Anda di halaman 1dari 10

FILSAFAT ILMU

BAB 6
SOSIOLOGI INTERPRETIF

ASAL DAN TRADISI INTELEKTUAL


Paradigma interpretive menganut jangkauan pikiran luas filosofis dan sosiologi yang
mana keduanya memiliki karakteristik umum yang sama dalam hal mencoba mengerti dan
menjelaskan dunia sosial terutama dari sudut pandang pelaku yang secara langsung terlibat
dalam proses sosial.
Berawal dari tradisi idealis Jerman, dan berpandangan bahwa realitas utama dalam
semesta terletak pada ruh atau ide daripada persepsi dari data-data. Tradisi ini, yang
berlawanan dengan positivism sosiologis, pertama kali dikembangkan oleh Immanuel Kant.
Kant menyatakan bahwa pengetahuan a priori harus mendahului setiap pemahaman data dari
pengalaman empiris. Sebuah pengetahuan a priori dilihat bebas dari setiap realitas eksternal
dan pemahaman data yang ia pancarkan; pengetahuan a priori ini dilihat sebagai produk dari
pemikiran, dan proses interpratif yang terjadi di dalamnya.
Sementara itu, perkembangan idealisme sempat jauh dari keseragaman. Subjek yang
mempengaruhi idealism bervariasi dari karya tulis romantic dari Goethe dan Schiller ke
filosofis dogmatis dari Hegel, yang telah bercampur. Idealisme berkembang hingga akhir
abad ke-19, yang kemudian memunculkan pergerakan baru yang disebut neo-idealist atau
neo-Kantian.
Teori positivism dianggap memiliki dua kelemahan :
a) Dalam ilmu alam, dikatakan dengan jelas bahwa nilai-nilai kemanusiaan diperoleh
dari proses penyelidikan ilmiah. Penyelidikan ilmiah tidak dapat dikatakan benarbenar value free karena adanya unsur-unsur yang ditentukan penelitinya.
b) Dalam aspek ilmu sosial, dinyatakan bahwa seorang manusia yang menjadi subjek
peneliitian tidak dapat diteliti/dipelajari melalui metode-metode ilmu alam. Aspekaspek manusia hanya dapat diperoleh melalui metode spekulatif filosofis.
Sebagai

hasil

dari

kekecewaan

terhadap

positivism

sosiologis,

idealism

mengasumsikan kehidupan yang baru. Intinya, terjadi pergeseran khusus dalam fokus
terhadap perhatian cendekiawan disepanjang garis dimensi subjektif-objektif, yang
0

melibatkan beberapa theorist untuk menjelaskan pondasi intelektual, yang kita terjemahkan
sebagai paradigm interpretif.
Dilthey (1833-1911) dan Weber (1864-1920) berupaya untuk menjembatani
perbedaan antara idealism dan positivism, atau setidaknya meletakkan ilmu sosial di atas
dasar yang kuat sebagai bentuk validitas objektif. Bila ilmu sosial didefinisikan oleh
karakter spiritual/kejiwaan mereka, maka ruh dari interaksi sosial atau jenis pembentukan
adalah kunci kepentingan. Hal ini menyatakan masalah yang dipertimbangkan bagi filosofis
sosial, yang berfokus untuk menyediakan penjelasan terkait masalah sosial dan historis tanpa
kembali ke metode positivism. Proses idealis dari intuisi utuh keseluruhan memberikan arti
untuk mengatur proses historical tak lebih dekat dari memahaminya. Hasilnya, sejarah
dipandang sebagai sebuah sistem terpisah yang unik dan penting.
Solusi

Dilthey

terhadap

masalah

ini

adalah

pemahaman

(versthen).

