Anda di halaman 1dari 18

A.

PENGERTIAN
Leukemia merupakan penyakit keganasan sel darah putih yang berasal dari sumsum
tulang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manisfestasi adanya sel-sel
abnormal dalam darah tepi. Pada leukemia ada gangguan dalam pengaturan sel leukosit.
Leukosit dalam darah berploriferasi secara tidak teratur dan tidak terkendali dan
fungsinyapun menjadi tidak normal. Oleh karena proses tersebut fungsi-fungsi lain dari sel
darah normal juga terganggu hingga menimbulkan gejala leukemia yang dikenal dalam
klinik (Mansjoer, 2000).
Leukemia adalah penyakit akibat terjadinya proliferasi sel leukosit yang abnormal dan
ganas serta sering disertai adanya leukosit jumlah berlebihan yang dapat menyebabkan
terjadinya anemia dan trombositopenia. Leukemia limfosis atau limfositik akut ini merupakan
kanker jaringan yang menghasilkan leukosit yang imatur dan berlebihan sehingga
jumlahnya menyusup ke berbagai organ seperti sumsum tulang dan mengganti unsur sel
yang normal sehingga mengakibatkan jumlah eritrosit kurang untuk mencukupi kebutuhan
sel sehingga timbul perdarahan (Hidayat, 2006).
Klasifikasi besar leukemia terbagi menjadi leukemia akut dan kronis. Apabila populasi
sel abnormal tidak matang, maka dinamakan bentuk akut. Sedangkan leukemia yang bersel
matang dinamakan leukemia kronis. Leukemia akut dapat dibagi menjadi leukemia
myelositik akut (AML) dan leukemia limfoblastik akut (LLA). Pada leukemia kronis
mencakup dua tipe utama yaitu Leukemia granulositik (myelositik) kronik (CML ) dan
leukemia limfositik kronik ( CLL ) (Mansjoer, 2000).
Akut Leukemia Limfoblastik ( ALL ) merupakan kanker paling umum yang terjadi pada
anak-anak. Tetapi LLA dapat berefek pada semua umur. Insidennya paling sering usia 2-10
tahun. Insiden tertinggi umur 3-5 tahun. Insiden turun bersamaan dengan peningkatan
umur. Lebih sering mengenai laki laki daripada perempuan (Djoerban, 1998)
ALL terbagi menjadi 3, yakni :

L1 Sel-sel leukemia terdiri dari limfoblas yang homogen dan L1 ini banyak menyerang
anak-anak.

L2 Terdiri dari sel sel limfoblas yang lebih heterogen bila dibandingkan dengan L1. ALL
jenis ini sering diderita oleh orang dewasa.

L3 Terdiri dari limfoblas yang homogen, dengan karakteristik berupa sel Burkitt. Terjadi
baik pada orang dewasa maupun anak-anak dengan prognosis yang buruk.

B. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


1. Faktor predisposisi
a. Penyakit defisiensi imun

tertentu,

misalnya

agannaglobulinemia;

kelainan

kromosom, misalnya sindrom Down (risikonya 20 kali lipat populasi umumnya);


sindrom Bloom.

b. Virus
Virus sebagai penyebab sampai sekarang masih terus diteliti. Sel leukemia
mempunyai enzim trankriptase (suatu enzim yang diperkirakan berasal dari virus).
Limfoma Burkitt, yang diduga disebabkan oleh virus EB, dapat berakhir dengan
leukemia.

c. Radiasi ionisasi
Terdapat bukti yang menyongkong dugaan bahwa radiasi pada ibu selama
kehamilan dapat meningkatkan risiko pada janinnya. Baik dilingkungan kerja,
maupun pengobatan kanker sebelumnya. Terpapar zat-zat kimiawi seperti benzene,
arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik.
d. Herediter
Faktor herediter lebih sering pada saudara sekandung terutama pada kembar
monozigot.

e. Obat-obatan
Obat-obat imunosupresif, obat karsinogenik seperti diethylstilbestrol
2. Faktor Lain
a. Faktor eksogen seperti sinar X, sinar radioaktif, dan bahan kimia (benzol, arsen,
preparat sulfat), infeksi (virus dan bakteri).

b. Faktor endogen seperti ras


c. Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom, herediter (kadang-kadang dijumpai
kasus leukemia pada kakak-adik atau kembar satu telur).

