Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Ny. D G1P0000Ab000 dengan GEMELI USIA KEHAMILAN 27 MINGGU DAN


PARTUS PREMATURUS IMMINENS
RUANG 8 RSUD Dr. Saiful Anwar Malang
Untuk memenuhi tugas profesi departemen maternitas

Disusun Oleh :
Eka Fitri Cahyani
140070300011103
Kelompok 2

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Laporan Pendahuluan
GEMELI
A. PENGERTIAN
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih

(Manuaba, 1998 : 265).


Kehamilan ganda adalah bila proses fertilisasi menghasilkan janin

lebih dari satu (Saifuddin, 2001 : 311).


Kehamilan ganda adalah satu kehamilan dengan dua janin atau lebih.

(Mochtar, 1990).
Kembar siam adalah keadaan anak kembar dimana tubuh keduanya

bersatu yang terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah
secara sempurna.
Kehamilan ganda adalah suatu keadaan kehamilan dengan jumlah

janin dua atau lebih.(Taber, 1994 : 282).


Kehamilan ganda adalah kehamilan dimana terdapat dua atau lebih

janin dalam satu uterus pada waktu kehamilan tersebut (sewaktu hamil).
(Wikipedia Indonesia, 2003).
B. KLASIFIKASI
Jenis kehamilan kembar menurut Manuaba dan Mochtar (1990) meliputi:
1.

Kehamilan kembar monozigote (identik).


Merupakan kehamilan kembar yang berasal dari satu ovum sehingga
disebutkan juga hamil kembar identik atau hamil kembar homolog atau
hamil kembar uniovuler. Kehamilan kembar monozigote dapat terjadi
karena:
a. Satu ovum dengan 2 inti, hambatan pada tingkat blastula.
b. Hambatan pada tingkat segmentasi.
c. Hambatan setelah amnion terbentuk, tetapi sebelum primitive strike (4
5 minggu kehamilan).
Hamil kembar ini mempunyai ciri sebagai berikut:

Jenis kelamin sama.

Biasanya kembar identik.

Mempunyai gen yang sama.

Pada kehamilan dalam rahim terdapat 1 plasenta, 1 korion, 2 amnion.

Pada hamil kembar monozigote dapat terjadi kelainan pertumbuhan


seperti kembar siam.
2.

Kehamilan kembar dizigote


Merupakan kehamilan kembar 2 ovum, heterolog, glovuler dan fraternal.
Kedua telur dapat berasal dari:
a. 1 ovarium dari 2 flikel de graff.
b. 1 ovarium dari 1 folikel de graff.
c. 1 dari ovarium kanan dan satu lagi dari ovarium kiri.
Ciri kehamilan kembar dizigote yaitu:

Jenis kelamin dapat sama atau berbeda.

Mempunyai 2 plasenta, 2 amnion, 2 korion.

Pada kehamilan kembar digizote:

Dapat terjadi satu janin meninggak dan yang lain tumbuh sampai
cukup bulan.

Janin yang mati bisa diresorbsi (kalau pada kehamilan muda) atau
pada kehamilan agak tua janin jadi gepeng disebut fetus papyraseus
atau kompresus.

Perbedaan kehamilan kembar monozigote dan dizigote


Perbedaan
Plasenta

Kembar Monozigote
1 (70 %)
2 (30 %)

Khorion

2 (100 %)

1 (70 %)
2 (30 %)

Amnion

Kembar Dizigote

2 (100 %)

1 (70 %)
2 (30 %)

2 (100 %)

2 bersekutu

2 terpisah

Sekat kedua kantong

2 lapis

4 lapis

Jenis kelamin

Sama

Sama / tidak

Rupa dan sifat

Sama

Agak berlainan

Mata, kuping, gigi, kulit

Sama

Berbeda

Ukuran antropologik

Sama

Berbeda

Sidik jari

Sama

Berbeda

Bisa sama, bisa satu

Bisa sama, bisa

kidal, uang lain kanan

duanya kanan

Tali pusat

Cara pegangan

Golongan darah

Sama

Sama / tidak

3. Conjoined twins, suporfokundasi dan suporfotasi

Conjoi
ned twins atau kembar siam
ialah kembar dimana janin melekat satu dengan yang lainnya.
Misalnya:
- torakopagus (dada dengan dada)
- dominopagus (perlengketan kedua abdomen)
- kraniopagus (kedua kepala)

Suporf
okundasi
ialah perbuahan 2 telur yang dikeluarkan pada ovum yang sama pada
dua kali
koitus yang dilakukan pada jarak waktu yang pendek.

Suporf
etasi
Adalah kehamilan kedua yang terjadi pada beberapa minggu atau
setelah kehamilan pertama.

Letak Janin
Pada kehamilan kembar sering terjadi kesalahan presentasi dan
posisi kedua janin. Begitu pula letak janin kedua dapat berubah setelah janin
pertama lahir, misalnya letak lintang berubah jadi letak sungsang atau letak
kepala. Berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi bisa terjadi; yang
paling sering dijumpai adalah:
1. Kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala; (44-47%);
2. Letak membujur, presentasi kepala bokong (37-38%);
3. Keduanya presentasi bokong (8-10%);
4. Letak lintang dan presentasi kepala (5-5,3%);
5. Letak lintang dan presentasi bokong (1,5-2%);
6. Dua-duanya letak lintang (0,2-0,6%);
7. Letak dan presentasi 69 adalah letak yang berbahaya, karena dapat
terjadi kunci mengunci (interlocking).

C. ETIOLOGI
Dalam berbagai literatur disebut insiden kehamilan kembar adalah 1
kehamilan kembar dibanding 89 kehamilan tunggal. Sedangkan kembar tiga
1 berbanding 89 pangkat dua, dan kembar empat 1 berbanding 89 pangkat
tiga, dan seterusnya. Beberapa faktor berikut menurut Mariono ikut berperan
dalam menyebabkan terjadinya kehamilan ganda:
1. Ras/bangsa
Menurut literatur, ras berwarna seperti bangsa Asia dan Afrika cenderung
lebih besar mengalami kehamilan ganda ketimbang ras kulit putih/Eropa.
Meski belum dapat dibuktikan secara empiris, tapi pada banyak kasus
memang terlihat kehamilan ganda lebih sering dialami ibu-ibu hamil kulit
berwarna dibanding mereka yang berkulit putih.
2. Usia
Dengan bertambahnya usia, kemungkinan terjadinya kehamilan ganda
semakin besar. Akan tetapi selepas umur 40 tahun, probabilitas terjadinya
kehamilan ganda akan menurun lagi.
3. Hereditas/keturunan
Hamil kembar biasanya diwariskan secara maternal (garis keturunan ibu).
Bila dari garis keturunan ibu ada yang kembar, maka prosentase
melahirkan anak kembar lebih besar. Namun tidak tertutup kemungkinan
garis keturunan ayah bisa menimbulkan kehamilan kembar. Yang pasti,
insiden atau angka kejadian dari garis maternal lebih besar dibanding dari
garis paternal.
4. Obat-obatan
Ibu yang memakai obat pemicu ovulasi untuk mematangkan sel telurnya
juga ikut meningkatkan peluang terjadinya kehamilan kembar. Soalnya,
dengan obat tersebut sel telur yang matang pada setiap siklus jadi lebih
dari satu. Obat ini biasanya diberikan pada pasangan yang sulit hamil

dengan faktor penyebab infertilitas indung telur. Itulah mengapa, pada


kasus-kasus pasangan yang sulit mendapat momongan kemudian
menjalani terapi obat-obat penyubur ini, bila akhirnya terjadi kehamilan,
biasanya merupakan kehamilan kembar.

