Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Semua kelompok ras memiliki potensi yang sama terkena cerebral palsy.
Status sosioekonomi yang rendah serta jenis kelamin laki-laki merupakan
risiko tinggi kejadian cerebral palsy. Perbandingan insiden antara laki-laki

Masalah tumbuh kembang anak yang paling sering dijumpai salah


satunya adalah cerebral palsy. Cerebral palsy (CP) merupakan terminologi
yang digunakan untuk menunjukkan adanya gangguan fungsi motorik

dan perempuan adalah 1,4 : 1,0. Insiden relatif cerebral palsy yang
digolongkan berdasarkan keluhan motorik adalah sebagai berikut: spastik
65%, atetosis 25%, ataktid 10%. 1

akibat lesi non-progresif (statik) pada awal proses perkembangan otak.


Cerebral palsy dapat disebabkan oleh faktor genetika, metabolik, iskemik,

Pentingnya multidisiplin dalam penanganan penderita cerebral

infeksi, serta etiologi didapat lainnya. Pada awalnya cerebral palsy

palsy, seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah tulang, bedah saraf,

disebut sebagai static encephalopathy, namun terminologi ini kurang tepat

psikologi, ahli wicara, fisioterapi, pekerja sosial, guru sekolah luar biasa.

mengingat gambaran neurologis cerebral palsy biasanya berubah seiring

Disamping itu juga harus disertakan peranan orang tua dan masyarakat. 4

dengan waktu. Cerebral palsy biasanya berhubungan dengan gangguan


bicara, penglihatan, serta intelektual. Meskipun demikian, cerebral palsy
merupakan gangguan secara selektif terhadap sistem motorik otak. Banyak

DISKUSI

anak dan dewasa dengan cerebral palsy memiliki kemampuan intelektual


yang baik dan menempuh pendidikan tinggi tanpa adanya tanda disfungsi
kemampuan kognitif. 1,2,3
Meskipun metode dan peralatan medis untuk perawatan neonatus
telah berkembang secara signifikan, insidensi cerebral palsy tidak
mengalami perubahan dalam lebih dari 4 dekade terakhir. Prevalensi
cerebral palsy di negara-negara maju adalah 2-2,5 kasus per 1000 kelahiran
hidup, dimana bayi prematur merupakan kelompok prevalensi tertinggi.

Cerebral palsy adalah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yang


menetap dan tidak progresif, meskipun gambaran klinisnya dapat berubah
selama hidup; terjadi pada usia dini dan merintangi perkembangan otak
normal dengan menunjukkan kelainan posisi dan pergerakan disertai
kelainan neurologis berupa gangguan korteks serebri, ganglia basalis, serta
serebelum. Pada saat diagnosis ditegakkan, penyakit susunan saraf pusat
yang aktif sudah tidak ada lagi. 6

Pada negara berkembang, prevalensi cerebral palsy tidak begitu jelas


diketahui, namun diperkirakan antara 2-2.5 kasus per 1000 kelahiran hidup.
1

Cerebral palsy merupakan penyebab utama gangguan fungsi afeksi

keracunan kehamilan dapat menimbulkan cerebral palsy. Kelainan

dan pertumbuhan anak. Tanda-tanda yang tampak pada cerebral palsy

yang mencolok biasanya gangguan pergerakan dan retardasi mental.


2. Perinatal
a. Anoksia/hipoksia
Anoksia atau hipoksia dapat terjadi pada bayi dengan presentasi

meliputi:

Riwayat keterlambatan perkembangan pada tahun pertama kehidupan


Abnormalitas tonus otot merupakan gejala yang paling sering
ditemukan, anak dapat ditemukan dalam kondisi hipotonik atau

infeksi plasenta, partus menggunakan bantuan instrumen tertentu ,

hipertonik yang lebih sering terjadi, dapat disertai dengan penurunan

serta lahir dengan bedah sesar.


b. Perdarahan otak
Perdarahan dan anoksi dapat bersama-sama, sehingga sukar

atau peningkatan resistensi terhadap gerakan pasif. Anak dengan


cerebral palsy dapat mengalami hipotonia pada awalnya yang
kemudian diikuti oleh hipertonia. Kombinasi hipotonia aksial dengan

hipertonia perifer mengindikasikan adanya proses sentral.


