Anda di halaman 1dari 8
ANALISIS NECARA AIR PULAU JAWA Oleh : Sutopo Purwo Nugroho ABSTRAK Penyediaan kebutuhan air bagi penduduk Pulau Jawa terus menghadapi permasalahan dan tancangan, Dengan jumlah jumlah penduduk sebesar lebih dari 128 juta jiwa atau 59,0% dari jumlah penduduk nasional, tingkat pertumbuhan penduduk per tahun 1,53%, dan kepadatan penduduk 1.413 Jiwalkn? membutuhkan penyediaan air yang sangat besar, baik untuk kebutuhan domestik, irigasi/ Pertanian, industri, dan sebagainya, Ironisnya kerusakan lingkungan juga terus meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan hidup dan aktivitas pembangunan. Daya dukung lakan per provinsi telah terlampaui sehingga pengelolaan sumber daya air menjadi lebih rumit. Neraca air per pulau, etersediaan air yang ada sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan, Surplus air hanya terjadi pada ‘musim hujan dengan durasi sekitar 5 bulan sedangkan pada musim kemarau telah terjadi defisit untuk selama 7 bulan, Sekitar 77% kabupaten/kota telak memitiki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun, Pada tahun 2025 jumlah kabupaten defsit air meningkat hingga mencapai sekitar 78,4% dengan defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan, atau defsit sepanjang tahun. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut, terdapat 38 kabupatenfkota atau sekitar 35% telah mengalami defisit tinggi. Hal ini jelas memerlukan penanganan yang menyeluruh. Kata Kw DAHULUAN rasalahan yang berkaitan nyediaan air untuk kebutuhan baik untuk air minum, ‘ domestik, pertanian, industri gainya merunakan masalah at penting, Sebab, permintaan, eningkat seiring dengan han jumlah penduduk dan ivitasnya, namun penyediaan us mengalami penurunan. \ terjadi Kekurangan pasokan air saat ini sudah masuk pada ‘ing. Satu dari empat orang i urangan air minum dan satu orang tidak mendapat sarana ang layak (Bouwer, 2000). g tahun 2025, sekitar 2.7 ang atau sekitar sepertiga dunia akan menghadapi nnairdalam tingkat yang parah 98). tang sudah sejak awal kan, bahwa pada abad 21 air neraca air, Pulau Jawa, akan menjadi isu besar dunia dan penyebab timbulnya konflik, jika tidak sogera diatasi secara menycluruh. Kondisi krisis air di dunia cerus ‘meningkat dalam tiga dekade terakhir. ‘Sejak memasuki abad 21, krisis air terus beriangsung dengan laju peningkatan yang tidak dapat diperkirakan (Giordano et al,, 2004), Jike pada tahun 1950-an hanya sedikit negara-negara yang menghadapi kekurangan air. Namun hingga akhir tahun 1990-an, jumlah negara-negara yang mengalami defisit ‘air meningkat dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta jiwa(Gleick, 1999), Diperkirakan 2/3 penduduk dunia akan ‘mengalami kekurangan air pada tahun 2050 jika tidak segera ditanggulanginys (Abu-Zeid, 1998). Oleh karena itu, perhatian terhadap perlunya peningkatan pengelolaan sumberdaya air baik secara internasional maupun nasional telah somakin besar. Secara internasional telah disepakati prinsip-prinsip dasar pengelolaan terpadu sumberdaya air (integrated water resources management) dan secara nasional pemerintah Indonesia telah mengadopsi kebijakan baru _pengelolaan sumberdaya air. Jika pada mulanya air adalah masalah yang sedethana yait dari mama air itu datang dan bagaimana memanfaatkannya, Namun sekarang, air menjadi masalah yang jauh lebih rumit. Bagaimana dengan Indonesia? ‘Secara nasional, ketersediaan air masih mencukupi, bahkan sampai dengan proyeksi tahun 2020 Ketersediaan air masih mencukupi untok pemenuhan seluruh kebutuhan air, seperti untuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, irigasi, industry. dan lainnya. Namun secara per pulau, ketersediaan air yang ada sudah tidak mencukupi seluruh kebutuhan khususnyadi Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, Surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan durasi sekitar 5 bulan sedangkan pada musim ‘lami, Vol, 12 Nomor + Tahun 2007 pene SS kemarau