5. Prosedur fertilisasi in vitro


Di sini beberapa embrio yang sudah dibuahi diimplantasikan dalam rahim.
Jika semua berkembang dengan baik, maka terjadi pertumbuhan lebih
dari satu. Di atas usia kehamilan 30 minggu, berat badan masing-masing
janin ini umumnya lebih ringan dibanding janin pada kehamilan tunggal di
usia kehamilan yang sama. Perbedaan berat saat persalinan bisa
mencapai 1000-1500 gram. Penyebabnya diperkirakan adalah regangan
berlebih pada uterus, hingga sirkulasi darah di plasenta mengalami
penurunan.

D. PROSES TERJADINYA KEHAMILAN GANDA


Pada kembar identik atau kembar monozigote, proses terjadinya yaitu
pada saat pembuahan, satu ovum dibuahi oleh satu sel sperma. Kemudian
terbentuk zigote. Zigote membelah secara mitosis, dari 1 sel menjadi 2, dari 2
sel menjadi 4 dan seterusnya yang disebut fase morula, blastula, gastula,
dan neurula.
Bila pembelahan seperti diatas terjadi pada fase morula (1-3 hari setelah
pembuahan), maka setiap embrio akan memiliki kantong ketuban yang
berbeda dan satu plasenta. Kemudian pada fase primitif, akan terjadi
pemisahan sempurna yang akan berkembang menjadi 2 (atau lebih) janin
yang kembar identik.
Bila pada fase primitif terjadi gangguan,

atau terdapat kegagalan

pembelahan, maka biasanya akan menimbulkan kecacatan fisik atau


dempetnya bagian tubuh tertentu. Ketidaksempurnaan akibat gangguan

segmentasi inilah yang menyebabkan proses pemisahan dua jabang bayi tak
berlangsung sempurna dan disebut kembar siam.
Pada kembar fraternal atau kembar dizigote, dimana terjadi dua ovum
yang matang secara bersama sama dibuahi oleh masing masing 1 sel
sperma. Sehingga pada proses pembelahan selanjutnya akan terbentuk 2
janin dengan 2 plasenta, 2 amnion dan 2 korion yang terpisah, tetapi masih
dalam satu rahim.
E. PATOFISIOLOGI (TERLAMPIR)

F. GAMBARAN KLINIK
Pada kehamilan ganda dengan distensi uterus yang berlebihan dapat
terjadi persalinan prematur. Kebutuhan ibu untuk pertumbuhan janin lebih
besar sehingga terjadi defisiensi nutrisi seperti anemia kehamilan yang dapat
menggangu pertumbuhan janin dalam rahim. Frekuensi terjadinya hidramnion
pada hamil ganda sekitar 10 kali lebih besar dari kehamilan tunggal.
Keregangan otot rahim yang menyebabkan iskemik uteri dapat meningkatkan
kemungkinan pre eklampsia dan eklampsia.
Solusio plasenta dapat terjadi setelah persalinan anak pertama karena
retraksi otot rahim yang berlebihan, perjalanan persalinan dapat berlangsung
lebih lama, karena ketegangan otot rahim yang melampaui batas setelah
persalinan, terjadi gangguan kontraksi otot rahim yang menyebabkan atonia
uteri, menimbulkan perdarahan, retensio plasenta dan plasenta rest.
Dengan janin yang relatif berat badannya rendah menyebabkan
morbiditas yang tinggi. Keluhan pada kehamilan kembar diantaranya terasa
sesak napas, sering ingin kencing, edema tungkai, pembesaran pembuluh
darah (varises). Dalam perawatan antenatal pada kehamilan kembar dapat di
tingkatkan.(Manuaba, 1994).
G. KOMPLIKASI
Komplikasi potensial meliputi hal hal berikut :
1. Persalinan dan kelahiran prematur, yang terjadi 5 sampai 10 kali lebih
sering dibangding kehamilan tunggal, dan merupakan ancaman terbesar
bagi kehamilan kembar / ganda.

2. Kelainan letak (mal presentasi) kembar yang pertama, dapat bokong,


oblik, atau lintang dan diperkirakan terjadi pada 25 30 % kasus.
3. Persalinan disfungsional, yang disertai dengan peregangan uterus yang
berlebihan.
4. Malformasi janin.
5. Prolaps tali pusat.
6. Hidramnion.
7. Anemia defisiensi besi pada bumil.
8. Pre eklampsia atau eklampsia.
9. Perdarahan antepartum, baik plasenta previa ataupun solusio plasenta,
yang dapat terjadi pada hampir 5 % kehamilan kembar.
10. Perdarahan post partum.
11. Toxaemia gravidarum, lebih sering terjadi pada kehamilan kembar
dibandingkan dengan kehamilan tunggal.
Komplikasi yang sangat jarang meliputi hal hal berikut :
1. Kolisi (collision), yaitu persentuhan bagian bsgisn janin kembar dengan
kembarannya sehingga mencegah penurunan janin.
2. Impaksi, perlekukan bagian janin dari salah satu kembar kedalam
permukaan kembarannya, sehingga memungkinkan penurunan keduanya
secara bersamaan.
3. Kompaksi, proses pengeluaran janin yang betul betul bersamaan dari
kutub presentasi keduanya yang mengisi rongga pelvis sejati dan
mencegah desensus lebih lanjut keduanya.
4. Kembar terkunci (locked twins), presentasi kembar pertama bokong dan
kembar kedua puncak kepala (verteks). Ketika kembar pertama menjalani
desensus, dagunya mengenai leher dan dagu kembar kedua diatas pintu
atas panggul, dan mencegah kemajuan selanjutnya.
5. Kembar monoamniotik, angka mortalitasnya sangat tinggi, hampir 50 %,
mempunyai tali pusat yang kusut dan bersimpul.
(Taber, 1994)
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Ultrasonografi memudahkan

diagnosis

kehamilan ganda,

pertumbuhan janin dan identifikasi presentasi janin.

