Anda di halaman 1dari 32

Jenis-jenis masalah pada sumur produksi

1.

Problem Scale

Scale merupakan kristalisasi dan pengendapan mineral yang berasal dari


hasil reaksi ion-ion yang terkandung dalam air formasi. Pengendapan dapat terjadi
di dalam pori-pori batuan formasi, lubang sumur bahkan peralatan permukaan.
Penyebab terbentuknya endapan scale antara lain :
a. Bercampurnya dua Jenis Air Yang Berbeda
Dua jenis air yang sebenarnya tidak mempunyai kecenderungan untuk membentuk
scale, bila bercampur kemungkinan membentuk suatu komponen yang tidak larut.
Contoh yang umum adalah pencampuran antara air injeksi dengan air formasi di
bawah sumur, dimana yang satu mempunyai kelarutan garam-garam barium yang
tinggi, sedangkan yang lainnya mengandung larutan sulfate.
Pencampuran ini akan mengakibatkan pembentukan endapan barium sulfate
(BaSO4) yang dapat menyumbat dan sulit untuk dibersihkan. Endapan carbonate
dan sulfate akan menjadi lebih keras dan makin bertambah apabila larutan
mineralnya dalam keadaan bersentuhan (kontak) dengan permukaan dalam waktu
yang lama.

b. Penurunan Tekanan
Pada saat air formasi mengalir dari reservoir menuju lubang sumur, maka akan
terjadi penurunan tekanan. Penurunan tekanan ini dapat pula terjadi dari dasar
sumur ke permukaan dari well head ke tanki pengumpul. Penurunan tekanan ini
akan menyebabkan terlepasnya CO2 dan ion bikarbonat (HCO3-) dari larutan.
Dengan terbebaskannya gas CO2 , sehingga akan menyebabkan berkurangnya
kelarutan CaCO3. Hal ini berarti penurunan tekanan pada suatu sistem akan
menyebabkan meningkatnya kemungkinan terbentuknya scale CaCO3.

c. Perubahan Temperatur
Pada saat terjadi perubahan (kenaikan) temperatur, maka akan terjadi penguapan,
sehingga terjadi perubahan kelarutan, dan hal ini akan mengakibatkan terjadinya
pembentukan scale. Temperatur mempunyai pengaruh pada pembentukan semua
tipe scale, karena kelarutan suatu senyawa kimia sangat tergantung pada

temperatur. Misalnya kelarutan CaCO3 akan berkurang dengan kenaikan temperatur


dan kemungkinan terbentuknya scale CaCO3 semakin besar.

2. Mekanisme Terbentuknya Scale


a.

Makin besar pH

Makin besar pH cairan, maka akan mempercepat terbentuknya scale. Scale


biasanya terbentuk pada kondisi basa (pH > 7).
b.

Terjadinya agitasi (pengadukan)

Pengadukan atau goncangan akan mempercepat terbentuknya endapan scale.


Scale biasanya terbentuk pada tempat dimana faktor turbulensi besar, seperti
sambungan pipa, valve dan daerah-daerah penyempitan aliran.
c.

Kelarutan zat padat

Kelarutan zat padat yang dikandung oleh air sangat berperan dalam pembentukan
scale, sebab bila kelarutan zat padat rendah atau kecil, maka kemungkinan untuk
terbentuknya scale akan semakin besar.

3. Jenis-jenis scale yang terjadi antara lain :

Scale Calcium Sulfate (CaSO4)

Scale Calcium Sulfate terbentuk dari reaksi ion calcium dan ion sulfat reaksinya
sebasgai berikut :
Ca++ + SO4=

CaSO4

Scale Barium Sulfate (BaSO4)

Scale Barium Sulfate dibentuk oleh kombinasi ion Ba++ dan ion SO4= dengan
reaksi sebagai berikut :
Ba++ + SO4=

BaSO4

Scale Kalsium Karbonate (CaCO3)

Scale ini terbentuk dari kombinasi ion kalsium dan ion karbonat atau bicarbonate,
sesuai dengan reaksi :
Ca++ + CO3=
Ca++ + 2(HCO3)

CaCO3
CaCO3 + CO2 + H2O

Perubahan kesetimbangan kimia ini menyebabkan terbentuknya scale yang dapat


menghambat atau menutup pori-pori batuan.

3. Cara mencegah terbentuknya scale :

Menghindari tercampurnya air yang incompatible (tidak boleh campur)


Mengubah komposisi air dengan water dilution (pengencer air ) atau mengontrol
pH
Menghilangkan zat pembentuk scale
Penambahan scale control chemical

4. Cara mengatasi problem scale

Penambahan larutan EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic)


Acidizing (Penambahan larutan HCl atau HCl:HF )

2.

Emulsi

Emulsi adalah campuran dua macam cairan yang dalam keadaan biasa tidak
dapat bercampur (immiscible). Problem emulsi umumnya timbul pada saat air mulai

terproduksi bersama minyak. Air yang tidak dapat bercampur dengan minyak
dinamakan air bebas dan dengan mudah dipisahkan dengan cara pengendapan.
Namun disegi lain ada emulsi yang sulit berpisah, sehingga diperlukan suatu usaha
untuk pemecahannya. Terdapat tiga faktor penting yang membentuk emulsi stabil,
yaitu :
1.

Adanya dua macam cairan yang immiscible.

2.
Adanya pengadukan/agitasi yang cukup kuat untuk menyebarkan cairan yang
satu ke dalam cairan yang lainnya.
3.

Adanya emulsifying agent yang dapat membuat emulsi menjadi stabil.

Di dalam emulsi cairan dalam bentuk butiran-butiran yang tersebar disebut


dispersed (internal) phase, dan cairan yang mengelilingi butiran-butiran itu disebut
continuous (external) pahase. Secara umum emulsi dapat diklasifikasikan menjadi 2
(dua), yaitu :

1.
Water in oil (W/O) emulsion dimana air sebagai dispersed dan minyak sebagai
continious phase. Water in oil emulsi inilah yang sering dijumpai.
2.
Oil in water (O/W) emulsion, dimana minyak sebagai dispersed phase dan air
sebagai continious phase.
Ditinjau dari kestabilannya, emulsi juga dapat dibagi 2 (dua) macam, yaitu :
1.
Emulsi yang stabil adalah emulsi dimana minyak dan air tidak dapat
memisahkan diri tanpa bantuan dari luar.
2.
Emulsi yang tidak stabil adalah emulsi dimana minyak dan air dapat
memisahkan diri tanpa bantuan dari luar, cukup hanya diberikan settling time saja.
Kestabilan emulsi tergantung beberapa faktor, yaitu :

Emulsifying agent, pada emulsi minyak bumi yang stabil. Hal ini terdiri dari :
asphalt, resin, oil soluble organic acid dan material-material halus yang lebih larut
atau dapat berpencar dalam minyak daripada dalam air.

