Anda di halaman 1dari 52

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-1

BAB III
HASIL KAJIAN

paradigma

3.1. Pendekatan Yang

diskonfirmasi

(disconfirmation

Digunakan

paradigm).

Menurut

pandangan teori ini, kepuasan pelanggan

Pariwisata merupakan salah satu sumber

ditentukan oleh dua variabel kognitif.

daya ekonomi yang berbasis kepada

Yakni

konsep

Resources

Based

tersebut.

harapan

(prepurchase

pra-pembelian

expectations),

Sumber daya pariwisata dapat memiliki

keyakinan

nilai jual yang tinggi kepada konsumen

diantisipasi dari suatu produk (atraksi

(wisatawan)

wisata) dan disconfirmation, yaitu

apabila

dilakukan

tentang

yaitu

kinerja

secara

perbedaan

antara

optimal sehingga mampu memenuhi

pembelian

dan

kebutuhan dan kepuasan wisatawan.

pembelian (postpurchase perception).

Konsepsi kepuasan wisatawan diadopsi

Morrison,

2012

dari teori kepuasan pelanggan (costumer

konsep

Destination

satisfaction)

menetapkan

pengelolaan

dan

yang

pengolahan

didasarkan

pada

harapan

yang

persepsi

telah

kekuatan

prapurna-

menentapkan

Mix

telah
destinasi

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-2

pariwisata dengan 4 (empat) indicator

Sementara itu menurut Kotler, 2006

sebagai berikut:

komponen

1. Physical Product

adalah

meliputi

atraksi wisata, fasilitas, transportasi

masyarakat

pariwisata

di

destinasi

menyediakan

sumber

daya pelayanan sebagai tuan rumah


dan

pelayanan

lainnya.

sebagai sumber daya


budaya

produk

pariwisata

wisata

harus

memiliki

kriteria sebagai berikut:

1. Destination Attraction

dan infrastruktur.
2. People:

destinasi

sebuah

masyarakat

Selain

pelayanan,
serta

2. Destination Facilities
3. Accessibility
4. Destination

and

Perception
5. Price

gaya

hidupnya dapat menjadi daya tarik

Image

Gambar 3.1
Komponen Produk Wisata

wisata.
3. Packages: paket dikembangkan oleh
agen perjalanan, tour operator dan
usaha

lainnya

yang

mana

mengkombinasikan seluruh elemen


destinasi

sebagai

totalitas

pengalaman perjalanan.
4. Programs: elemen-elemen tersebut

Pariwisata

sebagai

ekonomi

secara

moda
nasional

penggerak
maupun

meliputi event, festival yang disusun

internasional memiliki sifat multi sektor,

dan diprogramkan untuk wisatawan.

multi dimensi,multi pelaku dan multi


disiplin. Sifat pariwisata yang demikian

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-3

memiliki tingkat kordinasi pada level

kualitas destinasi pariwisata ditentukan

tinggi guna menciptakan Destination

oleh 6 aspek, yang dapat disebutkan di

Experience yang bedaya saing. UNWTO,

bawah ini:

2007 menyatakan bahwa eksistensi dan

Gambar 3.2
6 Aspek yang Mempengaruhi Eksistensi dan Kualitas Destinasi Pariwisata
Eksistensi
dan Kualitas
Destinasi
Pariwisata
Fasilitas
Wisata
Umum &
Swasta

Atraksi

Aksesibilitas

Karakter &
Citra

SDM

Harga

Sumber : UNWTO,2007

Hal yang tidak disebutkan oleh Kotler,

saling

2010 tapi di lengkapi oleh UNWTO, 2007

menimbulkan

adalah unsur Sumber Daya Manusia

koordinasi

(SDM). SDM disini tidak hanya pada

dalam

ketersediaan tenaga kerja kepariwisataan

kegiatan

yang professional, namun juga pada SDM

baik

pengelolaan destinasi pariwisata.

maupun tidak langsung. Pada aspek

Pengelolaan suatu destinasi pariwisata

pelaku

melibatkan

adalah sebagai berikut:

pengelola

dari

berbagai

pihak baik pemerintah, industri, dan


masyarakat yang secara holistik akan

terkait

dan

implikasi

internal

pariwisatanya
terlibat

kegiatan,

isu

external

Para

pelaku

(stakeholders),

secara

maka

akan

terhadap

maupun

pengelolaannya.

yang

jelas

langsung

indikatornya

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-4

Gambar 3.3
Indikator pada Aspek Pelaku Kegiatan Pariwisata

PEMERINTAH
DEPBUDPAR
LINTAS
DEPARTEMEN
(INPRES NO. 16
TH 2005)

PEMDA
(PROVINSI/KAB/
KOTA)

PERS
DAN
MEDIA
MASSA

ASOSIASI
PERUSAHAAN
PARIWISATA

DESTINASI
PARIWISATA

ASOSIASI
PROFESI
PARIWISATA

INVESTOR/
DEVELOPER

LSM

MASYARAKAT

PERGURUAN
TINGGI

Kegiatan
suatu

kepariwisataan

industri

merupakan

pelayanan

terpadu

Secara ideal, suatu destinasi wisata harus


memiliki pemangku kepentingan berupa

(Tourism, Hospitality and Travel Industry),

organisasi-organisasi

maka

kerjanya satu dengan yang lainnya saling

dalam

terlepas

dari

pengelolaannya

bidang

berbagai

melengkapi.

peranan

tersebut antara lain: Pemerintah pusat

dalam pengelolaan pariwisata secara

melalui Departemen Kebudayaan dan

bersinergi dan berkelanjutan oleh karena

Pariwisata;

itu perlu difasilitasi pembentukan suatu

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat

organisasi

terintegrasi

Provinsi, Kabupaten, dan Kota; Asosiasi

dengan mekanisme pengelolaan mandiri.

Perusahaan Pariwisata; Asosiasi Profesi

stakeholder

keterlibatan

tidak

yang

yang

/badan

memiliki

yang

Organisasi-organisasi

Pemerintah daerah melalui

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Pariwisata;

Lembaga

Masyarakat;
Masyarakat;

Swadaya

2. Sebagai community marketer

Tinggi;

dalam visualisasi gambar tujuan

Perguruan
Investor/Developer;

Pers

wisata,

kegiatan

dan Media Massa. Keanekaragaman para

sehingga

pemangku

pengunjung.

kepentingan

III-5

ini

sesuai

pariwisata,

menjadi

pilihan

pembangunan

3. Sebagai industry coordinator

pariwisata yang multi disiplin dan multi

yang memiliki kejelasan terhadap

sektor.

fokus pertumbuhan industri yang

Pengelola destinasi pariwisata di Provinsi

mendatangkan

Riau dapat merupakan sebuah organisasi

pariwisata.

dengan

karakteristik

yang terdiri dari berbagai pemangku


kepentingan dan akan memiliki fungsi

hasil

quasi-public

4. Sebagai

representative yaitu keterwakilan

1. Sebagai economic driver dalam

pendapat

terhadap

menghasilkan pendapatan daerah,

pariwisata

yang

lapangan

dan

pengunjung

yang

pengunjung.

penghasilan

pekerjaan,
pajak

memberikan kontribusi terhadap


pertumbuhan ekonomi lokal;

melalui

industri
dinikmati

ataupun

group

5. Sebagai builder of community

pride

dengan

kualitas hidup.

peningkatan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-6

Operasionalisasi fungsi dari organisasi tersebut terhadap pengelolaan destinasi pariwisata


dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1
Operasional Fungsi Pengelolaan Destinasi Wisata
Kriteria
Karakter Organisasi

Karakteristik Pengelolaan Destinasi


Penunjukan
Pengelolaan
Kordinasi Aktivitas

Misi

Menciptakan destinasi pariwisata yang berkelanjutan


dan berdaya saing dengan mengembangkan secara
terintegrasi

terhadap

penciptaaan

kreasi

dan

operasional pada destinasi pariwisata


Tujuan

Memenuhi Kebutuhan Wisatawan


Menciptakan Manfaat dan Keuntungan
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam proses
pengembangan destinasi pariwisata dalam upaya
meningkatkan taraf hidup mereka
Perlindungan Lingkungan

Fungsi

Perencanaan
Pengembangan
Pengawasan
Kerjasama Usaha Pariwisata

Aktivitas

Pengembangan Kejasama
Pemahaman Terhadap Kebutuhan dan Keinginan (
wisatawan, pemerintah,usaha pariwisata, masyrakat,
assosiasi/organisasi kepariwisataan)

Struktur Organisasi

Hirarki yang secara terstruktur dari level tertinggi


(pemerintah pusat ) sampai terendah ( DTW)

