Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

ACARA I
I.

Judul
Pengenalan Sistem Proyeksi Peta Kartografis

II.

Tujuan
1. Melatih mahasiswa untuk memahami pengertian proyeksi peta secara umum.
2. Melatih mahasiswa untuk mengenali dan memahami beberapa sistem proyeksi
peta khususnya proyeksi peta kartografis dengan cara membuat ilustrasi dari
sistem proyeksi tersebut.
3. Melatih mahasiswa untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing
sistem proyeksi.

III.

Alat dan Bahan


1. Kertas HVS
2. Alat tulis (pulpen, pensil, penggaris, dan penghapus)

IV.

Tinjauan Pustaka
Globe merupakan gambaran permukaan bumi dengan cara memperkecil skala peta.

Akan tetapi globe tidak bisa dibawa kemana-mana, sehingga membutuhkan cara untuk
merubah bentuk bulat ke bidang datar. Caranya adalah menggunakan proyeksi. Proyeksi peta
adalah cara-cara untuk memindahkan atau cara menyajikan garis-garis meridian dan paralel
pada bidang lengkung bola bumi atau globe (bidang 3D) ke bidang datar (bidang 2D) yang
berupa peta dengan kesalahan yang seminimal mungkin, baik itu kesalahan jarak, bentuk, luas
(area), dan sudut (arah) (Sukwardjono dan Sukoco, 1997).
Proyeksi selalu mengalami distorsi. Untuk memperkecil atau meminimalisir distorsi
(penyimpangan/kesalahan) maka dipergunakannya bidang-bidang yang jika didatarkan tidak
mengalami distorsi, misalnya menggunakan bidang kerucut dan silinder. Supaya kesalahan
dapat diperkecil/diminimalisir maka proses pemindahan harus memperhatikan syarat-syarat
berikut ini :

Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

Jarak antara satu titik dengan titik lain di permukaan bumi yang diubah tetap.
Luas permukaan yang diubah harus tetap.
Bentuk-bentuk di permukaan bumi tidak mengalami perubahan , harus persis seperti

pada peta di globe bumi.


(Hidayati, 2012)
Berdasarkan hal di atas klasifikasi macam-macam proyeksi peta, secara garis
besar dapat digolongkan menurut pertimbangan berikut :
A.

Pertimbangan Ekstrinsik
1. Bidang proyeksi
2. Persinggungan
3. Posisi

B.

Pertimbangan Intrinsik
1. Sifat-sifat yang dipertahankan
2. Genesa
3. Bentuk dan area yang akan dipertahankan
(Sukwardjono dan Sukoco, 1997)

Ditinjau dari macam bidang proyeksi yang digunakan, yaitu:

a. Proyeksi Zenithal/ Azimuthal yaitu proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai
bidang proyeksinya. Proyeksi ini menyinggung bola bumi dan berpusat pada satu titik.
Proyeksi ini memiliki cirri-ciri / karakteristik antara lain, garis-garis meridian sebagai garis
lurus yang berpusat di kutub, garis paralel digambarkan sebagai garis yang melingkar pada
bidang proyeksi, sudut pada meridian sama dengan sudut pada peta, dan seluruh permukaan
bumi yang diproyeksikan berbentuk lingkaran.
b. Proyeksi silinder adalah suatu proyeksi pada bola bumi yang bidang proyeksinya silinder
dan menyinggung bola bumi/globe. Jika bidang silinder menyinggung equator maka garis
paralelnya horizontal sedangkan meridiannya vertical. Cocok untuk daerah equator.

Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

c. Proyeksi kerucut adalah proyeksi yang diperoleh dengan cara memproyeksikan bola bumi
pada kerucut yang memotong dan menyinggung pada bola bumi, sehingga setelah dibuka
akan terbentuk bidang proyeksi seperti segitiga dan terdapat satu titik puncaknya. Pada
proyeksi kerucut umumnya garis paralelnya melingkar dan meridian berupa garis lurus yang
radial/ merupakan jari-jari. Karakteristik dari proyeksi silinder meliputi, garis meridian
merupakan garis lurus yang berkonvergensi di kutub, garis paralel merupakan meridian
lingkaran yang konsentris dengan titik puncaknya di salah satu kutub bumi sehingga tidak
bisa memproyeksikan kedua kutub bumi (hanya salah satu), dan cocok untuk menggambarkan
proyeksi pada daerah lintang tengah ( sudut kemiringan 450 ).
Ditinjau dari persinggungannya, meliputi :

Secant Case

Secant Case

Secant Case

Gambar 2. Kontak antara Globe dengan Bidang proyeksi

a. Tangential : bola bumi (globe) bersinggungan dengan bidang proyeksi.


b. Secantial : globe berpotongan dengan bidang proyeksi
c. Polysuperficial : terdiri dari banyak bidang proyeksi.
Ditinjau dari posisi sumbu proyeksinya, meliputi:

Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

a. Proyeksi Normal terjadi jika salah satu garis proyeksi berimpit dengan sumbu bumi .
b. Proyeksi Transversal terjadi jika salah satu garis proyeksi tegak lurus dengan sumbu bumi
atau

menyinggung equator.

c. Proyeksi Oblique terjadi jika salah satu garis proyeksi membentuk sudut terhadap sumbu
bumi dan arah penyinaran miring.
Ditinjau dari arah penyinaran, meliputi :
a.

