Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
A; Latar Belakang
Peraturan baru penetapan angka kredit untuk kenaikan pangkat guru
merupakan kabar baik bagi dunia pendidikan nasional kita dan sekaligus
menjadi kabar buruk bagi beberapa oknum pendidik yang tidak melaksanakan
dengan baik dan setengah hati dalam melaksanakan tugas. Betapa tidak, selama
ini jabatan guru merupakan ladang empuk bagi PNS untuk mengejar pangkat,
tidak heran kalau selama ini kita melihat banyak guru-guru muda yang
berpangkat tinggi, ini dikarenakan aturan kenaikan pangkat bagi tenaga
fungsional guru sangat mudah, beda halnya dengan tenaga fungsional lainnya
atau tenaga struktural.
Oleh sebab itu, pemerintah telah menetapkan peraturan baru tentang
kenaikan pangkat guru dan penetapan angka kredit guru. Aturan baru Angka
Kredit bagi kenaikan Jabatan Guru ini akan berlaku efektif mulai tanggal l1
Januari 2013 dimana untuk kenaikan pangkat Jabatan Fungsional Guru
serendah-rendahnya Golongan III/b diwajibkan membuat Karya Inovatif berupa
Penelitian, Karya Tulis Ilmiah, Alat Peraga, Modul, Buku, atau Karya Teknologi
Pendidikan yang nilai angka kreditnya disesuaikan.
Peraturan baru yang mengatur kenaikan pangkat jabatan fungsional guru
(guru dan kepala sekolah) ini telah terbit dan ditetapkan berdasar Peraturan
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(PermenPANRB) No. 16 Tahun 2009 tanggal 10 November 2009 tentang
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Peraturan Bersama Mendiknas
dan Kepala BKN Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 Tahun 2010 tanggal 6
Mei 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya.
Peraturan tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pada
prinsipnya bertujuan untuk membina karir kepangkatan dan profesionalisme
guru. Kebijakan itu diantaranya mewajibkan guru untuk melakukan kegiatan
yang menjadi bidang tugasnya dan hanya bagi mereka yang berhasil melakukan
tugasnya dengan baik diberikan angka kredit. Penggunaan angka kredit sebagai
salah satu persyaratan seleksi peningkatan karir bertujuan memberi penghargaan
lebih adil dan profesional terhadap kenaikan pangkat yang merupakan
pengakuan profesi serta kemudian memberikan peningkatan kesejahteraannya
dalam bentuk tunjangan sertifikasi guru. Pengembangan karir sesungguhnya
amat dibutuhkan agar guru tidak merasakan kejenuhan dalam melaksanakan
pekerjaannya.
B; Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah, yakni:
1; Apa yang dimaksud dengan pengembangan karir?
2; Apa tujuan dari pengembangan karir guru?
3; Bagaimana upaya pengembangan karir guru?
1
1
1

4; Bagaimana jabatan fungsional guru dan angka kreditnya menurut


PermenPANRB No. 16 Tahun 2009?
5; Bagaimana hakikat sertifikasi guru, tujuan sertifikasi guru, dan prosedur
sertifikasi guru?
C; Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan dari penulisan makalah ini, yakni:
1; Mengetahui pengertian pengembangan karir.
2; Mengetahui tujuan dari pengembangan karir guru.
3; Mengetahui upaya pengembangan karir guru.
4; Mengetahui jabatan fungsional guru dan angka kreditnya menurut
PermenPANRB No. 16 Tahun 2009 yang berperan dalam pengembangan
karir guru.
5; Mengetahui hakikat sertifikasi guru, tujuan sertifikasi guru, dan prosedur
sertifikasi guru.

BAB II
PEMBAHASAN
A; Pengembangan Karir Guru
1; Pengertian Karir dan Pengembangan Karir
Karir merujuk pada aktivitas dan posisi yang ada dalam kecakapan khusus,
jabatan, dan pekerjaan/tugas dan juga aktivitas yang diasosiasikan dengan masa
kehidupan kerja seorang individu.1 Istilah yang dikedepankan dalam
pendefinisian karir ini adalah aktivitas dan posisi seseorang. Jika seseorang
beraktivitas atau menduduki suatu posisi dalam suatu lingkungan sosial,
sementara untuk melakukan hal itu ia harus memiliki kecakapan khusus,
mengerjakan tugas-tugas tertentu dan menjabat, maka bisa dikatakan bahwa
orang tersebut berkarir. Demikian juga, jika seseorang dalam suatu rentang masa
bekerja untuk memperoleh nafkah bagi kehidupan diri dan keluarganya, maka
dikatakan bahwa orang tersebut memiliki karir.
Pengembangan karir merujuk pada proses sepanjang hayat pengembangan
keyakinan dan nilai, keterampilan dan bakat, minat, karakteristik kepribadian,
dan pengetahuan tentang dunia kerja.2 Sehingga dengan pengertian ini,
pengembangan karir tidak hanya mencakup rentang usia kerja produktif
seseorang, melainkan lebih luas lagi, yakni sepanjang hayat seseorang.
Pengembangan karir ini meliputi pengembangan keyakinan dan nilai seseorang
1 Aas Saomah, t. th, Pengembangan Karir Guru,
(file.upi.edu/.../PENGEMBANGAN_KARIR_GURU_DAN_PELAKSAN...), Diakses Tanggal 06 Oktober
2015 Pukul 09.48 WIB.
2 Ibid.

2
2
2

berkenaan dengan dunia kerjanya, yakni orang tersebut harus meyakini


kebenaran dari apa yang ia lakukan (pekerjaan) untuk kehidupannya itu dan
menerapkan nilai-nilai yang mendorong kemajuan kehidupannya, misalnya:
kerajinan, keuletan, kejujuran, pantang menyerah dan hemat. Penyesuaian minat
dan bakat dengan pekerjaan yang ia geluti juga merupakan upaya pengembangan
karir yang sedikit banyak mempengaruhi kualitas dan kuantitas kerja seseorang.
Keterampilan-keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan dunia kerjanya pun perlu ditingkatkan
agar karirnya bisa berkembang. Meningkatkan kebiasaan-kebiasaan hidup
efektif turut juga mengembangkan kehidupan karir seseorang karena dengan
memiliki kebiasaan hidup yang efektif tersebut karakteristik kepribadiannya
semakin berkualitas.
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa pengembangan karir guru
merupakan proses pengembangan profesionalisme guru dalam hal kompetensi
maupun kualifikasi akademik untuk peningkatan kualitas diri, jabatan/pangkat
dan kesejahteraan.
2; Dasar Pengembangan Karir Guru
Pembinaan dan pengembangan karir guru tidak hanya sekedar tuntutan yang
berupa wacana saja. Akan tetapi, ada payung hukum yang membawahinya yaitu
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang diatur
pada pasal 32 ayat 1 dan 4 yang berbunyi sebagai berikut:
1; Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan
pengembangan profesi dan karir.
4; Pembinaan dan pengembangan karir guru sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.
Pasal 33 menjelaskan bahwa Kebijakan strategis pembinaan dan
pengembangan profesi dan karier guru pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat
ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Dijabarkan lagi pada Pasal 34 ayat 1-3
berbunyi:
1; Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan
kualifikasi akademik dan kompetensi guru pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat.
2; Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib membina
dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru.
3; Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan anggaran untuk
meningkatkan profesionalitas dan pengabdian guru pada satuan pendidikan
yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
masyarakat.
Pengembangan dan/atau pemberdayaan guru juga hendaknya dilakukan
dengan cara-cara atau strategi yang baik. Sebagaimana dijelaskan dalam
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 7 Ayat 2 Pemberdayaan profesi
guru atau dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan
secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, berkelanjutan dengan
3
3
3

menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural,


kemajemukan, dan kode etik profesi.
3; Tujuan Pengembangan Karir Guru
Adapun tujuan dari pengembangan karir secara umum diantaranya:3
a; Membantu pencapaian tujuan organisasi dan tujuan individu.
b; Merencanakan karir pegawai dengan meningkatkan kesejahteraannya agar
pegawai lebih tinggi loyalitasnya.
c; Pengembangan karir membantu menyadarkan pegawai akan kemampuannya
untuk menduduki suatu jabatan tertentu sesuai dengan potensi dan
keahliannya.
d; Pengembangan karir dapat menghindarkan dari keusangan dan kebosanan
profesi.
Berdasarkan PP Nomor 74 Tahun 2008, pengembangan karir guru dan
peningkatan kompetensi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik
dilakukan dalam rangka menjaga agar kompetensi keprofesiannya tetap sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan/atau olah
raga. Pengembangan dan peningkatan kompetensi dilakukan melalui sistem
pembinaan dan pengembangan keprofesian guru berkelanjutan yang dikaitkan
dengan perolehan angka kredit jabatan fungsional.

