Anda di halaman 1dari 6

LA GOLO

Pendongeng | June 30, 2012 | Cerita Rakyat | 21 Comments

Cerita ini berasal dari Dompu, salah satu kabupaten di


Pulau Sumbawa. Di suatu desa, tinggallah sepasang suami istri yang kaya.
Akan tetapi, sudah lama mereka menikah belum dikaruniai anak. Oleh karena
itu, mereka sangat sedih.
Pada suatu hari, sang suami berkata kepada istrinya, Sayang kekayaan kita
yang begini banyak, tak ada yang mewarisinya, kalau kita sudah tiada.
Mendengar kata-kata suaminya, hati sang istri sangat sedih. Saya pun
sudah lama memikirkan hal itu. Hanya saya tidak berani menyampaikan
kepada kakak, saya takut kakak tersinggung, kata istrinya.
Sejak itu, mereka selalu berdoa bersama memohon kepada Tuhan Yang
Mahakuasa agar diberikan seorang anak. Akhirnya, doa itu pun dikabulkan.
Sang istri melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama La Golo. Sejak
kecil, La Golo selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Akibatnya, La Golo
tumbuh menjadi anak yang malas, tahunya hanya makan saja. Semua
keinginannya harus dipenuhi. Hampir setiap hari La Golo berkelahi dengan
teman-temannya. La Golo pun melawan orang tuanya. Hal yang demikian
membuat kedua orang tuanya sedih.
Pada suatu hari, saat suami istri itu sedang memperbincangkan anaknya,
sang suami berkata, Dulu aku menamakan anak kita La Golo, terkandung
maksud agar setelah besar dengan bersenjatakan golo (golok), ia dapat
membuka lahan baru sehingga kebun kita bertambah banyak. Kenyataannya
justru sebaliknya.

Mendengar hal itu, istrinya juga sedih. Akhirnya, mereka bersepakat untuk
membuang anaknya.
Pada suatu hari, dipersiapkanlah bekal yang cukup banyak dengan lauk yang
enak-enak. Melihat ibunya memasak, La Golo bertanya kepada ibunya, Ada
acara apa sehingga ibu memasak makanan yang lezat-lezat? Ibunya
menjawab bahwa ayahnya akan pergi ke hutan mencari kayu bakar bersama
La Golo. Sepertiga makanan yang telah dimasak boleh dimakan La Golo
sebelum berangkat, sedangkan sisanya dipakai sebagai bekal. Hati La Golo
sangat senang mendengar jawaban ibunya. Dalam waktu singkat, makanan
yang disiapkan untuknya dihabiskannya. Kemudian, dengan membawa
parang, ia berangkat bersama ayahnya ke hutan belantara.
Akhirnya, sampailah mereka di tengah hutan. Pepohonan di hutan itu sangat
lebat dan besar-besar. Tibalah mereka pada sebuah pohon yang paling besar.
Ayahnya berhenti dan berkata kepada La Golo, Anakku, kita berhenti di sini.
Inilah pohon yang kita cari. Inilah kayu wuwu yang banyak cabangnya.
Kalau kita tebang satu pohon ini, kita akan banyak mendapatkan kayu bakar.
Agar tidak rusak, ketika pohon kayu ini akan tumbang, engkau harus
menahannya.
Ya Ayah, jawab La Golo.
Begitulah ketika pohon itu tumbang, La Golo menahannya dengan tubuhnya
yang besar. Namun, karena pohon itu terlalu besar, tubuh La Golo hancur
tertindih oleh pohon itu.
Setelah beberapa saat, ayahnya menunggu dan tidak ada tanda-tanda lagi La
Golo hidup, senanglah hatinya. Sesampainya di rumah, diceritakan kepada
istrinya semua peristiwa yang terjadi. Keesokan harinya, disiapkan doa rowa
(doa arwah) atas kematian anaknya. Seekor kambing jantan yang besar
disembelih karena para tetangga akan diundang.
Begitu tamu akan diundang secara lisan, ayah dan ibu La Golo sangat
terkejut. Tiba-tiba La Golo telah berdiri di depannya. Akhirnya, semua
makanan yang telah disiapkan dimakan La Golo dengan lahapnya.