Viskositas, jika tinggi maka kecendrungan untuk mengikat butiran air lebih
besar dibanding minyak yang viskositasnya lebih rendah. Minyak yang viskositasnya
besar memerlukan waktu lebih lama untuk memecahkan emulsinya.

Specific grafity, bila perbedaannya besar maka akan mempercepat settling.


Minyak yang berat berkecendrungan untuk menahan butiran-butiran air dalam
bentuk suspensi lebih lama.


Prosentase air yang tinggi akan membentuk emulsi yang kurang stabil,
sehingga mudah dipisahkan dari minyaknya.

Umur emulsi, minyak yang mengandung emulsi bila dimasukkan ke dalam


tangki, dan air yang tersisa terpisahkan serta tidak segera dilakukan treatmen,
maka emulsi tersebut menjadi sangat sulit untuk dipisahkan.

A. Pencegahan problem emulsi


Secara umum pencegahan problem emulsi dapat dibagi 2 (dua) yaitu :

Tidak memproduksikan minyak dengan air secara serentak.


Mencegah timbulnya agitasi yang dapat membentuk emulsi

Karena memisahkan air didalam wellbore bisanya sangat sulit, maka pencegahan
agitasilah yang dituju, yaitu dengan :

Mencegah aliran turbulensi akibat penggunaan surface choke yang kurang tepat,
dengan memberi tekanan separator lebih besar namun dijaga perbedaan
tekanannya masih mampu mengalirkan minyak ke separator.
Pemakaiaan bottom hole choke, yang didasarkan atas :

a)

Perbedaan tekanan yang kecil antara up dan down-stream

b)

Temperatur didasar sumur jauh lebih tinggi dari temperatur permukaan

c)

Aliran yang lurus dengan jarak relatif panjang pada down-stream dari choke.

Pembukaan dan penutupan sumur secara terencana

Pada sumur-sumur yang di gas lift, pembentukan emulsi bisa dicegah dengan
meningkatkan efisiensi gas lift di tubing (pada continious gas lift) dan pemberian
demusilfer pada ghatering systemnya.

Pada sumur-sumur pompa, pembesaran efisiensi volumetris pompa yang akan


mengurangi terjadinya emulsi yaitu dengan pemasangan gas anchor, clearance
pompa yang kecil, spacing yang baik serta kecepatan dan panjang stroke yang
semestinya.

B. Penanggulangan problem emulsi


Terdapat beberapa macam cara untuk pemecahan emulsi, antara lain dengan :

Metode Settling Time (Pengendapan)

Dengan cara ini diharapkan air, emulsi dan minyak akan terpisah secara gravitasi
(karena perbedaan densitasnya). Peralatan yang dipakai dapat berupa : gun barrrel
atau wash tank, free water knock out, storage tank, atau oil skimmer.
2.

Metode Kimiawi (penggunaan demulsifer)

Dengan metode ini dapat merusak film dari emulsifying agent yaitu dengan
membuat kaku dan mengkerutkannya.
3.

Metode pemanasan

Metode ini diterapkan dengan anggapan dispersed phase dalam emulsi tetap dalam
keadaan bergerak (seperti gerak Brown dalam larutan koloid-koloid zig-zag). Panas
akan mempercepat gerakan tersebut dan menyebabkan partikel dispersed phase
saling tubrukan lebih sering dengan kekuatan lebih besar, sehingga menyebabkan
lapisan film yang dibentuk emulsifying agent menjadi pecah, dan viskositas cairan
makin berkurang yang menyebabkan air terpisah . Di lapangan metode ini
diterapkan pada alat-alat Heater Treater.
4.

Metode elektrik (listrik)

Prinsip metode ini adalah merusak atau menetralkan film penyelubung butiranbutiran air yang diinduksi oleh medan listrik statis, sedangkan minyak sebagai
continious phase diinduksikan sehingga butiran-butiran air yang lebih besar akan
cepat mengendap dibanding butiran air yang kecil .
5.

Metode kombinasi

Di lapangan, metode kombinasi inilah yang sering diterapkan yaitu metode panaskimiawi dan kimiawi-listrik. Selain itu terdapat metode kombinasi dengan sistem
mekanik, yaitu :

Filtering, dimana emulsi dipaksa mengalir melalui filter (saringan) sehingga


film yang menyelubungi dispersed phase pecah, namun demikian ternyata tidak
semua terpecahkan.

Centrifuging, dimana emulsi dipecah dengan gaya centrifugal

Seringkali metode pemecahan problem emulsi juga dikombinasikan dengan


pemecahkan problem korosi.

3.

Problem Parafin

Parafin atau asphaltin adalah unsur-unsur pokok yang banyak terkandung


dalam minyak mentah. Jenis kerusakan akibat endapan organik ini umumnya
disebabkan oleh perubahan komposisi hidrokarbon , kandungan wax (lilin) di dalam
crude oil , turunnya temperatur dan tekanan, sehingga minyak makin mengental
(pengendapan parafinik) dan menutup pori-pori batuan. Secara umum rumus
parafin adalah CnH2n+2.
Endapan parafin yang terbentuk merupakan suatu pesenyawaan
hidrokarbon dan hidrogen antara C18H38 hingga C38H78 yang bercampur dengan
material organik dan inorganik lain.
Kelarutan parafin dalam crude oil tergantung pada komposisi kimia minyak
dan temperatur. Pengendapan akan terjadi jika permukaan temperaturnya lebih
rendah daripada crude oil. Viskositas crude oil akan meningkat dengan adanya
kristal parafin dan jika temperatur terus turun crude oil akan menjadi sangat kental.
Temperatur terendah dimana minyak masih dapat mengalir disebut titik tuang (pour
point).
1. Secara rinci penyebab utamanya adalah :

Turunnya tekanan reservoir

Hilangnya fraksi ringan minyak

Pemindahan panas dari minyak ke dinding pipa dan diteruskan ke tempat


sekitarnya.

