Anda di halaman 1dari 17

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 0 - 16

XIII. METODE, TEKNIK PERENCANAAN WAKTU DAN MENYUSUN


JADWAL
13. 1 Metode Jalur Kritis (CPM)
Pada metode CPM dikenal adanya jalur kritis, yaitu jalur yang memiliki rangkaian
komponen-komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama dan menunjukkan kurun
waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan
kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai pada kegiatan terkahir proyek. Makna jalur kritis
penting bagi pelaksana proyek, karena pada jalur ini terletak kegiatan-kegiatan yang bila
pelaksanaannya terlambat akan menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan.
A.Terminologi dan Perhitungan
Dalam proses identifikasi jalur kritis, dikenal beberapa terminology dan rumus2 perhitungan
sebagai berikut :
TE = E ; waktu paling awal suatu kegiatan yang berasal dari event tersebut dapat dimulai,
karena menurut aturan dasar jaringan kerja, suatu kegiatan baru dapat dimulai bila kegiatan
terdahulu sudah selesai.
TL = L ; waktu paling akhir peristiwa boleh terjadi, yang berarti waktu paling lambat yang
masih diperbolehkan bagi suatu peritiwa terjadi.
ES ; waktu paling awal suatu kegiatan. Bisa dinyatakan dalam jam atau hari.
EF ; waktu selesai paling awal suatu kegiatan.
LS ; waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai, yaitu waktu paling akhir kegiatan boleh
dimulai tanpa memperlambat proyek secara keseluruhan.
LF ; waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat penyelesaian proyek.
D ; kurun waktu suatu kegiatan.
Hitungan Maju
Dalam mengidentifikasi jalur kritis dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju. Ada
beberapa aturan dan kaidah dalam penyusunan jaringan kerja, yaitu sebagai berikut :

AT-1. Kecuali kegiatan awal, maka suatu kegiatan baru dapat dimulai bila kegiatan

yang mendahuluinya sudah selesai.


AT-2. Waktu selesai paling awal suatu kegiatan adalah sama dengan waktu mulai

paling awal , ditambah kurun waktu kegiatan yang bersangkutan.


AT-3. Bila suatu kegiatan memiliki dua atau lebih kegiatan-kegiatan terdahulu yang
menggabung, maka waktu mulai paling awal (ES) kegiatan tersebut adalah sama
dengan waktu selesai paling awal (EF) yang terbesar dari kegiatan terdahulu.

Hitungan Mundur
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 1 - 16

Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu paling akhir kita masih dapat
memulai dan mengakhiri masing-masing kegiatan tanpa menunda kurun waktu
penyelesaian proyek secara keseluruhan, yang telah dihasilkan oleh hitungan maju. Ada
beberapa aturan yaitu :

AT-4. Waktu mulai paling akhir suatu kegiatan adalah sama dengan waktu selesai
paling akhir dikurangi kurun waktu berlangsungnya kegiatan yang bersangkutan (LS

= LF D).
AT-5. Bila suatu kegiatan memiliki (memecah menjadi) 2 atau lebih kegiatan
berikutnya, maka waktu selesai paling akhir (LF) kegiatan tersebut adalah sama
dengan waktu mulai paling akhir (LS) kegiatan berikutnya yang terkecil.

B.

Jalur Kritis dan Float

Sifat atau syarat umum jalur kritis adalah :

Pada kegiatan pertama : ES = LS = 0 atau E(1) = L(1) = 0


Pada kegiatan terakhir atau terminal : LF = EF
Float total : TF = 0

Waktu penyelesaian proyek umumnya tidak sama dengan total waktu hasil penjumlahan
kurun waktu masing-masing kegiatan yang menjadi unsure proyek, karena adanya kegiatan
yang paralel. Bila jaringan kerja hanya mempunyai satu titik awal (initial node) dan satu titik
akhir (terminal node), maka jalur kritis juga berarti jalur yang memiliki jumlah waktu
penyelesaian terbesar/terlama, dan jumlah waktu tersebut merupakan waktu proyek yang
tercepat. Kadang dijumpai lebih dari satu jalur kritis dalam sebuah jaringan kerja.
Identifikasi Float Total
Float total mempunyai kaidah atau aturan sebagai berikut :

AT-6. Float total suatu kegiatan sama dengan waktu selesai paling akhir, dikurangi
waktu selesai paling awal, atau waktu mulai paling akhir dikurangi waktu mulai paling

awal dari kegiatan tersebut. TF = LF EF = LS ES.