telah terjadi defisit untuk selama 7 bulan (KLH, 1997; Pawitan et al., 1996; Nugroho, 2002, Sutardi, 2003), Potensi sumberdaya air di Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 15,000 m?fvapita/tahun, Jauh lebih tinggi dari potensirata-ata pasokan dunia yang, hhanya 8.000 mY/kapita/tabun, Pulau Jawa yang pada tahun 1930 masih mampu ‘memasok 4.700 m*/kapita/tahun, namun saat ini total potensinya sudai tinggel sepertiganya atau sekitar 1.500 m’/ apita/tahun, Diperkirakan pada tahun 2020 total potensinya titggal 1.200 m'y apite/tahun, dimana hanya 35% dari potensi alam tersebut yang layak secara ekonomis untuk dikelola. Maka potensi aktualnya tinggal 400 m°/kapita/tahun, Potensi ini jain di bawah standar angka minimum yang ditetapkan PBB yaitu selbesar 1.100 m'/kapitatahun. Pulau Jawa dengan jumiah penduduk sebesar lebih dari 128 juta jiwa atau 59,0% dari jumlah penduduk nasional,tingkat pertumbuhan pendudok per tahun 1,53%, dan kepadatan penduduk 1.413 jiwa/km2 (BPS, 2005) dengan segala aktivitasnya jelas berpengaruh terhadap neraca air dan kondisi lingkungan yang ada, Bahkan saat ini daya dukung lingkungan berdasarkan metode jejak ekologi (ecological footprint) dengan kriteria Konsumsi Jahan dunia dan kriteria Konsumsi lahan khas Indonesia menunjukkan bahwa seluruh kondisi daya dukung lingkungan sudah terlampaui (KKP, 2006), Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya air di Indonesia di masa rmendatang akan semakin menghadapi tantangen yang lebih berat. Kebutuhan akan penyediaan air yang mencakup kepasitas daya dukung serta tingkat perkembangan Kkebutuhan air semakin dirasakan mendesak dari wakwu ke “vu, baik penyediaan air untuk ‘han domestik, prtanian, industri, kiman, dan sektor lainnya, Konflik berbagai kebutuhan air semakin ‘erjadi, di samping akibat dampak :maran karena terlampauinya daya dukung sumberdaya air yang ada. Kebijakan penyediaan air di masa mendatang sangat ditentukan oleh besaran jumlah penduduk dan tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia pada saat itu, Dengan jumlah penduduk sebesar 212 juta jiwa pada saat ini, dan diperkirakan 280 juta jiwa pada tahun 2020, maka tantangan pengelolaan sumberdaya air di masa mendatang sangat berat. Untuk itulah maka, znalisis neraca air di Pulau Jawa merupakan salah satu kajian yang sangat menarik untuk diteliti, Bagaimana kondisi, status dan permasalahan-permasalahan yang ada adalah pertanyasn-pertanyaan yang sering timbul dari berbagai pinak, Seba fenomena yang ada saat ini meropakan akumulasi dari Kerusakan lingkungan yang ada schingga masyarakat senantiasa berhadapan langsung sehari- hari, seperti banjir ketika musim penghujan dan kekeringan ketika musim kemarat, I. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif — kualitatif yang menekanken pada penggambaran dan pemahaman fenomena yang kompleks pada hubungan antar faktor yang berpengaruh terhadap sumberdaya air di Jawa, Data dan informasi diperoleh berdasarkan studi literatur sehingga dihatapkan dapat saling menutupi kelemahan dan melengkapi data/ informasi yang dibutuhkan serta menangkap realitas masalah menjadi lebih diandalkan. Dengan studi literatur akan diketahui sampai dimana terdapat kesimpulan dan generalisasi yang telah pernah dibuat sehingga sitasi yang diperlukan dapat diperoleh (Sitorus, 1989; Nazir, 1999). Untuk memperhitungkan kotersediaan dan kebutuhan air, data dan informasi yang diperoleh sangat menentukan keakuratan hasil yang hendak dicapai, baik data hidrologi (Curah hujan, muka air sungai, debit) pada suatu pos hidrologi maupun data ‘opografi (peta, luas DAS, kemiringan dan sebagainya), serta data pendukung lain untuk — memperhitungkan pemanféatan air baik dari sisi sumber ddaya ar, tata guna lahan/penataan ruang, data jumlah dan penyebaran penduduk, pertanian, peternakan, industri dan lain- Iain, Dalam pengembangas sumberdaya sir dapat diartikan secara umum sebagai upaya pemberian perlakuan