Anda di halaman 1dari 145

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kehamilan Normal
2.1.1

Pengertian kehamilan
Kehamilan adalah dimulai dari hasil konsepsi (bertemunya sel
telur dengan sperma) dan berakhir dengan permulaan persalinan. (Anik
Maryuani, Biologi Reproduksi, 2010, Hal 294)
Kehamilan adalah dimulai dari terjadinya konsepsi (pertemuan
Antara spermatozoa dengan ovum yang terjadi pada masa subur)
sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal 280 hari (40 minggu
atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Abdul
Bari Saifudin, dkk, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
Dan Neonatal, 2006, Hal 89).
Kehamilan nomal adalah masa kehamilan di mulai dari
konsepsi sampai lahirnya janin lamanya hamil normal adalah 280
hari

atau (40 minggu ), dan tidak lebih dari 300 hari ( 43 minggu ).

(Wiknjosastro, Ilmu Kebidanan, 2006. Hal 125)

2.1.2

Tanda- Tanda Kehamilan


Tanda-tanda kehamilan pada ibu hamil dibagi menjadi 3 bagian
yaitu tanda tidak pasti, tanda kemungkinan, dan tanda pasti
a.

Tanda Tidak pasti (presemptive sign)


Tanda tidak pasti adalah perubahan perubahan fisiologis yang
dapat dikenali dari pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita
hamil. Tanda tidak pasti ini terdiri atas hal-hal berikut :
1.

Amenorea (berhentinya haid)


Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel de graaf dan ovulasi sehingga
menstruasi tidak terjadi. Gejala ini sangat penting karena
umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi, penting
diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat
ditentukan tuanya kehamilan dan perkiraan persalinan akan
terjadi. Tetapi amenore juga dapat disebabkan oleh penyakit
kronik tertentu, tumor pituitary, perubahan dan faktor
lingkungan malnutrisi, dan biasanya gangguan emosional
seperti ketakutan dalam kehamilan.

2.

Mual (nausea) dan muntah (emesis)


Pengaruh

estrogen

dan

progesterone

terjadi

pengeluaran asam lambung yang berlebihan. Mual terjadi

pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadang


kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak
selalu. Mual muntah yang terjadi terutama pada pagi hari
disebut morning sicknes. Dalam batas tertentu hal ini masih
fisiologis. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan
gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum.
3.

Ngidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu)


Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu,
keinginan yang demikian disebut ngidam. Ngidam sering
terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan dan akan
menghilang dengan makin tuanya kehamilan

4.

Syncope (pingsan)
Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral)
menyebabkan iskemia susunan saraf pusat dan menimbulkan
syncope atau pingsan. Hal ini sering terjadi terutama jika
berada pada tempat yang ramai. Keadaan ini menghilang
setelah usia kehamilan 16 minggu.

5.

Payudara tegang
Estrogen meningkatkan perkembangan system duktus
pada

payudara

perkembangan

sedangkan
sistem

somatomamotropin,

progesteron

alveolar

hormon-hormon

menstimulasi

payudara.
ini

Bersama

menimbulkan

pembesaran payudara, menimbulakan perasaan tegang dan


nyeri selama dua bulan pertama kehamilan, pelebaran puting
susu, serta pengeluaran kolostrum.
6.

Sering Miksi
Terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai
membesar. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang
oleh karena uterus yang membesar keluar dari rongga
panggul. Pada akhir triwulan gejala bisa timbul karena janin
mulai masuk kerongga panggul dan menekan kembali
kandung kencing.

7.

Konstipasi atau obstipasi


Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik
usus (tonus otot menurun) sehingga kesulitan untuk BAB.

8.

Pigmentasi kulit
Pigmentasi terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12
minggu. Terjadi akibat pengaruh hormon kortikosteroid
plasenta yang merangsang melanofor dan kulit
a) Sekitar pipi : cloasma gravidarum (penghitaman pada
daerah dahi, hidung, pipi, dan leher)
b) Sekitar leher : tampak lebih hitam

c) Dinding perut: striae lividae/gravidarum (terdapat pada


seorang primigravida, warnanya membiru), striae nigra,
linea alba menjadi lebih hitam (linea grisea/nigra)
d) Sekitar payudara : hiperpigmentasi areola mammae
sehingga terbentuk areola sekunder. Pigmentasi areola ini
berbeda pada tiap wanita, ada yang merah muda pada
wanita kulit putih, coklat tua pada wanita kulit coklat, dan
hitam pada wanita kulit hitam. Selain itu, kelenjar
montgomeri menonjol dan pembuluh darah menifes
sekitar payudara
e) Epulis
Hipertrofi papilla ginggivae/gusi, sering terjadi pada
triwulan pertama.
9.

Varices
Pengaruh estrogen dan progesterone menyebabkan
pelebaran pembuluh darah terutama bagi wanita yang
mempunyai bakat. Varices dapat terjadi disekitar genitalia
eksterna, kaki dan betis serta payudara. Penampakan
pembuluh darah ini dapat hilang setelah persalinan.

b.

Tanda Kemungkinan (Probility Sign)


Tanda kemungkinan adalah perubahan-perubahan fisiologis yang
dapat diketahui oleh pemeriksaan fisik pada wanita hamil. Tanda
kemungkinan ini terdiri atas hal-hal berikut :
1. Pembesaran perut
Terjadi akibat pembesaran uterus ini biasanya terjadi
pada bulan keempat kehamilan.
2. Tanda Hegar
Adalah pelunakan dan dapat ditekannya istmus uteri
3. Tanda Goodel
Adalah perlunakan servik. Pada wanita yang tidak
hamil servik seperti ujung hidung, sedangkan pada wanita
hamil melunak seperti bibir.
4. Tanda chadwicks
Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan
mukosa vagina langsung termasuk juga porsio dan servik.
5. Tanda Piscaseck
Merupakan perubahan uterus yang tidak simetris.
Terjadi karena ovum berimplantasi pada daerah dekat dengan
kornu sehingga daerah tersebut berkembang lebih dulu.
6. Kontraksi Braxton Hicks

Merupakan peregangan sel-sel otot uterus, akibat


meningkatnya actomysin di dalam otot uterus. Kontraksi ini
tidak beritmik, sporadis, tidak nyeri biasanya timbul pada
kehamilan 8 minggu, tetapi baru dapat diamati dari
pemeriksaan abdominal pada trimester ketiga. Kontraksi ini
akan

terus

meningkat

frekuensinya,

lamanya,

dan

kekeuatannya sampai mendekati persalinan.


7. Teraba ballottement
Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan
janin bergerak dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh
tangan pemeriksa. Hal ini harus ada pada pemeriksaan
kehamilan karena perabaan bagian seperti bentuk janin saja
tidak cukup karena dapat saja merupakan myoma uteri.
8. Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif
Pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya
Human Chorionic Gonadotropin (HCG) yang diproduksi oleh
sinsiotropoblastik sel selama kehamilan. Hormon ini disekresi
di peredaran darah ibu (pada plasma darah), dan di eksresi pada
urine ibu. Hormon ini dapat mulai di deteksi pada 26 hari
setelah konsepsi dan meningkat dengan cepat pada hari ke 3060. Tingkat tertinggi pada hari 60-70 usia gestasi, kemudian
menurun pada hari ke 100-130.

c.

Tanda pasti (Positive Sign)


Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung
keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa.
Tanda pasti kehamilan terdiri atas hal-hal berikut ini.
1.

Gerakan janin dalam rahim


Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas oleh
pemeriksa. Gerakan janin baru dapat dirasakan pada usia
kehamilan sekitar 20 minggu.

2.

Denyut jantung janin


Dapat

didengar

pada

usia

12

minggu

dengan

menggunakan alat fetal electrocardiograf (misalnya dopler).


Dengan stetoskop leanec, DJJ baru dapat didengar pada usia
18-20 minggu.
3.

Bagian-bagian janin
Bagian-bagian janin yaitu bagian besar janin (kepala
dan bokong) serta bagian kecil janin (lengan dan kaki) dapat
diraba dengan jelas pada usia kehamilan lebih tua (trimester
terakhir). Bagian janin ini dapat dilihat lebih sempurna lagi
menggunakan USG.

4.

Kerangka janin
Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen
maupun USG.
(Ummi Hani, Asuhan Kebidanan pada Kahamilan Fisiologis,
2011, Hal 71-75).

2.1.3

Perubahan Anatomi dan Fisiologik Pada Wanita Hamil


a.

Uterus
Uterus akan membesar pada bulan bulan pertama di bawah
pengaruh estrogen dan progesterone yang kadarnya meningkat.
Yang disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus, disamping itu
serabut-serabut kolagen yang ada pun menjadi higroskopik akibat
meningkatanya kadar estrogen sehingga uterus dapat mengikuti
pertumbuhan janin.
Berat uterus normal 30 gram, pada akhir kehamilan 40
minggu berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang 20
cm dan dinding 2,5 cm.
Pada kehamilan 8 minggu uterus membesar sebesar telur
bebek, pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa.
Pada usia kehamilan 12 minggu fundus uteri dapat diraba dari
luar, di atas simpisis. Pada kehamilan 16 minggu uterus kira-kira

10

sebesar tinju orang dewasa, dari luar fundus uteri kira-kira


terletak diantara setengah jarak pusat kesimpisis. Pada kehamilan
20 minggu fundus uteri berada tepat di pinggir atas pusat. Pada
kehamilan 28 minggu fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas
pusat atau sepertiga jarak antara pusat ke prosessus xifoideus.
Pada kehamilan 32 minggu fundus uteri terletak diantara setengah
jarak pusat dan prosessus xifoideus. Pada kehamilan 36 minggu
fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prosessus xipoedeus.
Dalam hal ini, kepala bayi masih berada di pintu atas panggul
Jika pengukuran tinggi fundus uteri dalam cm dikaitkan
dengan umur kehamilan perlu pula dikaitkan dengan besarnya dan
beratnya janin. Bila pertumbuhan janin normal maka tinggi
fundus uteri pada kehamilan 28 minggu sekurangnya 25 cm, pada
32 minggu 27 cm, pada 36 minggu 30 cm. pada kehamilan 40
minggu fundus uteri turun kembali dan terletak kira-kira 3 jari
dibawah prosesus xipoideus. Hal ini disebabkan oleh kepala janin
yang pada primigravida turun dan masuk kedalam rongga
panggul.
b.

Servik uteri
Servik uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan
karena hormon estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih
banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung

11

jaringn ikat, hanya 10% jaringn otot. Jaringan ikat pada serviks
ini banyak mengandung kolagen. Akibat
meningkat,

dan

dengan

adanya

kadar estrogen

hipervaskularisasi

maka

konsistensi servik menja di lunak. Kelenjar- kelenjar di servik


akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.
Kadang-kadang

wanita

yang

sedang

hamil

mengeluh

mengeluarkan cairan pervaginan lebih banyak. Keadaan ini


sampai batas tertentu masih merupakan keadan yang fisiologi.
c.

Vagina dan Vulva


Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami
perubahan-perubahan. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan
vagina dan vulva nampak lebih merah, agak kebiru-biruan
(livide). Tanda ini di sebut tanda Chadwick. Warna porsio pun
tampak livide. Pembuluh pembuluh darah alat gentalia interna
akan membesar. Hal ini dapat di mengerti karena oksigenasi dan
nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut meningkat.

d.

Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat corpus luteum
graviditatis

sampai

terbentuknya

plasenta

pada

kira-kira

kehamilan 16 minggu. Corpus luteum gravitates berdiameter kirakira 3cm. Kemudian, ia mengecil setelah plasenta terbentuk.
Seperti yang telah di kemukakan corpus luteum ini mngeluarkan

12

hormon estrogen dan pogesteron lambat laun Fungsi ini di ambil


oleh plasenta. Pada awal ovulasi hormon relaxin, suatu
immunoreaktif inhibin dalam sirkulasi maternal. Diperkirakan
corpus luteum adalah tempat sintesis dari relaxin pada awal
kehamilan. Kadar relaxin di sirkulasi maternal dapat di tentukan
dan meningkat dalam trimester pertama. Relaxin mempunyai
pengaruh menenangkan hingga pertumbuhan janin menjadi baik
hingga aterm.
e.

Mammae
Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon
somatomammotropin, estrogen, dan progesterone, akan tetapi
belum mengeluarkan air susu. Estrogen menimbulkan hipertrofi
sistem saluran, sedangkan progesterone menambah sel-sel asinus
pada

mammae.

Somatomammotropin

mempengaruhi

pertumbuhan sel-sel asinus pula dan menimbulkan perubahan


dalam sel-sel, sehingga terjadi pembuatan kasein, laktalbumin,
dan laktoglobulin. Dengan demikian, mammae dipersiapkan
untuk laktasi. Disamping ini dibawah pengaruh progesterone dan
somatomammotropin, terbentuk lemak disekitar kelompok kelompok alveolus, sehingga mammae menjadi besar. Papilla
mammae akan membesar, lebih tegak, dan tampak lebih hitam,
seperti seluruh areola mammae karena hiperpigmentasi. Glandula

13

Montgomery tampak lebih jelas menonjol dipermukaan areola


mammae. Pada kehamilan 12 minggu keatas dari puting susu
dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih, disebut kolostrum.
Kolostrum ini berasal dari kelenjar-kelenjar asinus yang nilai
bersekresi. Sesudah partus, kolostrum ini agak kental dan
warnanya agak kuning. Meskipun kolostrum telah dapat
dikeluarkan, pengeluaran air susu belum dapat berjalan oleh
karena prolaktin ini ditekan oleh PIH (prolaktine inhibiting
hormone)
f.

Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh
adanya sirkulasi ke plasenta. Uterus yang membesar dengan
pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mammae dan
alat-alat

lain

yang

memang

berfungsi

berlebihan

dalam

kehamilan. Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah banyak


secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut
hidremia. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25 %,
dengan puncak kehamilan 32 minggu, di ikuti dengan cardiac
output yang meninggi sebanyak kira-kira 30 %. Akibat
hemodilusi tersebut, yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16
minggu, ibu yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam
keadaan dekompensasi kordis yaitu kegagalan jantung dalam

14

upaya untuk mempertahankan peredaran darah sesuai dengan


kebutuhan tubuh.
g.

Sistem Respirasi
Wanita hamil biasanya mengeluh tentang rasa sesak dan
pendek nafas. Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu
keatas oleh karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar
kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak.
Untuk memenuhi kebutuhan kadar oksigen yang meningkat kirakira 20 %, seorang wanita hamil selalu bernafas lebih dalam dan
bagian bawah toraknya juga melebar ke sisi, yang sesudah partus
kadang-kadang menetap jika tidak dirawat dengan baik.

h.

Traktus digestivus
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek
(nausea). Mungkin ini akibat hormon estrogen yang meningkat.
Tonus otot-otot traktus digestivus menurun, sehingga motilitas
seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama
berada didalam lambung dan apa yang telah dicerna lebih lama
berada dalam usus-usus. Hal ini mungkin baik untuk resorpsi,
akan tetapi meninmbulkan pula obstipasi, yang merupakan
keluhan utama ibu hamil. Tidak jarang dijumpai pada bulanbulan pertama kehamilan

gejala muntah (emesis). Biasanya

terjadi pada pagi hari, dikenal sebagai morning sicknes. Emesis,

15

bila terlampau sering dan terlalu banyak dikeluarkan, disebut


hipermesis gravidarum, keadaan ini patologik. Saliva adalah
pengeluaran air liur berlebihan dari pada biasa. Bila terlampau
banyak, ini pun menjadi patologik.
i.

Traktus urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing
tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering
kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila
uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir
kehamilan, bila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas
panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung
kencing mulai tertekan kembali. Dalam kehamilan ureter kanan
dan kiri membesar karena pengaruh progesteron. Akan tetapi
ureter kanan lebih membesar dari pada ureter kiri, karena
mengalami lebih banyak tekanan dibandingkan dengan ureter kiri.
Hal ini disebabkan oleh karena uterus lebih sering memutar kea
rah kanan. Mungkin karena orang bergerak lebih sering
menggunakan tangan kanannya, atau disebabkan oleh letak kolon
dan sigmoid yang berada dibelakang kiri uterus. Akibat tekanan
pada ureter kanan tersebut, lebih sering dijumpai hidroureter
dextra dan pielitis dextra. Disamping sering kencing juga
biasanya terdapat poliuria yang disebabkan oleh adanya

16

peningkatan sirkulasi darah di ginjal pada kehamilan, sehingga


filtrasi di glomerulus juga meningkat sampai 69 %. Reabsorpsi
ditubulus tidak berubah, sehingga lebih banyak dapat dikeluarkan
urea, asam uric, glukosa, asam amino, asam folik dalam
kehamilan.
j.

Kulit
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alatalat terentu. Pigmentasi ini disebabkan ole pengaruh Melanophore
Stimulating Hormon (MSH) yang meningkat. MSH ini adalah
salah satu hormone yang dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis.
Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, hidung,
dikenal sebagai kloasma gravidarum. Di daerah leher sering
terdapat hiperpigmentasi yang sama, juga di areola mamma.
Linea alba pada kehamilan menjadi hitam, dikenal sebagai linea
grisea. Tidak jarang di jumpai perut seolah-olah retak-retak ,
warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan, disebut
striade livide . setelah partus, striae livide ini berubah warnanya
menjadi putih dan disebut striae albican. Pada seorang
multigravida sering tampak striae bersama dengan striae albican.

k.

Metabolisme dalam kehamilan


Pada wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggi,
system endokrin juga meninggi, dan tampak lebih jelas kelenjar

17

gondoknya (glandula tireodea). BMR meningkat hingga 15-20%


yang umumnya ditemukan pada triwulan terakhir. Kalori yang
dibutuhkan untuk itu diperoleh terutama dari pembakaran hidrat
arang, khususnya sesudah kehamilan 20 minggu ke atas.
Protein

diperlukan

sekali

dalam

kehamilan

untuk

perkembangan badan, alat kandungan, mamma, dan untuk janin


dan dapat disimpan pula untuk kelak dapat dikeluarkan pada
laktasi.

Janin

membutuhkan

30-40

gram

kalsium

untuk

pembentukan tulang-tulangnya dan ini terjadi pada trimester


terakhir . makanan tiap harinya diperkirakan 0,2 0,7 gram
kalsium tertahan dalam badan untuk keperluan selama hamil. Ini
telah cukup untuk pertumbuhan janin tanpa mengganggu kalsium
ibu. Wanita dalam kehamilan memerlukan tambahan besi sekitar
800 mg.
Mengenai

lemak

telah

dikemukakan

bahwa

hormon

somatomammotropin mempunyai peranan dalam pembentukan


lemak dan mammae. Lemak terhimpun pula pada badan, paha,
dan lengan. Kadar kolesterol dapat meningkat sampai 350 mg
atau lebih per 100 ml
Berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5
16,5 kg rata-rata 12,5 kg. kenaikan berat badan ini terjadi
terutama dalam kehamilan 20 minggu terakhir. Kenaikan berat

18

badan yang terlalu banyak sering ditemukan pada pre-eklamsia


dengan akibat peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu dan
janin. Normalnya berat badan naik perbulan adalah 2 kg setelah
usia kehamilan 20 minggu keatas. Dan adanya penurunan berat
badan dalam bulan terakhir dianggap sebagai suatu tanda yang
baik. Kenaikan berat badan dalam kehamilan disebabkan oleh
hasil konsepsi seperti fetus, plasenta dan likuor amni, dan dari
ibunya sendiri seperti uterus dan mammae yang membesar,
volume darah yang meningkat, lemak dan protein lebih banyak,
dan akhirnya ada retensi air
(Wiknjosastro, Ilmu Kebidanan, 2006, Hal : 93-99 ).

2.1.4

Perubahan dan Adaptasi Psikologis pada Kehamilan


a.

Trimester pertama
Segera setelah terjadi peningkatan hormon estrogen dan
progesteron dalam tubuh maka akan muncul berbagai macam
ketidaknyamanan secara psikologis pada ibu misalnya mual
muntah, keletihan, dan pembesaran pada payudara. Hal ini akan
memicu perubahan psikologi seperti berikut ini :
1.

Ibu untuk membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan,


penolakan, kecemasan, dan kesedihan

19

2.

Mencari tahu secara aktif apakah memang benar-benar hamil


dengan memperhatikan perubahan pada tubuhnya dan sering
kali memberitahukan orang lain apa yang dirahasiakannya.

3.

Hasrat melakukan seks berbeda-beda pada setiap wanita. Ada


yang meningkat libidonya, tetapi ada juga yang mengalami
penurunan. Pada wanita yang mengalami penurunan libido,
akan menciptakan suatu kebutuhan untuk berkomunikasi
secara terbuka dan jujur dengan suaminya. Banyak wanita
hamil yang merasakan kebutuhan untuk dicintai dan
mencintai, tetapi bukan dengan seks. Sedangkan, libido yang
sangat besar dipengaruhi
pembesaran

payudara,

oleh kelelahan,

keprihatinan,

dan

rasa mual,
kekhawatiran.

Sedangkan, bagi suami sering kali membatasi hubungan


suami istri karena takut mencederai istri dan calon bayinya.
Hal ini perlu komunikasi lebih lanjut jika dihidupkan dengan
istri yang mempunyai libido yang tinggi atau meningkat.
4.

Sedangkan bagi suami sebagai calon ayah akan timbul


kebanggaan, tetapi bercampur dengan keprihatinan akan
kesiapan untuk mencari nafkah bagi keluarga.

20

b.

Trimester kedua
Trimester kedua sering disebut periode pancaran kesehatan,
biasanyan ibu merasa sehat dan sudah terbiasa dengan kadar
hormon yang tinggi, serta rasa tidak nyaman akibat kehamilan
sudah mulai berkurang. Perut ibu pun belum terlalu besar
sehingga belum dirasakan ibu sebagai beban. Ibu sudah menerima
kehamilannya dan dapat mulai menggunakan energi dan
pikirannya secara lebih kontruktif. Pada trimester ini pula ibu
dapat merasakan gerakan janinnya dan ibu mulai merasakan
kehadiran bayinya sebagai seseorang diluar dirinya dan dirinya
sendiri. Banyak ibu yang merasa terlepas dari rasa kecemasan dan
rasa tidak nyaman seperti yang dirasakanya pada trimester
pertama dan merasakan meningkatnya libido.

c.

Trimester Ketiga
Trimester ketiga biasanya disebut periode menunggu dan
waspada sebab pada saat itu ibu tidak sabar menunggu kehadiran
bayinya. Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan 2 hal
yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang-kadang ibu
merasakan khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-waktu. Ini
menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya
tanda dan gejala terjadinya persalinan pada ibu. Seringkali ibu
merasakan khawatir atau takut kalau-kalau bayi yang akan

21

dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap


melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa
saja yang dianggap membahayakan bayinya. Seorang ibu
mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang
akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman akibat
kehamilan timbul kembali dan banyak ibu yang merasa dirinya
aneh dan jelek. Selain itu, ibu juga merasa sedih karena akan
berpisah dengan bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang
diterima selama hamil. Pada trimester ini, ibu memerlukan
ketenangan dan dukungan dari suami, keluarga, dan bidan.
Trimester ini juga saat persiapan aktif untuk kelahiran bayinya
dan menjadi orang tua. Keluarga mulai menduga-duga apakah
bayi mereka laki-laki atau perempuan dan akan mirip siapa.
Bahkan sudah mulai memilih nama untuk bayi mereka.
(Ummi Hani, Asuhan Kebidanan pada Kahamilan Fisiologis,
2011, Hal 68-69).

2.1.5

Ketidaknyamanan dalam Kehamilan


a.

Rasa mual dan muntah


Disebabkan peningkatan hormon HCG dan estrogen dan
progestron, relaksasi otot-otot halus, metabolisme, perubahan

22

dalam metabolisme karbohidrat, keletihan, mekanikal, kongesti,


peradangan, penggembungan dan pergeseran. Dapat diatasi
dengan menghindariatau aktor-faktor penyebab, makan biskuit
kering atau roti bakar sebelum bangkit dari tempat tidur di pagi
hari, makan sedikit-sedikit tapi sering, duduk tegak setiap kali
selesai makan, hindari makanan yang berminyak dan berbumbu
keras.
b.

Pusing
Disebabkan karena hipertensi postural yang berhubungan
dengan perubahan-perubahan

hemodinamis.

Dapat

diatasi

dengan bangun secara perlahan dari posisi istirahat, hindari


berdiri terlalu lama dalam lingkungan yang hangat atau sesak,
hindari berbaring dalam posisi terlentang.
c.

Cloasma
Disebabkan karena kecenderungan genetis, peningkatan
kadar estrogen dan mungkin progesteron. Dapat dikurangi atau
dicegah dengan menghindari sinar matahari berlebihan selama
masa kehamilan, menggunakan bahan pelindung non alergis.

d.

Sakit pinggang atas dan bawah


Dapat dikurangi dengan gunakan mekanisme tubuh yang
baik untuk mengangkat benda, gunakan BH yang pas dan
menopang, berlatih dengan mengangkat panggul, hindari

23

menggunakan sepatu berhak tinggi, gunakan kasur keras untuk


tidur, gunakan bantal untuk meluruskan punggung.
e.

Nocturia / sering kencing


Ketidaknyamanan ini terjadi pada kehamilan trimester
pertama dan ketiga, disebabkan karena tekanan uterus pada
kantung kemih, ekskresi sodium yang meningkat bersamaan
terjadinya dengan pengeluaran air. Air dan sodium tertahan
didalam tungkai bawah selama siang hari karena stasis vena,
pada malam hari terdapat aliran balik vena yang meningkat
dengan akibat peningkatan dalam jumlah out put air seni. Cara
mencegah/mengatasinya

yaitu

penjelasan

tentang

sebab-

sebabnya, kosongkan saat terasa dorongan untuk BAK,


perbanyak minum pada siang hari, jangan kurangi minum malam
hari kecuali sangat mengganggu.
d.

Edema dependen
Dapat dikurangi/dicegah dengan hindari posisi berbaring,
hindari posisi tegak untuk waktu lama, masa istirahat dalam
posisi terlentang samping kiri sampai dengan kaki agak diangkat,
angkat kaki ketika duduk atau istirahat, latihan kaki ditekuk,
hindari kaos kaki ketat.

24

e.

Gatal-gatal
Disebabkan oleh hipersensivitas alergen plasenta. Dapat
dikurangi dengan kompres mandi siram air jeruk, gunakan cara
mandi oatmeal, pertimbangkan penggunaan obat luar atau
antipruritik, evaluasi jika ada gangguan atau penyakit kulit.

f.

Hemorroid
Disebabkan karena konstipasi, tekanan yang meningkat
dari uterus terhadap vena hemoroida. Dapat dikurangi atau
dicegah dengan hindari konstipasi, gunakan kompres panas dan
dingin, mandi sitz, dengan perlahan masukan kembali kedalam
rektum seperlunya.

g.

Keputihan
Disebabkan

karena

hyperplasia

mukosa

vagina,

peningkatan produksi lendir dan kelenjar endoservikal sebagai


akibat dari peningkatan kadar estrogen. dapat diatasi atau
dicegah dengan meningkatkan kebersihan, pakaian dalam
menggunakan bahan katun jangan gunakan nilon, cara cebok dari
arah vagina ke belakang, selalu keringkan vulva setelah BAB
atau BAK, ganti celana dalam setiap kali basah, hindari
semprotan air.

25

h.

Keringat bertambah
Disebabkan

karena

kelenjar

apokrin

meningkat

kemungkinan akibat perubahan hormonal, aktivitas kelenjar


tiroid yang meningkat, berat badan dan kegiatan metabolik yang
meningkat. Dapat dicegah dengan menggunakan pakaian yang
tipis dan longgar, banyak minum, mandi secara teratur.
i.

Konstipasi
Terjadi pada kehamilan trimester kedua dan ketiga, dasar
fisiologinya peningkatan kadar progesteron yang menyebabkan
peristaltik usus menjadi lambat. Penurunan motilitas sebagai
akibat dari relaksasi otot-otot halus, penyerapan air dari kolon
meningkat. Tekanan dari uterus yang membesar pada usus,
suplemen zat besi, diet (kurang senam/exercise penurunan kadar
cairan. Dapat dikurangi/ dicegah dengan tingkatkan intake cairan
dan seat dalam diet, minum cairan dingin, istirahat cukup,
senam, buang air teratur, BAB setelah ada dorongan.

j.

Hiperventilasi/ sesak napas


Disebabkan oleh peningkatan kadar progesterone sehingga
berpengaruh secara langsung pada pusat pernafasan untuk
menurunkan kadar CO2 serta meningkatkan kadar O2,
meningkatkan aktivitas metabolik menyebabkan peningkatan
kadar CO2, uterus membesar dan menekan pada diafragma.

26

Dapat dikurangi atau dicegah dengan jelaskan penyebabnya, atur


pernapasan sehingga tetap dalam keadaan normal, berdiri dengan
tangan direntangkan diatas kepala kemudian ambil napas
panjang, berusaha untuk nafas diantara rusuk.
( Rukiyah, Asuhan Kebidanan I, 2009, Hal 134)

2.1.6

Pemantauan Khusus Pada Trimester III


Kunjungan antenatal yang dilakukan menurut WHO sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan, yaitu :
a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu )
b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara 14-28 minggu
c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36
dan sesudah minggu ke 36 ). (Kusmiyati, Perawatan Ibu Hamil,
2009, Hal 168)
Tabel 2.1
Tabel kunjungan antenatal care yang ideal

Kunjungan
Trimester
I
( dilakukan
setiap bulan)

Waktu
Sebelum
minggu ke14

Informasi Penting
Membina hubungan saling percaya
antara petugas kesehatan dan ibu
hamil.
Mendeteksi
masalah
dan
mengatasinya
Memberitahukan hasil pemeriksaan
dan usia kehamilan
Mengajari ibu cara mengatasi
ketidaknyamanan
Mengajarkan
dan
mendorong

27

perilaku hidup sehat


- Memberikan imunisasi tetanus
toxoid dan tablet besi
- Memulai mendiskusikan persiapan
kelahiran bayi dan kesiapan untuk
menghadapi kegawatdaruratan
- Menjadwalkan
kunjungan
berikutnya
- Mendokumentasikan pemeriksaan
dan asuhan
Trimester
Sebelum
- Sama seperti di atas, ditambah
II
minggu kekewaspadaan khusus mengenai
( dilakukan
28
preeklamsi
(Tanya ibu tentang
setiap bulan)
gejala-gejala preeklamsi, pantau
tekanan darah, evakuasi edema,
periksa
untuk
mengetahui
proteinuria )
Trimester
Antara
- Sama seperti di atas, ditambah
III
minggu ke
palpasi
abdominal
untuk
(dilakukan 2
28-36
mengetahui apakah ada kehamilan
minggu sekali)
ganda.
Trimester
Setelah 36
- Sama seperti di atas, ditambah
III
minggu
deteksi letak bayi yang tidak
(dilakukan 1
bormal, atau kondisi lain yang
minggu sekali)
memerlukan kelahiran di rumah
sakit
Apabila ibu mengalami masalah/ - Diberikan pertolongan awal sesuai
komplikasi / kegawatdaruratan
dengan masalah yang timbul
- Pasien dirujuk ke dokter SpOG /
RSU untuk konsultasi / kolaborasi
dan melakukan asuhan tindak lanjut
sesuai dengan diagnose
Sumber : Kusmiyati, 2009 : 168

2.1.7

ANC
Antenatal care adalah upaya preventif program pelayanan
kesehatan obstetri untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal

28

melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan.


(Sarwono, Ilmu Kebidanan, 2009, Hal 278)
Asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan
mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan
kehamilan normal. (Saifudin, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal, 2006, Hal 89)

2.1.8

Tujuan ANC
a. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang bayi.
b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan
sosial ibu dan bayi.
c. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi
yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit
secara umum, kebidanan dan pembedahan.
d. Mempersiapkan

persalinan

cukup bulan, melahirkan dengan

selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.


e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan
pemberian ASI ekslusif.
f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

29

( Saifudin, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006, Hal


90).

2.1.9

Standar Asuhan Kehamilan


Pelayanan atau standar minimal asuhan kehamilan adalah
sebagai berikut :
a. Timbang Berat Badan
Secara perlahan berat badan ibu hamil akan mengalami
kenaikan antara 9-13 kg sekama kehamilan atau sama dengan 0,5 kg
per minggu atau 2 kg dalam satu bulan. Penambahan paling banyak
terjadi pada trimester ke II kehamilan.
Pertanda bahaya.
1) Tubuh ibu sangat kurus atau tidak bertambah (paling sedikit 9
kg) selama kehamilan
2) Tubuh ibu sangat gemuk atau bertambah lebih dari 19 kg selama
kehamilan
3) Berat ibu hamil secara tiba-tiba lebih dari 0,5 kg dalam satu
minggu atau lebih dari 2 kg dalam satu bulan.
Penambahan berat badan ibu selama kehamilan sebagian besar
terdiri atas penambahan BB bayi, plasenta, serta air ketuban dan
sebagian lagi berasal dari penambahan BB ibu sendiri

30

b. Ukur Tekanan Darah


Tekanan darah normal antara 90/60 hingga 140/90 mmhg dan
tidak banyak meningkat selama kehamilan. Tekanan darah tinggi
dapat menyebabkan banyak masalah dalam kehamilan aliran darah
dari plasenta kebayi juga mengalami gangguan sehingga penyaluran
oksigen serta makanan terhambat, yang menyebabkan gangguan
pertumbuhan (IUFD) dan sebagainya.
c. Ukur Tinggi Fundus Uteri
Uterus semakin lama semakin membesar seiring dengan
penambahan usia kehamilan, pemeriksaan tinggi fundus uteri
dilakukan dengan membandingkan HPHT (hari pertama haid
terakhir). Dan diukur dengan menggunakan palpasi (metode jari)
atau meteran terhadap TFU. Uterus bertumbuh kira-kira 2 jari per
bulan.
Pertanda bahaya :
1)

Bagian atas uterus tidak sesuai dengan batas tanggal


kehamilannya dari HPHT

2)

Pembesaran uterus lebih atau kurang dari 2 jari perbulan.

d. Imunisasi TT (Tetanus Toxoid)


Imunisasi TT perlu diberikan pada ibu hamil guna memberikan
kekebalan pada janin terhadap infeksi tetanus (Tetanus Neonatorum)
pada saat persalinan, maupun postnatal. Menurut WHO, jika seorang

31

ibu belum pernah mendapatkan imunisasi TT selama hidupnya,


maka ibu tersebut minimal mendapatkan paling sedikit 2 kali injeksi
selama kehamilan (pertama saat kunjungan antenatal pertama dan
kedua, empat minggu setelah kunjunagn pertama). Dosis terakhir
diberikan sebelum dua minggu persalinan untuk mendapatkan
efektifitas dari obat.
Tabel 2.2. Pemberian imunisasi TT
Antigen

Interval
(selang waktu
minimal)

Lama Perlindungan

%
Perlindungan

TT1

Pada kunjungan
antenatal pertama

TT2

3 tahun

80

TT3

4 minggu setelah
TT1
6 bulan setelah TT2

5 tahun

95

TT4

1 tahun setelah TT3

10 tahun

99

TT5

1 tahun setelah TT4

25 tahun/ seumur hidup

99

e. Pemberian Tablet Zat Besi (minimum 90 tablet selama kehamilan)


Selama kehamilan ibu hamil harus mendapatkan 90 tablet
penambah darah (fe), karena sulit untuk mendapatkan zat besi
dengan jumlah yang cukup dari makanan. Untuk mencegah anemia
seorang wanita sebaiknya mengkonsumsi sedikit 60 mg zat besi
(mengandung FeSO4 320 mg) dan 1 mg asam folat setiap hari. Akan

32

tetapi jika ibu tersebut sudah menderita anemia, maka sebaiknya


mengkonsumsi 2 tablet besi dan 1 asam folat perhari. Zat besi
penting untuk mengompensasi peningkatan volume darah yang
terjadi selama kehamilan dan untuk memastikan pertumbuhan serta
perkembangan janin yang adekuat
f. Tes Terhadap PMS (Penyakit Menular Sexual)
PMS yang terjadi selama kehamilan berlangsung akan
menyebabkan kelainan atau cacat bawaan pada janin dengan segala
akibatnya, oleh karena itu tes terhadap PMS perlu dilakukan agar
dapat didiagnosis secara dini dan memdapatkan pengobatan secara
tepat.
g. Temu Wicara Dalam Rangka Persiapan Rujukan
Temu wicara mengenai persiapan tentang segala sesuatu yang
kemungkian terjadi selama kehamilan penting dilakukan. Hal ini
penting karena bila terjadi komplikasi dalam kehamilan, ibu dapat
segera mendapat pertolongan secara tepat, karena kematian ibu
sering terjadi karena 3T yaitu :
1) Terlambat mengenali bahaya
2) Terlambat untuk dirujuk
3) Terlambat mendapat pertolongan yang memadai
(Hani, dkk, Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis, 2011,
Hal 9-12)

33

2. 2

Persalinan Normal
2.2.1 Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi
belakng kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada ibu dan janin. (Saifudin, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal, 2006, Hal 100).
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi
pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
adanya penyulit. (JNPK, Asuhan Persalinan Normal, 2008, Hal 37).
Persalinan adalah pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan
lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan adanya kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara
progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta. (Hani, Asuhan
Kebidanan pada Kehamilan Fisiologis, 2011, Hal 4)

2.2.2 Sebab Mulanya Persalinan


a. Estrogen

34

Berfungsi untuk meningkatkan sensitifitas otot rahim serta


memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan
oksitosin, prostaglandin, dan mekanis
b. Progesteron
Berfungsi

untuk

menurunkan

sensitifitas

otot

rahim:

menghambat rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin,


prostaglandin dan mekanis serta menyebabkan otot rahim dan otot
polos relaksasi.
c. Teori penurunan hormon
Saat 1-2 minggu sebelum proses melahirkan dimulai, terjadi
penurunan kadar estrogen dan progesteron. Progesteron menimbulkan
relaksasi

otot-otot

rahim,

sebaliknya

estrogen

meninggikan

ketegangan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan


antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada
akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
d. Teori plasenta menjadi tua
Seiring matangnya usia kehamilan, villi chorialis dalam
plasenta mengalami berberapa perubahan, hal ini menyebabkan
turunnya kadar estrogen dan progesteron yang mengakibatkan
tegangnya pembuluh darah sehingga akan menimbulkan kontraksi
uterus.