4; Proses Pengembangan Karir Guru


Menurut Castetter, Proses pengembangan karir berhubungan dengan
Planning untuk peningkatan kinerja pada posisi saat ini. Seleksi Pengembangan
Keahlian untuk mengantisipasi peluang kerja. Promosi, sebagai pengembangan
diri guru dalam meningkatkan pengaruh dan kepuasan kerja. Dapat dilihat dari
skema model pengembangan diri berikut ini:4
REPLAN

EVALUATE

PLAN

OPERATE

ORGANIZE

3 Lia Yuliana, t. th, Pembinaan dan Pengembangan Tenaga Kependidikan,


(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PEMBINAAN%20DAN%20PENGEMBANGAN%20TENAGA
%20KEPENDIDIKAN.5.pdf), Diakses Tanggal 14 November 2015 Pukul 14.44 WIB.
4 William B. Castetter, The Personnel Function in Educational Administration, (New York: Collier
MacMillan, Third Edition), hlm. 317.

4
4
4

a; Plan
Setiap individu mempunyai hak untuk mengatur dan merencanakan
kenaikan kariernya berdasarkan kinerja yang ditunjukkan serta segala
kompetensi diri yang dimilikinya.
b; Organize
Saat seseorang telah merencanakan kenaikan jenjang karirnya, maka
perencanaan individu tersebut dapat dibaca oleh pejabat kepegawaian
tempatnya bekerja. Lalu, pejabat tersebut bisa membantu dengan mencari
titik temu antara perencanaan karier yang diinginkan guru dengan
perencanaan karier tempat guru tersebut mengajar. Bisa juga dengan
menempatkan guru pada posisi yang seharusnya sehingga mempermudah
dalam pencapaian kenaikan jenjang karir selanjutnya, sesuai dengan apa
yang telah direncanakan pegawai sebelumnya.
c; Operate
Seorang guru perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan serta diklat-diklat
demi peningkatan kinerja dan profesionalitas yang lebih tinggi, sehingga
apa yang menjadi tujuan dapat dicapai secara lebih efektif dan efisien
karena segala hambatan akan dapat diatasi dengan baik oleh guru yang
terlatih dan terdidik dengan baik.
d; Evaluate
Setiap kinerja yang ditunjukkan tentu perlu dievaluasi, apakah sudah
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika belum dan masih terdapat
berbagai kekurangan, maka perlu diadakan Replan.
5; Jenis Karir Guru
Karir guru di sekolah meliputi dua hal, yaitu:5
a; Karir Struktural, berhubungan dengan kedudukan seseorang di dalam
struktur organisasi tempat ia bekerja, misalnya menjabat sebagai Wali
Kelas, PKS, Wakasek, Kepala Sekolah, dan lain-lain.) Karir ini memiliki
tuntutan tanggung jawab tertentu bagi seorang guru, sehingga
wawasan/pengetahuan, sikap, dan keterampilan seorang guru harus
ditingkatkan untuk menjawab tuntutan yang dimaksud.
b; Karir Fungsional, berhubungan dengan tingkatan/pencapaian formal
seseorang di dalam profesi yang ia geluti, contohnya guru madya, guru
dewasa, guru pembina, guru profesional.
6; Kompetensi Profesi Guru
Kompetensi profesi yang mutlak harus dimiliki oleh seorang guru untuk
meningkatkan karirnya yakni:6
5 Miftahul Khairani, Penelitian dan Pengembangan Karir Guru,
(https://www.academia.edu/3340436/Penelitian_dan_Pengembangan_Karir_Guru), Diakses Tanggal 06
Oktober 2015 Pukul 11.14 WIB.
6 Ibid.

5
5
5

a; Kompetensi Pribadi, berkenaan dengan kemantapan, kestabilan,


kedewasaan, kearifan, dan kewibawaan guru.
b; Kompetensi Sosial, kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan
peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali siswa,
dan masyarakat.
c; Kompetensi Pedagogik, kemampuan mengelola pembelajaran yang
meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan
pembelajaran, evaluasi, dan pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensinya.
d; Kompetensi Profesional, kemampuan penguasaan materi pembelajaran
secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta
didik memenuhi standar kompetensi.
7; Upaya Pengembangan Karir
Dalam Materi Pendidikan dan Latihan Guru Profesional 2012 dijabarkan
program-program kegiatan untuk peningkatan kompetensi dan karir guru sebagai
berikut:7
a; Inhouse training (IHT). Pelatihan dalam bentuk IHT adalah pelatihan yang
dilaksanakan secara internal di KKG/MGMP, sekolah atau tempat lain
yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Strategi pembinaan
melalui IHT dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian
kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru tidak harus
dilakukan secara eksternal, tetapi dapat dilakukan oleh guru yang memiliki
kompetensi kepada guru lain yang belum memiliki kompetensi. Dengan
strategi ini diharapkan dapat lebih menghemat waktu dan biaya.
b; Program magang. Program magang adalah pelatihan yang dilaksanakan di
institusi/industri yang relevan dalam rangka meningkatkan kompetensi
professional guru. Program magang ini terutama diperuntukkan bagi guru
kejuruan dan dapat dilakukan selama priode ter tentu, misalnya, magang di
industri otomotif dan yang sejenisnya. Program magang dipilih sebagai
alternatif pembinaan dengan alasan bahwa keterampilan tertentu
khususnya bagi guru-guru sekolah kejuruan memerlukan pengalaman
nyata.
c; Kemitraan sekolah. Pelatihan melalui kemitraan sekolah dapat
dilaksanakan bekerjasama dengan institusi pemerintah atau swasta dalam
keahlian tertentu. Pelaksanaannya dapat dilakukan di sekolah atau di
tempat mitra sekolah. Pembinaan melalui mitra sekolah diperlukan dengan
alasan bahwa beberapa keunikan atau kelebihan yang dimiliki mitra dapat
dimanfaatkan oleh guru yang mengikuti pelatihan untuk meningkatkan
kompetensi profesionalnya.
d; Belajar jarak jauh. Pelatihan melalui belajar jarak jauh dapat dilaksanakan
tanpa menghadirkan instruktur dan peserta pelatihan dalam satu tempat
tertentu, melainkan dengan sistem pelatihan melalui internet dan
sejenisnya. Pembinaan melalui belajar jarak jauh dilakukan dengan
7 Rulam Ahmadi, t. th, Pengembangan Profesi dan Karir Guru, (http://www.infodiknas.com/wpcontent/uploads/2015/03/BAB-6-Pengembangan-Profesi-dan-Karir-Guru.pdf), Diakses Tanggal 14
November 2015 Pukul 14.44 WIB.

6
6
6

pertimbangan bahwa tidak semua guru terutama di daerah terpencil dapat


mengikuti pelatihan di tempat-tempat pembinaan yang ditunjuk seperti di
ibu kota kabupaten atau di propinsi.
e; Pelatihan berjenjang dan pelatihan khusus. Pelatihan jenis ini dilaksanakan
di P4TK dan atau LPMP dan lembaga lain yang diberi wewenang, di mana
program pelatihan disusun secara berjenjang mulai dari jenjang dasar,
menengah, lanjut dan tinggi. Jenjang pelatihan disusun berdasarkan tingkat
kesulitan dan jenis kompetensi. Pelatihan khusus (spesialisasi) disediakan
berdasarkan kebutuhan khusus atau disebabkan adanya perkembangan
baru dalam keilmuan tertentu.
f; Kursus singkat di LPTK atau lembaga pendidikan lainnya. Kursus singkat
di LPTK atau lembaga pendidikan lainnya dimaksudkan untuk melatih
meningkatkan kompetensi guru dalam beberapa kemampuan seperti
melakukan penelitian tindakan kelas, menyusun karya ilmiah,
merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, dan lainlain sebagainya.
g; Pembinaan internal oleh sekolah. Pembinaan internal ini dilaksanakan oleh
kepala sekolah dan guru-guru yang memiliki kewenangan membina,
melalui rapat dinas, rotasi tugas mengajar, pemberian tugas-tugas internal
tambahan, diskusi dengan rekan sejawat dan sejenisnya.
h; Pendidikan lanjut. Pembinaan profesi guru melalui pendidikan lanjut juga
merupakan alternatif bagi pembinaan profesi guru di masa mendatang.
Pengikutsertaan guru dalam pendidikan lanjut ini dapat dilaksanakan
dengan memberikan tugas belajar, baik di dalam maupun di luar negeri,
bagi guru yang berprestasi. Pelaksanaan pendidikan lanjut ini akan
menghasilkan guru-guru pembina yang dapat membantu guru-guru lain
dalam upaya pengembangan profesi.
Kegiatan-kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
kompetensi (profesi) dan karir guru adalah sebagai berikut:8
a; Diskusi masalah pendidikan. Diskusi ini diselenggarakan secara berkala
dengan topik sesuai dengan masalah yang di alami di sekolah. Melalui
diskusi berkala diharapkan para guru dapat memecahkan masalah yang
dihadapi berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah ataupun
masalah peningkatan kompetensi dan pengembangan karirnya.
b; Seminar. Pengikutsertaan guru di dalam kegiatan seminar dan pembinaan
publikasi ilmiah juga dapat menjadi model pembinaan berkelanjutan
profesi guru dalam meningkatkan kompetensi guru. Melalui kegiatan ini
memberikan peluang kepada guru untuk berinteraksi secara ilmiah dengan
kolega seprofesinya berkaitan dengan hal-hal terkini dalam upaya
peningkatan kualitas pendidikan.
c; Workshop. Workshop pendidikan adalah suatu kegiatan belajar kelompok
yang terdiri dari petugas-petugas pendidikan yang memecahkan problema
yang dihadapai melalui percakapan dan bekerja secara kelompok maupun
bersifat perorangan. Workshop dilakukan untuk menghasilkan produk yang
bermanfaat bagi pembelajaran, peningkatan kompetensi maupun
pengembangan karirnya. Workshop dapat dilakukan misalnya dalam
8 Ibid.
7
7
7