AT-6a. float total sama dengan waktu paling akhir terjadinya node berikutnya L(j),
dikurangi waktu paling awal node terdahulu E(i), dikurangi kurun waktu kegiatan
yang bersangkutan D(i-j). TF = L(j) E(i) D(i-j).

Arti Float Total


Arti penting dari float total adalah menunjukkan jumlah waktu yang diperkenankan suatu
kegiatan boleh ditunda, tanpa mempengaruhi jadwal penyelesaian proyek secara
keseluruhan.
Posisi Float Total

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 2 - 16

Dengan memilki float total, maka pelaksanaan kegiatan dalam jalur yang bersangkutan
dapat ditunda atau diperpanjang sampai batas tertentu, yaitu sampai float total = 0. Jadi
boleh dipilih kapan mulai atau selesainya suatu kegiatan tanpa harus mempengaruhi
selesainya jadwal proyek secara keseluruhan.
Float-float Bebas, Interferen dan Independen
1. Float Bebas.
Salah satu syarat adanya float bebas adalah bilamana semua kegiatan pada jalur
yang bersangkutan dimulai seawall mungkin. Float bebas dimiliki oleh satu kegiatan
tertentu sedangkan float total dimiliki oleh kegiatan-kegiatan yang berada di jalur
yang bersangkutan.
AT-7. Float bebas dari suatu kegiatan adalah sama dengan waktu mulai
paling awal (ES) dari kegiatan berikutnya dikurangi waktu selesai paling awal
(EF) kegiatan tersebut.
FF = ES EF.
2. Float Interferen.
Bila suatu kegiatan menggunakan sebagian dari IF sehingga kegiatan nonkritis
berikutnya pada jalur tersebut perlu dijadwal lagi (digeser) meskipun tidak sampai
mempengaruhi penyelesaian proyek secara keseluruhan.
AT-8. Float Interferen sama dengan Float total dikurangi Float bebas. IF = FT
FF.
3. Float Independen .
Float independen memberikan identifikasi suatu kegiatan tertentu dalam jaringan
kerja yang meskipun kegiatan tersebut terlambat, tidak berpengaruh terhadap float
total dari kegiatan yang mendahului ataupun kegiatan berikutnya.
AT-9. Float Independen (FId) = ES kegiatan berikutnya dikurangi LF kegiatan
terdahulu dikurangi kurun waktu kegiatan yang dimaksud.
C.

Tingkat Kritis Suatu Jalur dan Management by Exception

Jalur Kritis
Jalur ini memerlukan perhatian maksimal dari pengelola proyek, terutama pada periode
perencanaan dan implementasi pekerjaan, musalnya diberikan prioritas utama dalam
alokasi sumber daya yang dapat berupa tenaga kerja atau peralatan.

Jalur Hampir Kritis


Jalur ini memerlukan prioritas perhatian dari pengelola proyek yang tidak sebesar pada
kegiatan di jalir kritis. Meskipun demikian, bila tidak cukup diperhatikan bias berubah
menjadi kritis karena memiliki float yang tidak besar.
Jalur Kurang Kritis

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 3 - 16

Kegiatan-kegiatan pada jalur ini pada umumnya dianggap kurang memerlukan perhatian
dari pengelola proyek terutama dalam aspek jadwal.
Jadwal Dengan Kalender
Pada jaringan kerja, perhitungan kurun waktu didasarkan atas hari kerja tetapi implementasi
pekerjaan menggunakan kalender, sehingga yang perlu dilakukan adalah memindahkan
jumlah hari kerja yang dihasilkan dari perhitungan ke dalam tanggal kalender dan disebut
kalender kerja.
Kalender kerja pada dasarnya adalah kalender biasa yang menuliskan hari-hari kerja proyek
secara berurutan dan tidak memasukkan kedalam hitungan hari minggu dan hari besar/libur.
D.Multititik Awal dan Multiterminal
Sampai saat ini , pembahasan jaringan kerja terbatas pada asumsi bahwa proyek hanya
memiliki satu titik awal dan satu terminal akhir. Asumsi ini dimaksudkan untuk memudahkan
pemahaman. Pada kenyataan sesungguhnya, proyek umumnya memiliki sejumlah titik awal
dan terminal dengan jalur-jalur yang menghubungkan satu dengan yang lain, bahkan sering
terjadi silang menyilang. Dengan demikian, usaha mengidentifikasi jalur kritis menjadi lebih
ruwet.
13.3 Teknik evaluasi dan Review Proyek (PERT)
Dalam upaya meningkatkan kualitas perencanaan dan pengendalian proyek telah
ditemukan metode selain CPM,yaitu: PERT.Metode PERT di rekayasa untuk menghadapi
situasi dengan kadar ketidakpastian yang tinggi pada aspek kurun waktu kegiatan,misalnya
dijumpai pada proyek penelitian dan pengembangan sampai menjadi produk yang sama
sekali baru.Pendekatan dalam PERT menganggap bahwa kurun waktu ,sehingga lebih baik
perkiraan diberi rentang(range).yaitu dengan memakai tiga angka estimasi.PERT juga
memperkenalkan parameter lain yang mencoba mengukur ketidakpastian tersebut secara
kuantitatif seperti :deviasi standar dan varian.
Orientasi ke Peristiwa
PERT lebih berorientasi