Ia

menggambarkan bahwa perbedaaan antara ilmu alam dan sosial hanyalah dari substansi, dan
kedua ilmu tersebut ditujukan untuk subjek masalah yang berbeda secara mendasar. Yaitu,
ilmu alam menyelidiki proses eksternal di dunia material, ilmu sosial intinya berfokus pada
proses internal pemikiran manusia. Intinya, manufestasi lahiriah kehidupan manusia butuh
diinterpretasikan dalam bentuk pengalaman lahiriah yang direfleksikan melalui method of
verstehen.
Sementara itu, Weber berusaha membangun ilmu yang objektif dalam sosiologi dalam
arti subjektif dan aksi individual. Ia menyatakan objektivitas dalam ilmu sosial hanya
dimungkinkan melalui penggunaan ideal types yang berfungsi untuk mengatur elemen
realitas. Melalui penggunaan kontstruksi ini, Weber mencoba untuk merekonsiliasi metode
verstehen dengan kebutuhan untuk membangun sebuah ilmu sosial yang objektif.
Adapun Edmund Husserl dikenal sebagai pendiri dan lambang dari pergerakan
phenomenological dalam filosofi. Husserlian phenomenology didasarkan pada pertanyaan
mendasar akal sehat, perilaku mengambil untuk memberikan yang mencirikan kehidupan
sehari-hari dan dasar dari ilmu alam.
Husserl mengambil posisi subjektivitas ekstrem dalam hubungan dengan dimensi
subjektif-objektif. Secara ontologi, dunia memberikan aliran kesadaran; ia bersifat
eksperimental; subjektivitas adalah sumber dari objektivitas. Tugas dari epistemologi adalah
untuk mengeksplor dan mengungkap tipe dan struktur penting dari pengalaman.
Phenemenologi mempelajari inti dan menjelaskan hubungan antara mereka; ia menyelami ke
dalam pengalaman dan menjelaskan dasar dari pengetahuan. Selain itu, prosedur poche
1

dimana fenomenolog menangguhkan keterlibatan dan partisipasi dalam sikap alamijuga


memainkan peranan penting. Seperti yang diungkapkan Natanson, mempercayai dunia
adalah paradigm normalitas. Tugas dari filosofis adalah bukan untuk mencemoohnya tapi
mengerti dan menunjukkan manfaatnya. poche, atau menangguhkan keterlibatan,
memberikan arti dalam memasuki alam subjektivitas yang phenomenology coba analisa dan
jelaskan.

STRUKTUR PARADIGMA
a. Hermeneutik
Berpusat pada penginterpretasian dan pemahaman dari produk/buah pemikiran
manusia yang merupakan ciri dunia sosial dan budaya. Secara ontologi, pendukungnya
mengadopsi pandangan idealis objektifdari lingkungan sosial budaya, melihatnya
sebagai fenomena berkonstruksi manusia. Objek dari pandangan ini adalah adat istiadat,
karya seni, sastra, bahasa, agama, dan proses objektifikasi.
Melalui karya-karya Dilthey, hermeneutic mencapai status sebagai sebuah ajaran
pemikiran dalam konteks teori sosial kontemporer. Dalam karya-karyanya, Dilthey
mendeskripsikan hermeneutic sebagai metodologi untuk mempelajari objektifikasi
pikiran. Menurut Dilthey, inti dari hermeneutic adalah metodologi untuk mempelajari
objektifikasi pikiran. Ia mengkhususkan hermeneutic sebagai disiplin kunci dan metode
dalam ilmu sosial. Ia menganjurkan bahwa semua jenis fenomena sosial harus dianalisa
mendetail,

diinterpretasikan

dalam

teks, untuk mengungkap

makna

inti

dan

signifikansinya. Jadi, pada metode hermeneutic ilmuwan mengadopsi gaya analisis


literature daripada metode ilmu alam.
Pendekatan dilthey terhadap hermeneutic dengan jelas diilustrasikan dalam gagasan
yang disebut yang disebut siklus hermeneutic. Ia mengakui bahwa dunia sosial tidak
dapat dipahami secara independen dari bagian-bagiannya atau vice versa.
Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi hermeneutic diasumsikan mengalami garis
perkembangan melalui tulisan Gadamer (1965). Gadamer berargumen bahwa siklus
pemahaman yang dinyatakan oleh Dilthey, bukanlah siklus metodologi tetapi
menjelaskan elemen struktur ontological dalam pemahaman. Dengan mengutip deskripsi
dari Heidegger dan keberadaan siklus hermeneutic sebagai titik dasar, Gadamer
berargumen kita tidak dapat menghubungkan, sebagai contoh, tradisi historis bila ia
merupakan subjek yang berbeda atau terpisah dari kita, karena terdapat hubungan saling
mempengaruhi antara pergerakan tradisi dengan sang interpreter.

