Anda di halaman 1dari 39

PEMANFAATAN TEKNIK FITOREMEDIASI PADA LINGKUNGAN TERCEMAR

TIMBAL (Pb)

PEMANFAATAN TEKNIK FITOREMEDIASI PADA


LINGKUNGAN TERCEMAR TIMBAL (Pb)
1. SUMBER DAN DAMPAK PENCEMARAN Pb
Timah hitam (Pb) merupakan logam lunak
yang berwarna kebiru-biruan atau abu-abu
keperakan dengan titik leleh pada 327,5C
dan titik didih 1.740C pada tekanan
atmosfer. Senyawa Pb-organik seperti Pbtetraetil dan Pb-tetrametil merupakan
senyawa yang penting karena banyak
digunakan sebagai zat aditif pada bahan
bakar bensin dalam upaya meningkatkan
angka oktan secara ekonomi. Pb-tetraetil dan
Pb-tetrametil berbentuk larutan dengan titik
didih masing-masing 110C dan 200C. Karena
daya penguapan kedua senyawa tersebut
lebih rendah dibandingkan dengan daya

penguapan unsur-unsur lain dalam bensin,


maka penguapan bensin akan cenderung
memekatkan kadar Pb-tetraetil dan Pbtetrametil. Kedua senyawa ini akan
terdekomposisi pada titik didihnya dengan
adanya sinar matahari dan senyawa kimia lain
diudara seperti senyawa holegen asam atau
oksidator (Anonim, 2008).
Unsur Pb umumnya ditemukan berasosiasi
dengan Zn-Cu dalam biji logam. Logam ini
penting dalam industri modern yang
digunakan untuk pembuatan pipa air karena
sifat ketahanannya terhadap korosi dalam
segala kondisi dan rentang waktu lama.
Pigmen Pb juga digunakan untuk pembuatan
cat, baterai, dan campuran bahan bakar
bensin tetraethyl. Pemanfaatan pada bahan
bakar bensin telah mengalami penurunan
karena menimbulkan dampak terhadap
lingkungan. Biji logam timbal (Pb) dapat

terbentuk dalam cebakan-cebakan seperti


stratabound sulfida massif, replacement,
urat, sedimentasi, dan metasomatisma
kontak dengan mineral-mineral utama terdiri
atas: galena (PbS), cerusit (PbCO3), anglesit
(PbSO4), wulfenit (PbMoO4), dan piromorfit
[Pb5(PO4, AsO4)3Cl]. Larutan pembawa Pb
diantaranya: air connate, air meteorik
artesian, dan larutan hidrotermal yang naik
ke permukaan; dengan sebagian besar Pb
berasal dari larutan hidrotermal yang
membentuk cebakan bijih pada suhu rendah,
berupa pengisian rongga batuan induk
(Herman, 2006). Beberapa sumber
pencemaran Pb di lingkungan dapat dilihat
pada gambar 1.
Pb dalam batuan berada pada struktur silikat
yang menggantikan unsur kalsium/Ca, dan
baru dapat diserap oleh tumbuhan ketika Pb

dalam mineral utama terpisah oleh proses


pelapukan. Pb di dalam tanah mempunyai
kecenderungan terikat oleh bahan organik
dan sering terkonsentrasi pada bagian atas
tanah karena menyatu dengan tumbuhan, dan
kemudian terakumulasi sebagai hasil
pelapukan di dalam lapisan humus.
Diperkirakan 95% Pb dalam sedimen
(nonorganik dan organik) dibawa oleh air
sungai menuju samudera. Pb relatif dapat
melarut dalam air dengan pH < 5 dimana air
yang bersentuhan dengan timah hitam dalam
suatu periode waktu dapat mengandung > 1
g Pb/dm3; sedangkan batas kandungan
dalam air minum adalah 50 g Pb/dm3
(Herman, 2006).
Pembakaran Pb-alkil sebagai zat aditif pada
bahan bakar kendaraan bermotor merupakan
bagian terbesar dari seluruh emisi Pb ke
atmosfer. Berdasarkan estimasi sekitar 8090%

Pb di udara ambien berasal dari pembakaran


bensin, tidak sama antara satu tempat
dengan tempat lain karena tergantung pada
kepadatan kendaraan bermotor dan efisiensi
upaya untuk mereduksi kandungan Pb pada
bensin. Penambangan dan peleburan batuan
di beberapa wilayah sering menimbulkan
masalah pencemaran. Tingkat kontaminasi Pb
di udara dan air sekitar wilayah tersebut
tergantung pada jumlah Pb yang diemisikan,
tinggi cerobong pembakaran limbah,
topografi dan kondisi lokal lainnya. Peleburan
Pb sekunder, penyulingan, industri senyawa
dan barang-barang yang mengandung Pb, dan
insinerator juga dapat menambah emisi Pb ke
lingkungan. Kegiatan berbagai industri yang
terutama menghasilkan besi dan baja,
peleburan tembaga dan pembakaran
batubara, harus dipandang sebagai sumber
yang dapat menambah emisi Pb ke udara.