evaluasi

2. Foto abdimen dapat membantu bila USG tidak tersedia.


3. Pemantauan frekuensi jantung janin memberikan penilaian kesehatan
janin
I.

PENATALAKSANAAN
1. Penanganan dalam Kehamilan
1) Prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah
komplikasi yang timbul, dan bila diagnosa telah ditegakkan periksa
ulang akan lebih sering (1 kali seminggu pada kehamilan 32 minggu
ke atas).
2) Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh dilarang,
karena akan merangsang partus prematurus.
3) Pemakaian gurita korset yang tidak terlalu ketat diperbolehkan,
supaya terasa lebih ringan.
4) Pemeriksaan darah lengkap, Hb dan golongan darah.
5) Makanan dianjurkan mengandung banyak protein dan makan
dilaksanakan lebih sering dalam jumlah lebih sedikit.
6) Bila ada tanda-tanda partus prematurus yang mengancam dengan
pemberian betamethason 24 mg per hari untuk pematangan janin.
7) Anjurkan rawat inap bila:
-

ada kelainan obstetri,

ada his/pembukaan serviks,

adanya hipertensi,

pertumbuhan salah satu janin terganggu,

kondisi sosial yang tidak baik,

profilaksis/mencegah partus prematurus dengan obat tokolitik,

pemasangan jerat (Shirodkars operation).

2. Penanganan dalam Persalinan


1) Bila anak I letaknya membujur, kala I diawasi seperti biasa, ditolong
seperti biasa dengan episiotimi mediolateralis.
2) Setelah itu baru waspada, lakukan periksa luar, periksa dalam untuk
menentukan keadaan janin II. Tunggu, sambil memeriksa tekanan
darah ibu dan lain-lain.
3) Biasanya dalam 10-15 menit his akan kuat lagi. Bila janin II letak
membujur, ketuban dipecahkan pelan-pelan supaya air ketuban tidak

deras mengalir keluar. Tunggu dan pimpin persalinan anak II seperti


biasa.
4) Awas atas kemungkinan terjadinya perdarahan postpartum, maka
sebaiknya dipasang infus profilaksis.
5) Bila ada kelainan letak anak II, misalnya melintang atau terjadi
prolaps talipusat dan solusio plasenta, maka janin dilahirkan dengan
cara operatif obstetrik;
a) Pada letak lintang coba versi luar dahulu.
b) Atau lahirkan dengan cara versi dan ekstraksi;
c) Pada letak kepala persalinan dipercepat dengan ekstraksi vakum
atau forceps.
d) Pada letak bokong atau kaki; ekstraksi bokong atau kaki.
6) Indikasi sectio caesarea hanya pada:
a) Janin I letak lintang;
b) Terjadi prolaps talipusat;
c) Plasenta previa;
d) Terjadi interlocking pada letak kedua janin 69; anak I letak
sungsang dan anak II letak kepala.
J. PROGNOSIS
Mochtar (1998 : 265) menyatakan bahwa prognosis gemelli pada ibu dan
janin adalah :
1. Pada ibu prognosis jelek dibandingkan kehamilan tunggal karena sering
terjadi taksania gravidarum, hidramnion anemia, pertolongan obstetric
operatif dan perdarahan post partum.
2. Pada janin menyebabkan angka kematian peri natal tinggi karena
prmature, prolapsus tali pusat, solutio plasenta, tindakan obstetric karena
kelainan letak janin.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEHAMILAN GANDA
A. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
Pada anamnesa dapat diketahui adanya anak kembar dalam keluarga,
umur dan paritas ibu hamil juga diperhatikan.

Ibu merasa bahwa perutnya lebih besar dari semestinya kehamilan, dan
pergerakan anak mungkin lebih sering terasa.
Kaji keluhan subjektif seperti: perasaan berat, sesak napas, bengkak kaki
dan lain lain.
2. Pemeriksaan fisik.
a. Inspeksi
Perut lebih besar dari tuanya kehamilan.
b. Palpasi
Fundus uteri lebih tinggi tidak sesuai dengan usia kehamilan. Teraba 3
bagian besar janin, teraba 2 balotement, teraba gerakan gerakan
janin yang lebih banyak, serta teraba banyak bagian bagian kecil
c. Auskultasi
Terdengar 2 denyut jantung janin pada 2 tempat yang agak berjauhan
dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau
sama sama dihitung dan berselisih 10.
d. Vaginal toucher
Mungkin teraba kepala yang sudah masuk kedalam rongga pinggul
diatas simphisis teraba bagian besar.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OPERASI
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual,
muntah, anoreksia.
2. Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan peningkatan
tekanan abdomen.
3. Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus meningkat.
4. Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman yang dirasakan
atau aktual terhadap janin dan diri sendiri.
5. Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d kurangnya
informasi.
POST OPERASI
1. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
PRE OPERASI

Diagnosa I: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


mual, muntah, anoreksia
Tujuan: kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil:
-

mual dan muntah berkurang.

Berat badan meningkat karena adanya kehamilan ganda dan


sesuai dengan usia kehamilan.

Nafsu makan meningkat.

Intervensi:
1. Kaji pola makan klien saat ini dan masa lalu.
Rasional: memastikan status nutrisi sebelum konsepsi adalah penting
untuk manajemen perkembangan janin yang tepat, khususnya jaringan
otak pada minggu awal kehamilan.
2. Timbang berat badan klien, bandingkan berat badan saat ini dengan berat
badan kehamilan.
Rasional: berat badan yang kurang beresiko terhadap anemia, defisiensi
vitamin, mineral, protein.
3. Berikan informasi tentang resiko penurunan berat badan selama
kehamilan dan tentang kebutuhan makanan klien dan janin.
Rasional: meningkatkan pengetahuan klien guna memperbaiki status gizi.
4. Anjurkan makan sedikit tapi sering dan sajikan dalam keadaan hangat,
menu seimbang.
Rasional: menghindari mual saat makan sehingga makanan dapat masuk
ke tubuh.
Diagnosa II: Perubahan eliminasi urine b.d pembesaran uterus dan
peningkatan tekanan abdomen.
Tujuan: Pola elminasi BAK normal (frekuensi, jumlah).
Kriteria hasil:
-

Fekuensi berkemih 6 7 kali/hari.

Dapat mengidentifikasi cara cara untuk mencegah statis


urunarius.

Intervensi:
1. Berikan informasi tentang perubahan perkemihan sehubungan dengan
trimester ketiga.

Rasional: membantu klien memahami alasan fisiologis dari frekuensi


berkemih dan nokturia. Pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan
kapasitas kandung kemih, mengakibatkan sering berkemih.
2. Anjurkan klien untuk melakuakn posisi miring kiri saat tidur, perhatikan
keluhan nokturia.
Rasional: meningkatkan perfusi ginjal, memobilisasi bagian yang
mengalami edema dependen, edema berkurang pada pagi hari (pada
kasus edema fisiologis).
3. Berikan informasi mengenai perlunya masukan cairan 6 sampai 8 gelas
perhari.
Rasional: mempertahankan tingkat cairan.
Diagnosa III: Resiko tinggi intoleransi aktivitas b.d kepekaan uterus
meningkat.
Tujuan: Kebutuhan ADL klien terpenuhi.
Kriteria hasil:
-

Klien dapat menyatakan kesadaran terhadap toleransi aktivitas.

