Anda di halaman 1dari 4

BATU NONG

Pendongeng | June 23, 2012 | Cerita Rakyat, Nusantara | 22 Comments

Di Desa Lekong, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa


terdapat sebuah batu besar, tinggi, bundar bagian atasnya datar. Batu itu
menggantung pada tebing bukit yang tinggi dekat sungai Lekong. Dari atas
batu itu orang dengan leluasa dapat melihat ke bawah. Itulah sebabnya
disebut batu nong. Kata nong dalam bahasa Sumbawa berarti melihat
ke bawah dari atas. Jika batu nong itu dilihat dari kejauhan, kedudukannya
sangat genting. Kalau ada getaran sedikit saja, rasa-rasanya batu itu pasti
akan runtuh. Dalam kenyataan, telah beratus-ratus tahun batu itu tetap tidak
bergeming. Bagaimana batu itu bisa berada di tempat tersebut, inilah
ceritanya.
Tersebutlah sebuah negeri di zaman dahulu kala. Negeri itu terkenal makmur,
aman, dan damai. Tidak pernah terdengar perselisihan di antara
penduduknya. Laki-laki dan perempuan kedudukannya sama, kecuali dalam
satu hal, yaitu laki-laki tabu mencuci pantat anaknya yang habis buang air
besar. Hal yang demikian diyakini benar oleh penduduk di situ.
Pada suatu hari terdengar berita, di negeri tetangga akan diadakan
keramaian besar. Sudah barang tentu semua orang menyambut dengan
gembira berita besar itu.
Tersebutlah sebuah keluarga yang mempunyai anak masih kecil. Sang istri
merengek kepada suaminya untuk diizinkan pergi menonton.
Pak, anak kita sudah besar dan tidak menyusu lagi. Sejak kawin, saya tidak
pernah mendapat kesempatan nonton keramaian.
Maksudmu kamu ingin pergi nonton? tanya suaminya.
Ya, jawab sang istri.

Kalau anak kita nanti buang air besar bagaimana lanjut sang suami.
Saya kan hanya sehari, nanti tunggu saja saya datang, lanjutnya.
Singkat cerita, karena sang suami sangat sayang kepada sang istri, sang
suami mengizinkan sang istri pergi. Ternyata negeri yang dituju cukup jauh.
Tidak cukup sehari perjalanan. Sang istri dengan gembira larut dalam
keramaian di situ. Ia lupa pada lainnya. Telah tiga hari ia pergi meninggalkan
anak dan suaminya. Sementara itu sang suami tidak tahan mencium bau
busuk pantat anaknya yang telah buang kotoran. Maka dicucilah pantat
anaknya. Pada malam harinya, datanglah kutukan itu. Kulit sang ayah
menjadi bersisik. Tangan dan kakinya mengerut, dan akhirnya berubahlah
badannya menjadi seekor naga yang berkepala manusia.
Alkisah sang istri setelah puas menonton keramaian, pulanglah ia bersama
teman-teman sekampungnya. Setibanya di rumah, ia terkejut dan menierit
karena melihat suaminya telah berubah menjadi seekor naga. Berita itu telah
menyebar di seluruh negeri.
Untuk menghindari rasa malu, suaminya berkata, Istriku, janganlah engkau
bersedih. Ini akibat perbuatan saya membasuh pantat anak kita yang habis
buang air besar, karena saya sudah tidak tahan mencium bau busuknya.
Seharusnya saya mengatakan tidak pada saat kamu minta izin, tetapi
karena sayangku kepadamu saya bilang ya. Jadi, inilah akibatnya. Oleh
karena itu, belilah kamu tempayan yang besar, masukkanlah saya ke
dalamnya, dan bawalah saya ke sungai, kata suaminya.
Mendengar kata-kata suaminya itu, sang istri pun menyesal. Namun, apa
hendak dikata, nasi telah menjadi bubur. Suaminya kini telah berubah
menjadi ular akibat melanggar aturan.
Selanjutnya antarkan makanan setiap harl untuk saya, lanjut suaminya.
Demikianlah, sejak itu sang istri setiap hari mengantarkan makanan dan
minuman kepada suaminya yang telah berubah menjadi ular naga. Hal yang
demikian berlangsung bertahun-tahun. Sampai pada suatu hari ketika terjadi
peperangan antar negeri. Seluruh desa porak-poranda. Banyak penduduk
yang tewas, namun sebagian bisa melarikan diri dan mengungsi. Di antara

mereka terdapat istri sang ular. Mereka berlayar dengan perahu tak tentu
arah. Perahu berlayar sesuai dengan arah angin. Ketika mereka telah berharihari berlayar, pada suatu hari para pengungsi melihat tempayan besar
mengikutinya. Ternyata tempayan itu adalah tempayan yang berisi ular.
Tempayan itu mengikuti terus ke mana perahu itu pergi. Akhirnya, perahu itu
berhenti di suatu tempat di muara sungai Lekong, di Sumbawa bagian barat.
Anehnya, tempayan itu pun ikut berlabuh di dekat perahu mereka.
Para pengungsi kemudian membuat pemukiman di darat. Di tempat itu
banyak pohon kemiri. Mereka membuat gubug-gubug sederhana sebagai
tempat berlindung sementara.
Pada suatu malam, ketika juragan perahu pergi ke sungai ingin buang air
besar, ia terkejut karena di tepi sungai itu terdapat sebuah batu besar yang
menghalangi aliran air sungai. Setelah diamati ternyata itu adalah tempayan
yang berisi ular tadi. Dari dalam tempayan terdengar suara, Saya tidak
cocok di sini, pindahkanlah saya ke tebing di bukit itu.
Tak lama kemudian, tempayan itu terangkat ke atas dan menempel pada
tebing di bukit dekat pemukiman para pengungsi tersebut. Juragan terheranheran melihat peristiwa tersebut. Ia semakin heran ketika melihat tempayan
itu kini telah berubah menjadi sebuah batu yang besar.
Pada pagi harinya, juragan menceritakan pengalamannya yang luar biasa itu.
Kemudian para pengungsi itu beramai-ramai naik ke atas bukit dan berdiri di
atas batu besar itu. Mereka dapat melihat ke bawah dengan leluasa. Lalu,
batu itu dinamakan batu nong.
Desa yang mereka bangun diberi nama desa Lekong karena di situ banyak
pohon kemiri. Dalam bahasa Sumbawa, buah kemiri yang sudah digoreng
sangan untuk bumbu masak dinamakan lekong.
Sampai sekarang, para suami orang Lekong tidak berani mencuci pantat
anaknya yang buang air besar. Di samping itu, mereka menganggap batu
nong itu keramat. Sampai sekarang pun batu nong masih tetap bertengger di
bukit sebelah utara desa Lekong, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa.