Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

KEJANG DEMAM

Disusun Oleh :
dr Muamar Amirullah

Pembimbing :
dr Antonius
Anton
Rumambi DK, M.Kes.

Disusun dalam rangka mengikuti Kegiatan Internsip Dokter Indonesia


Angkatan IV Tahun 2015 (November
(November 2015 s/d November 2016)
di Rumah Sakit Tingkat III Robert Wolter Monginsidi
Teling-Manado-Sulawesi
Teling
Utara

KEJANG PADA ANAK


Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat
darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami sekali
kejang selama hidupnya. Kejang penting sebagai suatu tanda adanya gangguan neurologis.
Keadaan tersebut merupakan keadaan darurat. Kejang dapat bersifat sederhana, dapat
berhenti sendiri dan sedikit memerlukan pengobatan lanjutan, atau merupakan gejala awal
dari penyakit berat, atau cenderung menjadi status epileptikus. Tatalaksana kejang seringkali
tidak dilakukan secara baik. Karena diagnosis yang salah atau penggunaan obat yang kurang
tepat dapat menyebabkan kejang tidak terkontrol, depresi nafas dan rawat inap yang tidak
perlu. Langkah awal dalam menghadapi kejang adalah memastikan apakah gejala saat ini
kejang atau bukan. Selanjutnya melakukan identifikasi kemungkinan penyebabnya.

Sangat penting untuk membedakan apakah serangan yang terjadi adalah kejang atau
serangan yang menyerupai kejang. Perbedaan diantara keduanya adalah :
Tabel 1. Perbedaan serangan kejang dan keadaan yang menyerupai kejang
Keadaan

Kejang

Menyerupai Kejang

Tiba-tiba

Mungkin gradual

Detik/menit

Beberapa menit

Sianosis

Sering

Jarang

Gerakan ekstremitas

Sinkron

Asinkron

Stereotipik serangan

Selalu

Jarang

Lidah tergigit atau luka lain

Sering

Jarang

Gerakan abnormal bola mata

Sering

Jarang

Gerakan tetap ada

Gerakan hilang

Dapat diprovokasi

Jarang

Hampir selalu

Tahanan terhadap gerakan pasif

Jarang

Selalu

Bingung pasca serangan

Selalu

Tidak pernah

Onset
Lama serangan

Fleksi pasif ekstremitas

Setelah diyakini bahwa serangan yang dialami adalah kejang, selanjutnya perlu
ditentukan jenis kejang. Klasifikasi kejang berdasarkan International League Against
Epilepsy of Epileptic Seizure [ILAE] 1981 :
I.

Kejang parsial (fokal, local)


a. Kejang fokal sederhana
b. Kejang parsial kompleks
c. Kejang parsial yang menjadi umum

II.

Kejang umum
a. Absens
b. Mioklonik
c. Klonik
d. Tonik
e. Tonik-klonik
f. Atonik

III.

Tidak dapat diklasifikasi

Langkah selanjutnya adalah mencari penyebab kejang. Pada anak penyebab kejang
yang paling sering adalah :
1. Kejang demam
2. Infeksi : meningitis, ensefalitis
3. Gangguan metabolik : hipoglikemia, hiponatremia, hipoksemia, hipokalsemia,
defisiensi piridoksin, gagal ginjal, gagal hati, gangguan metabolik bawaan
4. Trauma kepala
5. Keracunan : alkohol, teofilin
6. Penghentian obat anti-epilepsi
7. Lain-lain : hipertensif ensefalopati, tumor otak, perdarahan intrakranial, idiopatik

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rectal > 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang merupakan
gangguan saraf yang sering dijumpai pada anak. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak
berumur 6 bulan 5 tahun. Kejang disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan
tidak termasuk dalam kejang demam. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam,
kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Bila anak berumur
kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului demam, pikirkan
2

kemungkinan lain misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama
demam. Anak laki-laki lebih sering dari pada perempuan dengan perbandingan 1,21,6:1.

Klasifikasi Kejang Demam


1. Kejang Demam Sederhana (simple febrile seizure)
2. Kejang Demam Kompleks (complex febrile seizure)

Kejang Demam Sederhana


Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti
sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak
berulang dalam waktu 24 jam. Kejang demam sederhana merupakan 80% di antara seluruh
kejang demam.

Kejang Demam Kompleks


Kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini :
1. Kejang lama > 15 menit
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang
lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada
8% kejang demam.
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau
lebih dalam 1 hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada
16% di antara anak yang mengalami kejang demam.

Gambar 1. Ilustrasi Kejang Demam


3

Terdapat interaksi 3 faktor sebagai penyebab kejang demam, yaitu :


a. Imaturitas otak dan termoregulator
b. Demam, dimana kebutuhan oksigen meningkat. Demam pada kejang demam sering
disebabkan oleh infeksi yang umum pada anak seperti tonsillitis, infeksi traktus
respiratorius (38-40%), otitis media (15-23%) dan gasrtroenteritis akut (7-9%). Pada
anak usia prasekolah sering mendapat infeksi tersebut dan disertai demam, yang bila
dikombinasikan dengan ambang kejang yang rendah mudah mendapatkan kejang.
Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda, hanya 11% anak
dengan kejang demam mengalami kejang terjadi pada suhu <37,9C, 14-40% kejang
terjadi pada 38-38,9C dan 40-56% pada 39-39,9C.
c. Predisposisi genetik: > 7 lokus kromosom (poligenik, autosomal dominan).

Patofisiologi Kejang Demam


Kejang merupakan manifestasi klinis akibat lepasnya muatan listrik yang berlebihan
di sel neuron otak karena gangguan fungsi pada neuron tersebut baik berupa fisiologi,
biokimia maupun anatomi. Sel saraf seperti juga sel hidup pada umumnya, mempunyai
potensial membran, yaitu selisih potensial antara intrasel dan ekstrasel. Potensial intrasel
lebih negatif dibandingkan dengan dengan ekstrasel. Patofisiologi Kejang Demam terjadi
karena peningkatan reaksi kimia tubuh, dengan demikian reaksi-reaksi oksidasi terjadi lebih
cepat dan akibatnya oksigen akan lebih cepat habis sehingga terjadilah keadaan hipoksia.
Transport aktif yang memerlukan ATP terganggu, sehingga Na intrasel dan K ekstrasel
meningkat. Apabila neurotransmiter eksitator lebih dominan daripada inhibitor maka akan
terjadi depolarisasi post sinapsis. Adanya peristiwa sumasi dan fasilitasi mengakibatkan
keadaan depolarisasi diperbesar dan apabila mencapai nilai ambang letup akan terjadi
potensial aksi pada neuron post sinapsis. Apabila potensial aksi meluas dan terjadi
sinkronisasi akan menimbulkan bangkitan kejang demam.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 derajat celcius akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang
anak berumur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan
orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi
difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
4

lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga meluas ke seluruh
sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter
dan terjadilah kejang.

Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang seseorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 380 Celcius,
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 400C
atau lebih. Terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah
sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita
kejang.

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit)
biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat
disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang tidak
tertaur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktivitas otot dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme yang meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan
peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler
dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.

Gambar 2. Patofisiologi Kejang Demam Pada Anak

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Anamnesis
Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang
Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca kejang,
penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala Infeski saluran napas akut/
ISPA, infeksi saluran kemih/ISK, otitis media akut/OMA, dll)
Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsi dalam keluarga,
6

Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare/muntah yang mengakibatkan


gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia, asupan kurang yang dapat
menyebabkan hipoglikemia)

Pemeriksaan fisik
Kesadaran: apakah terdapat penurunan kesadaran, Suhu tubuh: apakah terdapat

demam
Tanda rangsang meningeal : Kaku kuduk, Brudzinski I dan II, Kernig, Lasegue