Gnomonis yaitu proyeksi yang arah sinarnya berasal dari pusat bumi.

b.

Stereografis yaitu proyeksi yang arah sinarnya berasal dari kutub yang berlawanan
dengan titik singgung proyeksi.

c.

Orthografis yaitu proyeksi yang arah sinarnya berasal dari titik jauh tak terhingga.
Ditinjau dari sifat yang dipertahankan, meliputi:

a. Proyeksi Equivalent adalah proyeksi yang mempertahankan luas pada bidang proyeksi
supaya sama dengan bumi setelah dikalikan dengan skala.
b. Proyeksi Equidistant adalah proyeksi yang mempertahankan jarak pada bidang proyeksi
dengan jarak yang ada pada bumu setelah dikalikan dengan skala. Biasanya equidistant
hanya terdapat pada garis tertentu, misalnya garis paralel dan meridian.
c. Proyeksi Konformal adalah proyeksi yang mempertahankan bentuk yang ada pada bidang
proyeksi dengan bentuk yang ada pada bumi. Mempertahankan bentuk sama halnya dengan
mempertahankan sudut, yaitu sudut yang ada pada bidang proyeksi harus sama dengan
sudut yang berada pada bumi.
Ditinjau dari genesanya, meliputi :
a. Geometris adalah proyeksi yang dilakukan secara prespektif dengan prinsin
penyinaran.
b. Non perspektif adalah proyeksi yang dilakukan dengan cara pemindahan titik-titik
pada permukaan bola bumi dengan perhitungan matematis.
c. Semi geometris adalah proyeksi yang dilakukan dengan cara mencampurkan antara
proyeksi geometris dengan proyeksi non prespektif. Yaitu sebagian dari proyeksi
geometris dan sebagian lagi dari proyeksi non perspektif.
Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

(Iswari,2011)
Kombinasi antara bidang proyeksi yang digunakan, kontak antara bidang proyeksi
dengan globe dan posisi bidang proyeksi terhadap globe akan menghasilkan sistem proyeksi
tertentu. Sebagai contoh, suatu sistem proyeksi disebut sebagai normal tangen cylindrical
projection. berdasarkan namanya dapat diketahui bahwa bidang proyeksinya adalah silinder,
bidang proyeksi menyinggung globe dan posisi silinder adalah tegak sehingga sumbu silinder
berimpit dengan sumbu globe ( Susilo, 2010).
V.

Cara Kerja
Materi tentang
proyeksi
proyeksi peta
peta

Penjelasan
karakteristik jenis
proyeksi peta

Pemahaman proyeksi
peta

Pengilustrasian jenis
sistem proyeksi

Tebel Karakteristik
proyeksi peta
Keterangan :
: Input
: Proses
: Output
VI.

Hasil Praktikum
Tabel Karakteristik Sistem Proyeksi (Terlampir)

VII.