d;
e;
f;
g;

kegiatan menyusun KTSP, analisis kurikulum, pengembangan silabus,


penulisan RPP, dan sebagainya.
Penelitian. Penelitian dapat dilakukan guru dalam bentuk penelitian
tindakan kelas, penelitian eksperimen ataupun jenis yang lain dalam
rangka peningkatan mutu pembelajaran.
Penulisan buku/bahan ajar. Bahan ajar yang ditulis guru dapat berbentuk
diktat, buku pelajaran ataupun buku dalam bidang pendidikan.
Pembuatan media pembelajaran. Media pembelajaran yang dibuat guru
dapat berbentuk alat peraga, alat praktikum sederhana, maupun bahan ajar
elektronik (animasi pembelajaran).
Pembuatan karya teknologi/karya seni. Karya teknologi/seni yang dibuat
guru dapat berupa karya teknologi yang bermanfaat untuk masyarakat dan
atau pendidikan dan karya seni yang memiliki nilai estetika yang diakui
oleh masyarakat.

B; Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya


1; Pengertian Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
Menurut Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 pasal 1 menerangkan bahwa jabatan
fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas,
tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil.
Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung
jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan
organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/dan atau
keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. Dalam rangka mencapai tujuan
nasional, dibutuhkan adanya Pegawai Negeri Sipil dengan mutu profesionalisme
yang memadai, berdayaguna dan berhasilguna didalam melaksanakan tugas umum
pemerintahan dan pembangunan. Pegawai Negeri Sipil perlu dibina dengan
sebaik-baiknya atas dasar sistem karier dan sistem prestasi kerja.
Sedangkan pengertian angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan
dan atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang
Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.9
Dalam rangka usaha melaksanakan pembinaan Pegawai Negeri Sipil atas
dasar sistem karier dan sistem prestasi kerja maka perlu ditetapkan ketentuanketentuan tentang pengangkatan dalam pangkat Pegawai Negeri Sipil.
Pangkat adalah kedudukan yang menunjukkan tingkat seseorang Pegawai
Negeri Sipil dalam rangkaian susunan kepegawaian dan digunakan sebagai dasar
penggajian, oleh sebab itu setiap Pegawai Negeri Sipil diangkat dalam pangkat
tertentu.
Kenaikan pangkat adalah penghargaan yang diberikan atas pengabdian
Pegawaia Negeri Sipil yang bersangkutan terhadap Negara. Selain daripada itu,
9 PermenPANRB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, hlm. 5.
8
8
8

kenaikan pangkat juga dimaksudkan sebagai dorongan kepada Pegawai Negeri


Sipil untuk lebih meningkatkan pengabdiannya.
Sebagaimana dikemukakan diatas bahwa kenaikan pangkat adalah
penghargaan dan setiap penghargaan barulah mempunyai nilai apabila diberikan
pada orang yang tepat dan tepat pada waktunya. Berhubungan dengan itu, maka
setiap atasan berkewajiban mempertimbangkan kenaikan pangkat bawahannya
tepat pada waktunya.10
Uraian di atas memberikan makna bahwa semua guru mesti mengumpulkan
nilai minimal angka kredit untuk kenaikan pangkat berikutnya. Lengah atau tidak
waspada terhadap hal demikian saja, buka tidak mungkin dia akam ditinggalkan
oleh teman-temannya. Cepat tidaknya keniakan pangkat seorang guru sangat
tergantung kepada kegiatan dan aktivitas individualnya. Oleh karena itu, sejak itu
tidak layak lagi ada guru yang berleha-leha dan suka berpangku tangan atau
datang ke sekolah mengisis presensi (absen) saja. Sebaliknya, guru segera
memulai usaha peningkatan karier profesinya dengan segera menabung hasil
aktifitas jabatan guru.11
2; Rumpun Jabatan, Jenis Guru, Kedudukan, dan Tugas Utama
a; Jabatan fungsional guru adalah jabatan tingkat keahlian termasuk dalam
rumpun pendidikan tingkat taman kanak-kanak, dasar, lanjutan, dan sekolah
khusus.
b; Jenis guru berdasarkan sifat, tugas, dan kegiatannya meliputi : guru kelas; guru
mata pelajaran; dan guru bimbingan dan konseling/konselor.
c; Guru berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional di bidang
pembelajaran/ bimbingan dan tugas tertentu pada jenjang pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
d; Tugas utama guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
e; Beban kerja guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
dan/atau melatih paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan
paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Beban
kerja guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan
dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dalam 1
(satu) tahun.12
3; Kewajiban, Tanggung Jawab dan Kewenangan
Dalam melaksanakan tugasnya, guru memiliki beberapa kewajiban, tanggung
jawab dan kewenangan.
10 CST Kansil, Menghitung Sendiri Angka Kredit untuk Dosen dan Guru, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990),
hlm. 276.
11 Syafruddin Nurdin dan Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta:
Ciputat Press, 2002), hlm. 12-13.
12 PermenPANRB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, hlm. 6.

9
9
9

a; Kewajiban Guru dalam melaksanakan tugas adalah:


1; Merencanakan
pembelajaran/bimbingan,
melaksanakan
pembelajaran/bimbingan yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil
pembelajaran/bimbingan, serta melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan
pengayaan;
2; Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi
secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni; teknologi, dan seni;
3; Bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas pertimbangan jenis
kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, latar belakang
keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
4; Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik
guru, serta nilai agama dan etika;
5; Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa
b; Tanggung Jawab
Guru bertanggungjawab menyelesaikan tugas utama dan kewajiban
sebagai pendidik sesuai dengan yang dibebankan kepadanya.
c; Kewenangan
Guru berwenang memilih dan menentukan materi, strategi, metode, media
pembelajaran/bimbingan dan alat penilaian/evaluasi dalam melaksanakan
proses pembelajaran/bimbingan untuk mencapai hasil pendidikan yang
bermutu sesuai dengan kode etik profesi guru.
4; Instansi Pembina dan Tugas Instansi Pembina
Instansi pembina Jabatan Fungsional Guru adalah Departemen Pendidikan
Nasional. Instansi pembina sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 mempunyai tugas
membina Jabatan Fungsional Guru menurut peraturan perundang-undangan dengan
fungsi antara lain :
a; penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru;
b; penyusunan pedoman formasi Jabatan Fungsional Guru;
c; penetapan standar kompetensi Guru;
d; pengusulan tunjangan Jabatan Fungsional Guru;
e; sosialisasi Jabatan Fungsional Guru serta petunjuk pelaksanaannya;
f; penyusunan kurikulum pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional
Guru;
g; penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis dan penetapan
sertifikasi Guru;
h; pengembangan sistem informasi Jabatan Fungsional Guru;
i; fasilitasi pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru;
j; fasilitasi pembentukan organisasi profesi dan penyusunan kode etik Guru; dan
k; melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru.
5; Unsur dan Sub Unsur Kegiatan
Unsur dan sub unsur kegiatan Guru yang dinilai angka kreditnya adalah:
a; Pendidikan, meliputi: (a) pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah; dan
(b) pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan dan memperoleh surat tanda
10
10
10

tamat pendidikan dan pelatihan (STTPP) prajabatan atau sertifikat termasuk


program induksi.
b; Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, meliputi: (a) melaksanakan proses
pembelajaran, bagi guru kelas dan guru mata pelajaran; (b) melaksanakan
proses bimbingan, bagi guru bimbingan dan konseling; dan (c) melaksanakan
tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah.
c; Pengembangan keprofesian berkelanjutan, meliputi: (a) pengembangan diri: (1)
diklat fungsional; dan (2) kegiatan kolektif guru yang meningkatkan
kompetensi dan/atau keprofesian guru; (b) publikasi Ilmiah: (1) publikasi
ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan
formal; dan (2) publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman
guru; (c) karya Inovatif: (1) menemukan teknologi tepat guna; (2)
menemukan/menciptakan karya seni; (3) membuat/memodifikasi alat
pelajaran/peraga/praktikum; dan (4) mengikuti pengembangan penyusunan
standar, pedoman, soal dan sejenisnya.
d; Penunjang tugas guru, meliputi: (a) memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai
dengan bidang yang diampunya; (b) memperoleh penghargaan/tanda jasa; dan
(c) melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru, antara lain : (1)
membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ekstrakurikuler
dan sejenisnya; (2) menjadi organisasi profesi/kepramukaan; (3) menjadi tim
penilai angka kredit; dan/atau (4) menjadi tutor/pelatih/instruktur.
6; Jenjang Jabatan dan Pangkat
Menurut Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009, Jenjang Jabatan
Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi terdiri dari Guru
Pertama, Guru Muda, Guru Madya, dan Guru Utama. Penetapan Jabatan
Fungsional tersebut di dasarkan pada jenjang pangkat dan golongan dari guru yang
bersangkutan. Berikut ini adalah rinciannya:
a; Guru Pertama, yaitu guru dengan jenjang pangkat: (a) Penata Muda, golongan
ruang III/a; dan (b) Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b
b; Guru Muda, yaitu guru dengan jenjang pangkat: (a) Penata, golongan ruang
III/c; dan (b) Penata Tingkat I, golangan ruang III/d
c; Guru Madya,yaitu guru dengan jenjang pangkat: (a) Pembina, golongan ruang
IV/a; (b) Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b; dan (c) Pembina Utama
Muda, golongan ruang IV/c
d; Guru Utama : (a) Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/d; dan (b)
Pembina Utama, golongan ruang IV/e
Jenjang pangkat untuk masing-masing Jabatan Fungsional Guru adalah jenjang
pangkat dan jabatan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki untuk masingmasing jenjang jabatan.
Penetapan jenjang Jabatan Fungsional Guru untuk pengangkatan dalam jabatan
ditetapkan berdasarkan jumlah angka kredit yang dimiliki setelah ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit. Dengan demikian,
dimungkinkan pangkat dan jabatan tidak sesuai dengan pangkat dan jabatan di atas.