ke terjadinya peristiwa(event oriented) sedangkan CPM

condong ke orientasi kegiatan(activity oriented).


Gambar 13-10 :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 4 - 16

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

PERT sama halnya dengan CPM,yaitu menggunakan diagram anak panah(activity on


arrow) untuk menggambarkan

kegiatan proyek.Salah satu perbedaan yang substansial

adalah : dalam estimasi kurun waktu kegiatan,dimana PERT menggunakan tiga(3) angka
estimasi,yaitu : a,b, dan m yang mempunyai arti sebagai berikut :
a = kurun waktu optimistik(optimistic duration time)
waktu tersingkat

untuk menyelesaikan kegiatan bila segala sesuatunya berjalan

mulus.
m = kurun waktu paling mengkin(most likely)
Kurun waktu yang paling sering terjadi dibanding dengan yang lain bila kegiatan
dilakukan berulang-ulang dengan kondisi yang hampir sama.

b = kurun waktu pesimistik(pessimistic duration time)


Waktu

yang paling lama untuk menyelesaikan

kegiatan,yaitu bila segala

sesuatunya serba tidak baik.


A.Teori Probabilitas
Tujuan menggunakan tiga(3) angka estimasi adalah untuk memberikan rentang yang
lebih besar dalam melakukan estimasi kurun waktu kegiatan
angka.Tujuan teori probabilitas

dibanding

satu(1)

ialah : mengkaji dan mengukur ketidakpastian serta

mencoba menjelaskan secara kuantitatif.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 5 - 16

Contoh kurva distribusi frekuensi(gambar 13-11)

Kurva Distribusi dan Variabel a,b, dan m


Dari kurva distribusi dapat di jelaskan arti dari a,b.dan m.Kurun waktu yang
menghasilkan puncak kurva adalah m,yaitu kurun waktu yang paling banyak terjadi atau
juga disebut the most likely time.adapun angka a dan b terletak(hampir) di ujung kiri dan
kanan dan kurva distribusi ,yang menandai batas lebar rentang waktu kegiatan.
Contoh gambar 13-12 :

Kurva Dsitribusi dan Kurun Waktu yang diharapkan(te)


Setelah menentukan estimasi angka-angka a,m,dan b,maka tindak selanjutnya ialah
merumuskan hubungan ketiga angka tersebut menjadi satu angka,yang disebut te atau
kurun waktu yang di harapkan.angka te adalah angka rata-rata kalau kegiatan tersebut di
kerjakan berulang-ulang dalam jumlah yang besar.Dalam menentukan te,asumsikan bahwa
kemungkinan terjadinya peristiwa optimistiik(a) dan pesimistik(b) adalah sama.Sedang
jumlah kemungkinan terjadinya peristiwa paling mungkin(m)adalah 4 kali lebih besar dari
kedua peristiwa diatas.
Kurun waktu kegiatan yang diharapkan :
te = (a+4m=b) (1/6)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 6 - 16