C. PATOFISIOLOGI

D. MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinik leukemia akut sangat bervariasi, tetapi pada umumnya timbul cepat, dalam
beberapa hari sampai minggu. Gejala leukemia akut dapat digolongkan menjadi tiga yaitu;
1. Gejala kegagalan sumsum tulang:
a. Anemia menimbulkan gejala pucat dan lemah. Disebabkan karena produksi sel
darah merah kurang akibat dari kegagalan sumsum tulang memproduksi sel darah
merah. Ditandai dengan berkurangnya konsentrasi hemoglobin, turunnya hematokrit,
jumlah sel darah merah kurang. Anak yang menderita leukemia mengalami pucat,
mudah lelah, kadang-kadang sesak nafas.

b. Netropenia menimbulkan infeksi yang ditandai demam, malaise, infeksi rongga


mulut, tenggorokan, kulit, saluran napas, dan sepsis sampai syok septic.

c. Trombositopenia menimbulkan easy bruising, memar, purpura perdarahan kulit,


perdarahan

mukosa,

seperti

perdarahan

gusi

dan

epistaksis. Tanda-tanda

perdarahan dapat dilihat dan dikaji dari adanya perdarahan mukosa seperti gusi,
hidung (epistaxis) atau perdarahan bawah kulit yang sering disebut petekia.
Perdarahan ini dapat terjadi secara spontan atau karena trauma. Apabila kadar
trombosit sangat rendah, perdarahan dapat terjadi secara spontan.
2. Keadaan hiperkatabolik yang ditandai oleh:
a. Kaheksia
b. Keringat malam
c. Hiperurikemia yang dapat menimbulkan gout dan gagal ginjal
3. Infiltrasi ke dalam organ menimbulkan organomegali dan gejala lain seperti:
a. Nyeri tulang dan nyeri sternum
b. Limfadenopati superficial
c. Splenomegali atau hepatomegali biasanya ringan
d. Hipertrofi gusi dan infiltrasi kulit
e. Sindrom meningeal: sakit kepala, mual muntah, mata kabur, kaku kuduk.
f. Ulserasi rectum, kelainan kulit.
g. Manifestasi ilfiltrasi organ lain yang kadang-kadang terjadi termasuk pembengkakan
testis pada ALL atau tanda penekanan mediastinum (khusus pada Thy-ALL atau
pada penyakit limfoma T-limfoblastik yang mempunyai hubungan dekat)
4. Gejala lain yang dijumpai adalah:
a. Leukostasis terjadi jika leukosit melebihi 50.000/L. penderita dengan leukositosis
serebral ditandai oleh sakit kepala, confusion, dan gangguan visual. Leukostasis
pulmoner ditandai oleh sesak napas, takhipnea, ronchi, dan adanya infiltrasi pada
foto rontgen.
b. Koagulapati dapat berupa DIC atau fibrinolisis primer. DIC lebih sering dijumpai pada
leukemia promielositik akut (M3). DIC timbul pada saat pemberian kemoterapi yaitu
pada fase regimen induksi remisi.

c. Hiperurikemia yang dapat bermanifestasi sebagai arthritis gout dan batu ginjal.
d. Sindrom lisis tumor dapat dijumpai sebelum terapi, terutama pada ALL. Tetapi
sindrom lisis tumor lebih sering dijumpai akibat kemoterapi.
E. KOMPLIKASI
1. Infeksi
Komplikasi ini yang sering ditemukan dalam terapi kanker masa anak-anak
adalah infeksi berat sebagai akibat sekunder karena neutropenia. Anak paling rentan
a.

terhadap infeksi berat selama tiga fase penyakit berikut:


Pada saat diagnosis ditegakkan dan saat relaps (kambuh) ketika proses leukemia

b.
c.

telah menggantikan leukosit normal.