35

e. Iritasi mekanik
Dibelakang

serviks

terletak

ganglion

servikale

(frankenhauser), apabila ganglion tersebut digeser atau ditekan oleh


kepala janin maka akan timbul his.
f. Teori Oksitosin
Pada akhir kehamilan kadar Oxytocin bertambah, oleh karena
itu timbul kontraksi otot-otot rahim. Oksitosin dikeluarkan oleh
kelenjar hipofisis posterior. Perubahan keseimbangan estrogen dan
progesteron dapat mengubah sensitifitas otot rahim, sehingga sering
terjadi kontraksi Braxton Hicks. Menurunnya konsentrasi progesteron
karena matangnya usia kehamilan menyebabkan oksitosin meningkat
aktifitasnya dalam merangsang otot rahim untuk berkontraksi dan
akhirnya persalinan dimulai.
g. Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan
iskemia otot-otot sehingga mengganggu sirkulasi utero plasenta.
h. Teori Prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua, diduga menjadi
salah satu sebab permulaan persalinan. Hasil dari percobaan
menunjukkan bahwa prostaglandin F2 atau E2 yang diberikan secara
intra vena menimbulkan kontraksi myometrium pada setiap umur
kehamilan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostaglandin

36

yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu
hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.
i. Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis
Glandula suprarenalis merupakan pemicu terjadi persalianan.
Teori ini menunjukan, pada kehamilan dengan bayi anensefalus
sering terjadi kelambatan persalinan karena tidak terbentuknya
hipotalamus.
j. Induksi persalinan
Persalinan juga dapat ditimbulkan dengan jalan sebagai berikut :
1) gagang laminaria : dengan cara laminaria dimasukan kedalam
kanalis

servikalis

dengan

tujuan

merangsang

fleksus

frankenhauser
2) amniotomi : pemecahan ketuban
3) oksitosin drip : pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus
(Sulistyawati, Asuhan kebidanan pada ibu bersalin, 2010, Hal 4-6)
2.2.3 Tanda Dan Gejala Persalinan
1. Tanda persalinan sudah dekat :
a. Lightening
Menjelang minggu ke-36 pada primigravida, terjadi penurunan
fundus uterus karena kepala bayi sudah masuk ke dalam panggul.
Penyebab dari proses terjadinya ini adalah

37

1.
2.
3.
4.

Kontraksi Braxton hikcs


Ketegangan dinding perut
Ketegangan ligamentum rotundum
Gaya berat janin, kepala kearah bawah uterus.

Masuknya kepala janin kedalam panggul dapat dirasakan oleh


wanita hamil dengan tanda-tanda sebagai berikut
1.
2.
3.
4.

Terasa ringan di bagian atas dan rasa sesak berkurang.


Di bagian bawah terasa penuh dan mengganjal.
Kesulitan saat berjalan
Sering berkemih.

Gambaran lightening pada primigravida menunjukkan hubungan


normal antara ketiga P, yaitu power (his), passage (jalan lahir),
dan passenger (bayi dan plasenta). Pada multipara gambaran
menjadi tidak sejelas pada primigravida, karena pada masuknya
kepala janin ke dalam rongga panggul terjadi bersamaan dengan
proses persalinan.

b. Terjadinya his permulaan/ his palsu


Pada hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks yang
kadang dirasakan sebagai keluhan karena rasa sakit yang
ditimbulkan. Biasanya pasien mengeluh adanya rasa sakit di
pinggang dan terasa sangat mengganggu, terutama pada pasien
dengan ambang rasa sakit yang rendah. Adanya perubahan kadar

38

hormon estrogen dan progesteron menyebabkan oksitosin semakin


meningkat dan dapat menjalankan fungsinya dengan efektif untuk
menimbulkan kontraksi atau his permulaan. His permulaan ini
sering di istilahkan sebagai his palsu dengan ciri- ciri :
1. Rasa nyeri ringan dibagian bawah
2. Datang tidak teratur
3. Tidak ada perubahan pada servik atau tidak ada tanda
kemajuan persalinan
4. Durasi pendek
5. Tidak bertambah bila beraktivitas.
2. Tanda masuk dalam persalinan
a. Terjadi his persalinan
1. Pinggang terasa sakit menjalar ke depan
2. Sifat his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin
3.
4.

besar
Terjadi perubahan pada servik
Jika pasien bertambah aktivitasnya, maka kekuatan his
bertambah

b. Pengeluaran lendir dan darah (penanda persalinan)


Dengan adanya his persalinan, terjadi perubahan pada servik
yang menimbulkan :
1.
2.

Pendataran dan pembukaan


Pembukann menyebabkan selaput lendir yang terdapat pada

kanalis servikalis terlepas


3. Pengeluaran cairan
c. Pengeluaran cairan

39

Sebagian pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya


selaput ketuban. Jika ketuban sedah pecah, maka ditargetkan
persalinan dapat berlangsung dalam 24 jam. Namum jika tidak
tercapai, maka persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan
tertentu,

misalnya

ekstrasi

vakum,

atau

sectio

caesaria.

(Sulistyawati, Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersaalin, 2010, Hal 67)


3. Tanda Gejala Kala II
1.Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya
kontraksi
2.Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rektum dan
vagina
3.Perinium menonjol
4.Vulva dan sfingter ani membuka
5.Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah. (Wiknjosastro,
Ilmu Kebidanan, 2007, Hal 194-195)

2.2.4 Faktor-Faktor Yang Berperan Dalam Persalinan


Pada setiap persalinan harus diperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Tiga faktor utama yang menentukan prognosis
persalinan adalah jalan lahir (passage), janin (passanger), kekuatan
(power) dan ada dua faktor lain yang juga sangat berpengaruh terhadap
keberhasilan asuhan persalinan yaitu faktor posisi dan psikologis.

40

a. Passage (Jalan Lahir)


Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang padat,
dasar panggul, vagina dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun
jaringan lunak, khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut
menunjang keluarnya bayi, tetapi panggul ibu jauh lebih berperan
dalam proses persalinan. Janin harus berhasil menyesuaikan dirinya
terhadap jalan lahir yang relatif kaku.
b. Passenger ( janin dan plasenta)
Passanger (janin/plasenta) bergerak sepanjang

jalan lahir

merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni ukuran kepala


janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Karena plasenta juga
harus melewati jalan lahir, maka dianggap juga sebagai bagian dari
passenger

yang

menyertai

janin.

Namun

plasenta

jarang

menghambat proses persalinan pada kehamilan normal.


c. Power (kekuatan)
Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu melakukan kontraksi
involunteer secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan
plasenta dari uterus. Kontraksi involunteer disebut juga kekuatan
primer, menandai dimulainya persalinan. Apabila serviks berdilatasi,
usaha involunteer dimulai untuk mendorong yang disebut kekuatan
sekunder, dimana kekuatan ini memperbesar kekuatan kontraksi
involunteer.

41

d. Posisi ibu
Posisi ibu mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi
persalinan posisi tegak memberi sejumlah keuntungan. Mengubah
posisi membuat rasa letih hilang, memberi rasa nyaman, dan
memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak meliputi posisi berdiri, berjalan,
duduk, jongkok. Posisi tegak memungkinkan gaya gravitasi
membantu penurunan janin. Kontraksi uterus yang lebih kuat dan
efisien dapat membantu penipisan dan dilatasi serviks. Pada posisi
tegak dapat mengurangi insiden penekanan tali pusat juga membantu
mengurangi tekanan pada pembuluh darah ibu, mencegah kompresi
pembuluh darah.
e. Psikologis
Tingkat kecemasan wanita selama bersalin akan meningkat jika
ia tidak memahami apa yang ada dalam dirinya atau yang
disampaikan padanya. Wanita bersalin mengatakan kekhawatiran
jika ditanya. Perilaku

dan penampilan ibu serta pasangannya

merupakan petunjuk berharga tentang jenis dukungan yang akan


diperlukannya. Membantu wanita berpartisipasi sejauh yang
diinginkan dalam melahirkan, memenuhi harapan wanita akan hasil
akhir

persalinannya,

membantu

wanita

menghemat

tenaga,

mengendalikan rasa nyeri merupakan suatu upaya dukungan dalam


mengurangi kecemasan pasien. Tindakan mengupayakan rasa

42

nyaman dengan menciptakan suasana yang nyaman dalam kamar


bersalin, memberi sentuhan, memberi penenangan nyeri non
farmakologi, memberi analgesia jika diperlukan dan yang paling
penting berada disisi pasien adalah bentuk-bentuk dukungan
psikologis. Dengan kondisi psikologis positif proses persalinan akan
berjalan lebih mudah.
(Sumarah, Perawatan Ibu Bersalin, 2009, Hal 23-45)

2.2.5 Tahap Persalinan


a. Kala I : Pembukaan Servik
Pasien dikatakan dalam tahap persalinan kala I, jika sudah terjadi
pembukaan serviks dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam
10 menit selama 40 detik. Kala I adalah kala pembukaan yang
berlangsung antara pembukaan 0-10 cm (pembukaan lengkap). Proses
ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten (8 jam) dimana serviks
membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) dimana serviks membuka
dari 3-10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering terjadi selama fase aktif.
Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuat
sehingga parturient (ibu yang sedang bersalin) masih dapat berjalanjalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam
sedangkan pada multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurve

43

Friedman, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm per jam dan


pembukaan multigravida 2 cm per jam. Dengan perhitungan tersebut
maka waktu pembukaan lengkap dapat diperkirakan.
b. Kala II : Pengeluaran Janin
Pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi
lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya ditambah kekuatan meneran akan
mendorong bayi hingga lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam
pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Diagnosis kala II
ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap dan kepala janin sudah tampak di vulva
dengan diameter 5-6 cm.
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut
1. His semakin kuat dengan interval 2-3 menit, dengan durasi 50-100
detik.
2. Menjelang akhir kala I, ketuban pecah yang ditandai dengan
ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
3. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti
keinginan meneran karena tertekannya fleksus frankenhouser.
4. Dua kekuatan, yaitu his dan meneran akan mendorong kepala bayi
sehingga kepala membuka pintu; suboksiput bertindak sebag ai
hipomochlion, berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung
dan muka, serta kepala seluruhnya.

44

5. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu
penyesuaian kepala pada punggung.
6. Setelah putaran paksi luar berlangsung, maka pertolongan
persalinan bayi ditolong dengan jalan berikut.
Pegang kepala pada tulang oksiput dan bagian bawah dagu,
kemudian ditarik curam kebawah untuk melahirkan bahu
depan, dan curam keatas untuk melahirkan bahu belakang.
Setelah kedua bahu bayi lahir, ketiak dikait untuk melahirkan
sisa badan bayi.
Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
7. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan muligravida 30
menit.
Dimulai dari pembukaan lengkap sampai pengeluaran janin, rasa
mulas terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit
sekali dengan durasi 50-100 detik. Kala II pada primigravida
berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5 jam.
c. Kala III : Pengeluaran Plasenta
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta.
Setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 50 menit, kontraksi
uterus berhenti sekitar 5-10 menit. Dengan lahirnya bayi dan proses
retraksi uterus, maka plasenta lepas dari lapisan Nitabusch.

45

Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan


tanda-tanda sebagai berikut.
1. Uterus menjadi berbentuk bundar.
2. Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah
rahim.
3. Tali pusat bertambah panjang. Terjadi perarahan.
Melahirkan plasenta dengan dorongan ringan secara crede pada fundus
uterus.
Sebab-sebas terlepasnya plasenta yaitu sebagai berikut.
1. Saat bayi dilahirkan, rahim sangat mengcil dan setelah bayi lahir
uterus merupakan organ dengan dinding yang tebal dan rongganya
hampir tidak ada. Posisi fundus uterus turun sedikit dibawah
pusat, karena terjadi pengecilan uterus, maka tempat pelepasan
plasenta juga sangat mengecil. Plasenta harus melewati proses
pengecilan ini hingga tebalnya menjadi dua kali lipat dari pada
permulaan

persalinan,

dan

karena

pengecilan

tampat

perlekatannya maka plasenta menjadi berlipat-lipat pada bagian


yang terlepas dari dinding rahim karena tidak dapat mengikuti
pengecilan dari dasarnya. Jadi faktor yang paling penting dalam
pelepasan plasenta ialah retraksi dan kontraksi uterus setelah anak
lahir.

46

2. Di tempat pelepasan plasenta yaitu antara plasenta dan desidua


basalis terjadi perdarahan, karena hematom ini membesar maka
seolah-olah plasenta terangkat dari dasarnya oleh hematom
tersebut sehingga daerah pelepasan meluas.
d. Kala IV: Dua jam setelah plasenta lahir.
Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam. Pada kala
IV dilakukan observasi terhadap perdarahan pasca persalinan, paling
sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang dilakukan adalah
sebagai berikut.

1. Tingkat kesadaran pasien.


2. Pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu tekanan darah, nadi, dan
pernafasan.
3. Kontraksi uterus.
4. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal jika
jumlahnya tidak melebihi 400-500 cc.
(Sulistyawati, Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin, 2010, Hal 79)

2.2.6 Mekanisme Persalinan

47

Mekanisme persalinan normal terbagi dalam beberapa tahap gerakan


kepala janin di dasar panggul yang diikuti dengan lahirnya seluruh
anggota badan bayi.
1.

Penurunan kepala
Terjadi selama proses persalinan karena daya dorong dari
kontraksi uterus yang efektif, posisi, serta kekuatan meneran dari
pasien.

2.

Penguncian (engagement)
Tahap penurunan pada waktu diameter biparietal dari kepala
janin telah melalui lubang masuk panggul pasien.

3.

Fleksi
Dalam proses masuknya kepala janin ke dalam panggul, fleksi
menjadi hal yang sangat penting karena dengan fleksi diameter
kepala janin terkecil dapat bergerak melalui panggul dan terus
menuju dasar panggul. Pada saat kepala bertemu dengan dasar
panggul, tahanannya akan meningkatkan fleksi menjadi bertambah
besar yang sangat diperlukan agar saat sampai di dasar panggul
kepala janin sudah dalam keadaan fleksi maksimal.

4.

Putaran paksi dalam

48

Putaran internal dari kepala janin akan membuat diameter


anteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala menyesuaikan diri
dengan diameter anteroposterior dari panggul pasien. Kepala akan
berputar dari arah diameter kanan, miring ke arah diameter PAP dari
panggul tetapi bahu tetap miring ke kiri, dengan demikian hubungan
normal antara as kepala panjang kepala janin dengan as dari panjang
dari bahu akan berubah dan leher akan berputar 45 derajat. Hubungan
antara kepala dengan panggul ini akan terus berlanjut selama kepala
janin masih berada di dalam panggul.
Pada umumnya rotasi penuh dari kepala ini akan terjadi ketika
kepala telah sampai di dasar panggul atau segera setelah itu.
Perputaran kepala yang dini kadang-kadang terjadi pada multipara
atau pasien yang mempunyai kontraksi efisien.
5.

Lahirnya kepala dengan cara ekstensi


Cara kelahiran ini untuk kepala dengan posisi oksiput
posterior. Proses ini terjadi karena gaya tahanan dari dasar panggul,
dimana

gaya

tersebut

membentuk

lengkungan

carus,

yang

mengarahkan kepala ke atas menuju lorong vulva. Bagian leher


belakang di bawah oksiput akan bergeser ke bawah simpisis pubis
dan bekerja sebagai titik poros (hipomoklion). Uterus yang

49

berkontraksi kemudian memberikan

tekanan tambahan di kepala

yang menyebabkannya ekstensi lebih lanjut saat lubang vulva-vagina


membuka lebar.
6.

Restitusi
Restitusi adalah perputaran kepala sebesar 45 derajat baik ke
kanan atau ke kiri, bergantung kepada arah dimana ia mengikuti
perputaran menuju posisi oksiput anterior.

7.

Putaran paksi luar


Putaran ini terjadi bersamaan dengan putaran internal dari
bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul, bahu akan
mengalami perputaran dalam arah yang sama dengan kepala janin
agar terletak dalam diameter yang besar dari rongga panggul. Bahu
anterior akan terlihat pada lubang vulva vaginal, dimana ia akan
bergeser di bawah simpisis pubis.

8.

Lahirnya bahu dan seluruh anggota badan bayi


Bahu

posterior

akan

menggembungkan

perineum

dan

kemudian dilahirkan dengan cara fleksi lateral. Setelah bahu


dilahirkan, seluruh tubuh janin lainnya akan dilahirkan mengikuti

50

sumbu carus. (Sulistyawati, Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin,


2010, Hal 109-111)
2.2.7 Langkah-langkah pertolongan persalinan
I. Mengenal gejala dan tanda kala II
1. Mendengar dan melihat adanya tanda dan gejala persalinan kala dua
a. Ibu merasa ada dorongan kuat untuk meneran
b. Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum
dan vagina
c. Perineum tampak menonjol
d. Vulva dan spingter ani membuka.
II. Menyiapkan pertolongan persalinan normal
2. Pastikan pelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial
untuk menolong persalinan, menatalaksanakan komplikasi ibu dan
bayi baru lahir. Untuk asfiksia - tempat datar dan keras, 2 kain dan 2
buah handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak
60 cm dari tubuh bayi.
a. Menggelar kain di atas perut ibu dan tempat resusitasi serta
ganjal bahu bayi
b. Menyiapkan oksitosin 10 unit alat suntik steril sekali pakai di
dalam partus set.
3. Mengenakan celemek plastik yang bersih.
4. Melepaskan dan menyimpan semua perhiasan yang dipakai,
mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir
dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai atau
handuk pribadi yang bersih dan kering.