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

Bila garis tegak lurus dibuat melalui te,maka garis tersebut akan membagi dua sama besar
area yang berada di bawah
diharapkan(te)

dengan

kurva beta distribusi.Perbedaan antara kurun waktu yang

kurun

waktu

paling

mungkin(m).Angka

menunjukkan

angkaterkaan atau perkiraan oleh seorang estimator.Sedangkan te adalah hasil dari rumus
matematis.contoh; misalnya seorang estimator di perkirakan angka-angka sebagai berikut:
Kurun waktu optimistic(a) = 4 hari
Kurun waktu pesimistik(b) = 9 hari
Kurun waktu paling mungkin(m) = 5 hari
Maka angka te :
te = (4+4x5+9) (1/6)
= 5,5 hari
Maka angka kurun waktu yang d harapkan te = 5,5 lebih besar dari kurun waktu
paling mungkin m = 5,0.Angka te akan sama besar dengan m bilamana

kurun waktu

optimistic dan pesimistik terletak simetris terhadap waktu yang paling mungkin atau b-m =
m-a.
Estimasi Angka-angka a,b, dan m
Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam estimasi besarnya angka-angka
tersebut.diantaranya :
Estimator perlu mengetahui fungsi dari a,b, dan m dalam hubungannya dengan
perhitungan-perhitungan dan pengaruhnya

terhadap metode PERT secara

keseluruhan.
Didalam

proses

estimasi

angka-angka

a,b,

dan

bagi

masing-masing

kegiatan,jangan sampai dipengaruhi atau dihubungkan dengan target kurun waktu


penyelesaian proyek.
Bila tersedia data-data pengalaman masa lalu(historical record),maka data demikian
akan berguna untuk bahan pembanding dan banyak membantu mendapatkan hasil
yang lebih menyakinkan.
Yang perlu di garis bawahi

adalah : estimasi a,b,dan m hendaknya bersifat

berdiri

sendiri,artinya bebas dari pertimbangan pengaruhnya terhadap komponen kegiatan yang


lain,ataupun terhadap jadwal proyek secara keseluruhan.
B. Identifikasi Jalur Krisis dan Slack
Identifikasi jalur kritis ,jalur kritis dan slack dapat di kerjakan seperti halnya pada
CPM,seperti:
(TE)-j = (TE)-I + te(i-j

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 7 - 16

(TL)-I = (TL)-j te(i-j)


Pada jalur kritis berlaku:
Slack = 0 atau (TL)-(TL) = 0
Gambar 13-14 (Jaringan kerja dengan angka-angka a,m dan b) :

Gambar 13-15 Jaringan kerja dengan te:

Tabel 13-11 tabulasi hasil perhitungan TE,TL,dan Slack jaringan kerja dari gambar 1315 :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 8 - 16

Dengan membubuhkan angka te menggantikan a,m,dan b maka jaringan menjadi seperti


gambar 13-15.Setelah di hitung,angka yang di hasilkan kemudian di tabulasikan ke dalam
format yang di perlihatkan oleh tabel 13-11.
Dari perhitungan diatas terlihat bahwa jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan 1-7
dengan total waktu.Dalam mengidentifikasi dan menghitung kegiatan kritis maupun jalur
kritis,belum memasukkan faktor deviasi standar masing-masing kegiatan komponen proyek
yang merupakan salah satu konsep penting PERT.
C. Deviasi Standard dan Varians Kegiatan
Deviasi standar adalah : 1/6 dari rentang distribusi(b-a) atau bila ditulis sebagai
rumus mejadi sbb :
Deviasi standar kegiatan :
S = (1/6) (b-a)
Varians Kegiatan :
V(te) = S2 = [(1/6)(b-a)]2
Contoh :
Kegiatan A :
te = (4+22+10)/6
S = 1/6(b-a) = 1,0
V(te) = (1,0)2 = 1,0
Kegiatan B :
te = (2+20+14)/6
S=2
V(te) = (12/6)2 = 4
Gambar 13-16 Derajat ketidakpastian berbeda meskipun memiliki angka te yang sama
besarnya :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal

XIII / 9 - 16

D. Deviasi Standar dan Varians Peristiwa V (TE)


Menurut J.Moder(1983), Kurva Distribusi Peristiwa bersifat simetris disebut kurva
distribusi normal.Selanjutnya untuk menghitung varians kegiatan V(te),varians peristiwa
V(TE) baik untuk milestone maupun untuk proyek secara keseluruhan,yang terdiri dari
serangkaian kegiatan-kegiatan dengan rumus sbb:
1.(TE) -4 = (TE)-1 +te(1-2) + te(2-3)
2.V(TE) pada saat proyek mulai = 0
3.V(TE) peristiwa yang terjadi setelah suatu kegiatan berlangsung,adalah sama besar
dengan VTE) peristiwa sebelumnya ditambahV(te) kegiatan tersebut.
4.Bila terjadi penggabungan kegiatan-kegiatan,totalV(TE) diperoleh dari perhitungan pada
jalur dengan kurun waktu terpanjang atau varians terbesar.
Contoh tabel 13-13 : Tabulasi S dan V