terhadap fenomena alam agar dapat dimanfsatkan secara optimal untuk kepentingan umat manusia, Sedangkan neraca air merupakan suatu gambaran umum mengenai kondisi ketersediaan air dan pemanfaatannya di suate daerah. Konsep fokus —_kajian pengembangan sumber daya air dapat meliputi kegiatan: a. perhitungan potensi sumberdaya ait, b, analisis kebutuhan air baik tahun, ceksisting maupun masa yang akan datang dan sekaligus pembuatan analisis neraca sumberdaya airnya, ¢. pemberian alternatif sumberdaya alam yang dapat dimanfeatkan, Analisis neraca air atau Keseimbangan air adalsh suatu analisa yang menggambarkan pemanfaatan sumberdaya air suatw daerah tinjauan yang didasarkan pada perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Faktor-faktor yang digunakan dalam perhitungan dan analisis neraca air ini adalah ketersediaan air dari daerah aliran sungai yang dikaji (yang merupakan ketersediaan air permukaan) dan ebutuhan air dari tiap daerah layanan yang dikaji (yang meliputi kebutuhan air untuk domestik, perkotaan, industri, perikanan, peternakan dan irigasi). Persamaan yang éapat digunakan untuk ‘menghitung neraca air dapet dinystakan sebagai berikuet Neraca = Quctan” Qhutin dengan: Neraca = —_—neraca air, surplus jika hasil persamaan adalsh positif dan defisit apabila hasil persamaan adalah negatif, Queonsin™ ——_ debit Ketersediaan ai ‘Alani, Vol, 12 Nomor 1 Tahun 2007 27 Qeenn debit kebutuhan air ‘Dari persamaan tersebut maka dapat didefinisikan arti dari kekeringan. Kekeringan yang dimaksud disiniadelah seat dimana total kebutuhan air untuk berbagai sektor lebih besar daripada jumlah air yang tersedia untuk mencukupi kebutuhan tersebut, Atau juga dapat pula dikatakan bahwa kekeringan terjadi saat neraca air mengalamni defisit atau memiliki nilai negatif. Il. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Daya Dukung Lahan Pulau Tawa-Madura adalah salah satu dari lima pulau besar di Indonesia, menempati kurang lebih 7% dari luas deratan scluruh Indonesia atau sekitar 130 ribu krh?, Pulau Jawa-Madura terbagi dalam 15 Wilayah Sungai (WS) yang terdiri dari 14 WS tersebar di Pulau Jawa dan 1 WS yang meliputi seluruh wilayah Pulau Madura. Pada saat ini Pulau Jawa-Medura dihuni oleh sekitar 65% dari total penduduk Indonesia. Kondisi ini memberi ‘gambaran bahwa masalah daya dukung sumber daya air di Pulau Jawa-Madura berpotensi untuk menjadi masalah yang sangat kritis. Pulau Jawa-Madura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk dan pusat pemerintahan Indonesia mengalami pembangunan yang pesat di berbagei sektor schingga tuntutan masyarakat akan penggunaan sumber daya air juga torus berkembang, ‘maka terjadi peningkatan persaingan enggunaan air antar sektor (domestik, perkotean, industri dan irigasi) di berbagai wilayah administrasi maupun wilayah sungai. Sejalan dengan dinamika pembangunan tersebut, maka tidak luput dari perubahan tata ruang, Jahan, pola hidup dan pole perekonomian. Perubahan tersebut berpengaruh puls terhadap sumber daya air yang apabila tidak disertai dengan perencanaan, pengelolaan dan pengeturan sumber daya air yang smantap, diperkirakan kesenjangan antara Gambar 1. Perubahan sebaran hutan alam di Pulau Jawa dari tahun 1891, 1963, dan 1987 (Whitten ct al., 1996 dalam Lavigne, 2006) = 7 _ & i 3 Bo 2.00 & 8 3 = 8 10 F 3 on B 40 i im E20} smi Pack —s— Portumb Pddic 1880 1900 Tahun 2000 2004 Gambar 2. Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk Pulau Jawa dari tahun 1980, 1990, 2000 dan 2004 (BPS, 2005) ketersediaan ai dan kebutuhan air untuk berbagai keperluan akan semakin ‘meningkat. Perubshan lahan dan lingkungan di Polau Jawa telah berjalan sejak jaman Kolonial Hindia Belanda, Hal ini terlihat dari perubahan penggunaan lahan, Khususny@ sebaran hutan alam dari tahun 1891, 1963 dan 1987 (Gambar 1) (Whitten et al., 1996 dalam Lavigne, 2006), dimana pada tahun 1800-an hutan alam di Pulau Jawa seluas 10 juta ha (Baplan Dephut, 2005; KKP, 2006). Namun pada tahun 1989 hutan alam berkurang hingga tersisa 1 juta ha dan pada tahun 2005 tinggal menjadi 0,4 juta ha (Baplan Dephut, 2005; KKP, 2006). Secara total tutupan hutan yang ada saat ‘adalah 23% dari luas Pulau Jawa yang terdiri dari #% hutan lindung dan 16% hutan produksi (Lavigne, 2006). ‘Sementara itu, jumlah penduduk di Pulau Jawa terus meningkat dari tahun ke tahun, Jika pada tahun 1980 penduduk berjumtah 91.269.528 orang dan kepadatan penduduk 1.002 orang/ 28 ‘Alaml, Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2007 ——oee—— km?, pada tahun 2004 menjadi 128.738.000 orang dan 1.413 orang/ ksn2. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun 1980 hingga 2000 mengalami penurunan, namun pada tahun 2004 justra naik (Gambar 2). Hal ini sangot berkaitan dengan —_ ket pembangunan di bidang kependudukan, Khususnya program pengendalian kelahiran yang tidak dilakukan seintensif ‘masa sebelumnya. Dengan mendasarkan pada luasan lahan yang tersedia dan jumlah penduduk yang ada, maka daya dukung lahan dapat dihitung. Dengan metode Jejak ekologi (ecological footprint) dengan kriteria konsumsi ahan khas Indonesia yaitu 0,741 ha/orang, daya dukung lahan per provinsi ternyata semua sudah melampaui. Terlebih lagi Jika kriteria konsumsi lahan dunia yang digunakan untuk perhitungan yaitu 4,18 ha/orang, maka daya dukung lahan semakin terlampaui. Daya dukung lahan ‘untuk masing-masing provinsi adalah sebagai berikut: 3.2. Neraca Air Kajian mengenai sumber daya aie i Pulau Jawa-Madura sudah banyak gilakukan, namun kebanyakan kajian- kajian tersebutruang liagkupnya terbatas, dan hanya memperhitungkan kondisi setempat. Analisis neraca air merupakan, bagian dari kegiatan pengembangan sumberdaya air Demikian pula pethitungan neraca air di Indonesia sudah beberapa kali dilakukan perhitungan dengan hasil yang berbeda-beda Karena adanya perbedaan ‘metode dan data yang dilakukan. Namun dari hasil perhitungan tersebut ‘menunjukkan bahWa di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggata telah mengalami efisit. Ketersediaan air yang ada tidak ‘mencukupi kebutuhaa total, khususnya pada musim kemarau. Defisit ini akan ingkat untuk tahun-tahun mendatang —karena_—_semakin meningkatnya kebutuhan air, Secara nasionai Ketersediaan air secara alamiah yakni dari total aliran sungai di Indonesia selama setahun terus mer ‘Tabel 1. Daya dukung lahan dengan Kriteria konsumsi lahan khas Indonesia far] Total rg Guo) 5) | a, | KGa [essing ci P88 Du 1 [DEI 9.55 66,100] 0-741 | 6,783.430| 6717330) Terlampaui 2 [Jabar 38.34 | 4,630,000 0-741 [28,392,552 | -23,762,652 | Terlampaui 3 [Jteng, 29.69 | 3,420,600] 0.741 [21,986,903] -18,566,305 | Terlampaut + {DIY 29 318,800] 0.741 | 2.147.592|_ -1.828,792 | Terlampaui aim 33.8 4,792,200] —O7AT [25,030,559] -20,938-350] Terlampaut [otal P Jawa 113.89 [13,227,700] [84,341,136] -71,113/436] Terlampaul Sumber : KKP, 2006 keterbatasan data, Keterangan: Dalam pethitungan Provinsi Banten dimasukkan ke dalam Jabar karena ‘Tabel 2. Neraca air musim kemarau menurut pulau di Indonesia re Puta _[Retersediaan Kebutuhan (milyar my (milyar m’) | "2003 [ Neraca_[ 2020 | Neraca 1_| Sumatera 962 [1,6 | Sopius | 13.3 | “Surplus 2 | JawaBali 25,3_| 38.4 _} Defisit_| 44,1 | Defisit 3_| Kalimantan 167,0_| 2.9 | Surplus_|_3.5_| Surplus 4 [Nusa Tenggara 42] 43 | Deficit | 47 | Defisit 3_| Sulawesi 4 | _9.0_| Surplus | 9,7 | Surplus © | Maluke 124 | 01 | Surplus | 01 | Surplus 7 [ Papua 163.6 | 01 | Surplus | 0.2 | Surplus Sumber : Sutzrdi, 2003, smencapai 1.957.205 juta m? sementara kebutuhan total pada tahun 2003 mencapai 112.275 juta m? dan proyeksi tahun 2020 mencapai 127.707 juta mv. Dengan demikian maka secara nasional terjadi surplus. Namun apabila neraca air tersebut dihitung pada saat musim kemarau maka telah mengalami defisit karena ketersediaan air yang ada tidak memenuhi kebutuhan total di Pulau Jawa, Bali dan Nuse Tenggara (Tabel 