51

5. Memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi pada tangan yang


akan di gunakan untuk periksa dalam.
6. Menghisap oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (dengan
memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan
meletakannya kembali di partus set atau wadah desinfeksi tingkat
tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik
III. Memastikan pembukaan lengkap dan keadaan janin baik
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati
dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kassa yang
sudah di basahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut vagina,
perineum

atau

anus

terkontaminasi

oleh

kotoran

ibu,

membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari


depan

ke

belakang.

Membuang

kapas

atau

kassa

yang

terkontaminasi dalam wadah yang tersedia. Mengganti sarung


tangan jika terkontaminasi, dan lepaskan sarung tangan dan rendam
ke dalam larutan dekontaminasi (klorin 0,5 %).
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan
dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah lengkap.
Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan sudah
lengkap, lakukan amniotomi
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan
dengan yang masih memakai sarung tangan kotor kedalam larutan
klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik
serta merendamnya kedalam larutan klori 0,5% selama 10 menit,
mencuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.
10. Memeriksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi berakhir
untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-160 kali
permenit) .
a. Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal

52

b. Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam DJJ dan


semua hasil-hasil penilaian asuhan lainya pada partograf.
IV.Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses bimbingan
meneran
11. Memberi tahu ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan
janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai
keinginannya.
a. Menunggu hingga ibu mempunyai keingginan untuk meneram.
Melanjutkan pemantauan kondisi dan kenyamanan ibu serta
janin

sesuai

dengan

pedoman

persalinan

aktif

dan

mendokumentasi penemuan-penemuan yang ada.


b. Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka dapat
mendukung dan memberi semangat kepada ibu untuk meneram
secara benar
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (pada saat ada his,bantu ibu dalam posisi setengah duduk
atau posisi lain yang di inginkan dan pastikan ia merasa nyaman).
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran :
a. Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai keinginan
untuk meneran. Mendukung dan memberi semangat atas usaha
itu untuk meneran perbaikan cara meneran apabila caranya tidak
sesuai.
b. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesui pilihanya
(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama ).
c. Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi.
d. Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat kepada ibu.
e. Menganjurkan asupan cairan per oral (minum).

53

f. Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.


g. Segera rujuk jika bayi belum lahir atau tidak segera lahir setelah
120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam)
meneran (multigravida).
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil
posisi yang nyaman, jika ibu belum merasakan ada dorongan untuk
meneran dalam 60 menit
V. Persiapan pertolongan kelahiran bayi
15. Letakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika
kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.
16. Letakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu
17. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan
bahan.
18. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
Lahirnya kepala
19. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka
vulva maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi
dengan kain yang bersih dan kering. Tangan yang lain menahan
kepala bayi untuk meneran perlahan atau bernafas cepat dan
dangkal.
20. Periksa kemungkinan adamya lilitan tali pusat dan ambil tindakan
yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses
kelahiran bayi.
a. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian
atas kepala bayi.
b. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua
tempat dan potong diantara dua klem.
21. Tunggu kepala bayi melakukan paksi luar secara spontan
Lahirnya bahu

54

22. Setelah

kepala melakukan paksi luar, pegang secara biparietal,

anjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan


kepala kearah bawah dan distal hingga hingga bahu depan muncul
dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal
untuk melahirkan bahu belakang.
Lahirnya badan dan tungkai
23. Setelah kedua bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu
untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah.
Gunakan tangan atas untuk menyelusuri dan memegang lengan dan
siku sebelah atas.
24. Setelah lengan dan tubuh lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke
punggung, bokong tungkai dan kaki, pegang kedua mata kaki
masukan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata
kaki ibu jari dan jari-jari yang lainya.
VI. Penanganan bayi baru lahir
25. Lakukan penilaian (Selintas)
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
c. Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap
lakukan langkah resusitasi (Lanjut langkah resusitasi pada
asfiksia bayi baru lahir)
26. Keringkan tubuh bayi, tangan keringkan bayi mulai dari muka,
kepala, dan bagian tubuh lainya kecuali bagian tangan tanpa
membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain
yang kering. Biarkan bayi diatas perut ibu.
27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam
uterus (hamil tunggal).
28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus
berkontraksi baik.

55

29. Dalam 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 menit IM


(intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kirakira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal
(ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem
pertama.
31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat
a. Dengan satu lengan pegang tali pusat yang telah di jepit
(lindungi perut bayi) dan lakukan pengguntingan tali pusat
diantara 2 klem tersebut .
b. Ikat tali pusat pusat dengan benang DTT atau steril pada satu
sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan
mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
c. Lepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah disediakan
32. Letakan bayi agar kontak kulit ibu ke kulit bayi
Letakan bayi tengkurap di dada ibu, luruskan bahu bayi agar
sehingga bayi menempel di dada atau perut ibu. Usahakan kepala
bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari
puting payudara ibu.
33. Selimuti ibu dan banyinya dengan kain hangat dan pasang topi di
kepala bayi, biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di
dada ibunya paling sedikit 1 jam
a. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusui
dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusui pertama biasanya
berlangsung sekitar 10-15 menit, bayi cukup dari satu payudara.
b. Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi
sudah berhasil menyusu.
VII.Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III

56

34. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva.
35. Letakan satu lengan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas simpisis
untuk
36. Setelah uterus berkontraksi tegakan tali pusat ke arah bawah sambil
tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang-atas (dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika
plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik hentikan penegangan tali
pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi
prosedur di atas.
Jika uterus tidak segera berkontraki, minta ibu, suami, atau anggota
keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu.
37. Lakukan penegangan tali pusat dan dorso kranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai atau kemudian ke arah atas, mengikuti
poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso kranial)
a. Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga
berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.
b. Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit mengikat tali pusat :
1. Beri dosis ulang oksitosin 10 IU IM
2. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh
3. Minta keluarga menyiapkan rujukan
4. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya
c. Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir
atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan manual.
38. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan
kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput wadah
yang telah disediakan
a. Jika selaput wadah robek, pakai sarung tangan DTT atau steril
untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-

57

jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian
selaput yang tertinggal.
Rangsangan taktif ( masase) uterus
39. Segera setelah plasenta lahir dan selaput ketuban lahir, lakukan
masase uterus, letakan telapak tangan di fundus dan lakukan masase
dengan

gerakan

melingkar

dengan

lembut

hingga

uterus

berkontraksi (fundus terba keras). Lakukan tindakan yang


diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase.
VIII. Menilai Perdarahan
40. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan
pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukan plasenta
kedalam kantung plastik atau tempat khusus.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan verineum. Lakukan
penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. Bila da robekan
yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.
IX. Melakukan prosedur pasca persalinan
42. Celupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke dalam
larutan clorin 0,5%, bilas kedua tangan tersebut dengan air DTT
dan keringkan dengan kain yang bersih dan kering.
43. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam
44. Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai
kontraksi
45. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
X. Evaluasi
46. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan pencegahan perdarahan
pervaginam :
a. 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan
b. Setip 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan

58

c. Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan


d. Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan
yang sesuai untuk menatalaksanan antonia uteri.
47. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotik profilaksis dan vit K1 1 mg intramuscular dipaha
kiri anterior.
48. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
hepatitis B dipaha kanan anterolateral.
49. Letakan bayi dalam jangkauan ibu agar dalam sewaktu-waktu bisa
disusui
50. Letakan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil
menyusu dalam 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil
menyusu.
51. Memeriksa nadi ibu, dan keadan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama persalinan dan setiap 30 menit selama jam ke
dua pasca persalinan :
52. Memeriksa temperatur tubuh sekali setiap jam selama 2 jam
pertama pasca persalinan
53. Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.
54. Periksa kembali bayi untuk pastikan bahwa bayi bernafas dengan
baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5 C 37,5 C).
55. Bersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan
ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih
dan kering.
56. Pastikan ibu merasa nyaman, bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan
keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang
diinginkannya.
57. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%

59

58. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah
terkontaminasi.
59. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
60. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, balikan
bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5%, selama
10 menit.
61. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
XI. Dokumentasi
62. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda
vital dan asuhan kala IV.

2.2.8 Partograf
a. Pengertian
Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan kala
satu persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik
(Asuhan Persalinan Normal, 2008, Hal 54).
Partograf adalah alat untuk mencatat hasil observasi dan
pemeriksaan fisik ibu dalam proses persalinan serta merupakan alat
utama dalam mengambil keputusan klinik khususnya pada
persalinan kala 1. (Sumarah, Perawatan Ibu Bersalin, 2008, Hal 64).
b. Tujuan penggunaan partograf adalah :

60

1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai


pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal,
dengan demikian juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap
kemungkinan terjadinya partus lama. (JNPK-KR, APN 2008, Hal
54).
c. Fungsi
Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu
penolong persalinan untuk:
1. Mencatat kemajuan persalinan
2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya
3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan kelahiran
4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini
penyulit persalinan
5. Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan
klinik yang sesuai dan tepat waktu
(JNPK-KR, APN, 2008, Hal 55).
d. Cara pencatatan
Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan
membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalam
penatalaksanaan. Partograf dimulai pada pembukaan 4 cm (fase

61

aktif). Partograf sebaiknya dibuat untuk setiap ibu yang bersalin,


tanpa menghiraukan apakah persalinan tersebut normal atau dengan
komplikasi.
Petugas kesehatan harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai
berikut :
Denyut jantung janin. Catat setiap 1 jam.
Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan
pemeriksaan vagina :
- U : Selaput Utuh,
- J : Selaput pecah, air ketuban Jernih,
- M : Air ketuban bercampur Mekonium,
- D : Air ketuban bernoda Darah,
- K :Tidak ada cairan ketuban/Kering.
Perubahan bentuk kepala janin (molase) :
- 0 : sutura terpisah,
- 1 : sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat atau
bersesuaian,
- 2 : sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki,
- 3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki.
Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai setiap 4 jam dan diberi
tanda silang (x).
Penurunan. Mengacu pada bagian kepala (di bagi 5 bagian) yang
teraba (pada pemeriksaan abdomen/luar) di atas simpisis pubis;
catat dengan tanda lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan dalam.
Pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh atas kepala berada di
simpisis pubis.III

62

Waktu : Catat jam sesungguhnya.


Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk
menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya
tiap-tiap kontraksi dalam hitungan detik :
- kurang dari 20 detik;
- Antara 20 dan 40 detik:
- Lebih dari 40 detik.
Oksitosin. Jika memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin
per volume cairan infus dan dalam tetesan per menit.
Obat yang diberikan. Catat semua obat lain yang diberikan.
Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan tangdai dengan sebuah titik
besar ().
Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan tandai dengan anak
panah.
Suhu badan. Catatlah setiap 2 jam.
Protein, aseton, dan volume urin. Catatlah setiap kali ibu
berkemih.
Jika temuan-temuan melintas ke arah kanan dari garis waspada,
petugas kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu
dan janin dan segera mencari rujukan yang tepat.
(Saifuddin, Acuan Pelayanan Kesehatn Maternal dan Neonatal,
2007, Hal 104)

2.3

Inisiasi Menyusui Dini


2.3.1 Definisi

63

IMD merupakan bukan proses membiarkan bayi menyusui


sendiri segera setelah persalinan. IMD bukan merupakan program
ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri
puting susu ibu. ( sujiyatini dkk, Asuhan Kebidanan II, 2011, Hal
106)
Segera setelah bayi lahir, setelah tali pusat dipotong, letakkan
bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu.
Biarkan kontak kulit ke kulit ini menetap selama setidaknya selama 1
jam bahkan lebih sampai bayi dapat menyusu sendiri. Apabila ruang
bersalin dingin, bayi diberi topi dan diselimuti. Ayah atau keluarga
dapat memberi dukungan dan membantu ibu selama proses menyusu
ini. Ibu diberi dukungan untuk mengenali saat bayi siap untuk
menyusu, menolong bayi bila diperlukan. (JNPK-KR, APN, 2008,
Hal 127)
2.3.2

Manfaat
Keuntungan Menyusu Dini Untuk Bayi
1.

Mendekatkan hubungan batin ibu-bayi, karena pada IMD terjadi


komunikasi batin secara sangat pribadi dan intensif.

2.

Bayi

akan

mengenal

ibunya

lebih

dini

sehingga

akan

memperlancar proses laktasi.


3.

Suhu tubuh bayi stabil karena hipotermi telah dikoreksi panas


tubuh ibunya.

64

4.

Reflek oksitosin ibu akan berfungsi maksimal.

5.

Mempercepat produksi ASI, karena sudah mendapat rangsangan


isapan dari bayi lebih awal. (Sulistyawati, Asuhan Kebidanan pada
Ibu Bersalin, 2010, Hal 216)

2.3.3

Kriteria Pelaksanaan IMD


Inisiasi menyusui bayi yang dianjurkan :
1. Begitu bayi lahir diletakkan diatas perut ibu yang sudah dialasi kain
kering
2. Keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya
3. Tali pusat dipotong lalu diikat
4. Vernik ( zat lemak putih ) yang melekat ditubuh bayi sebaiknya
tidak dibersihkan karena zat ini membuat nyaman kulit bayi.
5. Tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan didada atau diperut
ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Ibu dan bayi diselimuti
bersama-sama. Jika perlu bayi diberi topi untuk mengurangi
pengeluaran panas dari kepalanya. Sering kali khawatir bayi
kedinginan. Menurut penelitian, jika bayi kedinginan, suhu kulit ibu
otomatis akan naik dua derajat untuk mendinginkan bayinya. Kulit
ibu bersifat termoregulator atau termal sinchrony bagi tubuh bayi
(Wulandari, Buku Acuan Kebidanan Nifas, 2008, Hal 38)

2.3.4

Syarat-syarat IMD
1.
Syarat syarat dari ibu adalah:

65

a. Ibu tanpa komplikasi saat persalinan, seperti ibu dengan eklamsi


atau preeklamsi.
b. Ibu tidak mempunyai komplikasi Pasca persalinan
c. Ibu tidak mempunyai penyakit infeksi akut yang bisa menular
pada bayi, seperti tuberkulosis.
d. Ibu mau dan mampu menyusui bayinya
e. Ibu tidak mempunyai karsinoma payudara
f. Ibu tidak menderita psikosis, yaitu suatu keadaan dimana ibu
2.
a.
b.
c.
d.

tidak bisa mengontrol jiwanya.


Syarat syarat dari bayi adalah:
Nilai APGAR bayi lebih dari 7
Berat badan bayi lebih dari 2500 dan kurang dari 4000 gram
Lahir spontan tanpa infeksi interapartum
Usia kehamilan lebih dari 36 minggu atau kurang dari 42

minggu.
e. Bayi tidak memiliki cacat bawaan yang mengancam jiwa.
(Wiknjosastro, Ilmu Kebidanan, 2010, Hal 387 )
2.4

Bayi Baru Lahir


2.4.1 Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37-42
minggu dan berat badan lahir 2500-4000 gram. Bayi baru lahir adalah
masa dimana bayi baru saja lahir sampai satu jam pertama setelah
kelahiran. (Sarwono, Ilmu Kebidana 2006, Hal 246 ).
Bayi baru lahir disebut juga dengan neonates merupakan
individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma
kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan
intrauterine ke kehidupan ekstrauterin. (Vivian, Asuhan Neonatus Bayi
dan Anak Balita, 2011, Hal 1)

66

2.4.2

Karakteristik bayi baru lahir normal


Kriteria fisik bayi baru lahir normal, antara lain sebagai berikut.
Lahir cukup bulan dengan usia kehanilan 37-42 minggu, berat badan
lahir 2500-4000 gram atau sesuai masa kehamilan, panjang badan
antara 44-53, lingkar kepala melalui diameter biparietal 31-36 cm,
skor APGAR antara 7-10, tanpa kelainan kongenital atau trauma
persalinan.

Dilihat

dari

kriteria

neurologik

neonatus

normal

mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : posisi bayi frog position (fleksi


pada ekstremitas atas dan bawah), refleks moro/kejutan positif (+) dan
harus simetris, refleks hisap positif (+) pada sentuhan palatum molle,
refleks menggenggam positif (+), refleks rooting (+). (Muslihatun,
Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, 2010, Hal 35)
Karakteristik bayi baru lahir yaitu :
a. Karakteristik biologis
1. Sistem kardiovaskular
Sistem

kardiovaskular

mengalami

perubahan

yang

mencolok setelah bayi lahir. Foramen ovale, duktus venosus


menutup. Arteri umbilikalis, vena umbilikalis dan arteri hepatika
menjadi

ligamen.

Napas

pertama

membuat

paru-paru

mengembang dan menurunkan resistensi vaskuler pulmoner


sehingga darah paru mengalir. Tekanan arteri pulmoner menurun.
rangkaian peristiwa ini merupakan mekanisme besar yang

67

menyebabkan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah


pulmoner kembali meningkat ke jantung dan masuk ke jantung
bagian kiri, sehingga tekanan dalam atrium kiri meningkat.
Perubahan tekanan ini menyebabkan foramen ovale menutup.
Tindakan mengklem dan memotong tali pusat membuat arteri
umbilikalis, vena umbilikalis dan duktus venosus segera
menutup dan berubah menjadi ligamen. Arteri hipogastrik juga
menutup dan menjadi ligamen.
2. Sistem hematopoesis
Karakteristik hematopoesis bayi baru lahir mencakup
sistem hematopoesis orang dewasa dengan variasi tertentu.
3. Sistem pencernaan
Penyesuaian paling kritis yang harus dialami bayi baru
lahir ialah penyesuaian sistem pernapasan. Paru-paru bayi cukup
bulan mengandung sekitar 20 ml cairan/kg. Udara harus diganti
oleh cairan yang mengisi traktus respiratori sampai alveoli. Pada
kelahiran pervaginam normal, sejumlah kecil cairan keluar dari
trakea dan paru-paru bayi.
Tarikan napas pertama terjadi. Hal ini disebabkan oleh
refleks yang dipicu oleh perubahan tekanan, pendinginan, bunyi,
cahaya dan sensasi lain yang berkaitan dengan proses kelahiran.

68

Bayi baru lahir biasanya bernapas melalui hidung.


Respons bayi terhadap obstruksi hidung ialah membuka mulut
untuk mempertahankan jalan napas.

