Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Kepribadian dapat didefinisikan sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku


yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang
biasanya. Kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. Gangguan kepribadian
adalah suatu varian dari sifat karakter tersebt yang di luar rentang yang ditemukan
pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan
maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau
penderitaan subjektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian. 1-3
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif ditandai oleh penyempitan emosional,
ketertiban, kekerasan hati, sikap keras kepala, dan kebimbangan. Gambaran
penting dari gangguan ini adalah pola perfeksionisme dan infleksibilitas yang
pervasif. Dalam ICD-10 gangguan ini disebut sebagai gangguan kepribadian
anankastik.1,4-5
Prevalensi gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah tidak diketahui.
Keadaan ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita dan didiagnosis
paling sering pada anak yang tertua. Gangguan ini juga lebih sering terjadi pada
sanak saudara biologis derajat pertama dari orang dengan gangguan tersebut
dibandingkan dengan populasi umum. Dibandingkan dengan populasi normal,
orang dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif lebih sering untuk tidak
menikah, tidak memiliki pekerjaan, dan memiliki hendaya sosial dan bekerja. 6-9
Dalam wawancara pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
mungkin memiliki kelakuan yang kaku, resmi, dan dingin. Afek mereka tumpul
atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai terkonstriksi.1,7
Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tidak
dapat diramalkan. Dari waktu ke waktu obsesi atau kompulsi dapat berkembang
dalam perjalanan gangguan kepribadian.

Tidak seperti pasien gangguan

kepribadian lainnya, pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif sering kali


tahu bahwa mereka sakit, dan mencari pengobatan atas kemauan sendiri. 1,5-9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepribadian
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku
yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang
biasanya. Kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. Gangguan kepribadian
adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang di luar rentang yang
ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel
dan maladaptif dan dapat menyebabkan ganguan fungsional yang bermakna atau

penderitaan subjektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.


Pasien dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola maladaptif, mendarah
daging, tidak fleksibel, yang berhubungan dan mengesankan lingkungan dan
dirinya sendiri.
Orang tersebut jauh lebih mungkin menolak bantuan psikiatrik dan menyangkal
masalahnya dibandingkan orang dengan gangguan kecemasan, gangguan depresif,
atau gangguan obsesif-kompulsif. Gejala gangguan kepribadian adalah aloplastik
(yaitu mampu mengadaptasi dan mengubah lingkungan eksternal) dan egosintonik (yaitu dapat diterima oleh ego); mereka dengan gangguan kepribadian
tidak merasa cemas tentang perilaku maladaptifnya. Karena orang tersebut secara
rutin merasakan sakit dari apa yang dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya,
mereka sering kali dianggap sebagai tidak bermotivasi untuk pengobatan dan
tidak mempan terhadap pemulihan.
2.1.1 Klasifikasi
Gangguan kepribadian dikelompokkan ke dalam tiga kelompok dalam Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV). Kelompok
A terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal; orang
dengan gangguan ini sering kali tampak aneh dan eksentrik. Kelompok B terdiri
dari gangguan kepribadian antisosial, ambang, histrionik, dan narsistik; orang
dengan gangguan ini sering tampak dramatik, emosional, dan tidak menentu.
Kelompok C terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen, dan
obsesif kompulsif, dan satu kategori yang dinamakan gangguan kepribadian yang
tidak ditentukan; orang dengan gangguan ini seringkali tampak cemas atau
ketakutan.
2.2 Etiologi
2.2.1 Faktor Biologis
a. Neurotransmiter

Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap


berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi
serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan
kompulsi

dari

gangguan.