Gangguan fungsi lengan sebelum usia 1 tahun: Tanda kemungkinan

terjadinya hemiplegia
Merangkak secara asimetris atau tidak mampu merangkak
Gangguan pertumbuhan, khususnya kegagalan tumbuh kembang
Peningkatan refleks, mengindikasikan adanya lesi pada upper motor
neuron, kondisi ini dapat juga tampak dengan adanya refleks primitif

abnormal, disproporsi sefalo-pelvik, partus lama, plasenta previa,

persisten
Gangguan atau tidak adanya refleks postural maupun refleks protektif

membedakannya. Misalnya saja perdarahan yang mengelilingi


batang otak dapat mengganggu pusat pernapasan dan peredaran
darah yang menyebabkan terjadinya anoksia. Perdarahan dapat
terjadi di ruang subarakhnoid menyebabkan penyumbatan cairan
serebrospinal

sehingga

menyebabkan

terjadinya

hidrosefalus.

Perdarahan di ruang subdural dapat menekan korteks serebri


sehingga timbul kelumpuhan spastik.
c. Prematuritas
Bayi kurang bulan mempunyai kemungkinan menderita perdarahan
otak lebih banyak dibandingkan bayi cukup bulan, karena pembuluh
darah, enzim, faktor pembekuan darah, dan lain-lain masih belum

Etiologi cerebral palsy dibagi atas 3 bagian, yaitu pada masa


pranatal, perinatal, serta pascanatal. 1
1. Pranatal
Infeksi terjadi dalam masa kandungan, menyebabkan kelainan pada
janin, misalnya oleh lues, toksoplasma, rubela, dan penyakit inklusi

sempurna.
d. Ikterus
Ikterus pada masa neonatal dapat menyebabkan kerusakan jaringan
otak yang persisten akibat perfusi bilirubin ke ganglia basal. Hal ini
menyebabkan kelainan yang disebut dengan kernikterus. Kernikterus

sitomegalik. Anoksia dalam kandungan, terkena radiasi sinar-X dan


2

biasanya terjadi pada pasien dengan inkompatibilitas golongan


darah.
e. Meningitis purulenta
Meningitis purulenta pada masa bayi bila terlambat atau ditangani
secara tidak tepat akan menyisakan gejala sisa berupa cerebral
palsy.
3. Pascanatal
Setiap kerusakan pada jaringan otak yang mengganggu perkembangan
dapat menyebabkan cerebral palsy, beberapa diantaranya adalah
trauma kapitis, meningitis, ensefalitis, serta luka parut pada otak pasca

Gambar 1. Bagian kerusakan pada palsi serebral

bedah.
Gambaran klinis cerebral palsy ditandai dengan adanya kelainan fungsi dan
lokalisasi serta kelainan non-motorik yang menyulitkan inspeksi gambaran
klinis pada penyakit ini.
Patologi anatomi
Kelainan tergantung dari berat ringannya asfiksia yang terjadi pada
otak. Pada keadaan yang berat tampak ensefalomalasia kistik multipel atau
iskemia yang menyeluruh. Pada keadaan yang lebih ringan terjadi patchy
necrosis didaerah paraventrikuler substansia alba dan dapat terjadi atrofi
yang difus pada substansia grisea korteks serebri. Kelainan tersebut dapat
fokal menyeluruh tergantung tempat terkena.

Kelainan fungsi motor terdiri dari:


1. Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai
dengan klonus dan refleks babinski yang positif. Tonus otot yang
meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun pasien dalam
keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu
gabungan otot karena itu tampak sikap yang khas dengan
kecenderungan terjadi kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi,
fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan dalam pronasi serta
jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak
tangan. Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan
lutut, kaki dalam fleksi plantar dan tepat waktunya.
Kerusakan biasanya terletak di traktus kortikospinalis.
Golongan spastisitas meliputi 2/3 3/4 pasien palsi serebral. Bentuk
3

kelumpuhan

spastisitik

tergantung

pada

letak

dan

luasnya

asfiksia berat atau ikterus kern pada masa neonatal. Golongan ini

kerusakan: yaitu hemiplegia/hemiparesis kelumpuhan pada lengan

meliputi 5-15% dari kasus palsi serebral.


