Anda di halaman 1dari 12

Makalah Termodinamika

Kompor Bertenaga Matahari (Solar Cooker)

Di susun oleh :
1. Christofer Hairichi S. (1400510018)
2. Karnadi Hartanto (1400510017)
3. Leonardo C. Taher (1400510054 )

DEPARTEMENT OF PHYSICS AND ENGINEERING


FACULTY OF CLEAN ENERGY AND CLIMATE CHANGE
SURYA UNIVERSITY
2015

Kata Pengantar
Puji dan syukur diberikan atas keharidat Tuhan yang Maha Esa atas segala
berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi
maupun pikirannya.
Harapan kami semoga isi dari makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca dan untuk kedepannya dapat memperbaiki
kesalahan ataupun menambah isi makalah agar bisa menjadi lebih baik. Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman, makalah masih belum
sempurna, oleh karena itu sangat diharapkan saran dan kritik yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Desember 2015

Penulis

Daftar Isi
Kata pengantar ..................................................................................................................................... i
Daftar isi................................................................................................................................................ ii
Bab 1..................................................................................................................................................... 4
Pendahuluan ...................................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................... 4
1.3

Tujuan ............................................................................................................................... 4

Bab 2..................................................................................................................................................... 5
Isi ...................................................................................................................................................... 5
2.1 Landasan Teori........................................................................................................................ 5
2.2 Rancangan Sistem ................................................................................................................... 7
Bab 3................................................................................................................................................... 11
Penutup ........................................................................................................................................... 11
Kesimpulan ................................................................................................................................. 11
Daftar Pustaka ..................................................................................................................................... 12

Bab 1
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Pada saat ini penduduk di Indonesia sebagian besar masih menggunakan kompor yang
bertenaga gas(elpiji) ataupun listrik. Jika kita melihat sisi geografis letak posisi
Indonesia berada di daerah garis khatulistiwa. Sehingga iklik di Indonesia bersifat
tropis. Di era abad 20an ini energi menjadi hal yang sangat dibutuhkan. Tetapi, energi
yang digunakan oleh manusia itu sendiri kebanyakan berasal dari sumber daya alam
yang dapat habis sewaktu-waktu jika digunakan terus menerus. Padahal masih banyak
sumber daya alam lain yang tidak ada habisnya (renewable energy) yang masih dapat
dimanfaatkan. Mengingat panasnya iklim Indonesia maka, Solar Cooker menjadi
sangat efisien digunakan karena sumber tenaga utamanya berasal dari matahari. Solar
cooker juga lebih aman digunakan oleh siapapun karena tidak menggunakan api untuk
memasak. Akan tetapi, solar cooker masih memiliki kekurangan dalam efisiensi baik
dari segi waktu dan kualitas.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana meningkatkan efisiensi sebuah kompor bertenaga matahari?