2). Pulau Jawa pada tahun 1930 masin mampu memasok 4.700 meter kubik air per kapita per tahun. Saat ini total potensinya sudah tinggal sepertivanya (1.500 meter kubik). Nanti pada 2020 total potensinya tinggal 1.200 meter kubik: Dari potensi alami ini, hanya 35% yang layak secara ekonomis untuk dikelola, Maka potensi nyatanya tinggal 400 meter kubik per kapita, jauh di bbawah angka minimum PBB yang 1.100 meter kubik per kapita, Padahal dari jumlah 35% tersebut, sebesar 6% diperlukan untuk penyelamatan saluran dan sungei-sungai, sebagai maintenance flow. Oleh karena itu peta wilayah krisis air di bumi 2025, terbitan International Water Management Institute, Jawa dan beberapa pulau lainnya sudah masuk wilayah krisis (Soeparmono, 2002). ‘Kecenderungan penuruntaz kondisi sumberdaya air di Indonesia baik secara kualitas maupun —_kuantitas ‘mengisyaratken perlunya perhatian lebih besar diberikan untuk meningkatkan pengelolaannya, Di Jawa dan Bali ratio antara penggunaan dan dependable flow telah semakin meningkat, Pada tahun 1995 indeks penggunaan air (IPA) di Jawa adalah sekitar 51%. Tingkat IPA yang dianggap praktikal di beberapa negara adalah antara 30% - 60%. Bahkan di Wilayah Sungai Ciliwung- Cisedane (yang melayani Jabotabek), IPA-nya sudgh mencapai 100%. Ini artinya, antara dependable flow dan Jumiah permintaan sudah hampir atau telah berimbang. Kenyataan kekeringan yang terjadi di beberapa tempat di Pulau Jawa seKarang cenderung tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air. sendiri. ‘Atami, Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2007 29 —_ ‘Tabel 3. Ketersediaan dan kebutuhan ait menurut pulau di Indonesia Ketersediaan Kebutuhan Air Surplus/Defisit Air No Pulau Air Guta m3/th) Guta m3/th) Guta man) [7955 2000 BOIS 1555 2000 205 1_| Sumatera 111.077,7 19.164,8 25,297,5, 49.583,2 91.912,9 85.780,2 61.494,5 2 _| Jawa 30.569,2 | 62.927,0 83.378,2 | 164.672,0 -32.357,8 -52.809,0 | -134.102,8 3 | Kalimantan’ 140,005,6 5.1113, 8.2036 23,093,3 134.894,3, 131.802,0 116.912,3 4 | Sulawesi 34.787,6 15.257,0 25.555,5 77.305,3 19.530,6 9.2321 -42.517,7 S_| Bali 1.067,3 2.5744 8.598,5 28.719,0, -1.507,1 -7.531,2, -27.651,7 6 | NTB 3.508,6 1.628,6 1.832,2, 2.519,3 1.880,0 1.676,4 989,3 7 [NTT 4.251,2, 1.736,2 2.908,1 8.797,1 2.515,0 1.343,1 -4.545,9 8) | Maluku 15.457,7, 235,7 305,2 575.4 15.222,0 15.1525 14.882,3 9 | Papua 350.589,7 128,3 283.4 1.3106 | 3504614 | 350.3063 | 349.279,1 Indonesia 691.314,6 | 108.763,3 | 156.362,2 | 356.575,2 582.551,3 534.952,4 334.739,4 ‘Sumber : Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, 1997 Kondisi di daerah lain di Indonesia juga ‘memperlihatkan kecenderungan kearah penurunan kondisi sumberdaya air yang pada akhimnya, jika tidak ditangani dengan cara yang tepat, akan menimbulkan permasalahan ketersediaan air untuk memenuhi kebatuhan Dengan metode perhitungan yang lain, Kebutuhan air secara nasional saat ini terkonsentrasi pada Pulau Sawa dan Bali, dengan penggunaan terutama untuk air minum, rumah tangga, perkotaan, industri, pertanian, dan lainnya, Dari data neraca air tahun 2003 dapat dilihat bbahwa dari total Kebutuhan air di Pulau Jawa dan Bali sebesar 83,4 miliar meter kubik pada musim kemarau, hanya dapat ipenuhi sekitar 25,3 miliar kubik atau hanya sekitar 66 persen. Defisit ini diperkirakan akan semakin tinggi pada tahun 2020, dimana jumlah penduduk dan aktifites perekonomian meningkat secara signifikan Berdasarkan perhitungan, pada tahun 2000, secara nasional ketersediaan sir permukaan hanya mencukupi 23% dari kebutuhan penduduk. Sementara its Pulau Jawa dan Bali Kondisinya sudan Aofisit air sejak tahun 1995 (Lihat Tabel 3). Make tidak anch jika setiap musim kemaray di Jawa dan Bali seringkali terjadi kisi air di beberapa daerah Sedangkan menurut kajian Bappenas (2005), untuk wilayah di luar Jabodetabek ditemukan bahwa pada tahun 2003 sebagian besar (sckitar 77 persen) kabupaten telah memiliki satu hingga