Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Secara fisiologik system imun pada ibu hamil menurun, kemungkinan sebagai

akibat dan toleransi system imun pada ibu terhadap bayi yang merupakan jaringan
semi-ologenik, meskipun tidak memberikan pengaruh secara klinik. Bayi intrauterine
baru membentuk system imun pada umur kehamilan sekitar 12 minggu, kemudian
meningkat dan pada kehamilan 26 minggu hampir sama dengan system imun pada ibu
hamil itu sendiri. Pada masa perinatal bai mendapat antibody yang dimiliki oleh ibu,
tetapi setelah 2 bulan anti bodi akan menurun. Secara anatomik dan fisiologik ibu
hamil juga mengalami perubahan, misalnya pada ginjal dan saluran kencing sehingga
mempermudah terjadinya infeksi. Beberapa infeksi akut mempunyai risiko infeksi
silang kepada siapa pun yang berhubungan dengan ibu, termasuk keluarganya, staf,
serta ibu lain dan bayi mereka.
Secara gender perempuan memiliki resiko tinggi terhadap penyakit yang
berkaitan dengan kehamilan dan persalinan, juga terhadap penyakit kronik dan
infeksi. Selama masa kehamilan, perempuan mengalami berbagai perubahan, yang
secara aalmiah sebenarnya diperlukan untuk

kelangsungan hidup janin dalam

kandungannya. Namun, ternyata berbagai perubahan tersebut dapat mengubah


kerentanan dan juga mempermudah terjadinya infeksi selama kehamilan.
1.2 Tujuan
1.1.

Tujuan Umum
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah

mengetahui dan mengerti penyakit infeksi yang menyertai ibu dalam masa kehamilan
dan nifas.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang penyakit Hepatitis
yang menyertai ibu dalam masa kehamilan
2. Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang penyakit HIV / AIDS

yang menyertai ibu dalam masa kehamilan dan nifas.


3. Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami tentang penyakit Tyfus

Abdominalis yang menyertai ibu dalam masa kehamilan dan nifas.

1.3 Metode Penulisan


Metode

penyusunan

yang

dilakukan

dalam

penulisan

makalah

ini

menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan cara mengumpulkan, memilih,


dan mempelajari sejumlah literatur dari berbagai sumber yang mengandung materi
yang berhubungan dengan penyusunan makalah ini seperti buku-buku literatur.
1.4 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Metode Penulisan
1.4 Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Penyakit Hepatitis
2.2 Penyakit HIV /AIDS
2.3 Penyakit Typus Abdominalis
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Penyakit Hepatitis


2.1.1 Pengertian Hepatitis

Hepatitis virus adalah istilah yang dipakai untuk infeksi virus, dengan hati
merupakan organ sasaran dominan (Shulman, 1994).
Walaupun mortalitas penyakit hepatitis rendah, faktor morbiditas yang luas,
dan ekonomi yang kurang memiliki kaitan dengan penyakit ini, hepatitis virus adalah
penyakit infeksi yang penyebarannya luas (Price, 2005).
Telah ditemukan 6 atau 7 kategori virus yang menjadi agen penyebab : virus
hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), virus hepatitis D
(HDV), hepatitis E (HEV), hepatitis F (HFV), dan hepetitis G (HGV) (Price, 2005).
Walaupun virus-virus ini dapat dibedakan melalui penanda antigeniknya,
namun menimbulkan penyakit yang serupa secara klinis dan berkisar dari infeksi
subklinis asimtomatik, yang anikterik, hingga hepatitis yang menimbulkan ikterus
(Raharja, 2002).
2.1.2

Tahapan Hepatitis

Hepatitis dibagi menjadi dua tahapan:


1) Hepatitis Akut
Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan. Hepatitis ini mempunyai gejala yang
lebih nyata dan prognosis yang lebih baik daripada hepatitis kronis.
Manifestasi klinis
1. Stadium praikterik berlangsung selama 4-7 hari, pasien mengeluh sakit kepala,
lemah, anoreksia, mual, muntah, demam, nyeri pada otot dan nyeri di perut kanan
atas. Urin menjadi lebih coklat.
2. Stadium ikterik yang berlangsung selama 3-6 minggu. Ikterus mula-mula terlihat
pada sklera kemudiaan pada kulit bagian seluruh tubuh. Keluhan- keluhan
berkurang, tetapi pasien masih lemah, anoreksia, dan muntah. Tinja mungkin
berwarna kelabu atau kuning muda. Hati membesar dan nyeri tekan.
3. Stadium pascaikterik (rekonvalasensi). Ikterus mereda, warna uri dan tinja
menjadi normal lagi, penyembuhaan pada anak-anak lebih cepat dari pada orang
dewasa, yaitu pada akhir bulan kedua, karena penyabab yang biasanya berbeda.
Gambaran klinis hepatitis virus bervariasi, mulai dari yang tidak merasakan atau
hanya mempunyai keluhan sedikit saja sampai keadaan yang berat, bahkan koma dan
kematian dalam beberapa hari saja.
Pada golongan hepatitis anikterik, keluhan sangat ringan dan samar-samar, umumnya
anoreksia

dan

gangguan

pencernaan,

pada

pemeriksaan

laboratorium

ditemukan

hiperbilirubinemia ringan dan bilirubinaria. Urin secara makroskopik berwarna seperti teh tua
dan apabila dikocok akan memeperlihatkan busa berwarna kuning kehijauan.
Bentuk hepatitis akut yang ikterik paling sering ditemukan pada klinis, biasanya
perjalanan jinak dan akan sembuh dalam waktu kira-kira 8 miggu. Hampir semua hepatitis
fulminan mempunyai prognosis jelek. Kematian terjadi biasanya dalam 7-10 hari sejak mulai
sakit. Pada waktu yang singkat terdapat gangguan neurologi, fetor hepatik, dan muntahmuntah yang persisten. Terdapat deman dan ikterus yang menghebat dalam waktu singkat.
Pada pemeriksaan terdapat hati yang mengecil, pura-pura, dan perdarahan saluran cerna.
2) Hepatitis Kronik
Hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Gejala Hepatitis ini muncul bertahap.
Dengan harapan kesembuhan yang tidak sebagus hepatitis akut. Ada 2 bentuk hepatitis
kronik, yaitu:
1. Hepatitis Kronik Persisten.
2. Hepatitis Kronik Akut.
Sangat penting untuk membedakan 2 bentuk tersebut, sebab untuk yang pertama
mempunyai prognosis yang baik dan akan sembuh sempurna. Diagnosis hanya dapat di
pastikan dengan pemeriksaan biopsy atau gambaran PA. hepatitis kronik aktif umumnya
berakhir menjadi serosis hepatis.
Penatalaksanaannya : Obat yang di nilai bermanfaat untuk pengibatan hepatitis kronik adalah
interferon (IFN). Obat ini adalah salah satu protein seluler stabil dalam asam dan di produksi
oleh sel tubuh kita akibat rangsangan virud atau akibat induksi beberapa mikroorganisme,
asam nukleat, anti gen, dan polimer sintetik. Interferon mempunyai efek antivirus,
immunodulasi, dan antiproliferatif.