Menurut pandangan Gadamer, verstehen (pemahaman) tidak terlalu berfokus pada


re-living atau masuk ke dalam pengalaman subjektif seperti yang dikatakan Dilthey.
Menurut Gadamer, pemahaman lebih terfokus pada proses pertukaran kerangka referensi
observer dan yang diamati.
b. Solipsisme
Solipsisme merupakan bentuk idealisme subjektif yang paling ekstrim, yang menolak
pernyataan bahwa dunia memiliki realitas independen yang berbeda. Bagi penganutnya,
dunia ada kreasi dari pemikirannya sendiri. Secara ontology, tidak ada keberadaan diluar
sensasi yang diterima dalam pikiran dan tubuhnya. Pandangan ini sering dihubungkan
dengan karya Bishop Berkeley.
Perspektif solipsis seringkali menarik cemoohan dan ejekan dari mereka yang ingin
mengaplikasikan pandangan common sense ke dalam kenyataan di dunia sehari-hari.
Posisi silopsis menghasilkan relativisme dan skeptisme. Karena itu, menurut silopsis,
tidak ada titik luar dari referensi, pengetahuan harus dibatasi berdasarkan pengalaman
individual.
c. Phenomenologi
Phenomenologi mengalami beberapa kali perkembangan. Karya tulis Husserl dianggap
sebagai titik awal, lalu dikembangkan lagi oleh beberapa penulis seperti Scheller,
Heidegger, Schutz, Sartre, dan Merleau-Ponty.
1) Transcendental Phenomenology
Menurut Thevenaz :
Phenomenologi bukanlah sebuah investigasi terkait fakta eksternal atau internal.
Kontrasnya, phenomenology membungkam pengalaman, meninggalkan pertanyaan dari
objek realitas atau konten nyata guna meningkatkan kesadaran dalam realitas, atas objek
sejauh mana mereka terlibat oleh dan dalam kesadaran, atau yang pendeknya disebut
Husserl sebagai esensi ideal.
2) Existential Phenomenology
Alfred Schutz melakukan usaha berkelanjutan untuk menghubungkan ide dari
phenomenology

kepada

masalah

sosiologi.

Existential

phenomenology

adalah

fenomenologi mengenai eksistensi manusia termasuk pengalaman, tindakan, dan pilihan


bebas manusia dalam situasi yang kongkrit.
3) Phenomenological Sociology
Ethnomethodology
Pada dasarnya, ethnomethodology adalah studi tentang kehidupan dunia sehari-hari.
Intinya, ia mencoba untuk memperlakukan aktivitas praktikal, keadaan praktikal, dan
penalaran sosiologis praktikal sebagai topic dari studi empiris, dan dengan
memperhatikan aktivitas harian yang paling biasa atau dengan kejadian-kejadian luar

biasa, mencoba untuk mempelajarinya sebagai sebuah fenomena yang ada di sekitar
mereka.
Interaksi Simbolik Phenomenologikal
Ada dua batasan (strain) dalam interaksionalisme simbolik yaitu secara behavioural
(perilaku) dan phenomenologis. Phenomenologis ditandai dengan penekanannya pada
interaksi sifat yang muncul dalam interaksi, melalui mana individual menciptakan dunia
mereka dibanding hanya bertindak pada dunia itu. Makna dikaitkan pada lingkungan,
tidak diturunkan dan dikenakan dari actor individual, reaksi dibangun daripada hanya
menunggu respons.
Perbedaan antara interaksi phenomenological dan perilaku adalah tidak selalu jelas,
karena sebelumnya penelitian dilakukan berdasarkan metode penelitian positif yang
berlawanan dengan orientasi dasar teoritis mereka.