1. Kaku Kuduk
Interpretasi: kaku kuduk (+) bila terasa ada tahanan dan dagu tidak dapat mencapai
dada. Kaku Kuduk (+) dijumpai pada meningitis, miositis otot kuduk, abses
retrofaringeal, arthritis di servikal.
2. Tes Lasegue
Caranya: Pasien yang sedang baring diluruskan (ekstensi) kedua tungkainya.
Kemudian satu tungkai diangkat lurus. Tungkai satunya lagi dalam keadaan lurus
(tidak bergerak)

- Interpretasi: Tanda lasegue (+) bila sakit / tahanan timbul pada sudut < 70
(dewasa) dan < 60 (lansia). Tanda Lasegue (+) dijumpai pada meningitis, isialgia,
iritasi pleksus lumbosakral (seperti HNP lumbosakralis)
3. Tanda Kernig/Kernigs Sign
- Caranya: Penderita baring, salah satu pahanya difleksikan sampai membuat sudut
90. Lalu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut. Biasanya ekstensi
dilakukan sampai membentuk sudut 135

- Interpretasi: Tanda Kernig Sign (KS) (+) bila terdapat tahanan dan rasa nyeri
sebelum mencaai sudut 135. dijumpai pada penyakit penyakit seperti yang
terdapat pada tanda lasegue (+)
4. Brudzinski (I, II, III, IV)
Brudzinski I (Brudzinskis Neck Sign)
Tangan ditempatkan di bawah kepala yang sedang baring. Kita tekuk kepala
(fleksi) sampai dagu mencapai dada. Tangan yang satu lagi sebaiknya ditempatkan
di dada pasien untuk mencegah diangkatnya badan. Interpretasi (+) bila terdapat
fleksi pada kedua tungkai

Tes Brudzinski I
Brudzinski II (Brudzinskis Contra-Lateral Leg Sign)
Pada pasien yang sedang baring, satu tungkai di fleksikan pada persendian
panggul, sedang tungkai yang satunya lagi berada dalam keadaan ekstensi (lurus).
Interpretasi: (+) bila tungkai yang satunya ikut pula terfleksi.

Tes Brudzinski II

Brudzinski III. Tekan os zigomaticum Tanda Brudzinski III (+) bila terjadi

fleksi involunter ekstremitas superior (lengan tangan fleksi)


Brudzinski IV. Tekan simfisis ossis pubis (SOP), Tanda Brudzinski IV (+) bila
terjadi fleksi involunter ekstremitas inferior (kaki)
Pemeriksaan nervus cranial
Tanda peningkatan tekanan intrakranial : ubun ubun besar (UUB) membonjol , papil

edema
Tanda infeksi di luar SSP : ISPA, OMA, ISK, dll
Pemeriksaan neurologi: tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex patologis.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab demam

atau kejang. Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit,
urinalisis dan biakan darah, urin atau feses.
Pemeriksaan

cairan

serebrospinal

dilakukan

untuk

menegakkan/menyingkirkan

kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau
menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Jika yakin
bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. Pungsi lumbal
dianjurkan pada :
Bayi usia kurang dari 12 bulan : sangat dianjurkan
Bayi usia 12-18 bulan

: dianjurkan

Bayi usia > 18 bulan

: tidak rutin dilakukan

Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak direkomendasikan. EEG masih dapat

dilakukan pada kejang demam yang tidak khas, misalnya : kejang demam kompleks
pada anak berusia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal.
Pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala) dilakukan hanya jika ada indikasi, misalnya :
Kelainan neurologi fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi

struktural di otak (mikrosefali, spastisitas)


Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun, muntah

berulang, UUB membonjol, paresis nervus VI, edema papil).

PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah :
1. Mencegah kejang demam berulang
2. Mencegah status epileptikus
3. Mencegah epilepsy dan/atau retardasi mental
4. Normalisasi kehidupan anak dan keluarga

a. Penatalaksanaan Fase Akut


Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah
berhenti. Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga agar jalan
nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan untuk mencegah
aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi dapat juga berlangsung terus
atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus dilakukan teratur, kalau
9

perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus
diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) dan
pemberian antipiretik.

