Anda di halaman 1dari 33

PEMBINAAN NARAPIDANA MELALUI BIMBINGAN KERJA PETERNAKAN

SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MEMBENTUK KEMANDIRIAN NARAPIDANA


DI LAPAS TERBUKA KELAS IIB JAKARTA

Disusun Oleh :
ARIF SUGIANTO, S.Pt, MP.
NIP. 19880411 201212 1 001

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA


KANTOR WILAYAH DKI JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji hanya milik Allah SWT atas
segala nikmat, rahmat dan karunia-Nya yang tak terhingga sahingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
Tergerak oleh pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Terbuka
Jakarta yang belum optimal dalam membangun kemandirian narapidana guna
mempersiapkan proses reintegrasi sosial setelah menjalani pidana, maka penulis
menyusun makalah dengan judul Pembinaan Narapidana Melalui Bimbingan
Kerja Peternakan Sebagai Salah Satu Upaya Membentuk Kemandirian
Narapidana di Lapas Terbuka Kelas IIB Jakarta.
Dengan selesainya karya ini tentu tidak lepas dari bantuan dan dukungan
berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan banyak terimakasih dan
penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah membantu.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan dan jauh
dari sempurna. Untuk itu penulis sangat terbuka menerima kritik serta saran yang
membangun tercapainya penulisan yang baik.
Penulis sangat berharap kiranya makalah ini dapat memberikan manfaat
dan kontribusi terhadap kemajuan pemasyarakatan serta kementerian hukum dan
hak asasi manusia pada umumnya.
Jakarta, 28 Agustus 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR...................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................

ii

BAB I. PENDAHULUAN...........................................................................

A. Latar Belakang.............................................................................
B. Permasalahan...............................................................................
C. Metode Penulisan........................................................................

1
3
3

BAB II. ISI...................................................................................................

A. Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lapas Terbuka Kelas IIB


Jakarta..........................................................................................
B. Kendala Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lapas Terbuka
Kelas IIB Jakarta.........................................................................
C. Usaha Ternak Aplikatif Sebagai Alternatif Program Pembinaan
Narapidana di Lapas Terbuka jakarta..........................................

4
17
21

BAB III. PENUTUP....................................................................................

29

A. Kesimpulan..................................................................................
B. Saran............................................................................................

29
30

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

31

DASAR HUKUM

..........................................32

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lembaga pemasyarakatan pada hakikatnya bukan merupakan muara akhir
dari semua tindak kejahatan dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Lembaga
pemasyarakatan adalah sebuah lembaga yang diselenggarakan oleh pemerintah
untuk memberi wadah dan membina narapidana agar mereka mempunyai cukup
bekal guna menyongsong kehidupan setelah selesai menjalani masa pidana.
Sebagaimana tercantum pada pasal 2 Undang-undang No.12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan, bahwasannya Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam
rangka membentuk Narapidana agar dapat menjadi manusia seutuhnya, menyadari
kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat
diterima kembali dilingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam
pembangunan dan dapat hidup secara warga yang baik dan bertanggung jawab.
Dengan diterapkan sistem pemasyarakatan ini narapidana diharapan telah siap
untuk dapat berinteraksi secara sosial di dalam masyarakat setelah melalui tahap
pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan.
Tujuan dari pembinaan yang dilakukan lembaga pemasyarakatan tidak lain
agar narapidana tidak mengulangi lagi perbuatannya dan bisa menemukan
kembali kepercayaan dirinya serta dapat diterima menjadi bagian dari anggota
masyarakat (Isnawati, 2014). Asimilasi merupakan tahapan pembinaan terhadap
narapidana yang telah menjalani (setengah) masa pidananya. Lembaga
Pemasyarakatan Terbuka sebagai salah satu unit pelaksana teknis pada
Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia yang dibentuk untuk melaksanakan

asimilasi terhadap narapidana, memiliki peran penting dalam pembinaan


kepribadian dan kemandirian sehingga narapidana benar-benar siap berinteraksi
secara sosial dan kembali menjalani kehidupan bermasyarakat yang baik.
Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Jakarta merupakan salah satu dari 6 Lapas
Terbuka

di

Indonesia

yang

telah

dibentuk

oleh

Direktorat

Jenderal

Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.


Besarnya harapan untuk mengoptimalkan pembinaan narapidana di
Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Jakarta justru tidak didukung dengan program
pembinaan yang terarah dan terencana dengan baik. Tidak dipungkiri jika
pelaksanaan pembinaandi Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Jakarta menjadi
kurang optimal dan menjadi hambatan tersendiri dalam mengimplementasikan
konsep pemasyarakatan yang hakiki. Pembinaan yang diyakini mampu
membekali narapidana untuk dapat berintegrasi dengan masyarakat justru tidak
sepenuhnya diberikan kepada narapidana yang melaksanakan asimilasi di Lapas
Terbuka Jakarta. Hal ini tentu tidak selaras dengan tugas pokok Lapas Terbuka
untuk membina dan membimbingnarapidana secara intensif.
Pentingnya pembinaan kepribadian dan kemandirian sebagaimana
dijelaskan Sujatno (2004)bagi narapidanamemiliki peran yang besar dalam
upayapembangunan pola pikir dan merubah mindset narapidana setelah nantinya
keluar dari Lembaga Pemasyarakatan. Pembinaan tersebut sejatinya diharapkan
mampu menyadarkan narapidana atas kesalahan yang telah dilakukan dan
mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana oleh narapidana. Selain itu,
dengan bekal kemandirian yang telah dimiliki diharapkan narapidana mampu
mempersiapkan diri sebelum kembali di tengah-tengah masyarakat.

B. Permasalahan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis, ditemukan beberapa
masalah dalam pelaksanaan pembinaan pada narapidana asimilasi di Lembaga
Pemasyarakatan Terbuka Kelas IIB Jakarta sebagai berikut :
1. Kurang terarahnya program pembinaan yang akan diberikan kepada narapidana
2. Jangka waktu asimilasi yang singkat sehingga proses pembinaan kurang efektif
C. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode pustaka dan
diskusi.
1. Metode Pustaka
Dalam penyusunan makalah ini terlebih dahulu dilakukan dengan
mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka baik berupa buku,
artikel maupun informasi di internet.
2. Diskusi
Diskusi dilakukan untuk memperoleh data melalui tukar pendapat dengan
narasumber baik dengan pejabat structural, pejabat fungsional maupun
praktisi yang mengetahui tentang informasi yang diperlukan dalam
menyusun makalah.

BAB II
ISI
A. Pelaksanaan Pembinaan Narapidana di Lapas Terbuka Kelas IIB
Jakarta
1. Gambaran Umum Lapas Terbuka Kelas IIB Jakarta

Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Kelas II B Jakarta merupakan salah


satu unit pelaksana teknis di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang secara
khusus melaksanakan pembinaan lanjutan terhadap narapidana pada tahap
asimilasi yaitu dengan masa pidana antara 1/2 sampai dengan 2/3 dari masa
pidana yang harus dijalani oleh narapidana yang bersangkutan.Pembentukan
Lapas Terbuka merupakan implementasi dari Surat Keputusan Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia R.I. No : M.03.PR.07.03. Tahun 2003, tanggal 16 April
2003, perihal pembentukan

Lapas Terbuka Pasaman,

Jakarta,

Kendal,

Nusakambangan, Mataram dan Waikabubak.


Sebagai unit yang ditunjuk untuk melaksanakan asimilasi terhadap
narapidana, Lapas Terbuka Jakarta dibangun dengan bentuk bangunan yang jauh
berbeda dengan lembaga pemasyarakatan/rumah tahanan pada umumnya. Lapas
Terbuka Jakarta memiliki kapas 100 orang dengan luas tanah 4415 m2 dan
dilengkapi dengan sarana pembinaan yang cukup memadai. Layaknya hunian
kamar kost, Lapas Terbuka Jakarta dibangun tanpa jeruji dan tembok yang
menjulang serta berdekatan dengan lingkungan masyarakat. Dengan demikian,
keberadaan

Lapas

Terbuka

Jakarta

sangat

mendukung

upaya

untuk

mengintegrasikan narapidana dengan masyarakat sekitar. Hal ini menunjukkan


terjadinya suatu perubahan dinamis dalam bidang hukum pidana seperti dijelaskan
Arisman dimana terjadi perubahan perlakuan terhadap seseorang yang melakukan
kejahatan menuju bentuk modern dalam sistem hukum pidana Indonesia.

Meski asimilasi telah dijamin dalam Undang-Undang RI No.12 Tahun


1995 tentang Pemasyarakatan Pasal 14 tentang hak narapidana, tidak semua
narapidana dapat melaksanakan asimilasi pada Lapas Terbuka. Berdasarkan surat
edaran DIrektur Jenderal Pemasyarakatan tanggal 3 Agustus 2004 Nomor.
E.PK.04.10-115 Perihal Penempatan Narapidana di Lapas Terbuka/Kamp
Pertanian, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh narapidana untuk
ditempatkan pada Lapas Terbuka. Narapidana harus memenuhi syarat substantif
dan

administratif

serta

memperoleh

persetujuan

dari

Tim

Pengamat

Pemasyarakatan Lapas dan Kepala Lapas. Beberapa jenis pidana juga menjadi
pengecualian untuk ditempatkan di Lapas Terbuka Jakarta seperti kasus penipuan,
Narkotika/phisikotropika, kasus terorisme dan kasus tindak pidana korupsi.

2. Tahap Pembinaan di Lapas Terbuka Kelas IIB Jakarta


Pelaksanaan pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan secara
umum dilakukan melalui tahapan-tahapan. Terdapat empat tahap pembinaan
narapidana berdasarkan lamanya atau masa pidana yang telah dijalani, yakni tahap
pembinaan awal, tahap pembinaan lanjutan diatas 1/3 dari masa pidana, tahap
asimilasi, dan tahap pembinaan akhir. Dari keempat tahapan pembinaan tersebut,
keberadaan Lapas Terbuka Jakarta berada pada tahap pembinaan asimilasi. Tahap
pembinaan ini diberikan pada narapidana yang telah menjalani (setengah) dari
masa pidana. Narapidana yang telah mencapai tahap ini akan diberikan program
asimilasi yang pelaksanaannya terdiri dari 2 (dua) bagian, antara lain :

a) Asimilasi tahap awal, dimana waktu pelaksanaannya dimulai sejak


berakhirnya tahap awal sampai dengan (setengah) dari masa pidananya.
Pada tahap ini pembinaan masih dilaksanakan di dalam Lembaga
Pemasyarakatan dan pengawasannya sudah memasuki tahap mediumsecurity.
b) Asimilasi tahap lanjutan, dimana waktu pelaksanaannya dimulai sejak
berakhirnya masa lanjutan pertama sampai dengan 2/3 (dua pertiga) masa
pidananya. Pada tahap ini narapidana memasuki tahap Asimilasi dan
selanjutnya diberikan Pembebasan Bersyarat dan Cuti Menjelang Bebas
dengan pengawasan minimum-security. Pada tahap ini narapidana
diberikan kesempatan untuk dikenalkan dengan masyarakat dan tidak
terisolasi dengan tembok penjara.
Tahap-tahap pelaksanaan pembinaan di Lapas Terbuka Jakarta diawali
dengan proses assesmen terhadap narapidana di Lapas/Rutan yang telah
memasuki tahap asimilasi. Assesment merupakan penilaian yang dilakukan oleh
assessor terhadap narapidana yang telah memenuhi syarat substantif dan
administratif untuk mengikuti pembinaan di Lapas Terbuka Jakarta. Tujuan
dilakukan Assesmen adalah untuk menggali data dan informasi narapidana untuk
menelusuri keadaan keluarga, lingkungan, pendidikan, pekerjaan serta latar
belakang dilakukannya tindak pidana. Assesmen juga dilakukan untuk mengetahui
kepribadian, kondisi psikologis, serta minat, bakat dan potensi yang dimiliki tiaptiap narapidana sehingga dapat ditentukan strategi pembinaan dan bimbingan yang
tepat.

Narapidana yang telah disetujui untuk melakukan asimilasi di Lapas


Terbuka Jakarta kemudian dilakukan registrasi ulang. Proses registrasi dimulai
dari identifikasi identitas narapidana, putusan pengadilan, pemeriksaan barang
bawaan dan pemeriksaan kesehatan. Tahap berikutnya yakni penyampaian tata
tertib dan sanksi yang berlaku serta hak dan kewajiban narapidana selama berada
di Lapas Terbuka Jakarta.
Selama menjalani tahap pembinaan di Lapas Terbuka, setiap narapidana
diintegrasikan dengan masyarakat luar berupa cuti mengunjungi keluarga (CMK),
cuti menjelang bebas (CMB), cuti bersyarat (CB) atau pembebasan bersyarat
(PB). Pemberian CMK, CMB, CB dan PB merupakan salah satu hak narapidana
selama menjalani pembinaan dan bimbingan di Lapas Terbuka Jakarta
sebagaimana diatur dalam Pasal 14 Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarakatan.