Klien dapat merencanakan perubahan yang perlu pada gaya


hidup / aktivitas setiap hari.

Bebas dari kelelahan berlebihan atau kepekaan / kontraksi terus


menerus dari uterus.

Intervensi:
1. Anjurkan klien melakukan aktivitas dengan istirahat yang cukup.
Rasional: menghemat energi dan menghindari pengerahan tenaga terus
menerus untuk meminimalkan kelelahan.
2. Anjurkan istirahat yang adekuat dan penggunaan posisi miring kiri.
Rasional: meningkatkan aliran darah ke uterus dan dapat menurunkan
kepekaan uterus.
3. Instruksikan klien untuk menghindari aktivitas / kerja berat, dan perjalanan
jauh (dengan motor) lebih dari 1 2 jam.
4. Tekankan pentingnya aktivitas hiburan yang tenang.
Rasional: mencegah kebosanan dan menigkatkan kerja sama dengan
pembatasan aktivitas.
Diagnosa IV: Ansietas b.d kemungkinan kelahiran prematur, ancaman
yang dirasakan atau aktual terhadap janin dan diri sendiri.

Tujuan: Ansietas berkurang / hilang.


Kriteria hasil:
-

Klien tampak rileks.

Klien melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi.

Intervensi:
1. Perhatikan tingkat ansietas dan derajat pengaruh terhadap kemampuan
untuk berfungsi / membuat keputusan.
Rasional: stress yang tidak diatasi dapat mempengaruhi penyelesaian
tugas tugas kehamilan.
2. Tinjau ulang kemungkinan kemungkinan sumber ansietas.
Rasional: kehamilan tidak lengkap dihubungkan dengan beberapa
ansietas bagi klien.
3. Kaji tingkat stress klien / pasangan berhubungan dengan komplikasi
medis, hubungan pasangan, hubungan dengan anggota keluarga, dan
ketersediaan dan jaringan kerja pendukung.
Rasional: pola hubungan yang buruk akan meningkatkan tingkat stress.
4. Anjurkan klien / pasangan mengekspresikan perasaan frustasi yang
berkenaan dengan aturan terapi dan atau perubahan gaya hidup.
Jelaskan pada klien bahwa pengungkapan dapat diterima dan penting.
Rasional:

Klien

membutuhkan

lebih

banyak

kesempatan

untuk

mengungkapkan rasa marah/frustasi tentang perubahan dalam hidup


keluarga untuk meminimalkan ansietas.
5. Berikan informasi yang tepat secara individu mengenai intervensi atau
tindakan dan dampak potensial kondisi pada klien dan janin.
Rasional: membantu untuk menurunkan ansietas karena ketidaktahuan.
Diagnosa V: Kurang pengetahuan mengenai situasi resiko tinggi b.d
kurangnya informasi.
Tujuan: menyatakan pemahaman mengenai situasi resiko tinggi dari
kehamilan ganda.
Kriteria hasil:
-

Klien dapat mengungkapkan kesadaran akan kondisi yang


membuat klien beresiko.

Klien dapat menyebutkan kemungkinan tindakan pencegahan.

Klien berpartisipasi untuk mencapai kemungkinan kehamilan dan


persalinan terbaik.

Intervensi:
1. Berikan informasi yang adekuat berhubungan dengan situasi resiko tinggi,
termasuk penjelasan yang singkat dan sederhana dari perubahan
patofisiologis dan implikasi maternal dan janin.
Rasional: Meningkatkan pemahaman klien.
2. Berikan informasi yang tepat berkenaan dengan skrining dan metode tes
serta prosedur.
Rasional: Memberikan kepuasan pada pasien akan informasi.
3. Identifikasi tanda tanda bahaya yang memerlukan pemberitahuan
segera terhadap pemberi perawatan kesehatan (misal: KPD, persalinan
preterm, perdarahan vaginal).
Rasional: Pengenalan situasi beresiko tinggi mendorong evaluasi /
intervensi segera, yang dapat meningkatkan atau membatasi hasil.
POST OPERASI
Diagnosa I: Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.
Tujuan: Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil:
-

Tidak terdapat tanda gejala infeksi

TTV dalam batas normal.

Intervensi:
1. Kaji suhu dan pernapasan klien
Rasional: Peningkatan TTV dapat mennunjukkan terjadinya infeksi.
2. Perhatikan jumlah dan bau rabas lokhea. Tinjau ulang kemajuan normal
dari rubra ke serosa ke alba.
Rasional: Lokhea normal mempunyai bau amis, namun ada endometritis,
rabas mungkin purulen dan bau busuk tidak menunjukkan perubahan
normal.
3. Rawat luka post operasi SC dengan teknik aseptik secara rutin, dan
laporkan bila terdapat tanda gejala infeksi.
Rasional: Perawatan lukan secara aseptik dapat mengurangi resiko
infeksi.
4. Kolaborasi medis pemberian antibiotika, anti inflamasi.
Rasional: Untuk penatalaksanaan mencegah infeksi.
5. Beri nutrisi yang cukup dan menu seimbang, serta masukan cairan yang
adekuat.

Rasional: Mempercepat penyembuhan luka.

Laporan Pendahuluan
Partus Prematurus Imminens
A. Definisi
Menurut Oxorn (2010), partus prematurus atau persalinan prematur
dapat diartikan sebagai dimulainya kontraksi uterus yang teratur yang
disertai pendataran dan atau dilatasi servix serta turunnya bayi pada wanita
hamil yang lama kehamilannya kurang dari 37 minggu (kurang dari 259 hari)
sejak hari pertama haid terakhir.
Menurut Nugroho (2010) persalinan preterm atau partus prematur
adalah persalinan yang terjadi pada kehamilan kurang dari 37 minggu
(antara 20-37 minggu) atau dengan berat janin kurang dari 2500 gram.
Partus preterm adalah kelahiran setelah 20 minggu dan sebelum kehamilan
37 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir (Benson, 2012).
Menurut Rukiyah (2010), partus preterm adalah persalinan pada
umur kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat badan lahir antara 5002499 gram.
Berdasarkan beberapa teori diatas dapat diketahui bahwa Partus
Prematurus Iminens (PPI) adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan
dimana timbulnya tanda-tanda persalinan pada usia kehamilan yang belum
aterm (20 minggu-37 minggu) dan berat badan lahir bayi kurang dari 2500
gram.
2.1. Klasifikasi
Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam problematic pada
derajat prematuritas maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut
dalam tiga kelompok:
2.3.1. Bayi yang sangat premature (extremely premature) 24-30 minggu.
Bayi dengan masa gestasi 24-27 minggu masih sangat sukar
hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi

dengan masa gestasi 28-30 minggu masih mungkin dapat hidup


dengan perawatan yang sangat intensif (perawat yang sangat terlatih
dan menggunakan alat-alat yang canggih) agar dicapai hasil yang
optimum.
2.3.2. Bayi pada derajat premature yang sedang (moderately premature)
31-36 minggu.
Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup jauh lebih baik dari
golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya di kemudian hari
juga lebih ringan dari golongan pertama dan gejala sisa yang
dihadapinya dikemudian hari juga lebih ringan , asal saja pengelolaan
terhadap bayi ini betul-betul intensif.
2.3.3. Borderline premature 37-38 minggu
Bayi ini mempunyai sifat-sifat premature dan matur. Biasanya
beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur, akan
tetapi sering timbul problematic seperti yang dialami bayi premature,
misalnya sindroma gangguan pernapasan, hiperbilirubinemia, daya
isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi
dengan seksama.
2.2. Etiologi
2.4.1. Infeksi dan vaginosis bakterial
Sumber infeksi intra uterin yang menyerang jaringan korionik,
selaput ketuban, dan cairan amnion yang berhubungan dengan
kejadian persalinan prematur diantaranya yaitu bacterial vaginosis,
streptococcus gol.B, streptococcus anaerob, E-Coli, bacteroides.
2.4.2. Komplikasi persalinan
2.4.2.1. Pre Eklampsi/Eklampsi
Preeklamsi atau hipertensi akibat kehamilan yang tidak
ditanggulangi merupakan suatu bahaya bagi sang ibu. Ia
dapat terserang kejang-kejang yang membahayakan dirinya
dan janin yang dikandungnya. Ini berarti bahwa ibu hamil yang
mengalami

preeklamsi

harus

segera

diputuskan

untuk

melahirkan bayi secara prematur.


2.4.2.2. Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum adalah keadaan perdarahan
yang keluar dari vagina ibu hamil pada usia kehamilan lebih
dari

28

minggu,

dapat

diakibatkan

oleh

plasenta

previa(plasenta mentutup sebagian atau seluruh mulut rahim)


dan

solusio

plasenta

(plasenta

terlepas

dari

tempat

melekatnya) yang disebabkan oleh trauma, dapat mengancam

jiwa ibu dan janin sehingga meningkatkan indikasi untuk


mengakhiri persalinan yang berdampak terjadinya persalinan
preterm (Intan, 2010: Cunningham et al, 2005).
2.4.2.3. Serviks inkompeten
2.4.2.4. Kehamilan ganda dan polihidroamnion
2.4.3. Penyakit Sistemik
Berbagai penyakit ibu, kodisi dan pengobatan medis akan
mempengaruhi keadaan kehamilan dan dapat berhubungan atau
meningkatkan kejadian persalinan prematur. Penyakit sistemik
terutama yang melibatkan sistem peredaran darah, oksigenasi, atau
nutrisi ibu dapat menyebabkan gangguan sirkulasi plasenta yang
akan mengurangi nutrisi dan oksigenasi bagi janin. Penyakit-penyakit
ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan janin dalam rahim
dan meningkatkan kejadian eklamsia/preeklamsia yang juga menjadi
penyebab persalinan prematur buatan. Penyakit pada ibu yang
menyebabkan hal tersebut di atas adalah: Hipertensi kronis dan
hipertensi gestasional, lupus eritematosus sistemik, penyakit paru
restriktif,

hipertiroidism,

diabetes

mellitus

pregestasional

dan

gestasional, penyakit jantung, dan penyakit ginjal.


2.4.4. Faktor Resiko
2.4.4.1. Umur ibu
Usia reproduksi yang optimal bagi seorang ibu adalah 2035 tahun. Pada umur kurang dari 20 tahun, organ reproduksi
belum berfungsi dengan sempurna, sehingga bila terjadi
kehamilan dan persalinan akan lebih mudah mengalami
komplikasi dan pada usia lebih dari 35 tahun organ
kandungan sudah tua sehingga jalan lahir telah kaku dan
mudah terjadi komplikasi.(Jenny, 2008).
2.4.4.2. Paritas
Paritas menunjukkan jumlah anak yang pernah dilahirkan
oleh seorang wanita. Paritas merupakan faktor penting dalam
menentukan nasib ibu dan janin baik selama kehamilan
maupun selama persalinan. Pada ibu dengan primipara
kemungkinan terjadinya kelainan dan komplikasi cukup besar
baik pada kekuatan his, jalan lahir, dan kondisi janin.
2.4.4.3. Keadaan sosial ekonomi
Sosial ekonomi masyarakat sering dikaitkan dengan
pendapatan

keluarga,

mencerminkan

kemampuan

masyarakat dari segi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya termasuk kebutuhan kesehatan dan pemenuhan zat


gizi. Selain itu sosial ekonomi seseorang juga mempengaruhi
kemampuan ibu untuk mendapat pelayanan kesehatan yang
memadai, misalnya kemampuan untuk melakukan kunjungan
prenatal untuk memeriksakan keadaan janin. Wanita pada
tingkat sosial ekonomi lebih rendah mempunyai kemungkinan
50%

lebih

tinggi

mengalami

persalinan

kurang

bulan

dibanding tingkat sosial ekonomi lebih tinggi (Jenny, 2008).


2.4.4.4. Riwayat persalinan prematur
Riwayat persalinan preterm merupakan faktor yang
sangat erat dengan persalinan berikutnya. Resiko persalinan
preterm berulang bagi mereka yang persalinan pertamanya
preterm, meningkat tiga kali lipat dibanding dengan wanita
yang persalinan pertamanya aterm (Cunningham et al, 2005).
2.4.4.5. Gaya hidup
Perilaku seperti merokok, gizi buruk, dan penambahan
berat badan yang kurang baik selama kehamilan serta
penggunaan obat seperti kokainatau alkohol telah dilaporkan
mengalami peranan penting pada kejadian dan hasil akhir
bayi dengan berat lahir rendah. Resiko kelahiran preterm
meningkat, yaitu rata-rata dua kali lipat dari wanita bukan
perokok (Cunningham et al, 2005).
2.5. Patofisiologi
Diperkirakan 90% dari pasien yang mengalami infeksi cairan amnion,
menunjukkan adanya mikroba dari vagina dan serviks. Infeksi dapat
mencetuskan berbagai komponen biokimiawi baik local maupun sistemik.
Infeksi intrauterine menyebabkan inisiasi persalinan.
Jalur pertama yang menginisiasi persalinan premature adalah invasi
bakteri yang mengawali aktivasi fosfolipase A2 yang memecah asam
arakidonat dari selaput amnion janin, sehingga asam arakidonat bebas
meningkat untuk sintesis prostaglandin. Menurut Cunningham et al (2005)
data dari penelitian hewan, invitro dan manusia seluruhnya memberikan
gambaran yang konsisten bagaimana infeksi bakteri menyebabkan
persalinan prematur spontan. Invasi bakteri rongga koriodesidua, yang
bekerja melepaskan endotoksin dan eksotoksin, mengktivasi desidua dan
membran janin untuk menghasilkan sejumlah sitokin, termasuk TNF-, IL1, IL-6, IL-8. Selanjutnya, sitokin, endotoksin, dan eksotoksin merangsang
sintesis prostaglandin dan pelepasan metalloprotease dan zat bioaktif

lainnya.