Penggunaan pipa air yang mengandung Pb


dirumah tangga terutama pada daerah yang
kesadahan airnya rendah (lunak) dapat
menjadi sumber pemajanan Pb pada manusia.
Demikian juga didaerah dengan banyak rumah
tua yang masih menggunakan cat yang
mengandung Pb dapat menjadi sumber
pemajanan Pb (Anonim, 2008).
Luasnya penyebaran unsur Pb di alam
sebagian besar disebabkan oleh limbah
kendaraan bermotor. Unsur ini mengalami
peningkatan ketika melibatkan atmosfir dan
kemudian mencemari tanah serta tanaman.
Di daerah padat penduduk (urban), anak-anak
menyerap lebih banyak Pb daripada orang
dewasa; terutama pada mereka yang
kekurangan gizi dan mempunyai perilaku
mengkomsumsi makanan tidak bersih atau
berdebu, yang dapat mengandung beberapa
ribu ppm (1.000 3.000 g Pb/kg). Di London

Barat, banyak anak-anak teridentifikasi


menderita keracunan akut oleh Pb (ONeill,
1994 dalam Herman, 2006). Pencemaran
unsur Pb dapat juga terjadi akibat
pembuangan tailing dari usaha pertambangan
logam. Hal ini harus diwaspadai karena dapat
mencemari lingkungan dengan akibat
timbulnya berbagai penyakit berbahaya atau
bahkan kematian.
Pb sebagai gas buang kendaraan bermotor
dapat membahayakan kesehatan dan merusak
lingkungan. Pb yang terhirup oleh manusia
setiap hari akan diserap, disimpan dan
kemudian ditabung dalam darah. Bentuk
Kimia Pb merupakan faktor penting yang
mempengaruhi sifat-sifat Pb di dalam tubuh.
Komponen Pb organik misalnya tetraethil Pb
segera dapat terabsorbsi oleh tubuh melalui
kulit dan membran mukosa. Pb organik
diabsorbsi terutama melalui saluran

pencernaan dan pernafasan dan merupakan


sumber Pb utama di dalam tubuh. Tidak
semua Pb yang terisap atau tertelan ke dalam
tubuh akan tertinggal di dalam tubuh. Kirakira 5-10 % dari jumlah yang tertelan akan
diabsorbsi melalui
saluran pencernaan, dan kira-kira 30 % dari
jumlah yang terisap melalui hidung akan
diabsorbsi melalui saluran pernafasan akan
tinggal di dalam tubuh karena dipengaruhi
oleh ukuran partikel-partikelnya. Di dalam
tubuh Pb dapat menyebabkan keracunan akut
maupun keracunan kronik (Santi, 2001).
Menurut ketentuan WHO, kadar Pb dalam
darah manusia yang tidak terpapar oleh Pb
adalah sekitar 10 -25 g/100 ml. Pada
penelitian yang dilakukan di industri proses
daur ulang aki bekas, ditemukan bahwa kadar
Pb udara di daerah terpapar pada malam hari
besarnya sepuluh kali lipat kadar Pb di daerah

tidak terpapar pada malam hari (0,0299


mg/m3 vs 0,0028 mg/m3), sedangkan rerata
kadar Pb Blood (Pb-B) di daerah terpapar
170,44 g/100 ml dan di daerah tidak
terpapar sebesar 45,43 g/100 ml. Juga
ditemukan bahwa semakin tinggi kadar Pb-B,
semakin rendah kadar Hb-nya (Swandi, 1995
dalam Sudarmaji, dkk., 2006).
Jumlah Pb minimal di dalam darah yang dapat
menyebabkan keracunan berkisar antara 60100 mikro gram per 100 ml darah. Pada
keracunan akut biasanya terjadi karena
masuknya senyawa timbal yang larut dalam
asam atau menghirup uap Pb tersebut.
Gejala-gejala yang timbul berupa mual,
muntah, sakit perut hebat, kelainan fungsi
otak, anemia berat, kerusakan ginjal bahkan
kematian dapat terjadi dalam 1-2 hari.
Kelainan fungsi otak terjadi karena Pb ini
secara kompetitif menggantikan mineral-

