di bawah ini.
AHB
9

Apabila jarak A-H Iebih_pendek dibandingkan jarak H-B, maka ikatan A-H merupakan
ikatan kovalen. Ikatan H-B merupakan ikatan hidrogen apabila jaraknya lebih kecil dari
jumlah jari-jari van der Waals atom H dan atom B. Sebaliknya, bila jarak H-B sama atau
lebih besar dari jumlah jari-jari van der Waals atom H dan atom B, maka jarak H-B disebut
jarak untuk interaksi tanpa ikatan (nonbonded interaction). Pada Tabel 2 diberikan jari-jari
van der Waals beberapa unsur.
Tabel 2. Jari-jari van der Waals (vdw) beberapa unsur
Unsur rVDW (pm)
Unsur rVDW (pm)
Unsur rVDW (pm)
H

120

152

190

170

180

Br

200

155

160

212

Pada ion HF2- , ikatan antara atom H dengan salah satu atom F merupakan ikatan kovalen,
sedangkan ikatan dengan atom F yang lain adalah ikatan hidrogen. Dari hasil eksperimen
diperoleh jarak antara atom H dengan dua atom F tersebut sama, yaitu 227 pm dengan sudut
ikatan F-H-F sebesar 180 dan pada atom H terdapat pusat simetri. Hal itu terjadi karena adanya
resonansi antara ikatan kovalen dan ikatan hidrogen dalam ion tersebut.

Gambar 9. Resonansi ikatan hidrogen pada ion HF2

Penggolongan Ikatan Hidrogen


Berdasarkan jarak antara atom hidrogen dengan dua atom yang memiliki
keelektronegatifan tinggi yang diikatnya, ikatan hidrogen dibagi menjadi dua jenis, yaitu
ikatan hidrogen simetrik dan ikatan hidrogen asimetrik. Ikatan hidrogen simetrik terjadi bila
dua atom yang memiliki keelektronegatifan tinggi yang diikat oleh atom hidrogen
merupakan atom yang sama dan jarak antara atom hidrogen dengan dua atom tersebut juga
10

sama. Ikatan hidrogen simetrik teramati pada ion HF 2- yang terdapat dalam garam-garam
KHF2 dan NaHF2. Ikatan jenis ini juga teramati pada dimer asam format, asam asetat dan
asam benzoat. Ikatan hidrogen simetrik ini dapat terjadi karena adanya resonansi antara
ikatan kovalen dan ikatan hidrogen dalam dimer tersebut.

Gambar 10. Resonansi Ikatan Hidrogen pada Asam Format, Asetat, dan Benzoat
Ikatan hidrogen asimetrik terjadi bila ikatan-ikatan antara atom hidrogen dengan dua atom
lain yang memiliki keelektronegatifan tinggi memiliki panjang yang berbeda. Ikatan ini teramati
pada dimer air, (H2O)2/ dan dimer hidrogen fluorida, (HF)2/seperti ditunjukkan pada Gambar 1l.

Gambar 11. Ikatan Hidrogen Asimetrik pada


(a) (H20)2 dan (b) (HF)2

Berdasarkan banyaknya molekul yang terlibat dalam pembentukan ikatan hidrogen,


ikatan hidrogen dibagi menjadi dua jenis, yaitu ikatan hidrogen intramolekul (intramolecular
hidrogen bonding) dan ikatan hidrogen antarmolekul (intermolecular hidrogen bonding).
Ikatan hidrogen intramolekul terjadi dalam satu molekul. Contohnya, ikatan hidrogen
intramolekul dalam o-nitrofenol, o-nitroanilina, dan o-metil salisilat seperti ditunjukkan pada
Gambar 12.

11

Gambar 12. Ikatan Hidrogen Intramolekul pada


(a) o-Nitrofenol, (b) o-Nitroanilina, dan (c) o-Metil Salisilat
Pada beberapa senyawa seperti amonium hidroksida dan turunannya dapat terjadi ikatan

hidrogen antarion amonium dengan ion hidroksil, seperti ditunjukkan pada Gambar 13.

Gambar 13. Ikatan Hidrogen dalam Amonium Hidroksida dan Turunannya

Ikatan hidrogen tersebut merupakan ikatan hidrogen intramolekul, akan tetapi mungkin lebih
tepat bila disebut ikatan hidrogen antarion.
Ikatan hidrogen antarmolekul terjadi antara 2 molekul atau lebih. Contohnya, ikatan
hidrogen pada dimer air dan dimer hidrogen fluorida yang diberikan pada Gambar 11, dan
antara sebuah molekul air dengan empat molekul air yang lain yang ada di dekatnya seperti
ditunjukkan pada Gambar 15.
Terdapatnya Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen terdapat pada zat-zat dengan fase gas, cair, atau padat. Ikatan hidrogen
juga terdapat pada biomolekul, seperti pada protein dan asam nukleat
Ikatan Hidrogen Pada Zat Dengan Fase Gas
Contoh-contoh zat dengan fase gas yang memiliki ikatan hidrogen antarmolekul adalah
dimer H2O, dimer HF, H3NHF, dan heksamer HF, (HF)6 seperti ditunjukkan pada Gambar
14.

12

Gambar 14. H3N--HFdan(HF)6

Ikatan Hidrogen Pada Zat Dengan Fase Cair


Contoh-contoh zat dengan fase cair yang memiliki ikatan hidrogen antarmolekul
adalah air dan alkohol seperti ditunjukkan pada Gambar 15, dan Gambar 16.

Gambar 15. Ikatan Hidrogen pada Air

Gambarl 16. Ikatan Hidrogen pada Alkohol


Pada air cair, setiap molekul air dapat membentuk maksimal empat ikatan hidrogen
antarmolekul dengan empat molekul air yang berada di dekatnya. Dua ikatan hidrogen terbentuk
melalui dua atom H dan dua ikatan hidrogen yang lain terbentuk melalui dua pasangan elektron
bebas yang terdapat pada atom oksigen. Panjang ikatan hidrogen pada air cair sekitar 177 pm.

