Anda di halaman 1dari 10

Borang Portofolio Kejahatan Asusila

No. ID dan Nama Peserta :


dr. Fathia Rachmatina
No. ID dan Nama Wahana :
RSUD Brigjend H Hasan Basry HSS
Topik :
Kejahatan Asusila (Medikolegal)
Tanggal (kasus) :
26 Agustus 2015
Nama Pasien :
An. N
No. RM :
dr. I Putu Abdi W Sp.OG
Pembimbing:
Tanggal Presentasi :
dr. Nani Pudji Hastuti
Pendamping :
dr. Asih Trimurtini
Tempat Presentasi :
Aula RSUD Brigjend H Hasan Basry
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Tujuan :
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset
Kasus
Audit
Bahasan :
Cara
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
E-mail
Pos
Membahas :
Data

Nama : An N 14 tahun
Pasien :
Nama Klinik :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :

No. Registrasi :
Telp :

Terdaftar sejak :

1. Gambaran Klinis : An. N, usia 14 tahun diantar orangtua untuk permintaan Visum et
Repertum
2. Riwayat Pengobatan : (-)
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : (-)
4. Riwayat Pekerjaan : 5. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal bersama orang tua dan lingkungan
kurang bersih.

Daftar Pustaka :

FKUI. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik Bagian Kedokteran Forensik Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia Edisi I. Jakarta.
1

FKUI. 1996. Teknik Autopsi Forensik. Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Jakarta
Idries, Munim, Abdul, dr. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Bina Rupa

Aksara. Jakarta
http://dediafandi.staff.unri.ac.id/2010/05/06/visum-et-repertum-pada-korban-hidup/
http://thiazone.blogspot.com/2009/12/visum-et-repertum-pendahuluan-visum-et.html

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif :

Pasien dating diantar orangtua ke rs karena ingin melakukan visum et repertum,menurut


keterangan dari keluarga pasien telah diperkosa 7 hari yang lalu.

2. Assesment (penalaran klinis) :


Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana, hendaknya dilakukan dengan
teliti dan waspada.

Pemeriksa harus yakin akan semua bukti-bukti yang ditemukannya karena

berbeda dengan di klinik ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang
guna memperoleh lebih banyak bukti.
Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari
penuntutan atau sebaliknya untuk

menjatuhkan hukuman.

Di Indonesia pemeriksaan korban

persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli
Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tak ada dokter ahli demikian,
dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan.
Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah kasus
dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan, perkosaan,
persetubuhan

dengan

wanita

yang

tidak

berdaya,

persetubuhan

dengan

wanita

yang,belum,cukup.umur,serta.perbuatan.cabul).
Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan atau
perbuatan cabul, adanya kekerasan (termasuk keracunan), serta usia korban. Selain itu juga
diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan psikiatrik sebagai
akibat dari tindakan pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena
istilah

pemerkosaan

adalah

istilah

hukum

yang

harus

dibuktikan

didepan

sidang

pengadilan.Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang


dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada bab XIV KUHP, yaitu bab tentang kejahatan terhadap
kesusilaan, yang meliputi baik yang persetubuhan didalam perkawinan maupun persetubuhan diluar
perkawinan.
Persetubuhan didalam perkawinan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksud oleh pasal 288
KUHP, ialah bila seorang suami melakukan persetubuhan dengan istrinya yang belum mampu kawin
dengan mengakibatkan luka-luka, luka berat atau mengakibatkan kematian.

Pada tindak pidana diatas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan
dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah persetubuhan
telah terjadi atau tidak, dan apakah terjadi tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak dapat menetukan
apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.
KUHP 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun.
KUHP 286
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan padahal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana pernjara paling lama
sembilan tahun.
KUHP 294
Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak piaraannya,
anak yang dibawah pengawasannya, orang dibawah umur yang diserahkan kepadanya untuk
dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangannya atau orang yang dibawah umur, dihukum
dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun.

RIWAYAT KASUS
Pada tanggal 26 Agustus 2015 pukul 11.00 WITA telah dilakukan pemeriksaan terhadap anak
perempuan yang berusia 14 tahun atas permintaan keluarga.
Hasil pemeriksaan didapatkan:
1. Korban datang dalam keadaan sadar
2. Keadaan umumnya baik, Tekanan Darah 90/70 mmHg, Tinggi Badan 118 cm, Berat Badan
24 kg, Refleks pupil dan cahaya positif
3. Korban mengaku telah mengalami: Perkosaan pada tanggal 19 Agustus 2015
4. Tempat kejadian di rumah korban
5. Keadaan pakaian korban:
-

Pakaian luar
1. Kaos lengan pendek : keadaan rapi

2. Rok bahan kain : keadaan rapi


-

Pakaian dalam
1. Kaos dalam : keadaan rapi
2. Celana dalam : keadaan rapi

6. Penampilan korban: baik, rapi, keadaan mental korban: kurang


7. Kurang Kooperatif dalam pemeriksaan
8. Jumlah gigi: 27, gigi ke VIII belum tumbuh
9. Air susu atau colostrum: Tidak ada
10. Rambut ketiak: Sudah tumbuh
11. Rambut kemaluan: Sudah tumbuh
12. Tidak ditemukan luka pada kepala, leher, dada, perut, anggota gerak atas, anggota gerak
bawah, dan pada bagian tubuh lainnya.
13. Pada rectal Toucher tonus otot spingter anus normal, bengkak (-), darah (-)
14. Perinium: utuh
15. Selaput dara : utuh, tampak kemerahan pada bibir kemaluan dalam sebelah kanan
16. Liang kemaluan : Dapat dilalui 2 jari, nyeri (+)

KESIMPULAN

1. Pada korban perempuan berusia kurang lebih: 14 tahun


2. Datang dalam keadaan: sadar
3. Tanda-tanda seks skunder: Sedang berkembang
4. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada seluruh tubuh
5. Selaput dara : utuh
6. Liang kemaluan : Dapat dilalui 2 jari, nyeri (+)
7. Laboratorium: Tes kehamilan dari air kencing Negatif (-), Analisa sperma tidak
ditemukan bentukan spermatozoa
8.