2.1.3 Jenis-Jenis Hepatitis


2.1.3.1 Hepatitis A
Virus hepatitis A (HVA) ditularkan melalui fekal-oral/makanan dan minuman
yang terkontaminasi. Secara kasar, penyakit ini terjadi pada 1:1000 ibu hamil di
seluruh dunia. Memang sangat sedikit bila dibandingkan dengan 1000 orang ibu
hamil, tetapi tetap saja perlu diwaspadai. Kematian terjadi kurang dari 1% dari pasien
dengan hepatitis A akut. Biasanya perjalanan penyakit berlangsung 2-3 minggu. Tidak
terdapat bentuk kronis (menderita sakit yang berkepanjangan) dari hepatitis A dan
penyembuhan tergantung pada imunitas untuk mencegah terjadinya reinfeksi.
Gejala

Setelah 2-6 minggu terpapar, timbul flu-like syndrome, yaitu cepat lelah,
demam, anoreksia (tidak nafsu makan), artralgia (nyeri pada sendi) dan sakit kepala.
Saat ini merupakan saat yang paling menular. Kemudian diikuti ikterus (kuning) yang
terlihat paling mudah pada sklera (bagian putih mata) dan kulit, air seni berwarna
gelap, BAB (buang air besar) cair dan nyeri pada perut kanan atas. Pada penyakit
yang berat, didapatkan mulut yang berbau khas. Penyakit ini bersifat self-limited
(dapat sembuh sendiri).
Terapi/pengobatan
Hanya perlu diberi terapi simptomatis (obat-obatan yang hanya untuk
mengurangi keluhan), seperti mencegah dehidrasi, istirahat yang cukup, dan
pemberian nutrisi yang adekuat. Biasanya akan sembuh dalam 1-2 bulan. Atau pada
wanita hamil yang telah terpapar infeksi dapat diberikan imunisasi, yaitu
imunoglobulin (dengan dosis 0,02 mg/kgBB). Terapi ini hanya efektif jika diberikan
dalam waktu 2 minggu. Vaksinasi hepatitis A dapat diberikan bersamaan dengan
imunoglobulin. Dengan vaksinasi akan melindungi kadar antibodi dalam 10-14 hari.
Telah dilaporkan bahwa efektivitas vaksinasi lebih dari 90%.
Bila antibodi IgM (suatu protein tubuh yang muncul pada saat tubuh terpapar
infeksi kuman, yang berguna untuk pertahanan tubuh) ada pada ibu saat trimester
ketiga, pengobatan pada bayi baru tidak perlu diberikan. Bagaimanapun, jika antigen
(suatu zat yang menstimulasi pembentukan antibodi) hepatitis A terdapat pada kotoran
pada saat kelahiran bayi atau ketika penyakit terjadi 2-3 minggu terakhir
kehamilan/sebelum melahirkan, bayi yang baru lahir harus mendapatkan terapi
immunoglobulin karena bisa tertular dari ibu dan vaksinasi hepatitis A harus diberikan
pada umur 1 tahun.
Kehamilan dengan hepatitis A
Kehamilan dengan hepatitis A tidak menyebabkan peningkatan angka
kematian ibu karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa hepatitis A merupakan
agen teratogenik/keganasan dan risiko dari transmisi vertikal (dari ibu ke janin) sangat
rendah. Jika bayi baru lahir terpapar, infeksi biasanya ringan dan mereka akan
mempunyai kekebalan seumur hidup. Hal yang perlu diperhatikan adalah sangat

penting untuk mengisolasi wanita hamil yang terinfeksi untuk menghindari penularan
ke orang lain.
2.1.3.2 Hepatitis B
Virus hepatitis B (HBV) ditularkan melalui hubungan seksual, penggunaan
obat jarum suntik yang terkontaminasi, akupuntur, tato dan transfusi darah. Penyakit
ini dapat terjadi dalam bentuk akut, subklinis dan kronik. Gejala hepatitis B amat
bervariasi, dari tanpa gejala sampai gejala yang berat, seperti muntah darah dan koma.
Hepatitis B akut mempuyai gejala klinis yang hampir sama dengan hepatitis A akut.
HBV ditemukan pada darah, cairan semen, air liur, air susu ibu, dan cairan ketuban.
Infeksi hepatitis B yang didapatkan pada masa menjelang kelahiran dan balita
biasanya asimptomatik (tanpa gejala) dan dapat menjadi kronik pada 90% kasus.
Sekitar 30% infeksi hepatitis B pada orang dewasa adalah simptomatik (jelas
gejalanya) dimana kurang dari 1% kasus dapat menjadi gagal hati akut dan mati dan
95% kasus lainnya akan sembuh dengan antibodi ada untuk seumur hidup.
Pengaruh hepatitis B terhadap janin:
Resiko keseluruhan dari infeksi janin kira-kira 75% jika ibu terinfeksi pada
trimester ketiga atau masa nifas (masa sesudah melahirkan) dan resiko ini jauh lebih
rendah (5-10%) jika ibu terinfeksi pada awal kehamilan. Sebagian besar infeksi pada
bayi baru lahir kemungkinan terjadi saat persalinan dan kelahiran atau melalui kontak
ibu bayi. Sebagian kecil lainnya dapat secara transplasental (melalui plasenta).
Walaupun sebagian besar bayi menunjukkan tanda infeksi ikterus/kuning
ringan, akan tetapi bayi-bayi tersebut cenderung menjadi carrier/pembawa virus tapi
tidak menunjukkan gejala. Status carrier ini dapat menjadi sirosis hepatis dan
karsinoma hepatoseluler/tumor hati, yang mempunyai risiko kematian sebesar 15%
25%.
Infeksi HBV bukan merupakan agen teratogenik/keganasan. Bagaimanapun,
terdapat insidens/kejadian berat bayi lahir rendah pada ibu yang menderita infeksi
akut selama hamil. Pada satu penelitian hepatitis akut maternal (tipe B atau non-B)
didapatkan bahwa hepatitis tidak mempengaruhi insidens/kejadian dari malformasi

kongenital (lahir cacat), lahir mati, abortus, atau malnutrisi intrauterin. Tetapi,
hepatitis akut dapat menyebabkan peningkatan insidens prematuritas.
Penanganan:
1. Antepartum/sebelum melahirkan

Mendapat kombinasi antibodi pasif (immunoglobulin) dan imunisasi aktif


vaksin hepatitis B

Tidak minum alkohol

Menghindari obat-obatan yang hepatotoksik seperti asetaminofen yang dapat


memperburuk kerusakan hati

Tidak mendonor darah, bagian tubuh dan jaringan

Tidak menggunakan alat pribadi yang dapat berdarah dengan orang lain
misalnya sikat gigi dan pisau cukur

Menginformasikan pada Dokter Anak, Kandungan Kebidanan dan perawat


bahwa mereka carrier hepatitis B

Memastikan bahwa bayi mereka mendapat vaksin hepatitis B waktu lahir,


umur 1 bulan, dan 6 bulan

Kontrol sedikitnya setahun sekali ke dokter pribadi

Mendiskusikan resiko penularan dengan pasangan mereka dan mendiskusikan


pentingnya konseling dan pemeriksaan

2. Persalinan
Walaupun persalinan secara seksio sesarea/sesar sudah dianjurkan untuk
menurunkan transmisi HBV dari ibu ke anak, akan tetapi jenis persalinan ini tidak
berarti dapat menghentikan transmisi HBV. Tetapi seksio sesarea sangat disarankan
oleh Centers for Disease Control (CDC) dan American College of Obstetricians and
Ginyecologists (ACOG).
3. Bayi baru lahir

Bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi (termasuk carrier) harus di terapi
dengan kombinasi dari antibodi pasif (immunoglobulin) dan aktif imunisasi dengan
vaksin hepatitis B.
4. Menyusui
Dengan

imunoprofilaksis

hepatitis

yang

sesuai,

menyusui

tidak

memperlihatkan resiko tambahan untuk penularan dari carrier virus hepatitis B. Jadi,
para ibu yang menderita hepatitis B dapat menyusui tanpa takut menularkan ke sang
buah hatinya.
2.1.3.3. Hepatitis C
Virus hepatitis C (HCV) dulu dikenal dengan hepatitis non-A non-B yang
ditularkan melalui darah (obat suntik, tranfusi darah, pada saat persalinan). Penularan
seksual HCV kelihatannya tidak begitu besar seperti virus hepatitis B. Penularan
antara pasangan seksual dengan infeksi kronik HCV tanpa faktor resiko lainnya kirakira hanya sebesar 5%.
Seseorang yang terinfeksi akut mempunyai gejala berupa kehilangan nafsu
makan, mual, muntah, demam, nyeri perut dan ikterus. 60-70% pasien dengan infeksi
HCV akut bersifat asimptomatik/tidak menunjukkan gejala.
Angka transmisi vertikal (dari ibu ke janin) dilaporkan berkisar 0 36%,
dengan rata-rata 5-6 %. Resiko penularan pada mereka dengan infeksi HIV sampai
44%. Banyak pasien menjadi penderita kronik, yaitu sebesar 70-90% kasus. Dari
kasus tersebut 15-20% akhirnya berkembang menjadi sirosis hepatis dan 1-5%
menjadi karsinoma hepatoseluler/tumor hati, dimana terdapat 40% kematian akibat
penyakit hati kronik tersebut.
HCV bukan berupa agen teratogenik. Anak yang terinfeksi kemungkinan besar
akan menjadi kronis. Akan tetapi, harus diingat bahwa semua bayi baru lahir akan
mempunyai antibodi dari maternal.
Pada satu penelitian, sama halnya dengan hepatitis B, hepatitis C akut (non-A
non-B) tidak mempengaruhi insidens/kejadian malformasi kongenital(lahir cacat),

lahir mati, abortus, atau malnutrisi intrauterin. Bagaimanapun, hepatitis akut


meningkatkan insidens prematuritas. Kehamilan itu sendiri tidak dipengaruhi oleh
efek buruk HCV kronis.
Penanganan:
1. Prakonsepsi/sebelum mengandung
Idealnya penanganan prenatal/sebelum melahirkan harus dimulai pada
konsultasi prekonsepsi dengan dokter (diskusi tentang riwayat medik sekarang :
diagnosa, perjalanan penyakit, adanya komplikasi; riwayat medis dahulu : kondisi
hati; riwayat obstetrik/persalinan dahulu : transfusi, perdarahan; riwayat obat : resep
obat yang hepatoksik (racun bagi hati), terapi interferon dan ribavirin (ribavirin
bersifat teratogenik; sehingga seorang ibu tidak boleh hamil selama dilakukan
pengobatan), obat bebas seperti asetaminofen, penyalahgunaan obat di mana pernah
menggunakan suntikan obat; riwayat alkohol; tes fungsi hati; pemberian imunisasi
dan kekebalan; riwayat asal penyakit, implikasi pada kehamilan, konsekuensi pada
janin, resiko penularan vertikal, pemeriksaan fisik dan terapinya). Terapi kombinasi
harus lengkap diberikan untuk sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum hamil.
2. Prenatal/sebelum melahirkan
Wanita yang positif HCVnya harus berkonsultasi dengan dokternya segera selama
masa kehamilan untuk penanganan prenatal yang luas. Pemeriksaan awal yang
meliputi kesehatan fisik umum dan fungsi hati akan menentukan pendekatan dari tim
multidisiplin. Awal kehamilan juga merupakan waktu terbaik untuk mengetahui
perkembangan lanjut melalui:

Pemeriksaan umum dan pemeriksaan lanjut untuk mencari faktor risiko pada
kunjungan awal dan berkala. Jumlah kunjungan harus ditentukan berdasarkan
kondisi umum dan obstetrik pasien. Pasien tidak boleh mengkonsumsi
alkohol. Lebih baik tidak menggunakan obat yang berpotensial hepatotoksik
atau memerlukan metabolisme hati selama hamil.

Pemeriksaan fungsi hati yaitu pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui


kadar aminotransferase, albumin, bilirubin, Anti HBs, Anti HA total atau IgG,
HCV RNA kualitatif.

Monitor kehamilan melalui fungsi hati termasuk transaminase diperiksa setiap


trimester.

Diagnosis melalui USG : indikasi/keperluan pemeriksaan melalui USG tidak


berbeda dengan pemeriksaan pada wanita hamil umumnya.

Sebisa mungkin untuk tidak melakukan tindakan yang invasif, seperti


amniosentesis/pengambilan

air

ketuban,

biopsi

korionik

vili

untuk

menghindari risiko penularan melalui darah.


3. Intrapartum/ketika melahirkan

Cara melahirkan : berdasarkan penelitian retrospektif didapatkan bahwa angka


penularan yang rendah dengan seksio sesarea, tapi wanita dengan HCV
diperkenankan untu melahirkan spontan, kecuali terdapat masalah obstektrik
dan tidak perlu mengisolasi ibu dan anak.

Infeksi HCV bukan merupakan indikasi untuk induksi persalinan.

4. Postpartum/sesudah melahirkan

Menjaga kebersihan dari bahan yang berpotensi menginfeksi

HCV RNA dan antibodi anti HCV memang terdapat pada kolostrum dan susu
ibu. Namun tidak terdapat kasus penularan melalui menyusui, jadi menyusui
bukan kontraindikasi, sehingga menyusui bisa dilakukan

Kontrasepsi.

5. Penanganan Bayi Baru Lahir

Bayi dapat dirawat sesuai penanganan RS umumnya. Ibu tidak perlu


penanganan khusus seperti menggunakan sarung tangan, masker, dan
sterilisasi ektra.

Semua bayi dari ibu dengan HCV pasti positif untuk anti HCV waktu lahir.
Bayi yang tidak terinfeksi biasanya hilang antibodinya sewaktu umur 12-15
bulan. Makin tinggi kadar ibu, makin lama menghilang.

Sebagai tambahan imunisasi rutin, imunisasi hepatitis harus diberikan pada


masa postnatal/setelah melahirkan.