11
11
11

Instansi pembina jabatan fungsional guru adalah Departemen Pendidikan dan


Kebudayaan yang mempunyai tugas membina Jabatan Fungsional Guru menurut
peraturan perundang-undangan dengan fungsi antara lain:
a; Menyusun petunjuk teknis pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru
b; Menyusun pedoman formasi Jabatan Fungsional Guru
c; Menetapkan standar kompetensi Guru
d; Mengusulkan tunjangan Jabatan Fungsional Guru
e; Mensosialisasikan Jabatan Fungsional Guru serta petunjuk pelaksanaannya
f; Menyusun kurikulum pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis fungsional
Guru
g; Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan fungsional/teknis dan penetapan
sertifikasi Guru
h; Mengembangkan sistem informasi Jabatan Fungsional Guru
i; Memfasilitasi pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru
j; Memfasilitasi pembentukan organisasi profesi dan penyusunan kode etik guru
dan melakukan monitoring serta evaluasi pelaksanaan Jabatan Fungsional
Guru.
Pegawai Negeri Sipil yang diangkat untuk pertama kali dalam Jabatan Funsional
Guru harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a; Berijazah paling rendah Sarjana (S1) atau Diploma IV, dan bersetifikat
pendidik.
b; Pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang III/a.
c; Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan Dalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 tahun
terakhir.
d; Memiliki kinerja yang baik yang dinilai dalam masa program induksi.
Jabatan Fungsional Guru dapat diisi oleh Pegawai Negeri Sipil dari Jabatan lain
dengan prasyarat tambahan sebgai berikut:
a; Memiliki pengalaman sebagai guru minimal selama 2 tahun.
b; Usia paling tinggi 50 tahun.
c; Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam Daftar Penilaian
Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) paling rendah bernilai baik dalam 1 tahun terkhir.
Pangkat yang ditetapkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang pindah ke Jabatan
Fungsional Guru disetarakan dengan pangkat yang bersangkutan sesuai jenjang
Jabatan Funsional Guru dengan jumlah angka kredit yang ditetapkan oleh pejabat
yang berwenang menetapkan angka kreditnya.13
7; Rincian Kegiatan dan Unsur yang Dinilai
Rincian Kegiatan Guru Kelas sebagai Berikut:
a; Menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan;
b; Menyusun silabus pembelajaran;
c; Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran;
d; Melaksanakan kegiatan pembelajaran;
13 Nanang Priyatna dan Titi Sukamto, Pengembangan Profesi Guru, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013), hlm. 142-143.

12
12
12

e; Menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran;


f; Menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaran di
kelasnya;
g; Menganalisis hasil penilaian pembelajaran;
h; Melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan
hasil penilaian dan evaluasi;
i; Melaksanakan bimbingan dan konseling di kelas yang menjadi tanggung
jawabnya;
j; Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar
tingkat sekolah dan nasional;
k; Membimbing guru pemula dalam program induksi;
l; Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
m; Melaksanakan pengembangan diri;
n; Melaksanakan publikasi ilmiah; dan
o; Membuat karya inovatif
Rincian Kegiatan Guru Mata Pelajaran sebagai Berikut:
a; Menyusun kurikulum pembelajaran pada satuan pendidikan;
b; Menyusun silabus pembelajaran;
c; Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran;
d; Melaksanakan kegiatan pembelajaran;
e; Menyusun alat ukur/soal sesuai mata pelajaran;
f; Menilai dan mengevaluasi proses dan hasil belajar pada mata pelajaran yang
diampunya;
g; Menganalisis hasil penilaian pembelajaran;
h; Melaksanakan pembelajaran/perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan
hasil penilaian dan evaluasi;
i; Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar
tingkat sekolah dan nasional;
j; Membimbing guru pemula dalam program induksi;
k; Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
l; Melaksanakan pengembangan diri;
m; Melaksanakan publikasi ilmiah; dan
n; Membuat karya inovatif.
Rincian Kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling sebagai Berikut:
a; Menyusun kurikulum bimbingan dan konseling;
b; Menyusun silabus bimbingan dan konseling;
c; Menyusun satuan layanan bimbingan dan konseling;
d; Melaksanakan bimbingan dan konseling per semester;
e; Menyusun alat ukur/lembar kerja program bimbingan dan konseling;
f; Mengevaluasi proses dan hasil bimbingan dan konseling;
g; Menganalisis hasil bimbingan dan konseling;
h; Melaksanakan pembelajaran/perbaikan tindak lanjut bimbingan dan konseling
dengan memanfaatkan hasil evaluasi;
i; Menjadi pengawas penilaian dan evaluasi terhadap proses dan hasil belajar
tingkat sekolah dan nasional;
13
13
13

j;
k;
l;
m;
n;

Membimbing guru pemula dalam program induksi;


Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler proses pembelajaran;
Melaksanakan pengembangan diri;
Melaksanakan publikasi ilmiah; dan
Membuat karya inovatif

Guru selain melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2), atau
ayat (3) dapat melaksanakan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang relevan
dengan fungsi sekolah/madrasah sebagai:
a; Kepala sekolah/madrasah;
b; Wakil kepala sekolah/madrasah;
c; Ketua program keahlian atau yang sejenisnya;
d; Kepala perpustakaan sekolah/madrasah;
e; Kepala laboratorium, bengkel, unit produksi, atau yang sejenisnya pada
sekolah/madrasah; dan
f; Pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan inklusi
Unsur kegiatan yang dinilai dalam memberikan angka kredit terdiri atas: unsur
utama dan unsur penunjang.
a; Unsur utama, terdiri atas: pendidikan; pembelajaran/pembimbingan dan tugas
pembelajaran/pembimbingan dan tugas tambahan dan/atau tugas lain yang
relevan dengan fungsi sekolah/madrasah; dan pengembangan keprofesian
berkelanjutan.
b; Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas guru.
8; Unsur Penilaian Angka Kredit
Dalam menentukan kenaikan jabatan, untuk jabatan karir guru ada beberapa
unsur dan sub unsur yang dijadikan dasar untuk penilaian. Penilaian kinerja guru
(PK guru) adalah penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama Guru dalam rangka
pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya.
Hasil penilaian kinerja guru disebut angka kredit, yaitu satuan nilai dari tiap
butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh
seorang guru dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya.
Penilaian kinerja guru dilakukan oleh Tim Penilai Jabatan Fungsional Guru,
yaitu tim yang dibentuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang menetapkan
angka kredit dan bertugas menilai prestasi kerja guru. Berdasarkan Permennag PAN
dan RB No.16 Tahun 2009 Pasal 11, persyaratan angka kredit ini terdiri dari 3 (tiga)
unsur yaitu unsur utama, pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), dan
unsur penunjang.
a; Unsur Utama, terdiri dari 2 (dua) sub unsur, yaitu:
14
14
14