Data

menunjukkan

bahwa

obat

serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi


sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di
dalam penyebab gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas
pada saat ini. Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi
metabolit serotonin sebagai contohnya, 5-hydroxyndoleacetic acid
(5-HIAA) di dalam cairan serebrospinal dan afinitas sertai jumlah
tempat

ikatan

trombosit

pada

pemberian

imipramine(yang

berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah


melaporkan berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien
dengan gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa penelitian telah
mengatakan

bahwa

sistem

neurotransmiter

kolinergik

dan

dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah dua


bidang penelitian riset untuk di masa depan.3

b. Penelitian pencitraan otak


Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai
contoh PET (positron emission tomography), telah menemukan
peningkatan aktifitas (sebagai contoh, metabolisme dan aliran
darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kaudata), dan
singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Baik
tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik
(MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara
biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Baik
penelitian pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten
dengan pengamatan bahwa prosedur neurologis yang melibatkan

singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan


gangguan obsesif-kompulsif. Suatu penelitian MRI baru-baru ini
melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis. 3

c. Genetika
Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan
obsesif-kompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka
kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar
monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Penelitian keluarga
pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa
35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesifkompulsif juga menderita gangguan. 3
d. Data biologis lainnya
Penelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram
(EEG) tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data
yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan
gangguan obsesif-kompulsif. Suatu insidensi kelainan EEG
nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada
pasien gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian EEG tidur telah
menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada
gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM (rapid eye
movement). Penelitian neuroendokrin juga telah menemukan
beberapa kemiripan dengan gangguan depresif, seperti nonsupresi
pada dexamethasone-suppression test pada kira-kira sepertiga
pasien dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus
clonidine (catapres). 3
2.2.2 Faktor Perilaku

Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus
yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui
proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa yang
secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. Jadi, objek dan
pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu
menimbulkan kecemasan atau gangguan. 3
Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa
tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran
obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsif
atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan. Secara bertahap,
karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan dorongan sekunder yang
menyakitkan (kecemasan), strategi menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola
perilaku kompulsif yang dipelajari. 3

2.2.3 Faktor Psikososial


a. Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari ciri
kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan
obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid.
Dengan demikian, sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau
tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif.
Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesifkompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.3
b. Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan
psikologis utama yang menentukanbentuk dan kualitas gejala dan

sifat karakter obsesif-kompulsif; isolasi, meruntuhkan (undoing),


dan pembentukan reaksi. 3
1) Isolasi
Isolasi
melindungi

adalah

seseorang

mekanisme
dari

afek

pertahanan
dan

impuls

yang
yang

mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi, afek dan


impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari
komponen idesional dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika
isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait
seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya
menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang
berhubungan dengannya. 3
2) Undoing
Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa
impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi
dan menjadi bebas, operasi pertahanan sekunder diperlukan
untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang
mengancam keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif
menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif
yang

ditujukan

untuk

menurunkan

kecemasan

dan

mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara


memadai oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang
cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan (undoing).
Seperti yang disebutkan sebelumnya, meruntuhkan adalah
suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha
untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara
irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls
obsesional yang menakutkan. 3

3) Pembentukan reaksi
Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang
bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang
jelas berlawanan dengan impuls dasar. Seringkali, pola
yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan
dan tidak sesuai. 3
4) Faktor psikodinamik lainnya
Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesifkompulsif dinamakan neurosis obsesif-kompulsif dan
merupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke
fase psikoseksual anal. Jika pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang
pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang
penting, mereka mundur dari fase oedipal dan beregresi ke
stadium

emosional

yang

sangat

ambivalen

yang

berhubungan dengan fase anal. Adanya benci dan cinta


secara

bersama-sama

kepada

orang

yang

sama

menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan


kebimbangan. Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif adalah derajat dimana mereka
terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas
dalam isi gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak
di belakangnya. Dengan demikian, psikogenesis gangguan
obsesif-kompulsif, mungkin terletak pada gangguan dan
perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan
dengan fase perkembangan anal-sadistik. 3
5) Ambivalensi
Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan
dalam karakteristik kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri

yang penting pada anak normal selama fase perkembangan


anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian
kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan
tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukantidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan
yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan. 3
6) Pikiran magis
Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan
cara pikiran awal, ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan
juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Yang melekat pada
pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang
merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di
dunia

luar

terjadi

tanpa

tindakan

fisik

yang

menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir


tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan
memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi
pasien gangguan obsesif-kompulsif. 3
2.3 Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif ditandai oleh penyempitan emosional,
ketertiban, kekerasan hati, sikap keras kepala, dan kebimbangan. Gambaran
penting dari gangguan ini adalah pola perfeksionisme dan infleksibilitas yang
pervasif. Dalam ICD-10 gangguan ini disebut juga gangguan kepribadian
anankastik.
Obsesi didefinisikan sebagai berikut:

Adanya pikiran, niat, atau gambaran yang rekuren, persisten, yang dialami
oleh seseorang dan dapat mengganggu, ditandai dengan adanya kecemasan

dan stres.
Individu tersebut berniat untuk menahan pikiran ataupun impuls tersebut
dengan berbagai pikiran atau tindakan

Kompulsi didefinisikan sebagai berikut:

Tindakan berulang /repetitif (seperti mencuci tangan, memerintah, atau


memeriksa) atau kegiatan mental (berdoa, menghitung, mengulang katakata dalam hati) yang dilakukan sebagai respons terhadap obsesi atau
menurut peraturan dirinya yang harus dilakukan. Kegiatan ini bukanlah

hasil dari pengaruh zat atau substansi tertentu


Kegiatan dari tindakan tersebut bertujuan untuk mengurangi distres atau
mencegah suatu kejadian atau situasi yang menakutkan. Namun, tindakan
tersebut sama sekali tidak ada pengaruhnya untuk mencegah situasi
tersebut dan bersifat eksesif.

Berikut adalah hubungan antara obsesi dengan tindakan kompulsif yang terkait
satu sama lain.
Obsesi
Ketakutan akan kontaminasi
Keperluan akan adanya

simetri,

Kegiatan kompulsif yang biasanya terkait


Mencuci tangan, membersihkan
atau Mengurutkan, mengatur, menyeimbangkan,

pengaturan yang presisi


atau meluruskan hingga benar
Pikiran seksual atau agresif yang tidak Memeriksa, berdoa, menanyakan keamanan
diinginkan
Curiga/Ketidakyakinan

dirinya
Kegiatan memeriksa yang repetitif (apakah

Ketakutan menghilangkan benda berharga

pintu rumah terkunci atau tidak)


Menyimpan barang yang berlebihan

2.3.1 Epidemiologi
Prevalensi dari gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah tidak diketahui.
Keadaan ini lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita dan didiagnosis
paling sering pada anak yang tertua. Gangguan juga lebih sering terjadi pada

10

sanak saudara biologis derajat pertama dari orang dengan gangguan tersebut
dibandingkan populasi umum.
Pasien sering kali memiliki latar belakang yang ditandai oleh disiplin yang keras.
Freud menghipotesiskan bahwa gangguan ini adalah berhubungan dengan
kesulitan pada stadium anal dari perkembangan psikoseksual, biasanya di sekitar
usia 2 tahun. Tetapi , pada berbagai penelitian teori tersebut belum disahkan.
Onset rata-rata dari OCD berkisar dari umur 22-36 tahun, dan 15% dari pasien
memiliki OCD yang berkembang setelah umur 35 tahun. Pria cenderung memiliki
umur onset yang lebih awal dibandingkan dengan wanita, namun jumlah penderita
wanita bertambah seiringnya dengan umur, di mana 50% dari orang dewasa
dengan OCD adalah wanita. OCD adalah penyakit kronis di mana gejalanya dapat
bertambah dan berkurang, dan diharapkan dengan medikasi maka gejalanya akan
berkurang.
OCD seringkali tidak didiagnosis dan tidak ditangani. Hal ini disebabkan karena
pasien seringkali menyimpan hal tersebut dalam diri sendiri dan tidak berani
untuk mengungkapkannya kepada orang lain, kecuali ketika mereka berobat. Di
barat, OCD seringkali tidak didiagnosis karena kebanyakan dari penderita tidak
memiliki akses ke pengobatan, dan hal lain karena asuransi tidak membiayai
terapi perilaku.
OCD memiliki dasar genetik, di mana kejadian OCD lebih tinggi pada kembar
monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Prevalensi OCD meningkat pada
saudara biologis derajat pertama dibandingkan dengan subjek kontrol, dan usianya
berbanding terbalik jika OCD diturunkan secara genetis, di mana individu yang
memiliki onset OCD relatif tua dipercaya jika memiliki anak dengan OCD, onset
OCD akan terjadi lebih muda.