Karakteristik
Organisasi

Persiapan SDM Profesional dan Organisasi Yang


Efisien
Kontribusi Seluruh Stakeholders Kepariwisataan
Independent

Finansial

Self Maintaining
Dukungan Level Tertinggi ( Pemerintah Pusat )

Sumber: Dr Marten Lengyel ;Regional (Destination) Tourism Management, 2007

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-7

Dalam kerangka berpikir itulah maka

aspek financial yang berfungsi untuk

kajian terhadap fungsi dan tata kelola

menjaga

bagi

maupun pelayanan.

suatu

pariwisata

pengelolaan

yang

destinasi

merupakan

ujung

2. The

standar

Product,

dari

fasilitas

merupakan

tombak pengaturan dan pengelolaan

keberhasilan yang bisa ditunjang

destinasi wisata menjadi sangat penting,

dengan

karena

akan

baru, lokasi, keberagaman di atraski

menjalankan daily operation of tourism-

wisata tersebut, lingkungan yang

related activities seperti disebutkan di

berkualitas, fasilitas penunjang serta

atas.

value of money.

organisasi

inilah

yang

3. The
Dari

seluruh

keberhasilan

deskripsi

market,

dan

keberhasilan

ide-ide

suatu

maka

atraksi wisata didasarkan atas growth

destinasi

market dan consumer behaviour

diatas,

pengelolaan

pendekatan

pariwisata di Provinsi Riau akan dapat

trends

memiliki

mengunjungi objek atau kawasan

fungsi

dalam

menarik

kunjungan wisatawan apabila memiliki

pada

wisatawan

yang

wisata tertentu.

1. The organization and its resources.

4. The management of the attraction,

Yaitu keberhasilan yang dilihat dari

keberhasilan yang ditunjang karena

pengalaman

keberadaan manajemen yang baik

mengelola

pengelola
dan

dalam

mengembangkan

atraksi wisata. Selain itu terlihat pula

dan professional.
Sumber : Swarbroke & Horner, 2012

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

3.2. Trend Kepariwisataan

penjualan

eceran,

dan

III-8

disebut

sebagai retail business


Secara

global,

memprediksi

UNWTO

bahwa

telah

kepariwisataan

global akan mengarah ke kawasan Asia


Pasifik dengan karakteristik produk yang
menjadi Eco Tourism, MICE, Event Olah
Raga, Luxurius, Shopping, Honey Moon,
Cruise dan Entertaiment. Dari trend
tersebut diatas, maka pada konteks
wisatawan mancanegara, Provinsi Riau
memiliki

peluang

besar

dalam

mengembangkan Eco Tourism (Taman

2. calon wisatawan
citra

umum

kemudian

dipengaruhi oleh
tentang

mencari

destinasi,

rincian

dari

produk-produk wisata dari destinasi


yang diminati, untuk menentukan
pilihan. Produk di beli melalui Travel

Agent/Tour

Operator

(TA/TO)

berupa paket wisata lengkap.


Tabel 3.2
Destinasi Tujuan Wisata Utama
Indonesia

Nasional Bukit Barisan) serta aktivitas


wisata

berbelanja.

Hal

yang

perlu

menjadi perhatian pada trend untuk


wisatawan

terutama

mancanegara

adalah
1. Calon wisatawan langsung mendapat

Berdasarkan teks news TV One, 29

informasi rinci dan transaksi melalui

Desember 2015, Indonesia pada tahun

internet, website, social media. Paket

2015 telah mampu mencapai target

wisata komplit kini telah dijual secara

wisatawan mancanegara sebesar 12 juta


orang dan diperkirakan akan mampu

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-9

mencapai target 20 juta wisatawan pada

langsung pada kedatangan wisatawan

tahun 2020.

mancanegara dari 2 negara tersebut.


Tabel 3.3

Telah

ditetapkan

19

pintu

masuk

Target Kunjungan Wisman Berdasarkan


Pasar Wisata

wisatawan mancanegara dimana Provinsi


Riau dengan Bandara Sultan Syarif Kasim
II sebagai salah satu pintu masuknya.

Target wisatawan mancanegara yang


telah

ditetapkan

oleh

Kementerian

Pariwisata pada tahun 2020 akan berasal


dari 16 negara dengan 5 negara sebagai
pasar utama yang meliputi:
1. Singapura
2. Malaysia

Perekonomian Indonesia yang semakin

3. Tiongkok

meningkat,

berdampak

kepada

4. Australia

peningkatan

perjalanan

manusia

5. Jepang

Indonesia baik ke luar negeri maupun ke

Berdasarkan data dari Bandara Sultan

dalam negeri. Perjalanan dalam negeri

Syarif Kasim II, untuk Negara Malaysia

oleh

dan Sinagpura telah ada penerbangan

digiatkan

langsung

yang

slogan Pesona Indonesia sebagai

diharapkan akan memberikan dampak

upaya pemerataan ekonomi daerah serta

menuju

Pekanbaru

wisatawan
oleh

nusantara

sedang

pemerintah

dengan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

meminimalisasi
nasional.

kebocoran

Pada

tahun

devisa

2014

terjadi

III-10

4. Meningkatnya penggunaan media


sosial

dan

internet

yang

sebanyak 250 juta perjalanan wisatawan

menginformasikan ulasan perjalanan

nusantara,

wisata

dimana

meningkatkannya

dalam

negeri,

yang

perjalanan wisatawan nusantara itu dapat

meningkatkan perjalanan golongan

disebabkan, antara lain:

muda

peak

dalam

memilih

dan

season

merencanakan

di

tandai

negeri

liburan

seperti

5. Semakin meningkatnya kualitas dan

liburan sekolah, hari libur ganda, hari

kuantitasi bauran destinasi pariwisata

libur nasional, hari libur natal dan

di

tahun baru

memberikan

1. Meningkatkan
wisatawan
dengan

nusantara

berbagai

seat

capacity

domestik

ditandai

2. Meningkatnya
penerbangan
dengan

sejumlah

airlines

yang

perjalanan

Indonesia

6. Semakin

tumbuhnya

menengah

menjadi

Berkembangnya
berbasis

kelas

sehingga

di Indonesia

feature

kepada

wisatawan.

wisata

program

mampu

kenyamanan

menambah frekwensi dan rute baru

3. Meningkatnya

yang

dalam

perjalanan

suatu

kebutuhan

produk

pelestarian

tematik

budaya

wisata dalam negeri oleh berbagai

lingkungan,

media elektronik dan media massa

wisata minat khusus bahari, segmen

yang

langsung

wisata keluarga (rekreasi dan belanja)

dalam

dari dan menuju kota-kota besar di

secara

meningkatkan

tidak
keinginan

melakukan perjalanan

Indonesia.

tumbuhnya

dan

segmen

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-11

Target pada tahun 2019, pergerakan

segmen pasar sekunder. Kondisi ini

wisatawan nusantara ditargetkan harus

terjadi

mencapai 275 juta wisatawan nusantara

aksesibilitas darat antar provinsi serta

pada tahun 2019. Hal ini berarti dalam

moda transportasi darat sebagai alat

kurun 5 (lima) tahun ke depan pengelola

transportasi utama bagi wisatawan

destinasi

nusantara dalam melakukan aktivitas

baik

di

tingkat

nasional,

regional maupun lokal harus mampu


memformulasikan

dan

menjalankan

dikarenakan

kemudahaan

wisata di atraksi wisata buatan.


Mengacu kepada kesimpulan tersebut

strategi yang tepat untuk meraih target

diatas,

tersebut.

peluang besar dalam mengembangkan

Berdasarkan hasil penelitian Kementerian

wisatawan nusantara yang berasal dari

Pariwisata

Provinsi

terhadap

wisatawan

maka

Provinsi

Sumatera

Riau

Utara,

memiliki

Provinsi

nusantara, 2015, dimana salah satu hasil

Sumatera Selatan dan Provinsi Jambi.

kesimpulannya adalah bahwa

Keseluruhan provinsi ini akan memiliki

Trend

kunjungan

wisatawan

jalur akses langsung menuju Provinsi

nusantara di atraksi wisata buatan

Riau melalui pembangunan Jalan Tol

pada saat ini masih terjadi terjadi

Sumatera.

didalam provinsi sebagai segmen


pasar utama. Namun di beberapa
wilayah sudah terjadi pergerakan
wisatawan nusantara antar provinsi
yang berdekatan atau berbatasan
langsung

(cross

border)

sebagai

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

3.3. Model Pengembangan

dalam

wujud

berkelanjutan

Kepariwisataan

pengembangan
(sustainable

III-12
yang

tourism

development).