Saat ini diazepam merupakan obat pilihan utama untuk kejang demam fase akut, karena
diazepam mempunyai masa kerja yang singkat. Diazepam dapat diberikan secara
intravena atau rectal, jika diberikan intramuskular absorbsinya lambat. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3-0,5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau
dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20 mg, tetapi pemberian tersebut sering
gagal pada anak yang lebih kecil. Jika jalur intravena belum terpasang, diazepam dapat
diberikan per rectal. Dosis diazepam rektal adalah 0,5-0,75 mg/kg atau diazepam rektal 5
mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih
dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun
atau dosis 7,5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun. Pemberian diazepam secara rektal
aman dan efektif serta dapat pula diberikan oleh orang tua di rumah.
Bila diazepam tidak tersedia, dapat diberikan luminal suntikan intramuskular dengan
dosis awal 30 mg untuk neonatus, 50 mg untuk usia 1 bulan 1 tahun, dan 75 mg untuk
usia lebih dari 1 tahun. Midazolam intranasal (0,2 mg/kg BB) telah diteliti aman dan
efektif untuk mengantisipasi kejang demam akut pada anak. Kecepatan absorbsi
midazolam ke aliran darah vena dan efeknya pada sistem syaraf pusat cukup baik. Namun
efek terapinya masih kurang bila dibandingkan dengan diazepam intravena.

Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan
cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali pemberian
diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit dapat
diberikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kg. Bila kejang tetap belum
berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10-20 mg/kg/kali dengan
kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis
selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila dengan
fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.

Bila kejang telah berhenti, pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang
demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor risikonya.

10

Ada beberapa indikasi rawat inap pasien kejang demam, antara lain :
Kejang demam kompleks
Hiperpireksia
Usia dibawah 6 bulan
Kejang demam pertama kali
Terdapat kelainan neurologis

Gambar 2. Penatalaksanaan Kejang Demam Pada Anak

11

b. Pengobatan profilaksis
Dikenal 2 cara profilaksis, yaitu :
1) Profilaksis intermiten pada waktu demam berupa :
Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko
terjadinya kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 15
mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10
mg/kg/kali, 3-4 kali sehari. Selain itu dapat diberikan kompres air hangat jika suhu
> 390C dan kompres air biasa jika > 380C. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat
dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari 18 bulan,
sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan.
Anti Konvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang pada 30%-60% kasus, begitu pula dengan
diazepam rektal dosis 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada suhu > 38,50C. Terdapat efek
samping berupa ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk
mencegah kejang demam
2) Profilaksis jangka panjang
Pengobatan jangka panjang hanya diberikan jika kejang demam menunjukkan ciri
sebagai berikut (salah satu) :
1. Kejang lama > 15 menit
2. Kelainan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang : hemiparesis, paresis Todd,
palsi serebral, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang

fokal.

Kejang

fokal

atau

fokal

menjadi

umum

menunjukkan

bahwa anak mempunyai fokus organik.


4. Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika :
Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam
Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
Kejang demam > 4 kali per tahun.

Obat untuk pengobatan jangka panjang : fenobarbital (dosis 3-4 mg/kgBB/hari dibagi 1-2
dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis). Pemberian obat
12

ini efektif dalam menurunkan risiko berulangnya kejang. Pemakaian fenobarbital setiap
hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-50% kasus.
Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama yang
berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati.
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1-2 bulan.

PROGNOSIS
Kemungkinan berulangnya kejang demam
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor risiko berulangnya kejang
demam adalah :

Riwayat kejang demam dalam keluarga

Usia kurang dari 12 bulan

Temperatur yang rendah saat kejang

Cepatnya kejang setelah demam

Jika seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya
10%-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

Faktor risiko terjadinya epilepsi

Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama.

Kejang demam kompleks

Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung

Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4%-6%,


kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi menjadi 10%49%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat
pada kejang demam.