DASAR KESATUAN PARADIGMA


Para pembuat teori berpikir dalam

paradigma yang intepretiv cenderung untuk

membagi perspektif umum, dalam konsentrasi utamanya untuk memahami subjek dalam
pengalaman individu. Teori mereka dibangun dari titik awal pelaku yang berada di oposisi
pengamat aksi, mereka melihat realitas sosial sebagai sebuah proses yang muncul-sebagai
perluasan kesadaran manusia dan pengalaman subjektif.
Semua teori yang dibangun dengan konsep interpretive paradigm adalah anti
positivisme. Mereka menolak pandangan bahwa hubungan manusia dapat dipelajari dengan
cara seperti mempelajari ilmu pengetahuan alam. Dalam konteks interpretive paradigm, usaha
utama adalah memahami subjek pengalaman manusia didunia. Pemaksaan bentuk dan
struktur eksternal dibatasi, sejak hal ini merefleksikan sudut pandang observer sebagai pihak
yang berseberangan dengan pelaku yang terlibat secara langsung. Dari sudut pandang ini,
metode ideografik lebih disukai daripada metode nomotetik dari studi.
Dari sudut pandang teori ini, karakteristik dari intepretatif paradigm berbeda secara
signifikan dengan paradigma fungsional. Walaupun theorist tertentu kemudian berusaha
untuk menggabungkan ide dan pengertian yang mendalam dari para pembuatnya, khususnya
dalam hal metode, dua tipe teori tetap berbeda secara fundamental. Asusmsi ontological dari
interpretive theory tidak mengijinkan perspektif fungsional; dua tipe teori berdasarkan pada
perbedaan asumsi yang fundamental mengenai status ontologikal dari dunia sosial.

Terdapat kesamaan antara teori interpretif dan fungsional, kesamaan tersebut secara
jelas terbukti ketika teori ini dibandingkan dengan konterpart di dalam paradigma radical
humanist dan dan radical structuralist. Teori interpretif dan fungsional merefleksikan konsen
umum terhadap sosiologi atas peraturan. Umumnya, teori interpretif berkonsentrasi pada
studi tentang cara realitas sosial dibangun dan diminta dari sudut pandang pelaku yang
terlibat. Mereka merepresentasikan perspektif dimana para pelaku indivisual bernegosiasi,
mengatur dan menghidupkan dalam konteks status quo. Faktanya bahwa teori interpretif
berharga dalam bentukan sosiologi dari regulasi merefleksikan kerangka referensi dari
proponennya daripada dasar ontologikal dan asumsi metodologi.

BAB 7
PARADIGMA INTERPRETIF DAN STUDI ORGANISASI

Asumsi yang mendasari paradigma interpretif berkaitan dengan status ontologis dari
dunia sosial menolak utilitas membangun ilmu sosial yang berfokus pada analisis "struktur".
menekankan individu manusia melalui pengembangan dan penggunaan bahasa yang sama
dan interaksi kehidupan sehari-hari, mungkin menciptakan dan mempertahankan sebuah
dunia sosial makna intersubyektif bersama. dunia sosial karenanya bersifat dasarnya tidak
berwujud dan dalam proses yang berkesinambungan dari penegasan kembali atau perubahan.
Pandangan seperti itu tidak memungkinkan untuk adanya "organisasi" dalam arti
keras dan konkrit. Sementara pemikiran tertentu menerima konsep organisasi dan
penggunaannya sebagai "praktik akuntansi" dimana orang berusaha untuk memahami dunia
mereka, mereka tidak mengakui organisasi seperti itu. dari sudut pandang paradigma
interpretatif, organisasi sama sekali tidak ada.
Oleh karena itu, ada gagasan yang menjadi teori organisasi karakteristik paradigma
interpretif agak kontradiktif. Namun, dalam beberapa tahun terakhir sejumlah teori yang
terletak di dalam paradigma ini telah melibatkan diri dalam perdebatan tentang berbagai
aspek kehidupan organisasi. mereka telah melakukannya sebagai sosiolog yang bersangkutan
untuk menunjukkan keabsahan sudut pandang mereka sebagai melawan berlaku karakteristik
ortodoksi dari paradigma fungsionalis. sosiolog interpretatif dengan tegas menentang seperti
"absolutisme struktural" dengan alasan bahwa ilmu sosial harus didasarkan pada asumsiasumsi fundamental berbeda tentang status ontologis dari dunia sosial. untuk menunjukkan
titik ini, mereka telah terlibat dalam penelitian yang dirancang untuk menggambarkan
kesalahan dari sudut pandang fungsionalis. literatur ini, bagaimanapun, bukan tanpa masalah,
karena dalam mencoba untuk melemahkan gagasan menginformasikan fungsionalis lebih
ortodoks pendekatan untuk mempelajari kehidupan organisasi, sosiolog interpretatif sering
ditarik ke pertempuran berjuang pada lawan tanah mereka. dalam mengadopsi sikap reaktif
mereka sering mendukung, dengan implikasi, validitas asumsi latar belakang tertentu yang
menentukan fungsionalis bermasalah. akibatnya, sikap mereka sering agak kontradiktif, dan
ada cenderung menjadi perbedaan antara pernyataan teoritis dan asumsi yang tercermin
dalam penelitian empiris.
6