4. Sistem ginjal
Pada kehamilan cukup bulan ginja menempati sebagian
besar dinding abdomen posterior. Letak kandung kemih dekat
dinding abdomen anterior dan kandung kemih merupakan organ
abdomen dan organ pelvis.
Fungsi ginjal yang mirip dengan fungsi yang dimiliki
orang dewasa, belum terbentuk pada tahun kedua kehidupan.
Biasanya sejumlah kecil urine terdapat dalam kandung kemih
bayi saat lahir, tetapi bayi baru lahir mungkin tidak
mengeluarkan urine selama 12 jam sampai 24 jam. Berkemih
sering terjadi setelah periode ini. Berkemih 6-10 kali dengan
warna urine pucat menunjukkan masukan cairan yang cukup.
Umumnya bayi cukup bulan mengeluarkan urine 15 sampai 60
ml per kg per hari.
5. Sistem cerna
Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna,
memetabolisme, dan mengabsorpsi protei dan karbohidrat
sederhana, serta mengemulsi lemak. Kecuali amylase penkreas,

69

karakteristik enzim dan cairan pencernaan bahkan bahkan sudah


ditemukan pada bayi yang berat badan lahirnya rendah.
Pada bayi baru lahir dengan dehidrasi yang adekuat
membrane mukosa mulutnya lembab dan berwarna merah muda.
Umumnya, membrane mukosa tidak pucat atau sianosis.
Pengeluaran air liur sering terlihat selama beberapa jam pertama
setelah bayi lahir.
Saat bayi lahir, tidak terdapat bakteri dalam saluran
cernanya. Segera setelah bayi lahir, orifisium oral dan orifisium
anal memungkinkan bakteri dan udara masuk. Bising usus bayi
dapat didengar satu jam setelah lahir. Biasanya konsentrasi
tertinggi terdapat di bagian bawah usus halus dan terutama di
usus besar. Flora normal usus bias membantu sintesis vitamin K,
asam folat, dan biotin.
Kapasitas lambung bervariasi dari 30 sampai 90 ml,
tergantung pada ukuran bayi. Waktu pengosongan lambung
sangat bervariasi. Beberapa factor seperti pemberian makanan,
jenis dan suhu makanan, serta stress psikis dapat mempengaruhi
waktu pengosongan lambung. Waktu ini bervariasi dari satu
sampai 24 jam. Regurgitasi dapat terlihat pada periode neonatal.
Sfingter kardia dan control staff lambung masih belum matur.
6. Sistem hepatica

70

Hati dan kandung empedu dibentuk pada minggu


keempat kehamilan. Pada BBL, hati dapat dipalpasi sekitar 1 cm
di bawah batas kanan iga karena hati besar dan menempati
sekitar 40 % rongga abdomen.
Hati janin yang berfungsi sebagai produksi haemoglobin
setelah bayi lahir mulai menyimpan zat besi sejak masih dalam
kandungan Apabila ibu mendapat cukup asupan besi selama
hamil, bayi akan memiliki simpanan besi yang dapat bertahan
sampai bulan kelima kehidupannya diluar rahim. Tempat ikatanalbumin serum yang adekuat tersedia, kecuali jika bayi
mengalami asfiksia neonatorium, cold stress, atau hipoglikemia.
Ibu yang menggunakan obat obatan sebelum melahirkan,
misalnya sulfa dan aspirin, dapat mengalami penurunan jumlah
tempat ikatan albumin pada bayi baru lahir. Walaupun bayi baru
lahir memiliki kapasitas fungsional untuk mengubah bilirubin,
kebanyakan bayi mengalami hiperbilirubinemia fisiologis.
Korones mencatat bahwa ikterik neonates terjadi akibat hal-hal
dibawah ini :
a. BBL memiliki produksi bilirubin dengan kecepatan produksi
yang lebih tinggi. Jumlah sel darah merah janin per kilogram
berat badannya lebih besar daripada pada orang dewasa.

71

Umur sel darah merah janin lebih pendek, 40 sampai 90 hari


dibanding 120 hari pda orang dewasa.
b. Terdapat cukup banyak reabsorpsi bilirubin pada usus halus
neonatus.

7. Sistem imun
Sel sel yang menyuplai imunitas bayi berkembang pada
awal kehidupan janin. Namun, sel-sel ini tidak aktif selama
beberapa bulan. Selama 3 bulan pertama kehidupan, bayi
dilindungi oleh kekebalan pasif yang diterima dari ibu. Barier
alami, seperti keasaman lambung atau produksi pepsin dan
tripsin, yang tetap mempertahankan kesterilan usus halus, belum
berkembang dengan baik sampai tiga atau 4 minggu. IgA
pelindung membrane lenyap dari traktus napas dan traktus
urinarius. IgA ini juga tidak terlihat pada traktus gastrointestinal,
kecuali jika bayi diberi ASI. Bayi mulai menyiintesis IgG dan
mencapai sekitar 40 % kadar IgG orang dewasa pada usia 1
tahun, sedangkan kadar orang dewasa dicapai pada usia 9 bulan.
IgA, IgD, dan IgE diproduksi secara lebih bertahap dan kadar
maksimum tidak dicapai sampai pada masa kanak kanak dini.
Bayi yang menyusui mendapat kekebalan pasif dari kolostrum

72

dan ASI Tingkat produksi bervariasi tergantung pada usia dan


kematangan bayi serta system imunitas yang dimilki ibu.
8. Sistem integument
Semua struktur kulit bayi sudah terbentuk saat lahir,
tetapi masih melum matang. Epidermis dan dermis tidak terikat
dengan baik dan sangat tipis. Verniks kaseosa juga berfungsi
dengan epidermis dan berfungsi sebagai lapisan pelingdung.
Bayi cukup bulan memiliki kulit kemerahan beberapa jam
setelah lahir, setelah itu warna kulit memucat menjadi warna
normal. BBL yang sehat dan cukup bulan tampak bulan. Lemak
subkutan yang berakumulasi selama trimester terakhir berfungsi
menyekat bayi. Lanurgo halus dapat terlihat di wajah, bahu dan
punggung.
9. Kelenjar lemak dan kelenjar keringat
Kelenjar keringat sudah ada pada saat bayi lahir, tetapi
kelenjar ini tidak merespon terhadap peningkatan suhu tubuh.
Verniks kaseosa suatu substansi seperti keju, merupakan produk
kelenjar sebasea. Walaupun sebasea sudah terbentuk dengan baik
sejak bayi lahir, tetapi kelenjar ini tidak terlalu aktif pada masa
kanak-kanak. Kelenjai ini mulai aktif saat fungsi androgen
meningkat yakni sesaat sebelum pubertas.
10. Sistem reproduksi

73

a. Wanita
Saat lahir ovarium bayi berisi beribu-ribu sel germinal
primitif. Sel-sel ini mengandung komponen lengkap ova
yang matur karena tidak terbentuk oogonia lagi setelah bayi
cukup bulan lahir. Korteks ovarium, yang terutama terdiri
dari folikel primordial, membentuk bagian ovarium yang
lebih tebal pada bayi baru lahir daripada pada orang dewasa.
Jumlah ovum berkurang sekitar 90 % sejak bayi lahir sampai
dewasa.
Peningkatan kadar estrogen semasa hamil, yang diikuti
dengan penurunan setelah bayi lahir, mengakibatkan
pengeluaran suatu cairan mukoid atau kadang-kadang
pengeluaran

bercak

darah

melalui

vagina

(pseudomenstruasi). Pada bayi baru lahir cukup bulan, labia


mayora dan minora menutupi vestibulum. Pada bayi
premature klitoris menonjol dan labia mayora kecil dan
terbuka.
b. Pria
Testis turun kedalam skrotum pada 90% bayi baru lahir
laki-laki. Prepusium yang ketat sering kali dijumpai pada
bayi bartu lahir. Muara uretra dapat tertutup prepusium dan
tidak dapat ditarik kebelakang selama 3 sampai 4 tahun.

74

Sebagai respon terhadap estrogen ibu, ukuran genital


eksterna bayi bartu lahir cukup bulan dapat meningkat,
begitu juga dengan pigmentasinya. Terdapat rugae yang
melapisi kantong skrotum.

11. Sistem skelet


Arah

pertumbuhan

sefalo

kaudal

terbukti

pada

pertumbuhan tubuh secara keseluruhan. Kepala bayi cukup bulan


berukuran seperempat panjang tubuh. Lengan sedikit lebih
panjang daripada tungkai. Wajah relatif kecil terhadap ukuran
tengkorak yang jika dibandingkan lebih besar dan berat. Ukuran
dan bentuk cranium dapat mengalami distorsi akibat moulase.
Pada BBL lutut saling berjauhan satu kaki diluruskan dan
tumit

disatukan,

sehingga

tungkai

bawah

terlihat

agak

melengkung. Saat baru lahir, tidak terlihat lengkungan pada


telapak kaki.
Ekstremitas harus simetris, harus terdapat kuku jari
tangan dan jari kaki. Garis-garis telapak tangan sudah terlihat.
Terlihat juga garis pada telapak kaki bayi cukup bulan.
12. Sistem neouromuskular
Saat ini, BBL cukup bulan dikenal sebagai makhluk yang
reaktif, responsive dan hidup. Perkembangan sensorik bayi baru

75

lahir dan kapsitas untuk melakukan interaksi sosial dan


organisasi sangat jelas terlihat.
Aktifitas motorik spontan dapat muncul dalam bentuk
tremor sementara dimulut dan didagu, terutama sewaktu
mengangis, dan pada ekstremitas terutama pada lengan dan
tangan, Tremor ini normal.
Kontrol neuromuskuler pada BBL walaupun masih sangat
terbatas dapat ditemukan. Apabila bayi baru lahir diletakkan
diatas permukaan yang keras dengan wajah menghadap ke
bawah, bayi akan memutar kepalannya ke samping untuk
mempertahankan jalan nafas. Bayi berusaha mengangkat
kepalanya supaya tetap sejajar dengan tubuhnya bila kedua
lengan bayi ditarik keatas hingga kepala terangkat.
13. Sistem termogenik
Perawatan neonatus yang efektif didasarkan pada upaya
mempertahankan suhu optimum udara diruangan. Suhu tubuh
dipertahankan supaya tetap berada pada batas sempit suhu tubuh
normal dengan memproduksi panas sebagai respon terhadap
pengeluaran panas. Kemampuan BBL untuk memproduksi panas
sering kali mendekati kapasitas orang dewasa. Akan tetapi,
kecenderungan pelepasan panas yang cepat pda lingkungan yang

76

dingin lebih besar dan sering menjadi suatu keadaan yang


membahayakan bagi BBL.
Mekanisme produksi panas dengan cara menggiggil jarang
terjadi pada BBL. Termogenesis tanpa menggiggil dapat dicapai,
terutama akibat adanya lemak cokelat yang unik pada BBL dan
kemudian dibentuk akibat peningkatan aktivitas metabolisme di
otak, di jantung dan di hati. Lemak cokelat terdapat dalam
cadangan permukaan, yaitu didaerah interskapula dan diaksila
serta dibagian yang lebih dalam yaitu di pintu masuk toraks,
disepanjang columna vertebralis dan disekitar ginjal. Padas yang
dihasilkan aktivitas metabolisme lipid di dalam lemak cokelat
dapat menghangatkan BBL dengan meningkatkan produksi
panas sebesar 100%. Cadangan lemak cokelat ini bertahan
selama beberapa minggu setelah bayi lahir dan menururn dengan
cepat jika stress dingin.
b. Karakteristik perilaku
1. Siklus tidur-terjaga
Variasi tingkat kesadaran BBL disebut siklus tidurterjaga. Ada 2 keadaan tidur, yaitu tidur yang dalam serta tidur
yang tidak dalam dan ada 4 tahap terjaga, keadaan mengantuk,
waspada-tenang (quite alert), waspada-aktif (actif alert) dan
menangis.

77

BBL tidur 17 jam sehari dengan periode terjaga yang semakin


hari semakin panjang. Pada minggu ke-4, beberapa bayi mulai
teteap terjaga diantara waktu pemberian makan.

2. Perilaku sensori
a. Penglihatan
Saat lahir, pupil bayi bereaksi terhadap rangsangan
cahaya dan memperlihatkan refleks mengedip dengan mudah.
Kelenjar air mata biasanya belum berfungsi sampai bayi
berusia 2 sampai 4 minggu. Jarak pandang yang paling jelas
ialah 17 sampai 20 cm, yaitu kira-kira jarak wajah bayi
kewajah ibu saat menyusui. Bayi baru lahir sensitive terhadap
cahaya. Bayi akan mengerutkan wajah bila suatu cahaya
terang diarahkan ke wajahnya dan akan memalingkan kepala
ke cahaya yang teduh. Apabila ruangan digelapkan, mereka
akan membuka mata mereka dan melihat sekeliling.
b. Pendengaran
Segera setelah cairan amnion keluar dari telinga
pendengaran bayi sama dengan pendengaran orang dewasa.
Keadaan ini terjadi sejak 1 menit setelah BBL. BBL berespon
terhadap bunyi berfrekuensi rendah seperti denyut jantung

78

atau suara yang meninabobokan mereka dengan menurunkan


aktivitas motorik atau menangis. Respon terhadap bunyi
berfrekuensi tinggi ialah menunjukkan suatu reaksi terjaga.
c. Sentuhan
Semua bagian tubuh bayi merespon terhadap sentuhan.
wajah, terutama mulut, tangan dan telapak kaki tampaknya
merupakan daerah yang paling sensitif.
d. Pengecap
BBL memiliki system kecap yang berkembang baik dan
larutan yang berbeda menyebabkan bayi memperlihatkan
akspresi wajah yang berbeda. Larutan yang hambar tidak
membuat bayi berespon, sedangkan larutan yang manis
membuat bayi mengisap dengan semangat.
e. Penciuman
Indera penciuman bayi baru lahir sudah berkembang
baik saat bayi lahir. BBL tampaknya memberi rekasi yang
sama dengan rekasi orang dewasa, bila diberi bau yang
menyenangkan. Bayi yang disusui mampu membaui ASI dan
dapat membedakan ibunya dari ibu lain yang juga menyusui.
Bayi wanita yang diberi susu botol lebih menyukai bau wanita
yang menyusui daripada wanita lain yang tidak menyusui.

79

Bau ibu ini dipercaya mempengaruhi pemberian makan.


(Bobak, Keperawatan Maternitas, 2004, Hal 362)

2.4.3

Asuhan dan penanganan BBL


1. Membersihkan jalan nafas
Bayi normal akan menangis spontan segera setelah lahir.
Apabila tidak menangis secara spontan maka segera bersihkan jalan
nafas dengan cara meletakkan kepala bayi pada posisi telentang
ditempat yang keras dan hangat, gulung sepotong kain dan letakkan
dibawah bahu sehingga leher bayi lebih lurus dan kepala tidak
menekuk. Posisis kepala diatur lurus sedikit tengadah ke belakang.
Bersihkan hidung, rongga mulut, dan tenggorokkan bayi dengan jari
tangan yang dibungkus kassa steril, kemudian tepuk kedua telapak
kaki bayi sebanyak 2-3 kali atau gosok kulit bayi dengan kain
kering kasar. Dengan rangangan ini biasanya bayi akan menangis.
2. Memotong dan merawat tali pusat
Tali pusat dipotong sebelum atau sesudah plasenta lahir tidak begitu
menentukan dan tidak akan mempengaruhi bayi, kecuali pada bayi
kurang bulan. Apabila bayi lahir tidak menangis, maka tali pusat
segera dipotong untuk memudahkan melakukan tindakan resusitasi

80

pada bayi. Tali pusat dipotong 5 cm dari dinding perut bayi dengan
gunting steril dan diikat dengan pengikat steril. Luka tali pusat
dibersihkan dan dirawat dengan alkohol 70% atau povidon iodine
10% serta dibalut kasa steril. Pembalut tersebut diganti setiap hari
atau setiap tali basah atau kotor.
Sebelum memotong tali pusat, dipastikan bahwa tali pusat telah
diklem dengan baik untuk mencegah terjadinya perdarahan.
- Alat pengikat tali pusat atau klem harus selalu siap tersedia
di ambulans, di kamar bersalin, ruang penerima bayi, dan
ruang perawatan bayi.
-

Gunting steril juga siap.

- Pantau kemungkinan terjadinya perdarahan dari tali pusat.


3. Mempertahankan suhu tubuh bayi
Pada waktu baru lahir, bayi belum mampu mengatur tetap suhu
badannya

dan

membutuhkan

pengaturan

dari

luar

untuk

membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir harus dibungkus hangat.


Suhu tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur
yang hangat sampai suhu tubuhnya sudah stabil. Suhu bayi harus
dicatat.
4. Memberi vitamin K

81

Kejadian perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru


lahir dilaporkan cukup tinggi, berkisar 0,25-0,5%. Untuk mencegah
terjadinya perdarahan tersebut, semua bayi baru lahir normal dan
cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral 1 mg/hari selama 3 hari,
sedangkan bayi risiko tinggi diberi vit K parenteral dengan dosis
0,5-1 mg IM.
5. Memberi obat tetes mata
Setiap bayi baru lahir perlu diberi salep mata sesudah 5 jam lahir
yaitu guna mencegah oftalmia neonatorum. Pemberian obat mata
eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1 % dianjurkan untuk mencegah
penyakit mata klamidia ( penyakit menular seksual ).
6. Mencegah infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh
paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan
berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir.
7. Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan di tempat bersalin yang persalinannya
mungkin lebih dari satu persalinan maka sebuah alat pengenal yang
efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus di
tempatnya sampai waktu bayi dipulangkan.
8. Pemantauan Bayi Lahir

82

Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui


aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah kesehatan
bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan penolong
persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
1. Dua jam Pertama Setelah Lahir
Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama
sesudah lahir meliputi :
- Kemampuan menghisap kuat atau lemah
- Bayi tampak aktif atau lunglai
- Bayi kemerahan atau biru
2. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya,
penolong persalinan melakukan pemeriksaan dan penilaian
terhadap ada atau tidaknya masalah kesehatan yang
memerlukan tindak lanjut seperti :
- Bayi kecil untuk masa kehamilan bayi kurang bulan
- Gangguan pernapasan
- Hipotermia
- Infeksi
- Cacat bawaan dan trauma lahir
(Saifuddin, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,
2007, Hal 133-136)
2.4.4

Pemeriksaan fisik

83

Adapun pemeriksaan fisik yang dilakukan pada bayi meliputi:


a. Pengukuran berat badan
1. Timbang berat badan menggunakan timbangan bayi.
2. Lakukan penilaian dari hasil penimbangan, dengan kategori:
a) Normal

: 2500-3500 gram

b) Prematur

: < 2500 gram

c) Makrosomia

: > 3500 gram

a. Pengukuran panjang badan


1. Ukur panjang badan dengan menggunakan pengukuran
panjang badan.
2. Lakukan penilaian dari hasil pengukuran, dengan kategori
normal adalah 45-50 cm.
b. Pemeriksaan kepala
Prosedur :
1.

Ukur lingkar kepala

2. Lakukan penilaian hasil pengukuran, bandingkan dengan


lingkar dada, jika diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar
dada. Bayi mengalami hidrosepalus dan jika diameter kepala
lebih kecil 3 cm dari lingkar dada, bayi tersebut mengalami
mikrosefalus.
3. Kaji jumlah dan warna dan adanya lanurgo terutama di daerah
bahu dan punggung.