Selama terapi imunosupresi
Sesudah pelaksanaan terapi antibiotic yang lama sehingga mempredisposisi
pertumbuhan mikroorganisme yang resisten.
Walau demikian , penggunaan faktor yang menstimulasi-koloni granulosit telah
mengurangi insidensi dan durasi infeksi pada anak-anak yang mendapat terapi kanker.
Pertahanan pertama melawan infeksi adalah pencegahan.
2. Perdarahan
Sebelum penggunaan terapi transfuse trombosit, perdarahan merupakan
penyebab kematian yang utama pada pasien leukemia. Kini sebagaian besar episode
perdarahan dapat dicegah atau dikendalikan dengan pemberian konsentrat trombosit
atau plasma kaya trombosit.
Karena infeksi meningkat kecenderungan perdarahan dan karena lokasi
perdarahan lebih mudah terinfeksi, maka tindakan pungsi kulit sedapat mungkin harus
dihindari. Jika harus dilakukan penusukan jari tangan, pungsi vena dan penyuntikan IM
dan aspirasi sumsum tulang, prosedur pelaksanaannya harus menggunakan teknik
aseptic, dan lakukan pemantauan kontinu untuk mendeteksi perdarahan.
Perawatan mulut yang saksama merupakan tindakan esensial, karena sering
terjadi perdarahan gusi yang menyebabkan mukositis. Anak-anak dianjurkan untuk
menghindari aktivitas yang dapat menimbulkan cedera atau perdarahan seperti
bersepeda atau bermain skateboard, memanjat pohon atau bermain dengan ayunan.
Umumnya transfuse trombosit hanya dilakukan pada episode perdarahan aktif
yang tidak bereaksi terhadap terapi lokal dan yang terjadi selama terapi induksi atau
relaps. Epistaksis dan perdarahan gusi merupakan kejadian yang paling sering
ditemukan.
3. Anemia
Pada awalnya, anemia dapat menjadi berat akibat penggantian total sumsum
tulang oleh sel-sel leukemia. Selama terapi induksi, transfusi darah mungkin diperlukan.

Tindakan kewaspadaan yang biasa dilakukan dalam perawatan anak yang menderita
anemia harus dilaksanakan (Wong, 2009).
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Laboratorium
1. Hitung darah lengkap (Complete Blood Count) dan Apus Darah Tepi
a. Jumlah leukosit dapat normal, meningkat, atau rendah pada saat diagnosis. Jumlah
leukosit biasanya berbanding langsung dengan jumlah blas. Jumlah leukosit neutrofil
seringkali rendah
b. Hiperleukositosis (> 100.000/mm3) terjadi pada kira-kira 15% pasien dan dapat
melebih 200.000/mm3.
c. Pada umumnya terjadi anemia dan trombositopenia
d. Prporsi sel blast pada hitung leukosit bervariasi dari 0-100%
e. Hitung trombosit kurang dari 25.000/mm3
f. Kadar hemoglobin rendah
2. Aspirasi dan Biopsi sumsum tulang
Apus sumsum tulang tampak hiperselular dengan limpoblast yang sangat banyak
lebih dari 90% sel berinti pada ALL dewasa. Jika sumsum tulang seluruhnya digantikan
oleh

sel-sel

leukemia,

maka

aspirasi

sumsum

tulang

dapat

tidak

berhasil,

sehingga touch imprintdari jaringan biopsy penting untuk evaluasi gambaran sitologi.
Dari pemeriksaan sumsum tulang akan ditemukan gambaran monoton, yaitu
hanya terdiri dari sel limfopoetik patologis sedangkan sistem lain terdesak (aplasia
sekunder).
3. Sitokimia
Pada ALL, pewarnaan Sudan Black dan mieloperoksidase akan memberikan
hasil yang negative. Mieloperoksidase adalah enzim sitoplasmik yang ditemukan pada
granula primer dari precursor granulositik yang dapat dideteksi pada sel blast AML.
Sitokimia berguna untuk membedakan precursor B dan B-ALL dari T-ALL. Pewarnaan
fosfatase asam akan positif pada limfosit T yang ganas, sedangkan sel B dapat
memberikan hasil yang positif pada pewarnaan periodic acid Schiff (PAS). TdT yang
diekspresikan oleh limpoblast dapat dideteksi dengan pewarnaan imunoperoksidase
atau flow cytometry
4. Imunofenotif (dengan sitometri arus/ Flow cytometry)
Reagen yang dipakai untuk diagnosis dan identifikasi subtype imunologi adalah
a.
b.
c.