Setelah peristiwa itu, La Golo tidak berubah perangainya. Bahkan,


kenakalannya semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, orang tuanya semakin
sedih. Mereka merencanakan membawa dia ke hutan yang jauh sekali.
Seperti biasanya, ibunya memasak nasi dan lauk-pauk yang banyak sekali
dan lezat. Selain itu, ayahnya membawa ponda (labu air) yang sudah kering.
Ponda ini bisa menimbulkan suara Hoooo, seperti suara orang menjawab
panggilan jika ditiup atau tertiup angin.
Setelah berjalan tujuh hari tujuh malam, sampailah mereka di hutan yang
dituju. Di situ terdapat pohon duet yang sedang masak. La Golo sudah tidak
tahan melihat buah duet yang ranum-ranum itu. Segera ia memanjatnya.
Sementara itu, ayahnya meninggalkannya. Pada saat La Golo memanggil,
ayahnya menjawab Hoooo. Tenanglah hati La Golo.
Setelah puas memakan buah duet, La Golo turun mencari ayahnya. Dicarinya
ayahnya ke arah suara Hooo tadi. Namun, yang dijumpainya adalah buah
ponda. Sekarang, sadarlah La Golo bahwa orang tuanya sengaja
membuangnya karena tabiatnya yang buruk. Dia berusaha kembali ke
rumahnya, namun tidak bisa.
Pada suatu hari, di tengah hutan itu, La Golo melihat seseorang sedang
berjalan seperti dia. Pada mulanya, ia takut. Ia memberanikan diri menyapa
orang itu. Mereka saling berkenalan. Nama orang itu adalah Sandari. Tidak
lama kemudian, dari kejauhan mereka mendengar suara orang sedang
bercakap-cakap. Makin lama makin jelas. Mereka akhirnya berpapasan dan
saling berkenalan. Mereka bercerita mengapa sampai di tempat itu. Temyata
mereka adalah anak-anak nakal yang tidak dikehendaki orang tuanya.
Namanya La Ngepe dan La Bonggo.
Empat orang itu akhirnya menjadi sahabat. Mereka sepakat mengangkat La
Golo sebagai ketuanya. Mereka sekarang harus bekerja keras mencari buahbuahan dan umbi-umbian untuk dimakan.
Pada suatu hari, mereka bertemu dengan seekor rusa. La Golo ingin memiliki
kepandaian berlari seperti seekor rusa. Setelah berunding dengan teman-

temannya, akhimya ia berkata kepada rusa tersebut, Hai rusa, maukah


engkau mengajarkan ilmu larimu kepada kami?
Dengan senang hati, jawab rusa itu. Mereka berempat kini telah memiliki
ilmu berlari secepat rusa. Kemudian, mereka bertemu pula dengan seekor
beruk yang sangat besar. Beruk itu pun diminta mengajarkan ilmu
memanjatnya. Beberapa waktu kemudian, mereka bertemu dengan seekor
kerbau liar yang tanduknya sangat kuat. Mereka merasa belum lengkap kalau
belum memiliki ilmu ntumbu (tumbuk kepala) yang dimiliki kerbau liar itu.
Akhirnya, kerbau itu pun mengajarkan ilmu tumbuk kepalanya.
Pada suatu hari, La Golo punya usul untuk mencari ikan di laut. Temantemannya yang lain menyetujuinya. Lalu, mereka berjalan menuju teluk kecil
yang tenang airnya. Tugas pertama adalah membendung teluk itu.
Tugas ini jatuh pada Sandari karena sandari berarti pagar pembatas air.
Setelah air laut itu dibendung, selanjutnya adalah tugas La Bonggo untuk
mengeringkan airnya karena bonggo berarti mengeringkan air. Dalam
sekejap, air laut itu sudah kering dan tampak ikan-ikan menggelepar. Setelah
itu La Ngepe menpunyai tugas menangkap ikan-ikan itu. Ngepe dalam
bahasa Bima berarti menangkap ikan. Setelah ikan ditangkap, La Gololah
yang mengumpulkan ikan-ikan itu.
Ketika mereka sedang beristirahat sambil memikirkan bagaimana cara
memperoleh api untuk membakar ikan-ikan itu, tampaklah asap api di
kejauhan. La Golo meminta agar salah satu temannya pergi ke tempat itu
untuk membakar ikan. Tugas pertama jatuh pada Sandari. Asap yang
mengepul itu ternyata datang dari satu-satunya rumah di situ. Rumah itu
milik sepasang raksasa, yaitu Ompu dan Wai Ranggasasa (kakek dan nenek
Raksasa).
Ketika sampai di situ, Sandari segera meminta izin untuk membakar ikannya.
Jika diizinkan, sebagian ikannya akan diberikan sebagai ucapan terima kasih.
Dari dalam rumah terdengar jawaban yang menakutkan, Bukan saja ikan
yang akan aku makan, bahkan orangnya Pun akan aku lahap sampai habis.
Tunggu! Mendengar suara itu, Sandari lari tunggang langgang dan

meninggalkan seluruh ikannya. Sandari melaporkan kejadian itu kepada


teman-temannya.
Sekarang, yang mendapat giliran pergi adalah La Ngepe dan La Bonggo.
Pergilah kalian berdua cepati Aku sudah lapar sekaiii perintah La Golo.
Keduanya pergi, masing-masing memikul ikan yang cukup banyak jumlahnya.
Namun, mereka mengalami nasib yang sama seperti Sandari. Masih
terengah-engah mereka melaporkan kejadiannya kepada La Golo. Akhirnya,
La Golo pergi ke rumah Ompu dan Wai Ranggasasa, diikuti teman-temannya
yang lain.
La Golo pun mendapat jawaban yang sama dari kedua raksasa itu. Namun, La
Golo tidak gentar menghadapi Ompu Ranggasasa. Dengan suara yang
lantang ia menantang Ompu Ranggasasa.
Ketika Ompu Ranggasasa siap menyerang, La Golo pun sudah bersiap-siap
dengan ilmu ntumbu-nya. Begitu raksasa itu menyerang, La Golo pun maju
menyerudukkan kepalanya. Terjadilah benturan kepala yang sangat keras.
Raksasa itu menjerit kesakitan. Ompu Ranggasasa mati seketika. Demi
keamanan, Wai Ranggasasa pun dibunuhnya.
Mereka berempat kini menempati rumah raksasa itu. Dengan bebas, mereka
membakar ikan di situ. Ketika persediaan makanan telah habis, akhirnya
mereka mengembara lagi. Sampailah mereka di sebuah desa yang tidak
terlalu ramai. Dari penduduk desa itu mereka mendengar bahwa di istana
sedang ada keramaian. Benar juga, orang di istana sedang bersenangsenang mengikuti berbagai permainan.
La Golo pun ikut bertanding. Dengan ilmu lari yang diperoleh dari sang rusa,
ia menjadi juara lari. Dengan ilmu memanjat yang diajarkan oleh sang beruk,
ia menjadi juara memanjat pohon pinang yang telah dilumuri lemak. Cukup
banyak hadiah yang diperolehnya.
Sekarang, tibalah gilirannya mengikuti sayembara ntumbu melawan jagoan
istana. Dengan dukungan teman-temannya dan dengan tekad yang bulat,

akhimya La Golo maju. Ia duduk bersila dengan penuh hormat di depan sang
Raja menyatakan kesediaannya mengikuti ntumbu melawan jagoan istana.
Sebentar lagi perlombaan akan dimulai. Raja sendiri Yang akan memimpin
jalannya perlombaan. Kepala peserta lomba diikat dengan pita berwana
kuning. Raja mempersilakan kedua pemain maju ke depan berdiri berhadaphadapan dalam jarak lima depa. Raja memberikan petunjuk tentang jalannya
lomba.
Aba-aba sudah dimulai dan kedua pemain telah bersiap untuk berlaga. Bunyi
arubana (rebana) yang mengiringi pertarungan itu sudah sejak tadi bergema.
Kepala mereka telah siap menyeruduk laksana seekor kerbau liar. Ketika
terdengar aba-aba dan bendera kuning telah dijatuhkan, La Golo lari dan
meloncat ke arah lawannya bak seekor kerbau liar, dan caaaaaaak!
Kepala mereka telah beradu, terdengarlah benturan yang amat keras. Jagoan
istana itu tergeletak tak sadarkan diri. La Golo menjadi pemenang
pertandingan itu. Para penonton bersorak-sorai dan mengelu-elukan La Golo
sang juara.
Cerita ini memberi pelajaran kepada kita agar kita tidak menjadi anak yang
manja. Jika kita ingin pandai, kita harus belajar/berguru kepada siapa pun.
Keberhasilan seseorang diperoleh dari kerja keras, dan selalu berdoa
memohon hidayah dari Tuhan.