mineral utama seperti seng, tembaga, dan


besi dalam mengatur fungsi mental kita.
Keracunan timbal kronik menimbulkan gejala
seperti depresi, sakit kepala, sulit
berkonsentrasi, gelisah, daya ingat menurun,
sulit tidur, halusinasi dan kelemahan otot.
Susunan saraf pusat merupakan organ sasaran
utama timbal. Menurut penelitian dr M.
Erikson menunjukkan bahwa wanita hamil
yang memiliki kadar timbal tinggi dalam
darahnya ternyata 90 % dari simpanan timbal
pada tubuhnya dialirkan kepada janin melalui
plasenta, dimana keracunan pada janin
mempengaruhi intelektual dan tingkah laku si
anak di kemudian hari (Santi, 2001).
Timah Hitam berakumulasi di rambut
sehingga dapat dipakai sebagai indikator
untuk memperkirakan tingkat pemajanan
atau kandungan Pb dalam tubuh. Anak-anak
merupakan kelompok resiko tinggi menelan

langsung bekas cat yang mengandung Pb yang


merupakan sumber pemajanan, selain emisi
industri dan debu jalan yang berasal dari lalu
lintas yang padat. Menurut Sudarmaji, dkk.,
(2006), paparan bahan tercemar Pb dapat
menyebabkan gangguan pada organ sebagai
berikut :
1. Gangguan neurology.
Gangguan neurologi (susunan syaraf) akibat
tercemar oleh Pb dapat berupa
encephalopathy, ataxia, stupor dan coma.
Pada anak-anak dapat menimbulkan kejang
tubuh dan neuropathy perifer.
2. Gangguan terhadap fungsi ginjal.
Logam berat Pb dapat menyebabkan tidak
berfungsinya tubulus renal, nephropati
irreversible, sclerosis vaskuler, sel tubulus
atropi, fibrosis dan sclerosis glumerolus.
Akibatnya dapat menimbulkan aminoaciduria
dan glukosuria, dan jika paparannya terus

berlanjut dapat terjadi nefritis kronis.


3. Gangguan terhadap sistem reproduksi.
Logam berat Pb dapat menyebabkan
gangguan pada sistem reproduksi berupa
keguguran, kesakitan dan kematian janin.
Logam berat Pb mempunyai efek racun
terhadap gamet dan dapat menyebabkan
cacat kromosom. Anak -anak sangat peka
terhadap paparan Pb di udara. Paparan Pb
dengan kadar yang rendah yang berlangsung
cukup lama dapat menurunkan IQ.
4. Gangguan terhadap sistem hemopoitik.
Keracunan Pb dapat menyebabkan terjadinya
anemia akibat penurunan sintesis globin
walaupun tak tampak adanya penurunan
kadar zat besi dalam serum. Anemia ringan
yang terjadi disertai dengan sedikit
peningkatan kadar ALA ( Amino Levulinic Acid)
urine. Pada anak-anak juga terjadi
peningkatan ALA dalam darah. Efek dominan

dari keracunan Pb pada sistem hemopoitik


adalah peningkatan ekskresi ALA dan CP
(Coproporphyrine). Dapat dikatakan bahwa
gejala anemia merupakan gejala dini dari
keracunan Pb pada manusia. Anemia tidak
terjadi pada karyawan industri dengan kadar
Pb-B (kadar Pb dalam darah) dibawah 110
ug/100 ml. Dibandingkan dengan orang
dewasa, anak-anak lebih sensitif terhadap
terjadinya anemia akibat paparan Pb.
Terdapat korelasi negatif yang signifikan
antara Hb dan kadar Pb di dalam darah.
Menurut Anonim (2008), gejala klinis
keracunan timah hitam pada individu dewasa
tidak akan timbul pada kadar Pb yang
terkandung dalam darah di bawah 80 mg
Pb/100 g darah namun hambatan aktivitas
enzim untuk sintesa haemoglobin sudah
terjadi pada kandungan Pb normal (3040
mg).

5. Gangguan terhadap sistem syaraf.


Efek pencemaran Pb terhadap kerja otak
lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan
pada orang dewasa. Paparan menahun dengan
Pb dapat menyebabkan lead encephalopathy.
Pada anak dengan kadar Pb darah (Pb-B)
sebesar 40-80 g/100 ml dapat timbul gejala
gangguan hematologis, namun belum tampak
adanya gejala lead encephalopathy. Gejala
yang timbul pada lead encephalopathy antara
lain adalah rasa canggung, mudah
tersinggung, dan penurunan pola berpikir.
Apabila pada masa bayi sudah mulai terpapar
oleh Pb, maka pengaruhnya pada profil
psikologis dan penampilan pendidikannya
akan tampak pada umur sekitar 5-15 tahun.
Akan timbul gejala tidak spesifik berupa
hiperaktifitas atau gangguan psikologis jika
terpapar Pb pada anak berusi 21 bulan sampai
18 tahun. Untuk melihat hubungan antara

kadar Pb-B dengan IQ (Intelegance Quation)


telah dilakukan penelitian pada anak berusia
3 sampai 15 tahun dengan kondisi sosial
ekonomi dan etnis yang sama. Pada sampel
dengan kadar Pb-B sebesar 40-60 g/100 ml
ternyata mempunyai IQ lebih rendah apabila
dibandingkan dengan sampel yang kadar Pb-B
kurang dari 40 g/100 ml. Pada dewasa muda
yang berumur sekitar 17 tahun tidak tampak
adanya hubungan antara Pb-B dan IQ.
2. FITOREMEDIASI SEBAGAI TEKNIK PEMULIHAN
LINGKUNGAN TERCEMAR LOGAM BERAT
Pencemaran lingkungan di berbagai negara,
termasuk Indonesia, sudah sangat kompleks
dan mengkhawatirkan seiring dengan
pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan
diberbagai bidang. Salah satu teknik dalam
memperbaiki kualitas lingkungan yang

tercemar adalah dengan teknik fitoremediasi.


Menurut Priyanto & Prayitno (2006),
fitoremediasi berasal dari kata phyto (asal
kata Yunani phyton) yang berarti
tumbuhan/tanaman (plant) dan kata
remediation (asal kata Latin remediare = to
remedy) yaitu memperbaiki/ menyembuhkan
atau membersihkan sesuatu. Dengan
demikian fitoremediasi dapat didefinisikan
sebagai: penggunaan tumbuhan untuk
menghilangkan, memindahkan, menstabilkan,
atau menghancurkan bahan pencemar baik itu
senyawa organik maupun anorganik.
Menurut Mangkoedihardjo (2005), bahwa
proses fitoremediasi secara umum dibedakan
berdasarkan mekanisme fungsi dan struktur
tumbuhan. USEPA (1999, 2005) dan ITRC
(2001) secara umum membuat klasifikasi
proses sebagai berikut:
1. Fitostabilisasi (phytostabilization); gambar

2. Akar tumbuhan melakukan imobilisasi


polutan dengan cara mengakumulasi,
mengadsorpsi pada permukaan akar dan
mengendapkan presipitat polutan dalam zona
akar. Proses ini secara tipikal digunakan untuk
dekontaminasi zat-zat anorganik yang
terkandung minyak yaitu sulfur, nitrogen, dan
beberapa logam berat (sekitar 2-50%
kandungan minyak).
2. Fitoekstraksi/fitoakumulasi
(phytoextraction/phytoaccumulation);
gambar 3. Akar tumbuhan menyerap polutan
dan selanjutnya ditranslokasi ke dalam organ
tumbuhan. Proses ini cocok digunakan untuk
dekontaminasi zat-zat anorganik seperti pada
proses fitostabilisasi.
3. Rizofiltrasi (rhizofiltration); gambar 4. Akar
tumbuhan mengadsorpsi atau presipitasi pada
zona akar atau mengabsorpsi larutan polutan
sekitar akar ke dalam akar. Proses ini

digunakan untuk bahan larutan yang


mengandung bahan organik maupun
anorganik.
4. Fitodegradasi/fitotransformasi
(phytodegradation/phytotransformation);
gambar 5. Organ tumbuhan menguraikan
polutan yang diserap melalui proses
metabolisme tumbuhan atau secara
enzimatik.
5. Rizodegradasi (rhizodegradation/enhanced
rhizosphere biodegradation/
phytostimulation/plant-assistedbioremediation/degradation); gambar 6.
Polutan yang diuraikan oleh mikroba dalam
tanah, yang diperkuat/sinergis oleh ragi,
fungi, dan zat-zat keluaran akar tumbuhan
(eksudat) yaitu gula, alkohol, asam. Eksudat
itu merupakan makanan mikroba yang
menguraikan polutan maupun biota tanah
lainnya. Proses ini tepat untuk dekontaminasi

zat organik.
6. Fitovolatilisasi (Phytovolatilization);
gambar 7. Penyerapan polutan oleh tumbuhan
dan dikeluarkan dalam bentuk uap cair ke
atmosfer. Kontaminan bisa mengalami
transformasi sebelum lepas ke atmosfer.
Proses ini tepat digunakan untuk kontaminan
zat-zat organik.
Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan
yang mempunyai kemampuan untuk
mengkonsentrasikan logam di dalam
biomassanya dalam kadar yang luar biasa
tinggi. Batas hiperakumulator berbeda-beda
bergantung pada jenis logamnya, misalnya
kadmium 0,01% (100 mg/kg BK) sedangkan
kobalt, tembaga dan timbal adalah 0,1%
(1.000 mg/kg BK) serta seng dan mangan
adalah 1% (10.000 mg/kg BK). Laporan
pertama mengenai adanya tumbuhan