antibody terhadap:
Untuk sel precursor B: CD 10 (common ALL antigen), CD19, CD79A, CD22,
cytoplasnic m-heavy chain, dan TdT
Untuk sel T: CD1a,CD2,CD3,CD4,CD5 ,CD7,CD8 dan TdT
Untuk sel B: kappa atau lambda CD19,CD20, dan CD22
5. Sitogenetik

Analisi sitogenetik sangat berguna karena beberapa kelainan sitogenetik


berhubungan dengan subtype ALL tertentu, dan dapat memberikan informasi prognostik.
Translokasi t(8;14), t(2;8), dan t (8;22) hanya ditemukan pada ALL sel B, dan kelainan
kromosom ini menyebabkan disregulasi dan ekspresi yang berlebihan dari gen c-myc
pada kromosom 8.
6. Biopsi limpa
Pemeriksaan ini memeperlihatkan poriferasi sel leukemia dan sel yang berasal
dari jaringan limpa yang terdesak, seperti limposit normal, RES, granulosit, dan pulp cell.
G. PENATALAKSANAAN
Terapi untuk leukemia akut dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
a. Terapi spesifik: dalam bentuk kemoterapi
Kemoterapi memiliki tahapan pengobatan yaitu:
1. Induksi Remisi.
Banyak obat yang dapat membuat remisi pada leukemia limfositik akut. Pada
waktu remisi, penderita bebas dari symptom, darah tepi dan sumsum tulang normal
secara sitologis, dan pembesaran organ menghilang. Remisi dapat diinduksi dengan
obat-obatan yang efeknya hebat tetapi terbatas. Remisi dapat dipertahankan dengan
memberikan obat lain yang mempunyai kapasitas untuk tetap mempertahankan
penderita bebas dari penyakit ini.
Berupa kemoterapi intensif untuk mencapai remisi, yaitu suatu keadaan di mana
gejala klinis menghilang, disertai blast sumsum tulang kurang dari 5%. Dengan
pemeriksaan morfolik tidak dapat dijumpai sel leukemia dalam sumsum tulang dan
darah tepi.
Biasanya 3 obat atau lebih diberikan pada pemberian secara berurutan yang
tergantung pada regimen atau protocol yang berlaku. Beberapa rencana induksi
meliputi: prednisone, vinkristin (Oncovin),daunorubisin (Daunomycin), dan Lasparaginase (Elspar). Obat-obatan lain yang mungkin dimasukan pada pengobatan
awal adalah 6-merkaptopurin (Purinethol) dan Metotreksat (Mexate). Allopurinol
diberikan secara oral dalam dengan gabungan kemoterapi untuk mencegah
hiperurisemia dan potensial adanya kerusakan ginjal. Setelah 4 minggu pengobatan,
85-90% anak-anak dan lebih dari 50% orang dewasa dengan ALL dalam remisi
komplit. Teniposude (VM-26) dan sitosin arabinosid (Ara-C) mungkin di gunakan
untuk menginduksi remisi juka regimen awal gagal.
i. Obat yang dipakai terdiri atas:
Vincristine (VCR)
1.5 mg/m2/minggu, i.v
Predison (Pred)
6 mg/m2/hari, oral
L Asparaginase (L asp) 10.000 U/m2