2.1.3.4 Hepatitis D
Virus hepatitis D (HDV) dapat diisolasi dari inti hepatitis B. Infeksi virus
hepatitis D terjadi saat infeksi hepatitis B, oleh karena virus hepatitis D tidak mampu
menciptakan kapsul permukaannya dan menggunakan kelebihan HBsAg untuk
membentuk kaspulnya.
Gejala biasanya timbul mendadak, dengan tanda dan gejala yang mirip dengan
hepatitis B (gejalanya dapat parah dan selalu dikaitkan bersamaan dengan infeksi
virus hepatitis B). Hepatitis D mungkin dapat sembuh dengan sendirinya atau dapat
berkembang menjadi hepatitis kronis. Penderita anak-anak mungkin menunjukkan
gejala klinis yang berat dan selalu berlanjut menjadi hepatitis kronis aktif.
Diperkirakan cara penularannya mempunyai kesamaan dengan HBV, yaitu
oleh karena terpapar dengan darah yang terinfeksi dan cairan tubuh, jarum yang
terkontaminasi, dan penularan melalui hubungan seksual.
Pencegahan:
Upaya pencegahannya sama dengan untuk hepatitis B. Bagi orang-orang
dengan HBV kronis, maka upaya pencegahan yang paling efektif adalah hanya
dengan menjauhkan diri dari sumber potensial HDV. Vaksin hepatitis B tidak dapat
melindungi seseorang dengan HBV kronis untuk terkena infeksi HDV. Penelitian di
Taiwan menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan dengan cara mengurangi
pemajanan seksual dan penggunaan jarum suntik menurunkan insisden infeksi HDV.
2.3.1.5 Hepatitis E

Virus hepatitis E (HEV) ditularkan melalui jalur oral-fekal (makanan dan


minuman yang terkontaminasi) dengan air minum yang tercemar tinja merupakan
media penularan yang paling sering terjadi. Dari berbagai penelitian yang dilakukan
saat ini menunjukkan bahwa hepatitis E kemungkinan merupakan infeksi
zoonotic/berasal dari binatang yang secara kebetulan menyebar dengan manusia
secara cepat.
HEV endemik dibeberapa bagian negara berkembang yang sanitasinya kurang
baik dan bersifat self-limited (dapat sembuh sendiri). Gejala klinis penyakit ini mirip
dengan hepatitis A, tidak ditemukan bentuk kronis. Infeksi akut umumnya lebih
ringan

dari

infeksi

akut

HBV

dan

ditandai

dengan

peningkatan

kadar

aminotransferase. Wanita hamil yang terinfeksi akut khususnya pada trimester ketiga
mempunyai resiko 15% gagal hati fulminan dan angka kematian5 %. Terapi untuk
pasien yang terinfeksi HEV hanya bersifat suportif.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, gambaran epidemiologis, dan
menyingkirkan faktor penyebab yang lain dari hepatitis. Pemeriksaan serologis
sedang dikembangkan saat ini untuk mendeteksi antibodi HEV, tetapi belum tersedia
secara komersial. Meskipun demikian, beberapa jenis tes diagnostik tersedia di
berbagai laboratorium riset antara lain : enzyme immunoassay dan Western blot assay,
tes PCR, dan immunofluorescent antibody blocking assay.
Pencegahan:
Pembuangan tinja secara saniter/menurut tempatnya dan mencuci tangan
dengan benar setelah buang air besar dan sebelum menjamah makanan
Penanganan:
Tidak ada produk vaksin yang tersedia untuk mencegah hepatitis E. Pada
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan prototipe vaksin pada binatang,
vaksin tersebut dapat merangsang pembentukan antibodi yang melemahkan infeksi
HEV tetapi tidak dapat mencegah ekskresi virus dalam tinja.
2.1.3.5 Penyakit Hepatitis F

Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat
hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.

2.1.3.6 Hepatitis G
Virus hepatitis G (HGV) lebih sering ditemukan pada pasien yang terinfeksi
hepatitis B atau C atau dengan riwayat penyalahgunaan obat intravena. Tidak terdapat
status carrier kronik. Penularannya dapat secara vertikal. Infeksi gabungan HGV
terdapat pada 5 % dengan infeksi HBV kronik dan 10 % dengan infeksi HCV kronik.
Bagaimanapun juga, apakah HGV benar patogen pada manusia belum jelas.
2.1.4 Pengaruh Hepatitis
Hepatitis pada janin
Dilaporkan,bahwa Ibu hamil yang mengalami hepatitis virus B, dengangejala
yang jelas, 48% dari bayinya terjangkit hepatitis, sedang pada Ibu-lbu hamil yang
hanya sebagai carrier Hepatitis Virus B antigen, hanya 5% dari bayinya mengalami
virusB

antigenemia.

Meskipun

hepatitis

virus,

belum

jelas

pengaruhnya

terhadapkelangsungan kehamilan, namun dilaporkan bahwa kelahiranprematur terjadi


pada 66% kehamilan yang disertai hepatitisvirus B. Adanya icterus pada Ibu hamil
tidak akan menimbulkan kern-icterus pada janin. Kem icterus terjadi akibat adanya
unconjugated bilirubin yang melewati placenta dari Ibu-Ibu hamil yang mengalami
hemolitik jaundice. (3).Bila penularan hepatitis virus pada janin terjadi pada
waktupersalinan maka gejala-gejalanya baru akan nampak dua sampai tiga bulan
kemudian. Sampai sekarang belum dapat dibuktikan, bahwa hepatitisvirus pada Ibu
hamil dapat menimbulkan kelainan kongenitalpada janinnya. Pada pemeriksaan
placenta, dari kehamilan yang disertai hepatitis virus, tidak dijumpai perubahanperubahan yang menyolok, hanya ditemukan bercak-bercak bilirubin. Bila terjadi
penularan virus B in utero, maka keadaan ini tidakmemberikan kekebalan pada janin
dengan kehamilan berikutnya.

Pengaruh dalam kehamilan:

1. Terjadi abortus, partus prematurus, dan kematian janin dalam kandungan.


2. Apakah virus ibu masuk ke dalam tubuh janin belum dapat dipastikan.
Pengaruh dalam persalinan dan nifas.
1. Penghentian kehamilan tidak mengubah jalannya penyakit baik dengan
jalan abortus buatan, maupun dengan induksi peralinan.
2. Bila tidak ada indikasi penyelesaian persalinan, kelahiran per vaginam
diawasi dengan baik.
3. Kala II boleh diperpendek dengan ekstrasi vakum atau forseps bila janin
hidup dan embriotomi bila mati.
4. Bahaya yang paling mengancam ibu adalah pada saat persalinan, karena
sering

terjadi

perdarahan

yang

hebat

dan

sulit

dikontrol

atau

hipofibrinogenemia.
2.1.5

Penatalaksanaan
1. Istirahat, diberi nutrisi dan cairan yang cukup, bila perlu IV
2. Isolasi cairan lambung dalam atau cairan badan lainnya dan ingatkan
tentang pentingnya janin dipisahkan dengan ibunya
3. Periksa HbsAg
4. Kontrol kadar bilirubun, serum glutamic oksaloasetik transaminase
(SGOT), serum glutamic piruvic transaminase (SGPT), factor pembekuan
darah, karena kemungkinan telah ada disseminated intravaskular
coagulapathy (DIC)
5. Cegah penggunaan obat-obat yang bersifat hepatotoksik
6. Pada ibu yang HbsAg positif perlu diperiksa HbsAg anak karena
kemungkinanterjadi penularan melalui darah tali pusat
7. Tindakan operasi seperti SC akan memperburuk prognosis ibu
8. Pada bayi yang baru dilahirkan dalam 2x24 jam diberi suntikan anti
hepatitis serum