13

Dalam fase cair setiap molekul alkohol dapat membentuk dua ikatan hidrogen antarmolekul
dengan dua molekul alkohol yang berada di dekatnya, masing-masing melalui atom oksigen dan
atom hidrogennya seperti ditunjukkan pada Gambar 16. Dalam fase cair amina primer dan amina
sekunder juga dapat membentuk dua ikatan hidrogen antarmolekul, masing-masing melalui atom
nitrogen dan atom hidrogennya seperti ditunjukkan pada Gambar 17.

Gambarl 17. Ikatan Hidrogen pada Amina Primer (R = H atau R' = H) dan Amina Sekunder\
Amina tersier tidak dapat membentuk ikatan hidrogen antarmolekul karena tidak memiliki atom
hidrogen yang terikat pada atom nitrogen.
Ikatan Hidrogen Pada Zat dengan Fase Padat
Contoh-contoh zat dengan fase padat yang memiliki ikatan hidrogen adalah padatan HF
pada suhu -125C, NaHCO3, padatan asam borat, es, hidrat, dan klatrat. Molekul-molekul HF
dalam fase padat membentuk ikatan hidrogen antarmolekul seperti ditunjukkan pada Gambar 18.

Gambar 18. Ikatan hidrogen pada padatan HF


Ion-ion bikarbonat dalam padatan NaHCO3 membentuk ikatan hidrogen seperti ditunjukkan
pada Gambar 19.

Gambar 19. Ikatan Hidrogen antara Ion-Ion Bikarbonat


14

Ikatan hidrogen antara molekul-molekul HF pada padatan HF dan antara ion-ion bikarbonat pada
garam NaHCO3 merupakan ikatan hidrogen 1-dimensi karena mengarah pada satu arah.
Ikatan hidrogen antara molekul-molekul B(OH)3 pada padatan asam borat merupakan ikatan
hidrogen 2-dimensi seperti ditunjukkan pada Gambar 20.

Gambar 20. Ikatan Hidrogen 2-Dimensi pada Padatan Asam Borat

Gambar 21. Ikatan Hidrogen 3 Dimensi pada Es

Ikatan hidrogen pada es merupakan ikatan hidrogen 3-dimensi dengan struktur seperti
ditunjukkan pada Gambar 21 (a) dan (b). Setiap molekul air pada es membentuk 4 ikatan
hidrogen antarmolekul dengan empat molekul air yang ada di dekatnya. Molekul-molekul air
melalui ikatan-ikatan hidrogen antarmolekul tersebut membentuk jaringan 3 dimensi
(Gambar 21 a dan b) yang di dalamnya terdapat lorong-lorong (Gambar 21 b) berupa ruang

15

kosong. Adanya ruang kosong ini menyebabkan es menjadi lebih ringan dari air sehingga
bisa mengapung di atas permukaan air.

Hidrat
Garam-garam tertentu yang anionnya berukuran besar sering kali di dalam kristalnya
terdapat molekul-molekul air seperti CuSO 4.5H2O, Mg(ClO4)2.6H2O, FeSiF6.6H2O, dan
Na4XeO6.8H2O. Garam-garam yang mengandung molekul-molekul air tersebut disebut dengan
hidrat yang cenderung bersifat stabil dan memiliki bentuk kristal tertentu. Molekul-molekul air
yang ada di dalam hidrat disebut air hidrat atau air kristal. CuSO 4, Mg(ClO4)2, FeSiF6 dan
Na4XeO6 tak terhidrat adalah amorf atau tidak memiliki bentuk kristal. Apabila struktur dari
senyawa yang mengandung molekul-molekul air tersebut belum diketahui, maka penulisan
rumus senyawanya adalah dengan menuliskan rumus dari garam, diikuti dengan titik, lalu jumlah
molekul air diikuti dengan rumus dari air. Apabila struktur dari hidrat telah diketahui, maka
rumus senyawa dapat dituliskan secara lebih jelas, maksudnya anion dan molekul air yang
berlaku sebagai ligan harus ditulis secara berbeda letaknya dengan anion dan molekul-molekul
air yang tidak berlaku sebagai ligan. Sebagai contoh struktur dari CuSO 4.5H2O berdasarkan studi
dengan metode difraksi sinar-X adalah seperti pada Gambar 22.

Gambar 22. Struktur dari CuSO4.5H2O


Dari Gambar 21 diketahui bahwa ion sulfat berlaku sebagai ligan dengan dua atom oksigen
terikat pada atom pusat yang berbeda, empat molekul air juga berlaku sebagai ligan dan sisanya
bukan ligan sehingga penulisan rumus senyawanya adalah [Cu(O 2SO2)(H2O)4].H2O. Molekul air
yang bukan ligan terikat melalui empat ikatan hidrogen dengan atom-atom oksigen dari ion
16

sulfat dan atom-atom hidrogen dari dua molekul air. Adanya molekul air yang kelima tersebut
menyebabkan tolakan antara ion-ion sulfat yang ukurannya besar dapat diminimalkan. Fakta ini
menunjukkan bahwa molekul air kelima pada senyawa tersebut berfungsi untuk menstabilkan
kisi kristal yang ada.
Apabila hidrat tersebut dipanaskan, maka molekul air kelima akan terlepas lebih dulu dari
hidrat karena ia hanya berikatan hidrogen, empat molekul air yang lain terikat pada atom pusat
dengan ikatan kovalen koordinasi dengan kekuatan ikatan yang lebih besar daripada kekuatan
ikatan hidrogen. Oleh karena itu, empat molekul air tersebut baru lepas dari hidrat setelah
molekul air yang kelima lepas. Peristiwa lepasnya molekul-molekul air dari hidrat tersebut
disebut dengan pelapukan atau efloresensi.
Klatrat
Molekul-molekul air dapat membentuk berbagai polihedra, salah satunya adalah pentagonal
dodekahedral seperti diberikan pada Gambar 23.

Gambar 23. Pentagonal Dodekahedral dari 20 Molekul Air


yang Berikatan Hidrogen Antarmolekul
Pentagonal dodekahedral tersusun atas 20 molekul air yang terhubung melalui ikatan-ikatan
hidrogen antarmolekul. Dalam membentuk polihedra tersebut setiap molekul air membentuk tiga
ikatan hidrogen antarmolekul melalui dua atom hidrogen dan sebuah pasangan elektron
bebasnya, atau melalui satu atom hidrogen dan dua pasangan elektron bebasnya sehingga setiap
molekul air yang terdapat pada puncak (apex) polihedra memiliki sisa sebuah atom H atau
sebuah pasangan elektron bebas seperti yang terlihat pada Gambar 24 (a) dan (b).