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

XIII / 10 -

E. Target jadwal Penyelesaian (TD)


Hubungan antara waktu yang di harapkan (TE) dengan target T(d) pada netode
PERT dinyatakan dengan z dan dirumuskan sebagai berikut:
Deviasi z = [T(d)-TE]/s
Contoh gambar 13-19 : mengkaji peristiwa selesainya proyek dan kurva distribusi yang
bersangkutan:

Ringkasan Menghitung TE(Milestone Proyek selesai) dan Kemungkinan(%) Mencapai


Td(Target yang Diinginkan)
Garis besar urutan menghitung kemungkinan mencapai target dalam metode PERT adalah
sebagai berikut:
1.Memberikan kepada masing-masing komponen kegiatan angka estimasi a,b,dan m.
2.Menghitung te untuk masing-masing komponen kegiatan.
3.Identifikasi kegiatan kritis,Hitung kurun waktu penyelesaian proyek atau milestone ,yaitu
TE = jumlah te kegiatan-kegiatan kritis.
4.Tentukan varians untuk masing-masing kegiatan kritis pada jalur kritis terpanjang menuju
tiitk peristiwa TE yang dimaksud.
5.Sebagai langkah terakhir untuk menganalisa kemungkinan mencapai target T(d) dipakai
rumus :
z = [T(d)-TE]/s,dimana S2 = V(TE)
ditentukan kemungkinan (%) proyek selesai pada target T(d).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 11 -

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16
F. Jalur Kritis,Subkritis serta Perbandingan PERT versus CPM

Pada metode PERT,pengamatan dan analisis atas jalur kritis dan subkritis justru
lebih ditekankan lagi.Hal ini terlihat pada waktu menganalisis deviasi standar,varians tiap
kegiatan

pada jalur kritis dijumlahkan ,dan dihitung

akar padanya untuk mendapatkan

angka deviasi standar peristiwa yang di maksudkan(titik peristiwa milestone).


Seandainya total varians jalur subkritis lebih besar dengan angka perbedaan yang
cukup substansial angka total varians di jalur kritis,sedangkan angka Te antara keduanya
tidak terlalu besar,maka oleh sesuatu sebab ada kemungkinan jalur subkritis akan berubah
menjadi kritis seperti pada gamabar 13-20 dan tabel 13-14.
Gambar 13-20: jaringan kerja dengan jalur kritis dan subkritis

Tabel 13-14 : jalur kritis dan subkritis dari gambar 13-20

Simulasi Montecarlo
Salah satu prosedur yang dikenal sebagai simulasi montecarlo
menggunakan

computer,dapat

memperbaiki

masalah

identifikasi

jalur

dengan

kritis dan

subkritis.Masing-masing kegiatan dianggap memiliki kurva distribusi beta dan kurun waktu
kegiatan dipilih secara acak(random).Prosedur dilakukan ribuan kali sehingga dapat diamati
kemungkinan berapa kali suatu kegiatan terletak pada jalur kritis.
Kritik terhadap PERT

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 12 -

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

Dari metode PERT,ketepatan hasil analisa untuk menentukan peristiwa penyelesaian


proyek maupun konsep deviasi standar untuk melihat seberapa

jauh kemungkinan

mencapai target,semua itu tergantung dari ketepatan dalam memilih angka-angka tiga
estimasi a,m,dan b.
Disini acapkali diamatikan kritik yang berhubungan dengan metode PERT.Sering
dijumpai estimator menggunakan angka-angka yang jauh dari

realitas karena kurang

pengalaman dalam bidangnya.Hasil perhitungan akhir akan jauh berbeda hanya karena
estimator yang satu bersikap optimis dan yang lainnya konservatif.
Perbandingan PERT versus CPM
Jika telah mengetahui kedua metode CPM dan PERT ,maka dapat
dibandingkan,aspek-aspek

apa

yang

perlu

diberi

perhatian

lebih

besar

dalam

aplikasinya.Satu hal lagi mengenai kedua metode tersebut ialah dengan adanya faktor
varians, maka pada PERT perlu di perhatikan jalur subkritis karena oleh sesuatu sebab
mungkin menjadi kritis dengan segala akibatnya.Ini tidak ada dalam CPM.
Tabel 13-15 menunjukkan beberapa cirri dari kedua metode tersebut.