Aliran cairan yang tidak tetap dan tidak merata.

Adanya partikel lain yang menjadi inti pengendapan.

Kecepatan aliran dan kekasaran dinding pipa.

Terhentinya aliran fluida

2. Problem endapan organik ini dapat terjadi pada daerah :

Sepanjang zona perforasi

Pada tubing

Flow line

Separator

Di stock tank

3.

Cara mengatasi problem parafin

Mekanik (diresrvoir : hydroulic fracturing, di tubing dengan alat scraper dan


cutter dan di flowline dengan alat pigging )

Kombinasi dengan pemakaian solvent (kerosen, kondensate, dan minyak


diesel) dengan cara pemanasan (pemakaian heater treater, steam stimulation atau
thermal recovery seperti injeksi uap)

Pemakaian larutan air + calcium carbide atau acethylene

Acidizing

Kedua faktor (endapan inorganik dan organik) ini akan menghambat aliran fluida
reservoir ke sumur produksi dan membentuk daerah kerusakan atau zona
damage. Penurunan produksi dari sumur minyak tergantung dari banyaknya dan
tempat di mana endapan tersebut terdapat Gambar .3.6. merupakan model dari
endapan parafin.

4.

Kepasiran (sand problem)

Seperti diketahui, pasir yang terproduksi bersama fluida formasi antara lain
akan menyebabkan :

Abrasi atau pengikisan di atas permukaan (termasuk endapannya)

Dapat terjadi penurunan laju produksi, bahkan dapat mematikan sumur.

Usaha yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kepasiran tersebut adalah
dengan cara memproduksikan minyak pada laju optimum tanpa terjadi kepasiran.
Sand free flow rate merupakan besarnya laju produksi kritis, dimana apabila sumur
tersebut diproduksikan melebihi laju kritisnya, maka akan menimbulkan masalah
kepasiran.
Maksimum sand free flow rate atau laju produksi maksimum tanpa menimbulkan
kepasiran dapat ditentukan dnegan suatu anggapan bahwa gradien tekanan
maksimum di permukaan kelengkungan pasir, yaitu suatu laju produksi maksimum
tanpa kepasiran berbanding langsung dengan keuatan formasi. Dengan kata lain
jika produksi menyebabkan tekanan kelengkungan pasir lebih besar dari kekuatan
formasi, maka butiran pasir formasi akan mulai ikut bergerak.

1.

Faktor faktor yang mempengaruhi problem terjadinya kepasiran :

a. Kekuatan Formasi
Dalam masalah kepasiran, Tixier et.al. berpendapat bahwa kekuatan formasi
terhadap kepasiran tergantung dari dua hal ,yaitu intrinsic strength offormation
atau kekuatan dasar formasi dan kesanggupan pasir untuk membentuk lingkungan
stress yang ditentukan oleh tekanan pori-pori dan tekanan overburden, bentuk dan
sorting butiran serta sementasi diantara butiran yang kadang-kadang diperkuat
oleh clay.
Untuk menentukan suatu formasi stabil atau tidak dari suatu lapangan dikenal
kriteria kritis misalnya untuk lapangan Gulf Coast digunakan kriteria kritis yang
merupakan batas suatu formasi bersifat labil atau stabil, menurut Tixier adalah :
G/Cb > 0.8 x 1012 psi2 : formasi stabil (kompak)
G/Cb < 0.8 x 1012 psi2 : formasi tidak stabil (tidak kompak)

b. Sementasi Batuan
Kekuatan formasi merupakan kemampuan dari fromasi untuk menahan butiran pasir
agar tidak terlepas akibat operasi produksi. Kekuatan formasi pasir dipengaruhi oleh
friksi antar butir pasir dan kohesi antar butir pasir . Friksi bertambah besar jika
beban overburden bertambah besar. Kohesi antar butir timbul akibat sementasi dan
tegangan antar permukaan fluida.
Formasi pasir yang sementasinya baik dapat merupakan suatu sistem yang
stabil dengan jalan membentuk lengkungan kestabilan (arching) di luar lubang
perforasi.
Tixier menyatakan bahwa kekuatan formasi terhadap kepasiran tergantung
pada kekuatan dasar formasi (intrinsic strength of formation) dan kemampuan pasir
untuk membentuk lengkungan yang stabil di sekitar lubang perforasi.
Batupasir terbagi menjadi tiga jenis tergantung dari komposisi kimianya, yaitu
quartzite, graywacke dan arkose. Sementasi pada pasir kwarsit adalah karbonat
(kalsit dan dolomit) dan silika (chert, chalcedonit dan kwarsa sekunder), sementasi
alamiah pada batupasir graywacke dan arkose sangat sedikit atau hampir tidak ada.
Mineral tidak stabil adalah lempung yang banyak terdapat pada pasir arkose dan
graywacke. Lempung umumnya menyelimuti butir-butir kwarsa dan bersifat sebagai
mineral penyemen. Pasir graywacke dan arkose tidak tersementasi dengan baik
sehingga sering menimbulkan problem kepasiran.
Sementasi batuan sangat berpengaruh terhadap ikatan antar butir atau konsolidasi
dari butiran batuan tersebut, dengan demikian akan berpengaruh pula terhadap

kestabilan butiran tersebut. Semakin tinggi derajat sementasinya , maka suatu


formasi akan semakin kompak. Persamaan empiris yang menunjukkan hubungan
faktor formasi (F) terhadap porositas (f) dan faktor sementasi (m) telah diberikan
Archie dalam bentuk sebagai berikut :
...(3-13)
c. Kandungan Lempung
Sebagian besar formasi pasir mengandung lempung sebagai matrik atau
semen batuan. Material lempung terdiri dari kelompok mik, kaolonit, chlorite illite
dan montmorilonite. Kelompok montmorilonite akan mengalami swelling bila kontak
dengan air.

Pada umumnya lempung mempunyai sifat yang basah terhadap air atau
water wet sehingga bila ia bebas melewati formasi yang mengandung lempung
akan menimbulkan dua akibat yaitu :

Lempung akan menjadi lunak.

