Anda di halaman 1dari 5

BAB II PENGUJIAN MAMPU KERAS

2.1 Tujuan

Mengetahui metode pengujian mampu keras suatu spesimen menggunakan metode


Jomini Test.
Mengetahui cara pengukuran kekerasan menggunakan alat uji keras.
Mampu menggambarkan grafik hasil pengujian kekerasan.

2.2 Teori Dasar


Sifat mampu keras atau hardenability adalah kemampuan suatu material untuk
dikeraskan. Sifat mampu keras suatu logam dapat ditunjang dengan beberapa faktor yang mampu
meningkatkan kekerasan logam, diantaranya :

Proses perlakuan panas yang diberikan.


Kecepatan pendinginan.
Kandungan karbon.
Kandungan unsur pemadu.

Hardenability dapat diukur dengan beberapa metode, seperi metode Grossman and Bain
dan metode Jominy Test. Pada metode Grossman and Bain spesimen yang akan di uji berbentuk
batang silinder dengan diameter yang berbeda-beda. Parameter pada pengujian ini adalah
berdasarkan diameter kritis dan diameter kritis ideal. Diameter kritis ideal adalah diameter
maksimun dari suatu batang silinder yang dicelup kedalam media quench tertentu tanpa batas
pemisah yang tidak mengalami pengerasan, batas pemisah tersebut adalah dimana sturktur mikro
mengandung 50% Martensit. Sedangan diameter kritis ideal adalah diameter dari batang silinder
dengan 50% martensit pada quenching sempurna.
Pada metode Jominy Test, spesimen yang digunakan berbentuk batang silinder dengan
diameter 1 inch dan panjang 4 inch. Setelah dipanaskan hingga suhu austerisasi spesimen
diletakan diatas sebuah penyangga lalu disemprotkan air dari bagian bawah spesimen dengan
jarak inch dari keran berdiameter inch. Setelah proses quenching selesai dilakukan
pengujian kekerasan dengan beberapa titik berbeda dari spesimen tersebut sehingga
menghasilkan kurva hardenability yang menyatakan hubungan antara kekerasan terhadap jarak
dari ujung quench. Hubungkan kurva tersebut dengan kurva CCT unntuk jenis material tersebut
sehingga dapat diketahuii laju pendinginan pada lokasi tertentu dari spesimen.

2.3 Alat dan Bahan


2.3.1 Alat

Tungku Muffle
Alat uji jominy
Alat uji keras
Kaca mata
Penjepit spesimen
Sarung tangan

2.3.2 Bahan

Spesimen AISI 1045


Ampelas
Mistar
Spidol
Media Quench (Air dan Oli)

2.4 Tata Cara Praktikum


2.4.1 Skema Proses
Siapkan Spesimen (Baja AISI
1045)
Panaskan spesimen sampai temperatur preheat (650 oC)
selama 30 menit
Panaskan spesimen hingga temperatur austerisasi (850 oC)
selama 15 menit
Uji Jominy Test
Ampelas Spesimen
Uji
kekerasan
Catat data-data dari
praktikum
Analisa dan pembahasan
Kesimpula
n

2.4.2 Penjelasan Skema Proses

Siapkan spesimen baja AISI 1045 berbentuk batang silinder.


Panaskan spesimen dalam tungku muffle hingga temperatur 650 oC dengan penahanan
temperatur selama 30 menit.
Kemudian lakukan pemanasan hingga temperatur austerisasi (851 oC) dengan waktu
penahanan 15 menit.
Pindahkan spesimen ke alat uji jominy test.
Semprotkan air kebagian bawah spesimen melalui keran pada alat jominy test hingga
temperatur awal.
Ampelas spesimen agar skel hilang.
Uji spesimen dengan alat uji rockwell, spesimen dibagi menjadi 9 titik berbeda dengan
diberi tanda dan jarak setiap titiknya adalah 1/16, 4/16, 8/16, 12/16, 16/16, 20/16, 24/16,
28/16, 32/16.
Catat data pengamatan dan buatlah sebuah kurva hardenability.
Analisa setiap langkah dalam praktikum lalu beri pembahasan.
Buat kesimpulan dari praktikum ini.

2.5 Pengumpulan dan Pengolahan Data


2.5.1 Pengumpulan Data
Data Pengujian Hardenability Metode Jominy Test :

Jenis material
Holding time pada preheat
Temperatur austerisasi
Holding time temperatur austerisasi
Media quench
Diameter keran
Jarak keran dengan spesimen

Data Pengamatan

: AISI 1045
: 30 menit
: 851 oC
: 15 menit
: air
: inch
: inch

Jarak (inch)

Kekerasan (HRc)
2
22.5
28.
30.2
35.4
38.5
42
45
51.5
59.5

1
30
31.5
33.5
34.5
38
40
42
52.5
61

32/16
28/16
24/16
20/16
16/16
12/16
8/16
4/16
1/16

Komposisi Kimia Baja AISI 1045

%C
%Mn
%S
%P
%Cr
%Ni
%Mo
%Si

: 0.43%-0.5%
: 0.60%-0.9%
: 0.05%-0.4%
: 0.05%-0.4%
: 0.05%-0.4%
: 0.05%-0.4%
: 0.05%-0.1%
: 0.05%-0.4%

2.5.2 Pengolahan Data


Grafik % C vs Di (menurut ASTM, butiran)
%C
0.43
0.5

Di
0.222
0.24

Gunakan grafik % paduan vs multiplying faktor


%Mn
0.6
0.9

Multiplying faktor
3
4

min
max

%Si
0.05
0.4

Multiplying faktor
1.035
1.280

min
max

HRc Rata-Rata
3
23
25.5
32
36
40.1
44.1
46.5
54
60.2

25.167
28.3
31.9
35.3
38.867
42.03
44.5
52.67
60.167

%Mo
0.05
0.4

Multiplying faktor
1.15
1.30

min
max

%Ni
0.05
0.4

Multiplying faktor
1.146
1.081

min
max

%Cr
0.05
0.4

Multiplying faktor
1.1080
1.8640

min
max

2.6 Analisa dan Pembahasan


Spesimen yang akan dipanaskan hingga temperatur austerisasi harus melalui proses
preheat terlebih dahulu, yaitu proses pemanasan awal karena proses preheat berfungsi untuk
mengurangi perbedaan temperatur antara logam dengan unsur pemadu yang terkadung
didalamnya. Perbedaan temperatur ini bisa terjadi karena perbedaan kemampuan konduktivitas.
Proses preheat dilakukan pada suhu 650oC karena pada suhu tersebut tegangan sisa (stress
relieve) akan hilang, kemudian dilakukan proses penahanan agar proses penyeragaman
temperatur berlangsung secara efektif.
Setelah proses preheat, spesimen dipanaskan hingga suhu austerisasi yaitu 850 oC,
temperatur austerisasi yang digunakan berkisar 850oC karena Baja AISI 1045 merupakan baja
karbon dengan kandungan karbon 0.45%, sesuai dengan diagram fasa temperatur austerisasi
pada baja karbon 0.45% berkisar 760oC, namun untuk menghindari perubahan fasa pada saat
spesimen di pindahkan dari tungku ke media pendingin, maka temperatur austerisasinya dinaikan
sekitar 50s/d100 oC. Ketika temperatur spesimen mencapai austenit, dilakukan penahanan selama
15 menit dengan tujuan untuk menyeragamkan fasa dan struktur agar sepenuhnya menjadi
austenit.
2.7 Kesimpulan dan Saran
2.7.1 Kesimpulan