2.2 HIV / AIDS


Di Amerika serikat, HIV adalah penyakit yang telah secara tidak proporsional
menyerang wanita yang miskin, yang tinggal di pedesaan, dan pada orang kulit

berwarna. Ini semua merupakan penanda kondisi sosial yang beresiko lebih besar
dalam masyarakat kita. Tetapi mereka yang terinfeksi serius telah lebih jauh terstigma
oleh persepsi awal bahwa HIV adalah penyakit pria homo seksual dan penyalah guna
obat.karena penularan HIV secara heteroseksual meningkatkan proporsi wanita yang
terinfeksi, data di Amerika Serikat hamper mewakili statistik untuk seluruh dunia.
Dalam mempertimbangkan konseling, penapisan, dan program penanganan untuk
wanita, harus selalu di pertimbangkan penularan hetero seksual dan perinatal yang
tidak terdeteksi secara kenegaraan dan budaya. Ini bukan penyakit yang dapat di
abaikan karena penyakit ini tidak terjadi di sini. Sebenarnya penyakit tersebut dapat
terjadi.
2.2.1 Riwayat alami penyakit HIV
Human immunodeficiency virus adalah retrovirus RNA yang lebih suka
menyerang limfosid T-helper (sel CD4) juga tipe sel lainnya. Riwayat alami HIV
dimulai dengan sindrom virus inisial dalam bulan pertama setelah terpajan, meliputi
demam, nyeri otot, sakit tenggorok, limfadenopati, dan gejala tidak spesifik lain. Pada
saat ini, virus secara cepat bereproduksi, menyebabkan penurunan hitung CD4 yang
drastis dan muatan virus tinggi. Kecuali dalam kasus yang resiko penularannya dapat
diperhatikan, gejala-gejala awal ini biasanya di interpretasikan sebagai suatu infeksi
virus sederhana dan diobati sesuai gejalanya. Karena tubuh meningkatkan respon
imun, muatan virus turun dan jumlah sel CD4 meningkat. Pada orang dewasa yang
tidak terinfeksi, di hitung CD4 normal berkisar dari 500-1500.
Dalam periode waktu yang mungkin berlangsung 10 tahun, penyakit tetap
tersembunyi. Walaupun virus berlanjut untuk bereplikasi dan menghancurkan sel-sel
CD4, virus-virus ini secara cepat berganti tanpa sistem imun terlalu lelah untuk
mempertahankan pengaruh perlindungannya. Pada tahap-tahap lanjut penyakit ini,
penurunan kadar CD4 mencapai titik yang tubuh tidak dapat lagi membela diri
terhadap penyakit umum atau dari penyakit-penyakit yang tidak secara lazim
menyerang manusia (infeksi oportunistik).
Waktu median infeksi terhadap kondisi pasti AIDS adalah antara 8 dan 10
tahun. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi angka perkembangan penyakit adalah
usia, ras, jenis kelamin, penyalahgunaan obat IV, dan karakteristik genetik dan virus.
Wanita tampak memiliki kadar virus dalam pembuluh darah yang relatif rendah

daripada pria pada semua tahap perkembangan penyakit. Diagnosis AIDS adalah
berdasarkan temuan klinis spesifik.
2.2.2. Cara Penularannya
HIV masuk tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan secret vagina,
serta transmisi dari ibu ke anak. Tiga cara penularan HIV adalah sbb:
1. Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan dengan
seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80-90%
total kasus sedunia.
2. Kontak langsung dengan darah, produk darah, atau jarum suntik. Transfusi
darah/produk darah yang tercemar mempunyai risiko sampai>90%, ditemukan
3-5% total kasus sedunia.
3. Transmisi secara vartikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui
plasenta. Resiko penularan dengan cara ini 25-40% dan terdapat < 0,1% total
kasus sedunia.
Setelah masuk tubuh, virus menuju ke kelenjar limfe dan berada dalam sel
dendritik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrom retroviral akut seperti flu
(serupa infeksi mononucleosis) desertai viremia hebat dengan keterlibatan beberapa
kelenjar limfe. Pada tubuh terjadi respon imun humoral maupun selular. Sindrom ini
akan hilang sendiri setelah 1-3 minggu. Kadar virus yang tinggi dalam darah dapat
diturunkan oleh system imun tubuh.
Proses ini terjadi berminggu-minggu sampai terjadi keseimbangan antara
pembentukan virus baru dan upaya eliminasi oleh respon imun. Titik keseimbangan
yang disebut set point ini penting karena menentukan perjalanan penyakit selanjutnya.
Bila tinggi, perjalanan penyakit menuju AIDS akan berlangsung lebih cepat.
Serokonversi (perubahan antibody negatif menjadi positif) terjadi 1-3 bulan
setelah infeksi, tetapi pernah juga dilaporkan sampai 8 bulan. Kemudian pasien akan
memasuki masa tanpa gejala. Dalam masa ini terjadi penuruna secara bertahap jumlah
CD4 (jumlah normal 800-1000/mm3) yang terjadi setelah replikasi persisten HIV
dengan kadar RNA virus relative konstan.
CD4 adalah reseptor pada T4 yang menjadi target sel utama HIV. Pada
awalnya penurunan jumlah CD4 sekitar 30-60/mm3/tahun, tapi pada 2 tahun terakhir

penurunan jumlah menjadi 50-100/mm3/tahun sehingga bila tanpa pengobatan ratarata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8-10 tahun, di mana jumlah CD4
akan mencapai kurang dari 200/mm3.
Angka penularan antar-pasangan heteroseksual dipengaruhi oleh tingkat
infeksivitas pada pasangan yang terkena, penggunaan pelindung lateks seperti
kondom, dan infeksi yang terjadi bersama penyakit hubungan seksual lain.
Penularan dari pria ke pasangan wanita secara berwarna lebih banyak daripada
sebaliknya. Perkiraan penularan dengan satu kali hubungan seksual tanpa pelindung
berkisar dari 9/10.000 sampai 5/1000. Beberapa faktor yang mempengaruhi
keberadaan virus pada serviks, dan lalu meningkatkan resiko wanita positif HIV yang
menularkan pasangannya, termasuk kehamilan, ektopik servikal, kontrasepsi
hormonal, infeksi vagina, penyakit menular seksual, dan perkembangan penyakit
seperti yang ditunjukan oleh muatan virus tinggi atau hitung CD4 yang menurun.
Ada beberapa isu konseling yang meningkat ketika wanita atau pria yang
terinfeksi aktif secara seksual dan menanyakan tentang penularan heteroseksual,
termasuk konseling tentang penggunaan kontrasepsi ditambah pelindung efektif,
kemungkinan keinginan pasangan memiliki anak, apakah pasangan yang tidak
terinfeksi mengetahui status pasangannya, dan tingkat infeksivitas pasangan yang
terkena. Bidan memiliki kewajiban untuk memberi informasi yang tidak biasa kepada
semua pasien, dan perlu mencari komunitas atau sumber daya lain yang dibutuhkan
untuk memenuhi informasi dan kebutuhan perawatan wanita. Bagian tanggung jawab
itu adalah untuk mendidik wanita dalam pengungkapan status penyakit mereka pada
pasangannya, atau untuk memberi sumber lain dalam melaksanakan tanggung jawab
itu.
Penularan melalui pajanan terhadap darah dan cairan tubuh (penularan seksual
eksklusif) sangat dihubungkan dengan penyalahgunaan zat intravena. Namun,
menyadari bahwa setiap lesi kulit yang terbuka adalah jalan masuk bagi jenis
penularan ini merupakan hal sangat penting. Petugas kesehatan, termasuk bidan,
beresiko terpajan kapanpun kewaspadaan universal tidak diikuti. Sebagian besar
klinisi tidak mau menangani orang yang mereka tau terinfeksi HIV. Tetapi banyak
wanita dengan HIV tidak sadar bahwa mereka beresiko terinfeksi. Kewaspadaan