Provinsi Riau
Potensi pariwisata Provinsi Riau ditopang
Arah pembangunan kepariwisataan di
Provinsi Riau adalah pembangunan yang
berkelanjutan dengan melibatkan setiap
unsur dan sektor yang ada dalam tatanan
daerah. Setiap unsur dan sektor bahu
membahu secara sinergis untuk dapat
mengupayakan

model

pembangunan

kepariwisataan yang cocok dan tepat


dengan Kultur dan kemampuan sumber
daya yang dimiliki oleh Provinsi Riau
Pemerintah Provinsi Riau menegaskan
akan posisi penting sektor pariwisata
bagi

pembangunan

Provinsi

Riau.

Pemerintah Provinsi Riau berketetapan


menjadikan pariwisata sebagai salah satu
paradigma baru pembangunan dengan
sasaran

salah

satunya

untuk

meningkatkan Pendapatan Asli Daerah

oleh ketersediaan dan variasi sumber


daya produk wisata, namun dipihak lain
pengembangan pariwisata Provinsi Riau
juga memiliki sederetan permasalahan
dan kompleksitas bagi pengembangan
wilayah. Tantangan besar terjadi dapat
berupa pemanfaatan ruang, aksesibilitas,
dan kualitas pelayanan publik yang
terkait dengan pariwisata seperti yang
tercantum dalam SAPTA PESONA. Dalam
konteks inilah pariwisata seyogyanya
dapat berperan sebagai salah satu sektor
yang mendorong kepada terwujudnya
kualitas wilayah, antara lain melalui
penguatan

kualitas

hubungan

lembaga - antar stakeholders.

antar

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-13

Perkembangan kondisi pasar wisata juga

Menyadari akan keseluruhan makna isu-

menjadi tantangan bagi pembangunan

isu

pariwisata Provinsi Riau. Kemampuan

kepariwisataan daerah perlu dibenahi

untuk memanfaatkan peluang yang ada

sehingga dapat memberikan manfaat

menjadi tantangan bagi semua pihak,

ekonomi

baik

maupun

masyarakat,

masyarakat. Untuk itu perlu dirumuskan

pemerintah

kebijakan, strategi, dan program yang

Daerah), sekaligus juga mampu memberi

tepat dan sesuai dengan perkembangan

pengalaman

lingkungan

diwarnai

wisatawan,

persaingan. Fluktuasi pasar dan kualitas

lingkungan

destinasi

sangat

budaya dan adat istiadat masyarakat.

mempengaruhi kinerja kepariwisataan di

Dari ulasan diatas, maka usulan dalam

Provinsi Riau

pola pengelolaan kepariwisataan Provinsi

pemerintah,

strategis

swasta

yang

pariwisata

Riau
Dalam

perkembangannya,

pariwisata

Provinsi Riau juga dihadapkan pada


permintaan terhadap produk wisata yang
bermutu

sebagai

meningkatnya

akibat

dari

pengetahuan

dan

pengalaman wisatawan, serta persaingan


dengan destinasi pariwisata lain.

tersebut,

dapat

berikut:

pembangunan

yang

maksimal

sektor
daerah

yang

swasta,

dan

(Pendapatan

Asli

bernilai

menjamin
alam,

bagi

bagi

kelestarian

kelestarian

dideskripsikan

sosial

sebagai

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-14

Gambar 3.4
Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

KEBIJAKAN
PARIWISATA
NASIONAL

PRODUK DESTINASI
PARIWISATA
PROVINSI RIAU

ASPEK PASAR
DESTINASI
PARIWISATA
PROVINSI RIAU

KEBIJAKAN
PARIWISATA
PROVINSI RIAU

RENCANA INDUK
PEMBANGUNAN
KEPARIWISATAAN
PROVINSI RIAU 2012

STAKEHOLDERS
KEPARIWISATAAN
PROVINSI RIAU

Keunggulan
Daya Tarik
Wisata
Kelengkapan
Fasilitas
Wisata
Kemudahan
Pencapaian
Kesesuaian
Harga

PENETAPAN
DESTINASI
UNGGULAN

FORMULASI POLA
PENGELOLAAN

Citra Yang
Terbentuk
Persepsi
Destinasi Yang
Terbentuk
Segmen Pasar

PENETAPAN
BRANDING DAN
JENIS WISATAWAN

Pemerintah
Usaha
Kepariwisataan
Masyarakat

PENETAPAN
ORGANISASI
PENGELOLAAN

1. Pengembangan Destinasi
Pariwisata
2. Pengembangan Pasar dan
Pemasaran
3. Pengembangan Usaha
Pariwisata
4. Pengembangan Organisasi
Pengelola

POLA PENGELOLAAN
KEPARIWISATAAN
PROVINSI RIAU

ISU STRATEGIS
KEPARIWISATAAN
PROVINSI RIAU
INPUT

OUTPUT

PROCESS

3.4. Pola Pengembangan

pariwisata yang dikembangkan oleh


Kotler, 2012 (Attraction, Facilities,

Destinasi Pariwisata

Aksesibilities, Image and Perception,

Provinsi Riau

Price), maka pola pengembangan


kepariwisataan

3.4.1.

Pertimbangan

Pola

Pengembangan
Melihat
tersebut
kepada

kepada
diatas,
konsep

di

Provinsi

Riau

diarahakan sebagai berikut:


1. Atraksi

ulasan-ulasan
serta

mengacu

produk

destinasi

Provinsi Riau memiliki kuantitas


objek daya tarik wisata yang

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

tinggi seperti yang dapat dilihat

Arahan

pada Tabel 3.4 dan berdasarkan

difokuskan kepada objek dan

Rencana Induk Pengembangan

daya tarik wisata yang telah

Pariwisata Daerah (RIPPARDA)

masuk kategori unggulan yang

Provinsi Riau telah ditetapkannya

berjumlah 44 buah kemudian

objek dan daya tarik wisata

secara

unggulan

mengembangkan

pada

Kabupaten/Kota

setiap

pengembangan

bertahap
daya

tarik

total

wisata potensial non-unggulan.

buah

Proses pengembangan daya tarik

dengan detail yang dapat dilihat

wisata yang berkelanjutan dan

pada Tabel..

selaras

jumlah

dengan

pola

III-15

sebanyak

Namun

dari

44

keunggulan

dengan

Provinsi Riau

RIPPARDA

yaitu

kebijakan

kuantitas tersebut kondisi aktual

dengan arah:

adalah

a. Pengembangan Kebudayaan

masih

minimnya

pengembangan dari objek dan

Melayu

daya tarik wisata pada Provinsi

pembangunan

Riau,

kepariwisataaan Riau

mayoritas

objek

wisata

belum mampu dikembangkan


secara

optimal

dan

belum

sebagai

b. Perintisan
daya

pengembangan

tarik

menjadi destinasi tujuan favorit

rangka

bagi wisatawan nusantara serta

pertumbuhan

mancanegara.

dasar

wisata

c. Pembangunan

dalam

mendorong

daya

tarik

wisata untuk meningkatkan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

kualitas

dan

daya

saing

e. Pengembangan

III-16
jejaring

produk dalam menarik minat

manajemen

dan loyalitas segmen pasar

terpadu dengan daya tarik

yang ada

wisata

d. Pengembangan daya tarik


baru

berdasarkan

kunjungan

yang

telah

berkembang di Provinsi Riau

potensi

kawasan
Tabel 3.4
Daya Tarik Wisata Unggulan Provinsi Riau
NO

KAB/KOTA

DAYA TARIK WISATA UNGGULAN

JUMLAH

Taman Rekreasi Alam Mayang, Danau Bandar Kayangan Lembah


1

KOTA PEKANBARU

Sari, Pasar Bawah, Masjid Agung An-Nur dan Museum Sang Nila

Utama
2

KOTA DUMAI

Danau Bunga Tujuh, Teluk Makmur, dan Makam Putri Tujuh

KAB. KAMPAR

KAB. ROKAN HULU

KAB. ROKAN HILIR

Ritual Bakar Tongkang dan Pulau Jemur

KAB. PELALAWAN

Taman Nasional Tesso Nillo dan Ombak Bono

KAB. KUANTAN

KAB. INHUL

KAB. INHIL

10

KAB. SIAK

11

KAB. BENGKALIS

12

KAB. KEP-MERANTI

Candi Muara Takus, Balimau Kasai, Danau PLTA Kotopajang, Masjid


Jami, dan Gunung Djadi Gunung Pertama di Riau
Air Terjun Aek Martua, Istana Rokan, Airpanas Pawan dan Kaiti, dan
Museum Kupu-kupu