EDUKASI
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang
sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus
dikurangi dengan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai kejang demam.
13

1. Bagaimana cara mencegah kejang demam?


Pencegahan kejang demam yang pertama tentu dengan usaha menurunkan suhu tubuh
apabila anak demam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun panas,
misalnya parasetamol atau ibuprofen. Hindari obat dengan bahan aktif asam asetilsalisilat,
karena obat tersebut dapat menyebabkan efek samping serius pada anak. Pemberian
kompres air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan siku juga dapat membantu.
Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah dan mengukur suhu anak saat sedang
demam. Pengukuran suhu berguna untuk menentukan apakah anak benar mengalami
demam dan pada suhu berapa kejang demam timbul. Pengobatan jangka panjang hanya
diberikan pada sebagian kecil kejang demam dengan kondisi tertentu.

2. Apakah kejang demam membuat anak menjadi bodoh atau menderita epilepsi di
kemudian hari?
Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya
kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun. Sebagian
besar anak yang pernah mengalami kejang demam akan tumbuh dan berkembang secara
normal tanpa adanya kelainan. Epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak kejang
demam, dan biasanya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain. Oleh karena itu,
sebagian besar anak dengan kejang demam tidak memerlukan bermacam pemeriksaan
seperti rekam otak atau elektroensefalografi (EEG) atau CT scan.

3. Kapan orangtua perlu khawatir?


Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang
disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan
penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak
tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak
dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab
kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis).
Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam. Walau
tampak menakutkan, umumnya kejang demam tidak berbahaya, tidak merusak otak, tidak
mengganggu kecerdasan anak, dan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia.

14

4. Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang


a) Tetap tenang dan tidak panik
b) Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
c) Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu kedalam mulut.
d) Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
e) Tetap bersama pasien selama kejang
f) Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
g) Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih

VAKSINASI
Sejauh ini tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak yang
mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang. Angka
kejadian pasca vaksinasi DPT adalah 6-9 kasus per 100.000 anak yang divaksinasi sedangkan
setelah vaksinasi MMR 25-34 per 100.000.

15

STATUS PASIEN
I. Identitas Pasien
Nama

: An S. M

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 3 tahun

Alamat

: Teling Atas Wanea

II. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Kejang
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dikeluhkan kejang sekitar 20 menit sebelum MRS. Sehari sebelum
MRS ibu pasien mengatakan anaknya demam. Demamnya mendadak, selalu tinggi,
malamnya mengigau, rewel, tidak menggigil dan tidak berkeringat dingin. Besok
paginya pasien masih demam tinggi dan ibu pasien membawa pasien berobat ke
puskesmas lalu diberi obat puyer penurun panas. Panasnya turun sebentar namun
tinggi lagi setelah beberapa jam. Kurang lebih 20 menit sebelum MRS pasien
mengalami kejang dengan durasi kurang dari 1 menit. Pada saat kejang seluruh badan
pasien kaku, mata mendelik ke atas tetapi tidak keluar busa dari mulut. Setelah kejang
pasien langsung menangis dan ibu pasien membawa pasien ke rumah sakit.

Pasien dikeluhkan batuk pilek sejak 1 hari sebelum MRS tidak disertai nyeri
tenggorokan. Pasien tidak mual dan muntah, tidak diare dan tidak ada riwayat trauma
pada kepala. Menurut ibu pasien, ini adalah kali ke 3 pasien mengalami kejang.
Pada saat umur 1 dan 2 tahun pasien pernah mengalami keluhan kejang yang sama.
Kejangnya selalu didahului demam, pasien kaku waktu kejang dengan mata mendelik
ke atas, tidak keluar busa dari mulut dan durasi kejangnya selalu kurang dari 1 menit.
Setelah kejang pasien selalu menangis. Selama ini ibu pasien hanya membawa pasien
ke puskesmas bila kejang dan tidak pernah dirawat di rumah sakit. Kakak pasien juga
mempunyai riwayat kejang sewaktu kecil.

16

3. Riwayat Kehamilan/Kelahiran
a. Kehamilan
Morbiditas

: Selama kehamilan ibu sehat

Perawatan antenatal : Ibu berkunjung untuk ANC 2x selama kehamilan


b. Kelahiran
Tempat Kelahiran : Rumah Sakit
Penolong

: Dokter

Cara Persalinan

: Spontan

Usia Kehamilan

: Cukup bulan

Keadaan bayi

Berat lahir

: 3000 g

Panjang

: Ibu Lupa

Lingkar kepala

: Ibu lupa

Bayi setelah dilahirkan langsung menangis


Tidak ada kelainan bawaan pada saat dilahirkan
4.