1.3 Tujuan
Meningkatkan efisiensi panas yang dihasilkan dari solar cooker.

Bab 2
Isi
2.1 Landasan Teori
Kompor surya type kotak menurut Bergler, (1999); pancinya berada dalam lingkungan
yang terisolasi oleh dinding, dengan kaca reflektor di bagian atas yang sering
disesuaikan sandarannya terhadap sinar datang. Kompor surya kotak memanfaatkan
kedua sinar radiasi langsung dan baur.
Kompor surya parabola menurut Bergler (1999); sinar radiasi langsung
dikonsentrasikan ke panci. Kompor surya parabola sangat efisien tetapi memerlukan
perhatian pemakai untuk menjaga sinar matahari selalu terfokuskan ke panci agar
diperoleh kinerja yang baik. Biermann (1999), menginformasikan solar cooker
parabolik dapat mencapai 198 oC
Peneliti terdahulu telah banyak melakukan penelitian untuk meningkatkan performa
kompor surya dengan permasalahan yang beragam.
Kumar (1993), mengadakan Penelitian eksperimen pengaruh orientasi reflektor
terhadap kerugian panas dari konsentrasi parabola kompor surya. Receiver pada
kompor parabola biasanya tak terlindungi oleh insulasi, oleh karena itu berhubungan
langsung dengan lingkungan. Dari hasil eksperimen diperoleh perbedaan kerugian
panas yang disebabkan adanya aliran udara pada kecepatan 0 m/detik dan 5 m/detik.
Kalbande (2007), mengadakan penelitian tentang desain, pengembangan dan pengujian
pada kompor surya parabola. Parabola yang digunakan berdiameter 1,3 m dan
perbandingan konsentrasi 75,11. Pada pelaksanaan pengujian Selama dua hari
dilakukan pengukuran temperatur dasar receiver (Pot) dengan kondisi kosong, tidak di
isi makanan.Diperoleh hasil temperatur maksimum 326.45 oC dan 319,43 oC dengan
kondisi langit cerah, dan efisiensi thermal maksimum diperoleh 26 % Croon (2004),
melaporkan bahwa kompor surya jenis parabola dapat bertemperatur lebih tinggi dari
150 oC. Yang mana dapat dicapai jika reflektor parabola setiap 15 menit dihadapkan
pada arah datang sinar matahari. Seperti halnya yang telah dilaksanakan oleh peneliti
terdahulu, pada penelitian ini juga mengupayakan peningkatan kinerja dari kompor
surya. Kelemahan pada kompor surya tipe parabola yang secara langsung dipengaruhi
oleh angin, dapat di atasi dengan mengisolasi kompor surya parabola serupa seperti
pada kompor surya tipe kotak. Sedangkan penggantian pelat kolektor dengan reflektor
parabola diperkirakan akan menambah intensitas radiasi matahari yang mengenai
receiver, sehingga diharapkan dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik.
Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) adalah salah satu jenis resistor yang
dapat mengalami perubahan resistansinya apabila mengalami perubahan penerimaan
cahaya. Besarnya nilai hambatan pada Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor)
tergantung pada besar kecilnya cahaya yang diterima oleh LDR itu sendiri. LDR sering
disebut dengan alat atau sensor yang berupa resistor yang peka terhadap cahaya.
Biasanya LDR terbuat dari cadmium sulfida yaitu merupakan bahan semikonduktor
yang resistansnya berubah-ubah menurut banyaknya cahaya (sinar) yang mengenainya.

Resistansi LDR pada tempat yang gelap biasanya mencapai sekitar 10 M, dan
ditempat terang LDR mempunyai resistansi yang turun menjadi sekitar 150 . Seperti
halnya resistor konvensional, pemasangan LDR dalam suatu rangkaian sama persis
seperti pemasangan resistor biasa. Simbol LDR dapat dilihat seperti pada gambar
berikut.

Simbol Dan Fisik Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Aplikasi Sensor
Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR (Light Dependent
Resistor) dapat digunakan sebagai :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sensor pada rangkaian saklar cahaya


Sensor pada lampu otomatis
Sensor pada alarm brankas
Sensor pada tracker cahaya matahari
Sensor pada kontrol arah solar cell
Sensor pada robot line follower
Dan masih banyak lagi aplikasi rangkaian elektronika yang menggunakan LDR
(Light Dependent Resistor) sebagai sensor cahaya.

Karakteristik Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor Cahaya LDR
(Light Dependent Resistor) adalah suatu bentuk komponen yang mempunyai
perubahan resistansi yang besarnya tergantung pada cahaya. Karakteristik LDR terdiri
dari dua macam yaitu Laju Recovery dan Respon Spektral sebagai berikut : Laju
Recovery Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Bila sebuah Sensor Cahaya
LDR (Light Dependent Resistor) dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan
cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita amati bahwa nilai
resistansi dari LDR tidak akan segera berubah resistansinya pada keadaan ruangan
gelap tersebut. Namun LDR tersebut hanya akan bisa mencapai harga di kegelapan
setelah mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery merupakan suatu ukuran
praktis dan suatu kenaikan nilai resistansi dalam waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam
K/detik, untuk LDR tipe arus harganya lebih besar dari 200K/detik(selama 20 menit
pertama mulai dari level cahaya 100 lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada
arah sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang memerlukan
waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang sesuai dengan level cahaya
400 lux. Respon Spektral Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Sensor
Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) tidak mempunyai sensitivitas yang sama