84

4. Kaji adanya moulase, yaitu tulang tengkorak yang saling


menumpuk pada saat lahir, apakah simetris atau tidak.
5. Kaji kaput suksedanium (oedema kulit kepala, lunak, dan tidak
berfluktuasi, batas tidak tegas, dan menyebrangi sutura, akan
menghilang dalam beberapa hari)
6. Kaji sefalhematoma yang terjadi sesaat setelah lahir dan tidak
tampak pada hari pertama karena tertutup kaput suksedanium,
konsistensinya lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi
tulang

tengkorak,

tidak

menyebrangi

sutura

dan

jika

menyebrangi sutura akan mengalami fraktur tulang tengkorak.


Sefalhematom akan hilang dengan sempurna dalam waktu 2-6
bulan.
7. Kaji adanya perdarahan akibat pecahnya pembuluh vena yang
menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak,
batasnya tidak tegas sehingga bentuk kepala tampak asimetris
dengan palpasi teraba fluktuasi.
8. Kaji adanya fontanel dengan cara melakukan palpasi
menggunakan jari tangan, denyutannya sama dengan denyut
jantung kemudian fontanel posterior akan dilihat proses
penutupan setelah usia 2 bulan dan fontanel anterior menutup
saat usia 12-18 bulan.
c. Pemeriksaan Mata

85

Prosedur :
1. Kaji adanya strabismus (koordinasi gerakan mata yang belum
sempurna) dengan cara menggoyang kepala secara perlahanlahan sehingga mata bayi akan terbuka.
2. Kaji adanya kebutuhan jika bayi jarang berkedip atau
sensitivitas terhadap cahaya berkurang.
3. Kaji tanda sindrom down jika ditemukan adanya epikantus
yang melebar.
4. Kaji adanya katarak kongenital jika pupil berwarna putih.
5. Kaji trauma pada mata seperti adanya edema palbebra,
perdarahan konjungtiva, retina dan lain-lain.
d. Pemeriksaan Telinga
Prosedur :
1. Kaji adanya gangguan pendengaran dengan menggunakan bel,
apakah terjadi refleks terkejut, jika tidak terjadi refleks terkejut
kemungkinan bayi mengalami gangguan pendengaran.
2.

Kaji prosedur hubungan mata dengan telinga.

e. Pemeriksaan Hidung dan Mulut


1. Kaji pada pernapasan dengan cara melihat napas, jika bayi
bernapas melalui mulut, kemungkinan bayi mengalami
obstruksi jalan napas. Karena adanya atresia koana bilateral

86

atau fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke


nasofaring.
2. Kaji napas cuping hidung yang menunjukan gangguan paru paru.
3. Kaji adanya kista di mukosa mulut.
4. Kaji lidah untuk menilai warna, kemampuan refleks menghisap
dengan mengamati saat menyusui. Jika ditemukan lidah
menjulur keluar, dapat diduga adanya kacacatan kongenital.
Kemudian kaji bercak di mukosa mulut, palatum dan pipi
biasanya disebut monila albicans.
5. Kaji gusi untuk menilai adanya pigmen gigi apakah terjadi
penumpukan pigmen yang tidak sempurna.
f. Pemeriksaan Leher
1. Kaji adanya pembengkakan dan benjolan.
2. Kaji pergerakan leher, jika terjadi keterbatasan gerakan,
kemungkinan tejadi kelainan di tulang leher, seperti kelainan
tiroid, hemangioma, dan lain-lain.
g. Pemeriksaan dada dan Punggung
1. Kaji adanya kelainan bentuk
2. Kaji kesimetrisan, jika tidak simetris, kemungkinan bayi
mengalami pnemotoraks, paresis diafragma, atau hernia
diafragmatika.

87

3. Kaji ada tidaknya fraktur klavikula dengan cara maraba duktus


kordis dengan menentukan posisi jantung.
4. Kaji frekuensi dan suara jantung dengan auskultasi stetoskop.
5. Kaji

bunyi

pernafasan,

bunyi

napas

bayi

adalah

bronkovesikuler dan bising usus yang terdengar di daerah dada


menunjukan hernia diafragmatika.
h. Pemeriksaan Abdomen
1. Kaji bentuk abdomen jika ditemukan bentuk abdomen
membuncit, kemungkinan disebabkan hepatosplenomegali atau
cairan di dalam rongga perut.
2.

Kaji adanya kembung dengan perkusi.

i. Pemeriksaan tulang belakang dan ekstremitas


1. Kaji adanya kelainan tulang belakang (sepeti skoliosis,
meningokel, spina bifida) dengan cara bayi diletakkan pada
posisi tengkurap, kemudian tangan meraba sapanjang tulang
belakang.
2. Kaji adanya kelemahan atau kelumpuhan dengan cara melihat
posisi kedua kaki, adanya pes equinovarus atau valgus dan
keadaan jari-jari tangan dan kaki apakah polidaktili.
j. Pemeriksaan genetalia
1. Kaji adanya labia mayora yang menutupi labia minora, lubang
uretra dan vagina terpisah. Jika ditemukan satu lubang terjadi

88

kelainan dan jika ada sekret dilubang vagina, hal tersebut


karena pengaruh hormon maternal.
2. Kaji adanya fimosis, hipospadia yang merupakan defek di
bagian ventral ujung penis atau defek disepanjang penis dan
epispadia merupakan kelainan defek pada dorsum penis.
k. Pemeriksaan anus dan rektum
1.

Kaji adanya kelainan atresia ani atau mengetahui

posisinya.
2. Kaji adanya mekonium. Secara umum mekonium keluar dalam
rentang 24 jam jika dalam 48 jam belum keluar kemungkinan
mekonium pluf syndrome, megakolon, atau obstruksi saluran
pencernaan.
l. Pemeriksaan Kulit
1. Kaji adanya verniks kasiosa yang merupakan zat bersifat
seperti lemak berfungsi sebagai pelumas atau sebagai isolasi
panas pada bayi cukup bulan.
2. Kaji adanya lanurgo, yakni rambut halus di punggung bayi,
jumlahnya lebih banyak pada bayi kurang bulan daripada bayi
cukup bulan. (Aziz, Asuhan Neonatus Bayi dan Balita, 2008,
Hal 1726).

2.5

NIFAS

89

2.5.1 Definisi Masa Nifas


Nifas adalah masa nifas ( puerperium ) dimulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil, masa nifas

berlangsung

selama kira-kira

6 minggu. ( Saifudin, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,.


2006, Hal 121 )
Masa nifas (postpartum/puerpurium) berasal dari bahasa latin
yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous yang berarti
melahirkan. Yaitu masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama pada
masa ini berkisar sekitar 6 8 minggu. (Sujiyatini, Asuhan Ibu Nifas,
2010, Hal 1)
Masa nifas atau puerpurium adalah masa yang dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kendungan kembali ke
keadaan sebelum hamil, dimana masa ini berlangsung selama kira-kira
6 minggu. (Maryuani, Biologi Reproduksi dalam Kebidanan, 2010,
Hal 337)

2.5.2 Tujuan Asuhan Masa Nifas


Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas ialah untuk :
1. Menjaga

kesehatan

psikologisnya.

ibu

dan

bayinya,

baik

fisik

maupun

90

2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,


mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun
bayinya.
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan
diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi
kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.
(Saifuddin, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2006, Hal 122)
2.5.3 Tahapan Masa Nifas
Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1.

Puerperium dini : Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan


untuk berdiri dan berjalan-jalan.

2.

Puerperium intermedial : Suatu masa dimana kepulihan


menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

3.

Remote puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan


sehat sempurna yang berlangsung sekitar 3 bulan. Tapi bila selama
hamil maupun bersalin ibu mempunyai komplikasi masa ini bisa
berlangsung lebih lama sampai tahunan.
(Sujiyatini, dkk, Asuhan Ibu Nifas, 2010, Hal 1)

2.5.4 Perubahan fisiologis masa nifas

91

Ibu yang mengalami masa nifas akan mengalami perubahanperubahan fisiologi, yaitu:
a.

Involusi alatalat kandungan


1. Uterus secara berangsurangsur menjadi kecil (involusi)
sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil.

Tabel 5. Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa


involusi
Involusi

Tinggi fundus uteri

Berat uterus

Bayi lahir

setinggi pusat

1000 gram

Uri lahir

2 jari bawah pusat

750 gram

1 minggu

pertengahan pusat simfisis

500 gram

2 minggu

tak teraba di atas simfisis

300 gram

6 minggu

bertambah kecil

50 gram

8 minggu
sebesar normal
(Winkjosastro, 2006)

30 gram

2. Bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta lahir seluas


12 x 5 cm, dimana pembuluh darah besar bermuara. Bekas luka
implantasi dengan cepat mengecil, pada minggu ke 2 sebesar 6

92

-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm. Luka bekas


imlantasi

plasenta

akan

sembuh

karena

pertumbuhan

endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis


endometrium.
3. Luka luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan
sembuh dalam 6-7 hari.
4. Rasa sakit yang disebut after faint ( meriam atau mules)
disebabkan kontraksi, biasanya berangsung 2-4 hari pasca
persalinan.
5. Lochea
Lockea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas, lochea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari
dalam uteus.
Lockea terdiri dari 4 tahapan :
a) Lochea Rubra : muncul pada hari 1 sampai hari ke 4 post
partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena berisi
darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim,
lemak bayi, lanugo (rambut bayi) dan mekonium.
b) Lochea sanguinolenta : berwarna merah kecoklatan dan
berlendir, berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7
postpartum.

93

c) Lochea serosa : berwarna kuning kecoklatan karena


mengandung serum, leukosit dan robekan/laserasi plasenta.
Muncul pada hari ke 7 sampai hari 14 postpartum.
d) Lochea alba : mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
Lochea alba bisa berlangsung selama 2 samapai 6 minggu
postpartum.
b.

Perubahan pada mammae


Sejak kehamilan muda sudah terdapat persiapan-persiapan
pada kelenjar-kelenjar mammae untuk menghadapi laktasi.
Umumnya produksi ASI baru berlangsung pada hari ke 2-3 post
partum. Pada hari pertama yaitu air susu yang mengandung
colostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental dari pada
ASI, mengandung protein yang mudah dicerna dan mengndung
antibody. Rasangan psikis ibu juga merupakan refleks ke otak
untuk merangsang keluarnya oksitosin sehingga ASI dapat
dikeluarkan dan sekaligus mempunyai efek samping memperbaiki
involusi uteri. Keuntungan lain dari menyusui ialah timbulnya rasa
kasih sayang sehingga tumbuh suatu pertalian yang intim antara
ibu dan bayi.

c.

Perubahan pada serviks

94

Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh


pembuluh darah. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat
laserasi/perlukaan kecil. Bentuknya

seperti corong karena

disebabkan oleh korpus uteri yang mengadakan kontraksi. Muara


serviks yang berdilatasi 10 cm pada waktu persalinan, menutup
secara bertahap. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk
rongga rahim, setelah 2 jam dapat dimasuki 2-3 jari, pada minggu
ke 6 postpartum serviks menutup.
d.

Kembalinya menstruasi dan ovulasi


Jika wanita setelah melahirkan tidak menyusui, menstruasi
mungkin akan kembali dalam 6-8 minggu setelah persalinan.
Tetapi secara klinis sulit untuk menentukan waktu spesifik masa
menstruasi pertama setelah melahirkan.

e.

Perubahan pada vagina


Vagina adalah jalan lahir bayi pada persalinan spontan
/normal pada saat persalinan terjadi peregangan dan luka-luka
pada vagina tersebut karena di lalui oleh bayi akan tetapi luka-luka
pada vagina akan berangsur-angsur pulih seperti sedia kala pada
saat nifas.

f.

Perubahan pada sistem kardiovaskuler


Pada masa hamil tedapat hubungan pendek yang dikenal
sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. Setelah

95

melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba, volume darah


pada ibu relatif bertambah. Keadaan ini menimbulkan beban pada
jantung, keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi
dengan timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah dapat
kembali seperti semula. Umumnya hal ini terjadi pada hari ke 3-15
post partum.

g.

Perubahan Sistem muskulosletal


Pada periode post partum, terjadi sedikit relaksasi otot dan
hypermobilitas persendian. Ibu akan mengalimi kelelahan otot
akibat proses persalinan. Kondisi otot akan kembali normal pada
minggu pertama post partum.

h.

Perubahan tanda-tanda vital


Tekanan darah, suhu, pernafasan, dan nadi perlu diatasi
karena merupakan gejala kelainan apabila keadaan tidak normal.
Tekanan darah mengalami sedikit perubahan pada 48 jam pertama
post partum. Sehabis melahirkan biasanya suhu tubuh meningkat
akibat efek dehidrasi selama persalinan. Pada nadi terjadi
peningkatan pada jam-jam pertama post partum. Sedangkan pada
pernafasan dalam 1-2 jam post partum.

i.

Perubahan pada sistem perkemihan

96

Ibu setelah bersalin diharapkan maksimal 6 jam persalinan


post partum ibu sudah kencing sendiri akibat pada partus
muskulus spingter vesika ex uretra mengalami tekanan oleh kepala
janin sehingga fungsinya terganggu. Bila hal ini terjadi, lakukan
kateterisasi pada ibu tersebut.
j.

Perubahan pada pencernaan


Pada sistem pencernaan sangat disarankan pada ibu setelah
bersalin mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung
protein untuk proses penyembuhan luka-luka setelah persalinan.
Banyak mengandung serat agar mempermudah pada saat defekasi
dan cukup kalori dan air untuk pemulihan tenaga selama
persalinan.

k.

Perubahan pada perineum


Perineum ibu pada saat persalinan spontan kadang-kadang
mengalami luka. Hal ini sering tejadi pada ibu yang mempunyai
perineum kaku sehingga luka-luka tersebut harus dijahit agar
kembali seperti semula.

l.

Produksi ASI
Selama kehamilan payudara ibu membesar dalam rangka
mempersiapkan produksi ASI. Bayi segera disusui setelah lahir
dan sesering mungkin. Pengisapan payudara pada bayi akan
merangsang produksi ASI. Setelah ASI mengalir dan bayi

97

menyusui secara teratur, maka payudara menjadi lunak dan terasa


lebih nyaman. ASI merupakan makanan yang paling tepat bagi
bayi karena mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi,
mudah dicerna dan memberikan perlindungan terhadap infeksi.
m. Perubahan pada hematology
Dalam 72 jam pertama post partum terjadi kehilangan
sejumlah volume plasma darah. Hal ini menyebabkan hematokrit
meningkat dan HB mengalami penurunan hingga 7 hari post
partum. Faktor pembekuan darah dan fibrinogen akan meningkat
setelah melahirkan. HB ibu rata-rata menurun karena kehilangan
banyak darah pada persalinan, namun akan kembali jika asupan
gizi benar. Jagalah ibu agar tidak terjadi anemis.
n.

Perubahan pada endokrin


Akan terjadi perubahan sistem hormon, terutama hormon
progesteron akan menurun dan hormon prolaktin meningkat untuk
persiapan laktasi. Hormon FSH akan kembali muncul sehingga
pematangan sel telur akan segera terjadi, akan tetapi FSH sedikit
tertekan oleh hormon prolaktin sehingga jarang terjadi ovulasi
pada ibu yang menyusui. (Ambarwati, Asuhan Kebidanan Nifas,
2008, Hal 73-79).

2.5.5 Perubahan Psikologis pada masa nifas

98

Pada masa nifas, wanita banyak mengambil perubahan selain


fisik yaitu antara lain wanita meningkat emosinya. Pada masa ini
wanita mengalami transisi menjadi orang tua. Fase yang dilalui oleh
ibu postpartum :
1.

Taking in
Yaitu terjadi fantasi, introspeksi, proyeksi dan penolakan.
Perhatian ibu terutama pada dirinya, mungkin pasif dan
ketergantungan. Ciri-cirinya :
a.

Terjadi pada 2-3 hari setelah melahirkan

b.

Bersifat

passive

dan

tergantung,

segala

energinya difokuskan pada kekhawatiran tentang badannya.


c.

Ibu mungkin bercerita tentang pengalamannya


berulang-ulang.

d.

Istirahat tidur dan tidak terganggu adalah sangat


penting karena kelelahan.

e.

Kadang ibu tidak menginginkan kontak dengan


bayinya, tetapi bukan berarti tidak menyayangi bayinya, ibu
hanya mengenang pengalaman melahirkan.

2.

Taking on/Taking Hold


Yaitu meniru dan role play. Cirinya :
a. Terjadi pada hari 3-10 setelah melahirkan

99

b. Ibu menjadi khawatir akan kemampuannya merawat bayi dan


menerima tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang makin
besar.
c. Ibu memfokuskan dirinya dalam mengambil kembali kontrol
akan fungsi tubuhnya sendiri (BAB, BAK, dll)
d. Ibu mempunyai perasaan sangat sensitive sehingga mudah
tersinggung dan gampang marah.
e. Ibu mencoba keterampilan merawat bayinya.

3.

Letting go
a. Terjadi pada 10 hari setelah melahirkan/setelah ibu pulang dari
RS.
b. ibu mengambil tanggung jawab dalam merawat bayinya.
c. Ibu menyesuaikan dirinya dengan kebutuhan ketergantungan
bayinya.
d. Berkurang otonomi dirinya.
e. Berkurang ketergantungannya pada orang lain.
f. Mulai terjadi postpartum blues.
(Sujiyatini, Asuhan Ibu Nifas, 2010, Hal 155-158)

2.5.6 Asuhan Kebidanan pada masa nifas

100

1. Kebersihan diri
a. Anjurkan kebersihan seluruh tubuh
b. Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin
dengan sabun dan air.
c. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut dua kali sehari
d. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya
e. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan pada
ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka

2. Istirahat
a. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup serta untuk tidur siang atau
beristirahat selagi bayi tidur
b. Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan-kegiatan rumah tangga
seperti biasa secara perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau
istirahat selagi bayi tidur
c. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal
yaitu, mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat
proses

involusi

uterus

dan

memperbanyak

perdarahan,

menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi


dan dirinya sendiri
3. Latihan

101

a. Mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal. Ibu


akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya
menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung
b. Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot pantat dan
pinggul tahan sampai 5 kali hitungan. Kendurkan dan ulangi
latihan sebanyak 5 kali. Setiap minggu naikan jumlah latihan 5
kali lebih banyak. Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus
mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali
4. Gizi
a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein,
mineral dan vitamin yang cukup
c. Minum sedikit 3 liter air setiap hari
d. Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama
40 hari pasca persalinan
e. Minum kapsul vitamin A ( 200.000 unit ) agar bisa memberikan
vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya
5. Perawatan Payudara
a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering
b. Menggunakan BH yang menyokong payudara
c. Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang
keluar pada sekitar puting susu setiap kali selesai menyusui.