4. Ataksia
Ataksia ialah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini

dan tungkai sisi yang sama; monoplegia /monoparesis kelumpuhan


keempat anggota gerak, tetapi salah satu anggota gerak lebih hebat
dari yang lainnya.
Diplegia/diparesis kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi
tungkai lebih hebat dari pada lengan. Tetraplegia/tetraparesis
kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi lengan lebih atau sama
hebatnya dibandingkan dengan tungkai.
2. Tonus otot yang berubah
Bayi pada golongan ini pada usia bulan pertama tampak
flaksid dan berbaring seperti kodok terlentang, tetapi bila dirangsang
atau mulai diperiksa tonus ototnya berubah menjadi spastik. Refleks
otot yang normal dan refleks babinski negatif, tetapi khas ialah
refleks neonatal dan tonic neck reflex menetap. Kerusakan biasanya
terletak di batang otak dan disebabkan oleh asfiksia perinatal atau
ikterus. Golongan ini meliputi 10-20% dari kasus palsi serebral.
3. Koreo-atetosis
Kelainan yang khas ialah sikap abnormal dengan pergerakan
yang terjadi dengan sendirinya (involuntary movement). Pada 6

biasanya flaksid dan menunjukkan perkembangan motorik yang


terlambat. Kehilangan keseimbangan tampak bila mulai belajar
duduk. Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan
canggung dan kaku. Kerusakan terletak di serebelum. Terdapat kirakira 5% dari kasus palsi serebral.
5. Gangguan pendengaran
Terdapat pada 5-10% anak dengan palsi serebral. Gangguan
berupa kelainan neurogen terutama persepsi nada tinggi, sehingga
sulit menangkap kata-kata. Terdapat pada golongan koreo-atetosis.
6. Gangguan bicara.
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retardasi mental.
Gerakan yang terjadi dengan sendirinya di bibir dan lidah
menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut sehingga anak
sulit membentuk kata-kata, sering tampak anal berliur.
7. Gangguan mata.
Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan
kelainan refleks. Pada keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi
katarak. Hampir 25% pasien palsi serebral menderita kelainan mata.

bulan pertama tampak bayi flaksid, tapi sesudah itu barulah muncul
kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap dan tampak adanya
perubahan tonus otot. Dapat timbul juga manifestasi spastisitas dan
ataksia. Kerusakan terletak di ganglia basal dan disebabkan oleh

Banyak klasifikasi yang dianjurkan oleh para ahli, salah satunya


klasifikasi

berdasarkan

gambaran

klinis

dan

derajat

kemampuan

fungsional : 6
a. Spastik
4

Sebanyak 60% penyandang palsi serebral dimungkinkan memiliki

3. Quadriplegia : melibatkan 4 anggota tubuh yang terkena

kelainan spastik yang disebabkan oleh kerusakan dibagian otak yang

kelainan.
4. Paraplegia : muncul jika kedua kaki memiliki kelainan tetapi

berbentuk piramid, didalamnya terdapat saraf yang saling bertautan


dengan otak bagian luar yang berperan sebagai pengatur inisiatif

muka dan tangannya normal.

gerakan cepat. Kekejangan didiagnosis sebagai peningkatan pada


gerakan otot atau siatuasi yang menyebabkan otot-otot menjadi
tegang. Secara nyata anggota tubuhnya mempunyai kelainan.
Klasifikasi paling umum dari spastisitas adalah :
1. Hemiplegia : bagian kiri atau kanan anggota tubuh terjadi
kelumpuhan, lengan lebih berkelainan daripada kaki. Anggota
tubuh yang mengalami gangguan tumbuh lebih lambat.
Prevalensinya sekitar 35-40% dari anak palsi serebral. Gambaran
pola perkembangannya : 1) keterlambatan dalam kemampuan
duduk; 2) berjalan dan berbicara berada pada tingkatan seorang