universal berarti tidak mencoba berdasarkan kepercayaan yang salah bahwa seseorang
dapat mengatakan siapa yang beresiko.
Setiap orang yang mengalami cedera jarum atau percikan sebaiknya
memeriksakan diri kepada pekerja unit kesehatan mereka atau dokter pribadi
mengenai penatalaksanaanya. Tidak semua pajanan member tingkat resiko yang sama,
dan waktu terbaik untuk mengatasi pajanan tersebut adalah segera. Penularan
perinatal dibahas dalam bagian tentang kehamilan dan HIV.
2.2.3 Pemerikssaan penunjang
Diagnosi laboratorium dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Cara langsung, yaitu isolasi virus dari sample. Umumnya dengan menggunakan
microskop electron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus
adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Penggunaan PCR antar lain :
Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga
menghambat pemeriksaan serologis.
Menetapkan status infeksi pada individu serinegatif.
Pes pada resiko tinggi sebelum terjadi serokonfersi/
Tes komfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk HIV-2 rendah.
2. Cara tidak langsung yaitu dengan melihat respon zat antispesifik. Tes, misalnya :
ELISA, sensitivitasnya tinggi (98,1-100%). Biasanya memberikan hasil positif
2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif harus dikomfirmasin dengan
pemeriksaan Western Blot
Western Blot, spesifitas tinggi (99,6-100%). Namun, pemeriksaan ini cukup
sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk
komfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.
Immunofluorescent assay (IFA)
Radioimmunopraecipittation assay (RIPA)

2.2.4 HIV dalam kehamilan


Semua wanit hamil sebaiknya secara ideal diuji untuk mengetahui HIV seawal
mungkin saat kehamilan
Selama kehamilan, banyak perubahan peraturan dalam pengobatan
penyakit HIV. Dalam populasi yang tidak diobati resiko absolut standar penularan ibu

kepada anak (mother-to-child transmission, MTCT) tanpa menyusui sebanyak 25%.


Sekitar 5 sampai 10% adalah anteparum, dan sampai 20% intrapartum. Menyusui
menambah resiko absolute penularan 5 sampai 15%. Penatalaksanaan biasanya seperti
tertulis disini untuk menunda awitan terapi anti retrovirus pada orang dewasa sampai
hitung CD4 menurun sampai 350 sel/mm 3 atau kurang, tetapi untuk pencegahan
MTCT ditujukan untuk mempertahankan muatan virus yang tidak terdeteksi tanpa
memperhatikan hitung CD4. Rasionalnya adalah tingkat virus secara langsung
berkaitan dengan infeksi. Walaupun sebagian besar infeksi perinatal (66 sampai 75%)
terjadi disekitar waktu melahirkan, porsi tetap telah terjadi saat antenatal. Banyak
faktor yang mempengaruhi resiko penularan selama kehamilan dan melahirkan.
Muatan virus yang meningkat, perkembangan klinis penyakit, koinfeksi dengan PMS,
hepatitis C dan penyakit lain, penyalahgunaan zat , merokok, banyak pasangan
seksual dan hubungan seksual tanpa pelindung, kelahiran prematur, korioamnionitis,
dan pemantauan atau uji janin invasive, adalah beberapa faktor yeng meningkatkan
resiko MTCT. Muatan virus juga bervariasi diantara kompartemen tubuh, sehingga
tingkat darah HIV mungkin tidak secara langsung berkorelasi dengan sekresi serviks,
walaupun keduanya muncul dengan perilaku sama.

2.2.5 Pengobatan untuk HIV Selama Kehamilan


Monoterapi zidovudin, sebagai pengobatan semula untuk pencegahan
penularan HIV selama kehamilan pada awalnya sebagai percobaan Pediatric AIDS
Clinical Trial Group (ACTG) 076 pada awal 1990. Pengaruh klinis pengobatan tiga
bagian ini (antepartum, intrapartum, dan neonatal) adalah untuk mengurangi MTCT
sebanyak 2/3 , dari 25,6 sampai 8,3%. Ini tetap merupakan standar minimum
perawatan wanita hamil dengan HIV, tanpa memperhatikan muatan virus. Lebih
banyak regimen terapeutik, disebut regimen terapi antiretroviral sangat aktif (highly
active antiretroviral therapy, HAART), telah lebih jauh mengurangi resiko 1 sampai
2%. Bidan yang menyediakan perawatan untuk wanita HIV positif selama kehamilan
mengoordinasikan terapi obat kepada spesialis penyakit infeksi atau dokter perawatan
primer yang berpengalaman dalam penatalaksanaan HIV untuk mempertahankan
pilihan pengobatan jangka panjang yang paling efektif. Wanita yang sudah
mengkonsumsi HAART harus melanjutkan tanpa menghentikan obat pada trimester

pertama, wanita yang didiagnosis baru, dan mereka yang sedang tidak diobati,
sebaiknya menunggu sampai organogenesis lengkap sebelum memulai terapi.
Pertimbangan dalam meresepkan obat selama kehamilan termasuk kebutuhan obat
wanita itu sendiri dan kemampuan untuk mematuhi program yang kompleks, terapi
sebelumnya, dan potensial untuk berkembangnya resistensi. Menyeimbangkan
pencegahan jangka pendek MTCT dengan terapi seumur hidup ibu adalah diluar
lingkup praktik kebidanan dasar.
Walaupun semua obat HIV yang saat ini dipasarkan oleh FDA diklasifikasikan
sebagi kelas B atau C, data efek pada janin dan neonatal secara luas berasal dari resep
obat pragmatik bagi kebutuhan ibu itu sendiri dan pengurangan muatan virus.
Zidovudin tetap satu-satunya obat yang digunakan untuk periode lama untuk
menyatakan bahwa asil untuk anak-anak yang tidak terinfeksi mengindikasikan tidak
ada masalah jangka panjang.
Studi pada wanita yang mengkonsumsi antiretroviral selama kehamilan,
dibandingkan dengan wanita HIV positif yang tidak sedang dalam pengobatan, telah
menunjukan tidak ada peningkatan dalam kehilangan janin, kelahiran prematur, atau
berat badan lahir rendah. Namun, kejadian berat bermakna telah terjadi yang dapat
mempengaruhi hasil kehamilan individu, seperti insufisiensi mitokondria dan asidosis
laktat. Dengan hanya mengetahui kategori FDA tidak cukup untuk menjamin
penggunaan yang aman. Evafirenz (Sustiva) diketahui menghasilkan pengaruh
teratogenik pada primata dan karenanya tidak digunakan selama kehamilan walaupun
kategorinya C. pendaftaran kehamilan antiretroviral mempertahankan penyimpanan
data hasil janin secara berkelanjutan.
Kelas-Kelas Obat HIV

Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)

Nama Obat Generik, Singkatan


(Merk)

Kategori FDA

Dosis

Nevirapin, NVP (Viramune)

200 mg po 2x sehari

Delavirdin, DLV (rescriptor)

400 mg po 2x sehari

Efaviren, EFV (Sustiva)

C*

600 mg po 2x setiap malam

Protease Inhibitor (PI)


Nama
Kategori
Dosis Dosis
Nama Obat
Obat Generik,
Generik, Singkatan
Kategori FDA
Singkatan
FDA
(Merk) (Merk)
Zidovudin,
C
Saquinavir, AZT
SQV, hgc (Inverase)
(Retrovit)
Saquinavir, SQV, sgc
Lamivudin,
C
(Fortovase) 3TC (Epivir)

300 mg 400
po 2x
mgsehari
po 2x sehari dengan RTV

1200 mg po 3x sehari
150 mg po 2x sehari

Didanosin,
ddl (Videx)
Ritonavir, RTV
(Norvir)

<60 kg 250
hari atau
600 mg
mg po
po setiap
3x sehari
125 mg po 2x sehari (tablet)
800 mg po 3x setiap 8 jam
Atau 250 mg po setiap hari atau
mgsehari
po 3x(bubuk)
sehari ATAU 1250 mg po 2x
167 mg 750
po 2x
sehari
>60 kg 400 mg po setiap hari atau
1200 mg po 3x sehari (kapsul) ATAU 1400
200 mg po 2x sehari (tablet)
mg po (larutan oral)
Atau 500 mg po setiap hari atau
400mg LPV + 100 mg RTV po 2x sehari
250 mg po 2x sehari (bubuk)

Indanavir, IDV (Crixivan)

Nelfinavir, NFV (Viracept)

Amprenavir, APV (Agenarase)

Lopinavir/Ritonavit, LPV/RTV
(Kaletra)

Atau Videx EC 400 mg po setiap


hari
Zalsitabin, ddC (Hivid)

0.75 mg po 3x sehari

Stavudin, d4T (Zerit)

<60 kg 30 mg po 2x sehari
>60 kg 40 mg po 2x sehari

Abakavit, APV (Ziagen)

300 mg po 2x sehari

AZT + 3TC (Combivir)

300 mg AZT + 150 mg 3TC po 2x


sehari

AZT + 3TC + ABC


(Trizivit)

300 mg AZT + 150 mg 3TC +


300 mg ABC po 2x sehari

Tenofovir DF (Viread)

300 mg po setiap hari

Non-nucleoside Reverse
transciptase Inhibitors
(NNRTI)

Tidak digunakan pada wanita hamil karena studi menunjukan teratogenesitas.

2.4.6 Rute Melahirkan dan Resiko Penularan


Beberapa studi telah menunjukan penurunan resiko penularan ketika kelahiran
dengan seksiocesaria, cukup bulan sebelum awitan persalinan, dan bersentuhan
dengan membran amnion. Penurunan ini dapat melibihi 50 persen, dan faktor lain
seperti muatan virus atau terapi antiretroviral. Bila wanita hanya mendapatkan
program zidovudin dan telah menjalani pelahiaran sesar secara profilaktik, angka
penularan ditemukan serendah 2 persen, dibandingkan dengan angka yang dicapai
dengan HAART, muatan virus yang tidak terdeteksi, dan kelahiran vaginal. Tidak
jelas seberapa tambahan penurunan dapat dicapai dengan kelahiran sesar pada wanita
yang tidak terdeteksi muatan virusnya HAART, beberapa kasus penularan antepartum
dapat terjadi seawal mungkin pada trimester pertama. Oleh karena itu, kelahiran
vaginal merupakan pilihan yang masuk akal bagi wanita ini. Juga diketahui semakin
lama membran ruptur, semakin besar resiko penularan pada waktu melahirkan. Untuk
alasan ini, wanita dengan muatan virus lebih dari 1000 sebaiknya selalu dilakukan
sesar, dan wanita yang mengikuti konseling berkenaan dengan resiko dan keuntungan
melahirkan pervagina dibandingkan sesar untuk ibu dan janin, permintaan pelahiran
secara sesaria sebaiknya diakomodasi.

2.2.7 Pencegahan untuk Penolong Persalinannya


Dalam persalinan, SC bukan merupakan indikasi untuk menurunkan risiko infeksi
pada bayi yang dilahirkan. Penularan kepada penolong persalinan dapat terjadi
dengan rate 0-1% pertahun exposure. Oleh karena itu dianjurkan untuk melaksanakan
upaya pencegahan terhadap penularan infeksi bagi petugas kamar bersalin sebagai
berikut:
1. Gunakan pakaian, sarung tangan dan masker yang kedap air dalam menolong
persalinan.
2. Gunakan sarung tangan saat menolong bayi
3. Cucilah tangan setelah selesai menolong penderita AIDS
4. Gunakan pelindung mata (kacamata)

5. Peganglah plasenta dengan sarung tangan dan beri label sebagai barang
infeksius
6. Jangan menggunakan penghisap lendir bayi melalui mulut
7. Bila dicurigai adanya kontaminasi, lakukan konseling dan periksa antibody
terhadap HIV serta dapatkan AZT sebagai profilaksis

2.2.8 Perawatan pada Pascapersalinan


Perawatan pascapersalinan perlu diperhatikan yaitu kemungkinan penularan
melalui pembalut wanita, lochea, luka episiotomi ataupun luka SC. Untuk perawatan
bayi, sebaiknya dilakukan oleh dokter anak yang khusus untuk menangani kasus ini.
Perawatan ibu dan bayi tidak perlu dipisah, harus diusahakan agar pada bayi tidak
dilakukan tindakan yang membuat perlukaan bila tidak perlu betul, misalnya jangan
lakukan sirkumsisi. Perawatan tali pusat harus dijalankan dengan cermat. Imunisasi
yang menggunakan virus hidup sebaiknya ditunda sampai terbukti bahwa bayi
tersebut tidak menderita virus HIV. Antibodi yang didapatkan pasif dari ibu akan
dapat bertahan sampai 15 bulan. Jadi diperlukan pemeriksaan ulang berkala untuk
menentukan adanya perubahan ke arah negatif atau tidak. Infeksi pada bayi mungkin
baru tampak pada usia 12-18 bulan.
2.3 Typus Abdominalis
2.3.1 Pengertian Typus Abdominalis
Typus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran
pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna,
gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 13 tahun
(

70%

80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10% - 20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun
sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999).
Typus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai
saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan

dan
gangguan kesadaran (FKUI. 1999).
Typus Abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan
gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan
dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan,1990).
2.3.2 Etiologi Typhoid
Etiologi demam tyfoid adalah Salmonella typhi. Sedangkan demam paratifoid
disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella enteritidis, yaitu
S. Enteritidis bioserotipe paratyphi A, S. Enteritidis bioserotipe paratyphi B, S.
Enteritidis bioserotipe paratifi C. Kuman-kuman ini lebih dikenal dengan nama S.
Paratyphi A, S. Schottmuelleri, dan S. Hirschfeldii.
2.3.3 Patofisiologi
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang
dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella
thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat,
dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat.
Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci
tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang
yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian
kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial.
Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah
dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.
Kuman Salmonella Thypoid masuk tubuh manusia melalui mulut dengan
makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung.
Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di

ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan
perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella Typi kemudian menembus ke
lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga
mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini salmonella typi
masuk ke aliran darah melalui duktus thoracicus. Kuman salmonella typi lain
mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella typi bersarang di plaque
peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Semula disangka
demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia.
Tapi kemudian berdasarkan penelitian ekperimental disimpulkan bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam
tifoid. Endotoksin salmonella typi berperan pada patogenesis demam tifoid, karena
membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat salmonella typi
berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena salmonella typi dan
endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen oleh zat leukosit
pada jaringan yang meradang.
Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala-gejala yang timbul
amat bervariasi. Perbedaaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di
daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi dari
penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan
komplikasi dan kematian hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat
berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan membuat diagnosis klinis demam
tifoid.
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit
infeksi akut pada umumnya , yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia,
mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis.
Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat. dalam minggu kedua
gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardia relatif, lidah yang khas
(kotor di tengah, tepi daan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali,
meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau
psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.
2.3.4 Tanda dan Gejala Typhoid

Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau
minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian
mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang
biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis
yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan
gejala yang ditimbulkan antara lain :
1) Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun
menjelang malamnya demam tinggi.
2) Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya
anak akan merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam
atau pedas.
3) Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di
hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan
lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan,
akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi
lewat mulut.
4) Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan
gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam
beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5) Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas,
pusing. Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di
perut.
6) Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman
dengan berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah
seringkali terjadi gangguan kesadaran.

Minggu I : infeksi akut (demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, mual, diare).
Minggu II : Gejala lebih jelas (demam, bradikardia relatif, lidah kotor, nafsu

makan menurun, hepatomegali, ggn kesadaran).


Minggu III : Dalam minggu III suhu badan berangsur-angsur dan normal

kembali pada akhir minggu III.


Minggu IV: Suhu kembali normal proses penyakit bisa sembuh atau tidak
sembuh malah sampai terjadi perforasi.

2.3.5 Diagnosa Penyakit Demam Tifoid

Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan


melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium diantaranya pemeriksaan darah tepi,
pemeriksaan Widal dan biakan empedu.
Pemeriksaan darah tepi merupakan pemeriksaan sederhana yang mudah
dilakukan di laboratorium sederhana untuk membuat diagnosa cepat. Akan ada
gambaran jumlah darah putih yang berkurang (lekopenia), jumlah limfosis yang
meningkat dan eosinofilia.
Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti
terhadap kuman tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau
menunjukkan kenaikan progresif.
Diagnosa demam Tifoid pasti positif bila dilakukan biakan empedu dengan
ditemukannya kuman Salmonella typhosa dalam darah waktu minggu pertama dan
kemudian sering ditemukan dalam urine dan faeces.
Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample
urine dan feces dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita
telah benar-benar sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier).
Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah
penyakit lain maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima
hari, dokter akan memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit
infeksi lain seperti Paratifoid A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza,
malaria, TBC (Tuberculosis), dan infeksi paru (Pneumonia).
Uji Widal merupakan suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum
klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen
yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan
diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu:
1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).

2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel


kuman).
3. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
2.3.6 Perawatan dan Pengobatan Penyakit Demam Tifoid
Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau
types bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit,
mencegah terjadinya komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali.
Pengobatan penyakit tifus dilakukan dengan jalan mengisolasi penderita dan
melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk mencegah penularan. Pasien
harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun, kemudian baru
boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul
seperti demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka
pilihan antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan
terjadi pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun
beberapa dokter ada yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin,
trimethoprim-sulfamethoxazole, kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai
kondisi pasien. Demam berlebihan menyebabkan penderita harus dirawat dan
diberikan cairan Infus.
2.4.7

Pengobatan demam tifoid pada ibu hamil


Tidak semua antibiotik dapat digunakan untuk pengobatan tifoid pada wanita

hamil. Kloramfenikol tidak boleh diberikan pada trimester ketiga kehamilan, karena
dapat menyebabkan partus prematur, kematian fetus intrauteri, dan sindrom Gray
pada neonatus. Demikian pula dengan tiamfenikol yang mempunyai efek teratogenik
terhadap fetus. Namun kehamilan lebih lanjut, tiamfenikol dapat diberikan. Selain itu,
kotrimoksazole dan flourokuinolon juga tidak boleh diberikan.

Antibiotik yang aman bagi kehamilan adalah golongan penisilin (amfisilin,


amoksisilin), dan sefalosporin generasi ketiga kecuali pasien yang hipersensitif
terhadap obat tersebut.
2.4.8 Pencegahan Penyakit Demam Tifoid
Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara perbaikan
higiene dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan. Imunisasi dengan
menggunakan vaksin oral dan vaksin suntikan (antigen Vi Polysaccharida capular)
telah banyak digunakan. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa
dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa
(tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Hepatitis infeksiosa disebabkan oleh virus dan merupakan penyakit hati yang
paling sering dijumpai dalam kehamilan. Pada trimester I dapat terjadi keguguran,
akan tetapi jarang dijumpai kelainan congenital (anomaly pada janin). Sedangkan
pada trimester II dan III sering terjadi premature. Tidak dianjurka untuk melakukan
terminasi kehamilan dengan induksi atau SC, karena akan mempertinggi risiko pada
ibu. Pada hepatitis B janin kemungkinan dapat tertular melalui plasenta, waktu lahir,
atau masa neonatus; walaupun masih masih kontroversi penularan melalui air susu.
Human immunodeficiency virus adalah retrovirus RNA yang lebih suka
menyerang limfosid T-helper (sel CD4) juga tipe sel lainnya. Riwayat alami HIV
dimulai dengan sindrom virus inisial dalam bulan pertama setelah terpajan, meliputi
demam, nyeri otot, sakit tenggorok, limfadenopati, dan gejala tidak spesifik lain.
Kecuali dalam kasus yang resiko penularannya dapat diperhatikan, gejala-gejala awal
ini biasanya di interpretasikan sebagai suatu infeksi virus sederhana dan diobati sesuai
gejalanya.

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah
Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ).
3.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Bagi mahasiswa kebidanan diharapkan dapat memahami materi ini dengan
baik, agar saat turun ke lapangan tidak terjadi kesalahan dalam memberikan
pelayanan penyakit infeksi.
2. Bagi Institusi
Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
lembaga institusi mengenai materi yang kami sajikan. Kami juga berharap dengan
adanya masukan dari lembaga institusi ini bisa memacu kami untuk lebih baik
kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
Chapma, Vicky. 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Kehamilan.
Jakarta : EGC.
Varney, Helen.dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4. Jakarta. EGC.
Bari Saifudin, Abdul, dkk. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBP-SP.
Prawirohardjo, Sareono. 2008. Ilmu Kebidanan edisi keempat, Jakarta : BP-SP.
Mansjoer, Arief, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid 2. Jakarta :
Media Aesculapius.