1; Pendidikan, yang meliputi: Pendidikan Formal dan memperoleh


gelar/ijazah dan Pendidikan dan pelatihan (Diklat) prajabatan dan
memperoleh surat tanda tamat pendidikan dan pelatihan (STTPP)
prajabatan atau sertifikat, termasuk program induksi.
2; Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, yang meliputi:
Melaksanakan kegiatan pembelajaran bagi kelas dan guru mata pelajaran
dan melaksanakan kegiatan bimbingan bagi guru bimbingan dan
konseling.
b; Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB)
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) adalah pengembangan
kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, bertahap, dan
berkelanjutan untuk meningkatkan keprofesionalannya. Kegiatan PKB meliputi
3 sub-unsur, yaitu:
1; Pengembangan diri, yang terdiri dari: Diklat fungsional, yaitu diklat yang
berkaitan dengan profesi sebagai guru dan kegiatan kolektif guru yang
meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru.
2; Publikasi Ilmiah, yang terdiri dari: Publikasi ilmiah atas hasil penelitian
atau gagasan inovativ pada bidang pendidikan formal dan publikasi buku
teks pelajaran, buku pengayaan, dan buku pedoman guru.
3; Karya inovatif, yang meliputi: Menemukan teknologi tepat guan dan
menemukan/menciptakan karya seni membuat/modifikasi alat pelajaran,
alat peraga, atau alat praktikum.
c; Unsur Penunjang, meliputi:
1; Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang di
ampunya.
2; Memperoleh penghargaan/tanda jasa.
3; Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru.
Untuk guru yang bertugas di daerah khusus, dapat diberikan tambahan angka kredit
setara untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi 1 (satu) kali selama masa
karirnya sebagai guru dengan syarat bahwa guru tersebut paling singkat telah
bertugas selama 2 (dua) tahun secara terus-menerus di daerah khusus.
Berdasarkan Permennag PAN dan RB No. 16 tahun 2009, nilai angka kredit
untuk kegiatan guru dibagi ke dalam empat unsur yaitu:
a; Unsur Pendidikan
b; Unsur Pembelajaran, Bimbingan dan Tuga Tertentu
c; Unsur Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), dan
d; Unsur Penunjang Tugas Guru 14
9; Penghitungan Angka Kredit
Berdasarkan buku Panduan Pelaksanaan PK Guru yang diterbitkan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, dalam perhitungan konversi PK Guru ke angka kredit,
digunakan rumus sebagai berikut:
Angka Kredit per tahun = (AKK-AKPKB-AKP) x JM/JWM x NPK
4
Keterangan:
14 Nanang Priyatna dan Titi Sukamto, Op.Cit., hlm. 144-147.
15
15
15

a; AKK adalah Angka Kredit Kumulatif minimal yang dipersyaratkan untuk


kenaikan pangkat.
b; AKPKB adalah angka kredit PKB yang diwajibkan (sub-unsur pengembangan
diri, karya ilmiah, dan/atau karya inovatif).
c; AKP adalah angka kredit unsur penunjang sesuai ketentuan Permenag PAN dan
RB Nomor 16 Tahun 2009.
d; JM adalah jumlah jam mengajar (tatap muka) guru di sekolah/ madrasah atau
jumlah konseli yang dibimbing oleh guru BK/ Konselor per tahun.
e; JWM adalah jumlah jam wajib mengajar (24-40 jam tatap muka per minggu)
bagi guru pembelajaran atau jumlah konseli (150-250 konseli per tahun) yang
dibimbing oleh gur BK/konseling.
f; NPK adalah persentase perolehan PK Guru.
g; 4 adalah waktu rata-rata kenaikan pangkat reguler (4 tahun).
Penjelasan:
a; Nilai AKK (Angka Kredit Kumulatif)
Seorang Guru yang akan dipromosikan naik jenjang pangkat dan jabatan
fungsionalnya setingkat lebih tinggi, dipersyaratkan harus memiliki Angka
Kredit Kumulatif Minimal sebagai berikut.

Jabatan Guru
1
Guru Pertama
Guru Muda
Guru madya
Guru Utama

Persyaratan Angka Kredit


kenaikan Pangkat dan
Jabatan
Pangkat dan Golongan Ruang
Kumulatif
Kebutuhan
Minimal
Per Jenjang
2
3
4
Penata Muda, III/a
100
50
Penata Muda Tingkat I, III/b
150
50
Penata, III/c
200
100
Penata Tingkat I, III/d
300
100
Pembina, IV/a
400
150
Pembina Tingkat I, IV/b
550
150
Pembina Utama Muda, IV/c
700
150
Pembina Utama Madya, IV/d
850
200
Pembina Utama, IV/e
1.050
200

Angka kredit kumulatif minimal pada kolm 3 adalah jumlah angka kredit
minimal yang dimiliki untuk masing-masing jenjang jabatan/pangkat; dan
angka kredit kebutuhan per jenjang pada kolom 4 adalah jumlah peningkatan
minimal angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan
setingkat lebih tinggi.
16
16
16

Contohnya, Bu ratih berada pada jenjang pangkat Penata Muda Golongan


III/a, nilai AKK yang harus diraih Bu Ratih untuk naik ke jenjang yang lebih
tinggi adalah 50
1; AKPKB (Angka Kredit Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan)
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009, Angka kredit PKB
diatur sebagai berikut.
2; Guru Pertama, pangkat Penata Muda, golongan III/a yang akan naik
pangkat menjadi Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I,
golongan ruang III/b mensyaratkan paling sedikit 3 angka kredit dari
sub-unsur pengembangan diri.
3; Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b
yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Muda, pangkat Penata,
golongan ruang III/c mensyaratkan paling sedikit 4 (empat) angka kredit
dari sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling
sedikit 3 (tiga) angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
4; Guru Muda, pangkat penata, golongan ruang III/c yang akan naik
pangkat menjadi Guru Muda, pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang
III/d mensyaratkan paling sedikit 6 (enam) angka kredit dari sub-unsur
publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 3 (tiga)
angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
5; Guru Muda, pangkat Penata Tingkat I, golongan ruang III/d yang akan
naik pangkat menjadi Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang
IV/a mensyaratkan paling sedikit 8 (Delapan) angka kredit dari subunsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4
(empat) angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
6; Guru Madya, pangkat Pembina, golongan ruang IV/a yang akan naik
pangkat menjadi Guru Madya, pangkat Pembina Tingkat I, golongan
ruang IV/b mensyaratkan paling sedikit 12 (dua belas) angka kredit dari
sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 4
(empat) angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
7; Guru Madya, pangkat Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b yang
akan naik pangkat menjadi Guru Madya, pangkat Pembina Utama
Muda, golongan ruang IV/c mensyaratkan paling sedikit 12 (dua belas)
angka kredit dari sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan
paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
8; Guru Madya, pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/c
yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Utama, pangkat Pembina
Utama Madya, golongan ruang IV/d mensyaratkan paling sedikit 14
(empat belas) angka kredit dari sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau
karya inovatif, dan paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari sub-unsur
pengembangan diri.
9; Guru Utama, pangkat Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/d
yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Utama, pangkat Pembina
17
17
17

Utama, golongan ruang IV/e mensyaratkan paling sedikit 20 (dua puluh)


angka kredit dari sub-unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan
paling sedikit 5 (lima) angka kredit dari sub-unsur pengembangan diri.
b; AKP (Angka Kredit Penunjang)
Penunjang tugas Guru meliputi:
1; memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang
diampunya;
2; memperoleh pengahragaan/tanda jasa
3; melakasankan kegiatan yang mendukung tugas Guru, antara lain:
a; membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik
industri/ekstrakurikuler dan sejenisnya.
b; menjadi organisasi profesi/kepramukaan
c; menjadi tim penilai angka kredit, dan/atau
d; menjadi tutor/pelatih/instruktur.
Misalnya Bu Ratih saat ini memiliki kualifikasi pendidikan S1, maka nilai
angka kredit penunjang yang dipersyaratkan untuk naik golongan adalah 5.
c; JM/JWM (Jam Mengajar/jam Wajib Mengajar)
Dalam perhitungan angka kredit, bagi guru pengajaran yang sudah
memenuhi jam wajib mengajar atau guru BK yang sudah memenuhi jumlah
minimal konseli per tahun, rumus yang dipakai adalah JM/JWM =1.
Bagi guru mata pelajaran atau guru kelas yang tidak memenuhi jam wajib
tatp muka per minggu, rumus yang dipakai adalah jumlah jam mengajar dibagi
24 = JM/24. Sementara untuk guru Bk/konselor yang tidak memenuhi jumlah
konseli minimal per tahun rumus yang dipakai aadalah jumlah konseli per
tahun dibagi 150 =JM/150.
Misalkan Bu ratih memiliki jam mengajar tatap muka sebanyak 24 jam per
minggu, maka rumus JM/JWM adalah 24/24=1
d; Nilai NPK
Nilai NPK adalah nilai hasil perhitungan PK Guru, misalnya PK guru Bu
Ratih adalah 80 yang berarti Bu Ratih termasuk kategori BAIK dengan
persantase Angka Kredit 100% atau equivalen dengan angka 1.
Dari bahasan di atas, sekarang kita sudah mengetahui angka-angka yang
dibutuhkan Bu Ratih untuk mengetahui angka Kredit pertahun, yaitu:
AKK

: 50

AKPKB

:3

AKP

:5

JM/JWM

:1

NPK

:1

Maka bila kita masukkan ke dalam rumus, hasilnya adalah sebagai berikut:
Angka Kredit per tahun
= (AKK-AKPK-AKP) x JM/JWM x NPK
18
18
18

