Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Dasar teori
Larutan yaitu campuran homogen yang
terdiri dari dua atau lebih zat. Larutan terdiri
atas zat yang dilarutkan atau solute dan pelarut
atau solven. Larutan ada yang jenuh dan yang
tidak jenuh. Larutan disebut jenuh pada
temperature tertentu, bila larutan tidak dapat
lagi melarutkan lebih banyak zat. Bila jumlah zat
terlarut kurang dari ini, disebut larutan tidak
jenuh dan bila lebih disebut larutan lewat jenuh.
Zat yang dapat membentukk larutan lewat
jenuh, misalnya natrium sulfat.

II-1

II-2

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Larutan biner adalah larutan dengan dua
macam komponen. Larutan biner sering
dianggap tidak mempunyai titik azeotrop,
padahal faktanya jika kita meneliti larutan biner
itu mempunyai titik azeotrop, percobaaan untuk
mengetahui titik azeotrop pada larutan biner ini
dilakukan dengan cara melakukan destilasi
larutan kloroform dengan aseton prosedurnya,
destilasi dilakukan dengan cara destilasi
bertingkat, dengan mendestilasi aseton terlebih
dahulu kemudian selesai itu dilanjutkan destilasi
kloroform, keduanya dilakukan pemisahan
destilasi antara destilat dan residu .
Titik Azeotrop merupakan titik didih yang
telah
menunjukan
terjadinya
pemisahan
azeotrop diatas azeotrop yang lainnya. Pada
waktu tertentu hal seperti ini merupakan titik
yang cocok untuk pembentukan susunan antar
dua pilihan. Campuran harus terdiri dari
komposisi yang
lebih pasti memberikan
temperatur dan tekanan. Ini disebabkan oleh
titik azeotrop Jika tekanan total terdiri
darisusunan larutan yang mendidih, yang
diperoleh tidak hanya temperatur azeotrop saja
tetapi juga susunan komposisinya.
Komposisi titik azeotrop harus benarbenar memberikan tekanan yang tetap sehingga
memberikan ketetapan pada larutan zat asam
garam dengan komposisi yang lebih sedikit
daripada titik didih maksimum pada destilasi
sehingga mencapai titik azeotrop. Azeotrop
kemudian dikumpulkan dan tekanan barometer
destilasi yang mengelilingi. Komposisi Azeotrop
dapat diketahui dan banyak yang beranggapan
bahwa komposisi zat asam garam dapat
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-3

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
dicairkan dengan ketelitian yang cukup tinggi
untuk digunakan sebagai analisa kuantitatif.

Fase adalah bagian dari sistem yang


komposisi kimia dan sifat-sifat fisiknya seragam,
yang terpisah dari bagian sistem lainnya oleh
adanya bidang batas. Perilaku fase yang
dipunyai suatu zat murni adalah sangat
beragam dan rumit, akan tetapi data-datanya
dapat dikumpulkan dan kemudian dengan
termodinamika dapat dibuat ramalan-ramalan.
Pemahaman
mengenai
perilaku
fase
berkembang dengan adanya aturan Fase Gibbs.
Untuk sistem dua komponen, yaitu A dan B,
berlaku aturan fase, sebagai berikut :
F=C-P+2=4P
dimana : C = jumlah komponen
P = jumlah fase
F = derajat kebebasan
Ketika terdapat sebuah fase tunggal tekanan
P, temperatur T, dan komposisi XB ( mol fraksi
komponen B ) dari fase tersebut dapat bervariasi.
Ketika
terdapat
dua
fase
pada
suatu
kesetimbangan, misalnya :kesetimbangan Cair-Uap,
akan ada 4 variabel, tetapi hanya ada dua variabel
yang dapat bervariasi. Jika P dan T ditentukan, XBL
dan XBV ( fraksi mol ( fraksi mol komponen B pada
fase cair dan uap ) ditetapkan pada batas tertentu
pada P dan T tersebut. Titik temu antara XBL dan
XBV yang ada pada dua (garis) fase ditunjukkan
pada gambar 1. Daerah diantara kedua garis
tersebut dapat digambarkan sebagai adanya dua
fase cair dan uap. Dalam daerah ini, XB
digambarkan sebagai fraksi mol dari komponen B
untuk sistem secara keseluruhan. Dalam daerah dua
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-4
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
fase, XB tidak dapat diabaikan karena merupakan
variabel penting. Dalam daerah dua fase, XB
menunjukkan ukuran relatif dari dua fase komponen
B dalam sistem tersebut, dimana XB terdiri dari XBL
dan XBV. Fraksi molar XV sangat beraneka ragam,
dari nol sampai satu :
XB - XBL
XV = 1 - XL =
XBV - XBL
Diagram
fase
binair
uap-cair
ideal
menggambarkan hal-hal khusus dari dua komponen
yang membentuk larutan ideal, yaitu larutan yang
mengikuti Hukum Raoult, yang menyangkut kedua
komponen pada semua komposisi. Berdasarkan
hukum ini, tekanan uap dari satu komponen pada
temperatur T1 adalah proporsional dengan fraksi
molnya dalam cair. Untuk sistem binair cair-uap,
Hukum Raoult merupakan pendekatan yang bagus
untuk suatu komponen hanya jika fraksi molnya
mendekati satu. Deviasi yang besar dari hukum ini
adalah umumnya untuk komponen larutan atau
untuk kedua komponen jika fraksi molnya tidak ada
yang mendekati satu. Jika pada temperatur yang
diberikan tekanan uap larutan lebih besar dari yang
diprediksi oleh Hukum Raoult, maka sistem
dikatakan menunjukkan deviasi positif dari hukum
tersebut. Untuk suatu sistem dimana titik didih
kurva L pada tekanan konstan, biasanya terjadi
penurunan temperatur ( convex downward ). Jika
pada temperatur yang diberikan tekanan uap
larutan lebih kecil dari yang diprediksi oleh Hukum
Raoult, maka sistem dikatakan menunjukkan deviasi
negatif; dalam hal ini

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-5

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
kurva L cenderung naik ( convex upward ). Deviasi
deviasi dari Hukum Raoult tersebut sering
disebutkan untuk memberikan perbedaan antara
daya tarik molekul heterogeneous dan daya tarik
molekul homogeneous . Sehingga adanya deviasi
positif menunjukkan bahwa daya tarik homogen
lebih kuat daripada daya tarik heterogen. Begitu
juga sebaliknya untuk deviasi negatif. Interpretasi
ini sesuai dengan kenyataan bahwa deviasi positif
biasanya dihubungkan dengan panas campuran
positif dan ekspansi volume dalam campuran,
sedangkan deviasi negatif biasanya dihubungkan
dengan panas negatif dan kontraksi volume. Dalam
beberapa
hal,
deviasi
cukup
besar
untuk
menghasilkan kurva tekanan uap dan titik didih
secara maksimum atau minimum, Oleh karena itu,
semua campuran liquid yang miscible dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu:
Tipe I : Sistem dimana tekanan uap total
terletak intermediate diantara komponenkomponen murninya. Contoh : CCl4
siklohexan, CCl4 benzene, benzene
toluene, air metil alkohol.
Tipe II : Sistem yang menunjukkan suatu
nilai maksimum dalam kurva tekanan uap
total. Contoh : karbon disulfida methylal,
karbon disulfida acetone, benzene
siklohexan, benzene etil alkohol, kloroform
etil alkohol, air etil atau n-propil alkohol.
Tipe III : Sistem yang menunjukkan suatu
nilaiminimum dalam kurva tekanan uap total.
Contoh : kloroform acetone, metil eter HCl,
piridin asam asetat, air HCl atau HBr.
Pada
titik
maksimum
atau
minimum,
komposisi dari cairan dan uap sama. Diagram fase
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-6
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
cair-uap, dan diagram titik didih pada khususnya,
sangat penting dalam hubungannya dengan
destilasi, dimana biasanya memiliki pemisahan
sebagian atau keseluruhan dari larutan menjadi
komponen-komponennya. Pada dasarnya destilasi
terdiri atas proses pendidihan larutan dan
pendinginan uap larutan ke dalam penampung yang
terpisah. Suatu destilasi sederhana dari sebuah
sistem binair tidak memiliki titik maksimum dan titik
minimum pada kurva titik didihnya. Hal ini dapat
dilihat pada gambar 1. Misalnya fraksi mol
komponen B dalam larutan dinyatakan dengan
XBL1. Ketika larutan dididihkan dan sejumlah kecil
dari uapnya terkondensasi, maka diperoleh tetesan
destilat, dengan fraksi mol XBV1. Karena destilat
lebih banyak mengandung A daripada residu yang
ada di dalam flask, maka residu menjadi lebih
banyak mengandung B, yang ditunjukkan dengan
XBL2. Destilat XBV2 yang menetes selanjutnya lebih
banyak mengandung B daripada tetesan yang
pertama. Jika destilasi dilanjutkan sanpai seluruh
residu menguap, maka tetesan terakhir yang
terkondensasi akan mengandung komponen B
murni. Untuk menunjukkan bahwa pemisahan
sempurna secara substansial dari larutan menjadi
komponen A dan B murni dengan cara destilasi
telah selesai, maka dari sini kita perlu memisahkan
destilat dalam bagian bagian dengan mengubah
penampung selama destilasi berlangsung. Hasil
yang sama akan dapat dicapai dengan destilasi
tunggal yang menggunakan kolom fraksinasi, yang
di dalamnya berisi banyak packing. Jika ada titik
maksimum dalam kurva titik didih, komposisi uap
dan residu tidak dapat menggambarkan A murni
dan B murni. Sebuah campuran dengan komposisi
seperti ini akan terpisah tanpa mengalami
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-7

