Anda di halaman 1dari 6

MANAJEMEN LINGKUNGAN

KEGIATAN TAMBANG EMAS RAKYAT


Disusun oleh:
Kelompok VI
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tiara Yulianty
Dwi Rizki
Bayu Sastra
Fajar Kurniawan
Yohanes Karem
Zul Heryanto

(031521037)
(031521012)
(031521007)
(031521015)
(031521038)
(031521040)

Dosen Pengajar

: DR. Udi Sahnudi Hamzah, MM

Mata Kuliah

: Manajemen Lingkungan II

BINAWAN INSTITUTE OF HEALTH SCIENCES


PROGRAM STUDI K3 / B
2015

A. Kegiatan

1. Penentuan areal
Dalam hal ini yang akan digunakan untuk melakukan penambangan biasanya
ditentukan oleh pemilik lahan yang merasa dilahannya memiliki bahan galian yang
ekonomis dan potensial bila ditambang secara tradisional, tetapi tidak semua lahan
dimiliki pemilik lahan ada juga areal yang digunakan di pinggiran sungai yang bisa
digunakan oleh semua orang untuk melakukan penambangan. Kegiatan
pertambangan rakyat dilakukan pada wilayah yang ditetapkan oleh pemerintah
sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat ( WPR ).
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan : Belum Ada
2. Tahap Persetujuan AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
Memberikan pertimbangan untuk menolak ataukah menerima proyek. Faktanya
AMDAL hanya alat pembenaran proyek, walau dampaknya jelas merugikan rakyat
dan lingkungan. Hasil AMDAL :
Dapat menunjukkan lokasi pembangunan yang layak serta wilayah persebaran
dampaknya;
Dapat digunakan sebagai masukan dengan pertimbangan yang lebih luas bagi
perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan sejak awal
Dapat dijadikan arahan/pedoman bagi pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan
termasuk rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
3. Pembersih lahan
Pembersih lahan yang dilakukan biasanya dilakukan untuk lahan yang berada di
sekitar hutan atau pinggiran sungai, hal ini dilakukan agar lahan yang nantinya akan
dijadikan penambangan menjadi bersih dari tumbuh-tumbuhan dan penggangu
lainnya.
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan :
- Kehilangan keanekaragaman hayati dan mata pencarian penduduk terutama yang
hidupnya bergantung pada hutan.
- Pertambangan merupakan salah satu penyebab utama polusi udara karna pelebaran
area dipertambangan harus dibabat untuk membangun jalan dan sarana perumahan
bagi para pekerja tambang
- Musnahnya habitat sejumlah besar organiesme karna penebangan hutan
4. Penggalian dan pengambilan material pembawa emas
Kegiatan ini dilakukan oleh para penambang menggunakan alat yang sangat
tradisional seperti cangkul, sekop atau alat yang bisa digunakan untuk mengangkut
material pembawa emas.
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan :
- Penambangan emas menyebabkan daerah-daerah yang ditambang menjadi gundul
sehingga lapisan air permukaan dan erosi menjadi besar.
- Meningkatnya erosi dan limpahan air permukaan mengakibatkan sedimentasi juga
meningkat. Pada penambangan emas proses penyedotan atau pembongkaran tanah
yang kemudian disemprotkan, menghasilkan material sedimen dalam volume

sangat besar kemudian mengendap di sepanjang aliran sungai atau danau yang ada
di sekitar lokasi penambangan tersebut.
Pengupasan tanah penutup penyebabkan terbongkarnya serta teraduknya lapisan
tanah dan batuan yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan air meningkat
terbawa oleh air hujan keperairan di sungai manapun daerah rawa maupun daerah
hilir sungai. Kerusakan bukan hanya secara fisik, yaitu dengan merusak dasar
sungai, morfologi berubah dan membuang bekas galian dan meninggalkan lubang
galian.
Semakin dalam ke bawah tanah, material emas yang ditemukan bisa semakin
banyak. Selain itu, sejumlah pengepul material emas menggunakan air raksa untuk
mengolah material menjadi emas. Air raksa itu lalu dibuang begitu saja ke tanah
dan bisa menyebabkan penurunan kualitas lingkungan akibat limbah merkuri yang
cukup tinggi baik pada endapan sungai, tanah maupun air