4
= (50-3-5) x 1 x 1 = 10,5
4
Dari hasil perhitungan diatas, kita tahu dengan nilai PK guru kategori
BAIK, untu tahun 2012 Bu Ratih memperoleh angka kredit sebesar 10,5. Jika Bu
Ratih secara konsisiten selama 4 tahun memperoleh predikat BAIK, nilai angka
kredit yang didapatkannya adalah 4 x 10,5 = 42.
Karena persyaratan untuk naik jenjang ke golongan III/b adalah 50, maka
supaya Bu Ratih bisa naik pangkat dalam waktu 4 tahun, ia harus melengkapi
angka kreditnya dari kegiatan lain.15
C; Sertifikasi Guru
1; Hakikat Sertifikasi Guru
Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada sesuatu objek tertentu
(orang, barang, atau organisasi tertentu) yang menandakan bahwa objek tersebut
layak menurut kriteria, atau standar tertentu. Sertifikasi merupakan sebuah
bentuk jaminan mutu (quality assurance) kepada pengguna objek tersebut,
sehingga para pengguna tidak merasa dirugikan.16
Pada dasarnya, tiap profesi memerlukan pembuktian atas tingkat
profesionalitas yang dimiliki oleh tiap anggota profesi. Tiap guru, dokter,
notaris, akuntan harus memiliki bukti profesionalitas dari lembaga yang
kompeten. Proses pembuktian profesionalitas guru dilakukan melalui proses
sertifikasi guru.
Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (UUGD)
menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru profesional harus
memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S-1) atau diploma empat (DIV), menguasai kompetensi (pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian),
memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Undang-undang tersebut menegaskan bahwa guru mempunyai kedudukan
sebagai tenaga profesional pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Lebih lanjut UUGD mendefinisikan
bahwa profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan
keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma
tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Pengakuan kedudukan guru
15 Nanang Priyatna dan Titi Sukamto, Op.Cit., hlm. 168-178.
16 Marselus R.Payong, Sertifikasi Profesi Guru, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), hlm. 68.
19
19
19

sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Sebagai tenaga


profesional, guru diharapkan dapat meningkatkan martabat dan perannya
sebagai agen pembelajaran.
Pedoman opertasional sertifikasi guru mengacu ke Peraturan menteri
Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi
bagi Guru Dalam Jabatan yang ditetapkan pada tanggal 4 Mei 2007.
Sertifikasi merupakan sarana atau instrumen untuk mencapai tujuan
tertentu, bukan tujuan itu sendiri.17 Semua pihak harus memahami bahwa
sertifikasi merupakan sarana untuk menuju kualitas, yaitu kualitas guru yang
memiliki kompetensi yang baik. Kita tahu bahwa semua sarana baru ada
manfaatnya bila pemilik sarana itu memiliki kemampuan menggunakannya kea
arah yang benar. Jadi, sertifikasi guru dapat bermanfaat bila pemilik sertifikat
dapat menggunakannya menuju ke peningkatan kualitas.
Satu catatan menarik tentang sertifikasi dikemukakan oleh Surakhmad. 18
Menurutnya, sertifikasi tidak sekedar legalisasi kewenangan guru melainkan
juga memiliki implikasi pada aspek-aspek non-teknis seperti : 1) Sertifikasi
harus dibarengi dengan reposisi profesi guru yang sebelumnya hanya
termajinalisasi menjadi semakin otonom. 2) Sertifikasi juga harus dibarengi
dengan perubahan peranan guru dari hanya sekedar objek kebijakan menjadi
subjek dan pelaku yang otonom. 3) Sertifikasi harus berdampak pada
peningkatan kesejahteraan guru dan peningkatan fasilitas untuk berkarya secara
professional.
2; Tujuan Sertifikasi Guru
Sertifikasi memiliki beberapa tujuan tertentu. melalu sertifikasi setidaktidaknya terdapat jaminan dan kepastian tentang status profesionalisme guru dan
juga menunjukkan bahwa pemegang lisensi atau sertifikasi memiliki
kemampuan tertentu dalam memberikan layanan professional kepada
masyarakat.
Ada beberapa tujuan dari sertifikasi, diantaranya :19
a; Sertifikasi dilakukan untuk menentukan kelayakan guru dalam
melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dalam rangka mewujudkan
tujuan pendidikan nasional. Melalui sertifikasi maka akan dilakukan seleksi
terhadap guru manakah yang berkelayakan untuk mengajar dan mendidik
dan manakah yang tidak. Sertifikasi dalam konteks ini sebagai suatu
mekanisme seleksi terhadap guru-guru yang unggul yang diharapkan dapat
menunaikan tugas sebagai guru professional untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.
b; Sertifikasi juga dilakukan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil
pendidikan. Guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan siswa
dan menjadi salah satu komponen penting dalam proses pendidikan dan
pembelajaran. Guru juga menjadi salah satu aset penting yang menjadi
penentu kualitas pendidikan secara nasional.
17 H. Suyatno, Panduan Sertifikasi Guru, (Jakarta: PT. Indeks, 2008), hlm. 4.
18 Winarno Surakhmad, Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas,
2009), hlm. 253.
19 Marselus R.Payong, Op.Cit., hlm. 76-77.

20
20
20

c; Sertifikasi untuk meningkatkan martabat guru. Melalui sertifikasi guru maka


wibawa dan martabatnya sebagai seorang professonal dapat dijaga bahkan
ditingkatkan. Selama ini, guru dipandang sebagai pekerjaan missal yang
dapat dimasuki oleh siapa saja dari berbagai latar belakang. Karena itu ada
kecenderungan publik melihat guru secara berat sebelah dan profesi yang
disandangnya dianggap sebagai sebuah pekerjaan yang lumrah. Sertifikasi
justru untuk menjamin dan memastikan bahwa pekerjaan guru adalah
pekerjaan yang berwibawa dan guru melalui pengalaman pendidikan dan
pelatihan yang relative lama dapat memberikan layanan yang lebih baik
dibandingkan dengan pekerja-pekerja pengajaran yang amatir
d; Sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme guru. Sejatinya, guru yang
telah menyelesaikan proses pendidikan pada jenjang pendidikan keguruan
sudah memiliki sertifikat sebagai guru/pengajar. Ijazah dan akta mengajar
yang dimilikinya sudah memperlihatkan bahwa yang bersangkutan sudah
layak sebagai guru. Tetapi apakah pemegang ijazah dan akta guru sudah
benar-benar kompeten dan profesional? Untuk memastikannya perlu
dilakukan uji kompetensi sebagai seorang profesional sehingga dilakukan
melalui sertifikasi. Bahkan sertifikat tidak berlaku seumur hidup, sehingga
sertifikasi dan resertifikasi dapat menjadi salah satu mekanisme untuk
memastikan bahwa guru penyandang sertifikat masih tetap profesional dan
memiliki kompetensi yang dapat diandalkan. Sertifikasi dapat menjadi
sebuah post quality control yakni pengendalian mutu terhadap output yang
dilakukan sebelum output itu digunakan di dalam masyarakat.
3; Prosedur Sertifikasi Guru
Sejatinya, sertifikasi diterapkan kepada calon-calon yang ingin memasuki
suatu pekerjaan professional tertentu. Ini diakibatkan karena tuntutan pekerjaan
dan adanya standarisasi pekerja baru sebelum memasuki bidang pekerjaan itu.
Namun dalam kaitan dengan pekerjaan guru di Indonesia , satu persoalan utama
yang dihadapi adalah bahwa gagasan tentang sertifikasi ini relatif baru dan baru
diperkenalkan sejak Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Undang-undang Sisdiknas) dan Undang-undang No. 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Undang-undang Guru dan Dosen). Dengan
demikian, rekruitmen guru sebelum berlakunya Undang-undang Sisdiknas 2003
tidak dilakukan melalui suatu proses sertifikasi. Bagi guru-guru PNS rekruitmen
diintegrasikan dengan ujian masuk seleksi CPNS yang diselenggarakan hamper
setiap tahun. Karena itu dapat dipastikan bahwa input guru yang diperoleh
melalui mekanisme seleksi semacam ini, tentu saja bisa tidak sesuia dengan
tujuan dan karakteristik pekerjaan yang dilakukan oleh para guru. Sementara
rekruitmen untuk guru-guru yang bekerja di sekolah-sekolah swasta disesuaikan
dengan aturan yang berlaku di sekolah-sekolah tersebut yang tentu saja
bervariasi dari satu sekolah dengan sekolah lain. Akibat dari kondisi ini maka
sertifikasi guru di Indonesia dikenal dua jenis sertifikasi yakni sertifikasi guru
dalam jabatan dan sertifikasi guru pra-jabatan. Adapun penyelenggara sertifikasi
guru adalah LPTK yang telah ditentukan oleh pemerintah berdasarkan kriteriakriteria tertentu, dan dalam proses pelaksanaannya bekerjasama dengan Dinas
Pendidikan di daerah dan Direktorat PMPTK.
21
21
21