102

6. Hubungan Perkawinan
Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu
darah merah berhenti dan ibu dapat memasukan satu atau dua
jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri.
7. Keluarga Berencana
Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2
tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus
menentukan

sendiri

kapan

dan

bagaimana

mereka

ingin

merencanakan tentang keluarganya. Jika ibu atau pasangan telah


memilih metode KB tertentu, ada baiknya untuk bertemu
dengannya lagi dalam dua minggu untuk mengetahui apakah ada
yang ingin ditanyakan oleh ibu dan untuk memastikan apakah
metode tersebut bekerja dengan baik atau tidak.
(Saifuddin, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal, 2007, Hal 127 129)
2.5.7 Kunjungan masa nifas
1. Kunjungan I ( 6-8 jam setelah persalinan )
Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri,
mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, memberikan
konseling pada ibu atau keluarga bagaiman mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri, pemberian ASI awal, melakukan
hubungan antara ibu dan bayi baru lahir dan menjaga bayi tetap

103

sehat dengan cara mencegah hipotermia, mendampingi ibu dan bayi


baru lahir bagi petugas kesehatan yang menolong persalinan ibu
minimal 2 jam setelah lahir atau sampai kondisi ibu dan bayi stabil.
2. Kunjungan II ( 6 hari setelah persalinan )
Memastikan involusi uterus berjalan normal yaitu : uterus
berkontraksi, fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan
maupun bau yang abnormal, menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi atau perdarahan abnormal, memastikan ibu mendapatkan
cukup makan, cairan dan istirahat, memastikan ibu menyusui
dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit,
memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3. Kunjungan III ( 2 minggu setelah persalinan )
Sama dengan kunjungan 6 hari setelah bersalin.
4. Kunjungan IV ( 6 minggu setelah persalinan )
Mengidentifikasi tentang kemungkinan terjadinya penyulit
pada ibu dan bayinya, memberikan konseling metode kontasepsi/
KB secara dini.
(Sujiyatini, dkk, Asuhan Ibu Nifas, 2010, Hal 5)

104

2.6

KELUARGA BERENCANA (KB)


2.6.1
Definisi
Pengertian keluarga berencana menurut UU No. 10 tahun 1992
(tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga
sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta
masyarakat melalui Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keuarga kecil, bahagia dan sejahtera. (Noviawati, 2008,

Panduan

Lengkap Pelayanan KB Terkini, Hal 28)


Keluarga berencana adalah usaha untuk mengukur jumlah dan
jarak anak yang diinginkan. Untuk dapat mencapai hal tersebut maka
dibuatlah beberapa cara atau alternative untuk menunda atau mencegah
kehamilan. Cara-cara tersebut termasuk kontrasepsi atau pencegahan
kehamilan dan perencanaan keluarga. (Sujiyatini, dkk, Asuhan Ibu
Nifas, 2010, Hal 222)
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen.
Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang
mempengaruhi fertilitas. (Sarwono, Ilmu Kebidanan, 2006, Hal 905)

2.6.1

Tujuan Program KB

105

Secara umum tujuan lima tahun kedepan yang ingin dicapai


dalam rangka mewujudkan visi dan misi program KB adalah
membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi
pelaksanaan program KB nasional yang kuat dimasa mendatang,
sehingga visi untuk mewujudkan keluarga berkualitas 2015 dapat
tercapai.
Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi
perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi
yang berkualitas, menurunkan tingkat/kematian ibu, bayi dan anak
serta penanggulangan masalah program kesehatan reproduksi dalam
rangka membangun keluarga kecil berkualitas.
Tujuan
berkualitas

program
adalah

penguatan
untuk

kelembagaan

membina

keluarga

kemandirian

kecil

sekaligus

meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan KB dan kesehatan


reproduksi, serta pemberdayaan dan ketahanan keluarga terutama
daerah industri masyarakat di perkotaan dan pedesaan. (Noviawati,
Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini, 2008, Hal 28)
2.6.2

Persyaratan medis dalam penapisan klien


a. Umum

106

Pelayanan dan informasi Keluarga Berencana merupakan


intervensi

kunci

dalam

upaya

meningkatkan

kesehatan

perempuan dan anak, serta merupakan hak asasi manusia.


Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam teknologi
kontrasepsi misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosis
yang rendah pada pil kombinasi atau dari AKDR inert ke AKDR
yang mengeluarkan levonogestrel. Perkembangan ini telah
menghasilhan pilihan lebih banyak tentang metode kontrasepsi
yang lebih efektif dan aman. Dilain pihak masih banyak
pasangan diseluruh dunia yang belum mendapat akses terhadap
pelayanan keluarga berencana karena berbagai faktor seperti
masalah logistik, sosial, perolaku, organisasi dan prosedur dalam
sistem pelayanan kesehatan yang perlu diperbaiki.
Untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan kb yang bermutu
yang dilakukan berbagai strategi misalnya :
- hak-hak klien perlu dipertimbangkan dalam perencanaan,
manajemen, dan penilaian dalam pelayanan
- meningkatkan

persediaan

berbagai

metode

kontrasepsi

sehingga klien dapat memilih metode kontrasepsi sehingga


klien dapat memilih metode kontrasepsi yang paling cocok
untuk mereka

107

- melaksanakan konseling dan pelayanan kb berdasar kriteria


dan persyaratan medis yang terkini
b. Isu tentang mutu pelayanan dan akses yang mempengaruhi
pemberian kontrasepsi
Klien harus memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat
memilih kontasepsi yang sesuai untuk mereka. Informasi
tersebut

meliputi

pemahaman

efektifitas

relatif

(relative

effectiveness) dari metode kontrasepsi, cara kerja, efek samping,


manfaat dan kerugian metode tersebut, gejala dan tanda yang
perlu ditindak lanjuti di klinik/fasilitas kesehatan lainnya,
kembalinya kesuburan dan perlindungan terhadap PMS.
Fasilitas kesehatan, tenaga terlatih dan alat yang mendukung
yang cukup untuk menjamin pemasangan alat sesuai dengan
standar.
Peralatan dan pasokan yang cukup serta sesuai dengan
kebutuhan
Petugas pelayanan yang dilengkapi dengan panduan-panduan
agar terhindar dari risiko dan agar penapisan yang sesuai.
Petugas harus mendapatkan pelatihan tentang konseling KB.
c. Efektivitas

108

Dalam hubungan pilihan kontrasepsi, klien perlu diberi informasi


tentang :
- Efektivitas relatif dari berbagai metode kontrasepsi yang
tersedia;
-

Efek negatif kehamilan yang tidak diinginkan pada kesehatan


dan risiko kesehatan potensial pada kehamilan dengan kondisi
medis tertentu.

d. Kondisi yang meningkatkan risiko jika terjadi kehamilan


Keadaan-keadaan di bawah ini akan meningkatkan risiko jika
disertai kehamilan.
- Hipertensi (TD> 160/100 mmHg. Diabetes : insulin dependen ;
dengan nefropati/retinopati atau penyakit vaskular lain atau >
20 tahun telah menderita diabetes .
-

Penyakit jantung iskemik

Stroke

Penyakit jantung katup dengan hipertensi.

Karsinoma payudara

Karsinoma endometrium/ovarium.

Infeksi Menular Seksual.

HIV/AIDS

Sirosis hati

109

Hepatoma

Penyakit trofoblas ganas.

Penyakit Sel Sinkle (sel bulan sabit)

Skistosomiasis dengan fibrosis hati

Tuberkulosis

Pada keadaan-keadaan di atas perlu dipilih metode kontrasepsi


yang lebih efektif
e. Kembalinya kesuburan
Semua

metode

kontrasepsi,

kecuali

kontrasepsi

mantap

(sterilisasi), tidak mengakibatkan terhentinya kesuburan.


Kembalinya kesuburan berlangsung segera setelah pemakaian,
kecuali DMPA dan NET-EN yang waktu rata-rata kembalinya
kesuburan adalah masing-masing 10 dan 6 bulan terhitung mulai
suntikkan terakhir.
Kontrasepsi mantap harus dianggap sebagai metode permanen.
f. Klasifikasi persyaratan medis
Keadaan/kondisi yang mempengaruhi Persyaratan Medis dalam
penggunaan

setiap

kontrasepsi

yang

tidak

permanen

dikelompokkan kedalam 4 kategori:


1

Kondisi di mana tidak ada pembatas apa pun dalam

penggunaan metode kontrasepsi.

110

Penggunaan

kontrasepsi

lebih

besar

manfaatnya

dibandingkan dengan resiko yang diberikan akan terjadi.


3

Risiko yang diperkirakan lebih besar daripada manfaat

penggunaan kontrasepsi.
4

Risiko akan terjadi bila metode kontrasepsi tersebut

digunakan.
Kategori 1 dan 4 cukup jelas. Kategori 2 menunjukkan bahwa
metode tersebut dapat digunakan, tetapi memerlukan tindak
lanjut yang seksama. Kategori 3 memerlukan penilaian klinik
dan akses terhadap pelayanan klinik yang baik. Seberapa besar
masalah yang ada dan ketersediaan serta penerimaan metode
alternatif perlu dipertimbangkan. Dengan perkataan lain, pada
kategori 3, metode kontrasepsi tersebut tidak dianjurkan, kecuali
tidak ada cara lain yang lebih sesuai tersedia. Perlu tidak lanjut
ketat.
Khusus untuk kontrasepsi Mantap (Tubek dan Vasektomi)
digunakan klasifikasi lain, yaitu :
A: tidak ada alasan medis yang merupakan kontraindikasi
dilakukannya kontrasepsi manta (kontap).
B: tindakan kontrasepsi mantap dapat dilakukan, tetapi dengan
persiapan dan kewaspadaan khusus.

111

C: sebaiknya tindakan kontrasepsi mantap ditunda sampai


kondisi medis diperbaiki. Sementara itu berikan metode
kontrasepsi lain.
D: tindakan kontrasepsi mantap hanya dilakukan oleh tenaga
yang sangat berpengalaman dan berperlengkapan anestesi
tersedia. Demikina fasilitas penunjang dan kompetensi yang
sesuai

g. Penggunaan klasifikasi dalam penapisan klien


Klasifikasi yang digunakan dalam metode ini tidaklah kaku.
Tingkat pengetahuan dan pengalaman petugas kesehatan serta
sumber-sumber yang tersedia perlu menjadi pertimbangan.
Di tempat pelayanan dengan fasilitas pemeriksaan klinik
terbatas, misalnya di Puskesmas, klasifikasi 1-4 dapat
disederhanakan menjadi 2. Klasifikasi 1 dan 2 dapat digabung,
begitu juga 3 dan 4.
(Saifuddin, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2006,
Hal U-24-28)
Tabel 2.6

112

Tabel klasifikasi persyaratan medis dalam penapisan klien


Pil
Suntikan
Pil
Kombinasi Kombinasi Progestin

DMPA Implan AKDR


AKDR
NETCu
Progestin
EN
M = Mulai, L = Lanjutan
Karakteristik Pribadi dan Riwayat Reproduksi
4
4
MenarsMenarsMenars- Menars- Menars- Menars- Menars40:1
40:1
18:1
18:1
18:1
20:2
20:2
40:2
40:2
18-45:1 18-45:1 18-45:1 20:1
20:1
45:1
45:1
45:1

Kondisi

Kehamilan
Usia

Paritas
a. Nullipara
b. Multipara
Laktasi
a. < 6 minggu
pascapersalinan
b. 6 minggu - <6
bulan laktasi
Pascapersalinan
(tanpa laktasi)
a. < 21 hari
b. 21 hari
Pascapersalinan
(laktasi/nonlaktasi) termasuk
pasca SC
a. < 48 jam
b. 48 jam - < 4
minggu
c. 4 minggu
d. Sepsis
puerperalis

1
1

1
1

1
1

1
1

1
1

3
2

3
2

1
1

1
1

1
1

3
1

3
1

1
1

1
1

1
1

2
2

2
2

2
3

3
3

1
4

1a
4

: jika laktasi, laktasi menjadi 3 sampai 6 minggu pascapersalinan


(Saifuddin, 2006 hal U-29)
1.5.1

Jenis jenis KB
1. Metode Amenorea Laktasi (MAL)

113

Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang


mengandalkan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, artinya
hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun
lainnya.
a. Keuntungan Kontrasepsi
1.

Efektifitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pasca


persalinan).

2.

Segera efektif

3.

Tidak menggangu senggama

4.

Tidak ada efek samping secara sistematik

5.

Tidak perlu pengawasan medis.

6.

Tidak perlu obat atau efek samping.

7.

Tanpa biaya.

b. Keuntungan Nonkontrasepsi
Untuk Bayi
1)

Mendapatkan

kekebalan

pasif

(mendapatkan

antibodi

perlindungan dari ASI)


2) Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk tumbuh
kembang bayi yang optimal.
3) Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air,
susu lain atau formula
Untuk Ibu

114

1) Mengurangi perdarahan pascapersalinan


2) Mengurangi resiko anemia
3) Meningkatkan hubungan pisikologik ibu dan bayi
c. Keterbatasan
1) Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera
menyusui dalam 30 menit pasca persalinan
2) Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial
3) Efektifitas tinggi sampai kembalinya haid atau sampai dengan
6 bulan
4) Tidak melindungi terhadap IMS termasuk virus hepatitis
B/HBV dan HIV/AIDS.
2. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)
a.

Macam KBA
Metode Lendir serviks atau lebih dikenal sebagai Metode
Ovulasi Billings/MOB atau metode dua hari mukosa serviks dan
Metode Simtomtermal adalah yang paling efektif. Cara yang
kurang efektif adalah misalnya Sistem Kalender atau pantang
berkala dan Metode Suhu Basal yang sudah tidak diajarkan lagi
oleh pengajar KBA.

b.

Manfaat kontrasepsi
1) Dapat

digunakan

kehamilan

untuk

menghindari

atau

mencapai

115

2) Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan


kontrasepsi
3) Tidak ada efek samping sistemik
4) Murah atau tanpa biaya
c.

Manfaat nonkontrasepsi
1) Meningkatkan keterlibatan suami dalam keluarga berencana
2) Menambah pengetahuan tentang sistem reproduksi suami
dan istri
3) Memungkinkan

mengeratkan

relasi/hubungan

melalui

peningkatan komunikasi antar suami istri/pasangan.


d.

Keterbatasan
1) Sebagai kontraseptif sedang (9-20 kehamilan per 100
perempuan selama tahun pertama pemakaian
2) Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan
untuk mengikuti intruksi.
3) Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan
jenis KBA yang paling efektif secara benar
4) Dibutuhkan pelatih atau guru KBA
5) Pelatih atau guru KBA harus mampu membantu ibu
mengenali masa suburnya
6) Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari
kehamilan

116

7) Perlu pencatatan setiap hari


8) Infeksi vagina lendir serviks sulit dinilai
9) Termometer basal diperlukan untuk metode tertentu
10) Tidak terlindung dari IMS.
3. Senggama Terputus
Senggama terputus adalah metode keluarga berencana
tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari
vagina sebelum pria mengalami ejakulasi.
a.

Manfaat kontrasepsi
1) Efektif bila dilaksanakan dengan benar.
2) Tidak menggangu produksi ASI
3) Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya.
4) Tidak ada efek samping
5) Dapat digunakan setiap waktu
6) Tidak membutuhkan biaya.

b.

Manfaat Nonkontrasepsi
1) Meningkatkan keterlibatan suami dalam KB
2) Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan
pengertian yang sangat dalam.

c.

Keterbatasan
1) Efektifitas sangat bergantung pada kesediaan pasangan
untuk

melakukan

senggama

terputus

setiap

117

melaksanakannya (angka kegagalan 4-27 kehamilan per


100 perempuan per tahun)
2) Efektifitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24
jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis
3) Memutuskan kenikmatan dalam berhubungan seksual

4. Metode Barier
a. Kondom
Kondom tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga
mencega IMS termasuk HIV/AIDS. Efektif bila dipakai dengan
benar dan dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk
mencegah IMS. Kondom merupakan selubung/sarung karet yang
dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet),
plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang
dipasang pada penis saat hubungan seksual.
1) Manfaat kontrasepsi
Efektif bila digunakan dengan benar
Tidak mengganggu produk ASI
Tidak mengganggu kesehatan klien

118

Tidak mempunyai pengaruh sistematik


Murah dan dapat dibeli secara umum
Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan
khusus
Metode kontrapsepsi sementara bila metode kontrasepsi
lainnya harus ditunda.
2) Manfaat nonkontrasepsi
Memberi dorongan kepada suami untuk ikut ber-KB
Dapat mencegah penularan IMS
Mencegah ejakulasi dini.
Membantu

mencegah

terjadinya

kanker

serviks

(mengurangi iritasi bahan karsinogenik eksogen pada


serviks).
Saling berinteraksi sesama pasangan
Mencegah imunao infertilas.
3) Keterbatasan
Efektifitas tidak terlalu tinggi
Cara Penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan
kontrasepsi

119

Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi


sentuhan langsung)
Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi.
Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat
umum
Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan
masalah dalam hal limbah.

b. Diafragma
Diafragama adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat
dari lateks (karet) yang di insersikan kedalam vagina sebelum
berhubungan seksual dan menutup serviks.
1.

Manfaat kontrasepsi
Efektif bila digunakan dengan benar
Tidak mengganggu produksi ASI
Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah
terpasang sampai 6 jam sebelumnya.
Tidak mengganggu kesehatan klien
Tidak mempunyai efek sistemik

120

2.

Manfaat nonkontrasepsi
Salah satu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS
Bila digunakan pada saat haid, menampung darah
menstruasi

3.

Keterbatasan
Efektifitas sedang (bila digunakan dengan spermisida
angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100 perempuan per
tahun pertama)
Keberhasilan

sebagai

kontrasepsi

bergantung

pada

kepatuhan mengikuti cara penggunaan


Motivasi

diperlukan

berkesinambungan

dengan

menggunakannya setiap berhubugan seksual


Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan terlatih
diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan
Pada beberapa penggunaan menjadi penyebab infeksi
saluran uretra
Pada 6 jam pascahubungan seksual, alat masih harus
berada di posisinya.
c. Spermisida
Spermida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9)
digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma.

121

Dikemas dalam bentuk aerosol (busa), tablet vaginal, supositoria


atau dissolvable film, dan krim.
1.

Manfaat kontrasepsi
Aman
Efektif seketika (busa dan krim)
Tidak menggangu produksi ASI
Bisa digunakan sebagai pendukung metode lain
Tidak mengganggu kesehatan klien
Tidak mempunyai pengaruh sistemik
Mudah digunakan
Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual
Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan
khusus.

2.

Manfaat nonkontrasepsi
Merupakan salah satu perlindungan terhadap IMS

3.