Air Terjun Tujuh Tingkat Batang Koban, Pacu Jalur, Mendulang


Emas, Perahu Baganduang, dan Air Terjun Guruh Gemurai
Taman Nasional Bukit Tigapuluh, dan Danau Raja
Tradisi Pengantin Sahur, Makam Syech Abdurrrahman Siddik, dan
Pantai Solop
Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura, Danau Zamrud, dan Pompa
Angguk Minas
Hutan Lindung dan Pusat Pelatihan Gajah, Pantai Selat Baru, Pantai
Pasir Panjang, Pantai Perepat Tunggal, dan Tradisi Lampu Colok
Tasik Nambus, Dapur Arang, Hutan Mangrove, dan Pantai Dorak

Sumber: Olahan Revisi RIPPARDA Prov. Riau (2012-2017)

3
5
5

5
2
3
3
5
4

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-17

Tabel 3.5
Jumlah Objek Wisata Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Riau
JENIS DAYA TARIK WISATA
NO

KAB/KOTA

TOTAL
ALAM

BUDAYA

TIRTA

REKREASI

MINAT KHU

SEJARAH

RELIGI

BELANJA

26

17

KOTA PEKANBARU

KOTA DUMAI

KAB. KAMPAR

KAB. ROKAN HULU

11

KAB. ROKAN HILIR

KAB. PELALAWAN

KAB. KUANTAN

11

KAB. INHUL

16

KAB. INHIL

10

KAB. SIAK

16

11

KAB. BENGKALIS

12

KAB. KEP-MERANTI

1
2

BAHARI

EKO
18

14

23
11
25
26

Sumber: Olahan Revisi RIPPARDA Prov. Riau (2012-2017)

Gambar 3.5
Jenis dan Jumlah Daya Tarik Wisata pada Kabupaten/Kota Provinsi Riau
30
25
20
15
10
5
0

WISATA ALAM

WISATA BUDAYA

WISATA TIRTA

WISATA REKREASI

WISATA MINAT KHU

WISATA SEJARAH

WISATA RELIGI

WISATA BELANJA

WISATA BAHARI

WISATA ARGO

WISATA EKO

Sumber: Olahan Revisi RIPPARDA Prov. Riau (2012-2017)

ARGO

26
2

27

17

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

2. Fasilitas Wisata (Akomodasi)


Pada

tahun

2014

Dumai dengan 3 unit atau sekitar

jumlah

6 persen.

akomodasi hotel sebanyak 407


unit

yang

tersebar

Tabel 3.6
Jumlah Akomodasi, Kamar, dan

di

Tempat Tidur pada

kabupaten/kota di provinsi Riau.


Terbanyak

terdapat

di

III-18

Kabupaten/Kota Provinsi Riau


Tahun 2014

kota
NO

KAB/KOTA

AKOMODASI

KAMAR

T TIDUR

Pekanbaru, 105 unit atau sekitar


27,80 persen. Adapun jumlah

kamar dan tempat tidur tersedia

sebanyak

13.369

kamar

dan

21.193 tempat tidur. Di kota


Pekanbaru, tersedia 5.894 kamar
(44,09 persen) dan 8.848 tempat
tidur (41,75 persen).

19

340

727

Indragiri Hulu

35

628

1.098

Indragiri Hilir

63

1.002

1.553

Pelalawan

19

488

700

Siak

20

656

1.147

Kampar

11

403

687

Rokan Hulu

16

553

1.074

Bengkalis

45

1.240

2.002

Rokan Hilir

25

861

1.298

21

372

554

10

Penyebaran
tidak

Hotel

merata

berbintang

dimana

Kota

Pekanbaru sebagai pusat bisnis


dan pemerintahan di Provinsi
Riau memiliki 36 unit atau sekitar
72 persen, diikuti oleh Kota

Kuantan

TEMPA

Singingi

Kepulauan
Meranti

11

Pekanbaru

105

5.894

8.848

12

Dumai

28

932

1.505

TOTAL

407

13.369

Sumber: Prov. Riau dalam angka, BPS (2015)

21.193

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-19

Tabel 3.7
Jumlah Akomodasi Bintang dan Non-Bintang pada Kabupaten/Kota Provinsi Riau
Tahun 2014
25

Pekanbaru

1
1
2
1
2
2
1
1

Rokan Hilir
Rokan Hulu
Siak
Indragiri Hilir

69

36

20
24

43
15
9
18
18
62
35
19

Kuantan Singingi
0

10

20

30
NON-BINTANG

40

50

60

70

80

BINTANG

Sumber: Olahan Prov. Riau dalam angka, BPS (2015)

3. Aksesibilitas

kondisi rusak atau rusak berat.

Kelancaran perhubungan darat

Jumlah jembatan pada tahun

sangat

2014

tergantung

dengan

sebanyak

1.013

kondisi prasarana perhubungan

Sementara

darat, seperti jalan dan jembatan.

menurut konstruksinya, 302 unit

Pada tahun 2014, panjang jalan

jembatan

4.167,78 km, jumlah ini sama

jembatan

dengan tahun sebelumnya. Jalan

jembatan kayu dan 152 unit

dalam kondisi baik sepanjang

jembatan rangka.

1.759,75 km (42,22 persen), jalan

Dari Tabel dapat dilihat bahwa

dalam kondisi sedang sepanjang

lebih

1.145,37 km (27.48 persen), dan

infrastruktur

30,29

Provinsi Riau dalam kondisi rusak

persen

lainnya

dalam

jumlah

unit.

beton,
komposit,

dari

1.000
jalan

jembatan

474
85

unit
unit

kilometer
utama

di

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

akibat

tingginya

kendaraan

volume

yang

melebihi

234.b/VI/2007

tentang

penetapan Fungsi-Fungsi Ruas

kapasitas kekuatan jalan, serta

Jalan

Sebagai

penggunaan

dalam

Sistem

teknologi

III-20

Jalan

Kolektor

Jaringan

pembuatan jalan yang sudah

Primer,

ketinggalan zaman dan tidak

Provinsi Riau adalah 3.033,32

tepat untuk struktur tanah lemah

kilometer (Km).

di daerah tersebut. Tingginya


tingkat

kerusakan

Provinsi

Riau

jalan

di

menyebabkan

meningkatnya biaya transportasi,


seta

mengurangi

tingkat

keselamatan,

keamanan,

kenyamanan

bagi

dan

pengguna

jalan, lebih jauh kondisi jalan raya


di Provinsi Riau juga secara
langsung mempengaruhi minat
berwisata wisatawan nusantara
maupun mancanegara.
Berdasarkan
Gubernur

Riau

Keputusan
Nomor

Kpts.

panjang

ruas

Jalan
jalan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-21

Gambar 3.6
Panjang Jalan (Kilometer) Menurut Kondisi dan Tingkat Pemerintahan
Tahun 2014
1000
900

936.11

931.1
828.65

800
700

621.23
544.88

600
500
400
300

209.26

200
61.28

100

35.27

0
Baik

Sedang
Negara

Rusak
Provinsi

Sumber: Olahan Prov. Riau dalam angka, BPS (2015)

Gambar 3.7
Jarak Ibukota Provinsi ke Ibukota Kab/Kota di Provinsi Riau
Tahun 2014

Sumber: Prov. Riau dalam angka, BPS (2015)

Rusak Berat

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Berdasarkan konsep Masterplan

Pekanbaru

Percepatan

kumpul

dan

Perluasan

Pembangunan
Indonesia

Ekonomi

(MP3EI)

koridor

Sumatera, Kota Pekanbaru dan


Kota Dumai merupakan wilayah
yang berada dalam cakupan jalur
penghubung pusat ekonomi.
Oleh karena itu, perlu dibuatnya
akses yang lebih cepat untuk
menghubungkan
tersebut
2011).

kedua

(MP3EI
Kota

kota

2011-2025,

Dumai

terletak

disebelah utara Kota Pekanbaru


dengan jarak 199,45 km. Ruas
jalan Pekanbaru-Dumai saat ini
merupakan jalur penting yang
termasuk dalam jalur lalu lintas
timur

pulau

Dumai

Sumatera.

merupakan

penting

yang

Kota

pelabuhan

menjadi

pintu

keluar masuk barang untuk dan


dari

Riau,

sedangkan

Kota

merupakan
bagi

III-22
titik

kabupaten-

kabupaten di Propinsi Riau.