PENDEKATAN

ETNOMETODOLOGI

UNTUK

MEMPELAJARI

KEGIATAN

ORGANISASI
Salah satu kritik ethnomethodological awal teori organisasi fungsionalis ditemukan
dalam artikel egon Bittner, "konsep organisasi", pertama kali diterbitkan pada tahun 1965.
dalam artikel ini Bittner menyatakan bahwa teori organisasi, yang mendefinisikan organisasi
sebagai "asosiasi stabil orang yang terlibat dalam kegiatan bersama diarahkan untuk
pencapaian tujuan tertentu", cenderung untuk mengambil konsep struktur organisasi sebagai
problematik. ia berpendapat bahwa gagasan ini struktur yang mewakili tidak lebih dari
asumsi yang masuk akal dari para pelaku tertentu dalam situasi tertentu. untuk mengambil ini
asumsi yang masuk akal pada nilai nominal, dan menggunakannya sebagai dasar untuk
analisis organisasi. ia berpendapat, pada dasarnya, bahwa sosiolog yang menggunakan
konsep seperti itu sebagai "sumber daya" untuk menjelaskan kegiatan organisasi adalah
terjadinya tindak kesalahan mendasar, dan bahwa konsep tersebut harus menjadi "topik"
daripada alat analisis. dalam argumen Bittner menggambarkan kasusnya sehubungan dengan
pekerjaan Selznick dan weber, dan menunjukkan bahwa theoristare mereka berdasarkan
seluruh rangkaian pengandaian tak tertulis dan cara pintas teoritis yang membangun
pelindung di sekitar subjek penelitian.

PHENOMENOLOGICAL SYMBOLIC INTERACTIONISM AND THE STUDY OF


ORGANISATIONAL ACTIVIES
Fokus

interes

phenomenological

symbolic

interactionism

berbeda

dengan

etnometodologi yang ditujukan untuk cara dimana realitas social dinegoisasikan melalui
interaksi. Sedangka etnometodologi biasanya berfokus pada cara dimana para pelaku individu
menjelaskan dan memahami dunia mereka, phenomenological symbolic interactionism
berfokus pada konteks sosial dimana individu berinteraksi menggunakan berbagai praktik
untu menciptakan dan mempertahankan define praktis dari dunia.

TANTANGAN FENOMENOLOGIS UNTUK ORGANISASI KONTEMPORER


Tantangan yang menunjukkan sosiologi fenomenologis untuk organisasi kontemporer
teori adalah jelas dan sangat fundamental. Hal ini mensugestikan keseluruhan perusahaan
tentang teori organisasi adalah dasar pada fondasi yang sangat meragukan. Asumsi ontology
7

merupakan karakteristik dasar paradigm fungsionalis dalam oposisi fundamental yang