Daunorubicin
25 mg/m2/minggu-4 minggu
ii. Regimen yang dipakai untuk ALL dengan risiko standar terdiri atas:
Pred + VCR
Pred + VCR + L asp
iii. Regimen untuk ALL denga risiko tinggi atau ALL pada orang dewasa antara lain:
Pred + VCR + DNR dengan atau tanap L asp
Kelompok G!MEMA dari Italia memberikan DNR+VCR+Pred+L asp dengan
atau tanpa siklofosfamid.
2. Fase postremisi
Suatu fase pengobatan untuk mempertahankan remisi selama mungkin yang
pada akhirnya akan menuju kesembuhan. Hal ini dicapai dengan:
a) Kemoterapi lanjutan, terdiri atas:
Terapi konsolidasi
Terapi pemeliharaan (maintenance)
Late intensification
b) Transplantasi sumsum tulang: merupakan terapi konsolidasi yang memberikan
penyembuhan permanen pada sebagaian penderita, terutama penderita yang
berusia di bawah 40 tahun.
Terapi postremisi
a) Terapi untuk sanctuary phase (membasmi sel leukemia yang bersembunyi dalam
SSp dan testis)
Triple IT yang terdiri atas : intrathecal methotrexate (MTX), Ara C (cytosine
arabinosid), dan dexamenthason
b) Terapi iontensifikasi/konsolidasi: pemberian regimen noncrossresistant terhadap
regimen induksi remisi.
c) Terapi pemeliharaan (maintenance): umumnya dipakai 6 mercaptopurine(6 MP)
peroral dan MTX tiap minggu. Di berikan selama 2-3 tahun denga diselingi terapi
konsolidasi atau intesifikasi.
b. Terapi suportif
Terapi ini bertujuan untuk mengatasi kegagalan sumsum tulang, baik karena
proses leukemia sendiri atau sebagai akibat terapi. Terapi suportif pada penderita
leukemia tidak kalah pentingnya dengan terapi spesifik karena akan menentukan angka
keberhasilan terapi. Kemoterapi intensif harus ditunjang oleh terapi suportif yang intensif
pula, kalu tidak maka penderita dapat meninggal karena efek samping obat, suatu
kematian iatrogenic. Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yang
ditimbulkan oleh penyakit leukemia itu sendiri dan juga untuk mengatasi efek samping
obat. Terapi suportif yang diberikan adalah;
1. Terapi untuk mengatasi anemia
Transfusi PRC untuk mempertahankan hemoglobin sekitar 9-10 g/dl. Untuk calon
transplantasi sumsum tulang, transfusi darah sebaiknya dihindari.

2. Terapi untuk mengatasi infeksi, sama seperti kasus anemia aplastik terdiri atas:
a) Antibiotika adekuat
b) Transfusi konsentrat granulosit
c) Perawatan khusus (isolasi)
d) Hemopoitic growth factor (G-CSF atau GM-CSF)
3. Terapi untuk mengatasi perdarahan terdiri atas:
a) Transfuse konsentrat trombosit untuk mempertahankan trombosit minimal 10 x
106/ml, idealnya diatas 20 x 106/ml
b) Pada M3 diberikan Heparin untuk mengatasi DIC
4. Terapi untuk mengatasi hal-hal lain yaitu:
a) Pengelolaan leukostasis : dilakukan dengan

hidrasi

intravenous

dan

leukapheresis. Segera lakukan induksi remisi untuk menurunkan jumlah leukosit


b) Pengelolaan sindrom lisis tumor: dengan hidrasi yang cukup, pemberiaan
alopurinol dan alkalinisasi urin.
Hasil pengobatan
Hasil pengobatan tergantung pada berikut ini:
1. Tipe leukemia : pada umumnya ALL mempunyai prognosis lebih baik dibandingkan
dengan AML
2. Karakteristik faktor prognostik dari penderita
3. Jenis regimen obat yang diberikan

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. BIODATA
a. Identitas Anak
Umur

: ALL lebih sering terjadi pada umur kurang dari 5 tahun.

Angka kejadian tertinggi adalah pada umur 3 tahun.

Jenis kelamin

: leukemia limpfositik akut paling sering terjadi pada laki-

laki dibandingkan perempuan.


b. Identitas Orang Tua
Pendidikan
: Pendidikan yang rendah pada orang tua mengakibatkan

kurangnya pengetahuan terhadapa penyakit anaknya.


Pekerjaan
: Pekerjaan orang tua yang berhubungan dengan bahan
kimia , radiasi sinar X , sinar radioaktif, berpengaruh kepada anaknya. Selain

itu sejauh mana orang tua mempengaruhi pengobatan penyakit anaknya.