Kesimpulan: Selaput dara utuh

PEMBAHASAN
Pada pasien perempuan yang berumur kurang lebih 14 tahun datang kerumah sakit dalam keadaan
6

sadar. Ditemukannya tanda seks sekunder yang berkembang serta tidak ditemukannya tanda-tanda
kekerasan pada pasien. Pada selaput dara

ditemukan utuh, tampak kemerahan pada bibir

kemaluan dalam sebelah kanan Liang kemaluan dapat dilalui 2 jari dengan rasa sakit.
Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis kedalam vagina, penetrasi
tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.
Pada pasien di atas juga tidak ditemukan adanya bercak air mani pada celana dalam korban
dikarenakan korban datang 7 hari setelah kejadian. Dimana apabila pada persetubuhan tersebut
disertai dengan ejakulasi dan ejakulet tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma didalam
liang vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat tidak mengandung sperma
maka pembuktian adanya persetubuhan dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap
ejakulat tersebut.
Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya persetubuhan dipengaruhi berbagai faktor,
diantaranya:

Besarnya penis dan derajat penetrasinya

Bentuk dan elastisitas selaput dara ( hymen)

Ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sendiri

Posisi persetubuhan dan

Keaslian barang bukti dan waktu pemeriksaan

Komponen yang terdapat didalam ejakulat yang dapat diperiksa adalah enzim asam fosfatase, kholin
dan spermin. Baik enzim asam fosfatase, kholin dan spermin bila dibandingkan dengan sperma, nilai
untuk pembuktian lebih rendah oleh karena ketiga komponen tersebuttidak spesifik. Walaupun
demikian enzim fosfatase masih dapat diandalkan, oleh karena keadaan enzim fosfatase yang terdapat
dalam vagina barasal dalam wanita itu sendiri, kadarnya jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan
asam fosfatase yang berasal dari kelenjar prostate.

Dengan demikian apabila dengan kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu tidak
sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya pembuktian adanya persetubuhan secara
7

kedokteran forensik tidak mungkin dapat dilakukan secara pasti. Sebagai konsekuensinya dokter
tidak dapat secara pasti pula menentukan bahwa pada wanita tidak terjadi persetubuhan; maksimal
dokter harus mengatakan bahwa pada diri wanita yang diperiksanya itu tidak ditemukan tanda-tanda
persetubuhan, yang mencakup dua kemungkinan: pertama, memang tidak ada persetubuhan dan
kedua persetubuhan ada tetapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.
Sperma didalam liang vagina masih dapat bergarak dalam waktu 4-5 jam postcoital, sperma masih
dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam postcoital, dan bila wanitanya mati masih
akan ditemukan sampai 7-8 hari.
Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses penyembuhan dari selaput
dara yang robek, yang pada umumnya penyembuhan tersebut akan dicapai dalam waktu 7-10 hari
postcoital
a) Pemeriksaan adanya kehamilan
Terjadinya kehamilan jelas merupakan tanda adanya persetubuhan, akan tatapi oleh karena
waktu yang dibutuhkan untuk itu cukup lama, dengan demikian nilai bukti ini menjadi kurang
oleh karena kemungkinan yang menjaditersangka pelaku kejahatan menjadi bertambah, hal
mana mempersulit penyidikan dan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk
mengungkap kasusnya.
b) Faktor waktu dan factor keaslian dari barang bukti
Didalam pemeriksaan kasus-kasus korban kejahatan seksual faktorwaktu dan keaslian barang
bukti yang diperksasangat berperan didalam menentukan keberhasilan pemeriksaan. Tandatanda persetubuhan dengan berlangsungnya waktu akan menghilang dengan sendirinya, lukaluka akan menyembuh. Dengan demikian pemeriksaan sedini mungkin merupakan keharusan,
bila dari pemeriksaan diharapkan hasil yang maksimal. Pakaian korban yang telah diganti,
tubuh wanita yang telah dibersihkan akan menyulitkan pemeriksaan oleh karena keadaanya
sudah tidak asli.

Pemeriksaan yang dilakukan harus yakin akan semua bukti-bukti yang ditemukan karena berbeda
dengan di klinik ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna
8

untuk memperoleh banyak bukti. Tapi dalam melaksanakan kewajiban itu dokter jangan sampai
meletakkan kepentingan si korban dibawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih
anak-anak hendaknya pemeriksan itu tidak sampai menambah trauma pisikis yang sudah dideritanya.
Pada tindak pidana kasus pemerkosaan perlu dibuktikan apakah telah terjadi tindak persetubuhan dan
telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan
apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia
tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.

PENUTUP
KUHP Pasal 287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya
9

atau sepatutnya harus diduga bahwa umurnya belum 15 tahun atau kalau umurnya tidak
jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama 9
tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan keculai jika umur wanita belum sampai umur
12 tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.
Pada kasus ini

keluarga pasien mengaku telah diperkosa, berdasarkan hasil pemeriksaan yang

didapatkan tanda-tanda seks sekunder sedang berkembang, tidak ditemukan luka-luka pada tubuh,
perinium dan selaput dara utuh, tampak kemerahan pada bibir kemaluan dalam sebelah kanan
liang kemaluan dapat dilalui 2 jari dengan rasa sakit.

10