Prostaglandin

merangsang

kontraksi

uterus

sedangkan

metalloprotease menyerang membran korioamnion yang menyebabkan


pecah ketuban.
Jalur kedua yang bisa berperan adalah prostaglandin dehidrogenase di
jaringan korion yang dapat menghambat masuknya prostaglandin ke
miometrium sehingga mencegah terjadinya kontraksi uterus. Infeksi
korionik dapat menurunkan aktivitas dehidrogenase ini, menyebabkan
peningkatan jumlah prostaglandin yang mencapai miometrium.
Jalur ketiga melibatkan janin itu sendiri. Pada janin yang terinfeksi,
terjadi peningkatan produksi corticotrophin releasing hormone oleh
hypothalamus janin dan plasenta yang menyebabkan peningkatan sekresi
kortikotropin janin, yang selanjutnya meningkatkan produksi kortisol oleh
adrenal janin. Pada akhirnya sekresi kortisol akan meningkatkan produksi
prostaglandin dan menyebabkan timbulnya kontraksi uterus.
Vaginosis Bakterial adalah bukan keadaan infeksi namun adalah suatu
keadaan dimana flora vagina normal (laktobasilus penghasil hidrogen
peroksida) diganti dengan kuman-kuman anaerobik meliputi Gardnerella
vaginalis, Mobiluncus dan Mycoplasma hominis (Cunningham et al, 2005;
Wiknjosastro, 2008). Vaginosis bakterial sering dikaitkan dengan abortus
spontan, persalinan preterm, KPD, korioamnionitis dan infeksi cairan
amnion. Vaginosis bakterial menyebabkan terjadinya persalinan preterm
melalui mekanisme yang sama dengan yang terjadi akibat infeksi dalam
cairan amnion.
2.6. Manifestasi Klinis
Menurut Manuaba (2003), manifestasi klinis yang ditimbulkan pada
persalinan prematur diantaranya yaitu :
2.6.1. Nyeri menstruasi seperti kram
2.6.2. Nyeri tumpul di pinggang
2.6.3. Nyeri suprapubik
2.6.4. Rasa berat/tekanan pada panggul
2.6.5. Peningkatan jumlah cairan vagina (kental, bercampur darah atau
lendir)
2.6.6. Diare
2.6.7. Kontraksi uterus yang tidak dapat dipalpasi yang lebih sering terasa
setiap 10 menit selama 1 jam lebih, tidak sembuh dengan berbaring
2.7. Pemeriksaan Diagnostik
2.7.1. Ultrasonografi
Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai 2500
gram).
2.7.2. Tes Nazin untuk menentukan KPD
2.7.3. Jumlah sel darah putih

Jika mengalami peningkatan, maka iyu menandakan adanya


infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap sfingomielin (L/S)
mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru janin, atau
infeksi amniotic
2.7.4. Pemantauan elektronik untuk memfalidasi aktifitas uterus/satatus
janin.
2.8. Penatalaksanaan
Menurut Syaifuddin (2001), bahwa penanganan persalinan prematur
ada 2 yaitu:
2.8.1. Penanganan Umum
2.8.1.1. Lakukan evaluasi cepat keadaan umum ibu.
2.8.1.2. Upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi.
2.8.2. Penanganan Khusus
2.8.2.1. Penilaian Klinik
a. Kriteria persalinan premature antara lain kontraksi yang
teratur dengan jarak 7-8 menit atau kurang dan adanya
pengeluaran lendir kemerahan atau cairan pervaginan.
b. Pada periksa dalam
1.
Pendataran 50 - 80% atau lebih.
2.
Pembukaan 2 cm atau lebih.
c. Mengukur panjang serviks dengan vaginal proses USG:
1.
Panjang serviks kurang dari 2 cm pasti akan terjadi
2.

persalinan premature.
Tujuan utama adalah bagaimana mengetahui dan

3.

menghalangi terjadinya persalinan premature.


Cara edukasi pasien bahkan dengan monitoring
kegiatan di rumah tampaknya tidak memberi

perubahan dalam insidensi kelahiran premature.


2.8.2.2. Penanganan
Perlu dilakukan penilaian tentang :
a. Umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk
penentuan prognosis daripada berat janin.
b. Demam atau tidak.
c. Kondisi janin (jumlahnya, letak/presentasi, taksiran berat
janin, hidup/gawat janin/mati, kelainan congenital, dan
sebagainya) dengan USG.
d. Letak plasenta perlu diketahui untuk antisipasi irisan
seksio sesarea.
e. Fasilitas dan petugas yang mampu menangani calon
bayi terutama adanya seorang neonatalogis, bila dirujuk
f.

sesuai dengan prinsip penanganannya.


Coba hentikan kontraksi uterus/penundaan kelahiran,

atau siapkan penanganan selanjutnya.


g. Upaya menghentikan kontraksi uterus :

1. Pemberian obat
Kemungkinan obat - obat tokolitik hanya
berhasil

sebentar

memberikan

tapi

penting

kortikosteroid

untuk

dipakai

sebagai

induksi

maturitas paru bila usia gestosis kurang dari 34


minggu.
Intervensi

ini

bertujuan

untuk

menunda

kelahiran sampai bayi cukup matang. Penundaan


kelahiran ini dilakukan bila :
Umur kehamilan < 35 minggu
Pembukaa.n seviks < 3 cm
Tidak ada amnionitis, preeklampsia atau
perdarahan yang aktif.
Tidak ada gawat janin.
2. Perawatan di Rumah Sakit
Ibu masuk rumah sakit (rawat inap), lakukan
evaluasi terhadap hisdan pembukaan.
Berikan kortikosteroid untuk memperbaiki

kematangan paru janin.


Berikan 2 dosis betamethason 12 mg IM
selama

12

jam

(berikan

dosis

deksamethason 5 mg IM selama 6 jam).


Steroid tidak boleh diberikan bila ada infeksi
yang

jelas.

Pemberian antibiotika, mungkin berhasil


pada kasus dengan resiko infeksi tinggi.
Organisme

yang

menyebabkan

adalah

golongan aerob Gram (+) dan (-), anaerob


dan lain - lain yang berasal dari :
- Biasanya
flora
normal

dari

vagina/rectum.
Kadang eksogen akibat tindakan yang

aseptic (grup A streptokokus).


Obat tokolitik yang dianjurkan :
Berikan obat-obatan tokolitik tidak > 48
jam. Monitor keadaan janin dan ibu (nadi,
tekanan
kontraksi

darah,
uterus,

tanda

distres

nafas,

pengeluaran

cairan

ketuban atau cairan pervaginan, djj, gula


darah).