2.3.2 Diagnosis

11

Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif


mungkin memiliki kelakuan yang kaku, resmi, dan dingin. Afek mereka tidak
tumpul atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai terkonstriksi. Mereka tidak
memiliki spontanitas. Mood mereka biasanya serius. Pasien tersebut mungkin
ketakutan tentang tidak dalam pengendalian wawancara. Jawaban mereka
terhadap pertanyaan biasanya terinci. Mekanisme pertahanan yang digunakan
adalah

rasionalisasi,

isolasi,

intelektualisasi,

pembentukan

reaksi,

dan

meruntuhkan.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif


Pola pervasif preokupasi dengan urutan, perfeksionisme, dan pengendalian mental
dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan, dan efisiensi,
dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang
ditunjukkan oleh empat (atau lebih ) berikut:
1. Terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan, atau
jadwal sampai tingkat di mana aktivitas utama hilang
2. Menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas
(misalnya, tidak mampu menyelesaikan suatu proyek karena tidak
memenuhi standarnya sendiri yang terlalu ketat)
3. Secara berlebihan setia kepada pekerjaan dan produktivitas sampai
mengabaikan aktivitas waktu luang dan persahabatan (tidak disebabkan
oleh kebutuhan ekonomi yang besar)
4. Terlalu berhati-hati, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas,
etika, atau nilai-nilai (tidak disebabkan oleh identifikasi kultural atau
religius)
5. Tidak mampu membuang benda-benda yang usang atua tidak berguna
walaupun tidak memiliki nilai sentimental
6. Enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain
kecuali mereka tunduk dengan tepat caranya mengerjakan hal

12

7. Memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang
lain; yang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk bencana
di masa depan
8. Menunjukkan kekakuan dan keas kepala

Selain itu diagnosis dari OCD dibasiskan dari gejala klinis. Tidak seperti pasien
psikosis, pasien OCD memiliki tilikan dan menyadari bahwa tindakan mereka itu
ekstrim atau tidak logis. Seringkali merasa malu atas tindakan mereka, mereka
menyembunyikan tindakan tersebut . Namun, ada juga yang memiliki tilikan yang
rendah, dimana mereka membenarkan tindakan mereka tersebut. Karena pasien
cukup kooperatif untuk menceritakan bahwa mereka memiliki gejala OCD, maka
beberapa pertanyaan seperti ini dapat membantu diagnosis:

Apakah Anda memiliki pikiran yang membuat Anda gelisah dan sulit

untuk disingkirkan sekeras apapun Anda mencobanya?


Apakah Anda menjaga kebersihan berlebihan atau mencuci tangan Anda

sesering mungkin?
Apakah Anda memeriksa suatu hal terlalu sering?

Jawaban yang mengiyakan biasanya sudah cukup menguatkan sebuah diagnosis


dari OCD, mengindikasikan untuk pertanyaan lebih lanjut untuk memenuhi
kriteria diagnosis dari OCD.
Anamnesis yang dilakukan juga sebaiknya disertai dengan menyanyakan riwayat
psikiatri dari pasien. Individu dengan OCD seringkali memiliki gangguan
psikologis lainnya yang merupakan komorbiditas, seperti gangguan depresif,
penyalahgunaan alkohol, gangguan kecemasan, dan gangguan impuls seperti
trikotilomania, serta gangguan tic.

Oleh karena itu dalam menanyakan riwayat psikiatri harus dicari juga
komorbiditasnya, seperti:

13

Gejala gangguan perasaan dan gangguan cemas.