Gaya adhesi dari fluida yang mengalir terhadap material yang dilaluinya akan
naik.
Akibat dari semua itu maka butiran pasir cenderung untuk bergerak ke lubang
sumur bila air formasi mulai berproduksi. Untuk menghitung kandungan mineral
lempung di dalam formasi dapat dilakukan dengan analisa logging. Adapun jenis log
yang digunakan adalah : Spontaneous potensial log, resistivity log, gamma ray log
dan neutron log.
d. Laju Aliran Kritis
Sand free flow rate adalah besarnya laju produksi kritis yang mana bila laju
produksi sumur lebih besar dari laju kritisnya maka akan menimbulkan problem
kepasiran.
Stein-Odeh dan Jones telah mengadakan penyelidikan untuk memperkirakan
laju produksi dari suatu formasi. Maksimum sand free flow rate dapat ditentukan
dengan anggapan bahwa gradien tekanan maksimum di permukaan kelengkungan
pasir yaitu saat laju produksi maksimum tanpa kepasiran berbanding langsung
dengan kekuatan formasi.
Formasi pasir yang sementasinya baik dapat merupakan suatu sistem yang
stabil dengan jalan membentuk lengkungan kestabilan di luar lubang perforasi.
Dengan kata lain bahwa apabila produksi menyebabkan tekanan kelengkungan
pasir lebih besar dari kekuatan formasinya maka butiran pasir formasi akan

bergerak atau mulai ikut berproduksi. Gambar 3.8. merupakan gambaran Lengkung
Kestabilan formasi
Persamaan yang diturunkan oleh Stein-Odeh dan Jones didasarkan pada
anggapan sebagai berikut:
1.

Laju produksi untuk setiap interval perforasi adalah sama

2.

Permeabilitas tetap untuk setiap interval kedalaman

3.
Tidak terjadi overlapping dari kelengkungan kestabilan untuk setiap interval
perforasi
4.

Pengaruh turbulensi aliran, merata di seluruh interval perforasi

5.
Perbedaan tekanan maksimum yang diperbolehkan pada bidang
kelengkungan adalah sebanding dengan kekuatan formasi.

2. Cara Mengatasi Problem Kepasiran


Pada hakekatnya problematika turut terproduksinya pasir dapat dokontroll
dengan tiga cara, yaitu :

A. Pengurangan Drag Force


Cara ini merupakan cara yang paling mudah dan efektif digunakan dalam
menontrol. Laju produksi yang menyebabkan terikutnya produksi pasir harus
dipertimbangkan pada laju per-unit area dari formasi yang permeabel.
Langkah pertama yang harus dipertimbangkan adalah penambahan daerah
aliran (flow area), kemudian penentuan laju maksimum atau laju produksi kritis,
dimana di atas maximum rate tersebut pasir menjadi berlebihan.
Ketika laju fluida bertambah secara bertahap, kosentrasi akan naik turun
dengan tajam seharga kosentrasi mula-mula. Efek bergelombang ini terbukti akan
merusak brigde yang tidak stabil yang mana akan terbentuk kembali pada laju
aliran yang tinggi.
Ketika critical range yang telah dicapai, bridge tidak terbentuk kembali.
Strength struktur telah terlampaui dan produksi pasir akan berlanjut pada laju aliran
yang lebih tinggi. Laju produksi kemudian dikurangi sampai dibawah critical range
untuk memberi kesempatan agar bridge terbentuk kembali, kemudian rate dapat
ditambah tetapi masih dibawah critical range.

Prosedur ini disebut Bean-up Technique yang secara cermat dilakukan dalam
periode beberapa bulan dan efektif untuk menetapkan laju produksi maksimum
suatu sumur.
B. Metode Mekanik
Cara ini dilakukan dengan menggunakan gravel (dengan screen untuk
menahan gravel) atau dengan screen (tanpa gravel) untuk menahan butiran pasir
yang ikut mengalir bersama fluida reservoir pada saat sumur berproduksi.
Masalah utama dalam meotde ini adalah bagaimana untuk mengontrol pasir
formasi tanpa mengurangi produktivitas sumur secara berlebihan.
Pertimbangan utama untuk mendesain gravel dan screen antara lain :
1.

Ukuran gravel optimum yang sesuai dengan ukuran butiran pasir.

2.
Luas optimum dari screen slot untuk menahan gravel dan jika tidak memakai
gravel, maka harus sesuai dengan ukuran butiran pasir.
3.

Teknik penempatan yang efektif pada kemungkinan yang paling penting.

Untuk perencanaan ukuran gravel maupun screen diperlukan distribusi ukuran


pasir, ukuran besar butir pasir, keseragaman buitran pasir dan tingkat pemilihan
butiran.
Untuk menentukan keseragaman butiran pasir digunakan metode sieve analysis.
Dalam metode ini sampel yang digunakan adalah yang representatif karena
penyebaran ukuran butiran pasir yang bervariasi dari suatu zona ke zona yang lain.
Tingkat keseragaman butiran pasir oleh Schwartz dapat ditentukan dengan
persamaan :
.(3-27)
dimana:
d40 = diameter butiran pasir pada titik 40 percentile pada kurva
d90 = diameter butiran pasir pada titik 90 percentile pada kurva
C

= koefisien keseragaman (uniform coefficient)

Schwartz menyatakan bahwa pengertian uniform coefficient adalah


merupakan tingkat keseragaman dari butiran pasir yang kemudian dapat
menunjukkan baik atau buruknya pemilihan butir (sortasi). Harga C ini bervariasi
dan setiap harga menunjukkan tingkat keseragaman dari tiap butiran pasir, yaitu :
Jika C < 3 maka pasir seragam dan berukuran d10 sebagai ukuran gravel kritis

Jika C > 5 maka pasir tidak seragam dan berukuran d40 sebagai ukran gravel kritis
Jika C >10 maka pasir sangat tidak seragam dan berukuran d70 sebagai ukuran
gravel kritis

Pipa terjepit adalah keadaan dimana sebagian dari pipa bor atau stang bor (drill collar)
terjepit (stuck) didalam lubang bor. Jika hal ini terjadi, maka gerakan pipa akan terhambat dan
pada gilirannya dapat mengganggu kelancaran operasi pemboran.
Dalam prakteknya masalah pipa terjepit ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok,
yaitu :
1. Differential pipe sticking.
2. Mechanical pipe sticking (jepitan mekanis).
3. Key seating

2.1. Differential Pipe Sticking


Differential pipe sticking terjadi jika perbedaan antara tekanan hidrostatik lumpur
pemboran dan tekanan formasi menjadi sangat besar, keadaan seperti ini terjadi apabila :

1. Menembus formasi yang porous dan permeabel.


2. Lumpur terlalu berat sehingga tekanan hidrostatis lumpur jauh melebihi tekanan formasi.
3. Lumpur yang kurang stabil (water loss tinggi, mud cake tebal).
Tanda terjadinya differential pipe sticking ini adalah tidak mungkinnya pipe digerakkan
ke atas maupun ke bawah sementara sirkulasi masih dilakukan 100%, dimana hal ini
diakibatkan karena hanya satu sisi pipa yang menempel di dinding lubang bor. Pada keadaan
jepitan yang lengkap (hal ini terjadi lebih dari satu mekanisme) sirkulasi maupun gerakkan pipa
sudah tidak bisa lagi dilakukan.
Besarnya gaya differential sangat sensitif untuk berubah dalam hal besarnya perbedaan
tekanan (Hs Pf). Dalam operasi pemboran yang normal diusahakan terdapat overbalance
pressure antara 100 200 psi (6,8 13,6 bar). Kenaikan overbalance pressure yang tinggi
dapat ditimbulkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kenaikan tiba-tiba di berat lumpur pemboran akan meningkatkan tekanan hidrostatik lumpur dan
pada akhirnya akan meningkatkan besarnya overbalance pressure.
2. Pemboran yang melalui resevoir yang terdeplesi dan adanya regresi tekanan.
Regresi tekanan terjadi apabila operasi pemboran pada saat gradien tekanan menurun
sementara tekanan lumpur pemboran tetap, untuk menahan tekanan formasi pada formasi
buatan yang berada diatasnya.

Pencegahan Differential Sticking


Berdasarkan faktor-faktor yang menyebabkannya differential sticking dapat dicegah
yaitu dengan :
1. Mengurangi perbedaan tekanan.
2. Mengurangi daerah kontak.
3. Menjaga rangkaian bor agar tidak statis.
4. Mengurangi faktor gesekan.

Mengurangi Perbedaan Tekanan


Hal ini berarti membor dengan overbalance pressure yang minimum sekedar untuk
mengimbangi tekanan formasi dan memungkinkan terjadinya fek surge dan swat. Kenaikan
berat jenis lumpur dapat dimonitor dengan mengontrol laju penembusan (ROP), serbuk bor
(cutting) yang akan menyebabkan kenaikan berat jenis lumpur dan pada akhirnya akan
menaikkan beda tekanan.
Mengurangi Perbedaan Tekanan
Mengurangi daerah kontak ( h x t ) karena ketebalan formasi berpori atau porous tidak
dapat dirubah secara fisik, maka daerah kontak hanya bisa dikurangi dengan mengurangi
ketebalan mud cake. Hal ini berarti mengurangi kandungan padatan di dalam lumpur menjadi
minimum dan menggunakan lumpur dengan water loss (kehilangan air) yang rendah.
Besarnya daerah kontak juga berhubungan dengan luas pipa baja yang kontak
(menempel) pada formasi permeabel. Sebagian besar pipa yang menempel pada kasus
differential sticking ini adalah drill collar, sehingga pemecahan yang cocok adalah dengan
menggunakan drill collar yang mempunyai luas permukaan minimum. Drill collar spiral
mempunyai luas permukaan yang lebih kecil (50%) dibandingkan drill collar biasa (smooth) dan
oleh karena itu gaya differential yang dihasilkan juga akan berkurang sebesar setengah dari
drill collar biasa. Pengurangan luas permukaan drill collar ini hanya akan mengurangi berat drill
collar sebesar 4 7% dari berat drill collar biasa (smooth) dan jika dibutuhkan penambahan
berat tinggal menambahkan drill collar spiral tadi saja.
Daerah kontak juga bisa dikurangi dengan menggunakan stabilizer yang akan menjaga
drill collar tetap berada di tengah-tengah lubang.

Menjaga Rangkaian Bor Agar Tidak Statis

Luas daerah kontak berbanding lurus dengan waktu, semakin jarang (sedikit) rangkaian
bor berada dalam keadaan statis (diam) akan mengurangi kemungkinan terjadinya differential
sticking.

Mengurangi Faktor Gesekan


Mencegah terjadinya differential sticking juga bisa dengan penggunaan minyak dan
walnut hulls. Penggunaan minyak ini akan mengurangi faktor gesekan pada saat membor
formasi yang potensial mengalami differential sticking.

Penanggulangan Differential Sticking


Metode-metode yang paling umum digunakan untuk membebaskan pipa terjepit adalah
sebagai berikut :
1. Pengurangan tekanan hidrostatik.
2. Supporting Fluid
3. Operasi back off

Pengurangan Tekanan Hidrostatik


Cara yang umum digunakan untuk mengurangi tekanan hidrostatik lumpur adalah
metode pipa U (U tube). Rangkaian pipa bor dan annulus antara rangkaian dan formasi
dianggap sebagai pipa U, dengan pahat sebagai penghubung (limb).
Kondisi tekanan formasi yang sudah diketahi overbalance pressure (Hs Pf) dapat
dikurangi secara bertahap hingga mencapai tingkat yang aman dan akan tetapi tekanan
hidrostatik lumpur harus selalu lebih besar dari tekanan formasi.

Tekanan hidrostatik dapat dikurangi dengan cara mempompakan lumpur baru dengan
densitas yang lebih rendah, atau dengan memompakan sejumlah kecil fluida yang mempunyai
specivic gravity (SG) rendah.
Jika tekanan formasi belum diketahui, biasanya dilakukan pengurangan tekanan
hidrostatik dalam jumlah yang kecil, dengan teknik pipa U sampai pipa yang terjepit dapat
dibebaskan.
Variasi dari metode pipa U dengan memompakan air kedalam drill pipe dan annulus
untuk mengurangi besarnya tekanan hidrostatik hingga sama dengan atau sedikit lebih besar
dari pada tekanan formasi.
Perendaman Dengan Fluida Organik
Fluida organik biasanya disemprotkan disepanjang daerah jepitan untuk menguragi
ketebalan mud cake dan faktor gesekan. Campuran antara minyak solar dan surfactant adalah
fluida yang paling banyak digunakan karena kemampuannya untuk membasahi keliling pipa
yang terjepit dan karena itu menciptakan lapisan tipis antara pipa dan mud cake. Hal ini
menurunkan besarnya koefisien gesekan, dan pada akhirnya akan meningkatkan efektivitas
usaha-usaha mekanis untuk membebaskan pipa.
Operasi Back Off
Apabila semua metode diatas sudah dilakukan tetapi hasilnya belum berhasil, maka
operasi back off adalah pilihan terakhir yang dilakukan.
Operasi back off mencakup pelepasan bagian pipa yang masih bebas dari lubang bor.
Hal ini secara efektif berarti pelepasan rangkaian pemboran pada atau diatas daerah jepitan
dan pengangkatan bagian pipa yang masih bebas dari jepitan dari lubang bor. Bagian rangkaian
pemboran yang masih tersisa (fish) dapat diambil dengan menggunakan peralatan fishing tool
maupun peralatan washover.