5. Pencucian
Setelah melakukan penggalian dan pengambilan material pembawa emas maka akan
dilanjutkan dengan pencucian material terlebih dahulu, pencucian yang dilakukan
merupakan pencucian kasar, yaitu untuk terlebih dahulu membuang lumpur-lumpur
atau pengotor yang masih menempel pada material pembawa emas.
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan : Penurunan populasi ikan di
sungai diakibatkan oleh penurunan nilai oksigen dengan air sungai sebagai akibat
masuknya lumpur kesungai. Tidak tertutup kemungkinan bahwa lumpur (sedimen) itu
membawa material berupa zat yang dapat meracuni bagi kehidupan mahluk hidup
diperairan. Hal ini mengakibatkan berkurangnya perndapatan petani keramba ikan
yang berada di sepanjang aliran sungai
6. Pendulangan
Merupakan kegiatan yang dilakukan setelah pencucian material pembawa emas, alat
untuk mendulang berupa piringan yang terbuat dari kayu yang berbentuk cekung ke
dalam. Material yang mengandung emas lalu didulang dengan cara memutar-memutar
dulangnya, sehingga material ringan seperti tanah dan lumpur bisa terpisah dan emas
bisa diambil dengan mudah.
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan : Menurunnya kualitas air
sungai akibat pembuangan sisa penambangan ke dalam aliran air
7. Proses Amalgamasi
Merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampurkan bijih emas dengan
merkuri (Hg). Teknik penambangan ini memanfaatkan putaran yang diberikan oleh
drum. Sehingga, batuan akan hancur dan merkuri akan mengikat senyawa emas yang
terkandung dalam batuan tersebut. Proses amalgamasi biasanya digunakan untuk
pengekstraksi emas dalam butiran kasar.
Aspek dan Dampak penting terhadap Lingkungan :
- Merkuri dalam kadar rendah umumnya telah beracun bagi hewan, tumbuhan dan
manusia.

Kadar Hg dalam air sungai akan merusak biota hidup air di sungai. Merkuri akan
meracuni air yang dimasukinya, sehingga akan membunuh makhluk hidup yang
ada di dalamnya
Merkuri juga merubah kelas air yang ada di alam ini. Contohnya saja air kelas satu
yang biasanya digunakan untuk air minum masyarakat. Bila disekitar air tersebut
terdapat penambangan emas rakyat, maka secara otomatis air yang ada disana akan
tercemar. Air kelas satu yang memiliki kualitas bagus akan dengan mudah berubah
menjadi air kelas tiga bahkan empat yang tidak akan bisa kembali ke setuasi
awalnya.
Jika kita mengkonsumsi ikan yang tinggal di kawasan terpapar merkuri, maka akan
berpengaruh terhadap metabolisme tubuh.

Peraturan dan Standar :


1. Penambangan rakyat yang sah berdasarkan undang-undang tersebut adalah penambangan
yang dilakukan di daerah yang telah ditetapkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat
(WPR). Ketetapan ini dilakukan oleh menteri atas usulan dari gubernur.
Untuk menentukan dan menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat, menurut UU RI No
4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, tersebut dalam Pasal 21
bahwa WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ditetapkan oleh bupati/walikota
setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/ kota; dalam
pasal 23 dalam menetapkan WPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21,
bupati/walikota berkewajiban melakukan pengumurnan mengenai rencana WPR kepada
masyarakat secara terbuka; dan dalam pasal 68 ayat (1) Luas wilayah untuk 1 (satu) IPR
yang dapat dibcrikan kepada : a. perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare; b.
kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima) helrtare; dan/ atau c. koperasi paling
banyak 10 (sepuluh) hektare.
2. Menurut UU RI No 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara, dalam
pasal 1 tentang ketentuan umum, menyebutkan bahwa :
Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang rneliputi penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian,
pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang.
Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki sifat fisik dan
kimia. tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya yang membentuk batuan,
baik dalam bentuk lepas atau padu.
Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang berupa bijih atau
batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta air tanah.
Izin Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut IPR, adalah izin untuk
melaksanakan usaha pertambangan dalam wilayah pertambangan rakyat dengan luas
wilayah dan investasi terbatas.
Studi Kelayakan adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara rinci seluruh aspek yang berkaitan untuk menentukan kelayakan
ekonomis dan teknis usaha pertambangan, termasuk analisis mengenai dampak
lingkungan serta perencanaan pascatambang.

Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk memproduksi mineral


dan: atau batubara dan mineral ikutannya.
Pengolahan dan Pemurnian adalah kegiatan usaha pertambangan untuk meningkatkan
mutu mineral dan/ atau batubara serta untuk memanfaatkan dan memperoleh mineral
iltutan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, yang selanjutnya disebut amdal, adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha darr/ atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan.
Wilayah Pertambangan Rakyat, yang selanjutnya disebut WPR, adalah bagian dari WP
tempat di lakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
3. Dalam PP RI No 22 TAHUN 2010 Tentang Wilayah Pertambangan, dijelaskan dalam
pasal 7 bahwa : Penyelidikan dan penelitian pertambangan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 dilaksanakan secara terkoordinasi oleh Menteri, gubernur, dan bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya; dalam Pasal 8 ayat (1)m bahwa Dalam melakukan
kegiatan penyelidikan dan penelitian pertambangan, Menteri atau gubernur dapat
memberikan penugasan kepada lembaga riset negara dan/atau lembaga riset daerah; dan
dalam pasal 27 ayat (1) Wilayah di dalam WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
yang memenuhi kriteria ditetapkan menjadi WPR oleh bupati/walikota setempat setelah
berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah kabupaten/kota ; dan dalam ayat (2) Penetapan WPR sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis oleh bupati/walikota kepada Menteri
dan gubernur
4. Dalam PP RI NOMOR 23 TAHUN 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Pertambangan Mineral Dan Batubara, dalam pasal 4 disebutkan bahwa : Untuk
memperoleh IUP, IPR, dan IUPK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1)
pemohon harus memenuhi persyaratan administratif, teknis, lingkungan, dan financial;
kemudian dalam pasal 47 ayat (2) disebutkan bahwa : IPR diberikan setelah ditetapkan
WPR oleh bupati/walikota.
B. Produksi : Emas
C. Jasa : Jasa Angkutan
D. Kebijakan Lingkungan
1. Mengembangkan dan menerapkan suatu sistem manajemen lingkungan yang
mengacu kepada peraturan perundangan dan standar yang berlaku.
2. Mengupayakan penggunaan sistem, metode,peralatan, bahan yang memiliki dampak
negatif minimal bagi lingkungan dalam setiap kegiatan pertambangan
3. Memiliki,melaksanakan dan memenuhi ketentuan dokumen lingkungan dalam setiap
kegiatan operasional
4. Melakukan upayya pencegahan dan meminimalkan terjadinya pencemaran terhadap
lingkungan
5. Pemulihan lahan terganggu dan merehabilitasi sesuai dengan peruntukkannya
termasuk menjaga dan memelihara flora dan fauna di dalamnya
6. Memiliki prosedur tanggap darurat bagi kegiatan yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan lingkungan
7. Melakukan evaluasi untuk meningkatkan kinerja lingkungan secara berkelanjutan

8. Setelah proses penambangan selesai harus dilakukan tahapan reklamasi. Proses ini
merupakan proses pengembalian hutan atau alam yang rusak kembali seperti semula.
Proses ini biasanya dilakukan dengan cara penanaman hutan kembali dengan
memanfaatkan tanah humus atau tanah subur yang diangkat untuk mendapatkan
cadangan yang di tambang.
9. Khusus pada proses amalgamasi dilakukan pada lokasi khusus baik untuk
meminimalkan penyebab pencemar bahan berbahaya seperti Hg (merkuri) akibat
peresapan kedalam tanah, terbawa aliran air permukaan maupun gas yang terbawa
oleh angin.
10. Dilengkapi dengan kolam pengendap yang berfungsi baik untuk mengolah seluruh
tailing hasil pengolahan sebelum dialirkan ke perairan bebas sehingga kadar Hg yang
tinggi bisa berkurang.