Adanya gangguan somatoform, seperti hipokondriasis
Gangguan makan
Gangguan pengendalian impuls
ADHD

Adanya onset dini OCD seringkali disertai dengan gangguan tic, seperti sindroma
Tourette. Selain itu juga seringkali disertai dengan ADHD.
Oleh karena individu dengan OCD seringkali disertai dengan Skizofrenia oleh
karena itu sebaiknya ditanyakan:

Riwayat keluarga akan OCD, gangguan tic, ADHD dan gangguan

psikiatrik lainnya.
Apakah ada penyalahgunaan zat maupun alkohol
Riwayat infeksi

2.3.3 Gambaran Klinis


Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif memiliki keasyikan
dengan aturan, peraturan, ketertiban, kebersihan, perincian, dan pencapaian
kesempurnaan. Sifat tersebut menyebabkan penyempitan umum pada kepribadian
keseluruhan. Orang tersebut adalah resmi dan serius dan sering kali tidak
memiliki rasa humor. Mereka memaksakan aturan supaya diikuti secara kaku dan
tidak mampu untuk menoleransi apa yang dirasakannya sebagai pelanggaran.
Dengan demikian, mereka tidak memiliki fleksibilitas dan intoleran. Mereka
mampu bekerja lama, asalkan dilakukan secara rutin dan tidak memerlukan
perubahan yang tidak dapat diadaptasi oleh merek.a
Keterampilan interpersonal pasien gangguan kepribadian OCD adalah terbatas.
Mereka mengasingkan orang lain, tidak mampu untuk berkompromi, dan
memaskakan supaya orang lain tunduk pada kebutuhan mereka. Tetapi, mereka
mudah memaafkan mereka yang dipandangnya sebagai lebih berkuasa
dibandingkan dirinya dan memnuhi keinginan mereka dalam cara penguasa.

14

Karena mereka takut melakukan kesalahan, mereka mengalami kebimbangan dan


berpikir lama dalam mengambil keputusan. Walaupun perkawinan yang stabil dan
pekerjaan yang adekuat cukup banyak dimiliki oleh penderita OCD, pasien OCD
memiliki sedikit teman.
Segala sesuatu yang mengancam merusak rutinitas kehidupan pasien atau
stabilitas mereka dapat mencetuskan kecemasan yang berat yang terjalin dalam
ritual yang mereka tetapkan pada kehidupan mereka sendiri dan dicoba untuk
ditetapkan pada orang lain.
2.3.4 Pemeriksaan Fisik
Pada orang OCD dengan kegiatan kompulsif tertentu dapat ditemukan adanya
kelainan berupa:

Erupsi eksema pada orang dengan kegiatan mencuci tangan berlebihan


Kehilangan rambut karena terus menerus mencabut rambutnya sendiri
Ekskoriasi pada tindakan kompulsif mencabut kulitnya sendiri (pada
pinggir kuku atau luka)

2.4 Patofisiologi
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif telah dikaitkan dengan adanya gangguan
dalam sistem serotonin otak. Gangguan sistem serotonin namun seringkali
dikaitkan dengan gangguan psikologis lainnya. OCD dikaitkan dengan adanya
gangguan pada reseptor post sinapsis yang mengalami hipersensitivitas. Individu
dengan OCD dapat mengalami disfungsi spesifik pada gen yang mengkodekan
transporter serotonin dan reseptor serotonin.
Adanya fitur umum pada OCD yaitu curiga berlebihan dan tindakan repetitif
mensugestikan bahwa daerah terdapat daerah otak spesifik yang menyebabkan
gangguan ini. Secara khusus daerah otak fronto-orbital striatal, dan korteks
prefrontal mengatur inhibisi respons dan perencanaan. Oleh karena itu terdapat
juga sebuah meta analisis yang menyatakan bahwa gangguannya kemungkinan
ada pada daerah tersebut.

15

Temuan yang serupa juga didapatkan pada anak-anak. Bagian substansia alba
pada otak daerah frontal dinyatakan memiliki anomali pada individu dengan
gangguan kepribadian obsesif kompulsif, yang sejalan dengan hipotesis bahwa
terdapat disregulasi pada otak bagian tersebut.

2.5 Diagnosis Banding


Jika ditemukan obsesi atau kompulsi yang rekuren, gangguan obsesif-kompulsif
harus ditulis dalam aksis I. Kemungkinan pembedaan yang paling sukar adalah
antara pasien rawat jalan dengan sifat obsesif-kompulsif dan pasien dengan
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian
diberikan pada pasien dengan gangguan bermakna dalam efektivitas pekerjaan
atau sosialnya. Pada beberapa kasus, gangguan delusional terjadi bersama-sama
dengan gangguan kepribadian dan harus dicata.
Klinisi sebaiknya cukup mengenali baik kriteria diagnostik dari OCD dan
diferensial diagnosisnya. Selain itu, harus juga dipikirkan gangguan psikologis
komorbid lainnya seperti:
1. Gangguan depresif (30-70%)
2. Gangguan panik (14%)
3. Gangguan somatoform (14.5%)
4. Gangguan cemas (20%)
5. Fobia sosial (24%)
6. ADHD
7. Sindroma Tourette (5-7%)
8. Trikotilomania
9. Neurodermatitis
10. Penyalahgunaan zat
11. Gangguan makan
Identifikasi dari hal-hal tersebut dapat membantu mengarahkan terapi dan
mengidentifikasi pasien mana yang memiliki risiko lebih tinggi untuk bunuh diri
atau mencelakai diri sendiri.

16

Pasien dengan OCD kebanyakan tidak mencari pengobatan. Banyak individu


dengan OCD menunda beberapa tahun sebelum mendapatkan evaluasi mengenai
gejala OCD mereka. Pasien dengan OCD sering merasa malu karena gejala yang
dialaminya dan berusaha keras untuk menutupinya dari keluarganya, teman, atau
petugas medis.
2.6 Perjalanan Penyakit dan Prognosis
Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tidak
dapat diramalkan. Dari waktu ke waktu, obsesi atau kompulsi dapat berkembang
dalam perjalanan gangguan kepribadian. Beberapa remaja dengan gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif berkembang menjadi orang dewasa yang hangat,
terbuka, dan ramah; tetapi orang lain, gangguan dapat mengawali skizofrenia atau
beberapa puluh tahun kemudian dan dieksaserbasi oleh proses penuaan, dan
menyebabkan gangguan depresif berat.
Orang dengan OCD dapat bekerja dengan baik dalam posisi yang membtutuhkan
pekerjaan metodologis, deduktif, atau terperinci, tetapi mereka rentan terhadap
perubahan yang tidak diharapkan, dan kehidupan pribadi mereka masih tetap
tandus. Gangguan depresif, khususnya dengan onset lambat, seringkali ditemukan.
2.7 Terapi
Terapi yang dilakukan dapat berupa psikoterapi. Tidak seperti pasien dengan
gangguan kepribadian lainnya, pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
sering kali tahu bahwa mereka sakit, dan mencari pengobatan atas kemauan
sendiri. Asosiasi bebas dan terapi yang tidak mengarahkan adalah sangat dihargai
oleh pasien gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang bersosialisasi atau
berlatih berlebihan. Tetapi, terapi seringkali lama dan kompleks, dan masalah
transferensi balik dapat terjadi.
Terapi kelompok dan terapi perilaku biasanya menawarkan manfaat tertentu. Pada
kedua konteks, mudah untuk memutuskan pasien di tengah-tengah interaksi atau
penjeleasan maladaptif mereka. Melengkapi perilaku kebiasaan mereka mencegah

17

meningkatkan kecemasan pasien dan menyebabkan mereka mudah mempelajari


strategi mengatasi hal-hal yang baru. Pasien juga dapat menerima penghargaan
langsung karena berubah di dalam terapi kelompok, sesuatu yang kurang
dimungkinkan pada psikoterapi individual.
Farmakoterapi
a. Penggolongan
1) Obat Anti-obsesif kompulsif trisiklik
Contoh: Clomipramine.
2) Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI (Serotonin Reuptake
Inhibitors)
Contoh:

Sertraline,

Paroxetine,

Fluvoxamine,

Fluoxetine,

Citalopram.7
b. Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome): Sindrom Obsesif Kompulsif.
Butir-butir diagnostik Sindrom Obsesif Kompulsif:
1) Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari
mengalami gejala-gejala obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri
berikut:
a) Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls
dari diri individu sendiri;
b) Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (ego-distonik);
c) Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan
atau impuls tersebut diatas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega
dari ketegangan atau ansietas);
d) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih
tidak berhasil dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya
yang tidak lagi dilawan/dielakkan oleh penderita;

18

2) Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress)


atau menggangu aktivitas sehari-hari (disability)
Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi
seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan kebanyakan
masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya
penderita sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil pengobatan
yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy). 7
Clomipramine. Clomipramine

biasanya dimulai dengan dosis 25

sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg


sehari setiap dua sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau
tampak efek samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu
obat trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi,
disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.3
SSRI. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif
menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik.
Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala,
insomnia, mual, dan efek samping gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan
lebih baik daripada obat trisiklik. Dengan demikian, kadang-kadang SSRI
digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif
kompulsif. 3
Obat lain. Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak
berhasil, banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Obat lain yang dapat
digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor
monoamin oksidase (MAOI = monoamine oxidase inhibitor), khususnya
Phenelzine (Nardil). 3

19

BAB III
KESIMPULAN
Gangguan obsesifkompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai
dengan

adanya

pengulangan

pikiran

obsesif

atau

kompulsif,

dimana

membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan
penderitaan (distress). Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejalagejala obsesif
atau tindakan kompulsif atau keduaduanya harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya 2 minggu berturutturut. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya
gangguan

obsesif-kompulsif

diantaranya

adalah

faktor

biologi

seperti

neurotransmiter, pencitraan otak, genetika, faktor perilaku dan faktor psikososial,


yaitu faktor kepribadian dan faktor psikodinamika. Ada beberapa terapi yang bisa
dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesifkompulsif antara lain terapi
farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku. Prognosis pasien dinyatakan
tidak bisa sembuh sempurna. Dengan pengobatan bisa memberikan pengurangan
gejala.

DAFTAR PUSTAKA

20

1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Gangguan Kepribadian:Sinopsis


Psikiatri. Jakarta: Binarupa Aksara;2010: 281-3.
2. Maslim R. Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa Dewasa: Diagnosis
Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. 1st ed. Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya: 102-10.
3. Jenike MA. Obsessive Compulsive Disorder. N Engl J Med.
2004;350:259-65.
4. Abramowitz JS, Taylor S, McKay D. Obsessive Compulsive Disorder.
Lancet. 2009;374:491-99.
5. Heyman I, Mataix-Cols D, Fineberg NA. Obsessive Compulsive Disorder.
BMJ. 2006;333:424-9.
6. Greenberg WM, Bienenfeld D. Obsessive Compulsive Disorder. Available
from

url:

http://emedicine.medscape.com/article/1934139-overview.

Accessed at 30/11/2015.
7. Karno M, Golding JM, Sorenson SB, Burnam MA. The epidemiology of
obsessive-compulsive disorder in five US communities. Arch Gen
Psychiatry. 1988 Dec. 45(12):1094-9.
8. Goodman WK, Price LH, Rasmussen SA, Mazure C, Fleischmann RL,
Hill CL, et al. The Yale-Brown Obsessive Compulsive Scale. I.
Development, use, and reliability. Arch Gen Psychiatry. 1989 Nov.
46(11):1006-11.
9. Katona C, Cooper C, Robertson M. At a Glance Psikiatri. 4th rev. ed.
Noviyanti C dan Hartiansyah Vidya, translator. Jakarta: Erlangga; 2012, 31
p.

21