2. Keluhan utama
Nyeri sendi dan tulang sering terjadi, lemah , nafsu makan menurun, demam
(jika disertai infeksi) bisa juga disertai dengan sakit kepala, purpura, penurunan berat
badan dan sering ditemukan suatu yang abnormal. Kelelahan dan petekie
berhubungan dengan trombositopenia juga merupakan gejala-gejala umum terjadi
3. Riwayat Kehamilan dan kelahiran
Saat hamil ibu sering mengkomsumsi makanan dengan bahan pengawet dan
penyedap rasa. Radiasi pada ibu selama kehamilan dapat meningkatkan resiko
pada janinnya. Lebih sering pada saudara sekandung, terutama pada kembar.
4. Riwayat Keluarga
Insiden ALL lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang
terlebih pada kembar monozigot (identik).
5. Riwayat Tumbuh kembang
Pada penderita ALL pertumbuhan dan perkembangannya mengalami
keterlambatan akibat nutrisi yang didapat kurang karena penurunan nafsu makan,
pertumbuhan fisiknya terganggu, terutama pada berat badan anak tersebut. Anak
keliatan kurus, kecil dan tidak sesuai dengan usia anak.
Usia
Rata-rata Berat Badan (Kg)
3 hari
3,0
10 hari
3,2
3 bulan
5,4
6 bulan
7,3
9 bulan
8,6
1 tahun
9,5
2 tahun
11,8
4 tahun
16,2
6 tahun
20,0
10 tahun
28,0
14 tahun
45,0
18 tahun
54,0
Tabel 1.1 Rata-rata normal sesuai usia
(Wong, Donna L, 2004)

Sedangkan pada keadaan normal anak lingkar kepala mencapai 42,5 pada usia
6 bulan. Setiap bulannya lingkar kepala meningkat 1,25 cm
Pada anak dengan penderita penyakit ALL cenderung berat badan menurun, dan
tidak sesuai usia, lingkar kepala dan panjang badan relatif tetap (normal).
a) Riwayat Perkembangan
Motorik Kasar
Pada anak normal
o Mengangkat kepala saat tengkurap
o Dapat duduk sebentar dengan ditopang
o Dapat duduk dengan kepala tegak
o Jatuh terduduk di pangkuan ketika disokong pada posisi berdiri
o Control kepala sempurna
o Mengangkat kepala sambil berbaring terlentang
o Berguling dari terlentang ke miring
o Posisi lengan dan tungkai kurang fleksi
o Berusaha untuk merangkak
Pada anak dengan penyakit ALL pada umumnya dapat melakukan
aktivitas secara normal, tapi mereka cepat merasa lelah saat melakukan
aktivitas yang terlalu berat (membutuhkan banyak energi).
Motorik Halus
Pada keadaan normal
o Melakukan usaha yang bertujuan untuk memegang suatu objek
o Mengikuti objek dari sisi ke sisi
o Mencoba memegang benda tapi terlepas
o Memasukkan benda ke dalam mulut
o Memperhatikan tangan dan kaki
o Memegang benda dengan kedua tangan
o Menahan benda di tangan walaupun hanya sebentar
Pada umumnya anak dengan ALL masih dapat melakukan aktivitas ringan
seperti halnya anak-anak normal. Karena aktivitas ringan tidak membutuhkan
energi yang banyak dan anak tidak mudah lelah
6. Data psikososio spiritual
a. Psikologi:
Anak belum tahu tentang penyakitnya, sehingga anak tidak merasa
memiliki penyakit. Orang tua mengalami kecemasan mengenai penyakit yang
dialami anak, kondisinya apakah bisa sembuh atau tidak, serta masalah financial
keluarga.
b. Sosial:
Anak jarang bermain dengan teman-temannya, karena kondisi anak
lemah sehingga orangtua tidak mengizinkan anak untuk beraktivitas yang berat.