delapan bulan defisit air dalam setahun. Pada tahun 2025 jumlah Kabupaten defisit air meningkat hingga ‘mencapai sekitar 78,4 persen dengan Gefisit berkisar mutai dari satu hingga dua belas bulan, atau defisit sepanjang tahun. Dari wilayah yang mengalami defisit tersebut, terdapat 38 kabupaten/ kota atau sekitar 35 persen yang pada tahen 2003 telah mengalami defisit tinggi, sebageimana diuraikan dalam Tabel 4. Dalam hal ini, kondisi neraca air diklasifikasi menjadi empat yaitu normal, defisit rendah, defisit sedang, dan defisit tinggi. Kondisi normal ‘menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit sepanjang tahun, sedangkan jika jumlah bulan defisit mencapai 3. bulan diklasifikasi sebagai defisitrendah, dari empat hingga enam bulan diklasifikasi defisit sedang, dan lebih dari enam bulan diklasifikasi defisit tinggi. Diantara kabupaten/kota yang mengalami defisit air tersebut, bahkan sejak tahun 2003 sekitar 12 kabupaten/ kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingga mencapai sekitar 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 apabila tidak dilakukan intervensi infrastruktur. Kondisi ini perla ‘mendapatkan perhatian secara khusus dan perlu dilakukan upaya penanganan segera dalam jangka pendek. Kabupaten! kota yang mengelami defisit penyediaan air minum diuraikan pada Tabel 5. Dari proyeksi neraca air kabupaten/ kota di Pulau Jawa tersebut, defisit air tinggi tahun 2005 diperkirakan akan terjadi pada beberapa kabupaten/kota di wilayah sungai Cimanuk-Cisanggarung, Pemali-Comal, Progo-Opak-Oyo, Bengawan Solo, Brantas hilir, dan Madura, Di samping itu, defisit tinggi juga terjadi pada kota besar seperti Bandung, Semarang, dan Yogyakarta Sementara itu, kabupaten/kota di wilayah-wilayah sungai Cisadea- Cikuningan, —Citanduy-Ciwulan, Citaram, Serayu bagian hulu, Jrotun Seluna bagian hulu, Brantas, dan sebagian Pekalen-Sampean belum ‘mengalami defisit air. Jika tidak dilakukan intervensi infrastruktur maka kondisi neraca ait akan mengalami defisit yang semakin tinggi pada tahun-tahun berikutnya, Beberapa kabupaten/kota pada tahun 2010 diperkirakan akan mengalami defisit yang semakin membesar, antara lain Kabupaten Ngawi di WS Bengawan Solo dan Kota Surabaya di WS Brantas. Pada tahun-tahun berikutnya, defisit air di wilayah tersebut cenderung semakin tinggi, dan Kabupaten/kota yang mengalami defisit akan semakin meluas. 30 ‘Alam, Vol 12 Nomor 1 Tahun 2007 ‘abel 4. Kabupater/Kota di Pulau Jawa yang mengalami Defisit Tinggi a Kabupsten! | Wiayah Jumiah Bulan Deft Dafisit Maksim (net) Kota Sungal ‘Baan as | 2010 | 200s | 20zH | 20H | 008 [zone | rove | 0% | 2020 | 20S ci iSmana 3 toe ears be feta bet fant wafedtentoate Zeb [Geran ToLOe z TOL [ere ara aaa aaa aes 3 |ussonata ae Se 7 [7 6 [a 1.64 cianaoy ara ¢ 47-1416] 19.0] 2.7] 12.19] 41, 3 [sary [cua 33% leesare a 7 7 [7 | +090) 40.13] 46.1] 4033] 2.00] 41.69 5 ta adn [cium i Se eae al al are sl a = Cusbon [eines sono} 5 318 =ash 963] sao] 0 alo 81 88 Te BAWa + |Megatong thor) for |r | x |2522| 25.05} 2620-2650] 27.08] 2757 2 |iiten ates |e |e | & (seer) s200| sem car] 200] 00 = [Suara ae 4 [koranganyar Thre el 1077] 8.1 80811787, § [sre 7 [|e [7 | 7 | 7 | 200) zor 2117] 21.06] 2227] 20.08 6 [ote e |e | 6 | 7 [7 | 7 | res] a204) s000] sa07| sae] 1022 7 [Potaongan 6 6 [rts rc] 59167 -rsa0] 11.84 i |Kois Semarang fatun Sena jouo%| S| S| se 8 | 6 | 2a) aaa) a0 aos) Sz) AT 5 ko Poatoge [Ponai-comal_ sono af s_[-8s sf 8 7 tr] tof aa 1.388, —Histin Satna —— a0 5 = eo Livool esr ats i [OI YOGYAKARTA i cope moe 7 Tes a | a ows] RTT 2 forge Frowsomeor ate e [ es fe fo] «|e | sal sae! sar) as) aq oa 3 [semen a 77 | 7 [zee srae] aro] zane 207] 22a rs x 760 sts s 135 283 | al 28 wo + Jeororese igs are Ps fe |e |e | © | saml sar] aan] soe] rel oa 2 (Sia ic Banas Lo a EC 3 fMadun ta wasn eens ze gs |e | a | # |e | znse| 2020|-onaq|zrz0| ore] arcs aga isuswan sco ——iooo a 7 [7 [7177 tr ae oe Se 5 fei anseeee