5.

Riwayat Perkembangan
Tengkurap

: 6 bulan

Duduk

: 10 bulan

Berdiri

: 11 bulan

Berjalan

: 13 bulan

Bicara

: 13 bulan

Baca Tulis

: -

Riwayat Imunisasi
BCG

: 0 bulan

DPT/DT

: + 3 kali, ibu lupa umur berapa

Polio

: + 3 kali, ibu lupa umur berapa

Hepatitis B

: + 3 kali, ibu lupa umur berapa

Campak

: + 1 kali, ibu lupa umur berapa

Kesimpulan riwayat imunisasi : lengkap, Scar BCG +


6.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat kejang demam pada keluarga (+), kakak pasien mengalami kejang saat
demam tinggi pada saat umur 4 tahun, saat ini sudah tidak pernah kejang lagi.
Anggota keluarga lain dengan keluhan kejang disangkal.

17

III. Pemeriksaan Fisik


Keadaan umum:
Keadaan Sakit

: Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Status Gizi

: Cukup

Berat Badan

: 15 Kg

Tanda vital:
Frekuensi Nadi

: 120 x/Menit

Frekuensi Nafas

: 22 x/Menit

Suhu Tubuh

: 39 oC

Status Generalis :
Kepala : Normocephali, Deformitas (-), Ubun-ubun besar : rata
Mata: edema palpebra (), konjungtiva tidak anemis, Sklera putih, Kornea jernih
Pupil : bentuk bulat, isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung
+/+, diameter 3 mm, Lensa jernih, Gerakan kedua bola mata baik.
Telinga: Daun dan liang telinga:bentuk, besar, posisi normal. Mastoid : tidak ada nyeri tekan
Hidung: Bentuk normal, simetris, Sekret (+) putih serosa, Epistaksis (-)
Bibir: Tidak kering, Mukosa warna kemerahan
Mulut: Bentuk dan ukuran normal, mukosa pipi kemerahan, warna gusi normal merah jambu
Arkus palatum normal, tidak ada paresis, faring hiperemis (+)
Lidah: Warna merah, tidak kotor, ukuran normal
Tonsil : T2-T2, hiperemis (-)
Tenggorokan : Stridor (-)
Leher : Kaku kuduk (-), Massa di leher (-), Kelenjar tiroid : ukuran, bentuk, posisi,
konsistensi, permukaan normal, tidak ada nyeri, tidak ada pembesaran
Toraks: bentuk simetris, gerakan dinding dada simetris, deformitas (-), pembengkakan (-)
Cor :
Inspeksi

: tidak tampak denyutan iktus cordis

Palpasi

: teraba denyutan iktus cordis pada ICS V linea midclavicula kiri

Perkusi

: batas jantung kiri ICS IV sedikit lateral midclavicula kiri

Auskultasi

: S1S2 regular, murmur (-) gallop (-)

18

Pulmo :
Inspeksi

: pernafasan sisi simetris abdomino torakal

Palpasi

: vokal fremitus simetris, krepitasi subkutis (-)

Perkusi

: sonor simetris, nyeri ketok -/-

Auskultasi

: suara nafas vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen
Inspeksi

: simetris, datar, dilatasi vena (-)

Palpasi

: supel, nyeri tekan atau lepas (-), Hepar/lien tidak teraba membesar

Perkusi

: timpani seluruh abdomen, ascites (-)

Auskultasi

: bising usus + normal

Kelenjar getah bening:


KGB oksipital

: tidak teraba membesar

KGB retroaurikuler

: tidak teraba membesar

KGB servikal

: tidak teraba membesar

Ekstremitas:
Panjang dan bentuk normal, kelainan kongenital (-), nyeri tekan (-), jari tabuh (-), gerakan
otot baik, tonus otot baik, tanda peradangan (-), nyeri atau keterbatasan gerakan sendi,
oedema (-), akral dingin (-)

Pemeriksaan Neurologis
Refleks fisiologis positif
Refleks patologis : Refleks babinsky (-), kaku kuduk (-), Tanda Brudzinski I (-) Tanda
Brudzinski II (-), Tanda Kernig (-) Tanda Lasegue (-)
Uji sensibilitas : Normal

Kulit:
Sianosis (-), Anemis (-), Turgor baik, Hiperpigmentasi (), Hipopigmentasi (), Luka ()

IV. Pemeriksaan Penunjang


Tidak dilakukan

19

V.