Apabila lubang sumur tersebut mengalami kerusakan atau sisa rangkaian pemboran
tidak bisa diambil, sebagai pilihannya adalah menutup lubang (plug back) dan kemudian
membelokkannya (side track).

Mechanical Sticking
Pipa terjepit secara mekanis ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pipa terjepit karena
runtuhan dan pipa terjepit karena lubang bor mengecil.

Pipa Terjepit Karena Runtuhan


Pipa terjepit jenis ini karena dinding lubang bor yang runtuh (caving) yang mengisi
annulus antara pipa dan dinding lubang..

Penyebab Dinding Lubang Runtuh


Dinding lubang runtuh dapat disebabkan oleh :
1. Formasi yang kurang kompak dan rapuh (pasir lepas, batu bara, barrite shale).
2. Tekanan hidrostatik lumpur yang terlalu kecil.
3. Shale yang sensitif air.
Runtuhan dari dinding ini akan berkumpul di annulus dan memegang rangkaian bor,
sehingga mengakibatkan rangkaian bor terjepit.

Tanda Pipa Terjepit Karena Runtuhan


Tanda telah terjadi runtuhan saat melakukan pemboran adalah sebagai berikut :
1. Cutting yang keluar bertambah banyak.
2. Cutting yang keluar besar-besaran dan bentuknya pipih.
3. Tekanan pompa lumpur naik.

4. Torsi naik.
Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit karena runtuhan dinding lubang adalah sebagai
berikut :
1. Rangkaian tidak bisa digerakkan, diputar dan diangkat.
2. Tekanan pompa naik secara mendadak.

Pencegahan Dinding Lubang Runtuh


Mencegah runtuhnya dinding lubang bor dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Naikkan tekanan hidrostatik lumpur, supaya dapat menahan dinding lubang supaya jangan
runtuh.
2. Kecepatan aliran di annulus diusahakan jangan terlalu tinggi.
3. Jenis aliran di annulus harus laminer.
4. Menggunakan lumpur dengan water loss yang kecil saat menembus formasi shale.
5. WOB diperkecil diwaktu menembus batu bara, dan sering dilakukan reaming.

Pipa Terjepit Karena Lubang Bor Mengecil


Pipa terjepit dapat disebabkan karena lubang bor mengecil. Kejadian ini biasanya terjadi
pada formasi shale.

Penyebab Penyempitan Lubang


Shale yang sensitif air adalah shale yang mempunyai mineral clay jenis natrium monmorillonite.
Mineral ini akan menghisap air tawar, sehingga ikatan antar partikel menjadi lemah dan
mengembang. Karena tekanan overburden batuan yang terdapat diatasnya maka lapisan shale
akan bergerak ke arah lubang bor dan menyebabkan terjadi sumbat cincin. Sumbat cincin

adalah dinding lubang memegang keliling pipa, sehingga pipa tidak dapat diangkat dan
diturunkan.

Tanda Pipa Terjepit Karena Sumbat Cincin


Tanda pipa terjepit karena sumbat cincin adalah sebagai berikut :
1. Torsi naik, torsi naik karena terjadi gesekan dengan dinding lubang.
2. Tekanan pompa naik, tekanan pompa naik disebabkan aliran lumpur di annulus sudah tertutup.
3. Rangkaian tidak bisa diangkat, rangkaian mungkin bisa diangkat untuk panjang tertentu, tetapi
selanjutnya akan terjepit karena tool joint drill pipe atau drill collar tersebut.

Pencegahan Sumbat Cincin


Mencegah

terjadinya

pipa

terjepit

karena

sumbat

cincin

adalah

mencegah

mengembangnya formasi. Caranya yaitu sebagai berikut :


1. Menggunakan lumpur dengan water loss kecil, kalau bisa menggunakan lumpur yang tidak
memiliki water loss. Sehingga tidak ada reaksi mineral clay dengan air dan supaya
mengembang.
2.

Memakai lumpur calcium lignosulfonate atau lumpur polimer. Prinsipnya disini adalah
mengurangi aktifitas unsur natrium dari clay.

3. Menggunakan lumpur minyak.

Penanggulangan Mechanical Sticking


Metode yang biasanya dilakukan untuk membebaskan pipa yang terjepit secara
mekanis adalah dengan usaha penggerakkan pipa baik diputar ataupun ditarik atau dengan
mengaktifkan jar, apabila rangkaian pipa dilengkapi dengan jar. Jika metode ini gagal, biasanya

disemprotkan fluida organik dan kemudian prosedur yang telah disebutkan tadi diulangi. Jika
usaha tersebut belum berhasil, maka pipa harus dilepaskan dengan cara back off.

Key Seating
Pipa terjepit karena key seat terjadi pada saat mencabut rangkaian. Tool joint drill pipe
akan menyangkut pada lubang key seat sehingga rangkaian tidak bisa dicabut.
Penyebab Key Seat
Pipa terjepit karena key seat disebabkan karena adanya dog leg. Dog leg adalah lubang
bor membelok secara mendadak atau dengan kata lain terjadi perubahan sudut kemiringan
lubang dan sudut arah lubang secara mendadak. Drill pipe akan mengikis lubang yang bengkok
secara mendadak tersebut, sehingga terbentuk lubang yang penampangnya seperti lubang
kunci (key seat). Waktu sedang melakukan pemboran terlihat ada kenaikan torsi, karena drill
pipe mengikis dinding lubang yang

bengkok. Pada waktu mencabut rangkaian terjadi

sangkutan saat drill collar sampai di daerah key seat.


Penyebab dog leg bisa diakibatkan karena WOB yang terlalu tinggi, faktor formasi
(perubahan kekerasan, kemiringan lubang yang ditembus dan formasi bergoa-goa).