17

Gambar 24. Dua Macam Molekul Air pada Puncak Pentagonal Dodekahedral yang Dapat
Berikatan Hidrogen Antarmolekul dengan Molekul Air pada Pentagonal Dodekahedral di
Dekatnya (a) Melalui Atom H dan (b) Melalui PEB
Melalui sisa atom H dan sisa pasangan elektron bebas tersebut suatu polihedra dapat
membentuk ikatan hidrogen dengan polihedra-polihedra di dekatnya. Oleh karena itu, dalam zat
padat polihedra-polihedra tersebut dapat membentuk suatu struktur atau bangunan besar yang di
dalamnya banyak terdapat ruang kosong. Molekul-molekul tamu (guest molecules) seperti Ar,
Kr, Xe, CH4, C12, dan molekul-molekul kecil yang lain dapat menempati sebagian ruang-ruang
kosong (voids) tersebut sehingga diperoleh suatu material yang disebut klatrat (clathrat). Dalam
klatrat polihedra-polihedra berfungsi sebagai molekul inang (host), sedangkan molekul-molekul
kecil di dalamnya berlaku sebagai tamu, sehingga klatrat termasuk salah satu dari golongan
senyawa inang tamu (guest-host compound). Jumlah ruang kosong yang ditempati oleh
molekul-molekul tamu bervariasi sehingga formula klatrat yang diperoleh bervariasi pula. Salah
satu contoh formula dari klatrat adalah 6X.46H 2O (X=molekul tamu). Mengingat molekulmolekul tamu tersebut cenderung merupakan molekul-molekul nonpolar, maka gaya yang
bekerja antara tamu dan inangnya adalah gaya dipol-dipol induksian.
Polihedra-polihedra yang terdapat pada klatrat dapat tersusun atas molekul-molekul air
dengan jumlah yang berbeda sehingga volume ruang kosong yang terdapat di dalam polihedra
juga bervariasi. Oleh karena itu, secara praktis klatrat dapat digunakan untuk menyerap molekulmolekul dengan ukuran tertentu.
Gaya London Terjadi Antara Molekul-Molekul Polar Maupun Nonpolar
Perbandingan kekuatan gaya London, gaya dipol-dipol, dan ikatan hidrogen diberikan pada
Tabel 3.

18

Tabel 3.
Perbandingan Kekuatan Gaya Antamolekul
Gaya antarmolekul Kekuatan (kj/mol)
Gaya London

1-10

Gaya dipol-dipol

3-4

Ikatan hidrogen

4-45

Antara molekul-molekul polar tidak hanya terjadi gaya dipol-dipol. Seandainya antara
molekul-molekul HBr atau molekul-molekul HC1 dalam cairannya hanya terjadi gaya dipoldipol maka titik didih HC1 > HBr karena kepolaran HC1 > HBr. Fakta eksperimen menunjukkan
bahwa titik didih HBr > HCl. Hal ini menunjukkan bahwa selain gaya dipol-dipol, juga terjadi
gaya antarmolekul yang lain. Gaya ini kekuatannya dipengaruhi oleh banyaknya elektron dalam
molekul atau besarnya massa molekul zat.
Gaya yang kekuatannya tergantung pada jumlah elektron dalam molekul atau besarnya
massa molekul zat adalah gaya London. Jadi, antara molekul-molekul polar selain terjadi gaya
dipol-dipol juga terjadi gaya London. Antara molekul polar dan molekul nonpolar selain terjadi
gaya dipol-dipol induksian juga terjadi gaya London. Antara molekul-molekul yang berikatan
hidrogen antarmolekul juga terjadi gaya London. Antara molekul-molekul nonpolar hanya terjadi
gaya London. Persentase masing-masing gaya antarmolekul yang terjadi pada beberapa senyawa
diberikan pada Tabel 4.
Tabel 4.
Persentase Gaya Antarmolekul pada Beberapa Senyawa
(Sumber: Petrucci, & Harwood, 1993,452)
Senyawa

Momen
dipol (D)

Mr

% gaya
London

% gaya
dipol-dipol

F2

38,00

100

HC1

36,46

1,08

81,4

18,6

HBr

80.92

0,82

94,5

5,5

HI

127,91 0,44

99,5

0,5

Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa dengan semakin berkurangnya kepolaran molekul
atau berkurangnya momen dipol molekul, maka kontribusi dari gaya London semakin
meningkat, sebalikny a kontribusi dari gaya dipol-dipol semakin berkurang. Kontribusi dari gaya
London juga bertambah dengan kenaikan massa molekul zat. Kekuatan masing-masing gaya
antarmolekul yang terjadi pada beberapa zat diberikan pada Tabel 5.
19

Tabel 5. Kekuatan Gaya Antarmolekul (kJ/mol)


pada Beberapa Senyawa (Sumber: Kask, & Rawn, 1993,420)
Senyawa

Mr

Momen
dipol (D)

gaya dipol-dipol atau ikatan


hidrogen (kj/mol)

gaya London
(kj/mol)

H20

18,0153

1,85

36,4

9,0

NH3

17,0306

1,47

13,3

14,7

HCl

36,46

1,0

3,31

16,8

HBr

80,92

0,82

0,69

21,9

HI

127,91

0,44

0,025

27,9

Ar

39,95

8,49

Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa semakin berkurangnya kepolaran molekul atau
berkurangnya momen dipol molekul, maka kekuatan dari gaya London semakin meningkat,
sebaliknya kekuatan dari gaya dipol-dipol atau ikatan hidrogen semakin berkurang. Data pada
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa ikatan hidrogen merupakan gaya antarmolekul yang paling
kuat, sedangkan gaya London merupakan gaya antarmolekul yang lemah. Meskipun demikian,
pada molekul-molekul yang memiliki massa molekul besar, kekuatan gaya London ini dapat
melebihi kekuatan ikatan hidrogen. Buktinya, pada suhu 25C air yang antara molekulmolekulnya dapat membentuk ikatan hidrogen antarmolekul fasenya adalah cair, sedangkan I 2
yang antara molekul-molekulnya hanya dapat membentuk gaya London, fasenya adalah padat.
Kekuatan Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya antarmolekul yang terkuat. Kekuatan ikatan hidrogen
berhubungan dengan sudut ikatan yang ada. Andaikata atom hidrogen berikatan dengan atom A
dan atom B yang memiliki keelektronegatif an tinggi, maka sudut ikatan A-H-B maksimal adalah
sebesar 180.