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-23

Gambar 3.8
Proyeksi Volume Lalu Lintas Pekanbaru Kandis dan Kandis Dumai

Sumber: Presentasi Tol Pekanbaru-Dumai oleh Gubernur Riau (2000)

Berdasarkan

gambar

diproyeksikan
rata-rata
yang

pertumbuhan

volume

melewati

Pekanbaru-Kandis
2008-2010

diatas

kendaraaan
ruas

jalan

dari

tahun

sekitar

diproyeksikan
rata-rata

volume

pertumbuhan
kendaraaan

dari tahun 2008-2010 meningkat


sekitar 25% dan tahun 20102015

volumenya

terus

20%

meningkat sebesar 38%, dan

sedangkan setelah tahun 2010-

diproyeksikan volume kendaraan

2015 volumenya meningkat 35%,

ruas jalan Kandis-Dumai pada

dan

volume

tahun 2015 dengan total 39,581

kendaraan ruas jalan Pekanbaru-

SMP/hari sedangkan kapasitas

Kandis

dibangunnya

jalan Pekanbaru-Dumai 27.936

jalan tol Pekanbaru-Dumai pada

SMP/hari, maka dilihat kondisi

tahun 2015 dengan total 14.514

ruas jalan Kandis-Dumai yang 2

SMP/hari. Sedangkan untuk ruas

lajur dan 2 arah diprediksi ruas ini

jalan

akan mengalami overcapacity.

diproyeksikan

setelah

Kandis

Dumai

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-24

Gambar 3.9
Rencana Pembangunan Jalan Tol Pekanbaru Dumai (Trans-Sumatera)

Sumber: MP3EI 2011-2025 (2011)

Pembangunan
Pekanbaru

Jalan
Dumai

Tol
sebagai

Sumatera

secara

pembangunan

dimulai

umum,
pada

bagian dari grand project Trans-

tahun

Sumatera

dicanangkan

operasional jalan tol pada tahun

pemerintah diharapkan mampu

2018 seperti yang dapat dilihat

mengakselerasi

pada Gambar 3.10

yang

pembangunan

ekonomi Provinsi Riau dan Pulau

2015

dengan

target

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-25

Gambar 3.10
Rencana Pembangunan dan Operasional Trans-Sumatera

Sumber: BAPPEDA Kota Dumai (2015)

tersebut, terdapat 11 titik masuk


Jalan Tol Pekanbaru Dumai

tol.

yang

panjang

Tol tersebut akan melintasi 5

126,2 km, seksi pertama dari

wilayah administratif Kab/Kota

Pekanbaru-Minas sepanjang 9

pada Provinsi Riau yaitu Kota

km, seksi kedua 24 km hingga

Pekanbaru, Kabupaten Kampar,

Petapahan, seksi tiga 17 km

Kabupaten

hingga

seksi

Bengkalis

empat hingga Duri Selatan, 28

sehingga

km untuk seksi lima hingga Duri

mampu meningkatkan akselerasi

Utara, dan seksi enam 25 km

ekonomi pada 5 Kab/Kota yang

hingga Dumai. Dari enam seksi

dilewatinya.

akan

memiliki

Kandis,

16

km

Siak,
dan

Kabupaten

Kota

diharapkan

Sektor

Dumai,
akan

pariwisata

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-26

dalam hal ini dapat melihat hal

menyiapkan

tersebut sebagai sebuah peluang

pengembangan pariwisata untuk

untuk mengembangkan aktivitas

menyambut

kepariwisataan

aksesibilitas tersebut.

dengan

program

kemudahan

Gambar 3.11
Rencana Rute dan Pintu Tol Pekanbaru Dumai (Trans-Sumatera)

Sumber: Dinas Perhubungan Kota Dumai (2015)

4. Citra dan Persepsi Wisatawan

strong and positive image will

Terhadap Atraksi Wisata Provinsi

give are more likely to be

Riau.

considred

Konsep

citra

telah

menjadi

and

(2005:279).

Son,

Sementara

itu

perhatian bagi peneliti, praktisi

Echtner

industri dan pemasar destinasi

menyatakan

dan beberapa penelitian telah

Destination image is frequently

menemukan

yang

described as simply "impressions

positif antara citra destinasi dan

of a place" or "perceptions of an

prilaku

area".

hubungan

kunjungan

yang

dinyatakan Destination with

&

chosen

Shin

Crompton,

Ritchie

(2003:41)
bahwa

(2009:45)
1979;

dalam

Fakeye

&

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Crompton, 1991 menyebutkan


bahwa

Destination

defined

as

mental

an

image

is

individuals

representation

of

destinasi

pariwisata

III-27

Provinsi

Riau, Provinsi Riau memiliki citra


yang

tersaingi

oleh

Provinsi

Kepulauan Riau, hal tersebut

knowledge (beliefs), feelings and

dapat

overall perception of a particular

generalisasi

destination. Dari keseluruhan

Provinsi karena identitas dari

definisi

dapat

kata Riau, seperti yang muncul

citra

pada website virtualtourist.com

destinasi pariwisata merupakan

dimana bercampurnya destinasi

gambaran

dari

wisata pada Provinsi Riau dengan

individu terhadap suatu destinasi

Provinsi Kepulauan Riau yang

pariwisata. Kesan dan gambaran

seperti

individu ini juga menjadikan citra

gambar berikut ini:

diatas

digambarkan

dan

destinasi
media

bahwa

kesan

pariwisata
seorang

sebagai
konsumen

/wisatawan

dalam

mempertimbangkan
memilih

suatu

dan
destinasi

pariwisata untuk dikunjungi.

Berdasarkan

hasil

olah

data

terkait dengan review terhadap

dilihat

yang

dari

terjadinya

antara

terlihat

kedua

pada

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-28

Gambar 3.12
Destinasi Populer pada Provinsi Riau (virtualtourist.com)

Pulau Batam diikuti Pulau Bintan

diikuti

dan Pulau Karimun Besar menjadi

peringkat

destinasi populer pada Provinsi

peringkat ke-10, Tembilahan pada

Riau,

peringkat

yang

notabene

ketiga

oleh

Bengkalis

ke-7,

ke-12,

Dumai

pada
pada

Bagansiapiapi

destinasi tersebut berada pada

pada peringkat ke-13, Bagan pada

wilayah

peringkat ke-15 dan Bangkinang

administratif

Provinsi

Kepulauan Riau. Destinasi Provinsi


Riau

yang

memiliki

tingkat

kepopuleran paling tinggi pada


website

tersebut

adalah

Kota

Pekanbaru pada peringkat ke-6

pada peringkat ke-16.

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Tabel 3.8

Things to Do in Riau Province

21

Atraksi

22

Lokasi

Masjid Raya An-Nur

Kota Pekanbaru

Perpustakaan

Kota Pekanbaru

HS

23

Mall Ska

Kota Pekanbaru

Masjid Raya An-Nur

Kota Pekanbaru

Istana Siak

Kab.

Siak

Indrapura
6

Mall Ciputra Seraya

Kota Pekanbaru

Masjid

Kota Pekanbaru

Raya

Pekanbaru
8

Masjid Ar-Rahman

Kota Pekanbaru

Pusat Pelatihan Gajah

Kota Pekanbaru

Minas
Masjid Al-Falah Darul

Kota Pekanbaru

Mutaqin
11

Silungkang Art Center

Kota Pekanbaru

12

Alam Mayang

Kota Pekanbaru

13

Masjid

Raya

Syahabuddin
Jembatan
Agung

Kabupaten

Siak

Indrapura
Tengku

Kota Pekanbaru

Sultanah

Latifah
15

Score Pekanbaru

Kota Pekanbaru

16

Star City Square

Kota Pekanbaru

17

Pasar Bawah

Kota Pekanbaru

18

Danau

Buatan

Kota Pekanbaru

Lembah Sari
19
20

Spa &

Kota Pekanbaru

Tangsi

Kabupaten

Taman Nasional Bukit

Kabupaten

Tiga Puluh

Indragiri Hulu

Air Terjun Air Mertua

Kota Pekanbaru

24

Siak

Belanda

Indrapura

Monumen

Kota Pekanbaru
Rakyat

Riau

14

Benteng

Perjuangan

Soeman

10

Spa (Sense

Lokasi

Reflexology)

(tripadvisor.com)
#

Atraksi

III-29

Danau Raja

Kabupaten
Indragiri Hulu

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-30

Gambar 3.13
Things to Do in Riau Province (tripadvisor.com)

tripadvisor.com,

dilakukan dan dikunjungi ketika

kegiatan yang dapat dilakukan di

berwisata ke Provinsi Riau, diikuti

Provinsi

baru

oleh Kabupaten Siak Indrapura

berjumlah 24 buah, berdasarkan

dengan atraksi wisata populer

review

secara

Istana Siak nya, serta terakhir

berurutan dapat dilihat pada tabel

adalah Kabupaten Indragiri Hulu

Berdasarkan

Riau

saat

ini

wisatawan

dengan atraksi wisata populer


Dapat

disimpulkan

bahwa

tripadvisor.com

berdasarkan

Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.


Dari hasil pencarian lebih lanjut

Kota Pekanbaru saat ini memiliki

dari

image yang paling kuat di benak

tripadvisor.com,

wisatawan

virtualtourist.com,

atraksi

dengan

dan

jumlah

kegiatan

19

yang

kompilasi

maps.google.com

data

pada

dan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

foursquare.com dapat diketahui

Berdasarkan data BPS Provinsi

populer

dapat

Riau pada bulan Desember 2015,

tergambarkan pada tabel berikut

pada gabungan 3 kota di Provinsi

ini:

Riau mengalami inflasi sebesar

tersebut

1,08 persen dengan Indeks Harga

Destinasi Populer Prov. Riau

Destinasi
Populer

Konsumen (IHK) 123,08. Tingkat

Atraksi Populer

Kota

1. Masjid An-Nur

Pekanbaru

2. Labersa Water Park


3. Mall Ska

Kabupaten

1. Istana Siak

Siak Indrapura

2. Masjid

Raya

3. Jembatan
Agung

Tengku
Sultanah

Latifah

Kabupaten

1. Pantai Rupat Utara

Bengkalis

2. Pantai Selat Baru

Kabupaten

1. Taman

Indragiri Hulu

Nasional

Bukit Tiga Puluh


2. Danau Raja

Kabupaten
Indragiri Hilir

1. Taman

Nasional

Bukit Tiga Puluh


2. Pantai Solop

Kabupaten
Kabupaten
Rokan Hilir

Kabupaten
Pelalawan

Desember 2015) dan Inflasi Tahun

2015

terhadap

Desember

2014) sebesar 2, 65 persen. Dari 3


kota IHK di Provinsi Riau, semua
kota
yakni

mengalami
Pekanbaru

persen,

inflasi,

sebesar

Dumai

sebesar

1,24
0,39

persen, dan Tembilahan sebesar


0,77 persen. Melihat kondisi yang

1. Candi Muara Takus

demikian, maka harga-harga di

1. Festival

Provinsi

Kampar
7

Inflasi Tahun Kalender (Januari-

ke Tahun/Year on Year (Desember

Syahabuddin

5. Harga

bahwa atraksi wisata destinasi

Tabel 3.9

III-31

Tongkang

Bakar
1. Bono Kuala Kampar

Riau

terjangkau

masih

oleh

dapat

wisatawan

nusantara apalagi oleh wisatawan


mancanegara

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

3.5. PENGEMBANGAN
DESTINASI
PARIWISATA
Berdasarkan

keseluruhan

pertimbangan dan referensi pada


point 3.4 maka dapat di gambarkan
pola

pengembangan

destinasi

pariwisata di Provinsi Riau di masa


yang akan datang adalah sebagai
berikut:

III-32

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Gambar 3.14
Peta Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-33

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

3.5.1

III-34

Kota Pekanbaru

Adapun zonasi dalam pariwisata

Sebagai ibu kota Provinsi Riau,

perkotaan meliputi :

Kota Pekanbaru sebagai pusat

pemerintahan

sekaligus

Zona Pariwisata Perkotaan

Activity Places Zone

pusat

ekonomi. Dalam review terkait

Penetapan

dengan citra dan persepsi Provinsi

mengakomodir

Riau oleh wisatawan nusantara,

aktivitas

Kota Pekanbaru sebagai destinasi

kebutuhan masyarakat kota,

popular

dan dapat menjadi fasilitas

dengan

keberadaan

zonasi

aktivitas-

yang

menjadi

masjid An-nur, Labersa Water Park

pendukung

dan Mall Ska serta Pasar Bawah.

pariwisata di kota.

Pengembangan Kota Pekanbaru

Leisure Setting Zones

diharapkan

Penetapan

kepada

dapat

mengacu

pengembangan

wisata

Dalam

zonasi

yang

penempatan

fasilitas dan aktivitas rekreatif

pengembangan

wisata

yang

diperuntukan

kota, perlu secara teknis dilakukan

masyarakat

perencanaan

wisatawan.

tata

kegiatan

berhubungan

kota (city tourism).

guna

kota

yang

menunjukkan sejumlah bagian-

kota

bagi
ataupun

Zona Pendukung

bagian kawasan fungsional kota

Merupakan zona-zona guna

yang

menunjang

secara

dikembangkan

terperinci
di

akan
dalam

perkotaan,

perencanaan distrik atau zoning.

pariwisata

zona

parwisata
sehingga

perkotaan

dapat

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-35

menjadi lebih baik. Zona-zona

(ujung tepian dari matriks atau

tersebut meliputi antara lain

kawasan

zona akomodasi, zona makan

sering disebut sebagai batas

dan minum, zona belanja dll.

kota. Beberapa district/wilayah

kota)

atau

kadang-kadang
Menurut

Kevin

Lynch

dalam

bukunya,

merumuskan

prinsip

dibedakan
batasnya

yang

tidak

bias

pinggiran

atau

karena

adanya

untuk merancang suatu tempat

fungsi-fungsi

campuran

dalam perkotaan

wilayah lain atau di perbatasan

1. Path ( akses )

district

lain.

Edges

di

dapat

Paths adalah sirkulasi berupa

berupa jalur pantai, sungai,

akses yang dimanfaatkan oleh

pantai, penghijauan ataupun

manusia untuk bergerak dari

jalur kereta api, dapat juga

suatu tempat ke tempat lain di

berupa

dalam sebuah kota. Ini dapat

pemisahan dengan karakter

berupa sehingga dapat berupa

kuat.

jalan-jalan

primer

dan

suatu

batasan

3. District

sekunder, jalur pejalan kaki

District merupakan suatu area

(pedestrianways),

spesifik

kanal

ataupun jalur jalan kereta api.

2. Edges
Edges merupakan batas-batas
suatu district pada sebuah kota

yang

diidentifikasikan

dapat
batas-

batasnya secara fisik. Suatu


kota

dikomposisikan

oleh

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

komponen-komponen

misalnya

kawasan atau wilayah.

pergerakan,

4. Landmark

simpul

III-36

pertemuan

ujung

jalan.

Fungsi nodes adalah aktif dan

Landmark

suatu

kota

merupakan

elemen

lebih

berorientasi

pada

kegiatan/aktivitas.

pembentuk kota, dapat berupa


bangunan

fisik,

gubahan

Apabila

dikaitkan

dengan

massa, ruang ataupun detail

pengembangan

arsitektural yang spesifik dan

tarik/aktivitas wisata di kota, fitur-

sangat kontekstual terhadap

fitur

kawasan.

dikembangkan menjadi daya tarik

Landmark

merupakan

elemen

yang

sangat penting pada bentuk

unik

City

landmark;

dikembangkan

masyarakat

ditetapkannya

mengarahkan

diri

dan

mengenali suatu daerah.

dapat

perlu
atau

landmark

kota

sebagai pusat daya tarik wisata


suatu kota. Landmark ini dapat

5. Nodes

menjadi icon maupun tujuan

Nodes atau pusat kegiatan


merupakan area yang menjadi
pusat aktivitas sehingga orang
dapat

yang

wisata adalah sebagai berikut:

kota karena bias membantu


untuk

daya

merasakan

suatu

perubahan dari struktur ruang,

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-37

utama aktivitas wisata. Di sekitar

memudahkan wisatawan dalam

landmark

mengkonsumsinya.

ini

dapat

dikembangkan atraksi maupun

Beragam

Toko;

Belanja

aktivitas lain seperti dining atau

merupakan salah satu tujuan

shopping.

wisatawan dalam mengunjungi

Kuliner

Khas;

kota

umumnya

pada

suatu

kota.

Karena

kota

merupakan

merupakan pusat distribusi dari

representasi dari suatu wilayah

produk manufaktur dan jasa,

tertentu etnis / budaya tertentu.

oleh

Eksistensi suatu wilayah dengan

terhadap

etnis/budaya

pada

pembelanjaan ini merupakan hal

dengan

yang essensial. Pemusatan ini

umumnya

tertentu
ditandai

karena

adanya keragaman kuliner khas.

dapat

Citra

produk

suatu

kota

seringkali

itu

sentralisasi

sarana

didasarkan
atau

sarana

atas

jenis

tematik

(spa,

dikaitkan dengan kuliner khas

kesehatan dll), bisa juga secara

yang dimilikinya, oleh karena itu

gabungan apabila wilayah kota

perlu

tersebut tidak cukup luas.

disentralisasikan

aneka

kuliner khas tersebut sehingga

Aktivitas

pinggir

jalan;

merupakan salah satu atraksi

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-38

perkembangannya,
pengembangan
sudah

tidak

taman
hanya

kota

menjadi

penyeimbang lingkungan dan


ekosistem tetapi sudah menjadi
yang banyak dikembangkan di

sarana rekreasi bagi masyarakat

kota-kota di seluruh dunia saat

kota atau daya tarik wisata bagi

ini. Aktivitas pinggir jalan ini

wisatawan.

dapat dilakukan selama 24 jam

Sarana Ibadah; sebagai pusat

atau hanya pada waktu-waktu

aktivitas masyarakat pada suatu

tertentu

saja

cakupan

Aktivitas

ini

(malam

hari).

wilayah,

pada

umumnya

kota

pusat

sarana rekreasi bagi masyarakat

pelaksanaan

ibadah

kota atau daya tarik wisata bagi

berbagai agama. Bentuk-bentuk

wisatawan.

bangunan

(kuno

maupun

eksentrik)

serta

kegiatan

dapat

menjadi

Taman Kota; Fungsi taman kota


adalah

sebagai

bagi

penyeimbang

peribadatannya dapat menjadi

lingkungan dan ekosistem pada

suatu daya tarik wisata. Bagi

suatu

kepentingan

kota.