Tanda-Tanda Key Seat


Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit karena adanya key seat adalah sebagai berikut :
1. Rangkaian tidak bisa diangkat.
2. Tekanan pompa normal.
3. Rangkaian masih bisa diputar.
Selama pemboran drill pipe selalu dijaga dalam keadaan tension (tarik) dan pada saat
memasuki bagian dog leg drill pipe berusaha untuk menjadi lurus, sehingga menimbulkan gaya
lateral seperti yang ditunjukkan pada gambar. Gaya lateral ini mengakibatkan sambungan

sambungan drill pipe (tool joint) menggerus formasi yang berada pada busur dog leg, dan
menimbulkan lubang baru sebagai akibat diputarnya rangakaian pemboran. Lubang baru itu
disebut Key Seat.
Key seat ini hanya dapat terbentuk jika formasi yang ditembus lunak dan berat yang tergantung
di bawah dog leg cukup besar untuk menimbulkan gaya lateral.

Pencegahan Key Seating


Apabila terjadi kenaikan torsi disaat sedang member, karena gesekan-gesekan drill pipe
ke dinding lubang, hentikanlah segera pemboran. Angkat string dan pasang string remer atau
key seat wiper. Kemudian lakukan reaming pada kedalaman yang mengalami dog leg.
String reameri atau seat wiper dipasang pada drill pipe. Ukuran string reamer atau key
seat wiper harus lebih besar dari tool joint drill pipe dan lebih kecil dari diameter drill collar.
Kalau pipa sudah terjepit karena masalah key seat, rangkaian diputar pelan-pelan
dengan tension yang minimum. Hal ini dilakukan terus menerus sampai rangkaian bisa dicabut.
STUCK PIPE

PROBLEM PEMBORAN
(STUCK PIPE)

II. PIPA TERJEPIT (STUCK PIPE)


Pipa terjepit (stuck pipe) merupakan permasalahan dalam operasi pemboran karena
dipengaruhi oleh kondisi lubang sumur serta faktor mekanis. Pipa terjepit secara
mekanis disebabkan antara lain : lubang bor runtuh, shale yang mengembang,
undergauge hole, junk, green cement dan collapsed casing.

2.1. Pipa terjepit karena runtuhan


Pipa terjepit jenis ini karena dinding lubang bor yang runtuh (caving) yang mengisi
annulus antara pipa dan dinding lubang. Dinding lubang runtuh dapat disebabkan
oleh :
Formasi yang kurang kompak dan rapuh (pasir lepas, batu bara, brittle shale)
Tekanan hidrostatik lumpur yang kecil
Shale yang sensitive terhadap air.
Runtuhan dari dinding ini akan berkumpul di annulus dan memegang rangkaian bor,
sehingga mengakibatkan rangakian bor terjepit.
Tanda telah terjadi runtuhan saat melakukan pemboran adalah :
Cutting yang keluar bertambah banyak
Cutting yang keluar besar-besar dan bentuknya pipih
Tekanan pompa lumpur naik
Torsi naik
Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit karena runtuhan dinding lubang adalah :
Rangkaian tidak bisa digerakkan, diputar dan diangkat
Tekanan pompa naik secara mendadak
Untuk mencegah runtuhnya dinding lubang bor dapat dilakukan hal-hal sebagai
berikut :
Menaikkan tekanan hidrostatik lumpur, supaya dapat menahan dinding lubang
supaya jangan runtuh
Kecepatan aliran di annulus diusahakan jangan terlalu tinggi
Jenis aliran di annulus harus laminer
Menggunakan lumpur dengan water loss yang kecil pada saat menembus formasi
shale
WOB diperkecil diwaktu menembus batu bara, dan sering dilakukan reaming

Gambar : Pipa terjepit karena runtuhan


2.2. Pipa terjepit karena Bridge Pack Off
Pipa terjepit yang disebabkan karena lubang bor mengecil. Kejadian ini biasanya
terjadi pada formasi shale. Shale yang sensitif air adalah shale yang mempunyai
caly jenis natrium monmorillonite. Bridge pack off adalah dinding lubang
memegang sekeliling pipa, sehingga pipa tidak dapat diangkat dan diturunkan.
Tanda pipa terjepit karena bridge pack off adalah :
Torsi naik, karena telah terjadi gesekan dengan dinding lubang
Tekanan pompa naik, karena aliran lumpur di annulus sudah tertutup
Rangkaian tidak bisa diangkat.
Untuk mencegah terjadinya pipa terjepit karena bridge pack off adalah :
1. Menggunakan lumpur dengan water loss kecil, kalau bisa menggunakan lumpur
yang tidak memiliki water loss, sehingga tidak ada reaksi antara mineral clay
dengan air yang dapat mengakibatkan clay mengembang
2. Memakai lumpur calcium lignosulfonate atau lumpur polymer.
3. Menggunakan lumpur bahan dasar minyak.

Gambar : Pipa terjepit karena Bridge Pack Off


2.3. Collapsed Casing
Jepitan ini terjadi bila gaya yang ditimbulkan oleh formasi melebihi collapsed
strength dari casing. Hal ini disebabkan oleh kesalahan pada desain casing atau
terjadinya korosi yang mengurangi collapsed dari casing.

Gambar : Pipa terjepit karena Collapsed Casing

2.4. Undergauge Hole

Jepitan jenis ini terjadi disebabkan karena pemakaian bit yang sudah terlalu aus dan
tidak diganti, sehingga ukuran lubang bor lebih kecil dari seharusnya. Penggunaan
bit jenis PDC yang memiliki tingkat kestabilan lubang yang terbentuk dan
kemampuan menembus formasi yang tebal.

Gambar : Pipa terjepit karena Undergauge Hole

2.5. Adanya Junk


Jepitan jenis ini terjadi karena adanya bagian-bagian kecil (junk) dari peralatan
bawah permukaan (down hole equipment) yang jatuh atau benda-benda kecil dari
lantai pemboran yang jatuh sehingga akan meyebabkan drill string terjepit pada
saat ditarik ke atas (pulled out).

Gambar : Pipa terjepit karena Junk

2.6. Adanya Green Cement


Jepitan jenis ini terjadi bila drill string menembus semen yang belum mengeras
(green cement). Dengan adanya tekanan dari drill string cairan yang ada pada
bubur semen akan terdesak keluar sehingga menyebabkan semen akan mengeras
lebih cepat. Hal ini mengakibatkan drill string terjepit secara permanent.

Gambar : Pipa terjepit karena Junk

2.7. Key Seating


Pipa terjepit karena key seat terjadi pada saat mencabut rangkaian. Tool joint drill
pipe akan menyangkut pada lubang key seat sehingga rangkaian tidak bisa dicabut.
Pipa terjepit karena key seat disebabkan karena adanya dog leg. Dog leg adalah
lubang bor yang membelok secara mendadak atau dengan kata lain terjadi
perubahan sudut kemiringan lubang dan sudut arah lubang secara mendadak. Drill
pipe akan mengikis lubang yang bengkok secara mendadak tersebut, sehingga
terbentuk lubang yang penampangnya seperti lubang kunci (key seat).

Gambar : Pipa terjepit karena Key Seating

Gambar : Pipa terjepit karena Wellbore Geometry dan Poor Hole Cleaning

Penyebab dog leg bisa diakibatkan karena WOB yang terlalu tinggi, faktor formasi
(perubahan kekerasan, kemiringan lubang yang ditembus dan formasi bergoa-goa).

Sebagai tanda telah terjadi pipa terjepit katena key seat adalah :
Rangkaian tidak bisa diangkat
Tekanan pompa normal
Rangkaian masih bisa diputar.

2.2. Metoda dan Alat Pembebas Pipa Terjepit


Ada beberapa metoda yang digunakan antara lain :
1. Metoda tarik dan regang lepas
2. Metoda spotting fluid (perendaman fluida)
3. Metoda surging (pipa U)
4. Metoda pelepasan pipa (back off)

2.2.1. Metoda Tarik dan Regang Lepas


Metoda ini adalah metoda yang harus dilakukan pertama kali pada waktu pipa
mengalami stuck. Pada waktu melakukan pull out menarik pipa yang terjepit kita

harus memperhitungkan tensile strength drill pipe, agar gaya tarikan yang diterima
oleh drill pipe tidak merusak ataupun memutuskan drill pipe tersebut. Selain itu
juga kita harus mengetahui kekuatan dari rig yang dipakai, tujuannya untuk
menghindari robohnya menara.
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam melakukan tarikan dan regang
lepas yaitu :
1. Perkirakan titk lemah dari rangkaian (biasanya drill pipe dipermukaan, kecuali
menggunakan drill pipe yang tidak seragam gradenya).
2. Hitung berat drill string di udara diatas titik lemah (Wsw), Wsw = 0. jika titik
lemah berada di permukaan (drill pipe yang digunakan seragam)
3. Tarikan maksimum yang terdiri dari overpull ditambah dengan berat rangkaian
yang terlihat pada weight indicator (Wim) dalam pounds, dengan persamaan :
Wim = Wb + Tm + Wsw . (2-1)
Dimana :
Wb = berat travelling block
Tm = tarikan maksimum

2.2.2. Metoda spotting fluid (perendaman fluida)


Fluida organik biasanya disemprotkan di sepanjang daerah jepitan untuk megurangi
ketebalan mud cake dan faktor gesekan. Campuran antara minyak solar dan
surfactant adalah fluida yang paling banyak digunakan karena kemampuannya
untuk membasahi keliling pipa yang terjepit dan karena itu menciptakan lapisan
tipis antara drill pipe dengan mud cake, sehingga akan menurunkan besarnya
koefisien gesekan.
Volume fluida yang digunakan untuk merendam pipa yang terjepit adalah :
(2-2)
Dimana :
VL = volume larutan, bbl
OH = open hole, in
OD = out side drill pipe, in
L = panjang pipa yang terjepit, ft

Prosedur umum yang dilakukan adalah memompakan fluida organic ke dalam drill
pipe secara berangsur-angsur dan sejumlah kecil ke annulus sampai seluruh daerah
jepitan dapat terendam. Lamanya perendaman 12 jam sampai 24 jam untuk
mendapatkan hasil optimum.

2.2.3. Metoda surging (pipa U)


Cara yang umum digunakan untuk mengurangi tekanan hidrostatik lumpur adalah
metode pipa U (U - tube). Rangkaian pipa bor dan annulus antara rangkaian dan
formasi dianggap sebagai pipa U, dengan pahat sebagai penghubung.
Ada dua kondisi pada saat pengurangan tekanan hidrostatik yaitu tekanan formasi
telah diketahui atau tekanan formasi belum diketahui.
Pengurangan tekanan hidrostatik lumpur diperoleh dengan memompakan fluida
dengan densitas yang rendah seperti diesel oil ke drillpipe. Maksimum volume
minyak atau air yang dipompakan ke drillpipe dapat dihitung dengan
persamaan :

Level fluida yang turun di anulus ketika tekanan formasi seimbang adalah :
Equivalen mud weight adalah :

dimana :
FL = fluid level, bbl/ft
Vdp = volume drillpipe, bbl/ft
Vann = volume annulus, bbl/ft
Pp = tekanan pori, psi
Pdpmax = tekanan drillpipe max, psi
o = densitas minyak, ppg
m = densitas lumpur. ppg
Lst = kedalaman titik terjepit, ft

2.2.4. Metoda pelepasan pipa (back off)


Apabila semua metode diatas sudah dilakukan tetapi hasilnya belum berhasil, maka
operasi back off adalah pilihan terakhir yang dilakukan.
Operasi back off mencakup pelepasan bagian pipa yang masih bebas dari lubang
bor. Hal ini secara efektif berarti melepaskan rangkaian pemboran pada atau diatas
daerah jepitan dan pengangkatan bagian pipa yang masih bebas dari jepitan lubang
bor.
Peralatan back off (back off shot) ditempatkan pada tool joint drill pipe yang masih
bebas terhadap tension dan torsion. Torsi kekiri dan sedikit tarikan ke atas diatas
berat back off (hook load sebelum terjepit dikurangi dengan berat pipa yang
terjepit) dilakukan pada titik back off, dan kemudian peralatan back off tersebut
dioperasikan. Pipa bisa terbebas dengan cara ini yang diindikasikan dengan
turunnya hook load. Pipa kemudian diputar dan ditarik ke atas untuk memastikan
keberhasilan back off. Bagian drill pipe yang terjepit, drill collar dan bit yang
tertinggal didalam lubang, disebut fish.