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
perubahan komposisi dan dalam hal ini dikenal
dengan istilah titik didih campuran konstan atau
azeotrop . Istilah ini juga
berlaku untuk campuran dengan titik didih
minimum. Azeotrop penting dalam teknologi kimia.
Kadang-kadang hal ini sangat berguna ( misalnya
titik didih konstan HCl digunakan dalam standar
analisa ), namun kadang-kadang juga mengganggu
(seperti pada azeotrop dari 95% etanol dan 5% air,
keberadaannya menghalangi dalam pemisahan
untuk memperoleh etanol murni dengan destilasi
secara langsung dari larutan etanol dalam air ).
Beberapa liquida terlarut biner mengikuti
hukum Raoult pada semua range konsentrasi. Salah
satunya
adalah
pasangan
ethylene
dibromidapropylene dibromida pada suhu 85,05 oC.
Kebanyakan sistem, bagaimanapun, menyimpang
dari hukum Raoult sebagian besar atau sebagian
kecil kebebasan tergantung dari sifat alam liquida
dan temperatur. Karena pada beberapa temperatur
yang diberikan uap lebih kaya dan lebih volatil
daripada larutan, larutan dapat dibuat untuk
mengubah komposisi konstituen ke yang kurang
volatile dengan mengembalkan uap diatasnya. Jika
uap terkondensasi, dan uap baru hasil kondensasi
dikembalikan,
maka
uap
yang
baru
akan
dimungkinkan kaya akan komponen yang lebih
volatil daripada larutan dimana dia berasal (larutan
pembentuk). Dengan mengulangi proses ini
mungkin akan diperoleh konsentrasi komponen uap
yang lebih volatil dan konstituen yang kurang volatil
dalam larutan. Kebanyakan proses memusatkan
pada konstituen yang telah diketahui seperti
destilasi fraksional, dan selama proses pada
temperatur konstan, yang ditunjukkan seperti pada
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-8
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
destilasi fraksional isotermis. Pada kenyataannya
orang lebih menyukai melakukan destilasi pada
tekanan konstan daripada temperatur yang konstan.
Pada tekanan yang diberikan beberapa komposisi
tertentu larutan akan mendidih pada suhu tertentu
dimana tekanan uap total menjadi sebanding
dengan tekanan yang diberikan. Jika kita tunjukkan
tekanan yang diberikan dengan P, sehingga kondisi
untuk mendidihkannya dapat dituliskan sebagai: P =
PA + PB. Sehingga pada tekanan atmosfer larutan
akan mendidih pada temperatur dimana tekanan
uap total menjadi sebanding dengan 760 mmHg.
Selama
komposisi larutan berbeda mempunyai tekanan uap
yang berbeda pula, hal ini harus mengikuti apabila
larutan yang bervariasi tidak akan mencapai
tekanan uap total yang sebanding dengan tekanan
yang diberikan pada temperatur yang sama, dan
karena itu larutan dengan konsentrasi yang
bervariasi akan menguap pada temperatur yang
berbeda. Secara umum, larutan pada tekanan uap
yang rendah akan menguap pada temperatur yang
lebih tinggi daripada larutan yang memiliki tekanan
uap tinggi, untuk tlarutan yang memiliki tekanan
uap tinggi dapat mencapai takanan total yang
sebanding dengan tekanan yang diberikan pada
suhu yang relatif rendah daripada larutan yang
tekanan uapnya rendah.
Dalam percobaan ini , akan diperoleh data
indeks bias dari destilat dan residu dari hasil
destilasi. Untuk memperoleh data indeks bias
tersebut,
digunakan
suatu
alat
berupa
refraktometer.
Refraktometer
ini
biasanya
digunakan untuk menghitung indeks bias suatu
larutan. Beberapa keuntungan dari refraktometer ini
adalah :
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-9