Pembahasan
Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

Garis khayal meridian dan paralel di bumi, perlu ditransformasikan dalam bidang
datar yaitu dari spherical graticule ke dalam plane graticule supaya kenampakan bumi dapat
digunakan untuk tujuan tertentu, maka perlunya suatu cara untuk memindahkan gratikul
pertimbangan-pertimbangan tertentu, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Tidak ada satupun
sistem proyeksi yang sempurna. Masing-masing jenis proyeksi mempunyai kelebihan dan
kekurangannya bergantung pada tujuan proyeksi peta yang digunakan. Pembuatan proyeksi
perlu diperhatikan maksud dan tujuan yang akan dicapai sehingga akan tepat dalam memilih
jenis proyeksi yang akan digunakan sesuai dengan lokasi daerahnya dan bertujuan untuk
memperkecil distorsi pada lokasi tersebut. Pertimbangan-pertimbangan untuk memilih macam
proyeksi tergantung pada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh peta berhubungan dengan
penggunaan atau pemanfaatan peta.
Pertimbangan yang digunakan pada praktikum ini terkait dengan pertimbangan
ekstrinsik, meliputi bidang proyeksinya, titik persinggungan dan posisi sumbu proyeksi
terhadap sumbu bumi. pertimbangan tersebut sebagai konsep dasar untuk dijadikan tumpuan
untuk jenis-jenis proyeksi peta yang lain. Enam proyeksi yang digunakan adalah silinder
tangensial normal, silinder secansial normal, kerucut tangensial normal, kerucut secansial
normal, azimuthal tangensial normal, dan azimuthal secansial normal. Semua jenis kerucut
tersebut normal, berarti posisi sumbu proyeksi terhadap sumbu bumi sejajar atau berimpit.
Proyeksi silinder memiliki ciri- ciri berbentuk silinder yang melingkupi bumi
sebelum diproyeksikan,dan setelah diproyeksikan akan membentuk suatu persegi panjang,
dengan paralel horizontal dan meridian vertikal. Berdasarkan titik singgungnya dibagi
menjadi dua, yaitu tagensial (menyinggung) dan secansial (memotong). Di antara keduanya
memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda pula. Silinder tangensial normal, memiliki
bidang proyeksi silinder, dengan titik persinggungan tangensial atau menyinggung
(menyentuh bidang proyeksi) dan posisi sumbu normal. Kelebihan proyeksi ini cocok
digunakan di daerah ekuator karena distorsi paling kecil terletak pada ekuator 0 0 . Hal itu bisa
didapat dari titik persinggungan bola bumi yang menyinggung bidang silinder tepat di
ekuator, sehingga faktor skalanya adala 1, yaitu tidak terdapat distorsi atau distorsinya sangat
kecil pada daerah tersebut. Kelemahannya adalah daerah yang semakin jauh dari ekuator,
distorsinya semakin besar terutama pada kutub bumi. Silinder secansial normal adalah silinder
yang memiliki bidang proyeksi silinder, titik persinggungannya secansial/memotong, dan
posisi sumbu sejajar. Kelebihan proyeksi ini adalah daerah di bola bumi yang berpotongan
Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

dengan bidang proyeksi di dua titik pada bidang proyeksi. Bagian yang berpotongan tersebut
memilki faktor skala 1, yaitu tidak terdapat distorsi atau distorsinya sangat kecil. Sedangkan
daerah yang berada di luar dan di dalam titik-titik perpotongan tersebut memiliki faktor skala
kurang dan lebih dari 1. Karena daerah yang berpotongan itu dua titik maka daerah yang
tergambar pada perpotongan tersebut memiliki daerah cakupan luas dengan distorsi yang
kecil. Silinder ini cocok untuk daerah ekuator ke atas (lintang utara) dan ke bawah (lintang
selatan), yaitu pada daerah berlintang tengah (perpotongan dua titik denga bidang proyeksi
terelatk di lintang tengah). Selain itu titik perpotongan tersebut dapat dibuat sendiri dengan
menggunakan sudut bumi untuk tujuan mendapatkan daerah proyeksi yang dipilih sesuai
dengan distorsi minimal. Kekurangan proyeksi ini tidak dapat menggambarkan daerah kutub,
di ekuator distrosinya besar, karena pada bagian ekuator terletak di luar titik perpotongan
dengan faktor skala kurang dari 1.
Proyeksi kerucut memiliki ciri-ciri berbentuk kerucut yang melingkupi bumi
sebelum diproyeksikan, dan akan terbentuk segitiga setelah diproyeksikan. Proyeksi kerucut
mempunyai paralel lengkung dan konsentris sedangkan mridiannya berbentuk garis lurus
yang memusat ke arah kutub. Berdasarkan titik singgungnya proyeksi ini dibagi menjadi
kerucut tangensial dan secansial dimana di antara keduanya memiliki kelebihan dan
kekurangan yang berbeda. Proyeksi kerucut tengensial normal adalah kerucut yang memiliki
bidang proyeksi kerucut, titik persinggungannya tagensial, dan posisi sumbunya sejajar
dengan sumbu bumi. Kelebihan proyeksi ini adalah cocok untuk pemetaan lintang tengah,
karena distorsi paling kecil terletak di lintang tengah yaitu terdapat persinggungan tangensial
antara bola bumi dengan bidang proyeksi pada titik 45 0 . Titik yang bersinggungan tersebut
disebut dengan paralel standar, yang memiliki faktor skala 1 yaitu tidak terdapat distorsi atau
distrosinya sangat kecil. Kekurangannya adalah daerah kutub dan ekuator memiliki distorsi
yang besar, karena semakin mejauh dari titik tersebut semakin besar distorsinya. Kerucut
secansial normal adalah kerucut yang bidang proyeksinya berbentuk kerucut, titik singgung
secansial atau perpotongan, dan posisi sumbunya sejajar dengan sumbu bumi. Kelebihan
proyeksi ini adalah daerah pada titik perpotongan tersebut memiliki faktor skala 1 yaitu tidak
ada distorsi atau ditorsi sangat kecil, daerah yang tecakup dengan distorsi minimal semakin
luas, akan tetapi ukuran semua daerah menjadi lebih sempit hal itu disebabkan karena terdapat
dua titik atau dua paralel standar mengalami perpotongan yang terletak di atas 45 0 dan di

Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

bawah 450 . Kekurangan adalah daerah yang semakin jauh dari titik persinggungan maka
distorsinya semakin besar.
Proyeksi azimuthal/ datar memiliki ciri-ciri berbentuk datar sebelum dan setelah
diproyeksikan. Daerah yang diproyeksikan memiliki garis paralel melengkung dan konsentris
dan garis meridiannya berbentuk garis lurus yang memusat ke kutub. Sehingga proyeksi ini
cocok untu pemetaan daerah kutub. Berdasarkan titik persinggungannya dibagi menjadi
proyeksi azimuthal tangensial dan secansial. Proyeksi azimuthal tangensial normal adalah
proyeksi yang memiliki bidang proyeksi datar, titik persinggungan tangensial, dan posisi
sumbu sejajar dengan sumbu bumi. Kelebihan proyeski ini adalac cocok digunakan untuk
pemetaan daerah kutub, karena di daerah tersebut memiliki distorsi paling kecil, yaitu pada
persinggungan antara bola bumu dengan bidang proyeks pada satu titik yang memiliki faktor
skala 1. Kekeurangannya adalah daerah yang semakin jauh dari kutub berarti distorsinya
semakin besar. Proyeksi azimuthal secansial normal adalah proyeksi yang memiliki bidang
proyeksi datar, dengan beberapa titik perptotongan/ secansial dan posisi sumbunya sejajar
dengan sumbu bumi. kelebihan proyeksi ini adalah cocok untuk pemetaan daerah yang
berpotongan karena daerah perpotongan distorsinya paling kecil. Sedangkan daerah yang
tidak berpotongan dengan bidang proyeksi maka distorsinya besar, distorsi besar terdapat
pada kutub dan di ekuator karena di kutub memiliki faktor skala kurang dari 1, yaitu terletak
di luar bidang perpotongan sedangkan di ekuator memiliki faktor skala lebih dari satu yaitu
terletak di bawah bidang proyeksi.
Berdasarkan ketiga proyeksi dengan karakteristik pertimbangannya, maka dapat
disimpulkan bahwa pembuatan proyeksi dilakukan dengan tujuan tertentu untuk
emnghasilkan daerah proyeksi dengan distorsi sangat kecil. Selain itu, karakteristik tersebut
sebagai konsep dasar untuk menentukan variasvariasi proyeksi di dunia.

VIII. Kesimpulan
1. Proyeksi peta adalah cara-cara untuk memindahkan atau cara menyajikan garisgaris meridian dan paralel pada bidang lengkung bola bumi atau globe (bidang 3D)
ke bidang datar (bidang 2D) yang berupa peta dengan kesalahan (distorsi) yang
seminimal mungkin.
Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285

Laporan Praktikum Proyeksi Peta

2013

2. Sistem proyeksi peta dibagi menjadi dua pertimbangan , yaitu pertimbangan


ekstrinsik dan intrinsik. Pertimbangan ekstrinsik dibagi menjadi proyeksi peta
berdasar bidang proyeksi, persinggungannya, posisi sumbunya, dan arah
penyinarannya. Pertimbangan intrinsik meliput sifat yang dipertahankan,
genesanya, dan bentuk arah yang akan dipetakan.
3. Sistem proyeksi peta mempunyai kelebihan dan kekurangannya karena setiap
pembuatan sistem proyeksi memiliki tujuan tertentu, dan tidak ada sistem proyeksi
di dunia yang sempurna. Misalnya sistem proyeksi silinder tangential, mempunyai
kelebihan dapat memetakan daerah ekuator dengan baik sedangkan kekurangannya
semakin menjauhi ekuator semakin besar distrosinya.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Iswari Nur. 2011. Petunjuk Praktikum Kartografi Dasar. Yogyakarta : Fakultas
Geografi Universitas Gadjah Mada.
Hidayati, Iswari Nur. 2012. Catatan Kuliah Proyeksi Peta. Yogyakarta : Fakultas
Geografi Universitas Gadjah Mada.
Sukwardjono dan Sukoco. 1997. Kartografi Dasar. Yogyakarta: Fakultas Geografi,
Universitas Gadjah Mada.
Susilo, Bowo. 2010. Petunjuk Praktikum Proyeksi Peta. Yogyakarta: Fakultas Geografi,
Universitas Gadjah Mada.

Kusuma Wardani Laksitaningrum 12/330894/GE/07285