Diagnosis Kerja
Kejang Demam Sederhana + faringitis akut

VI. Penatalaksanaan
1. Farmakologis
Diazepam rektal 10 mg (k/p)
Paracetamol rectal 250 mg 1x
Paracetamol sirup 4 x 1 cth
Tremenza 3 x tab
Ambroxol sirup 3x1 cth
2. Non-farmakologis
Kompres air hangat

VII. Prognosis
Dubia ad vitam (hidup)

: bonam

Dubia ad functionam (fungsi) : bonam


Dubia ad sanationam (sembuh) : bonam

20

PEMBAHASAN
Pada pasien didapatkan keluhan utama kejang sejak 20 menit SMRS, durasi kurang dari 1
menit. Pada saat kejang badan pasien kaku, mata mendelik ke atas tetapi tidak keluar busa
dari mulut. Setelah kejang pasien langsung menangis. Keluhan kejang hilang dengan sendiri
tanpa pengobatan apapun. Keluhan kejang diawali demam mendadak tinggi. Saat ini
merupakan keluhan yang kejang yang ke-3. Sebelumnya pasien memiliki riwayat kejang saat
demam tinggi seperti ini sebelumnya pada usia 1 dan 2 tahun.

Hal ini sesuai dengan definisi kejang demam sederhana dimana kejang berlangsung singkat,
kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik
dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Dari hasil pemeriksaan fisik tanda vital didapatkan suhu 390C. untuk anak dengan demam
suhu > 390C dapat diberikan pemberian antipiretik. Pada pasien diberikan antipiretik secara
rectal karena onset kerja yang lebih cepat dibandingkan pemberian secara oral. Sesuai dengan
berat badan pasien (16 kg) diberikan paracetamol rectal 250 mg sebanyak 1 kali. Pasien
diobservasi 20 menit kemudian diukur kembali suhu didapatkan suhu tubuh sudah turun
menjadi 37,60C. Selama observasi 1 jam pasien tidak mengalami kejang berulang, sehingga
diberikan pengobatan untuk rawat jalan. Tidak ditemukan kelainan neurologis.

Untuk pengobatan akut, diberikan sirup ambroxol sebagai mukolitik dan tremenza tablet
untuk mengatasi keluhan pilek. Terapi antibiotic tidak diberikan karena belum ada indikasi
infeksi kronis pada pasien. Untuk pengobatan di rumah, paracetamol sirup 4 kali sehari 1
sendok takar diteruskan untuk mencegah demam yang dapat memicu timbulnya kejang.
Pasien juga diberikan persiapan obat diazepam rectal 10 mg yang dapat diberikan saat anak
mengalami kejang. Pemberian obat diazepam rectal hanya diberikan saat kejang saja.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Febrile Seizures in Nelson Textbook of
Pediatrics, 20th Edition, Philadelphia: WB Saunders Company, 2014.
2. Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S, Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam,
Unit Kerja Koordinasi Neurologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2006.
3. Akib A dr, Kejang Demam, Panduan Pelayanan Medis, Departemen Ilmu Kesehatan
Anak, Jakarta: RSCM 2005
4. American Academy Of Pediatrics, Febrile Seizures : Guideline for the Neurodiagnostic
Evaluation of the Child with a Simple Febrile Seizure, Pediatrics, 2011;127;389.
5. Deliana, M, Tatalaksana Kejang Demam Pada Anak, Sari Pediatri, Vol. 4, No. 2,
September 2002: 59 62

22