Anda di halaman 1dari 10

PROFESIONALISME ISLAM

PERMASALAHAN APOTEK DALAM TINJAUAN


SYARIAH
Implementasi Nilai Syariah Dalam Bisnis di Apotek

Disusun Oleh:
Handy Septian C.A
1508020177

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apotek adalah suatu tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian, penyaluran sediaan farmasi,
dan perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Pengertian ini didasarkan pada Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek.
Pekerjaan kefarmasian menurut UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yaitu meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan
dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Apotek sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan perlu mengutamakan kepentingan
masyarakat dan berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan
farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Apotek dapat diusahakan oleh lembaga
atau instansi pemerintah dengan tugas pelayanan kesehatan di pusat dan daerah, perusahaan milik
negara yang ditunjuk oleh pemerintah dan apoteker yang telah mengucapkan sumpah serta
memperoleh izin dari Suku Dinas Kesehatan setempat.
Menurut PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, yang dimaksud Apoteker
adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan
Apoteker. Apoteker sendiri mempunyai keahlian dan kewenangan di bidang kefarmasian baik di
apotek, rumah sakit, industri, pendidikan, dan bidang lain yang masih berkaitan dengan bidang
kefarmasian.
Apotek merupakan tempat pengabdian profesi kefarmasian. Namun tidak dapat
dipungkiri di sisi lain bahwa apotek adalah salah satu model badan usaha retail, yang tidak jauh
berbeda dengan badan usaha retail lainnya. Apotek sebagai badan usaha retail, bertujuan untuk
menjual komoditinya, dalam hal ini obat dan alat kesehatan, sebanyak-banyaknya untuk
mendapatkan profit. Profit memang bukanlah tujuan utama dan satu-satunya dari tugas
keprofesian apoteker, tetapi tanpa profit apotek sebagai badan usaha retail tidak dapat bertahan.

Oleh karena itu, segala usaha untuk meningkatkan profit perlu dilaksanakan, di antaranya
mencapai kepuasan pelanggan. Pelanggan merupakan sumber profit. Oleh karena itu, sebagai
seorang retailer berkewajiban

mengidentifikasi

apa

yang menjadi

kebutuhan

pelanggan,

menstimulasi kebutuhan pelanggan agar menjadi permintaan, dan memenuhi permintaan tersebut
sesuai bahkan melebihi harapan pelanggan.
Dalam praktiknya, ada beberapa pelanggaran yang beberapa kali dilakukan oleh apotek,
maupun petugas dan pegawai yang bekerja di apotek. Beberapa pelanggaran yang biasanya
dijumpai antara lain: menjual obat dengan harga relative lebih tinggi dibanding apotek
competitor, bahkan lebih tinggi dibanding harga ecer tertinggi yang telah ditetapkan. Penjualan
beberapa obat / bahan obat yang tidak semestinya, misalkan obat-obatan keras yang bebas
diperjualbelikan serta tidak ada batasan dalam pembeliannya, serta masih banyak lagi
kecurangan yang dilakukan oleh suatu oknum dari apotek tersebut. Hal tersebut semata-mata
dilakukan untuk mendapat keuntungan dan profit yang besar, walaupun harus melanggar
ketentuan yang berlaku.
Dari sisi kode etik maupun dalam pandangan Islam, hal itu sangat tidak dibenarkan. Islam
tidak membatasi umatnya untuk mencari harta sebanyak-banyaknya, dengan catatan diperoleh
dengan cara yang benar serta tidak merugikan suatu pihak. Islam sendiri memberikan
penghargaan yang besar terhadap pebisnis yang shaleh, karena baik secara makro maupun mikro
pebisnis yang shaleh akan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian suatu negara,
yang secara langsung atau tidak akan membawa kemaslahatan bagi umat Islam.
Harta yang diperoleh dengan cara yang halal dan baik akan mendatangkan keberkahan
pada harta tersebut, sehingga pemanfaatan harta dapat lebih maksimal bagi dirinya maupun bagi
orang lain. Sebaliknya, harta yang diperoleh dengan cara yang tidak halal atau tidak baik,
meskipun berjumlah banyak namun tidak mendatangkan manfaat bahkan senantiasa
menimbulkan kegelisahan dan selalu merasa kurang.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara berbisnis yang baik dan benar menurut Islam?
2. Bagaimanakah cara penerapan nilai Islami pada bisnis di Apotek?
3. Apa saja nilai Syariah yang dapat diterapkan di Apotek?
1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui cara berbisnis yang baik dan benar menurut Islam.


2. Mengetahui cara penerapan nilai Islami pada bisnis di Apotek
3. Mengetahui nilai Syariah yang dapat diterapkan di Apotek.

BAB II
PEMBAHASAN

Bisnis adalah sebuah aktivitas yang mengarah pada peningkatan nilai tambah melalui
proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi). Dalam terminologi
bahasan ini, pembiayaan merupakan pendanaan, baik aktif maupun pasif, yang dilakukan oleh
lembaga pembiayaan kepada nasabah.Sedangkan bisnis merupakan aktivitas berupa jasa,
perdagangan dan industri guna memaksimalkan nilai keuntungan.
Islam menempatkan aktivitas bisnis dalam posisi yang amat dihargai di tengah kegiatan
manusia mencari rezeki dalam penghidupan. Hal tersebut dapat dilihat dari hadist Rasulullah
SAW yang diriwayatkan oleh perawi hadis:
perhatikanlah olehmu sekalian, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari
sepuluh pintu rezeki (H.R. Ahmad).
pedagang (pebisnis) yang jujur dan amanah akan tinggal bersama para Nabi, Shiddiqin, dan
para syuhada di hari kiamat (H.R. Turmuji dan Ibnu Majah).
Dari hadis-hadis tersebut jelas sekali Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi
bagi para pedagang.Terkait dengan penghargaan yang tinggi ini agar aktivitas pedagang itu
berjalan dengan baik, tidak dikotori oleh praktek perdagangan yang merugikan, Islam juga
mengatur etika perdagangan (bisnis) bagi mereka yang menggelutinya.Dalam garis besarnya
Islam memberikan bimbingan dalam bentuk etika mencari keuntungan dan etika profesi.

Etika Mencari Keuntungan


Dalam al-Quran dijelaskan paling tidak ada empat sifat yang bersemi dalam diri seseorang
yang berhak mendapat keuntungan dalam berbisnis.Pertama, mewajibkan aktivitas perdagangan
dengan landasan keimanan dan ketaqwaan.Kedua, memiliki komitmen yang tinggi untuk
melaksanakan zikir dan bersyukur.Ketiga, berjiwa bersih dan mau bertobat.Keempat, memiliki
antusiasme yang tinggi dalam menjalankan amar maruf nahi munkar.

Etika Profesi

Menjadi pebisnis syariah merupakan suatu profesi yang memerlukan etika secara khusus
sebagai way of life yang selaras dengan kayakinan agama Islam. Manusia yang memilih
keyakinan agama Islam selain mendapat bimbingan melalui kalamullah (ayat-ayat Al-Quran), ia
juga mendapat bimbingan dalam bentuk alam (filullah). Perpaduan antara bimbingan kalamullah
dan filullah inilah yang membentuk etika profesi
Islam memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk melakukan usaha (bisnis), namun
dalam Islam ada beberapa prinsip dasar yang menjadi etika normatif yang harus ditaati ketika
seorang muslim akan dan sedang menjalankan usaha, diantaranya:
1. Proses mencari rezeki bagi seorang muslim merupakan suatu tugas wajib.
2. Rezeki yang dicari haruslah rizki yang halal.
3. Bersikap jujur dalam menjalankan usaha.
4. Semua proses yang dilakukan dalam rangka mencari rezeki haruslah dijadikan sebagai
sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
5. Bisnis yang akan dan sedang dijalankan jangan sampai menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup.
6. Persaingan dalam bisnis dijadikan sebagai sarana untuk berprestasi secara fair dan sehat
(fastabikul al-khayrat).
7. Tidak boleh berpuas diri dengan apa yang sudah didapatkan.
8. Menyerahkan setiap amanah kepada ahlinya, bukan kepada sembarang orang, sekalipun
keluarga sendiri
Dan dalam bertransaksi secara syariah, ada beberapa prinsip yang harus dipegang, yakni:
saling ridha (An Taradhin), bebas manupulasi (Ghoror), aman/tidak membahayakan (Mudharat),
tidak spekulasi (Maysir), tidak ada monopoli dan menimbun (ihtikar), bebas riba, dan halalan
thayyiban. Hal-hal tersebut dapat diimplementasikan pada saat berbisnis di dalam apotek, yaitu
dengan cara:
1. An Taradhin: dalam bertransaksi di apotek, kedua belah pihak harus saling ridha, dalam
artian kedua belah pihak sudah menyetujui suatu jenis transaksi serta telah mengetahui
kelebihan dan kekurangannya. Misalkan dalam membeli obat. Walaupun dengan harga
berapapun, pasien haruslah ridha serta tidak ada beban dalam membeli obat di apotek.
2. Bebas Ghoror : walaupun konsumen tidak mengetahui secara pasti dan rinci harga dari
obat maupun jasa yang kita berikan, hendaknya apotek tidak melebih-lebihkan / melakukan
manipulasi harga. Harga yang dipatok haruslah harga yang telah ditetapkan dan menjadi
harga standar di seluruh apotek