Gambar 2. Bentuk-bentuk palsi serebral spastik

bayi; 3) mempunyai kelainan persepsi dan belajar. Ketidak

b. Atetosis
Dikarakteristikkan dengan adanya gerakan-gerakan yang tidak

normalan perkembangan fisik diikuti salah satu kaki lebih

terkoordinasi dan tanpa sengaja atau diluar kemauan, gerakan bisa

pendek, rotasi panggul secara induksi dan internal, gerakan

pelan dan menggeliat atau secara tiba-tiba dan tersentak. Gerakan ini

rotasi dan atropo otot yang tidak semestinya. Perkembangan

terjadi sewaktu tidur atau saat anak tersebut dalam keadaan rileks.

tulang pada satu sisi menjadi berkurang. Anak dengan spastik

Gerakan muka seringkali tidak normal, meliputi gerakan pada gigi,

hemiplegi mempunyai integensi rendah, kesulitan bergerak, daya

bibir, dan pengontrolan pernapasan. Intelegensia anak atetoid

taktil yang kurang, kesulitan dalam berbicara, bermasalah dalam

umumnya normal tetapi mempunyai kecenderungan yang sangat

melihat dan mendengar, dan sulit berkonsentrasi. Anak ini

tinggi untuk mendapatkan kebutaan.

membutuhkan banyak bantuan untuk kehidupan sehari-harinya


2. Triplegia : terjadi pada tiga anggota tubuh yang mendapat
kelainan
5

Gambar 3. Bentuk atetoid

Gambar 4. Bentuk ataksia


Pemeriksaan awal dengan melakukan skreening awal Denver II,

c. Ataksia
Hanya terjadi pada sebagian anak kecil dan penyebabnya kerusakan
pada serebelum yang berfungsi mengatur gerakan halus. Kondisi
terebut berpengaruh terhadap lengan, gerakan-gerakan yang
dilakukan secara tepat, dan penyebab dari kelumpuhan. Seringkali
seluruh dari empat anggota tubuh tidak berfungsi. Kelainan kaki
lebih berat dari lengan, sering kali nistagmus dan tremor.

didapatkan keterlambatan atau penundaan tertentu seperti motor. Skreening


harus dilakukan secara bertahap bersamaan dengan terapi yang dilakukan
untuk melihat perkembangan kemampuan anak.
Cerebral palsy yang diderita oleh pasien pada kasus ini adalah tipe
spastik. Cerebral palsy tipe ini mengalami peninggian tonus otot sehingga
pasien terlihat kaku. Pasien mengeluhkan gangguan ini pertama kali pada
usia 1 tahun 3 bulan. Gangguan ini diawali oleh etiologi yang kemungkinan
besar adalah hipoksi (atau bahkan mungkin anoksia) otak karena pada masa
perinatal ibu pasien mengalami partus lama dan juga adanya riwayat
meningitis TB.
Mengingat dampak palsi serebral pada anak tidak saja mengenai
aspek fisik (motorik) tetapi juga menyangkut aspek lainnya seperti adaptif,
bahasa, kognitif, pendengaran, penglihatan dan sebagainya, maka
6

penanganannya memerlukan suatu tim yang terdiri atas berbagai kalangan

Pada usia sekolah saat anak mulai berfantasi sebagai cara untuk

profesi seperti ahli syaraf, fisioterapis, terapi okupasi, dokter anak, ahli

melepaskan pikiran yang menakutkan tentang gambaran dirinya, dilakukan

THT, ahli mata dan lainnya dalam suatu senter tersendiri. Selain itu harus

terapi psikologis dengan latihan tingkah laku yang di dalamnya fantasi

melibatkan orang tua pasien, mereka harus dibangun kepercayaan dirinya

memainkan peranan penting. Dengan terapi ini anak dapat mengembangkan

dalam kemampuannya merawat anaknya. Juga perlu diberi informasi dasar

cara untuk mencapai penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Pada usia

untuk menolong mereka memecahkan masalah secara mandiri di masa

sekolah akibat pacu tumbuh, akan terjadi keadaan spastis yang lebih berat.

depan.