hiperakumulator muncul pada tahun 1948


oleh Minguzzi dan Vergnano, yang
menemukan kadar nikel setinggi 1,2% dalam
daun Alyssum bertolonii. Sejak itu, terutama
dengan mengandalkan analisis mikro terhadap
spesimen herbarium, diketahui ada 435 taxa
tumbuhan hiperakumulator logam yang
tumbuh tersebar di lima benua dan semua
wilayah iklim (Baker, 1999 dalam Priyanto &
Prayitno, 2006).
Pohon bakau (Rhizophora mucronata) dapat
mengakumulasi tembaga (Cu), mangan (Mn),
dan seng (Zn). Hipokotil pohon bakau dapat
mengakumulasi tembaga (Cu), besi (Fe), dan
seng (Zn). Kemampuan vegetasi mangrove
dalam mengakumulasi logam berat dapat
dijadikan alternatif perlindungan perairan
terhadap pencemaran logam berat. Tumbuhan
yang hidup di daerah tercemar memiliki
mekanisme penyesuaian yang membuat

polutan menjadi nonaktif dan disimpan di


dalam jaringan tua sehingga tidak
membahayakan pertumbuhan dan kehidupan
tumbuhan. Polutan tersebut akan memberi
pengaruh jika dikeluarkan melalui
metabolisme jaringan atau jika tumbuhan
tersebut dikonsumsi. Pemberian polutan
dapat merangsang kemampuannya untuk
bertahan pada tingkat yang lebih toksik
(Arisandi, 2001).
Tumbuhan mampu untuk menyerap ion-ion
dari lingkungannya melalui membran sel. Dua
sifat penyerapan ion oleh tumbuhan adalah:
1. Faktor konsentrasi; Kemampuan tumbuhan
dalam mengakumulasi ion sampai tingkat
konsentrasi tertentu, bahkan dapat mencapai
beberapa tingkat lebih besar dari konsentrasi
ion di dalam mediumnya.
2. Perbedaan kuantitatif akan kebutuhan hara
yang berbeda pada tiap jenis tumbuhan; Sel-

sel akar tumbuhan umumnya mengandung


konsentrasi ion yang lebih tinggi daripada
medium di sekitarnya. Sejumlah besar
eksperimen menunjukkan adanya hubungan
antara laju pengambilan ion dengan
konsentrasi ion yang menyerupai hubungan
antara laju reaksi yang dihantarkan enzim
dengan konsentrasi substratnya. Analogi ini
menunjukkan adanya barier khusus dalam
membran sel yang hanya sesuai untuk suatu
ion tertentu dan dapat menyerap ion
tersebut, sehingga pada konsentrasi substrat
yang tinggi semua barier berperan pada laju
maksimum hingga mencapai laju pengambilan
jenuh (Fitter, 1982 dalam Arisandi, 2001).
3. FITOREMEDIASI LINGKUNGAN YANG
TERCEMAR Pb
Menurut PPLH-IPB (1997); Sutamihardja, dkk
(1982) dalam Marganof (2003), logam berat

memiliki sifat-sifat, yaitu :


1. Sulit didegradasi, sehingga mudah
terakumulasi dalam lingkungan perairan dan
keberadaannya secara alami sulit terurai
(dihilangkan).
2. Dapat terakumulasi dalam organisme
termasuk kerang dan ikan, dan akan
membahayakan kesehatan manusia yang
mengkomsumsi organisme tersebut.
3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga
konsentrasinya selalu lebih tinggi dari
konsentrasi logam dalam air. Disamping itu
sedimen mudah tersuspensi karena
pergerakan masa air yang akan melarutkan
kembali logam yang dikandungnya ke dalam
air, sehingga sedimen menjadi sumber
pencemar potensial dalam skala waktu
tertentu.
Berbagai penelitian fitoremediasi telah
banyak dilaksanakan dalam usaha

memperbaiki kualitas lingkungan yang


tercemar logam Pb. Beberapa diantaranya
dilakukan pada lingkungan perairan. Seperti
dilaporkan Moenandir & Hidayat (1993) dalam
Sitorus (2007) bahwa, kangkung air (Ipomea
aquatic) ternyata dapat meningkatkan mutu
air yang tercemar oleh air limbah dan mampu
menyerap logam berat yang terlarut dalam
media tumbuh. Hasil penelitian mereka
terhadap air limbah tekstil, obat-obatan,
pabrik roti dan aquadest mampu menurunkan
kadar logam Pb 0,92 ppm. Hasil penelitian
Osmolovskaya & Kurilenko (2005) menemukan
bahwa beberapa jenis makrofita mampu
berperan dalam fitoremediasi terhadap Pb.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
Elodea Canadensis, Ceratophyllum demersum
L., dan Potamogeton natans L. mampu
menyerap Pb dalam air masing-masing
sebesar 27,4 , 10, 7 dan 9,3 mg kg -1 DW.