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Indeks bias yang dapat diamati berada
pada kisaran 1,3 sampai dengan 1,7
dengan keakuratan sekitar sekitar 0,0002.
Sumber sinar yang digunakan tidak terlalu
istimewa, dalam artian cahaya tersebut
tidak mempengaruhi hasil pengukuran.
Sampel yang digunakan tidak memerlukan
perlakuan yang istimewa.
Prinsip kerja dari alat ini, menggunakan
sudut kritis untuk pemantulan antara kaca dengan
indeks bias tinggi (misalnya : flint glass dengan
indeks bias 1,75 ). Kaca ini dibentuk atau tersusun
atas prisma sudut-kanan (right-angled prism )
dengan bidang hipotesa AB yang dilapisi oleh film
yang tipis (0,15 mm) dan ditutupi oleh prisma yang
sejenis. Permukaan prisma AC sangat memegang
peranan dari sinar yang digunakan, dan sudutnya (a
)dari permukaan tersebut dapat dihitung, sehingga
indeks bias dari larutan sampel dapat ditentukan.
Tekanan uap dan titik didih Pasangan
Cairan
1.1 Pasangan cairan yang bercampur
sempurna

a. Larutan Ideal
Larutan ideal yaitu aktivitas dari suatu
unsur pokok yang sama dengan fraksi
molnya di bawah semua
kondisi dari temperature, tekanan dan
kosentrasi. Larutan ideal juga merupakan
larutan yang daya tarik antara molekulmolekulnya sama, artinya daya tarik antara
molekul pelarut dan molekul zat pelarut
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-10
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
sama
dengan
daya
tarik
molekul
pelarutnya atau molekul zat terlarutnya.
Larutan ideal diadakan untuk perbandingan
dengan larutan larutan yang biasa di
dapat, yaitu larutan non ideal. Larutan zat
cair biner merupakan larutan ideal cairan
dalam cairan.
Sifat-sifat yang dimiliki oleh larutan ideal
antara lain yaitu larutan ideal dibentuk
tanpa perubahan atau penyerapan panas,
pada saat pengenceran komponennya
tidak mengalami perubahan sifat, Volume
total adalah jumlah volume komponennya,
Mengikuti hukum Raoult tentang tekanan
uap, dan sifat yang teralhir yaiytu Sifat
fisiknya adalah rata rata sifat pada fisika
penyusunnya.
b. Hukum Raoult
Hukum
Raoult
menjelaskan
tentang
tekanan parsial uap komponen yang
mudah menguap dari larutan sama dengan
tekanan uap murni kali fraksi molnya.
Rumus umum dari Hukum Raoult yaitu :

P1=N 1 P o1
o

P2=N 2 P 2
Dari persamaan di atas untuk mencari tekanan uap
total sebagai berikut :

P=P1 + P2

N 1 Po1 + N 2 Po2
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-11

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Selanjutnya, jika N1 = 1- N2, can di tuliskan sebagai
berikut :

P=Po1 ( 1N 2) + P o2 N 2
P
o
( 2 P o1) N 2 + Po1

N1
N2
o

P1
Po2

Keterangan :
: fraksi mol 1
: fraksi mol 2
: tekanan uap 1 murni

: tekanan uap 2 murni


P total selalu terletak antara Po1 dan Po2 . Bahwa
P1+ P 2 .
P total pada setiap saat sama dengan
Hubungan antara tekanan total dengan fraksi
mole dalam keadaan uap juga dapat dicari. Bila Y 2 =
mole fraksi B dalam keadaan uap
Y2 artinya berisi lebih banyak komponen yang
lebih mudah menguap atau komponen yang
tekanan uapnya tinggi.
c. Tekanan uap pasangan zat cair sejati
Campuran zat cair biner menurut Hukum
Raoult tidak banyak misalnya :
1. pasangan etilena dibromida dengan
propilena dibromida
2. pasangan benzene dengan etilena
diklorida
3. pasangan C Cl dengan Sn Cl4
4. pasangan kloro benzene dengan bromo
benzene/.
Sistem sistem yang lain dapat di bagi
menjadi 3 jenis yaitu :
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-12
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
1. Sistem dengan tekanan total antara
komponen-komponen murninya, seperti
pasangan :
a. C Cl4 _dengan siklo heksana
b. C Cl4 dengan Benzene
c. Benzene dengan toluene
d. Air dengan metil alcohol
2