TABEL13-15 Perbandingan PERT versus CPM untuk beberapa fenomena


13.3. METODE DIAGRAM PRESEDEN (PDM)
Metode preseden diagram (PDM) adalah jaringan kerja yang termasuk klasifikasi
AON (activity on node). Disini kegiatan dituliskan dalam node yang umumnya berbentuk segi
empat, sedangkan anak panah hanya sebagai petunjuk hubungan antara kegiatan-kegiatan
yang bersangkutan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

XIII / 13 -

A. Kegiatan Tumpang Tindih


Aturan dasar CPM atau AOA mengatakan bahwa suatu kegiatan boleh dimulai setelah
pekerjaan terdahulu selesai. Sedangkan pada PDM kegiatan harus dikelompokkkan menjadi
beberapa bagian. Metode ini biasa dipakai pada proyek-proyek engineering-konstruksi yang
kaya akan kegiatan tumpang tindih dan pengulangan seperti pembangunan gedung.
Kegiatan, Peristiwa dan Atribut
Kegiatan dan peristiwa pada PDM ditulis dalam node yang berbentuk kotak segiempat.
Definisi kegiatan sama seperti pada CPM. Hanya perlu ditekankan disini bahwa dalam PDM
kotak tersebut menandai suatu kegiatan, dengan demikian harus dicantumkan identitas
kegiatan dan kurun waktunya. Beberapa atribut yang sering dicantumkan diantaranya
adalah kurun waktu kegiatan (D), identitas kegiatan (nomor dan nama), mulai dan
selesainya kegiatan (ES, LS, EF, LF, dll).
B. Konstrain, Lead dan Lag
Telah disinggung diawal bahwa anak panah hanya sebagai penghubung atau
memberikan keterangan hubungan antar kegiatan dan bukan menyatakan kurun waktu
seperti pada CPM. Karena PDM tidak terbatas pada aturan dasar jaringan kerja CPM maka
hubungan antar kegiatan berkembang menjadi beberapa kemungkinan berupa konstrain.
Konstrain menunjukkan hubungan antar kegiatan dengan suatu garis dari node terdahulu ke
node berikutnya. Satu konstrain hanya dapat menghubungkan dua node.
1. Konstrain Selesai ke Mulai FS
Memberikan penjelasan hubungan antar mulainya suatu kegiatan dengan selesainya
kegiatan terdahulu. Jenis konstrain ini identik dengan kaidah utama jaringan kerja CPM
yaitu suatu kegiatan dapat dimulai bila kegiatan yang mendahuluinya telah selesai
2. Konstrain Mulai ke Mulai SS
Memberikan penjelasan hubungan antara mulainya suatu kegiatan dengan mulainya
kegiatan terdahulu
3. Konstrain Selesai ke Selesai SS
Memberikan penjelasan hubungan antara selesainya suatu kegiatan dengan
selesainya kegiatan terdahulu.
4. Konstrain Mulai ke Selesai SF
Menjelaskan hubungan antara selesainya kegiatan dengan dimulainya kegiatan
terdahulu.

Tanda konstrain dalam jaringan kerja

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 14 -

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

Dalam menyusun jaringan PDM, khususnya menentukan urutan ketergantungan,


mengingat adanya bermacam konstrain di atas, maka lebih banyak faktor harus di
perhatikan dibanding CPM. Faktor-faktor tersebut antara lain sebagai berikut :
-

Kegiatan mana boleh mulai, sesudah kegiatan A selesai, berapa lama jarak waktu antara
selesainya kegiatan A dengan mulainya kegiatan berikutnya.