Namun

seiring

bangunan

pariwisata,

peribadatan

dapat

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

dijadikan sebagai objek wisata

bangunan,

sedangkan

kegiatan

dan lain-lain.

peribadatannya dapat menjadi

Perencanaan

atraksi

yang

menarik

bagi

wisatawan.

mata

III-39

pencaharian

dan

Pengembangan

Event/Festival

KotaEvent/ Festival merupakan

Area konsentrasi etnis minoritas;

salah satu alat promosi yang

komposisi masyarakat di sebuah

effektif dalam memasarkan dan

kota terdiri dari etnis mayoritas

mendatangkan wisatawan suatu

dan minoritas. Etnis minoritas

destinasi pariwisata. Oleh karena

pada umumnya berkelompok,

itu perlu dikembangkan dan

baik dari pola hidup maupun

diimplementasi

tempat tinggal. Etnis minoritas

festival secara tematik terkait

seringkali

dengan sumber daya kota yang

membentuk

suatu

event

dan

lingkungan yang berbeda dari

dimilikinya.

lingkungan

kotanya.

event/festival yang telah mampu

wisata

yang

Potensi
dapat

Contoh

mendatangkan

wisatawan

dikembangkan dari wilayah ini

adalah;

dapat

Dago-Bandung,

berupa

pola

hidup,

Festival

Festival

di

Bali,

Festival

Clark

Singapura

Quay
dan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

lain.lain

Event/festival

ini

nya

sebagai

pusat

kerajaan

hendaknya dikembangkan dan

melayu

dilaksanakan

Pengembangan Kabupaten Siak

sehingga

secara

dapat

periodik
ditetapkan

menjadi calendar of event.

Kota

saat

ini

di

Indrapura
sejarah

Pengembangan Aktivitas MICE

di

III-40

Sumatera.

sebagai
(historical

destinasi
destination)

serta sebagai destinasi budaya

Indonesia,

(cultural destination) sangat ideal

berfungsi sebagai pusat fasilitas

dengan branding Provinsi Riau

dan aktivitas bagi masyarakat di


suatu

wilayah.

Peningkatan

kinerja perekonomian di daerah


dalam otonomi daerah saat ini
membutuhkan

fasilitas

ini.

Berdasarkan pernyataan yang


ditulis

oleh

Ruestche,

2006

bahwa di beberapa kota di dunia


hampir

40

orang

yang

berkunjung

ke

suatu

kota

memanfaatkan fasilitas ini.

The Motherland of Melayu.


Mengunjungi
warisan

3.5.2

Kabupaten Siak Indrapura


Kabupaten Siak Indrapura dikenal
dengan keberadaan Istana Siak

tempat-tempat

bersejarah

merupakan

salah satu kegiatan yang dapat


dilakukan oleh wisatawan. Sebagai
salah satu bentuk pendekatan

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

pengembangan

yang

warisan

bersejarah

di

III-41
dalam

berkelanjutan, heritage tourism

elaksanaannya.

menerapkan nilai-nilai dari unsur

menggambarkan penjelasan yang

pendidikan,

telah disebutkan sebelumnya.

saling

menghargai

Bagan

tersebut

terhadap perbedaan, orisinalitas

Heritage tourism memiliki ruang

serta

lingkup yang sangat luas, menurut

perlindungan

warisan

sejarah.
Di

dalam

Whyte, et al. (2012:10-11) terdapat


tersebut

beberapa produk dan aktivitas

dikatakan bahwa banyak bentuk-

yang dapat membentuk sebuah

bentuk

seperti

destinasi

wisata

pengembangan Cultural/Heritage

diantaranya

penjelasan

pariwisata
ekowisata,

sejarah, dan wisata budaya banyak


melibatkan

dengan

pendekatan

Tourism.

tempat-tempat
Gambar 3.15

Ruang Lingkup Heritage Tourism

HERITAGE TOURISM

Natural
Places & Value

Scenic Landscapes
Deserts, Coasts,
Forests
Flora & Fauna
Geological
Features

Indigenous
Places & Value

Indigenous Sites
Indigenous
Culture
Indigenous Art
Indigenous
Guided Tours

Historic
Places & Value
Towns and
Historic
Landscapes

Historic Buildings
Mines
Museums

Sumber: Diadaptasi dari Australian Heritage Commision, (2005:4)

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Dalam pengembangan Kabupaten

2) Pengemasan

III-42

interpretasi

Siak Indrapura sebagai historical

akan

pendeskripsian

and cultural destination dapat

keindahan,

dikembangkan sebagai berikut:

keanekaragaman

serta

Perencanaan dan Pengembangan

kompleksitas dari keadaan

Historical Area

situs sejarah serta benda

Pembentukan suatu Kota tidak

cagar

pernah

lampau dapat memperkaya

terlepas

dari

budaya

budaya

di

masyarakat yang membentuk kota

pengetahuan

tersebut.

sejarah serta menimbulkan

Pengembangan

Kota

akan

masa

yang berbasis kepada tourist -

perasaan

historic

benak wisatawan

city

dapat

dilakukan

melalui strategi strategi sebagai

kagum

nilai

dalam

3) Pramuwisata/ guide dapat

berikut:

menjawab

a) Pengemasan interpretasi pada

keingintahuan wisatawan.

sumber daya Tourist Historic

Destination
1) Menggunakan salah satu
jenis benda cagar budaya
maupun

replika

benda

cagar budaya sebagai salah


satu media interpretasi nilai
sejarah kepada wisatawan.

segala

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

4) Pengemasan konten dalam

mengandung

nilai

media interpretasi mudah

dan rekreatif

dimengerti wisatawan.

1) Mengunjungi

archaeological,

5) Pengemasan konten dalam


media

materi

materi

yang

heritage festival

sarana

4) Berbelanja

kerajinan

informal/informal learning

tangan

oleh wisatawan.

industri lokal

konten media interpretasi


presentasi
yang

pada

industri

5) Tour/variasi aktivitas paket

6) Pengemasan materi dalam

presentasi

Cultural

3) Pengembangan

pembelajaran

berupa

historical,

2) Mengunjungi museum

dapat

dijadikan

edukatif

dan cultural sites.

interpretasi

mengandung

III-43

wisata

dinamis

3.5.3

Kota Dumai

yang dapat memudahkan

Pembangunan jalan tol Pekanbaru

proses

pembelajaran

Dumai

wisatawan

akan

langsung

akan

memberikan

kemudahan

pada

sejarah serta benda cagar

aksesibilitas

yang

akan

budaya.

memberikan

dampak

langsung

b) Pengembangan

situs

aktivitas-

secara

kepada

pengembangan

aktivitas sumber daya Tourist

kepariwisataan.

Historic

berdasarkan RPJMD Provinsi Riau

destination

yang

Kota

Dumai

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

termasuk Kawasan Strategis Duri

kemudahan aksesibilitas menuju

Dumai

Rupat

peruntukannya

dan

pertambangan
pertanian

yang

pada

perdagangan

sektor
industri,

dan

dan

energi,

peternakan,

Dumai

kawasan

akan

ini.

memberikan

Pengembangan

Kabupaten Bengkalis diharapkan


dapat

dikembangkan

pada

konteks Wisata Bahari. Definisi

pariwisata dan transportasi, serta

wisata

pendidikan dan pelatihan. Sebagai

The International Ecotourism

sebuah

ociety (TIES) dan The Encyclope

kota,

maka

bahari

menurut

pengembangan keparwisataannya

dia of Tourism and Recreation

akan

in Marine Environments

menganut

kepada

pengembangan wisata kota (city

tourism)

seperti

pada

Wisata bahari adalah kegiat

ture based) yang berlangsung


di

Rupat

yang

secara

administrasi berada di Kabupaten


Bengkalis
sebagai

telah
salah

Coastal

atau

luas

yang diterjemahkan menjadi

destinasi

"pesisir" didefinisikan sebag

dikenal
satu

daerah

"coastal" dan/atau "marine.