a; Sertifikasi Guru dalam Jabatan


Berkaitan dengan sertifikat pendidik yang harus dimiliki oleh guru profesional,
amanat UUGD telah dilaksanakan sejak tahun 2007 melalui program sertifikasi
guru dalam jabatan setelah diterbitkannya Peraturan Mendiknas Nomor 18
Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan. Mulai tahun 2009
landasan hukum pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan adalah Peraturan
Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Berdasarkan hasil kajian
pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan yang telah dilaksanakan dan kajian
terhadap guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik, maka perbaikan
pelaksanaan sertifikasi dilakukan melalui penerbitan Peraturan Menteri
Pendidikan Nomor 10 Tahun 2009 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan.
UUGD menegaskan bahwa sertifikasi untuk memperoleh sertifikat pendidik
bagi guru dalam jabatan yang diangkat sebelum UUGD disahkan, 30 Desember
2005, harus sudah selesai pada tahun 2015. Selain sertifikasi bagi guru dalam
jabatan melalui pola yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 10
Tahun 2009 tentang Sertifikasi bagi Guru Dalam Jabatan, sejak tahun 2011 guru
dalam jabatan yang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperoleh sertifikat
pendidik melalui pola yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 9 Tahun 2010 tentang Pendidikan Profesi Guru bagi Guru Dalam
Jabatan. Pasal 10 peraturan tersebut menegaskan bahwa guru mengikuti program
PPG dengan beban belajar 36 SKS dan sesuai dengan latar belakang
pendidikan/keilmuan dan satuan pendidikan tempat penugasan.
Pada akhir tahun 2014, berdasarkan data guru pada sistem NUPTK, masih
ada sekitar 500 ribu guru dalam jabatan yang belum memiliki sertifikat
pendidik. Pada umumnya guru-guru tersebut diangkat menjadi guru setelah
Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) ditetapkan. Pelaksanaan sertifikasi
bagi guru dalam jabatan tersebut akan menggunakan standar beban belajar
sesuai Permendiknas Nomor 9 Tahun 2010 tentang Pendidikan Profesi bagi
Guru Dalam Jabatan, bahwa guru harus meninggalkan kelas/pembelajaran
selama 2 semester untuk menempuh beban belajar 36 SKS. Dengan
mempertimbangkan bahwa guru dalam jabatan tidak diperkenankan
meninggalkan tugas mengajar selama mengikuti sertifikasi guru, maka
pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan mengalami beberapa penyesuaian
tanpa mengurangi kualitas lulusan. Penyesuaian yang dimaksud yaitu rekognisi
pembelajaran lampau (RPL), durasi workshop/pelatihan di LPTK dimampatkan
hingga hanya 16 hari, dan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) di sekolah
selama 2 (dua) bulan, ujian akhir dilaksanakan di sekolah. Pelaksanaan
sertifikasi guru tahun 2015 dimulai dengan pembentukan panitia sertifikasi guru
di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pendataan peserta dan penetapan peserta.
Agar seluruh pihak yang terkait pelaksanaan sertifikasi guru mempunyai
pemahaman yang sama tentang kriteria dan proses penetapan peserta sertifikasi
guru, maka perlu disusun Pedoman Penetapan Peserta Sertifikasi Guru Tahun
2015.
Sertifikasi guru tahun 2015 dilaksanakan melalui Pendidikan Profesi Guru
dalam Jabatan (PPGJ) yang selanjutnya disebut sertifikasi guru melalui PPGJ.
22
22
22

Alur pelaksanaan sertifikasi guru melalui PPGJ tahun 2015 ditunjukkan pada
Gambar 2.1.20

Penjelasan alur sertifikasi guru melalui PPGJ yang disajikan pada Gambar
2.2 adalah sebagai berikut:21
1; Guru calon peserta sertifikasi guru melalui PPGJ mengikuti seleksi
administrasi yang dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi/ kabupaten/kota.
2; Semua guru calon peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang telah
memenuhi persyaratan administrasi diikutkan dalam seleksi akademik
berbasis data hasil Uji Kompetensi (UKA dan UKG).
3; Bagi peserta yang lulus seleksi akademik dilanjutkan dengan penyusunan
RPL.
4; Bagi guru yang telah memiliki RPL setara dengan 10 SKS atau lebih
ditetapkan sebagai peserta workshop di LPTK. Sedangkan guru yang sudah
mencapai sekurang-kurangnya 7 SKS dapat melengkapi kekurangan RPL
tersebut dengan durasi waktu maksimal 20 hari sejak diumumkan.
5; Workshop dilaksanakan selama 16 hari (168 JP) di LPTK meliputi kegiatan
pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran, Penelitian
Tindakan Kelas (PTK)/Penelitian Tindakan layanan Bimbingan dan
Konseling (PTBK) dan peer teaching/peer counceling yang diakhiri dengan
20 Unifah Rosyidi et.al, Sertifikasi Guru Melalui Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2015,
(http://lpmpntb.org/download_file/2015-03/7_BUKU_1_2015_FINAL%28ttd-cap%29.pdf ), Diakses
Tanggal 10 November 2015 Pukul 12.50 WIB.
21 Ibid.

23
23
23

ujian tulis formatif (UTF) dengan instrumen yang disusun oleh LPTK
penyelenggara. Peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang lulus UTF akan
dilanjutkan dengan melaksanakan Pemantapan Kemampuan Mengajar
(PKM) di sekolah tempat guru bertugas. Bagi peserta sertifikasi guru melalui
PPGJ yang tidak lulus UTF, diberi kesempatan mengikuti UTF ulang
maksimum 2 (dua) kali dan apabila tidak lulus setelah 2 (dua) kali mengikuti
ujian ulang, dikembalikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota
untuk memperoleh pembinaan dan dapat langsung diusulkan kembali untuk
mengikuti workshop pada tahun berikutnya.
6; PKM dilaksanakan di sekolah selama 2 bulan (di luar libur antar semester)
dengan kegiatan-kegiatan sesuai tugas pokok guru yang meliputi
penyusunan perangkat pembelajaran (RPP/RPPBK), melaksanakan proses
pembelajaran/layanan konseling/layanan TIK, implementasi PTK/PTBK,
melaksanakan penilaian, pembimbingan, dan kegiatan persekolahan lainnya.
7; Peserta sertifikasi guru melalui PPGJ yang lulus uji kinerja dan UTN akan
memperoleh sertifikat pendidik, sedangkan peserta yang belum lulus, diberi
kesempatan mengulang sebanyak 2 (dua) kali untuk ujian yang belum
memenuhi syarat kelulusan. Bagi peserta yang tidak lulus pada ujian ulang
kedua, peserta dikembalikan ke dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota
untuk memperoleh pembinaan dan dapat diusulkan mengikuti PKM tahun
berikutnya.
b; Sertifikasi Guru Pra-Jabatan
Model sertifikasi guru lainnya adalah sertifikasi guru pra-jabatan. Mungkin
sedikit rancu istilah sertifikasi guru pra-jabatan, karena calon-calon guru pra
jabatan yang ingin menjadi guru sudah diseleksi melalui proses pendidikan di
lembaga pendidikan guru (LPTK) dan sudah mengantongi ijazah keguruan
tertentu. Bahkan dalam praktek, mereka sudah disiapkan secara spesifik untuk
melaksanakan tugas guru yang spesifik seperti guru kelas (bagi calon guru SD)
dan guru bidang studi bagi calon guru pada jenjang pendidikan SMP atau SMA.
karena itu sejak awal sudah ada perdebatan tentang keabsahan dan relevansi dari
jenis serifikasi semacam ini. Namun demikian, argumentasi yang mendukung
24
24
24

model sertifikasi ini mengambil analogi model sertifikasi pada profesi seperti
dokter, advokat, psikolog, dan sebagainya dimana dibutuhkan suatu proses
pemantapan khusus bagi para calon yang ingin memasuki sebuah profesi setelah
menyelesaikan program kualifikasi akademik. Sertifikasi untuk model ini
diterapkan dalam sebuah program pendidikan khusus yang disebut pendidikan
profesi.
Istilah pendidikan profesi itu sendiri sudah tersurat dalam Undang-undang
No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menyatakan bahwa pendidikan
profesi adalah pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan
peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian khusus. karena itu
Pendidikan

Profesi

Guru

(PPG)

adalah

program

pendidikan

yang

diselenggarakan untuk lulusan S1 kependidikan dan S1/D-IV non Kependidikan


yang memiliki bakat dan minat menjadi guru agar mereka dapat menjadi guru
yang professional serta memiliki berbagai kompetensi secara utuh sesuai dengan
standar guru professional, dan dengan demikian dapat memeproleh sertifikat
pendidik (sesuai UU No. 14/2005)pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
PP 74/2008 pasal 4 menyatakan bahwa sertifikat pendidik bagi guru
diperoleh melalui program pendidikan profesi yng diselenggarakan oleh
pergutruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan, yang
terakreditasi baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat
dan yang ditetapkan oleh pemerintah. Implementasi yang lebih operasional telah
dijabarkan ke dalan peraturan menteri yakni: 1) Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 9 tahun 2010 tentang Program Pendidikan Profesi Guru bagi Guru
Dalam Jabatan dan 2) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 8 tahun 2009
tentang Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan.22
Mengingat input untuk PPG meliputi lulusan-lulusan S1 Kependidikan dan
S-1/D-IV Non-Kependidikan maka kurikulum yang diterapkan dibuat secara
berdiferensiasi dimana lulusan S-1/D-IV kependidikan lebih berorientasi pada
pemantapan dan pengemasan materi bidang studi untuk pembelajaran bidang
studi yang mendidik (subject specific pedagogy) dan Program Pengalaman
22 Marselus R.Payong, Op.Cit., hlm.108.
25
25
25