3. Metode Pembinaan di Lapas Terbuka Kelas IIB Jakarta


Pembinaan terhadap narapidanadalam pelaksanaannya diperlukan metode
pembinaan tertentu sehingga pembinaan yang dilakukan dapat efektif dan efisien.
Selain itu, implementasi metode pembinaan tertentu juga mempengaruhi
tercapainya tujuan pembinaan seperti upaya menyadarkan waraga binaan sehingga
menjadi baik dalam hidup bermasyarakat.
Metode-metode yang digunakan Lembaga Pemasyarakatan Terbuka
Jakarta dalam menyampaikan materi maupun melakukan bimbingan terhadap
narapidana adalah sebagai berikut :

a. Metode top down approach and buttom approach


Pembinaan Top Down Approach adalah bentuk pembinaan dengan
melakukan pembinaan dari atas ke bawah. Pembinaan ini diterapkan oleh
petugas Lapas terhadap narapidana sesuai dengan kemampuan dan
kepribadian narapidana. Pembinaan Bottom up Approachatau partisipatif
merupakan pendekatan dari bawah ke atas. Dalam pendekatan ini
narapidana diperbolehkan untuk memilih atau menentukan wujud
pembinaan yang diinginkan dan sesuai dengan bakat dan potensi yang
dimiliki.
Metode Top Down Approach atau pembinaan dari atas kebawah
dapat kita ketahui pada waktu petugas menghimbau narapidana untuk
menjalankan wujud pembinaan kepribadian yang disediakan Lapas tanpa
terkecuali misalnya ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
Seluruh narapidana yang beragama Islam dihimbau mengikuti pengajian
setiap hari Rabu dan sholat berjamaah, sedangkan umat Kristen dihimbau
mengikuti kebaktian. Tujuan dari metode ini untuk meningkatkan iman
kepercayaan

narapidana

sesuai

dengan

agama

yang

dianutnya

dan menyadarkan pribadi narapidana agar mengakui kesalahannya dan


tidak mengulangi tindak pidana lagi.
Metode Bottom up Approach atau pendekatan dari bawah ke atas
diterapkan terhadap narapidana pada saat memilih program pembinaan
kemandirian sesuai dengan bakat dan minatnya misalnya narapidana yang
memiliki ketertarikan akan peternakan dapat bergabung dengan pokja

peternakan. Tujuannya adalah memberi keterampilan bagi narapidana


setelah ia bebas. Dengan keterampilan yang dimiliki, narapidana yang
telah bebas dapat mengimplemantasikan ketrampilannya sebagai mata
pencaharian. Dengan demikian, setelah memiliki mata pencaharian
tersebut diharapkan mereka nantinya tidak melakukan pengulangan tindak
pidana.
b. Metode Personal Approach and Group Approach
Metode pendekatan Personal Approach and Group Approach
merupakan metode cukup efektif dalam membina narapidana (Van den
Ban dan Hawkins, 1999).Namun demikian, metode ini menjadi kurang
efektif jika program-program pembinaan hanya dalam waktu yang singkat.
Sementara metode pendekatan kelompok atau group approach menurut
Setiana (2005) diyakini cukup efektif, karena bimbingan diarahkan secara
kelompok atas adasar kerja sama sehingga kegiatan lebih produktif. Oleh
karena itu, penggabungan kedua metode ini sangat tepat dalam
menyampaikan bimbingan kepada narapidana di Lapas Terbuka Jakarta.
Metode ini digunakan untuk menyesuaikan kemampuan dan
kepribadian narapidana. Pada hakikatnya setiap narapidana memiliki latar
belakang pendidikan, latar belakang kehidupan masyarakat, sikap dan
tingkah laku serta bakat dan minat yang berbeda-beda, sehingga
mempengaruhi kemampuan serta kepribadian narapidana masing-masing.
Oleh karena itu, pembinaan yang dilakukan terhadap narapidana tidak
sama satu dengan yang lain.

c. Metode Persuasif Edukatif


Pembinaan pada intinya bertujuan untuk mengubah perilaku
narapidana melalui keteladanan dan memperlakukan mereka secara adil.
Melalui pembinaan persuasive dan edukatif, petugas memberikan contoh
teladan yang baik kepada narapidana baik dalam melaksanakan tugas
maupun dalam berkomunikasi dengan narapidana. Dengan pembinaan
tersebut, narapidana diharapkan dapat meniru dan menunjukkan sikapnya
yang terpuji.
d. Metode Sistematis dan Continue
Pembinaan ini mengandung pengertian bahwa pembinaan yang
dilakukan setiap hari kepada narapidana mempunyai keterikatan satu
dengan yang lainnya sehingga narapidana dapat sedikit demi sedikit
mengerti mengenai materi yang disampaikan. Penyampaian materi oleh
petugas

disampaikan

sesuai

dengan

kemampuan

masing-masing

narapidana.

4. Program dan Wujud Pembinaan di Lapas Terbuka Kelas IIB Jakarta


Program pembinaan narapidanayang diterapkan di Lapas Terbuka Jakarta
mengimplementasi Keputusan Menteri Kehakiman R.I. Nomor: M.02-PK.04.10
Tahun 1990 tentang Pola Pembinaan Narapidana. Program pembinaan dibagi ke
dalam 2 (dua) bidang yakni Pembinaan Kepribadian dan pembinaan kemandirian.
1) Pembinaan Kepribadian
Pembinaan kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan watak
sehinggaNarapidana sehingga narapidanadiharapkan menjadi manusia seutuhnya,

10

bertakwa, dan bertanggung jawab

kepada diri sendiri,

keluarga,

dan

masyarakat.Program pembinaan kepribadian yang dilaksanakan di Lapas


Terbukaterbagi ke dalam 5 (lima) bagiansebagai berikut:
a) Pembinaan kepribadian bidang keagamaan
Pembinaan keagamaan sejatinya bertujuan agar narapidana menjadi
manusia seutuhnya dan menambah keimanan serta membina agar mampu
berintegrasi secara wajar dalam hidup dan kehidupannya. Selain itu menurut
Astuti (2008) Pembinaan agama juga ditujukan untuk memperbaiki dan
meningkatkan akhlak (budi pekerti) narapidana serta memberi bekal untuk
mengendalikan sikap dan tingkah laku selama di Lapas maupun setelah bebas.
Kegiatan keagamaan yang dilaksanakan rutin di Lapas Terbuka Jakarta
merupakan kegiatan harian yang dikerjakan secara continue adalah sebagai
berikut :
AGAMA
Islam

Kristen

KEGIATAN
Melaksanakan Ibadah Sholat lima waktu
Sholat Jumat
Ceramah Islam Mingguan
Kegiatan Kebaktian

INTENSITAS
Setiap hari
Setiap Jumat
Setiap hari Rabu
Seminggu sekali

Sedangkan kegiatan keagamaan khusus yang dilakukan di Lapas Terbuka Jakarta


adalah sebagai berikut :
AGAMA
Islam
Kristen

KEGIATAN
Peringatan hari-hari besar agama
Pengajian pada bulan Ramadhan
Perayaan Paskah
Pendalaman Alkitab

11

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan di


Lapas Terbuka Jakarta adalah ceramah dan diskusi dengan mendatangkan
narasumber/ tokoh agama secara rutin.
b) Pembinaan kepribadian bidang olahraga dan kesenian
Pembinaan bidang olahraga dan kesenian merupakan salah satu bentuk
kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan jasmani dan sarana
sosialisasi antar sesame narapidana. Kegiatan bidang olahraga dan kesenian yang
dilaksanakan di Lapas Terbuka Jakarta adalah sebagai berikut :
JENIS
Olahraga

Kesenian

KEGIATAN

Senam
Futsal
Tenis Meja
Marawis
Band

INTENSITAS
Setiap hari Jumat
(seminggu sekali)
Setiap Minggu
Kedua

Metode pembinaan yang digunakan dalam pelaksanaan pembinaan


olahraga yakni melalui pengarahan, pelatihan ketangkasan dan pertandingan.
Kegiatan ini juga melibatkan petugas dan dilaksanakan diluar Lapas melalui
pendampingan sesuai SOP. Hal ini dimaksudkan agar narapidana membaur
dengan masyarakat luar. Sedangkan pembinaan kesenian dilakukan menggunakan
metode pengarahan oleh petugas dan latihan secara rutin. Kegiatan kesenian
sangat penting selain sebagai sarana untuk mengekspresikan rasa keindahan dan
melepas kejenuhan juga dapat mempererat ikatan solidaritas dalam masyarakat.
c) Pembinaan kepribadian bidang kesadaran berbangsa dan bernegara
Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi narapidana pada
dasarnya bertujuan agar narapidana dapat menyadari bahwa dirinya adalah bagian
dari warga Negara Indonesia yang mempunyai aturan dan karakteristik khusus.
Kagiatan pembinaan yang dilaksanakan di Lapas Terbuka Jakarta adalah kegiatan
Upacara Bendera yang dilaksanakan pada peringatan hari besar nasional. Kegiatan
12

tersebut diikuti narapidana dan seluruh petugas Lapas Terbuka Jakarta dengan
mengagendakan pembacaan Catur Dharma Narapidana dan paduan suara untuk
emnyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan. Pembinaan
dilakukan secara persuasive edukatif melalui pendekatan individual dan
kelompok.
d) Pembinaan kepribadian bidang lingkungan
Pembinaan kepedulian lingkungan sangatlah penting bagi narapidana
untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Kepribadian
seseorang dapat diukur dari kepeduliannya terhadap kebersihan lingkungan, hal
ini menjadi dasar pembinaan narapidana ketika berada di tengah-tengah
masyarakat sehingga keberadaan mereka dapat diterima oleh masyarakat.
Pembinaan bidang lingkungan di Lapas Terbuka Jakarta dilakukan dengan
kegiatan kerja bakti di lingkungan Lapas Terbuka Jakarta. Kegiatan ini dilakukan
secara rutin setiap hari. Metode yang digunakan dalam pembinaan ini adalah top
down approach.
e) Pembinaan mengintegrasikan diri dengan masyarakat
Pembinaan mengintegrasikan diri dengan masyarakat bertujuan untuk
memperbaiki hubungan antara narapidana dengan masyarakatnya, dengan
memberikan kesempatan mengembangkan aspek aspek pribadinya, memberikan
keleluasaan yang lebih besar untuk berintegrasi dengan masyarakat dalam
kegiatan kemasyarakatan. Kegiatan pembinaan integrasi sosial yang dilakukan di
Lapas Terbuka Jakarta adalah sebagai berikut :
1. Program Cuti Mengunjungi Keluarga;
Pembinaan integrasi dengan masyarakat diluar yang dilakukan melalui cuti
mengunjungi keluarga (CMK) diberikan pada narapidana yang telah memenuhi
persyaratan substantif dan dan administratif serta memperoleh persetujuan dari

13

Tim Pengamat Pemasyarakatan Lapas dan Kepala Lapas. Cuti ini menurut
Pandjaitan dan Wiwik (2008) diberikan sebagai upaya memelihara kerukunan
rumah tangga berupa kesempatan berkumpul bersama di tempat kediaman
keluarga dalam jangka waktu du hari atau 2 x 24 jam (diluar dalam waktu
perjalanan).

2. Program kerja dengan pihak ke-3 (ketiga);


Program kerja dengan pihak ketiga adalah salah satu pola pembinaan
asimilasi keluar dengan bekerjasama dengan pihak ketiga. Pihak ketiga dalam hal
ini adalah pihak yang bersedia menjadi penjamin bagi narapidana selama
narapidana tersebut bekerja pada kantor/perusahaannya. Asimilasi pihak ketiga
dapat diberikan kepada narapidana yang telah memenuhi syarat substantif dan
administratif serta memperoleh persetujuan dari Tim Pengamat Pemasyarakatan
dan Kepala Lapas. Kegiatan kerja dengan pihak ketiga ini secara teknis
dilaksanakan narapidana pada siang hari dan kemudian kembali ke Lapas Terbuka
pada sore hari sesuai dengan ketentuan yang telah dikeluarkan Lapas.
3. Program Cuti Menjelang Bebas, Cuti Bersyarat, dan Pembebasan Bersyarat;
Cuti bersyarat, cuti menjelang bebas, dan pembebasan bersyarat
merupakan hak-hak narapidana yang telah diatur dalam Undang-Undang No.12
Tahun 1995 tentang pemasyarakatan.

Dijelaskan dalam Undang-Undang,

pelaksanaan CB, CMB dan PB diberikan tehadap narapidana yang telah


memenuhi persyaratan substantif dan administratif. Program CB, CMB, dan PB
merupakan salah satu kegiatan integrasi dengan masyarakat yang dilaksanakan di
luar Lembaga Pemasyarakatan dibawah pengawasan Balai Pemasyarakatan.
4. Pembinaan Kemandirian

14

Pembinaan

kemandirian

diarahkan

pada

pembinaan

bakat

dan

keterampilan agar Narapidana dapat kembali berperan sebagai anggota


masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab. Pembinaan ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan narapidana untuk mencari penghidupan melalui
kegiatan bimbingan kerja. Program pembinaan kemandirian yang berjalan di
Lapas Terbuka Jakarta meliputi program ketrampilan yang mendukung usaha
mandiri dan program ketrampilan yang dikembangkan sesuai bakat yang dimiliki
narapidana, sebagai berikut :
a) Program ketrampilan bidang Perikanan
Program ketrampilan bidang perikanan yang diaplikasikan di lapas terbuka
Jakarta adalah budidaya ikan lele sangkuriang. Program pembinaan dibagi
dalam beberapa kegiatan, mulai dari perbibitan, pemeliharaan, hingga
pemanenan. Program ketrampilan perikanan atau pokja perikanan ini
didukung dengan sarana kolam yang cukup memadai.
b) Program ketrampilan bidang Pertanian
Program ketrampilan bidang pertanian yang dilaksanakan di Lapas Terbuka
Jakarta meliputi kegiatan pertanian hortikultura, dan budidaya jamur tiram.
Pada pembinaan pertanian hortikultura, narapidana diberikan ketrampilan
penanaman sayuran melalui media penyemaian tanah pada polybag. Hal ini
dilakukan karena lahan pertanian yang terbatas. Kegiatan pembinaan yang
diberikan

meliputi

kegiatan

penyiapan

media

tanam,

penanaman,

pemeliharaan hingga pemanenan. Sedangkan pada pembinaan budidaya


jamur, Lapas Terbuka menyediakan sarana kumbung jamur yang cukup besar
untuk menampung hingga 500 baglog. Kegiatan pembinaan yang diberikan
meliputi penyemprotan baglog jamur, dan pemanenan jamur tiram.

15

c) Program ketrampilan pertukangan


Program ketrampilan pertukangan

merupakan

program

pembinaan

ketrampilan yang mewadahi bakat yang dimiliki narapidana dalam bidang


pertukangan baik pembuatan mebel, pertamanan, instalasi listrik hingga
pembuatan mainan anak. Program pembinaan ketrampilan pertukangan ini
memiliki fasilitas peralatan yang cukup memadai.

B. Kendala dalam Pelaksanaan Pembinaan di Lapas Terbuka Kelas IIB


Jakarta
Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan petugas, beberapa kendala
yang terjadi dalam pelaksanaan pembinaan di Lapas Terbuka Kelas IIb Jakarta
adalah sebagai berikut :
1. Kurang terarahnya program pembinaan yang akan diberikan kepada
narapidana
Pelaksanaan pembinaan di Lapas Terbuka Jakarta pada dasarnya sudah
terlaksana dengan baik sesuai dengan peraturan tentang pembinaan narapidana.
Hanya saja tidak memiliki program prioritas dalam pembinaan kemandirian
khususnya dalam pengembangan karakter dan ketrampilan narapidana. Kegiatan
kerja yang dilaksanakan di Lapas Terbuka Jakarta terkesan asal berjalan dan tidak
berkelanjutan. Tidak adanya koordinasi yang baik dalam penyusunan rencana
kerja dan anggaran belanja menjadi kendala dalam melaksanakan pembinaan
narapidana.
Dengan sarana infrastruktur pembinaan kemandirian di Lapas Terbuka
Jakarta yang cukup memadai, selayaknya pembinaan narapidana berjalan dengan

16

baik dan berkesinambungan. Alokasi anggaran yang cenderung memprioritaskan


pembangunan infrastruktur kantor daripada pembinaan narapidana justru
berimbas pada arah pembinaan kemandirian yang tidak selaras dengan tujuan
pemasyarakatan. Ketersediaan anggaran yang terbatas memang tidak bisa
dipungkiri sebagai pangkal dari permasalahan pembinaan. Namun, ketersediaan
anggaran yang memadai pun jika tidak didukung dengan program yang terarah
dan pengelolaan yang baik tentu tidak dapat mendukung keberhasilan pembinaan
narapidana. Peran petugas pemasyarakatan tentu menjadi kunci utama berhasil
tidaknya upaya pembangunan kemandirian narapidana. Meski tidak didukung
dengan alokasi anggaran yang besar, jika memiliki program prioritas dan arah
pembinaan yang berkelanjutan tentu program pembinaan kemandirian dapat
berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pembinaan.

2. Jangka waktu asimilasi narapidanadi Lapas Terbuka yang singkat


sehingga proses pembinaan kurang efektif
Asimilasi merupakan salah satu hak narapidana dalam menjalani masa
pidananya. Hal ini dijamin dalam Undang-Undang RI No.12 Tahun 1995 Pasal 14
tentang hak narapidana, dimana dalam pelaksanaan pembinaan setiap narapidana
berhak

melaksanakan

asimilasi

atau

reintegrasi

ke

dalam

kehidupan

bermasyarakat. Arisman menjelaskan dalam tahap pembinaan narapidana, ada


tahap dimana narapidana akan melaksanakan asimilasi. Setiap Lembaga
Pemasyarakatan

memfasilitasi

narapidana

untuk

melaksanakan

asimilasi,

demikian halnya pada Lapas Terbuka Jakarta. Sebagai unit pelaksana teknis yang

17

ditunjuk khusus untuk melaksanakan asimilasi terhadap narapidana, Lapas


Terbuka Jakarta menerima narapidana dengan jenis perkara tertentu dari Lapas
maupun Rutan yang telah menjalani 2/3 dari masa pidananya untuk melaksanakan
asimilasi. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan narapidana dengan masyarakat
(reintegrasi sosial) sebelum mereka bebas.
Pelaksanaan pembinaan narapidana di Lapas Terbuka tidak terlepas dari
permasalahan teknis dalam proses pemindahan narapidana dari Lapas maupun
Rutan. Setiap narapidana pada hakikatnya dapat melaksanakan asimilasi di Lapas
Terbuka Jakarta setelah menjalani 2/3 masa pidananya dan memenuhi persyaratan
substantif dan adminsitratif. Administrasi birokrasi yang belum efektif berimbas
pada terhambatnya proses pemindahan narapidana untuk melaksanakan asimilasi
di Lapas Terbuka Jakarta. Tidak adanya peraturan teknis yang mengatur tentang
pelaksanaan pembinaan asimilasi narapidana ke Lapas Terbuka Jakarta menjadi
kendala dalam melaksanakan proses mutasi narapidana dari UPT asal. Lamanya
proses administratif yang harus dilalui narapidana dari UPT ke Kanwil dan
sebaliknya tentu mengurangi waktu pembinaan di Lapas Terbuka Jakarta.
Singkatnya lama tinggal narapidana yang melaksanakan asimilasi di lapas
terbuka Jakarta dipandang tidak efektif dalam menerima pembinaan secara
intensif. Hal ini justru terkesan hanya memenuhi persyaratan administratif untuk
dapat melaksanakan Pembebasan Bersyarat maupun Cuti Bersyarat oleh
narapidana. Bahkan beberapa narapidana yang melaksanakan asimilasi di Lapas
Terbuka Jakarta telah mengantongi surat keputusan pelaksanaan Pembebasan
Bersyarat maupun Cuti Bersyarat dalam rentang waktu yang tidak lama lagi.