Sedangkan yang dilaporkan oleh Liao & Chang


(2004), bahwa eceng gondok (Eichhornia
crassipes) memiliki kemampuan dalam
menyerap Pb. Selama penelitan mereka yang
dilakukan di perairan Erh-Chung wetland
menunjukkan bahwa eceng gondok mampu
menyerap Pb sebesar 542 mg/m2 dengan
kapasitas penyerapan sebesar 5,4kg/ha.
Pengukuran kandungan Pb ini dilakukan
terhadap jaringan tanaman, media air dan
sedimen. Hal ini dilakukan karena adanya
korelasi antara kandungan Pb di dalam
jaringan tanaman dan media tumbuh.
Menurut Wilson (1988) dalam Arisandi (2001),
bahwa logam berat yang terlarut dalam air
akan berpindah ke dalam sedimen jika
berikatan dengan materi organik bebas atau
materi organik yang melapisi permukaan
sedimen, dan penyerapan langsung oleh
permukaan partikel sedimen. Materi organik

dalam sedimen dan kapasitas penyerapan


logam sangat berhubungan dengan ukuran
partikel dan luas permukaan penyerapan,
sehingga konsentrasi logam dalam sedimen
biasanya dipengaruhi ukuran partikel dalam
sedimen.
Seperti dilaporkan oleh Tjahaja (2006)
bahwa, tanaman eceng gondok juga mampu
mengakumulasi radiosesium (unsur radioktif)
sampai 188 kali di atas konsentrasi
radiosesium pada media tempat tumbuhnya.
Selain itu juga tanaman kiambang mampu
menyerap dan mengakumulasi radiosesium
dari air tempat hidupnya. Radiosesium yang
diserap oleh tanaman terdistribusi pada
bagian akar dan batang serta daun dengan
konsentrasi dalam akar lebih besar. Akumulasi
radiosesium dalam tanaman mencapai
maksimum pada hari ke 25, yaitu sebesar 5,87
ml/g. Xia dan Ma (2005) melaporkan bahwa,

eceng gondok memiliki kemampuan sebagai


fitodegradasi terhadap ethion (komponen
pestisida). Kecepatan dalam me-metabolisme
ethion adalah 55-91% di pucuk dan 74-81% di
akar dalam waktu satu minggu.
Menurut Reddy (1990) dalam Sitorus (2007),
kehadiran tanaman air di dalam kolam
pengolahan sangat potensial untuk menyaring
dan menyerap bahan yang terlarut di dalam
limbah seperti logamlogam berat (Hg, Pb,
Cn, Mn, Mg dan lain-lain), melangsungkan
pertukaran dan penyerapan ion, serta
memelihara kondisi perairan dari pengaruh
angin, sinar matahari dan suhu. Selain itu
tanaman air juga aman, relatif sederhana dan
murah.
Kemampuan tanaman air, seperti eceng
gondok, untuk mengikat bahan-bahan organik
dari partikel lumpur membuat tanaman ini
dapat digunakan untuk menjernihkan air,

memiliki fungsi ekologis sebagai stabilisator


suatu perairan karena kemampuannya
menetralisir bahan pencemar yang masuk
keperairan. Melalui akarnya yang lebat bahan
pencemar itu diserap untuk kemudian
digunakan dalam proses metabolismenya atau
disimpan dalam akar, batang, umbi atau
daunnya serta dapat menyerap kelebihan
unsur hara di dalam air yang menyebabkan
pencemaran (Soerjani, 1980 dalam Sitorus,
2007). Sedangkan tanaman kangkung air
mulai dari bagian batang, dan daun dapat
dikonsumsi oleh manusia sebagai bahan
makanan, selain itu tanaman ini juga
memiliki kemampuan dalam menyerap bahanbahan pencemar dan logam berat yang
terlarut dalam media tumbuh sehingga
kandungannya menjadi menurun atau mutu
air limbah menjadi meningkat (Moenandir ,
1993 dalam Sitorus, 2007).

Tumbuhan lahan basah telah berevolusi agar


hidup di lingkungan yang didominasi oleh air
melalui adaptasi struktur dan fisiologinya,
yaitu dengan membentuk jaringan lakuna
atau aerenkhima di dalam akar dan
batangnya untuk pertukaran gas oksigen dari
bagian batang ke akar. Perubahan lain terlihat
pada tumbuhan mengapung, yaitu dengan
membentuk daun yang bulat penuh untuk
menjaga agar tidak sobek, tekstur seperti
kulit yang kuat, dan permukaan atas yang
hidrofobik untuk menjaga agar tidak basah.
Tidak seperti pada tanaman darat pada
umumnya, stomata tumbuhan mengapung
ditemukan di bagian sisi sebelah atas daun
(Guntenspergen dkk., 1989 dalam Priyanto &
Prayitno, 2006).
Menurut Priyanto & Prayitno, (2006) bahwa,
tumbuhan timbul dipakai untuk pengolah
limbah karena tumbuhan tersebut