rr] tft [7 le [4220] aaz7 7.79) -c2.00] 5.09] 21.7 = [aserano a epee Le) | © | ssa) a5s) aed] aes] asi 7 [ras [Bengawan Soo Ss eso ba aa as aro ae Jk Banas 2a 7 8 [Laronsen| arnt og ae fe [ot [7 [7 [7 sean] seca 54.20) -so.0s| 1.00] 51.09) 3 [saat vac a sel Eat "OlPanowsee acu saos{ ees et 66 cias0]=1289 iajsumensp aa ret rs =is2i[ 14 errs =901 16.9) [Sing Seaione — TOO] WAL WAL WL sal 5) [Cuiure-Camen 28% a \Csadso-Ciuingan 02% 03} Boor 8 Dap KetaBogor (C8 22761 wun | wa | wa | wa 405} -159 Iclwng-teadane 674 [Tangerang & Ket Tengerang —[CSwung Csadane —r000-%| WA[ WA] NA| NA] NA | NR] 65] ——A5| ea] 92] a7] 179 7 7 [Chwung-isadane — 685 % ~). Pete betas Kota Beka [geweno SEB%T wa | NA | NA | NA | wa | NA 24] 7 - [cujug-Ciman 902 r or 5 [rang & Kot Choe ee eee “oa WA | wa | wa | WA wa | wa “os 40] 29) 7 [aranana & Pawatana ———[oxarun SSCS BZ 7 ‘Sumber: Bappenas, 2005 Dengan mendasarkan pada hasil pethitungan dan fakta di lapangan tersebut lantas apa yang harus dilakukai? Masalah penyediaan air merupakan salah satu bagian dari pengelolaan sumberdaya air. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumberdaya air terpadu, Pengelolaan terpadu sumberdaya air adalah suatu proses yang — mengedepankan pembangunan dan pengelolaan sumberdaya air, lahan, dan sumberdaya ‘Aler|, Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2007 31 ‘Tabel 5. Kabupaten/Kota di Pulau Jawa yang mengalami Defisit Air Minum ol Ketupeen! Wiayah Daft Ar Minar Maksimun et) Kota Sungei os | 005] 20 | a0 | 2028 | 20S i av RAT [crea msm 1 fanrgen [Srank 85) asi] ost] 004] 7] 209] 009 7 [Sis [cine sons] Ae | toe 2 Fal (inerl aa] 3 fuser em HB%| 047] 081] 259] 281] 267] 7 inn : 4 fearanays ea HARI cl oz) 039] 087] 075] 058 ote Bang [cau mos] — Part a [ot Cinton [oman unos] 038) a0) aaa —048|_059_0.53) TC AWA TENG Peo pacco mam * Jagearg bean Se ass] - | - | 203] 035-063] 094 Seay 265% . JPeaodpsOe 20% F 2 [Rate |Bengawan Solo 98.0 % | 133 4 UatanSeina 259% 3 |sagen aunseis, 8 f= |» | 30) as 7 ia Sarr Loja Sehna woo] <= a ass] a 18 ib YOSrARARTA 7 far PamOpOe Tom] oa] OH] 7a as) aH a [PmsoOpek Oyo 96%] 2 [seman [eemceseoe = | 209} -01e} 038] 082 7 oa Yeates [Pope Opa we ano s| 059 teil a7 aaa) oa] a JAVA THUR 1 [Bengiion cor aD] A os] 07H] a 7 [famessan Isc ‘aoa%| 047] 050) 055) a0] asa 0. [Sunes Iasi 0%] 089] o7o| 079) ai] 058) 0m Tse ara ano] 024] -azal 0.39|_a4s] 053] 075 V7 [WNBODETABER [Cuan Cinan 29% ok bratoge [Oke CKunigan 02% 1 fece Depot a Kotoger [es gee) | | - | 29 loimue-csadine 274 7 [Tagan ot Tangerang [Ong Ceadano 100.0% = alas ‘Sumber : Bappenas, 2005 2005 TT is Keterangan Peta: = Non, Tdsk Deis = Dest Reads [T= Defic Sedan, BB = ets Tings ‘Suber : Hail Antics Gambar3. Sebaran neraca air kabupaten/kota tahun 2005 dan proyeksi tahun 2025 di Pulau Jawa dan Madura ‘erkait lainnya secara terkoordinasi dalam rangka memaksimalkan resultan ekonomi dan kesejahteraan sosial secara adil tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem yang vital. Prinsip pengelolaan terpadu sumberdaya air ini dikembangkan sebagai respon tethadap pola pengelolaan sumberdaya air yang diterapkan selama’ ini yang cenderung, terfragmentasi sehingga menimbulkan kesulitan dalam mengkoordinasikan berbagai kebijakan dan program yang berdampak timbuinya berbagai persoalan seperti banjir, kekeringan, longsor, erosi, pencemaran, dan sebagainya, IV. KESIMPULAN Krisis aicdi Pulau Jawa, khususnya pada musim kemarau sesungguhnya sudah terjadi sejak tahun 1990-an ddimana pada saat itu pasckan air tidak ‘mencukupi kebutuhan, Trend krisis air ‘akan terus meningkat, Selain karena semakin meningkatnya kebutuhan air, juga diperparah oleh kerusakan DAS, pencemaran, perubshan penggunaan Jahan, pengaruh perubahan iklim globel, Iemahnya kelembagean dan masalah sosial ekonomi budaya masyarakat lainnya, Pada tahun 2003, sekitar 77 persen kabupaten/kota di Pulau Jawa mengalami defisit air dan diperkirakan meningket menjadi 78,4 persen pada tahun 2025. Jumlah bulan defisit maksimal mencapai 8 bulan dan ‘meningkat menjadi 12 bulan pada tahun 2025, atau defisit sepanjang tahun Khusus wilayah Jabotabek yang pasokan airnya relatif terjamin, pada tahun 2003 sekitar 50 persen Kabupaten! kota mengalami defisit air dan diperkirakan meningkat menjadi 100 persen pada tahun 2025, Diantara kabupaten/kotayyang mengalami defisit air tersebut, bahkan sejak tahun 2003 terdapat 12 kabupaten/kota telah mengalami defisit penyediaan air minum. Jumlah ini diperkirakan semakin meningkat hingge mencapai 19 kabupaten/kota pada tahun 2025 ‘lami, Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2007 apabila tidak dilakukan intervensi infrestruktur. DAFTAR PUSTAKA Abu-Zeid, M.A, 1998, Water and Sustainable Development : the Vision for World Water, Life and the Environment, Water Policy I (1998) 9-19, Elsevier Science Ltd, ‘Bappenas, 2005. Studi Prakarsa Strategis, SDA untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa. Tidak Diterbitkan, Jakarta Bouwer, H., 2000. Integrated Water ‘Management: Emerging Issuesand Challenges, Agricultural Water Management 45 (2000) 217-228, Elsevier Science. Biro Pusat Statistik, 2005. Statistik Indonesia 2005. Penerbit BPS. Jakarta Dinar; A., 1998. Water Policy Reform Information Needs and Implementation Obstacles. Water Policy 1 (1998) 367-382, Elsevier Science. Giordano, M., Zhu, Z., Cai, X., Hong, S,, Zhang, X., Xue., ¥.2004, Water Management in the Yellow River Basin: Background, Current DATAPENULIS enguris dalam berbagai organi Critical Issues and Future Research Needs. Comprehensive Assessment Research Report 3. IWMI. Colombo. Srilanks. Gleick, PH., 1999. The Human Right to ‘Water. Water Policy 1 (1998) 487- 503. Elsevier Science Ltd Kentor Menteri Negara Lingkungan Hidup. 1997. “Agenda 21 Indonesia, Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan”. Jakarta, Kementerian Koordinasi Perekonomian. 2006. Daya Dukung Pulau Jawa. Jakarta Lavigne, F. And Gunnell, Y. 2006, Land Cover Change and Abrupt Environmental Impacts on Javan ‘Volcanoes, Indonesia: a Long-term Perspective on Recent Events. Reg, Enviton Change (2006) 6: 86- 100. ‘Nugroho, S.P, 2002. Pengelolaan DAS dan Sumberdaya Air yang Berkclanjutan, Peluang dan Tantengan Pengelolaan ‘Sumberdaya Air di Indonesia. P3- ‘TPSLK BPPT dan HSF. Jakarta, Nugroho, S.P., 2004. Pergeseran Kebijakan dan Paradigma Baru dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai di Indonesia, Jurnal Teknologi Lingkungan, P3-TL BPPT. Jakarta, Pawitan, etal, 1996. Keseimbangan Air Hidrologi di Indonesia Menurut Kabupaten (Hydrology Water Balance of Indonesia). FMIPA IPB, Bogor. Pawitan, H, 2002, Mengantisipasi Krisis Air di Indonesia. Memasuki Abad 21, Peluang dan Tantangn Pengelolaan Sumberdaya Air di Indonesia, P3-TPSLK BPPT dan HSE. Jakarta Serageldin, [., 1998, Water in the 21th ‘Century : Some Issues, Discussion Paper. Water Policy I (1998) 123- 127. Elsevier Science. Soeparmono, 2002, Kebijakan Pasokan Air 2020. Peluang dan Tantangn Pengelolaan Sumberdaya Air di Indonesia, P3-TPSLK BPPT dan HF, Jakarta, Sutardi, 2003. Permasalahan Sumber Daya Air Indonesia, Makalah dalam ToT. Pengelolaan ‘Sumberdaya Air. Jakarta, ‘Whitten T, Soeriaatmadja RE, Afiff SA. 1996, The Ecology of Java and Bali, Periplus Editions. Dalhousie University ‘Sutopo Purwo Nugroho, Lahirdi Boyolali pada tanggal 7-10-1969. Lulus S-1 Program Studi Hidrologi, Fakultas| ‘Geografi UGM Yogyakarta pada tabun 1994, $-2 Program Studi Pengelolaan DAS IPB Bogor pada tahun 2000, Seat ini sedang menempuh $3 di Program Studi Pengelolaan Summberdaya Alam dan Lingkungan, IPB Bogor. Sejak tahun 1994-2001 bekerja sebagai peneliti di Kelompok Hidrologi dan Lingkungan, UPT Hujan ‘Buatan BPPT, Sejak 2001 hingga sekarang sebagai peneliti di PTLWB BPPT. Penulis aktif dan menjadi profesi seperti MAI, KAI IGI, Igegama, Jikpa, [AHS, dan sebagainya. ‘Alami, Vol. 12 Nomor 1 Tahun 2007