18

Beberapa narapidana tersebut ada juga yang hanya melaksanakan asimilasi di


Lapas Terbuka Jakarta selama 3 hari jelang kebebasannya. Hal ini tentu tidak sesai
dengan amanat pembinaan yang seharusnya diperoleh narapidana di Lapas
Terbuka sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang tentang Pemasyarakatan.
Narapidana yang hanya menjalani asimilasi selama 3 hari atau kurang dari
14 hari tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan ketrampilan
maupun sikap mental narapidana meski telah diberikan pembinaan kemandirian
dalam waktu yang singkat di Lapas Terbuka Jakarta. Padahal ada sederet program
pembinaan yang seharusnya diberikan kepada narapidana yang menjalani
asimilasi di Lapas Terbuka Jakarta. Kurangnya koordinasi antar UPT dan
berbelitnya system birokrasi menjadikan Lapas Terbuka Jakarta tidak lain hanya
sebagai tempat singgah sementara sebelum narapidana bebas menjalani masa
pidana. Disisi lain, Lapas Terbuka merupakan ujung tombak pembinaan
narapidana dalam menjalani putusan pidana. Dengan demikian, urgensistandard
operational procedure (SOP) atau peraturan khusus tentang teknis pelaksanaan
asimilasi di Lapas Terbuka sudah sangat dibutuhkan demi kelancaran dan
efektivitas pembinaan narapidana di Lapas Terbuka Jakarta. Perlu adanya suatu
keselarasan pemahaman serta koordinasi yang baik antar UPT Pemasyarakatan di
Jakarta untuk mengoptimalkan pelaksanaan program pembinaan narapidana serta
menjadikan di Lapas Terbuka Jakarta sebagai percontohan pembinaan
pemasyarakatan di Indonesia.
C. Usaha Ternak Aplikatif sebagai alternative Program pembinaan
Narapidana di Lapas Terbuka Jakarta

19

Program pembinaan narapidana bidang peternakan dapat dijadikan


alternative untukmengembangkan kemandirian narapidana. Hal ini mampu
menumbuhkan jiwa entrepreneur pada narapidana untuk menyiapkan diri
melanjutkan kehidupannya setelah menjalani pidana di Lapas Terbuka. Usaha
ternak dapat diintegrasikan dengan program pembinaan lain seperti pertanian dan
perikanan yang telah terlebih dahulu berjalan di Lapas Terbuka. Memasukkan
pembinaan di bidang peternakan memang tidaklah mudah diterima bagi
narapidana yang hidup di kota besar. Meski demikian, usaha ternak justru
memiliki peluang yang besar dan menjanjikan untuk berkembang di kota besar.
Layaknya program pengembangan kemandirian lain di Lapas Terbuka,
program pembinaan peternakan juga dapat diterima dengan baik bagi narapidana
jika program yang diberikan adalah program usaha yang efektif dan aplikatif.
Berikut ini adalah alternative program kegiatan pembinaan peternakan yang dapat
diterapkan di Lapas Terbuka:
1. Program pemeliharaan ayam pedaging 28 hari
Pemeliharaan ayam pedaging merupakan salah satu kegiatan usaha ternak
yang aplikatif dalam waktu pemeliharaan yang singkat. Adapun program
pemeliharaan ini dilakukan dengan waktu pemeliharaan 28 hari dan menghasilkan
bobot badan 1,6 kg/ekor.Haris (2013) menyebutkan bahwa ayam broiler umur 28
hari telah mampu mengkonsumsi pakan sebanyak 2.420 gram/ekor dan mencapai
berat badan sebesar 1.600 gram/ekor. Singkatnya Jangka waktu pemeliharaan ini
menjawab permasalahan singkatnya lama tinggal narapidana yang melaksanakan
asimilasi di Lapas Terbuka Jakarta.
Pemeliharaan ayam broiler memiliki karakteristik ekonomis yang tinggi,
ditunjukkan dengan pertumbuhannya yang cepat dalam menghasilkan daging

20

dengan serat lunak danan waktu pemeliharaan yang cukup singkat (Murtidjo,
1987). Suwarta et all (2012) juga mengungkapkan bahwa usaha ternak ayam
broiler mempunyai peluang yang strategis sebagai komoditas usaha yang
prospektif. Sebagai unit usaha yang menguntungkan, pemeliharaan ayam broiler
juga tidak terlepas dari resiko kematian dan penurunan performa produksi. Untuk
itu diperlukan manajemen dan pengadaan sarapa produksi ternak yang baik.
Pemeliharaan ayam broiler selama 28 hari merupakan trobosan dalam bidang
peternakan sang sangat aplikatif dan efektif mengingat tingginya permintaan akan
daging ayam di masyarakat. Oleh karena itu pemeliharaan ayam pedaging ini
sangat cocok untuk diimplementasikan dalam pembinaan narapidana dalam waktu
yang singkat dan dapat menjadikan kegiatan kerja di Lembaga Pemasyarakatan
sebagai sentra produksi usaha ternak yang mandiri.
Pemeliharaan ayam broiler atau ayam pedanging memiliki tiga tahap yakni
tahap persiapan kandang, tahap pemeliharaan, dan tahap pemanenan. Ketiga tahap
tersebut dapat diimplementasikan dalam program kegiatan pembinaan narapidana
di Lapas Terbuka Jakarta.

Program kegiatanpemeliharaan ayam broiler yang

diberikan pada narapidana meliputi persiapan kandang, pemasukan day old chick
(DOC), pemberian pakan, pengaturan temperatur brooder, pengaturan ventilasi,
penanganan kesehatan, penimbangan bobot badan mingguan, pencatatan
(recording), dan pemanenan. Kegiatan pemeliharaan ayam pedaging terangkum
pada tabel sebagai berikut:
N
O
1

JENIS
KEGIATAN
Persiapan
Kandang

KEGIATAN
a. Proses pencucian dan sterilisasi
Membersihkan peralatan
desinfektan

menggunakan

21

Mencuci
kandang
dengan
sprayer
menggunakan deterjen
Sterilisasi kandang dengan desinfektan
Menaburkan kapur tohor ke seluruh bagian
kandang dengan dosis 0,2-0,5 kg/m2
Menutup kandang yang bersih dengan
tiraiselama 2-3 hari
Fumigasi lantai menggunakan formalin
Menaburkan sekam dengan ketinggian 5 cm

b. Persiapan pemanas dan lingkaran pelindung


Memasang lingkaran pelindung (chick
guard) menggunakan triplek dengan
ketinggian 50 cm dan berdiameter 2,75-4
meter
Memasang tempat pakan (chick feeder tray)
dan tempat minum
Memasang alat pemanas (gasolek) pada
ketinggian 110-125 cm
2.

Pemasukan Day
Old Chick (DOC)

a. Pengecekan DOC atau anak ayam yang akan


dipelihara secara keseluruhan baik kualitas
maupun kuantitas.
Kriteria Kualitas DOC yang baik :
Bebas penyakit dan tidak cacat
DOC terlihat aktif
Bulu bersih dan penuh
Dubur bersih dan tidak terdapat pasta putih
Berat kurang dari 37 gram
b. Penempatan DOC ke tempat pemanas

3.

Pemberian Pakan
dan Minum

a. Pakan diberikan 3-4 jam setelah DOC minum


b. Pemberian pakan pada 3 hari pertama diberikan
setiap 2 jam sekali
c. Pada 3 hari berikutnya pakan diberikan setiap 4
jam sekali
d. Setelah ayam berusia 1 minggu pakan diberikan 2
kali sehari

4.

Pengaturan
temperature
brooder

Pemanasan DOC dilakukan selama 11 hari, adapun


Temperatur brooder diatur pada suhu 34-350C pada
minggu pertama kemudian temperature diturunkan
22

menjadi 29-300C pada umur 9 hari


5.