Kabupaten Bengkalis
Pantai

an wisata (tourism) alam (na

Kota

Pekanbaru (point 1).

3.5.4

III-44

pariwisata yang berbasis bahari

ai

baik

area/wilayah yang dimulai p

secara

regional.

Pembangunan jalan tol Pekanbaru

ada batas pasang tertinggi

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

sampai

dengan

maupun

III-45

budaya

bagi

batas kontinen (continental

wisatawan nusantara. Dalam

shelf) dibawah air.

wisata

Marine atau bahari term

pariwisata

asuk diantaranya laut, lautan

memiliki

dan

bahkan

alam,
berbasis
motivasi

destinasi
bahari
tertinggi

bagi wisatawan nusantara.

danau yang besar.


Berdasarkan

kajian

Kementerian Pariwisata, 2014,


bahwa wisata alam memiliki
dominasi motivasi kunjungan
wisata terbesar dibandingkan
dengan atraksi wisata buatan

Wisata bahari

dengan kesan

penuh makna bukan sematamata

memperoleh hiburan

dari berbagai suguhan atraksi


dan suguhan alami lingkungan
pesisir dan lautan tetapi juga

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

diharapkan wisatawan dapat

Konsep

berpartisipasi langsung untuk

dasarkan pada view, keunikan

mengembangkan

alam, karakteristik ekosistem,

konservasi

lingkungan

sekaligus

wisata

III-46

bahari

kekhasan seni budaya

di

dan

pemahaman yang mendalam

karaktersitik

tentang seluk beluk ekosistem

sebagai kekuatan dasar yang

pesisir

dimiliki oleh masing-masing

sehingga membentuk

masyarakat

kesadaran bagaimana harus

daerah.

bersikap untuk

berpendapat bahwa

melestarikan

Wheat

1994)
wisata

wilayah pesisir dan dimasa kini

bahari

dan masa yang akan datang.

untuk orang yang sadar akan

Jenis

yang

lingkungan dan tertarik untuk

memanfaatkan wilayah pesisir

mengamati alam. Steele (1993)

dan lautan secara langsung

menggambarkan

maupun

langsung.

wisata bahari sebagai proses

langsung

ekonomi

wisata

tidak

Kegiatan
diantaranya

berperahu,

adalah pasar khusus

langka.

pancing.

Heillbronn

langsung seperti
olahraga

pantai,

tidak
kegiatan
piknik

memasarkan

ekosistem yang menarik dan

berenang, snorkeling, diving,


Kegiatan

yang

kegiatan

Low

merumuskan

Choy

dan

(1996),
lima

faktor

batasan yang mendasar dalam

menikmati atmosfer laut (Siti

penentuan

Nurisyah, 1998).

Wisata, yaitu :

prinsip

utama

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

1.

Lingkungan;

wisata

bahari

III-47

lingkungan alam, budaya yang

bertumpu pada lingkungan alam

bertujuan

(bahari)

kesejahteraan sekarang maupun

dan

budaya

yang

relative belum tercemar atau

untuk

peningkatan

generasi mendatang.

terganggu
2.

3.

Masyarakat; wisata bahari harus

Aktivitas

memberikan manfaat ekologi,

merupakan

social dan ekonomi langsung

dilakukan di wilayah pesisir

kepada masyarakat.

maupun lautan baik secara

Pendidikan

langsung

Wisata

dan

bahari

Pengalaman;
harus

meningkatkan
akan

pemahaman

lingkungan

budaya

dapat

alam

dengan

dan

adanya

pengalaman yang dimiliki


4.

5.

Berkelanjutan;

Wisata

bahari

kegiatan

maupun

yang

tidak

langsung. Kegiatan langsung


diantaranya

berperahu,

berenang, snorkeling, diving,


memancing.
langsung

bahari

wisata

olahraga

Kegiatan
seperti
pantai,

tidak

kegiatan
piknik,

dapat memberikan sumbangan

menikmati atmosfer laut (Siti

positif

Nurisyah, 1998).

bagi

keberlanjutan

ekologi lingkungan baik jangka

Menurut

pendek maupun panjang.

(2002:50) di area pantai di bagi

Manajemen; Wisata bahari harus

tiga macam kegiatan wisata

dikelola

yaitu :

menjamin

secara

baik

dan

sustainability

Chafid

Fandeli

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

1) Surface activities, yaitu aktivitas


wisata yang dilaksanakan di
permukaan air pantai. Aktivitas
ini antara lain berperahu, ski air
dan berselancar.
2) Contact activities, yaitu aktivitas
yang

dilaksanakan,

dengan

wisatawan kontak dengan air.


Aktivitas yang demikian antara
lain berenang, scuba diving,
mandi dan snorkeling.

3)

Littoral

activities,

berwisata

di

dilakukan

aktivitas

daratan

oleh

yang

wisatawan.

Aktivitas berwisata alam yang


banyak

dilakukan

berjemur

di

bawah

adalah
sinar

matahari, piknik dan berjalanjalan santai.

Dalam
aktivitas

pengembangan

littoral

ini,

pada
maka

III-48

daratan pantai dapat dibagi


kedalam

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-49

Tabel 3.10
Pengembangan Aktivitas Littoral
Merupakan

zona

yang

dikhususkan

pada

pengembangan fasiltas wisata yang terkait dengan


Zona Fasilitas Wisata

makan minum, akomodasi dan fasilitas pendukung


lainnya, Pada zona ini dibangun pula dermaga menuju

surface activities dan contact activities,


Merupakan zona aktivitas wisata pinggir pantai. Pada
zona ini diarahkan sebagai ruang bagi wisatawan untuk
Zona Rekreasi Pantai

beraktivitas wisata. Pada zona ini akan disediakan


berbagai

fasilitas

dan

sarana

kebutuhan

rekreasi

wisatawan.

Zona

Ekonomi

Masyarakat

Zona yang secara khusus diperuntukkan bagi ruang


fasilitas dan sarana pemenuhan kebutuhan rekreasi
wisatawan yang melakukan aktivitas wisata.

Secara visual keterkaitan antar zona yang berada di dalam kawasan


pantai dapat dikembangkan sebagai berikut:

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-50

Gambar 3.16
Keterkaitan antar zona yang berada di dalam kawasan pengembangan
Kawasan Pantai

ZONA FASILITAS
WISATA

ZONA REKREASI
PANTAI

ZONA EKONOMI
MASYARAKAT

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

III-51

Aktivitas dan fasilitas wisata

bagian yaitu daratan pantai,

bahari

Pedoman

permukaan laut dan bawah

Pantai Lestari, UGM tahun

permukaan. Seperti dilihat

1998, dibagi kedalam tiga

pada tabel berikut:

dalam

Tabel 3.11
Aktivitas dan Fasilitas Wisata Bahari
Lokasi/Aktivitas

Fasilitas Terbangun dan Peralatan


A. Daratan Pantai

1. Sightseeing

Gardu Pandang, teropong, kamera

2. Berjalan-jalan

Jalur pejalan kaki

3. Berjemur

Fasilitas non-permanen (tikar atau kursi


lipat)

4. Beristirahat/menginap

Tempat penginapan

5. Olahraga

Area lapangan, alat panjat

volley ball, panjat tebing.


6. Makan dan minum

Restoran atau kios makanan

7. Belanja

Kios cinderamata dan industri kerajinan


sebagai pendukung wisata

8. Bermain (layang-layang)

Area dan peralatan bermain


B. Permukaan Laut

1. Berkapal

Kapal dengan berbagai ukuran beserta


dermaga tempat kapal merapat

2. Berlayar

Kapal ukuran kecil beserta dermaga


untuk kapal merapat

3. Ski air

Ski boat dan alat ski air

4. Berselancar

Papan selancar

5. Berselancar air

Papan selancar dengan layar

6. Jetski

Motor ski dan dermaga untuk merapat

7. Memancing

Alat pengail dan perahu layar serta


dermaga
C. Bawah Permukaan Laut

Pola Pengembangan Kepariwisataan Provinsi Riau

Lokasi/Aktivitas

Fasilitas Terbangun dan Peralatan

1. Berenang

Alat berenang

2. Snorkling

Alat selam

3. Scuba diving

Alat selam

4. Glass Bottom

Bottom Glass dengan perlengkapannya

Sumber : (Pedoman Pantai Lestari, UGM: 1998)

III-52

Anda mungkin juga menyukai