Dirumah anak bermain dengan orang tua dan saudaranya, tetapi bermain yang
ringan.
c. Spiritual:
Sebelum tidur anak diingatkan oleh orang tua untuk berdoa. Saat anak
melihat orang tuanya berdoa anak mengikuti cara orang tuanya berdoa.
7. ADL
a. Nutrisi:
Anak makan 2 kali sehari, pada ALL terjadi penurunan nafsu makan.
Anak suka makan makanan siap saji maupun jajan diluar rumah. Anak tidak
suka makan sayur-sayuran, makan buah kadang-kadang sehingga zat besi yang
diperlukan berkurang. Selain itu pengaruh ibu yang suka masak menggunakan
penyedap rasa dan sering menyediakan makanan siap saji dirumah.
Gizi merupakan komponen penting lain dalam pencegahan infeksi.
Asupan protein-kalori yang adekuat akan memberikan hospes pertahanan yang
lebih baik terhadap infeksi dan meningkatkan toleransi terhadap kemoterapi dan
iradiasi.
b. Aktivitas istirahat dan tidur:
Saat beraktivitas anak cepat kelelahan. Anak kebanyakan istirahat dan
tidur karena kelemahan yang dialaminya. Sebagaian aktivitas biasanya dibantu
oleh keluarga. Saat tidur anak ditemani oleh ibunya. Tidur anak terganggu
karena nyeri sendi yang sering dialami oleh leukemia.
c. Eleminasi:
Anak gangguan ALL pada umumnya mengalami diare, dan penurunan
haluran urin. BAB 3-5x sehari, dengan konsistensi cair. Haluan urin sedikit yang
disebabkan susahnya masukan cairan pada anak, warna urine kuning keruh.
Saat BAK anak merasa nyeri karena nyeri tekan diperianal.
d. H.P:
Anak mandi 2x sehari, gosok gigi 2x setelah makan dan mau tidur.
Sebagaian aktivitas hygiene personal sebagaian dibantu oleh orang tua.
8. Keadaan Umum:
Pada anak anak tampak pucat, demam, lemah, sianosis
9. Pemeriksaan TTV
RR
: Pada penderita PDA, manifestasi kliniknya pada umumnya anak sesak
nafas, tachypnea (Pernafasan >70x/menit), retraksi dada
Usia
Bayi baru lahir
1-11 bulan
2 tahun
4 tahun
6 tahun

Nilai Pernafasan
35
30
25
23
21

8 tahun
20
10-12 tahun
19
14 tahun
17
16 tahun
17
18 tahun
16-18
Tabel 1.4 Nilai Pernafasan rata-rata setiap menit sesuai umur
(Weni Kristiyani Sari, 2010 : 6)
Nadi

: Pada penderita ALL, terdapat manifestasi klinik nadi teraba kuat dan

cepat (takikardia)
Usia

Waktu bangun

Tidur

Demam

Bayi baru

(kali/menit)
100-180

(kali/menit)
80-160

(kali/menit)
>200

lahir
1 minggu-3

100-120

80-200

>200

bulan
3 bulan-2

70-120

70-120

>200

tahun
2-10 tahun
10 tahun-

60-90
50-90

60-90
50-90

>200
>200

dewasa
Tabel 1.4 Nilai Nadi Normal pada Anak
(Weni Kristiyani Sari, 2010 : 6)
TD

: pada penderita ALL, tekanan darahnya tinggi disebabkan oleh

hiperviskositas darah
Usia

Sistolik

Diastolik

(mmHg)
(mmHg)
Neonatus
80
45
6-12 bulan
90
60
1-5 tahun
95
65
5-10 tahun
100
60
10-15 tahun
115
60
Tabel 1.3 Nilai Tekanan Darah Normal pada Bayi dan Anak-anak
(Aziz Alimul, 2005 : 279 )
Suhu
>37,50C)

: Pada penderita ALL yang terjadi infeksi l suhu akan naik (hipertermi,

Usia
Nilai Suhu
3 bulan
37,5
6 bulan
37,5
1 tahun
37,7
3 tahun
37,2
5 tahun
37
7 tahun
36,8
9 tahun
36,7
11 tahun
36,7
13 tahun
36,6
Tabel 1.2 Nilai Suhu rata-rata normal anak
(Weni Kristiyani Sari, 2010 : 5)
10. Pemeriksaan Fisik Head to Toe
a. Kepala dan Leher
Rongga mulut :
apakah terdapat peradangan (infeksi oleh jamur atau bakteri). Penyebab
yang paling sering adalah stafilokokus,streptokokus, dan bakteri gram
negative usus serta berbagai spesies jamur.
perdarahan gusi,
pertumbuhan gigi apakah sudah lengkap
ada atau tidaknya karies gigi.
Mata:
Konjungtiva : anemis atau tidak. Terjadi gangguan penglihatan akibat