Pengaturan
ventilasi

Ventilasi dilakukan dengan mengatur tirai yang


menutupi dinding kandang. Pemasangan tirai dilakukan
selama 14 hari.

6.

Penanganan
Kesehatan

a. Vaksinasi NB-IB pada umur ayam 4 hari melalui


tetes mata
b. Vaksinasi Gumboro pada umur ayam 12 hari
melalui air minum
c. Vaksinasi ND Lasota pada umur ayam 18 hari
melalui air minum

7.

Penimbangan
bobot badan
mingguan

Penimbangan
dilakukan
untuk
mengetahui
pertambahan berat badan mingguan yang dilakukan
dengan mengambil beberapa sampel secara acak di
setiap sudut kandang.

8.

Pencatatan
(recording)

Pencatatan menjadi bagian yang sangat penting dalam


pemeliharaan ayam untuk mengukur tingkat
keberhasilan pemeliharaan. Pencatatan dilakukan secara
berkala sejak pertama kali ayam masuk hingga
pemanenan. Pencatatan meliputi jumlah ayam yang
matio, jumlah pemberian pakan, vaksin, dan berat
badan mingguan.

9.

Pemanenan

a. Penimbangan ayam
b. Pencatatan jumlah ayam dan hasil penimbangan

Tingkat keberhasilan pemanenan dalam waktu 28 hari sangat dipengaruhi


pola manajemen pemeliharaan ayam. Haris (2013) menjelaskan beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ayam broiler untuk mencapai

bobot

pemanenan 1,6 kg/ekor dalam waktu 28 hari sebagai berikut :


a) Memperbaiki konsep pengaturan densitas dengan memberikan ruang gerak
yang nyaman bagi pertumbuhan DOC yakni melalui pelebaran ruang
gerak DOC setiap 3 hari. Perluasan brooderdilakukan setiap 3 hari sekali

23

sejak umur ayam 3 hari hingga pada umur 10 hari kondisi sudah full space
kandang dengan densitas maksimal panen 15 sampai 16 kg/m2.
b) Modifikasi pengaturan ventilasi untuk menyediakan oksigen segar ke
dalam kandang sejak umur ayam 3 hari. Pembukaan tirai pada
pemeliharaan ayam umumnya dilakukan setelah ayam Pembukaan tirai
dilakukan setelah ayam berusia 7 hari untuk menghindari kondisi ayam
yang kedinginan. Pembukaan tirai pada pemeliharaan ini justru dilakukan
sejak umur 3 hari karena untuk tumbuh dan berkembang dengan cepat
ayam membutuhkan oksigen yang cukup baik.
c) Mengurangi kompetisi ayam dalam mengkonsumsi pakan maupun minum
dengan menyediakan tempat pakan dan minum sesuai perbandingan
jumlah ayam yang dipelihara.
d) Membatasi pemberian antibiotic lebih dari 2 fase karena mampu
menghambat pertumbuhan ayam dan meningkatkan biaya pengobatan.
e) Menghentikan pemberian asam amino tambahan (ATP) pada pakan ayam
karena kebutuhan asam amino pada ayam sudah terpenuhi dari ransum
pakan yang diberikan.

Efektivitas pemeliharaan ayam broiler selama 28 hari dengan bobot 1.6


kg/ekor memotong biaya pemeliharaan maupun biaya operasional yang besar dan
tentunya berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan yang diperoleh. Melalui
adopsi pemeliharaan ini diharapkan narapidana memiliki bekal yang cukup untuk
dapat mengaplikasikannyadi kehidupan nyata setelah mereka bebas. Dengan
demikian, hakikat pembinaan narapidana dalam tujuan pemasyarakatan dapat
dicapai melalui pembinaan kemandirian di Lapas Terbuka Jakarta.

24

2. Program Penanganan Pascapanen


Kualitas daging ayam yang dihasilkan sangat dipengaruhi metode
penanganan pascapanen yang dilakukan. Suharyanto (2009) menjelaskan selama
dan segera setelah penyembelihan ternak, otot mengalami perubahan-perubahan
yang mempengaruhi sifat-sifat dan kualitas daging.

Dengan demikian, perlu

dilakukan penanganan yang baik untuk menghasilkan daging ayam yang


berkualitas dan bernilai jual yang tinggi. Penjualan karkas atau daging ayam
memiliki harga jual yang lebih tinggi daripada penjualan ayam hidup. Dengan
mengadopsi teknik penanganan pascapanen maka akan menghasilkan nilai
ekonomis yang lebih baik.
Teknik penanganan karkas atau daging yang baik diawali dari perlakuan
ayam sejak penyembelihan. Suharyanto (2009) menegaskan bahwa segera setelah
penyembelihan, darah harus dikeluarkan sebanyak mungkin kemudian dilakukan
pencabutan bulu. Daging karkas dengan kondisi darah yang belum bersih dapat
memicu berkembangnya bakteri sehingga dapat mengurangi kualitas daging dan
mengancam kesehatan bagi yang mengkonsumsinya. Untuk meningkatkan nilai
jual daging, karkas yang telah dipotong disimpan kedalam kemasan

vacuum

(hampa udara) sehingga kekenyalan daging terjaga dengan baik, selain itu
pengemasan vacuum juga dapat meningkatkan daya simpan karkas.
Selain dijual dalam bentuk daging potongan, pengolahan daging juga dapat
meningkatkan nilai ekonomis. Berbagai pengolahan daging ayam yang dapat

25

mudah diterapkan sebagai program pembinaan pengolahan hasil ternak ayam


pedaging bagi narapidana di Lapas Terbuka Jakarta adalah sebagai berikut :
a) Bakso Ayam
Bakso merupakan produk olahan daging yang sudah popular di kalangan
masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan bakso sapi, daging ayam juga
dibuat dengan mencampurkan bumbu-bumbu ke dalam adonan daging
ayam yang telah digiling. Karakteristik daging ayam yang lebih lembut
menjadi ciri khas bakso ayam. Hal ini yang menjadi dasar pemilihan bakso
ayam sebagai salah satu kegiatan pembinaan pengolahan hasil ternak
terutama ayam.
b) Nugget Ayam
Nugget ayam merupakan produk olahan daging yang dibuat dari daging
ayam. Meski demikan semua daging juga dapat diolah menjadi nugget.
Pemilihan nugget sebagai salah satu kegiatan pengolahan hasil ternak bagi
narapidana adalah karena tingkat selutian pembuatan yang rendah, dan
penggunaan alat pengolahan yang tidak sulit didapatkan. Bahan untuk
membuat nugget adalah daging, garam, bumbu-bumbu, tepung, kuning
telur, bisa pula ditambahkan susufull cream dan bahan tambahan lainnya.
Adapun proses pembuatan nugget ayam sangat mudah, layaknya membuat
bakso yang digiling menggunakan penggiling daging. Nugget ayam dibuat
dengan membentuk adonan yang berupa campuran daging giling yang
dicampur

dengan

bumbu-bumbu

menjadi

bentuk

kotak-kotak

menggunakan pencetak, dan dikukus selama 45 menit sebelum akhirnya


digoreng menggunakan minyak panas.