untuk setiap panjang gelombang cahaya yang jatuh padanya (yaitu warna). Bahan yang
biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu tembaga, aluminium, baja, emas
dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga merupakan penghantar yang paling
banyak, digunakan karena mempunyai daya hantaryang baik (TEDC,1998) Prinsip
Kerja Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor) Resistansi Sensor Cahaya LDR
(Light Dependent Resistor) akan berubah seiring dengan perubahan intensitas cahaya
yang mengenainya atau yang ada disekitarnya. Dalam keadaan gelap resistansi LDR
sekitar 10M dan dalam keadaan terang sebesar 1K atau kurang. LDR terbuat dari
bahan semikonduktor seperti kadmium sul-fida. Dengan bahan ini energi dari cahaya
yang jatuh menyebabkan lebih banyak mua-tan yang dilepas atau arus listrik
meningkat. Artinya resistansi bahan telah mengalami penurunan.

2.2 Rancangan Sistem


2.2.1 Solar Cooker
Berikut ini adalah rancangan dari solar cooker yang akan dibuat :
Energi matahari yang datang diterima oleh seng parabola dan dipantulkan pada satu
titik dan pada titik tersebut diletakan panci atau wadah untuk memasak.

Parabola paling efisien jika dibuat dengan panjang fokus 1 sampai 3 meter. Panjang
fokus adalah jarak dari titik tengah permukaan parabola hingga titik yang terkena sinar
matahari. Sinar matahari yang tertangkap oleh parabola memiliki ukurang 1/120
panjang fokus. Seiring dengan bumi berputar gambar pantulan matahari yang
tertangkap oleh parabola juga bergeser 87-250mm setiap 20 menit.
Solar cooker memiliki kelebihan tidak memerlukan gas dan tentu saja lebih aman untuk
digunakan karena menggunakan panas matahari. Namun, solar cooker juga memiliki
kekurangan yaitu, tidak dapat digunakan saat malam hari, titik pusat sinar matahari
kecil dan bagian bawah panci pasti akan gosong akibat sinar matahari yang dipusatkan.
Berikut ini adalah hasil pembuatan solar cooker yang terbuat dari senk yang kemudian
dilapisi alumunium foil.

Gambar diatas adalah prototype yang telah kami buat dengan menggunakan
alumunium lembaran yang dibuat cekung mirip dengan parabola dengan diameter
50cm. Percobaan dilakukan saat jam 12 siang saat matahari sedang terik dan
digunakan untuk mendidihkan air, dibutuhkan waktu kurang lebih 30-45 menit. Pada
protoype ini, solar tracker belum digunakan.

2.2.2 Aplikasi Solar Tracker ke Sistem Kompor


Diagram blok dari sistem yang dirancang adalah seperti yang diperlihatkan berikut ini:

Penjelasan dan fungsi dari masing masing blok adalah sebagai berikut:
a. Panel surya berfungsi menangkap sinar matahari dalam bentuk listrik. Pada
perancangan ini listrik yang dihasilkan solar panel digunakan sebagai penerima sinyal
listrik yang dihasilkan, dimana sistem tersebut akan bergerak mengikuti arah matahari
sehingga panas kompor solar dapat maksimal.
b. LDR merupakan sensor cahaya, pada perancangan ini LDR digunakan sebagai
pembanding sinar dari matahari untuk kemudian mikrokontroller akan menentukan
posisi yang tepat agar panel surya mendapatkan cahaya maksimal dari matahari.
c. Rangkaian mikrokontroler merupakan pusat kendali dari system, mikrokontroller akan
menerima masukan dari LDR, panel surya, kemudian menampilkan nilainya pada LCD,
sekaligus mengendalikan pergerakan servo.
d. Motor servo berfungsi sebagai alat kendali pergerakan panel surya.
e. LCD berfungsi untuk menampilkan nilai hasil pembacaan LDR dan Panel surya
sehingga percobaan ini memiliki data yang ril untuk dilaporkan.
Cara Kerja:
Mikrokontroler akan menampilkan nilai hasil pembacaan ADC pada display LCD,
dimana nilai ADC merupakan nilai LDR dan panel surya. Selanjutnya mikrokontroler
akan membandingkan nilai masing masing LDR, jika nilai LDR yang berada di tengah
lebih besar dari yang lain, maka mikrokontroller tidak akan menggerakkan motor servo.
Jika nilai LDR pada sisi kanan lebih besar dari LDR yang ada di tengah, maka
mikrokontroller akan menggerakkan servo ke arah kanan. Jika nilai LDR pada sisi kiri
lebih besar dari LDR yang ada di tengah, maka mikrokontroller akan menggerakkan
servo ke arah kiri. Demikian seterusnya.

Berikut adalah diagram alur yang terjadi pada mikrokontroler :


Start

Baca ADC

Tampilkan nilai
hasil pembacaan
pada LCD

Sersor Kanan >


Sensor Tengah?

Ya

Tidak

Tidak

Sersor Kiri >


Sensor Tengah?

Putar Motor Ke
arah kanan
Ya
Putar Motor Ke
arah kiri

End

Start merupakan saat program pertama kali dijalankan. Selanjutnya program akan nilai
ADC, dimana nilai ADC merupakan nilai dari sensor LDR dan panel surya. Hail
pembacaan ini kemudian ditampilkan pada LCD. Tahap berikutnya adalah
membandingkan nilai pada sensor LDR, Jika nilai LDR pada sisi kanan lebih besar dari
LDR yang ada di tengah, maka mikrokontroller akan menggerakkan servo ke arah
kanan.
Jika nilai LDR pada sisi kiri lebih besar dari LDR yang ada di tengah, maka
mikrokontroller akan menggerakkan servo ke arah kiri. End merupakan tanda program
berakhir.

Bab 3
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan desain yang telah dibuat makalah ini masih belum dapat dikatakan telah selesai
karena belum dibuatnya prototype keseluruhan sistem. Tetapi berdasarkan sumber referensi
yang telah menggunakan solar tracker bahwa akan terjadi peningkatan efisiensi dibandingkan
tanpa solar tracker. Hal ini disebabkan posisi matahari yang selalu berubah sehingga
diperlukannya posisi yang sesuai untuk mendapatkan energi yang lebih maksimal.

Daftar Pustaka
Elektronika Dasar, Sensor Cahaya LDR (Light Dependent Resistor), 2 September
2012. [online]. Tersedia : http://elektronika-dasar.web.id/sensor-cahaya-ldr-light-dependentresistor/
Wikipedia, the free encyclopedia, Solar Tracker, 20 Novemer 2015. [online].
Tersedia : https://en.wikipedia.org/wiki/Solar_tracker
Elektronika Dasar, ADC (Analog to Digital Convertion), 1 Mei 2012. [online].
Tersedia : http://elektronika-dasar.web.id/adc-analog-to-digital-convertion/
Undefined, Parabola Calculator version 2.0, 12 Oktober 2010. [online]. Tersedia :
http://mscir.tripod.com/parabola/
Li-Yan Zhu, Making a Parabolic Reflector Out of a Flat Sheet , April 2002.
[online]. Tersedia : http://solarcooking.org/plans/parabolic-from-flat-sheet.htm
Jonathan Hare, Solar heaters and other parabolic devices , 2007. [online]. Tersedia :
http://www.creative-science.org.uk/parabola.html
Dr. Ashok Kundapur, Parabolic solar reflectors , 4 September 2010. [online].
Tersedia : http://solarcooking.wikia.com/wiki/Parabolic_solar_reflectors