2.8.2.3. Persalinan Berlanjut


Bila tokolitik tidak berhasil, lakukan persalinan dengan
upaya optimal. Jangan menyetop kontraksi uterus bila :
a. Umur kehamilan lebih dari 35 minggu.
b. Serviks membuka lebih dari 3 cm.
c. Perdarahan aktif.
d. Janin mati dan adanya kelainan congenital yang
kemungkinan hidup kecil.
e. Adanya khorioamnionitis.
f. Preeklampsia.
g. Gawat janin.
Monitor kemajuan persalinan memakai partograf.
Hindarkan pemakaian vakum untuk melahirkan
(sebab resiko perdarahan intrakranial pada bayi
premature cukup tinggi).
2.9. Komplikasi
Komplikasi partus prematur yaitu terjadinya perdarahan plasenta
dengan pembentukan prostaglandin dan mungkin induksi stress, janin mati,
dan kelainan congenital (Saifudin, 2002 : 300) sedangkan menurut Nur
Cahyo (2008) komplikasi partus prematur yaitu:
2.9.1. Sindroma gawat janin
2.9.2. Ketidakmatangan pada system saraf
2.9.3. Rentang terjadinya perdarahan otak atau serangan apneu
2.9.4. Intoleransi pemberian makanan
2.9.5. Retinopati dan gangguan penglihatan atau kebutaan (fibroplasia
retrolental)
2.9.6. Displasia bronkopulmoner
2.9.7. Penyakit jantung
2.9.8. Jaundice
2.9.9. Infeksi atau septicemia
2.9.10. Anemia
2.9.11. Hipoglikemia/ Hiperglikemia
2.9.12. Perkembangan dan partumbuhan yang terhambat
2.9.13. Keterbelakangan mental dan motorik
2.10. Prognosis
Pada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi
yang lahir dengan berat 2000 sampai 2500 gram mempunyai harapan
hidup lebih dari 97 %, sedangkan 1500 sampai 2000 gram lebih dari 90 %,
serta 1000 sampai 1500 gram sebesar 65-80 % (Mansjoer, 2002).
Prematurnya masa gestasi akan dapat mengakibatkan ketidakmatangan
pada semua sistem organ, baik itu pada sistem pernafasan (organ paruparu), sistem peredaran darah (jantung), sistem pencernaan dan sistem
syaraf pusat (otak). Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah yang

membuat bayi prematur cenderung mengalami kelainan dibandingkan bayi


normal.
B. Pengkajian
Fokus pengkajian keperawatan yaitu :
1. Sirkulasi
Hipertensi, Edema patologis (tanda hipertensi karena kehamilan (HKK),
penyakit sebelumnya.

2. Intregitas Ego
Adanya ansietas sedang.

3. Makanan/cairan
Ketidakadekuatan atau penambahan berat badan berlebihan.
4. Nyeri/Katidaknyamanan
Kontraksi intermiten sampai regular yang jaraknya kurang dari 10 menit
selama paling sedikit 30 detik dalam 30-60 menit.

5. Keamanan
Infeksi mungkin ada (misalnya infeksi saluran kemih (ISK) dan atau
infeksi vagina)

6. Seksualitas : Tulang servikal dilatasi, Perdarahan mungkin terlihat,


Membran mungkin ruptur (KPD), Perdarahan trimester ketiga, Riwayat
aborsi, persalinan prematur, riwayat biopsi konus, Uterus mungkin
distensi berlebihan, karena hidramnion, makrosomia atau getasi multiple.

7. Pemeriksaan diagnostik
Ultrasonografi : Pengkajian getasi (dengan berat badan janin 500 sampai
2500 gram)
Tes nitrazin : menentukan KPD
Jumlah sel darah putih : Jika mengalami peningkatan, maka itu
menandakan adanya infeksi amniosentesis yaitu radio lesitin terhadap
sfingomielin (L/S) mendeteksi fofatidigliserol (PG) untuk maturitas paru
janin, atau infeksi amniotik
Pemantauan elektronik : memfalidasi aktifitas uterus/status janin.
C. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (fisik, biologis, kimia,
psikologis), kontraksi otot dan efek obat-obatan.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan hipersensitivitas otot/seluler,
tirah baring, kelemahan
3. Ansietas, ketakutan berhubungan dengan krisis situasional, ancaman yng
dirasakan atau aktual pada diri dan janin.
4. Kurang pengetahuan mengenai persalinan preterm, kebutuhan tindakan
dan prognosis berhubungan dengan kurangnya keinginan untuk mencari
informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

D. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri Akut
Diagnosa
Keperawatan
Nyeri

akut

berhubungan

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC :
a.

dengan

agen

injuri

(fisik, b.

biologis,

kimia,

psikologis),
kontraksi

Pain

a. Lakukan

Level,

secara
pain
comfort

dan efek obat-

Setelah

obatan.

tinfakan

komprehensif

durasi, frekuensi, kualitas dan

c.
level

faktor presipitasi
b. Observasi

dilakukan

reaksi

nonverbal

dari ketidaknyamanan

keperawatan c. Bantu pasien dan keluarga

selama . Pasien tidak

untuk

mengalami nyeri, dengan

menemukan dukungan

kriteria hasil:
a.

mencari

dan

d. Kontrol lingkungan yang dapat


Mampu

mengontrol

mempengaruhi nyeri seperti

nyeri

suhu ruangan, pencahayaan

(tahu penyebab nyeri,


mampu

dan kebisingan
e. Kurangi faktor presipitasi nyeri

menggunakan tehnik f.

Kaji tipe dan sumber nyeri

nonfarmakologi untuk

untuk menentukan intervensi

mengurangi

nyeri, g. Ajarkan tentang teknik non

mencari bantuan)
b.

farmakologi:

Melapor
kan

bahwa

berkurang

nyeri

(skala,

analgetik

untuk

mengurangi nyeri: ...

Mampu
mengenali

dala,

hangat/ dingin

dengan h. Berikan

manajemen nyeri
c.

napas

relaksasi, distraksi, kompres

menggunakan

d.

nyeri

termasuk lokasi, karakteristik,

control,

otot

pengkajian

nyeri
intensitas,

i.

Tingkatkan istirahat

j.

Berikan

informasi

tentang

nyeri seperti penyebab nyeri,


berapa

lama

nyeri

akan

frekuensi dan tanda

berkurang

dan

antisipasi

nyeri)

ketidaknyamanan

dari

Menyata

prosedur

kan

rasa

nyaman k. Monitor vital sign sebelum dan

setelah

nyeri

sesudah pemberian analgesik

berkurang

pertama kali

e.

Tanda
vital dalam rentang
normal

f.

Tidak
mengalami gangguan
tidur

2. Intoleransi aktivitas

Intoleransi aktivitas

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC :

berhubungan

a.