mengasimilasi senyawa organik dan anorganik


dari limbah. Tumbuhan dengan tingkat
pertumbuhan yang tinggi dan tajuk yang
besar dapat menyimpan bermacam hara
mineral. Pada media kerikil, pertumbuhan
tanaman timbul dapat menurunkan
konsentrasi hara mineral. Rizoma dan akar
beberapa tumbuhan air berfungsi sebagai
filtrasi dan pengendap senyawa hidrokarbon
dan logam berat beracun. Tingkat konsentrasi
logam berat dalam jaringan tanamantanaman tersebut dari yang tertinggi adalah
berturut-turut sebagai berikut: akar, rizoma,
dan daun. Tumbuhan mengapung seperti
eceng gondok juga dapat menghilangkan hara
dan logam berat dalam jumlah yang cukup
signifikan.
Tanaman air seperti eceng gondok dan
kangkung air, yang tampak tidak memiliki
nilai ekonomis tinggi, ternyata memiliki

kemampuan sebagai tumbuhan yang berperan


dalam mengurangi dampak pencemaran
lingkungan. Pengendalian pencemaran
lingkungan perairan akibat Pb secara biologis
(misalnya fitoremediasi) merupakan metode
yang sangat efektif, disamping mudah,
murah, memberikan manfaat yang besar, juga
relatif tidak menimbulkan dampak
sampingan.
Agen fitoremediasi berupa tumbuhan air
seperti eceng gondok, kangkung air dan
makrofita lainnya relatif mudah didapat,
serta memiliki kemampuan tumbuh dan
berkembang dengan cepat. Tumbuhantumbuhan ini kadang-kadang di beberapa
tempat justru menimbulkan masalah di
perairan (blomming), seperti sungai, danau
atau rawa. Dengan adanya teknik
fitoremediasi, maka akan memberikan
manfaat yang besar, tidak saja dapat

mengurangi polutan Pb pada perairan tapi


juga dapat mengatasi permasalahan yang
ditimbulkan oleh tumbuhan air akibat
kecepatan pertumbuhan dan
perkembangbiakannya yang tinggi.
Penelitian mengenai fitoremediasi terhadap
udara tercemar logam berat Pb jarang
ditemukan di dalam jurnal-jurnal penelitian.
Hal ini dapat dimengerti karena disamping
biaya yang besar, juga sulit menemukan
metode yang tepat. Namun demikian ada
beberapa penelitian yang melaporkan tentang
fitoremediasi udara tercemar. Diantaranya
seperti yang dilaporkan oleh Lukman dkk.,
(2007) bahwa, tanaman angsana (Pterocarpus
indicus) merupakan jenis tanaman yang
toleran sekaligus mampu menyerap polutan
amonia di udara lebih banyak dibandingkan
dengan ketapang (Terminalia catappa),
mahoni (Sweitenia macrophylla), glodokan

tiang (Polyathia longifolia) dan tanjung


(Mimusops elengi). Angsana dengan perlakuan
di dalam kawasan pabrik, setelah tiga bulan
kadar N-totalnya menjadi 5,6%, atau terjadi
penambahan sebesar 3,4% dibandingkan
dengan sebelum perlakuan (2,2%). Kadar Ntotal terendah terdapat pada tanaman
tanjung, yaitu sebesar 3,2%.
Beberapa jenis tumbuhan mempunyai sifat
hiperakumulator yang luar biasa. Namun
biasanya tumbuhan yang teradaptasi di tanah
berkadar logam tinggi dan toleran terhadap
logam mempunyai sifat tumbuh lambat.
Karakter manakah yang lebih penting, sifat
"hiperakumulator tetapi tumbuh lambat" atau
"tumbuh cepat tetapi toleransi medium",
memang bisa menjadi bahan perdebatan bila
sudah sampai pada persoalan memilih jenis
tumbuhan yang sesuai. Kelompok di USDA-ARS
yakin bahwa hipertoleransi lebih penting

daripada biomassa tinggi. Penggunaan


tumbuhan hiperakumulator juga lebih
menguntungkan bila kita harus mendaur ulang
logam yang telah dihimpun di dalam biomassa
tumbuhan. Karena dengan kadar akumulasi
tinggi, biomassa yang harus ditangani jelas
jauh lebih sedikit (Chaney dkk., 1997 dalam
Priyanto & Prayitno, 2006).
Masih menurut Priyanto & Prayitno (2006)
bahwa, usaha untuk meningkatkan akumulasi
logam berat, khususnya timbal, telah
dilakukan di beberapa laboratorium. Ilya
Raskin dan kolega di AgBiotech Center
berusaha menaikkan tingkat akumulasi Pb
oleh Brassica juncea dengan memberikan zat
pengkhelat ke dalam tanah. Hasilnya
menunjukkan, bahwa dengan memberikan
khelator EDTA ke dalam tanah yang
mengandung 600 mg Pb/kg, tumbuhan
Brassica juncea mampu mengakumulasi Pb