3. Aman: segala sesuatu yang kita lakukan baik berupa rekomendasi obat maupun
rekomendasi berupa saran lain yang diberikan kepada konsumen hendaklah telah terbukti
aman dan tidak merugikan dari sisi pasien.
4. Tidak spekulasi: spekulasi yang dimaksud dapat berupa spekulasi harga maupun keilmuan.
Apoteker hendaknya memiliki keilmuan yang mumpuni saat melayani pasiennya di apotik,
sehingga tidak terjadi adanya keraguan dalam pemilihan terapi yang baik bagi pasien.
5. Tidak memonopoli: apotek hendaknya melakukan bisnis yang sehat dengan cara tidak
memonopoli pasar. Misalkan apotek yang kita buka memiliki obat dengan harga yang jauh
di bawah harga pasaran, sehingga mengakibatkan harga pasaran jatuh, sehingga banyak
konsumen yang cenderung memilih pergi ke apotek kita dan menjadikan apotek lain
merugi.
6. Bebas riba: hendaknya praktik riba ini dihindari dalam melakukan segala kegiatan di
Apotek. Misalkan mengurangi dosis maupun jumlah obat yang seharusnya diberikan,
dengan tujuan mengurangi barang yang keluar akan tetapi tetap mendapat untung.
7. Halalan Thayyiban: apabila syarat-syarat di atas telah terpenuhi, keuntungan yang kita
dapatkan dalam berbisnis di Apotek Insha Allah Halal dan berkah.
Untuk pribadi seorang Apoteker maupun pegawai dari apotek sendiri sendiri, hendaklah
dalam mencari keuntungan maupun harta dalam bisnis apotek selalu mengingat pedomanpedoman yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T sendiri. Pedoman yang harus diingat sebagai
seorang Muslim dalam mencari harta diantaranya adalah:
1. Tidak lalai Dzikrullah. Sebagaimana telah diterangkan dalam Q.S. Al-Munafiqun ayat 9
yang berbunyi : Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka
mereka Itulah orang-orang yang merugi. Untuk mencegah hal tersebut hendaknya
pribadi seorang Muslimin selalu melandasi segala pekerjaannya dengan Ibadah. Niscaya
segala pekerjaan yang dilakukannya akan barokah, serta mendapatkan kenikmatan baik di
dunia maupun di Akhirat.
2. Tidak lalai ibadah. Sebagaimana telah diterangkan dalam QS. An Nuur: 37 yang
berbunyi: Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual
beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat.
Mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa hendaknya dalam mencari harta di dunia,

jangan sampai melupakan dan meninggalkan ibadah-ibadah yang wajib seperti Shalat.
Sesibuk apapun kita, hendaknya selalu menyempatkan diri dalam beribadah dan mencari
ridha Allah S.W.T.
3. Tidak lupa mati. Sebagaimana telah diterangkan dalam QS. At Takatsur: 1-2 yang
berbunyi: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam
kubur. Dengan ingat akan datangnya ajal berupa kematian, maka motivasi kerja
seseorang selain mencari rizki duniawi juga tidak akan lupa mencari bekal untuk di
akhirat nanti.
4. Tidak lupa berbagi. Sebagaimana telah diterangkan dalam QS. Al Haddid: 7 yang
berbunyi: Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian
dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang
beriman diantara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala
yang besar. Dalam implementasinya di apotek, kita dapat menyisihkan sebagian harta
atau keuntungan yang kita peroleh untuk orang yang membutuhkan, misalkan untuk
subsidi bagi pasien yang kurang mampu.

BAB III
KESIMPULAN
Dari pembahasan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap kaum Muslim tidak
dibatasi dalam mencari harta. Bahkan, dianjurkan kaum Muslim menjadi seorang yang kaya
harta, baik di dunia maupun di akhirat. Mencari harta sendiri banyak sekali caranya, salah
satunya adalah berbisnis dalam bidang Apotek. Perlu diingat bahwa cara mencari harta lah yang

penting, dimana prosesnya harus memenuhi nilai-nilai Islami dan menjauhi segala perbuatan
yang mendekati haram. Sebagai seorang pebisnis, hendaklah kita mencontoh perilaku Rasulullah
S.A.W yaitu Shiddiq, Amanah, Fatanah, dan Tabligh. Mencari harta juga haruslah seimbang,
antara harta duniawi dan bekal untuk akhirat. Yang tidak kalah penting selanjutnya adalah
menyisihkan sebagian harta kita untuk kepentingan bersama dan untuk orang lain yang
membutuhkan. Apabila segala sesuatu yang kita kerjakan dilandasi atas Ridha Allah S.W.T,
niscaya harta yang kita dapatkan akan Barokah serta mendapatkan kenikmatan baik di dunia
maupun untuk bekal di Akhirat nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M.M. 2011. Wirausaha Berbasis Syariah. Banjarmasin: Antasari Press. Hal. 42.
Amalia, F. 2013. Etika Bisnis Islam: Konsep Dan Implementasi Pada Pelaku Usaha Kecil. UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal. 116 125.
Anonim. Akhlak Dalam Bisnis Islami. http://www.takafulvesta.wordpress.com/ Diakses pada
tanggal 15 Januari 2016.

Anonim. Bentuk Jual Beli Yang Dilarang: Riba Dalam Jual Beli. http://www.rumaysho.com/
Diakses pada tanggal 15 Januari 2016.
Slide Pembelajaran Bp. Mintaraga Eman Surya, L.c., M.A. Strategi Sukses Bisnis Islami.