Diagnosa
Keperawatan

dengan

a. Observasi adanya pembatasan

Care : ADLs

hipersensitivitas
otot/seluler,

Self

b.

tirah

baring, kelemahan

klien dalam melakukan aktivitas


Tolera

b. Kaji

nsi aktivitas

adanya

faktor

menyebabkan kelelahan

c.

Konser c. Monitor nutrisi


vasi eneergi

Setelah

yang

dan sumber

energi yang adekuat

dilakukan d. Monitor

pasien

akan

adanya

tindakan keperawatan

kelelahan fisik dan emosi secara

selama

berlebihan

bertoleransi

Pasien

terhadap e. Monitor

aktivitas

dengan

Kriteria Hasil :
a.

terhadap

dalam

diaporesis,

kardivaskuler

aktivitas

disritmia,
Berpar

tisipasi

respon

(takikardi,

sesak
pucat,

nafas,
perubahan

hemodinamik)

aktivitas fisik tanpa f.

Monitor pola tidur dan lamanya

disertai peningkatan

tidur/istirahat pasien

tekanan darah, nadi g. Kolaborasikan

dengan

dan RR

Medik

b.

Rehabilitasi
Mamp

melakukan

merencanakan
yang tepat.

progran

Tenaga
dalam
terapi

aktivitas sehari hari h. Bantu


(ADLs)

secara

klien

mengidentifikasi

mandiri

untuk

aktivitas

yang

mampu dilakukan

c.

Kesei
mbangan

i.

aktivitas

Monitor

respon

fisik,

emosi,

sosial dan spiritual

dan istirahat

3. Ansietas
Diagnosa
Keperawatan
Ansietas,
ketakutan

a. Anxiety control
b. Fear control

berhubungan
dengan

krisis

situasional,
ancaman

yng

dirasakan

atau

aktual

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil
NOC :
NIC:

pada

diri

dan janin.

Setelah

Coping Enhancement
a. Jelaskan pada pasien tentang

dilakukan

proses penyakit
tindakan keperawatan b. Jelaskan
semua
selama......takut

tes

dan

klien

pengobatan pada pasien dan

teratasi dengan kriteria

keluarga
c. Sediakan reninforcement positif

hasil :
a.

ketika pasien melakukan perilaku

Memiliki
informasi

untuk

mengurangi takut
b.

Menggunakan

untuk mengurangi takut


d. Sediakan
perawatan
berkesinambungan
e. Kurangi stimulasi

tehnik relaksasi
c.

Mempertahanka
n hubungan sosial
dan fungsi peran

d.

yang

Mengontrol
respon takut

f.

dapat

yang

lingkungan

menyebabkan

misinterprestasi
Dorong mengungkapkan secara
verbal perasaan, persepsi dan

rasa takutnya
g. Perkenalkan dengan orang yang
mengalami penyakit yang sama
h. Dorong
klien
untuk
mempraktekan tehnik relaksasi

4. Kurang pengetahuan
Diagnosa
Keperawatan

Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Hasil

Kurang

NOC:

pengetahuan

a.

NIC :
Kowlw

mengenai

dge

persalinan preterm,

process

kebutuhan
tindakan

disease
Kowle

dge

prognosis

health

pengetahuan

patofisiologi

dari

dengan

anatomi

dan fisiologi, dengan cara yang

Setelah

dilakukan

dengan kurangnya

tindakan

keperawatan c.

keinginan

selama

tidak

Jelaskan
berhubungan

berhubungan

mencari informasi,

tingkat

penyakit dan bagaimana hal ini

Behavior

untuk

Kaji

pasien dan keluarga


b.

b.
dan

a.

tepat.

pasien

Gambarkan tanda dan gejala


yang

menunjukkan

biasa

muncul

pada

penyakit, dengan cara yang tepat

mengetahui pengetahuan

tentang d.

sumber-sumber

proses

penyakit

informasi.

dengan kriteria hasil:


a.

dengan cara yang tepat


e.

Pasien
dan

Identifikasi

kemungkinan

penyebab, dengan cara yang

keluarga

menyatakan

Gambarkan proses penyakit,

tepat
f.

Sediakan

informasi

pada

pemahaman

pasien tentang kondisi, dengan

tentang

cara yang tepat

kondisi,

penyakit,
prognosis g.

dan

program

informasi

pengobatan
Pasien h.
keluarga

mampu

i.

prosedur

kemajuan

Diskusikan pilihan terapi atau


Dukung

pasien

mengeksplorasi
yang

dijelaskan

secara

benar

mendapatkan

untuk
atau

second

opinion

dengan cara yang tepat atau


diindikasikan

c.

Pasien j.
keluarga

mampu
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan

tentang

keluarga

penanganan

melaksanakan

dan

bagi

pasien dengan cara yang tepat

b.
dan

Sediakan

Eksplorasi

kemungkinan

sumber atau dukungan, dengan


cara yang tepat

perawat/tim
kesehatan lainnya

DAFTAR PUSTAKA

Benson, Ralph C dan Pernoll, Martin L. 2012. Buku Saku Obsetri dan Ginekologi.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Cunningham, F., Gary, et al., 1995, Obstetri Williams, Ed. 18, EGC, Jakarta.
Doengoes, Marilynn E, et al., 2001, Rencana Perawatan Maternal / Bayi:
Pedoman untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien,
Ed. 2, EGC, Jakarta.
Hacker, Neville F, Moore, J. G., 2001, Essential Obstetri dan Ginekologi, Ed. 2,
Hipokrates, Jakarta.
Hariadi, R. 2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya : Himpunan
Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia.
Manuaba, I.B.G., 2001, Kapita Selekta Pelaksanaan Rutin Obstetric Ginekologi &
KB, EGC, Jakarta.
Manuaba. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2. Jakarta :
EGC
Mochtar, Rustam, 1990, Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi,
EGC, Jakarta.
NANDA. 2012-2014, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification,
Philadelphia, USA
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nugroho, Taufan. 2010. Kesehatan Wanita, Gender dan Permasalahannya.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Oxorn Harry, dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi dan Fisiologi Persalinan
(Human Labor and Birth). Yogyakarta : YEM.
Prawirohardjo, Sarwono, 1984, Pengantar Ilmu dan Praktek Kebidanan Bag. I,
FKUI, Jakarta.
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk. 2010. Asuahan Kebidanan Patologi. Jakarta : Trans Info
Media
Sulaiman, Sastrawinata, 1979, Obstetri Patologi, UNPAD, Bandung.
Taber, Ben Zion, 1994, Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, Ed.
2, EGC, Jakarta.
Varney, Helen, 2001, Buku Saku Bidan, EGC, Jakarta.
Wiknjosastro, H. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka,
Sarwono Prawirohardjo.
Wikrojosastro, Hanifa, 1999, Ilmu Kebidanan, Ed. 3, Yayasan Bina Pustaka,
Jakarta
Wilkinson, J.M., & Ahern N.R., 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Diagnosa NANDA Intervensi NIC Kriteria Hasil NOC. Edisi
Kesembilan. Jakarta : EGC