Sistem
dengan
tekanan
total
membentuk maksimum seperti :
a. C S2 dengan metilal
b. C S2 dengan aseton
c. Benzene dengan siklo heksana
d. Kloroform dengan etil alcohol
e. Air dengan etil atau n. propil alcohol

3. Sistem
dengan
tekanan
total
membentuk minimum, seperti pasangan
:
a. CHCl3 dengan Aseton
b. Metal dengan eter HCl
c. Pyridine dengan asam asetat
d. Air dengan asam formiat, HNO4 , HCl ,
H Br.
e.
d. Diagram titik didih campuran biner
(miscible)
Fraksi uap selalu berisi cairan yang
titik didihnya rendah. Bila uap ini di
embunkan, kemudian diuapkan lagi maka
fraksi uap berisi lebih banyak lagi cairan
dengan titik didih rendah. Dan apabila
proses yang dinyatakan diatas dilakukakan
terus menerus akhirnya akan didapatkan
fraksi uap yang berisi lebih banyak lagi
cairan dengan titik didih rendah dan
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-13

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
larutan berisi fraksi yang memiliki titik
didih tinggi. Proses yang dinyatakan diatas
biasa disebut dengan proses destilasai
fraksional isotherm.
Proses destilasi fraksional isotherm
merupakan hal yang sangat sulit untuk
dilakukan, dikarenakan hal yang mudah
untuk dilakukan adalah destilasi fraksional
pada tekanan tetap.
Suatu cairan akan mendidih bila
tekanan totalnya sama dengan tekanan
atmosfer. Untuk cairan a dan b, zat ini akan
mendidih bila :

Ptotal=Patm =Pa + Pb
Dari pernyataan diatas kita dapat
menyimpulkan bahwa cairan yang tekanan
uapnya rendah, maka akan memiliki titik
didih yang tinggi. Dan demikian juga
sebaliknya cairan yang tekanan uapnya
tinggi maka akan memiliki titik didih yang
rendah.
Pada fase dimana uap air berisi lebih
banyak cairan cairan dengan titik didih
rendah, maka garis atau kurva susunan uap
dalam digram destilasi, ada diatas garis atau
kurva susunan cairan.
Konsentrasi pada titik C dan D pada
diagram tekanan uap dan diagram titik didih
biasanya tidak identik. Dengan berubahnya
temperature, maka susunan akan berubah
mendekati A atau B tergantung sistemnya.
e. Destilasi campuran biner (miscible)
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-14
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Hasil dari destilasi campuran biner
tergantung dair jenis campuranya. Jenis
campuran I, II, III akan memberikan hasil
yang berbeda. Bila campuran biner jenis I
didestilasi maka akan terjadi hal sebagai
berikut :
Misalkan campuaran dengan susunan a
dipanaskan, campuran ini mulai mendidih
pada Ta. Uap yang setimbang dengan
larutan mempunyai susunan a.
Dengan keluarnya uap ini, titk didih
larutan naik, misalnya menjadi Tb karena
larutan berisi lebih banyak komponen A.
Pada pemanasan terus menerus, susunan
larutan bergerak menuju Tda dan akhirnya
diperoleh A murni sebagai residu.
Bila ditinjau dari uapnya, uap ini berisi lebih
banyak B, kalau uap diembunkan, kemudian
diuapkan
kembali,
maka
susunannya
menuju ke Tdb. Dan akhirnya diperoleh B
murni sebagai destilat.
Jadi destilasi bertingkat larutan dengan
susunan I, sebagai hasil diperoleh A murni
sebagai residu dan B murni sebagai destilat.
Campuran biner jenis 2, pada destilasi
bertingkat tidak menghasilkan A dan B
murni. Bila campuran terletak antara A dan
C diperoleh A murni sebagai residu dan C
sebagai distilat. Bila campuran terletak
antara B dan C, diperoleh B sebagai residu
dan C sebagai destilat.
Untuk cairan campuran air-alkohol, C
mempunyai susunan 95,57% dengan titik
didih 78,13C.
Campuran biner jenis 3, dengan susunan
antara A dan D pada destilasi akhirnya
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-15