Mereka memerlukan koreksi operasi dan memerlukan perawatan yang lama


Anak palsi serebral tipe flaksid akan mengalami masalah

di rumah sakit. (Oka, 2000; Lewitt, 2010)

pernafasan, mengunyah dan menelan makanan. Oleh karena itu kepada


orang tua perlu diajarkan cara melakukan postural drainage dan perkusi
untuk membersihkan jalan napas. Anak palsi serebral yang disertai kebutaan

Pemeriksaan khusus

mengalami gangguan persepsi. Terhadap mereka perlu diberikan permainan

1. Pemeriksaan mata dan pendengaran segera dilakukan setelah

dengan menggunakan gerakan motorik kasar sedini mungkin untuk

diagnosis palsi serebral ditegakkan


2. Pungsi lumbal harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan

menolong perkembangan kesadaran akan posisi diri di dalam ruang,


merasakan gerakan yang memberi rasa nyaman dan percaya diri. Pasien
usia bayi harus dirangsang untuk meletakkan tangan di garis tengah, meraih
objek dan meraba, meraih melalui arah suara, meraih objek bila
dipindahkan. Mereka harus diberi kesempatan berbuat walaupun salah,
sebagai bagian dari proses belajar termasuk keterampilan motorik.
Terhadap orang tua perlu diberi informasi akan kelainan yang
diderita pasien dan aspek-aspek lain yang ikut terkena. Terhadap saudara
pasien, perlu ditekankan rasa menerima keadaan pasien, gambaran klinis

penyebabnya suatu proses degeneratif. Pada palsi serebral, CSS


normal
3. Pemeriksaan EEG dilakukan pada pasien kejang atau pada golongan
hemiparesis baik yang disertai kejang atau tidak.
4. Foto rontgen kepala
5. CT scan kepala
6. Penilaian psikologis perlu dikerjakan untuk tingkat pendidikan yang
dibutuhkan.
7. Pemeriksaan metabolik untuk menyingkirkan penyebab lain dari
retardasi mental.

pasien dan kemungkinan memakai alat bantu.


Penatalaksanaan
7

Pengobatan kausal tidak ada, hanya simptomatik. Pada keadaan ini

diperlakukan sama seperti anak normal, yaitu pulang ke rumah

perlu kerja sama yang baik dan merupakan suatu tim teridiri dari dokter

dengan kendaraan bersama-sama, sehingga mereka tidak merasa

anak, neurolog, psikiater, dokter mata, dokter THT, ahli ortopedi, psikolog,

diasingkan, hidup dalam suasana normal. Orang tua sebaiknya tidak

fisioterapi, pekerja sosial, guru sekolah luar biasa dan orang tua pasien.
1. Fisioterapi
Tindakan ini harus segera dimulai dengan intensif. Orang tua turut
membantu program latihan di rumah. Untuk mencegah kontraktur
perlu diperhatikan posisi pasien pada waktu istirahat atau tidur. Bagi
pasien yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal dipusat
latihan. Fisioterapi ini dilakukan sepanjang pasien hidup.
2. Pembedahan
Bila tejadi hipertonus otot atau hiperspastisitas, dianjurkan untuk
dilakukan pembedahan otot, tendon atau tulang untuk reposisi
kelainan tersebut. Pembedahan stereotaktik dianjurkan pada pasien
dengan pergerakan koreoatetosis yang berlebihan.
3. Pendidikan
Pasien palsi serebral dididik sesuai dengan tingkat intelegensinya, di
sekolah luar biasa atau di sekolah biasa. Mereka sebaiknya

melindungi anak secara berlebihan.


4. Obat-obatan
Pada penderita dengan kejang dapat diberikan obat antikonvulsan
yang sesuai dengan karakteristik kejangnya. Pada keadaan tonus otot
yang berlebihan, obat dari golongan benzodiazepin dapat menolong.
Pada keadaan koreoatetosis diberikan artan. Imipramin diberikan
pada pasien yang depresi.
Prognosis
Kesembuhan dalam arti regenerasi dari otak yang sesungguhnya
tidak dapat terjadi pada penderita cerebral palsy. Tetapi akan terjadi
perbaikan sesuai dengan tingkat maturitas otak yang sehat sebagai
kompensasinya. Prognosis paling baik pada derajat fungsi otak ringan,
sedangkan bertambah berat bila disertai retardasi mental, bangkitan kejang,
ganggguan penglihatan dan pendengaran.