Pengecilan sudut ikatan A-H-B menyebabkan tolakan antara dua pasangan elektron pada
kulit valensi atom hidrogen semakin kuat, ikatan hidrogen HB semakin panjang dan semakin

20

lemah. Kekuatan ikatan hidrogen semakin berkurang dengan semakin kecilnya sudut ikatan A-HB.
Kekuatan ikatan hidrogen semakin bertambah bila terjadi resonansi ikatan kovalen dengan
ikatan hidrogen yang ada seperti teramati pada ion HF 2- yang resonansinya ditunjukkan pada
Gambar 9. Jarak van der Waals AB dan panjang ikatan hidrogen HB pada ikatan-ikatan
hidrogen yang biasa dijumpai diberikan pada Tabel 6.
Tabel 6.
Jarak van der Waals AB dan Panjang Ikatan Hidrogen HB
(SumberHuheey,Keiter,&Keiter, 1993,301)
A-H B

Jarak van der Waals A---B


(pm)

Panjang ikatan hidrogen H B


(pm)

Teoretis

Eksperimen

Teoretis

Eksperimen

F-H-F

270

240

260

120

O-H-O

280

270

260

170

O-H-F

280

270

260

170

O-H-N

290

280

270

190

N-H-O

290

290

260

200

N-H-F

290

280

260

190

N-H-N

300

310

270

220

C-H-O

300

320

260

230

Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Sifat Fisika Zat


Gaya antarmolekul, baik berupa gaya London, gaya dipol-dipol induksian, gaya dipol-dipol,
maupun ikatan hidrogen dapat memengaruhi sifat fisika zat, seperti entalpi penguapan, titik
lebur, titik didih, tekanan uap, dan kekentalan.
Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Titik Didih dan Titik Lebur Zat
Bertambah besarnya kekuatan gaya antarmolekul menyebabkan bertambah tingginya titik
lebur dan titik didih zat. Untuk gas-gas mulia yang bersifat nonpolar, maka gaya antarmolekul
yang terjadi sepenuhnya berupa gaya London. Bertambah banyaknya elektron dalam gas mulia
atau dengan bertambahnya massa atom gas mulia menyebabkan dipol sesaat maupun dipol
induksian pada gas mulia semakin mudah terbentuk, yang diikuti dengan bertambah kuatnya
gaya London yang terjadi. Akibatnya, titik lebur dan titik didih gas mulia bertambah tinggi
21

seiring dengan bertambah banyaknya elektron dalam gas mulia atau dengan bertambahnya massa
atom gas mulia seperti ditunjukkan dan pada Gambar 25. Fakta yang sama juga teramati pada
titik lebur dan titik didih dari EH 4 (E = C, Si, Ge, Sn) yang berbentuk tetrahedral dan bersifat
nonpolar.

Gambar 25. (a) Titik Lebur dan (b) Titik Didih beberapa Senyawa Hidrida dari
Unsur-Unsur Golongan 14,15,16, dan 17, serta Unsur-Unsur Golongan 18

Adanya ikatan hidrogen antarmolekul menyebabkan titik lebur dan titik didih H 2O lebih
tinggi daripada titik lebur dan titik didih senyawa-senyawa segolongannya (H2S, H2Se, dan
H2Te). Kepolaran H2S > H2Se > H2Te, sedangkan massa molekul H2S < H2Se < H2Te. Hal itu
menyebabkan kontribusi gaya dipol-dipol antara molekul-molekul H 2S > H2Se > H2Te,
sebaliknya kontribusi gaya London antara molekul-molekul H2S < H2Se < H2Te. Diperolehnya
fakta bahwa titik lebur dan titik didih H 2S < H2Se < H2Te menunjukkan bahwa dengan
bertambah banyaknya elektron dalam senyawa atau dengan bertambahnya massa molekul
senyawa, kontribusi gaya London lebih dominan daripada kontribusi dari gaya dipol-dipol.
Adanya ikatan hidrogen juga menyebabkan titik lebur NH3 lebih tinggi daripada titik lebur
senyawa-senyawa segolongannya (PH3, AsH3, dan SbH3). Titik didih NH3 juga lebih tinggi
daripada titik didih PH3 dan AsH3 akan tetapi masih lebih rendah daripada titik didih SbH 3. Hal
ini juga menunjukkan adanya dominasi gaya London daripada gaya dipol-dipol dengan

22

bertambah banyaknya elektron dalam senyawa atau dengan bertambahnya massa molekul
senyawa.
Berdasarkan perbedaan keelektronegatifan atom N, O dan F, maka kekuatan ikatan hidrogen
yang terbentuk akan berbeda pula. Mengingat keelektronegatifan atom F > O > N, maka untuk
setiap ikatan hidrogen, kekuatan ikatan hidrogen HF > HO > HN. Diperolehnya fakta
bahwa titik didih H2O > HF > NH3 disebabkan oleh banyaknya ikatan hidrogen antarmolekul
yang dapat dibentuk oleh setiap molekul H2O, HF, atau NH3.
Dalam fase cair, H2O dengan 2 atom hidrogen dan 2 PEB mampu membentuk 4 ikatan
hidrogen antarmolekul dengan 4 molekul H2O yang lain yang ada di dekatnya. Sebaliknya, HF
(dengan 1 atom hidrogen dan 3 PEB) dan NH 3 (dengan 3 atom hidrogen dan 1 PEB) hanya
mampu membentuk 2 ikatan hidrogen antarmolekul dengan molekul-molekul sejenis yang ada di
dekatnya. H2O dengan 4 ikatan hidrogen antarmolekul memiliki total gaya antarmolekul yang
lebih kuat daripada HF atau NH3 yang hanya dapat membentuk 2 ikatan hidrogen antarmolekul.
Akibatnya, titik didih H2O > HF > NH3. Titik didih HF > NH 3 karena kekuatan ikatan hidrogen
HF > HN dan keduanya hanya mampu membentuk 2 ikatan hidrogen antarmolekul.
Dalam fase padat H2O tetap dapat membentuk 4 ikatan hidrogen antarmolekul, sedangkan
HF dan NH3 hanya mampu membentuk 2 ikatan hidrogen antarmolekul. Oleh karena itu, titik
lebur H2O masih lebih tinggi daripada titik lebur HF atau NH 3. Titik lebur NH3 > HF. Hal ini
mungkin berkaitan dengan kemasan (packing) molekul-molekul tersebut di dalam kisi kristalnya.
Senyawa-senyawa yang berisomer memiliki gaya antarmolekul dengan kekuatan yang
berbeda, misalnya untuk cis- dan trans-l,2-dikloroetilena. Cis-1,2-dikloroetilena merupakan
molekul polar sedangkan

trans-l,2dikloroetilena merupakan molekul nonpolar. Gaya

antarmolekul yang terjadi antara molekul-molekul cis-1,2-dikloroetilena adalah gaya dipol-dipol


dan gaya London, sedangkan antara molekul-molekul trans-l,2-dikloroetilena adalah gaya
London. Untuk senyawa yang berisomer, gaya antarmolekul senyawa-senyawa polar selalu lebih
kuat dibandingkan gaya antarmolekul senyawa-senyawa nonpolar. Oleh karena itu, titik didih
cis-1,2-dikloroetilena lebih tinggi daripada titik didih trans-l,2-dikloroetilena. Fenomena yang
sama juga teramati pada titik didih dari o-diklorobenzena dan p-diklorobenzena. odiklorobenzena bersifat polar, sedangkan p-diklorobenzena bersifat nonpolar. Gaya antara
molekul-molekul o-diklorobenzena adalah gaya dipol-dipol dan gaya London, sedangkan antara
molekul-molekul p-diklorobenzena adalah gaya London. Titik didih o-diklorobenzena lebih
23

tinggi daripada titik didih p-diklorobenzena seperti ditunjukkan pada data yang tercantum dalam
Tabel 7.
Tabel 7.
Titik Didih Senyawa Polar dan Senyawa Nonpolar yang Berisomer
Senyawa

Titik didih (C)

cis-l,2-dikloroetilena
trans-l,2-dikloroetilena
o-diklorobenzena
p-diklorobenzena

60,3
47,5
179
174

Untuk senyawa-senyawa yang berisomer, isomer yang dapat membentuk ikatan hidrogen
antarmolekul gaya antarmolekulnya selalu lebih kuat daripada isomernya yang tidak dapat
membentuk ikatan hidrogen antarmolekul. Akibatnya, titik lebur dan titik didih isomer yang
dapat membentuk ikatan hidrogen antarmolekul selalu lebih tinggi daripada titik lebur dan titik
didih isomernya yang tidak dapat membentuk ikatan hidrogen antarmolekul, seperti yang
teramati pada alkohol dan eter. Titik lebur dan titik didih alkohol selalu lebih tinggi daripada titik
lebur dan titik didih eter isomernya karena alkohol dapat membentuk ikatan hidrogen
antarmolekul sedangkan eter tidak dapat. Fenomena ini ditunjukkan dengan data titik lebur dan
titik didih beberapa alkohol dan eter isomernya yang tercantum pada Tabel 8.
Tabel 8.
Titik Lebur dan Titik Didih Beberapa Alkohol dan Eter Isomernya
Senyawa
Titik lebur (C)
Titik didih (C)
Etanol

-117

78,5

Dimetril eter

-142

-24,8

1-Butanol

-89,5

117

Dietil eter

-116

34,5

Molekul-molekul tertentu seperti o-nitroanilina, o-nitrofenol, dan o-metil salisilat dapat


membentuk ikatan hidrogen intramolekul seperti ditunjukkan pada Gambar 10. Molekul mnitrofenol, m-nitroanilina, dan m-metil salisilat kemampuannya dalam membentuk ikatan
hidrogen intramolekul semakin berkurang karena jarak antara atom-atom yang terlibat dalam
24

pembentukan ikatan tersebut semakin jauh seperti ditunjukkan pada Gambar 26. Ikatan hidrogen
intramolekular pada molekul-molekul dengan isomer meta tersebut adalah jauh lebih lemah
daripada ikatan hidrogen intramolekular pada molekul-molekul dengan isomer ortho.

Gambar 26. Ikatan Hidrogen Intramolekul Lemah pada Molekul


(a) m-Nitrofenol; (b) m-Nitroanilina; dan (c) m-Metil Salisilat

Molekul p-nitrofenol, p-nitroanilina, dan p-metil salisilat tidak dapat membentuk ikatan
hidrogen intramolekul karena jarak antara atom-atom yang terlibat dalam pembentukan ikatan
tersebut terlalu jauh seperti ditunjukkan pada Gambar 27.

Gambar 27. Molekul: (a) p-Nitrofenol; (b) p-Nitroanilina; dan (c) p-Metil Salisilat
Molekul-molekul yang sudah membentuk ikatan hidrogen intramolekul masih dapat
membentuk ikatan hidrogen antarmolekul dengan molekul-molekul yang lain, akan tetapi
kekuatannya berkurang. Dengan kata lain, adanya ikatan hidrogen intramolekul dalam suatu
molekul akan memperlemah ikatan hidrogen antarmolekul yang dapat dibentuk olehnya.
Kekuatan gaya antarmolekul tergantung kepada kekuatan ikatan hidrogen antarmolekul yang ada
sehingga titik lebur dan titik didih zat tergantung kepada kekuatan ikatan hidrogen antarmolekul
tersebut. Molekul o-nitrofenol dapat membentuk ikatan hidrogen intramolekul, sedangkan pnitrofenol tidak dapat. Kekuatan ikatan hidrogen antarmolekul dari p-nitrofenol > o-nitrofenol.
25

Oleh karena itu kekuatan gaya antarmolekul dari o-nitrofenol < p-nitrofenol sehingga titik lebur
dan titik didih dari o-nitrofenol < p-nitrofenol. Fenomena yang sama juga terjadi pada
nitroanilina seperti ditunjukkan faktanya dengan data yang tercantum pada Tabel 9.
Tabel 9.
Titik Lebur (t.l.) dan Titik Didih (t.d.) dari Nitrofenol, dan Nitroanilina
Isomer

o-

m-

p-

t.l. (C)

t.d. (C)

t.l. (C)

t.d. (C)

t.l. (C)

t.d. (C)

Nitrofenol

44,9

216

97

194

114

279 (dec.)

Nitroanilina

71,5

284

112,5

305-307 (dec)

147,8

331

dec: decompose (terurai)


Pengaruh Gaya Antarmolekul terhadap Entalpi Penguapan Cairan
Untuk setiap zat, entalpi penguapannya (HV, v = vaporization, penguapan) lebih besar
daripada entalpi peleburannya (Hf/ f = fusion, peleburan). Hal ini karena pada waktu terjadi
penguapan molekul-molekul terpisahkan dalam jarak yang relatif lebih jauh daripada jaraknya
pada waktu terjadi peleburan. Pada waktu cairan mengalami penguapan, maka molekul-molekul
berubah dari situasi ketika gaya antarmolekulnya memiliki kekuatan yang relatif besar dalam
cairan, ke situasi dimana gaya antarmolekulnya memiliki kekuatan yang demikian kecil dalam
uap. Oleh karena itu, harga HV memberikan indikator tentang besarnya energi yang diperlukan
untuk memisahkan molekul-molekul satu dari yang lain.
Untuk senyawa-senyawa nonpolar dari unsur-unsur segolongan, misalnya X2 (X = F, Cl, Br,
I), kekuatan gaya antarmolekulnya (yang sepenuhnya merupakan gaya London) bertambah besar
dengan bertambahnya jumlah elektron dalam senyawa atau dengan bertambahnya massa molekul
senyawa. Hal itu mengakibatkan kemudahan untuk memisahkan satu molekul dari molekulmolekul yang lain pada cairan F2 > C12 > Br2 > I2 sehingga entalpi penguapan dari cairan F2 <
C12 < Br2 < I2.
Senyawa-senyawa polar seperti HC1 memiliki gaya antarmolekul yang lebih kuat daripada
C12 yang merupakan senyawa nonpolar, meskipun massa molekul HC1 lebih kecil daripada
massa molekul C12. Akibatnya, entalpi penguapan cairan HC1 lebih tinggi daripada entalpi
penguapan cairan C12.

26

Senyawa-senyawa nonpolar seperti hidrokarbon gaya antarmolekulnya bertambah dengan


bertambah panjangnya rantai karbon. Oleh karena itu, entalpi penguapannya juga bertambah
dengan bertambah panjangnya rantai karbon.
Air yang gaya antarmolekulnya lebih kuat daripada amoniak, entalpi penguapannya lebih
besar daripada entalpi penguapan amoniak. Fakta-fakta tersebut ditunjukkan dengan data yang
tercantum pada Tabel 10.
Tabel 10.
Entalpi Penguapan (Hv) Beberapa Zat
(Sumber: Brady, Russell, & Holum, 2000,494)
Cairan

HV (kj/mol)

Jenis gaya antar molekul yang ada

F2

5,9

Gaya London

C12

10,0

Gaya London

Br2

15,0

Gaya London

I2

22,0

Gaya London

HC1

15,6

Dipol-dipol dan gaya London

SO2

24,3

Dipol-dipol dan gaya London

CH4

8,16

Gaya London

C2H6

15,1

Gaya London

C H

3 8

16,9

Gaya London

H 2O

43,9

Ikatan hidrogen dan gaya London

NH3

21,7

Ikatan hidrogen dan gaya London

Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Tekanan Uap Zat


Zat yang mudah menguap memiliki tekanan uap yang lebih tinggi daripada zat yang lebih
sukar menguap. Pada suhu 25C tekanan uap minyak kayu putih lebih tinggi daripada tekanan
uap air karena minyak kayu putih lebih mudah menguap daripada air. Kemudahan suatu zat
untuk menguap tergantung kepada kekuatan gaya antarmolekulnya. Dalam hal ini, semakin kuat
gaya antarmolekul zat, maka zat tersebut semakin sukar menguap dan tekanan uapnya semakin
rendah.
Senyawa-senyawa yang berisomer kekuatan gaya antarmolekulnya berbeda. Kekuatan gaya
antarmolekul dari cis-l,2-dikloroetilena lebih besar daripada kekuatan gaya antarmolekul dari
trans-l,2-dikloroetilena. Cis-l,2-dikloroetilena lebih sukar menguap daripada
27

trans-l,2-

dikloroetilena, akibatnya tekanan uap dari cis-l,2-dikloroetilena lebih rendah daripada tekanan
uap dari trans-1,2-dikloroetilena.
Tekanan uap zat juga ditentukan oleh mudah tidaknya zat tersebut membentuk ikatan
hidrogen intramolekul. Untuk asam hidroksibenzoat, kemudahan dalam membentuk ikatan
hidrogen intramolekul dari asam o-hidroksibenzoat > asam m-hidroksibenzoat > asam phidroksibenzoat. Sebaliknya, kemudahan dalam membentuk ikatan hidrogen antarmolekul dari
asam o-hidroksibenzoat < asam m-hidroksibenzoat < asam p-hidroksibenzoat. Kekuatan gaya
antarmolekul dari asam o-hidroksibenzoat < asam m-hidroksibenzoat < asam p-hidroksibenzoat.
Kemudahan menguap dari asam o-hidroksibenzoat > asam m-hidroksibenzoat > asam phidroksibenzoat. Akibatnya tekanan uap dari asam o-hidroksibenzoat > asam m-hidroksibenzoat
> asam p-hidroksibenzoat. Perbandingan besarnya tekanan uap dari asam o-hidroksibenzoat,
asam m-hidroksibenzoat, dan asam p-hidroksibenzoat adalah 1320:5:1.
Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Misibilitas Zat
Ketercampuran atau misibilitas (miscibility) zat adalah kemampuan suatu zat untuk larut
dalam zat lain. Misibilitas ini seringkali dikaitkan dengan zat dalam fase cair sehingga secara
lebih khusus misibilitas didefinisi sebagai kemampuan dua cairan yang berbeda untuk larut satu
dalam yang lain (Whitten, Davis, Peck: 1996,442).
Misibilitas tergantung pada tiga rnacam interaksi atau gaya tarik, yaitu interaksi antara zat
terlarut dengan zat terlarut (solute-solute interaction), interaksi antara pelarut dengan pelarut
(solvent-solvent interaction) dan interaksi antara zat terlarut dengan pelarut (solute-solvent
interaction).
Misibilitas antara dua macam zat bertambah besar dengan semakin kuatnya interaksi antara
zat terlarut dengan pelarut. Sebaliknya, misibilitas dua macam zat akan berkurang dengan
semakin kuatnya interaksi antara zat terlarut dengan zat terlarut serta interaksi antara pelarut
dengan pelarut. Hubungan antara misibilitas dengan kekuatan tiga macam interaksi atau gaya
antarmolekul tersebut diberikan pada Tabel 11.

28

Tabel 11. Kekuatan Gaya Antarmolekul dan Misibilitas


Gaya antarmolekul
Pelarut- Zat terlarut- Zat terlarutpelarut zat terlarut
pelarut
Lemah
Kuat
Kuat
Kuat
Lemah

Lemah
Kuat
Lemah
Lemah
Kuat

Lemah
Kuat
Lemah
Kuat
Lemah

Contoh
Pelarut
C6H14
H2O
H2O
H2O
C6H14

Zat terlarut
CC14
CH3OH
C6H14
(CH3)2CO
sukrosa

Misibilitas
Larut sempurna
Larut sempurna
Hampir tidak larut
Larut sempurna
Hampir tidak larut

Keterangan: Pada contoh-contoh tersebut gaya antarmolekul kuat yang terjadi merupakan ikatan
hidrogen, sedangkan gaya antarmolekul lemah yang terjadi adalah gaya London, gaya
dipol-dipol atau gaya dipol-dipol induksian.

Pada contoh tersebut tampak bahwa dua zat cenderung larut sempurna apabila: (1) baik zat
terlarut maupun pelarut bersifat nonpolar; atau (2) baik zat terlarut maupun pelarut bersifat polar.
Hal ini terjadi karena gaya antarmolekul antara senyawa-senyawa sejenis cenderung memiliki
kekuatan yang sama. Kecenderungan ini menyebabkan munculnya kaidah "like dissolves like".
Pengaruh Gaya Antarmolekul terhadap Tetapan Dielektrik Zat
Molekul dengan momen dipol yang hampir sama dapat memiliki tetapan dielektrik yang
berbeda harganya, tergantung kepada kekuatan gaya antarmolekul yang terjadi, contohnya air
dan etanol. Pada suhu 25C, air dengan momen dipol 1,85 D memiliki tetapan dielektrik sebesar
78,54, sedangkan etanol dengan momen dipol 1,69 D memiliki tetapan dielektrik sebesar 24,3.
Perbedaan yang besar ini berkaitan langsung dengan kekuatan gaya antarmolekul atau ikatan
hidrogen yang terjadi pada dua zat tersebut. Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 15 dan 16,
setiap molekul air dapat membentuk empat ikatan hidrogen antarmolekul dengan empat molekul
air yang ada di dekatnya, sedangkan setiap molekul etanol hanya dapat membentuk dua ikatan
hidrogen antarmolekul dengan dua molekul etanol yang ada di dekatnya. Akibatnya, kekuatan
ikatan hidrogen pada air lebih besar daripada kekuatan ikatan hidrogen pada etanol sehingga
tetapan dielektrik air lebih tinggi daripada tetapan dielektrik etanol.
Tetapan dielektrik merupakan sifat suatu zat, khususnya cairan, sebagai suatu kesatuan.
Tetapan dielektrik air merupakan sifat kolektif dari banyak molekul air yang dihubungkan
dengan ikatan hidrogen sebagai suatu kesatuan, bukannya sifat molekul air secara individu. Sifat
kolektif ini ditentukan oleh kekuatan gava antarmolekul yang ada. Dalam hal ini ada
29

kecenderungan bahwa tetapan dielektrik zat semakin besar dengan semakin kuatnya gaya
antarmolekul yang terjadi pada zat tersebut.
Kenaikan temperatur akan memperbesar jarak antara molekul-molekul baik dalam fase
padat, cair, maupun gas sehingga kekuatan gaya antarmolekul berkurang. Akibatnya tetapan
dielektrik zat juga berkurang. Untuk air, tetapan dielektriknya adalah 88,0 pada suhu 0C, 78,54
pada suhu 25C, dan 55,3 pada suhu 100C.
Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Kekentalan Zat
Kekentalan (viscosity) cairan merupakan ukuran resistansi (resistance) suatu zat untuk
mengalir. Oli adalah resistan untuk mengalir atau sukar mengalir, sebaliknya air tidak resistan
atau mudah mengalir. Zat yang mudah mengalir memiliki kekentalan yang rendah, dan
sebaliknya. Air lebih mudah mengalir daripada oli karena kekentalan air lebih rendah
dibandingkan kekentalan oli.
Kemudahan

zat

untuk

mengalir

berhubungan

langsung

dengan

kekuatan

gaya

antarmolekulnya. Semakin kuat gaya antarmolekul yang ada, maka zat akan makin sulit mengalir
dan akibatnya kekentalannya semakin tinggi. Kekentalan zat dinyatakan dengan satuan
sentipoise (cP).
Gliserol memiliki kekentalan yang sangat tinggi karena banyaknya ikatan hidrogen
antarmolekul yang dapat dibentuk antara molekul-molekulnya.
Kenaikan temperatur akan memperbesar jarak antara molekul-molekul, baik dalam fase
padat, cair maupun gas, sehingga kekuatan gaya antarmolekul berkurang, akibatnya kekentalan
zat juga berkurang. Untuk air, kekentalannya sekitar 1,002 cP pada suhu 20C, 0,467 cP pada
suhu 60C, dan 0,282 cP pada suhu 100C. Fakta sehari-hari yang dapat kita amati secara
langsung adalah kekentalan minyak goreng. Pada waktu digunakan untuk menggoreng dapat
dirasakan bahwa kekentalan minyak semakin berkurang dengan bertambah panasnya minyak.
Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Permukaan Cairan
Permukaan cairan yang terdapat dalam suatu

pipa gelas yang penampangnya kecil,

misalnya pipa kapiler dengan bahan utama SiO2, bisa cekung atau cembung. Air yang terdapat
dalam pipa kapiler dari gelas permukaannya cekung, sedangkan raksa permukaannya cembung.
Molekul-molekul air yang menempel pada pipa kapiler melalui atom hidrogennya membentuk
30

ikatan hidrogen antarmolekul dengan atom-atom oksigen dari SiO 2 yang terdapat pada pipa
kapiler. Gaya ikat yang terjadi dikenal sebagai adhesi (adhesion) karena terjadi antara molekulmolekul yang berbeda. Di samping itu, molekul-molekul air tersebut juga mengadakan ikatan
hidrogen antarmolekul dengan molekul-molekul air yang tidak menempel pada dinding pipa
kapiler. Gaya ikat yang terjadi dikenal sebagai kohesi (cohesion), karena terjadi antara molekulmolekul sejenis. Karena adhesi lebih kuat daripada kohesi, maka permukaan air dalam pipa
kapiler menjadi cekung.
Atom-atom raksa yang dekat dengan pipa kapiler mengadakan gaya tarik dengan SiO2 dari
pipa kapiler. Gaya tarik ini disebut adhesi. Di samping itu, atom-atom raksa tersebut mengadakan
gaya London dengan atom-atom raksa yang tidak menempel pada dinding pipa kapiler. Gaya
tarik ini disebut dengan kohesi. Karena adhesi lebih lemah dibandingkan kohesi maka
permukaan raksa dalam pipa kapiler menjadi cembung.
Pengaruh Gaya Antarmolekul terhadap BentukTetesan Cairan
Pada waktu cairan menetes, molekul-molekul dalam tetesan dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu molekul-molekul pada permukaan cairan (A) dan molekul-molekul tidak pada
permukaan cairan (B). Dua macam molekul tersebut mengalami gaya antar molekul yang
berbeda seperti ditunjukkan pada Gambar 28.

Gambar 28. Gaya Antarmolekul yang Terjadi pada Molekul yang Terdapat pada Permukaan
Cairan (A) dan pada Molekul yang Terdapat Tidak pada Permukaan Cairan (B)
Molekul-molekul yang tidak terdapat pada permukaan cairan dapat dianggap mengalami
gaya tarik dengan molekul-molekul lain ke segala arah, sedangkan molekul yang terdapat pada
permukaan cairan mengalami gaya tarik dengan molekul-molekul lain yang arahnya ke samping
dan ke dalam cairan saja. Molekul-molekul yang terdapat pada permukaan cairan tertarik dengan
kuat ke dalam cairan sehingga jumlah molekul yang terdapat pada permukaan cairan menjadi
31

minimal. Hal ini mengakibatkan luas permukaan tetesan menjadi minimal. Luas permukaan yang
minimal ini terjadi bila permukaan tetesan cairan merupakan permukaan bola. Oleh karena itu,
tetesan cairan cenderung mengadopsi bentuk bola.
Pengaruh Gaya Antarmolekul Terhadap Sifat Kimia Zat
Dua di antara sifat-sifat kimia zat yang dipengaruhi oleh kekuatan gaya antarmolekul adalah
kekuatan asam dan basa zat. Dua sifat ini dapat dipengaruhi oleh adanya ikatan hidrogen
intramolekul dari senyawa. Pada senyawa-senyawa golongan fenol, misalnya o- dan p-nitrofenol,
kekuatan asam o-nitrofenol berbeda dengan kekuatan asam p-nitrofenol. Sebagaimana telah
dijelaskan bahwa p-nitrofenol tidak dapat membentuk ikatan hidrogen intramolekul, sedangkan
o-nitrofenol dapat. Dengan demikian, atom hidrogen yang terikat pada atom oksigen pada onitrofenol lebih sulit dilepaskan sebagai ion hidrogen (H+) daripada atom hidrogen yang terikat
pada atom oksigen pada p-nitrofenol. Akibatnya, kekuatan asamdari o-nitrofenol lebih rendah
daripada kekuatan asam p-nitrofenol {pKa (o-nitrofenol) = 7,17; pKa (p-nitrofenol) = 7,15}.
Kekuatan

basa

amonium

hidroksida

(NH4OH)

berbeda

dari

kekuatan

basa

tetrametilamonium hidroksida (N(CH3)4OH) dan dimetilamonium hidroksida (NH2(CH3)2OH).


Pada amonium hidroksida dan dimetilamonium hidroksida dapat terjadi ikatan hidrogen antarion,
sedangkan pada tetrametilamonium hidroksida tidak terjadi ikatan hidrogen antarion seperti
ditunjukkan pada Gambar 29.

a
b
c
Gambar 29. Amonium Hidroksida (a) dan Dimetilamonium Hidroksida (b) dengan Ikatan
Hidrogen Interionik dan Tetrametilamonium Hidroksida (c) tanpa Ikatan Hidrogen Interionik
Adanya ikatan hidrogen interionik pada amonium hidroksida dan dimetilamonium
hidroksida menyebabkan ion hidroksida (OH-) lebih sulit dilepaskan daripada ion hidroksil pada
tetrametilamonium hidroksida. Dengan demikian, kekuatan basa tetrametilamonium hidroksida
lebih tinggi daripada kekuatan basa amonium hidroksida dan dimetilamonium hidroksida.
Pada amonium hidroksida terdapat empat atom hidrogen yang dapat membentuk ikatan
hidrogen interionik, sedangkan pada dimetilamonium hidroksida hanya ada dua atom hidrogen.
32

Kemungkinan terjadinya ikatan hidrogen interionik pada amonium hidroksida dua kali lebih
besar daripada kemungkinan terjadinya ikatan hidrogen antarion pada dimetilamonium
hidroksida. Hal itu menyebabkan ikatan hidrogen antarion pada amonium hidroksida lebih kuat
daripada ikatan hidrogen antarion pada dimetilamonium hidroksida. Ion hidroksil pada amonium
hidroksida lebih sulit dilepaskan daripada ion hidroksil pada dimetilamonium hidroksida.
Akibatnya, kekuatan basa dimetilamonium hidroksida lebih tinggi daripada kekuatan basa
amonium hidroksida.

33