Anda di halaman 1dari 4

KERA DAN KURA-KURA

Pendongeng | June 17, 2012 | Cerita Rakyat, Nusantara | 18 Comments

Seekor kera dan seekor kura-kura hidup di sebuah hutan


dekat sungai. Namun, kera yang satu ini mempunyai sifat yang tidak terpuji.
Ia licik, suka memperalat temannya untuk kepentingan dirinya.
Kera bersahabat dengan kura-kura karena ada yang diharapkan dari kurakura. Bila bepergian ke suatu tempat, kera selalu naik di atas punggung kurakura dengan berbagai alasan: capek, kakinya sakit dan alasan yang lain.
Kura-kura tak pernah sakit hati. Kura-kura menurut saja. Kemampuan kera
mengambil hati membuat kura-kura luluh dan selalu dekat dengan kura-kura.
Tanpa bantuan makhluk lain, tak mungkin kita bisa hidup, bisik hatinya.
Jika di tengah perjalanan ditemukan pohon yang sedang berbuah, kera
dengan gesit memanjat pohon itu, sementara kura-kura disuruhnya
menunggu di bawah. Setelah perutnya kenyang, barulah kera ingat
temannya yang sedang menunggu di bawah. Hanya buah-buah yang jelek
dan kulit-kulitnya yang dilempar ke bawah sambil mengatakan, Wah kurakura, buahnya jelek-jelek dan sudah banyak yang dimakan kelelawar
sehingga tinggal kulitnya saja. Terima saja ini untukmu.
Hidup mengembara dari hari ke hari telah membuat mereka bosan. Pada
suatu hari, datanglah musim kemarau panjang. Hujan tidak kunjung datang.
Pohon-pohon di hutan banyak yang layu dan tidak berbuah. Kera dan kurakura sedang berteduh di bawah pohon di pinggir sungai sambil berpikir
tentang apa yang harus dilakukan menghadapi situasi seperti itu.
Kera membuka percakapan. Kura-kura, apa yang harus kita lakukan
menghadapi musim kemarau ini? tanyanya kepada si kura-kura. Kura-kura
tidak menjawab karena memang kura-kura tidak mampu berpikir yang beratberat. Akhirnya, kera melanjutkan pembicaraannya, Sebaiknya kita
menanam pisang, sebentar lagi musim hujan akan datang.
Saya setuju, jawab kura-kura.

Dari mana bibitnya? tanyanya kepada kera. Begini saja, kita menunggu di
tepi sungai ini. Pada musim hujan, banyak manusia membuang anak pisang
ke sungai. Nanti kalau ada yang hanyut kita ambil. Mereka berdua setuju.
Mula-mula mereka bekerja keras membuka hutan untuk ditanami pohon
pisang. Setelah tanahnya siap, datanglah musim hujan. Sepanjang hari
mereka di tepi sungai menunggu pohon pisang yang hanyut. Tidak seberapa
lama dari jauh tampak pohon pisang hanyut. Kera berteriak, Kura-kura cepat
berenang kamu! Ambil batang pisang itu! Saya takut air dan tak bisa
berenang.
Kalau berenang saya jagonya. kata kura-kura menyombongkan diri.
Kamulah yang beruntung bisa berenang, sedang aku tidak pandai berenang.
Kalau aku pandai berenang, tidaklah engkau perlu bersusah-susah
mengambil batang pisang itu. Aku tentu akan membantumu, ujar kera
dengan licik.
Mendengar ucapan kera itu, hati kura-kura menjadi terharu. Oleh karena itu,
ia segera berenang menarik batang pisang itu ke tepi sungai. Batang pisang
itu dikumpulkan satu per satu. Setelah cukup banyak barulah ditanam.
Mereka membagi dua setiap batang pisang sama Panjang agar adil. Bagian
atas diambil si kera dan bagian bawah diberikan kepada kura-kura. Kera
rupanya tahu bahwa buah pisang selalu ada di bagian atas. Oleh karena itu,
ia mengambil bagian atas.
Beberapa waktu mereka bekerja menanam pohon pisang. Kura-kura rajin
sekali memelihara tanamannya, sedangkan tanaman si kera tentu saja
mernbusuk dan mati sernua.
Setelah kebun pisang milik kura-kura berbuah dan buahnya mulai masak,
datanglah kera bertandang. Hai kura-kura, tidakkah kau lihat pisangmu telah
masak di pohon, tanya kera bersemangat.
Ya, saya lihat, hanya saya tak mampu memanjat untuk memetiknya, jawab
kura-kura.

Apakah artinya kita bersahabat, kalau saya tidak dapat membantumu, kata
kera.
Dalam hati kera, muncul akal liciknya, lebih-lebih Perulnya sudah mulai
terasa lapar. Kera menawarkan diri untuk membantu kura-kura memanen
pisangnya. Kurakura setuju. Dengan gesit, kera memanjat pohon pisang yang
telah ranum buahnya. Di atas pohon ia makan sepuas-puasnya, sedangkan
kura-kura (si pemilik kebun) dilupakannya. Ia menunggu dengan hati yang
mendongkol. Kadang-kadang, kera melemparkan kulit kepada kura-kura. Hal
itu dilakukannya setiap hari, sampai kebun itu habis buahnya.
Sejak itu, kura-kura merasa sakit hati. Namun, apa yang bisa dilakukannya?
Sebagai makhluk Tuhan yang lemah, ia hanya bisa berdoa semoga yang
curang dan khianat mendapat murka Tuhan. Mereka berpisah untuk waktu
yang agak lama. Kura-kura selalu menghindar jika mendengar suara kera.
Pada suatu hari yang panas, udara menjadi kering. Buah-buahan di hutan
semakin berkurang. Para satwa di hutan banyak yang kelaparan dan
kehausan. Apalagi kera yang rakus itu. Ia berjalan gontai mencari teman
senasib sepenanggungan. Lalu ia beristirahat di bawah pohon yang rindang,
di atas sebuah batu. Karena lapar dan haus, kera tidak sadar bahwa yang
diduduki itu adalah punggung si kura-kura yang sedang beristirahat pula.
Karena udara panas, kura-kura menyembunyikan kepalanya di bawah
punggungnya yang keras itu. Si kera kemudian berteriak memanggil
sahabalnya, Kura-kuraaaaa., di mana kamu, Kemarilah! Kita sudah lama
tidak bertemu
Terdengarlah suara dari bawah pantat si kera, Uuuuuuwuk...
Kera berteriak lagi, Ooooo. kura-kuraaa, kemarilaaah! Aku ingin bertemu
denganmu. Terdengar lagi suara dari pantatnya, Uuuuuuuwuk..
Kera marah sekali. Ia mengira, suara itu adalah suara alat kelaminnya yang
mengejeknya. Sebenarnya, suara itu adalah suara kura-kura yang
didudukinya. Dengan geram, ia mengancam alat kelaminnya sendiri. Jika
kamu mengejekku lagi akan aku hancurkan! ancamnya. Kemudian, ia
berteriak lagi, Kura-kuraaaaaaaaaaa. Mendengar suara itu marahlah si

kera. la mengambil batu, lalu alat kelaminnya dipukul berkali-kali. Kera


menjeritjerit kesakitan, sambil terus memukulkan batu itu ke arah alat
kelaminnya. Kura-kura menjulurkan kepalanya. Ia ingin menolong, tetapi
sudah terlambat. Kera sahabatnya yang licik itu telah mati.