menjelaskan perspektif fenomenal. Untuk fenomena nyata dan fenomena yang relatif
sederhana untuk tidak ada; dunia sosial adalah proses penting dan muncul dari tindakan yang
disengaja dari perilaku manusia sebagai individu dalam hubungannya dengan yang lain.
Kenyataan social terdiri dari gambar kenyataan yang dapat dipahami sebagai suatu jaringan
tipifikasi. Mereka tidak membandingkan dengan definisi yang solid; mereka mengabaikan
kompleksitas; sifat-sifat yang kompleks dari kenyataan sosial hanya muncul ketika individu
terpaksa, melalui tekanan dari interaksi dengan yang lainnya, atau dalam mencoba untuk
membuat memahami dunia mereka. Untuk memahami lebih mendalam tentang sesuatu yang
baru atau modifikasi tipifikasi kejadian dan membuat rasa situasi mereka. Sifat yang
komplkes dan nyata dari kenyataan out ther adalah, dari sudut pandang, suatu fenomena
kontrak sosial dari keraguan status intersubjektif dan sebagai suatu momen yang dapat
dilihat.
Karena itu, organisasi dilihat dari perspektif fenomenologi sebagai kontrak sosial;
suatu organisasi berdiri sebagai konsep perbedaan utama terhadap perbedaan orang, Seperti
dalam konsep universal, adalah status intersubjective adalah sangat meragukan. Teori
organisasi memandang sebagai sesuatu yang kecil dan komintas yang mempertahankan diri
yang mana percaya bahwa organisasi ada dalam suatu relativitas kenyataan dalam pengertian
ontologis. Dari sudut pandang fenomenologi, teori organisasi tentang konsep yang sangat
sedikit signifikan dengan komunitas orang luar sesuai teori praktik organisasi dan batasan
komunitas teori organisasi yang mungkin mencoba untuk melayani.
Tantangan fenomenologis terhadap teori kontemporer organisasi adalah menyeluruh
dan komplet, karena isu perselisihan dari ontologi. Jika mengikuti semua konsep kegunaan
teori organisasi untuk membangun pandangan tentang realita organisasi adalah terbuka
terhadap kritik. Konsep dari struktur organisasi, kepuasan kerja, batasan organisasi, dll sering
bingung terhadap kenyataan sosial. Seharusnya teori organisasi mengkalim bahwa mereka
adalah hanya dari nilai heuristic, tentang awal kepemilikan, dan tanpa disadari atau sadar
implikasi terhadap kolusi. Penelitian fenomenologi yang dianggap pada bab ini dapat
dipahami sebagai suatu sebuah usaha untuk menunjukkan hubungan teori dengan ortodoksi
fungsionalis bahwa mereka adalah lebih perhatian terhadap dunia sosial. Studi menunjukkan,
untuk contoh, bagaimana individu membuat peraturan dengan konteks organisasi, negosiasi
sifat dari kejahatan, statistic criminal, menunjukkan untuk melihat kenyataan dunia dalam hal
semuanya terlalu simple. Inti dari kebohongan kenyataan sosial dalam Garfinkel (1967, p,11)
yang mendekripsikan sebagai the awesome indexicality dalam setiap hari kehidupan.
8

Kenyataannya tidak ada permukaan urusan manusia, menawarkan diri untuk langsung studi
sebagai fungsionalis teori organisasi begitu sering mnegasumsikan. Realitas sosial jauh
dengan hubungannya dengan typifications dengan individu, jika ditekan akan menjadikan
situasi masuk akal dimana mereka menemukan diri mereka.
Teori kontemporer organisasi dapat digunakan sebagai akses dan menaksir lagi dasar
orientasi dengan berkenaan dengan asumsi dimensi tujuan dari analisa skema
PENDEKATAN

FENOMENOLOGIS

UNTUK

MEMPELAJARI

SITUASI

ORGANISASI : MASALAH DAN DILEMA


Adopsi sudut pandang fenomenologis sosial lebih besar dari pada teori fungsionalis
organisasi. Jelasnya terdapat banyak masalah pada perhatian fenomenologis sosial untuk
mempelajari sifat dari situasi organisasi, tanpa disadari menyebabkan unuk mengenali dan
mengakui fitur dalam banyak situasi, jika ditekan punya kekuatan untuk menolak. Terdapat
banyak masalah awal karena perhatian penelitian tidak secar eksplisit menjelaskan mencoba
untuk menggunakan. Fokus pada empat elemen subjective dimensi tujuan dari skema
analisa, ini jelas sebagai bukti empiris dari tujuan teoriuntuk ilustrasi khususnya sudut
pandang ontology, menunjukkan superioritas dari pendekatan khusus epistemology dan
methodology, atau hanya untuk menekankan voluntarisme yang mereka lihat sebagai
karaktersitik urusan manusia.
Jika perhatian fenomena sosiologi adalah untuk mengatasi masalah ontology, seperti
membutuhkan teori perspektif, ini secara eksplisit penting. Penting untuk menekan kenyataan
dunia mencerminkan perbedaan fundamental dari konseptual. Fokus utama masalah yang
terlibat dengan ontology akan membutuhkan fenomena sosial untuk mengambil sikap tegas
pada status yang tepat dari konsep organisasi, hierarki, aturan birokrasi, dll, dan dasar fitur
yang melekat dalam banyak bukti empiris yang dihasilkan. Hal ini akan membawa kepada
bentuk asusmsi dasar paradigma interpretive dalam realita sosial.

Source : Burrell and Morgan