Lapangan (PPL) Kependidikan. Sedangkan lulusan S-1/D-IV non kependidikan


memiliki struktur kurikulum yang mencakup: kajian tentang teori kependidikan
dan pembelajaran, kajian tentang peserta didik, pengemasan materi bidang studi
yang mendidik, pembentukan kompetensi kepribadian pendidik, dan PPL
Kependidikan. Selengkapnya, struktur kurikulum PPG.
Selanjutnya, lulusan S1 kependidikan dan S-1/D-IV non kependidikan yang
tidak linear dengan mata pelajaran yang akan diampu, diwajibkan mengikuti
program matrikulasi yang kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan
berdasarkan atas hasil asesmen kompetensi. Matrikulasi adalah program yang
dipersyaratkan bagi peserta didik yang sudah dinyatakan lulus seleksi PPG
untuk memperkuat kompetensi akademik bidang studi dan/atau kompetensi
akademik kependidikan, yang akan membantu mereka mengikuti pendidikan
profesi guru. Dengan demikian beban belajar untuk PPG tergantung pada latar
belakan calon. Adapun beban belajar untuk PPG sebagaimana yang diamanatkan
oleh Permendiknas No. 8 tahun 2009 dapat disajikan dalam tabel berikut:23
Guru
TK/RA/TK-LB
SD/MI/SDLB
SMP/MTs/SMPLB

Kualifikasi Input
S1/D-IV PGTK
S1/D-IV NON PGTK
S1/D-IV PGSD
S1/D-IV NON PGSD
S1/D-IV sesuai Bid. Studi
S1/D-IV Kependidikan tidak
sesuai Bid. Studi

SMA/MA/SMK/SMALB

Beban Belajar
18-20 SKS
36-40 SKS
18-20 SKS
36-40 SKS
36-40 SKS
36-40 SKS

S1/D-IV Non Kependidikan

36-40 SKS

S1/D-IV sesuai Bid. Studi


S1/D-IV Kependidikan tidak

36-40 SKS

sesuai Bid. Studi


S1/D-IV Non Kependidikan

36-40 SKS
36-40 SKS

Bagi peserta yang berasal dari lulusan S-1/D-IV kependidikan yang telah
mengintegrasikan PPL ke dalam kurikulumnya maka kurikulum PPG berisi
pemantapan bidang studi dan pendidikan bidang studi (subject enrichment and
subject specific pedagogy) dan pemantapan PPL.
Sementara itu sistem pembelajaran pada program PPG mencakup kegiatan
workshop subject specific pedagogy (SSP), praktikum (peer teaching,
23 Ibid.
26
26
26

microteaching) dan praktek pengalaman lapangan yang disupervisi langsung


secara intensif oleh dosen yang ditugaskan khusus untuk kegiatan tersebut.
Sistem pembelajaran demikian dilakukan secara tatap muka dan berorientasi
pada pencapaian kompetensi merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, menindaklanjuti hasil penilaian, dan melaksanakan
pembimbingan dan pelatihan. Untuk mendapat sertifikat pendidik maka pada
akhir program PPG dilakukan uji kompetensi yang mencakup ujian tulis dan
ujian kinerja. Peserta yang lulus ujian kompetensi akan memperoleh sertifikat
pendidik.

BAB III
PENUTUP
A; Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai pengembangan karir, jabatan
fungsional, angka kredit, dan sertifikasi guru dapat disimpulkan beberapa hal,
yakni:
1; Pengembangan
karir
guru
merupakan
proses
pengembangan
profesionalisme guru dalam hal kompetensi maupun kualifikasi akademik
untuk peningkatan kualitas diri, jabatan/pangkat dan kesejahteraan.
2; Dasar pengembangan karir guru terdapat pada Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 32, 33, dan 34. Tujuan
pengembangan karir guru adalah menjaga agar kompetensi keprofesiannya
tetap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan/atau olah raga, menghindarkan dari kejenuhan, mencapai tujuan
pendidikan, dan memastikan jabatan guru yang diampu sesuai dengan
potensi yang dimiliki.
27
27
27

3; Karir guru meliputi karir struktural dan karir fungsional dengan upaya
pengembangan karirnya meliputi kegiatan: diskusi masalah pendidikan,
workshop, seminar, penelitian, dan lain-lain.
4; Jabatan fungsional adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung
jawab, wewenang dan hak seorang Pegawai Negeri Sipil dalam suatu satuan
organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan pada keahlian/dan
atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri.
5; Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan atau akumulasi
nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Guru dalam
rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya.
6; Menurut Permenneg PAN dan RB No. 16 Tahun 2009, Jenjang Jabatan
Fungsional Guru dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi terdiri
dari Guru Pertama, Guru Muda, Guru Madya, dan Guru Utama.
Berdasarkan Permennag PAN dan RB No.16 Tahun 2009 Pasal 11,
persyaratan angka kredit ini terdiri dari 3 (tiga) unsur yaitu unsur utama,
pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), dan unsur penunjang.
7; Berdasarkan buku Panduan Pelaksanaan PK Guru yang diterbitkan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam perhitungan konversi PK
Guru ke angka kredit, digunakan rumus sebagai berikut:
Angka Kredit per tahun = (AKK-AKPK-AKP) x JM/JWM x NPK
4
8; Program sertifikasi guru adalah suatu program yang dilakukan oleh
pemerintah dibawah kuasa Kemendikbud dalam upaya meningkatkan
kualitas pendidikan di Indonesia, yang dilaksanakan melalui LPTK yang
terakreditasi dan ditetapkan pemerintah dengan pemberian sertifikat kepada
guru yang telah berhasil mengikuti program tersebut.
9; Sertifikasi guru memiliki berbagai tujuan yaitu: menentukan kelayakan guru
dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, meningkatkan mutu
proses dan hasil pendidikan, meningkatkan martabat dan profesionalisme
guru.
10; Sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2015 dilaksanakan melalui Pendidikan
Profesi Guru dalam Jabatan (PPGJ) yang selanjutnya disebut sertifikasi
guru melalui PPGJ. Sedangkan sertifikasi guru untuk Pra jabatan dilakukan
melalui PPG.
B; Saran
Penulis menyarankan kepada para guru maupun calon guru untuk
mengartikan pengembangan karir guru sebagai tambahan kewenangan bagi guru
selain tugas pokoknya sebagai pengajar (pendidik). Jadi, walaupun seorang guru
mempunyai/naik jabatan menduduki jabatan struktural tertentu akan tetapi tugas
pokoknya sebagai pengajar/pendidik tetap menjadi tanggung jawabnya. Dengan
kata lain seorang guru tidak serta merta menjadi birokrat dan meninggalkan
profesi mengajar ketika ia naik jabatan.

28
28
28

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,

Rulam.

t.

th.

Pengembangan

Profesi

dan

Karir

Guru.

(http://www.infodiknas.com/wp-content/uploads/2015/03/BAB-6-PengembanganProfesi-dan-Karir-Guru.pdf). Diakses Tanggal 14 November 2015 Pukul 14.44


WIB.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan
Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012.
Kebijakan Pengembangan Profesi Guru. (http://repository.ung.ac.id/.../MateriKEBIJAKAN-PENGEMBANGAN-PROFE..). Diakses Tanggal 06 Oktober 2015
Pukul 09.53 WIB.
Castetter, William B. 1981. The Personnel Function in Educational Administration.
New York: Collier MacMillan, Third Edition.
Kansil, CST. 1990. Menghitung Sendiri Angka Kredit untuk Dosen dan Guru. Jakarta:
Bumi Aksara.
Khairani,

Miftahul.

Penelitian

dan

Pengembangan

Karir

Guru.

(https://www.academia.edu/3340436/Penelitian_dan_Pengembangan_Karir_Gur).
Diakses Tanggal 06 Oktober 2015 Pukul 11.14 WIB.
Nurdin, Syafruddin dan Basyiruddin Usman. 2002. Guru Profesional dan Implementasi
Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press.
PermenPANRB No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka
Kreditnya.
Priyatna, Nanang dan Titi Sukamto. 2013. Pengembangan Profesi Guru. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
R.Payong, Marselus. 2011. Sertifikasi Profesi Guru. Jakarta: PT. Indeks
Rosyidi, Unifah.

Sertifikasi Guru melalui Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan

Tahun 2015. (http://lpmpntb.org/download_file/2015-03/7_BUKU_1_2015_FINAL


%28ttd-cap%29.pdf), Diakses Tanggal 10 November 2015 Pukul 12.50 WIB.

29
29
29

Saomah,

Aas.

t.

Pengembangan

th.

Karir

Guru.

(file.upi.edu/.../PENGEMBANGAN_KARIR_GURU_DAN_PELAKSAN...). Diakses
Tanggal 06 Oktober 2015 Pukul 09.48 WIB.
Surakhmad, Winarno. Pendidikan Nasional Strategi dan Tragedi. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Suyatno. 2008. Panduan Sertifikasi Guru. Jakarta: PT. Indeks.
Yuliana,

Lia.

t.

th.

Pembinaan

dan

Pengembangan

Tenaga

Kependidikan,

(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PEMBINAAN%20DAN
%20PENGEMBANGAN%20TENAGA%20KEPENDIDIKAN.5.pdf).

Diakses

Tanggal 14 November 2015 Pukul 14.44 WIB.

30
30
30