hingga 1,5% biomassanya. Dengan demikian


bila dianggap hasil biomassa adalah 12 t/ha,
maka sebanyak 180 kg Pb/ha dapat diambil
dari dalam tanah. Untuk mencapai hasil yang
tinggi ini tambahan biaya untuk pemberian
EDTA diperhitungkan sekitar US$7,50/t tanah
yang digarap.
Menurut Homaee (2006) bahwa, tanaman
lobak (Rhaphanus sativa L.) mampu berperan
dalam fitoremediasi logam Pb. Konsentrasi
maksimum Pb di dalam akar yaitu sebesar 440
g/gr, sedangkan di dalam daun sebesar 42
g/gr. Dalam penelitian ini terlihat bahwa
lobak berperan dalam proses fitoekstraksi.
Sedangkan yang dilaporkan oleh Huang, dkk.
(1997), bahwa, tanaman jagung (Zea mays L.)
dan kacang kapri (Pisum sativum L.) dapat
menyerap Pb. Melalui penambahan EDTA di
dalam tanah meningkatkan konsentrasi Pb di
dalam pucuk kedua tumbuhan tersebut dari

sekitar 500 mg/kg menjadi 10.000 mg/kg


dimana kandungan Pb di dalam tanah lebih
kurang 2.500 mg/kg.
Teknik fitoremediasi dapat digunakan dalam
proses pembersihan air tanah dari cemaran
berbagai macam logam berat, termasuk Pb.
Hal ini menjadi penting mengingat sumber air
tanah masih banyak dimanfaatkan oleh
manusia untuk berbagai macam kebutuhan.
Proses ini dapat diilustrasikan pada gambar 8
berikut ini.
Menurut Priyanto & Prayitno (2006) bahwa,
penyerapan dan akumulai logam berat oleh
tumbuhan dapat dibagi menjadi tiga proses
yang sinambung, yaitu penyerapan logam oleh
akar, translokasi logam dari akar ke bagian
tumbuhan lain, dan lokalisasi logam pada
bagian sel tertentu untuk menjaga agar tidak
menghambat metabolisme tumbuhan

tersebut. Penyerapan oleh akar dilakukan


dengan membawa logam ke dalam larutan di
sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa cara
bergantung pada spesies tumbuhannya.
Sebagai contoh Thlaspi cearulescens dapat
memobilisasi seng dengan cara menurunkan
pH pada daerah perakaran sebesar 0,2-0,4
unit. Mekanisme penyerapan besi lewat
pembentukan suatu zat khelat yang disebut
fitosiderofor telah diketahui secara
mendalam pada jenis rumput-rumputan.
Molekul fitosiderofor yang terbentuk ini akan
mengikat (mengkhelat) besi dan
membawanya ke dalam sel akar melalui
peristiwa transport aktif. Selain aktif
terhadap besi, fitosiderofor dapat mengikat
logam lain seperti seng, tembaga dan
mangan. Sekarang diketahui, bahwa berbagai
molekul lain berfungsi serupa, misalnya
histidin yang meningkatkan penyerapan nikel

pada Alyssum sp. dan suatu senyawa peptida


khusus, fitokhelatin, yang mengikat selenium
pada Brassica juncea serta logam lain seperti
timbal, kadmium dan tembaga. Di dalam
meningkatkan penyerapan besi, tumbuhan
membentuk suatu molekul reduktase di
membran akarnya. Reduktase ini berfungsi
mereduksi logam yang selanjutnya diangkut
melalui kanal khusus di dalam membran akar.
Setelah logam dibawa masuk ke dalam sel
akar, selanjutnya logam harus ditranslokasi di
dalam tubuh tumbuhan melalui jaringan
pengangkut, yaitu xilem dan floem, ke bagian
tumbuhan lain. Untuk meningkatkan efisiensi
pengangkutan, logam diikat oleh molekul
khelat. Berbagai molekul khelat yang
berfungsi mengikat logam dihasilkan oleh
tumbuhan, misalnya histidin yang terikat
pada Ni dan fitokhelatin-glutation yang
terikat pada Cd. Untuk mencegah peracunan

logam terhadap sel, tumbuhan mempunyai


mekanisme detoksifikasi yaitu dengan
melokalisasi logam pada jaringan, misalnya
dengan menimbun logam di dalam organ
tertentu seperti akar (untuk Cd pada Silene
dioica), trikhoma (untuk Cd), dan lateks
(untuk Ni pada Serbetia acuminata).