Keterbatasan
Efektifitas kurang (18-29 kehamilan per 100 perempuan
per tahun pertama)
Efektifitas

sebagai

kontrasepsi

kepatuhan mengikuti cara penggunaan

bergantung

pada

122

Ketergantungan pengguna dari motifasi berkelanjutan


dengan memakai setiap melakukan hubungan seksual
Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi
sebelum melakukan hubungan seksual (tablet

busa

vagina, supositoria dan film)


Efektivitas aplikasi hanya 1-2 jam.
(Saifuddin, 2006 : MK-17 - MK-24)
5. Kontrasepsi Kombinasi (Hormon estrogen dan progesteron)
a.

Pil Kombinasi
Pil kombinasi bersifat efektif dan reversibel tetapi harus
diminum setiap hari. Pada bulan pertama efek samping berupa
mual dan perdarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera
akan hilang. Efek samping serius jarang terjadi. Dapat dipakai
oleh semua usia reproduksi. Dapat mulai diminum setiap saat
bila yakin sedang tidak sedang tidak hamil. Tidak dianjurkan
pada ibu yang menyusui tetapi dapat dipakai sebagai kontrasepsi
darurat.
1.

Jenis
a)

Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 Tablet


mengandung hormon aktif estrogen dan progestin dalam
dosis yang sama dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.

123

b) Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet


mengandung hormon aktif estrogen dan progestin
dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif.
c)

Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet


mengandung hormon aktif estrogen dan progesteron
dengan tiga dosis yang berbeda dengan 7 tablet tanpa
hormon aktif.

2.

Manfaat
Memiliki efektifitas yang tinggi (hampir efektifas
tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per
100 perempuan dalam tahun pertama penggunaan)
Resiko terhadap kesehatan sangat kecil
Tidak mengganggu hubungan seksual
Siklus haid secara teratur, banyaknya darah haid
berkurang (mencegah anemia)
Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan
masih

ingin

menggunakannya

untuk

mencegah

kehamilan.
Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.
Mudah dihentikan setiap saat

124

Kesuburan segera kembali setelah penggunaan dihentikan


Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat
Membantu

mencegah

kehamilan

ektopik,

kanker

ovarium, kanker endometrium dll.


3.

Keterbatasan
Mahal dan membosankan karena harus menggunakan
setiap hari.
Mual, terutama pada 3 bulan pertama
Perdarahan bercak atau perdarahan sela terutama 3 bulan
pertama
Pusing
Nyeri payudara
Berat badan naik sedikit
Berhenti haid (amenorea), jarang pada pil kombinasi
Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui
Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan
depresi
Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan
Tidak mencegah IMS,HBV,HIV/AIDS.

b.

Suntikan Kombinasi

125

Jenis

suntikan

kombinasi

adalah

25

mg

Depo

Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg Estradiol Sipionat yang


diberikan injeksi IM sebulan sekali (Cyclofem), dan 50 mg
Noretindron enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan
injeksi IM sebulan sekali.
1.

Cara Kerja
Menekan Ovulasi
Membuat lendir serviks lebih kental
Perubahan

pada

endometrium

(atrofi)

sehingga

implantasi terganggu.
Menghambat transportasi gamet oleh tuba
2.

Efektifitas
Sangat efektif (0,1-0,4) kehamilan per 100 perempuan
selama tahun pertama penggunaan.

3.

Keuntungan kontrasepsi
Resiko terhadap kesehatan kecil
Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
Jangka panjang
Efek samping sangat kecil

126

Klien tidak perlu menyimpan obat suntikan


4.

Keuntungan nonkontrasepsi
Mengurangi jumlah perdarahan
Mengurangi nyeri saat haid
Mencegah anemia
Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker
endometrium
Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium
Melindungi pasien dari jenis-jenis tertentu penyakit
radang panggul
Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan
usia perimenopause

5.

Kerugian
Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur
Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan
Efektifitasnya berkurang jika digunakan bersamaan
dengan obat epilepsi atau obat tuberkulosis
Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan
jantung, stroke, bekuan darah dll

127

Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah


penghentian pemakaian.
6. Kontrasepsi Progestin
a. Kontrasepsi suntikan progestin
Sangat

efektif

dan

aman

digunakan

oleh

setiap

perempuan dan usia reproduksi. Kembalinya kesuburan lama,


rata-rata 4 bulan. Cocok untuk masa laktasi karena tidak
menekan produksi ASI.
1.

Jenis
Terdiri dari 2 jenis suntikan yang hanya mengandung
progestin yaitu:
1) Depo

Medroksiprogesteron

Asetat

(Depoprovera),

mengandung 150 mg DMPA, yang diberikan setiap 3


bulan dengan cara disuntik intramuskular (di daerah
bokong)
2) Depo Noretisteron Enanat (Depo Noristerat), yang
mengandung 200 mg Noretindron, diberikan setiap 2
bulan dengan cara disuntik intramuskular.
2.

Keuntungan
Sangat efektif
Pencegahan kehamilan jangka panjang

128

Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri


Tidak mengandung estrogen
Tidak berpengaruh terhadap ASI
Sedikit efek samping
Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 thn
Membantu mencegah kanker endometrium
Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
Mencegah beberapa penyakit radang panggul
Menurunkan krisis anemia bulan sabit
3.

Keterbatasan
Sering ditemukan gangguan haid seperti :
a.

Siklus haid yang memendek atau memanjang

b.

Perdarahan yang banyak atau sedikit

c.

Perdarahan tidak teratur

d.

Tidak haid sama sekali

Klien sangat bergantung pada tempat sarana kesehatan


Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan
berikutnya
Permasalahan berat badan efek samping tersering

129

Tidak menjamin perlindungan dari PMS


Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentian
pemakaian
Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya
kerusakan pada organ genitalia
Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan
jangka panjang
Pada

penggunaan

jangka

panjang

dapat

sedikit

menurunkan kepadatan tulang (densitas)


Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan
kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan
emosi (jarang).
b. Kontrasepsi Progestin Mini Pil
Cocok untuk perempuan yang ingin memakai pil KB
tetapi sedang menyusui karena tidak menurunkan produksi ASI
sehingga sangat efektif digunakan pada masa laktasi. Memiliki
dosis rendah dan tidak memberikan efek samping estrogen. Efek
samping utama adalah perdarahan bercak, atau perdarahan tidak
teratur.Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.
1.

Jenis Minipil

130

Kemasan dengan isi 35 pil : 300 g levonorgestel atau


350 g noretindon
Kemasan dengan isi 28 pil : 75 g desogestrel
2.

Keuntungan Kontrasepsi
Sangat efektif bila digunakan secara benar
Tidak mengganggu hubungan seksual
Tidak mempengaruhi ASI
Kesuburan cepat kembali
Nyaman dan mudah digunakan
Sedikit efek samping
Dapat digunakan setiap saat
Tidak mengandung estrogen

3.

Keuntungan Nonkontrasepsi
Mengurangi Nyeri haid
Mengurangi jumlah darah haid
Menurunkan tingkat anemia
Mencegah kanker endometrium
Melindungi dari penyakit radang panggul
Tidak meningkatkan pembekuan darah

131

Dapat diberikan pada penderita endometriosis


Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah
Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom
Sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat
4.

Keterbatasan
Hampir 30-60 % mengalami gangguan haid
Peningkatan/penurunan haid
Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama
Bila lupa satu pil saja kegagalan menjadi lebih besar
Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis atau
jerawat
Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100
kehamilan)
Efektifitasnya menjadi rendah bila digunakan bersamaan
dengan obat tuberkulosis atau obat epilepsi
Tidak melindungi diri dari IMS,HIV/AIDS
Hirsutisme (tumbuh rambut/bulu berlebih pada daerah
muka)

c. Kontrasepsi Implan
1.

Profil

132

Efektif 5 tahun untuk Norplant


Nyaman
Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur,
perdarahan bercak dan amenorea
Aman dipakai pada masa laktasi
2.

Jenis
Norplant : Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga
dengan panjang panjang diameter 2,4 mm, yang diisi
dengan 36 mg Levonorgestrel dan kerjanya 5 tahun
Implanon : Terdiri dari satu batang putih lentur dengan
panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi
dengan 68 mg 3-Keto-desogestrel dan lama kerjanya 3
tahun
Jadena dan Indoplant : Terdiri dari 2 batang yang diisi
dengan 75 mg Levonorgestrel dengan lama kerja 5 tahun

3.

Keuntungan kontrasepsi
Daya guna tinggi

133

Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)


Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah
pencabutan
Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
Bebas dari pengaruh estrogen
Tidak mengganggu kegiatan senggama
Tidak mengganggu ASI
Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
4.

Keuntungan Nonkontrasepsi
Mengurangi nyeri haid
Mengurangi jumlah darah haid
Mengurangi anemia
Melindungi terjadinya kanker endometrium
Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara
Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang
panggul
Menurunkan angka kejadian endometriosis

5.

Keterbatasan

134

Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan


pola

haid

berupa

perdarahan

bercak

(spooting),

hipermenorea, atau meningkatkan jumlah darah haid, serta


amenorea.
d. AKDR dengan Progestin
Jenis AKDR yang mengandung hormon steroid adalah
steroid adalah Prigestase yang mengandung Progesteron dari
mirena yang mengandung Levonorgestrel.
1.

Keuntungan Kontrasepsi
Efektif dengan proteksi jangka panjang (satu tahun)
Tidak mengganggu hubungan suami istri
Tidak berpengaruh terhadap ASI
Kesuburan segera kembali sesudah AKDR diangkat
Efek sampingnya sangat kecil

2.

Keuntungan Nonkontrasepsi
Mengurangi nyeri haid
Dapat diberikan pada usia perimenopause bersamaan
dengan pemberian estrogen
Mengurangi jumlah darah haid

135

Sebagai pengobatan alternatif pengganti operasi pada


perdarahan uterus disfungsional dan adenomiosis
Merupakan

kontrasepsi

utama

pada

perempuan

perimenopause
Tidak mengurangi kerja obat tuberkulosis ataupun obat
epilepsi
3.

Keterbatasan
Diperlukan pemeriksaan dalam dan penyinaran infeksi
genitalia sebelum pemasangan AKDR
Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan
pencabutan AKDR
Klien tidak dapat menghentikan sendiri setiap saat
Pada penggunaan jangka lama dapat menyebabkan
amenorea
Dapat terjadi perforasi uterus pada saat insersi
Kejadian kehamilan ektopik relatif tinggi
Bertambahnya resiko mendapat penyakit radang panggul
sehingga dapat menyebabkan infertilitas
Mahal

136

Progestin

sehingga

meningkatkan

risiko

trombosis

sehingga perlu hati-hati pada perempuan perimenopause


Progestin dapat menurunkan kadar HDL-kolesterol pada
pemberian jangka panjang sehingga perlu hati-hati pada
perempuan dengan penyakit kardiovaskuler
Memperburuk perjalanan penyakit payudara
Progestin

dapat

mempengaruhi

jenis-jenis

tertentu

hiperlipidemia
Progestin dapat memicu pertumbuhan miom uterus
7.

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)


1.

Profil
Sangat efektif reversibel dan berjangka panjang (dapat
sampai 10 tahun:CuT-380A)
Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak
Pemasangan dan pencabutan memerlukan palatihan
Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi
Tidak boleh dipakai oleh perempuan yang menderita IMS

2.

Jenis
AKDR CuT-380A

137

Kecil, kerangka dari plastik fleksibel, berbentuk huruf T


diselubungi oleh kawat halus yang terbuat dari tembaga
(Cu).
AKDR

lain yang beredar di indonesia ialah NOVA T

(Schering)
Selanjutnya yang akan dibahas adalah khusus CuT-380A
3.

Keuntungan
Sebagai kontrepsepsi efektifnya tinggi
AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.
Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A
dan tidak perlu diganti)
Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
Tidak mempengaruhi hubungan seksual
Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut
hamil
Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT380A)
Tidak mempengaruhi kualitas ASI
Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah
abortus

138

Dapat digunakan sampai menopause


Mencegah kehamilan ektopik
4.

Kerugian
a. Efek samping yang umum terjadi:
Perubahan siklus haid (umumnya 3 bulan pertama dan
akan berkurang setelah 3 bulan)
Haid lebih lama dan banyak
Perdarahan (spotting) antar menstruasi
Saat haid lebih sakit
b. Komplikasi lain:
Merasakan sakit dan kejang selama 3 samping 5 hari
setelah pemasangan
Perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang
memungkinkan penyebab anemia
Perforasi

dinding

uterus

(sangat

jarang

apabila

pemasangannya benar)
c. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
d. Tidak baik digunakan pada perempuan IMS atau perempuan
yang sering berganti pasangan
e. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan
IMS memakai AKDR .PRP dapat memicu infertilitas

139

f. Prosedur medis termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan


dalam pemasangan AKDR.seringlali perempuan takut
selama pemasangan
g. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah
pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari
h. Klien tidak dapat melepaskan AKDR sendiri
i. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui
j. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik
k. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari
waktu ke waktu.
(Saifuddin, Buku Panduan Pelayanan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi, 2006, Hal MK-1-76)

2.7

MANAJEMEN KEBIDANAN
2.7.1

Manajemen 7 Langkah Varney


Proses manajemen kebidanan terdiri dari tujuh langkah yang
berurutan, dan setiap langkah disempurnakan secara priodik. Proses
dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir drngan evaluasi.
Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang
dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan Tetapi, setiap langkah
bisa diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan hal ini

140

bisa berubah sesuai dengan kebutuhan pasien, langkah-langkah tersebut


adalah sebagai berikut:
a. Langkah 1. Pengumpuan data dasar
Pada langkah ini, dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan
samua data yang diperlukan utuk mengevaluasi keadaan klien secara
lengkap, yaitu:
1. riwayat kesehatan
2. pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
3. meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
4. meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil
studi
Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Bidan
mengumpulkan data dasar awal yang lengkap. Bila klien mengajukan
komplikasi

yang

perlu dikonsultasikan

kepada dokter

dalam

manajemen kolaborasi bidan akan melakukan konsultasi.


b. Langkah 2. Interprestasi data dasar
Pada langkah ini, dilakukan identifikasi yang benar terhadap
diagnosis atau masalah, dan kebutuhan klien berdasarkan interprestasi
yang benar dan dasar tanda-tanda yang telah dikumpulkan. Data dasar
yang sudah dikumpulkan diinterprestasikan sehingga ditemukan
masalah atau diagnosis spesifik. Diagnosis kebidanan yaitu diagnosis
yang ditegakkan oleh profesi (bidan) dalam lingkup praktik kebidanan

141

dan memenuhi standar nomenklatur (tata nama) diagnosis kebidanan.


Standar nomenkultur diagnosis kebidanan tersebut adalah :
a. diakui dan telah disahkan oleh profesi
b. berhubungan langsung dengan praktis kebidanan
c. memiliki ciri khas kebidanan
d. didukung oleh clinical judgenment dalam praktik kebidanan
e. dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan.
c.

Langkah 3. Mengidentifikasi diagnosis atu masalah potensial


Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis

potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah


diidentifikasi.

Langkah

ini

membutuhkan

antisipasi

bila

memungkinkan dilakukan pencegahan. Pada langkah ini penting sekali


melakukan asuhan yang aman.
d. Langkah 4. Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera.
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau
dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan angota
tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat
mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi
Manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau
kunjungan prenatal saja, tapi juga selama wanita tersebut bersama
bidan terus-menerus. Dari data yang dikumpulkan dapat menunjukan

142

satu situasi yang memerlukan tindakan segera sementara yang lain


harus menunggu dokter.

e.

Langkah 5. Merencanakan asuhan yang menyeluruh


Pada langkah ini dilakukan perencanaan yang menyeluruh,

ditentukan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan


kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah
diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi/data dasar
yang tidak lengkap dapat dilengapi
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang
sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang
berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap
perempuan tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi
berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling, dan apakah
perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan
social ekonomi, cultural atau masalah psikologis.
f. Langkah 6. Melaksanakan perencanaan
Pada langkah ini, rencana asuhan yang menyeluruh di langkah
kelima harus dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini
bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh
bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya.
Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta
meningkatkan mutu dari asuhan klien.
g. Langkah 7. Evaluasi

143

Pada langkah ini dilakukan keefektifan dari asuhan yang sudah


diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benarbenar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosis. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.
Mengingat bahwa proses manajemen asuhan kebidanan ini
merupakan suatu hasil pola fikir bidan yang berkesinambungan, maka
perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif
melalui proses manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses
manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian pada rencana
asuhan tersebut.
(Muslihatun, Dokumentasi Kebidanan, Hal 133-139)
2.6.2 SOAP
Pendokumentasian atau catatan manajemen kebidanan dapat
diterapkan dengan metode SOAP yang merupakan catatan yang bersifat
sederhana, jelas, logis dan tertulis. Kepanjangan dari SOAP adalah
1. S (data subjektif)
Merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Helen Varney langkah pertama (pengkajian data), terutama data yang
diperoleh melalui anamnesis. Data subyektif ini berhubungan dengan
masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi pasien mengenai
kekhawatiran dan keluhan dicatat sebagai kutipan langsung atau
ringkasan yang akan berhubungan langsung dengan diagnosis. Data

144

Subjektif ini nantinya akan menguatkan diagnosis yang akan disusun.


Pada pasien yang bisu, di bagian dada di belakang huruf diberikan
tanda O atau X. Tanda ini menjelaskan bahwa pasien adalah penderita
tuna wicara.
2. O (data objektif)
Merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut
Helen Varney pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh
melalui hasil observasi yang jujur dari

pemeriksaan fisik pasien,

pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan diagnostik lain. Catatan


medik dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat dimasukkan
dalam data objektif. Data ini akan memberikan bukti gejala klinis
pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
3. A (Assesment)
Merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi
atau kesimpulan dari data subjektif dan objektif. Pengkajian data ini
masuk dalam sifat dinamis (dapat berubah-ubah) disebabkan kondisi
pasien yang mengalami perubahan, hal ini akan menuntut bidan untuk
untuk sering melakukan analisis data yang dinamis. Analisis
merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan, menurut Helen
Varney adalah langkah kedua, ketiga dan keempat, sehingga mencakup
hal-hal

yaitu

diagnosis/masalah

kebidanan,

diagnosis/masalah

potensial, mengidentifikasi kebutuhan tindakan untuk antisipasi

145

diagnosis/masalah potensial dan kebutuhan tindakan segera harus


diidentifikasi menurut kewenangan bidan meliputi : tindakan mandiri,
tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk klien.
4. P (Planning)
Adalah membuat rencana asuhan saat ini dan akan datang.
Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi
data. Bertujuan untuk mengusahakan tercapainya kondisi pasien
seoptimal mungkin dan mempertahankan kesejahteraan. P dalam
metode SOAP ini juga merupakan gambaran pendokumentasian
implementasian menejemen kebidanan menurut Helen Varney langkah
kelima, keenam dan ketujuh. Dalam planning juga harus dicantumkan
evaluation/evaluasi yaitu tafsiran dari efek tindakan yang telah diambil
untuk menilai efektifitas asuhan.
(Muslihatun, Dokumentasi Kebidanan, 2009, Hal 122-125)