Anda di halaman 1dari 2

Dominasi Sisi Negatif Perempuan

dalam Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi Karya Seno Gumira Ajidarma


Oleh: Alvionita Deny Saputri (12201241041/ PBSI A 2012)
Perempuan dalam kehidupan memiliki peranan yang tak kalah penting
dengan laki-laki. Setiap perempuan adalah ibu atau calon ibu yang akan menjadi
majelis pertama tempat anak mendulang ilmu. Oleh sebab itu, salah apabila
perempuan hanya dianggap sebagai robot pelayan laki-laki. Sebagai seorang
perempuan, khususnya istri, pun wajib untuk berpengetahuan, beradab, dan
menjaga penampilan. Akan tetapi disayangkan, masih terdapat pandangan yang
kurang menghargai titah seoarang perempuan sebagai ibu rumah tangga.
Kedudukan perempuan dalam kehidupan pun tak jarang menjadi inspirasi dalam
menghasilkan karya sastra. Salah satu karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul
Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi pun tak luput dari eksistensi perempuan.
Dalam cerpen tersebut dikisahkan tentang seorang perempuan yang gemar
menyanyi di kamar mandi diusir karena kegemarannya menyanyi menyebabkan
para laki-laki di daerah tersebut berimajinasi terlalu tinggi, sehingga mereka
cukup untuk memuaskan hasrat hanya dengan mendengarkan suara perempuan
tersebut mandi. Permasalahan muncul ketika para istri protes karena suami
mereka menjadi hambar saat di tempat tidur. Para istri pun sepakat untuk
mengusir perempuan tersebut.
Akan tetapi, penggambaran perempuan dalam karya sastra tersebut terlalu
menonjolkan sisi negatif dari seorang perempuan. Dimana perempuan dalam
cerpen tersebut menjadi penyebab utama permasalahan yang ada. Perempuan
yang pertama ialah gadis yang gemar menyanyi di kamar mandi, seakan
menununjukkan perempuan hanya dari segi fisik untuk memuaskan hasrat
kelelakian. Hal tersebut nampak pada penggambaran tubuh, perilaku, dan sikap
para laki-laki terhadapnya. Kemudian, perempuan tersebut disalahkan karena
dianggap menyebabkan lunturnya keharmonisan pasangan suami istri di daerah
tersebut.
Perempuan yang selanjutnya ialah para istri, dimana penggambaran para
istri tersebut menunjukkan perempuan yang tidak pernah berdandan dan senang
berteriak, serta gemar menyalahkan orang lain atas kekurangharmonisan yang

terjadi dalam rumah tangganya. Penggambaran perilaku para istri tersebut seakan
mengeneralisasikan bahwa semua istri sebagaimana seperti yang digambarkan
dalam cerpen, hal tersebut karena tak satupun istri yang mampu membuat
suaminya kembali romantis dengan cara yang baik. Semua istri dalam cerpen
tersebut senada untuk meneriaki suami dan menyalahkan perempuan lain atas
imajinasi suaminya.
Meskipun demikian, dalam penyajian cerita cukup menarik dengan alur
yang mudah dipahami. Kritik sosial nampak jelas dalam cerpen tersebut terhadap
masyarakat, khususnya masyarakat kota. Tokoh yang terlena dalam dunia
imajinasi hanya dengan mendengarkan suara nyanyian di kamar mandi mengarah
pada sulitnya manusia untuk menahan hawa nafsunya. Selain tu, perilaku ibu-ibu
yang memiliki kebiasaan buruk dengan tidak berdandan, senang berteriak-teriak,
dan gemar menyalahkan orang lain. Ada pula kebiasaan buruk yang dimunculkan
dalam cerpen yaitu mendengarkan dari balik tembok kamar mandi suara orang
yang sedang mandi sambil menyanyi pun menunjukkan kegemaran buruk
menguping urusan orang lain. Seluruh pesan disajikan dan dikemas dalam kisah
yang lucu dan santai membuat cerpen ini menjadi bacaan yang menarik.