26

c) Abon Ayam
Abon merupakan produk olahan daging dengan cara disuwir. Berbeda
dengan bakso ayam maupun nugget ayam, abon dibuat dengan cara
merebus daging ayam hingga empuk sebelum dilakukan pengolahan.
Pemilihan pembuatan abon ayam dalam kegiatan pembinaan pengolahan
hasil ternak ayam karena pembuatannya cukup mudah serta daya simpan
abon yang relatif lama.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pelaksanaan asimilasi narapidana di Lapas Terbuka Jakarta sudah berjalan
sesuai

dengan

peraturan

tentang

pembinaan

narapidana,

adapun

pelaksanaannya kurang optimal karena belum ada program pembinaan


yang terarah, waktu pelaksanaan asimilasi yang terlalu singkat, dan masih
adanya kegagalan program integrasi sosial yang menyebabkan terjadinya
pengulangan tindak pidana.
2. Program pembinaan di bidang peternakan dapat dijadikan alternative
pembinaan yang efektif untuk membentuk ketrampilan dan kemandirian
dari usaha peternakan
3. Usaha Peternakan Ayam Broiler 28 hari merupakan program pembinaan
yang cukup efektif bagi narapidana yang menjalani asimilasi yang singkat
di Lapas Terbuka Jakarta
4. Pembinaan kemandirian melalui usaha ternak mampu membentuk mental
kewirausahaan pada narapidana sehingga telah siap untuk melanjutkan
kehidupan secara mandiri setelah bebas. Dengan demikian diharapkan

27

program tersebut mampu mengurangi terjadinya pengulangan tindak


pidana.

B. Saran
Upaya membina narapidana menjadi manusia yang lebih baik tidaklah
mudah, dibutuhkan perhatian yang lebih dari petugas pemasyarakan untuk
membina dengan penuh dedikasi dan memberikan contoh yang baik bagi
narapidana. Begitupula pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Hukum dan
HAM sudah selayaknya memberikan perhatian lebih pada pemasyarakatan untuk
membangun dan mendorong pemasyarakatan menjadi lebih baik. Pembinaan
narapidana sebaiknya menjadi prioritas utama pemasyarakatan dalam membangun
kemandirian narapidana. Selain penguatan infrastruktur sarana dan prasarana,
ketersediaan anggaran khusus untuk pembinaan juga menjadi bagian yang penting
dalam mendukung keberlanjutan kegiatan pembinaan khususnya di Lembaga
Pemasyarakatan Terbuka Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Arisman. ______. Narapidana Tahap Asimilasi: Solusi Terhadap MasalahMasalah Pelaksanaan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Terbuka.
Karya Ilmiah. dikutip dari www.jakarta.kemenkumham.go.id diakses pada
tanggal 29 Agustus 2015.

28

Astuti, Juli. 2008. Pembinaan Shalat Terhadap Narapidana di lembaga


Pemasyarakatan Kelas IIB Yogyakarta. Karya Ilmiah. Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. (Tidak dipublikasikan).
Isnawati. 2014. Peran Tamping dalam Pembinaan Narapidana di Rumah
Tahanan Negara Kelas IIA Samarinda. eJournal Ilmu Sosiatri:2014.
Handayani, Oktavia S. Pelaksanaan Pembinaan Narapidana Dalam Rangka
Mencegah Pengulangan Tindak Pidana (Recidive) di Lapas Kelas II A
Sragen. Karya Ilmiah. Universitas Sebelas Maret, Surakarta. (Tidak
dipublikasikan).
Haris, Sopyan. 2013. Pemeliharaan Ayam Broiler 1,6 kg/ekor dalam Waktu 28
Hari. Artikel Ilmiah. Majalah Poultry Indonesia.
Murtidjo, B.A. 1987. Pedoman Beternak Broiler. Kanisius. Yogyakarta
Pandjaitan, P. Iwan dan W. Sri Widiarty. 2008. Pembaharuan Pemikiran Sahardjo
Mengenai Pemasyarakatan Narapidana. IHC. Jakarta.
Pramono, Iwan., dkk. 2013. Pedoman Pembinaan Kepribadian Narapidana Bagi
Petugas di Lapas/Rutan. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I.
Prasetyo, L. Hadi dan B. Setiadi. 2007. Inovasi Teknologi Aplikatif Mendukung
Usaha Ternak Unggas Berdayasaing. Lokakarya Nasional Inovasi
Teknologi dalam Mendukung Usaha Ternak Unggas Berdaya Saing.
Rivai, Andi Wijaya. 2014. Buku Pintar Pemasyarakatan. Edisi Pertama: Cetakan
I. Lembaga Kajian PEmasyarakatan. Jakarta.
Sarwono, B. 1991. Beternak Ayam Buras. Penebar Swadaya. Jakarta
Setiana. L. 2005. Teknik Penyuluhan Dan Pemberdayaan Masyarakat. Ghalia
Indonesia. Bogor.
Sujatno, Adi. 2004. Sistem Pemasyarakatan Indonesia Membangun Manusia
Mandiri. Artikel Ilmiah. Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.
Suharyanto. 2009. Pengolahan Bahan Pangan Hasil Ternak. Diktat Teknologi
Pengolahan Hasil Pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu.
Suwarta, Irham, dan Hartono, S. 2012. Struktur Biaya dan Pendapatan Usaha
Ternak Ayam Broiler di Kabupaten Sleman. Jurnal Agrika Vol.6 No.1.

29

Tholib. Pemberdayaan Lapas Terbuka Sebagai Wujud Pelaksanaan Community


Based Correction Di Indonesia, dikutip dari www.ditjenpas.go.id diakses
pada tanggal 29 Agustus 2015.
Van Den Ban. A.W. dan H.S Hawkins., 1999. Penyuluhan Pertanian. Kanisius.
Yogyakarta.
Windarto. 2009. Keberhasilan Pembebasan Bersyarat di Bapas Semarang. Karya
Ilmiah. Universitas Indonesia. Depok. (Tidak dipublikasikan)

DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan
Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor: M.02-PK.04.10
Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan
Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Nomor M.2.PK.04-10
Tahun 2007, Tentang Syarat dan Tatacara Pelaksanaan Asimilasi
Pembebasan bersyarat, Cuti menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.
Surat

Edaran No.KP.10.13/3/1
Pemasyarakatan

Tertanggal

Februari

1995

Tentang

Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan tanggal 3 Agustus 2004


Nomor.E.PK.04.10-115 Perihal Penempatan Narapidana di Lapas
Terbuka/Kamp Pertanian.
Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia R.I. No :
M.03.PR.07.03. Tahun 2003, tanggal 16 April 2003, perihal pembentukan
Lapas Terbuka Pasaman, Jakarta, Kendal, Nusakambangan, Mataram dan
Waikabubak

30