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
menghasilkan D sebagai residu dan A
sebagai
sebagai
destilat.
Bila
campurannterdapat antara D dan B, sebagai
residu diperoleh D dan sebagai destilat
diperoleh B. Untuk campuran air-asam
klorida (titik didih 85C) D mempunyai titik
didih 108,5C dengan susunan 20,24%.
Campuran dengan titik didih minimum atau
maksimum seperti di atas disebut dengan
campuran azeotrop. Susunan campuran
azeotrp ternyata tergantung tekanan yang
dipakai seperti terlihat dalam table berikut :

Tabel 2.1 Pengaruh tekanan pada susunan


azeotrop H2O HCL

Tekanan
(mm Hg)
730
740
750
760
770

% berat HCl
20,314
20,290
20,266
20,242
20,218

Kenyataan ini dapat diambil manfaatnya,


yaitu
untuk
membuat
larutan-larutan
dengan konsentrasi tertentu. Dalam Tabel
diatas
diberikan
beberapa
campuran
azeotrop.
f. Kolom fraksionasi
Destilasi bertingkat seperti diatas disebut
destilasi kesetimbangan. Dalam hal ini tiap
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-16
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
tiap kali uap yang setimbang dengan
cairannya, diambil dan diembunkan. Hal ini
sangat sukar untuk dilaksanakan.
Destilasi bertingkat dalam praktek dilakukan
dengan cara terus menerus yang disebut
destilasi fraksional dalam kolom fraksional.
Kolom ini terbagi dari tiga bagian :
1. Pemanas A
2. Kolom fraksionisasi B
3. Pendingin

Tabel 2.2 Titik didih dan susunan campuran


azeotrop pada tekanan satu atm

Jenis

Titik didih
minimum

Air etil alcohol


Air n. propil
alcohol
Etil alcohol
benzene
Asam asetat
benzene
CS - etil asetat
Pyridine - air

Titik didih
maksimu

Air asam nitrat


Air - HCl

Td.
(C)
72,1
5
87,7
2
68,2
4
80,0
5
46,1
92,6
120,
5

LABORATORIUM KIMIA FISIKA

Berat
%B
95,57
71,70
67,63
98
3
43

68
20,24

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA

Air H Br
Air H J
Air - H F
Air asam formiat
CH Cl - aseton
Pyridine asam
formiat

II-17
108,
5
126,
0
127
120
107,
1
64,7
149,
0

47,5
57
37
77
20,0
18

Cairan yang sudah dipanaskan dimasukkan


dalam kolom lewat D. Cairan ini turun ke bawah
melalui pipa pelimpah. Dari bawah naik uap yang
ringan melalui bubble cup. Saat melalui cairan,
uap ini meninggalkan cairan cairan yang berat dan
membawa cairan cairan yang ringa. Plat plat
demikian banyak sekali dalam kolom fraksionisasi,
hingga cairan terpisah. Yng ringan keluar sebagai
uap diatas, yang dapat didinginkan. Cairan yang
berat terdapat di bawah.
g. Ratio residu dan destilat
Untuk
destilasi
campuran
biner,
perbandingan berat larutan sisa dan uapnya
dapat dicari dari diagram titik didih. Misalkan
susunan campuran mula-mula = x. Setelah
dipanaskan zat ini mulai mendidih pad T1.
Karena ada uap keluar, susunan larutan
mendekati A dan titik didih naik. Kalau
destilasi dilakukan pada T2, maka:

W 1 bc
=
W 2 ab
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-18
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
W1 = berat larutan
W2 = berat uap
1.2
Pasangan
Cairan
yang
Bercampur
Sempurna
Pasangan cairan yang bercampur sebagian
dapat dibagi menjadi empat jenis :
1. Campuran dengan temperature pelarutan
kritis maksimum
2. Campuran dengan temperature pelarutan
kritis minimum
3. Campuran dengan temperature pelarutan
kritis maksimum dan minimum
4. Campuran
yang
tidak
mempunyai
temperature pelarutan kritis
a. Campuran dengan tempertatur pelarutan kritis
maksimum
Jenis ini terdapat pada campuran air aniline. Bila
sedikit air ditambahkan pada aniline diperoleh
campuran air dalam aniline. Bila air ditambah terus
menerus, terdapat dua lapis, yaitu air dalam aniline
dan aniline dalam air.
Bila penambahan air diteruskan, akhirnya diperoleh
larutan aniline dalam air. Selama terjadi dua lapisan,
susunan tetap hanya banyaknya masing-masing
lapisan berubah. Pada pemanasan campuran, pada
suatu saat (titik B) kedua lapisan hilanhg
membentuk
campuran
homogen. B disebut
temperature pelarutan kritis atau temperature
consolute.
b. Campuran dengan temperature pelarutan kritis
minimum
Jenis ini terdapat pada campuran air-tri etil amin,
dengan temperature pelarutan kritis miniumum
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
18,5C. Juga disini, selama temperature
susunan campuran selalu tetap.

II-19
tetap

c. Campuran dengan temperature pelarutan


maksimum dan minimum
Campuran ini terdapat pada campuran air- nikotin.
Tempertaur pelarutan kritis maksimum terdapat
pada 208C dan minimum pada 60,8C.
C dan C terdapat pada 34% nikotin. Titik A terdapat
pada 94 95C dan B pada 121 - 130C. Bila
tekanan dikenakan pada cairan C dan C mendekat
dan akhirnya berimpit, larutan menjadi homogen.
d. Campuran cairan tanpa temperature pelarutan
kritis
Air dan eter bercampur sebagian dalam segala
perbandingan, jadi tidak mempunyai temperature
pelarutan kritis, baik maksimum atau minimum.
Untuk campuran jenis a, b, c beratnya
masing-masing lapisan dapat dicari dengan kaidah
campur. Misalkan pada 50C, kita mencampur 40 gr
aniline dan 60 gr air, sebagai hasil diperoleh 100 gr
campuran. Perbandingan berat masing-masing
lapisan adalah sebagai berikut :

berat lapisan anilin x


=
berat lapisan air
y
e. Diagram tekanan uap dan destilasi pasangan
cairan yang bercampur sebagian
Di sini hanya ditinjau campuran jenis a, yaitu
campuran dengan temperature pelarutan kritis
maksimum. Termasuk dalam golongan ini ialah
campuran :
Aniline

- air
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

II-20
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Butyl alcohol
- air
Iso buti alcohol
- air
Etil asetat
- air
Diagram tekanan uap air-butil alcohol terdapat pada
gambar. Bila air ditambah butyl alcohol tekanan uap
air naik dari A ke B. Di B terjadi dua lapis, dan
tekanan
uap
tetap.
Demikian
pula
pada
penambahan air pada butyl alcohol, tekanan uap
naik dari D KE C. Setelah terjadi dua lapisan maka
tekanan uap B = C.
Grafik AH dan DH menunjukkan susunan uap
yang setimbang dengan cairan yang bersangkutan.
Selama ada dua lapisan cairan, tekanan uap tetap
dan susunannya dinyatakan oleh H.
Diagram destilasi campuran ini dinyatakan oleh
gambar. Selama ada dua lapisan cairan, titik didih
cairan tetap.
1.3 Tekanan Uap dan Destilasi Pasangan
Cairan yang Tidak Bercampur
Bila dua cairan yan tidak bercampur, tekanan uap
totalnya :
o

Ptotal =P 1 + P2
Karena titik didih adalah temperature pada saat P
total = P luar = 1 atm, maka campuran dalam jenis
ini akan mendidih pada temperature jauh lebih
rendah dari titik didih komponen komponennya.
Selama kedua cairan ada, titik didih tetap. Bila salah
satu hilang, titik didih akan naik dengan cepat.
o

Ptotal =P 1 + P2
LABORATORIUM KIMIA FISIKA

BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
Bila

II-21

Ya = fraksi mol uap A


Yb = fraksi mol uap B
Wa Wb adalah perbaningan berat A dan B yang
keluar sebagai destilat.
Atas dasar ini, maka destilasi zat cair yang
tidak bercampur, banyak dipakai dalam industry
dan labolatorium, untuk memurnikan zat-zat organic
yang mendidih pada temperature tinggi atau terurai
pada titik didih normalnya. Cairan lain yang dipakai
ialah air, hingga proses ini disebut juga destilasi
uap.
II.2. Aplikasi industri

LABORATORIUM KIMIA FISIKA