Kegiatan mana harus diselesaikan, sebelum kegiatan tertentu B boleh mulai, dan berapa
lama tenggang waktunya

Kegiatan mana harus mulai sesudah kegiatan tertentu C mulai dan berapa lama jarak
waktunya

C. Identifikasi Jalur Kritis


Dengan

adanya

parameter

yang

bertambah

banyak,

perhitungan

untuk

mengidentifikasi kegiatan dan jalur kritis akan lebih lebih kompleks karena semakin banyak
faktor yang perlu diperhatikan. Untuk maksud tersebut, dikerjakana analisis serupa dengan
metode CPM, dengan memperhatikan konstrain terkait
Hitungan Maju
Berlaku dan ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut
-

Menghasilkan ES,EF dan kurun waktu penyelesaian proyek

Diambil angka ES erbesar bila lebih dari satu kegiatan bergabung

Notasi (i) bagi kegiatan terdahulu (predecesor) dan (j) kegiatan yang sedang ditinjau

Waktu awal dianggap nol

Hitungan Mundur
Berlaku dan ditujukan untuk hal-hal sebagai berikut :
-

Menentukan LS, LF dan kurun waktu float

Bila lebih dari satu kegiatan bergabung diambil angka LS terkecil

Notasi (i) bagi kegiatan yang sedang ditinjau sedangkan (j) adalah kegiatan berikutnya

Jalur dan kegiatan kritis


Jalur dankegiatan kritis PDM mempunyai sifat sama serperti CPM/AOA, yaitu :
-

Waktu mulai paling awal dan akhir harus sama. ES = LS

Waktu selesai paling awal dan akhir harus sama .EF = LF

Kurun waktu kegiatan adalah sama dengan perbedaan waktu selesai paling akhir
dengan waktu mulai paling awal. LF ES = D

Bila hanya sebagian dari kegiatan bersifat kritis, maka kegiatan tersebut secara utuh
dianggap kritis

D. Contoh Menghitung dan Menyusun Jaringan PDM

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

XIII / 15 -

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

Ilustrasi dibawah ini memberikan petunjuk bagaimana menyusun jaringan PDM dari
suatu informasi tertentu. Misalnya sebagai berikut :
-

Proyek terdiri dari enam kegiatan

Kurun waktu telah diketahui

Telah diketahui pula konstrain antara kegiatan-kegiatan yang bersangkutan


Untuk menjawab soal diatas, dilakukan langkah-langkah sebagi berikut :

Membuat denah node sesuai dengan jumlah kegiatan. Jadi, dalam hal ini akan terdapat
enam node, dengan kurun waktu yang bersangkutan

Menghubungkan

node-node

tersebut

dengan

anak

panah

sesuai

dengan

ketergantungan dan konstarain.


-

Menyelesaikan diagram PDM dengan melengkapi atribut dan simbol yang diperlukan

Menghitung ES, EF, LS, dan LF untuk mengidentifikasi kegiatan kritis, float dan waktu
penyelesaian proyek.

E. Interupsi Kegiatan
Oleh karena alasan tertentu, dalam PDM kadang-kadang dijumpai suatu kegiatan
dihentikan dan pelaksanaan selanjutnya dari sisa kegiatan tersebut ditunda. Hal ini dikenal
sebagai splitting atau interupsi.
Pengaruh Interupsi Terhadap Pekerjaan
Dalam praktek dilapangan, adanya interupsi demikian sering menurunkan produktivitas
tenaga kerja. Oleh karenanya, diusahakan dihindari denga berbagai cara, misalnya dengan
memperpanjang kurun waktu pengerjaan suatu kegiatan, dengan mengurangi jumlah tenaga
dan sumber daya yang dipergunakan.
Cara pertama mungkin berpengaruh terhadap efisiensi pekerjaan, sedangkan cara
kedua harus diteliti betul-betul apakah tidak berakibat terhadap penyelesaian proyek secara
keseluruhan.

Edit 2008

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Metode, Teknik perencanaan Waktu dan Menyususn Jdwal


16

XIII / 16 -

Daftar Pustaka
1.

2.

Dennis Lock, Manajemen Proyek , Erlangga, Jakarta, 1984

Ted Klastorin, Project Manajement,John Wiley & Sons, Inc, 2004

3.
4.

Iman Soeharto, Manajemn Proyek, Erlanga, Jakarta, 1999.


Sotomo Kayatno, Nettwork Planning, yayasan Badan Penerbit Pekerjaan

5.

Umum, Jakarta, 1977.


Roger S. Presman, Ph.D, Rekayasa Perangkat Lunak, McGraw-Hill Bok Co,
Andi, Yogyakarta, 2002

Edisi 2008
ok

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Moesadin Malik, Ir., M.Si


MANAJEMEN PROYEK

Anda mungkin juga menyukai