infiltrasi ke SSP,
sclera: kemerahan, ikterik.
Perdarahan pada retinas
Telinga: ketulian
Leher: distensi vena jugularis
Perdarahan otak
Leukemia system saraf pusat: nyeri kepala, muntah (gejala tekanan tinggi
intrakranial), perubahan dalam status mental, kelumpuhan saraf otak,

terutama saraf VI dan VII, kelainan neurologic fokal.


b. Pemeriksaan Dada dan Thorax
Inspeksi
: bentuk thorax, kesimetrisan, adanya

retraksi

dada,

penggunaan otot bantu pernapasan


Palpasi denyut apex (Ictus Cordis)
Perkusi untuk menentukan batas jantung dan batas paru.
Auskultasi
: suara nafas, adakah ada suara napas tambahan: ronchi
(terjadi penumpukan secret akibat infeksi di paru), bunyi jantung I, II, dan III
jika ada

c. Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi bentuk abdomen apakah terjadi pembesaran pada kelenjar limfe,


ginjal, terdapat bayangan vena, auskultasi peristaltik usus, palpasi nyeri
tekan bila ada pembesaran hepar dan limpa.
Perkusi adanya asites atau tidak.
d. Pemeriksaan Genetalia
Pembesaran pada testis
Hematuria
e. Pemeriksaan integument
Kulit :
Perdarahan kulit (pruritus, pucat, sianosis, ikterik, eritema, petekie, ekimosis,
ruam)
nodul subkutan, infiltrat, lesi yg tidak sembuh, luka bernanah, diaforesis
(gejala hipermetabolisme).
peningkatan suhu tubuh.
Kuku : rapuh, bentuk sendok / kuku tabuh, sianosis perifer.

f. Pemeriksaan Ekstremitas
Adakah sianosis, kekuatan otot.
Nyeri tulang dan sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemia)
B. DAFTAR DIAGNOSA
Menurut Wong, D.L (2004 :596 610) , diagnosa pada anak dengan leukemia
1.
2.
3.

adalah:
Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah

4.
5.

trombosit
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek

6.

samping agen kemoterapi


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan

7.
8.

anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi,

9.

radioterapi, imobilitas.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada

10.

penampilan.
Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita

11.

leukemia.
Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan anak.

C. RENCANA INTERVENSI

Berdasarkan diagnosa yang ada maka dapat disusun rencana keperawatan


sebagai berikut (Wong,D.L: 2004)

1. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh


Tujuan: Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi:
Pantau suhu dengan teliti
Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan
teknik mencuci tangan dengan baik
Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasive
Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi
seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Berikan antibiotik sesuai ketentuan
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan: terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi:
Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari
Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau
dibutuhkan
Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
3. Resiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan
jumlah trombosit
Tujuan: klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Intervensi:
Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada

daerah ekimosis
Cegah ulserasi oral dan rectal
Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun,

denyut nadi cepat, dan pucat)


Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol
perdarahan hidung
4. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan
muntah
Tujuan: Tidak terjadi kekurangan volume cairan dan pasien tidak mengalami
mual dan muntah

Intervensi:
Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Kaji respon anak terhadap anti emetic
Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
5. Perubahan membran mukosa mulut: stomatitis yang berhubungan dengan
efek samping agen kemoterapi
Tujuan: pasien tidak mengalami mukositis oral
Intervensi:
Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral
Hindari mengukur suhu oral
Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari
yang dibalut kasa
Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau
tanpa larutan bikarbonat
Gunakan pelembab bibir
Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Berikan diet cair, lembut dan lunak
Inspeksi mulut setiap hari
Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia
Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Berikan analgetik
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan
anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau
stomatitis
Tujuan: pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi:
Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi,
rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan
anak meningkat
Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk
atau suplemen yang dijual bebas
Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
DAFTAR PUSTAKA
1. Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta :EGC
2. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta

3. Djoerban, Zubairi et al. 1998. Leukemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
FKUI, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai