Anda di halaman 1dari 2

Arah Aplikasi Data Penginderaan Jauh

Pada bab ini diberikan tinjauan secara ringkas sifat data pengindraan jauh dan metode
analisisnya yang diharapkan akan memberikan latar belakang untuk memahami beberapa
aplikasi data pengindraan jauh untuk bidang teknik Sipil. Aktivitas yang semakin berkembang
dalam bidang pemanfaatan citra penginderaan jauh secara multispektral dan foto udara telah
mendorong penggunaan aplikasi data penginderaan jarak jauh untuk berbagai keperluan,
termasuk didalamnya adalah ilmu lingkungan dan teknik sipil.
Foto udara vertikal konvensional mempunyai peranan dominan di antara seluruh bentuk
pengindraan jauh untuk studi lingkungan litosfer. Melalui resolusi spasial yang baik (20-30
pasang garis/mm untuk target dengan kontras rendah pada rasio 1,6 :1) dan kemampuan
stereoskopis yang akan mempermudah mengambil informasi kenampakan permukaan
kualitatif dan kuantitatif secara detail. Pendekatan interpretasi foto umumnya diambil
dengan prosiding (cara kerja) dari umum ke khusus dan dari yang dikenal ke yang tidak
dikenal (Lo, 1976), hal ini untuk mendapatkan gambaran menyeluruh me ngenai medan
sebelum memusatkan pada pengenalan bentuk lahan, pola drainase, tanah, penggunaan
lahan dan penutup lahan, kesemuanya berguna sebagai petunjuk untuk pengenalan objek di
bidang geologi, tanah dan hidrologi.
Penggunaan foto udara dalam geologi,telah dikembangkan dengan baik, sehingga istilah
fotogeologi atau aerogeologi diciptakan untuk menjelaskan proses interpretasi foto ini.
Tujuannya adalah mengungkapkan karakteristik struktural dan litologi suatu wilayah (Miller,
1961; Von Bandt, 1962; Allum, 1966; Ray, 1960 dan Mekel, 1978). lnterpretasi litologi atau
pengenalan tipe-tipe batuan dari foto udara, Allum (1966) merekomendasikan suatu
pendekatan yang menggabungkan analisis struktural dan geomorfologi dalam setting
regional, sehingga pendekatan harus mulai dengan lingkungan klimatik dan erosional.
Legenda atau kunci fotogeologi umum, pengembangannya didasarkan pada kejelasan
fotografik itu sendiri untuk menduga tipe dari nama khusus dengan bantuan tersebut. Ini
merupakan pendekatan kualitatif. Pada sisi lain, Mekel (1978) menjelaskan pentingnya ka rakteristik fotografik tentang tipe-tipe batuan sedimen, beku dan metamorfik guna membantu
interpretasi. Telah diamati bahwa daerah dengan batuan sedimen dapat menghasilkan
informasi lebih mengenai litologi dan struktur dibandingkan dengan daerah yang dibentuk
oleh batuan beku dan metamorfik. Erosi yang berbeda diakibatkan adanya pelapisan
(bedding) yang kurang resisten dan pelapisan yang resistennya berseling, juga garis yang
ditunjukkan oleh penutupan vegetasi yang sangat membantu dalam melakukan interpretasi.
Pada sisi lain, batuan beku intrusif cenderung homogen di atas suatu areal luas, dan
seringkali menunjukkan adanya kekar dan retakan. Batuan beku ekstrusif biasanya
diasosiasikan dengan hentuk lahan khusus seperti gunung api dan bentuk lahan ini lebih
mudah diidentifikasi. Batuan metamorfik mungkin ditampakkan dengan bentuk lahan bundar
(rounded) yang khas, terjadinya lipatan (fold) pada daerah sedimen ditambah adanya
belahan, pengikisan atau foliasi, garis dan retakan. Mekel (1978) telah dapat
mengembangkan kunci lain dari data citra guna pengujian yang lebih rinci. Kelompok data
kemudian dikompilasi. Kelompok data ini merupakan subsampel dari citra yang identifikasinya
sudah dikenal dengan baik. Kelompok contoh ini lalu diperlakukan sebagai stereotipe kelas
khusus data, yang dapat digunakan sebagai perbandingan bagi daerah yang belum dikenal.
Parameter statistik seperti rata-rata dan deviasi standar untuk kelompok contoh dihitung dengan
komputer, yang dikerjakan untuk mengklasifikasi daerah lain yang belum diketahui. Metode
statistik pada umumnya dilakukan bagi klasifikasi yang merupakan analisis diskriminan yang
menentukan suatu rangkaian fungsi diskriminan untuk membagi ruang kenampakan (atau

pengukuran) ke dalam wilayah-wilayah yang tepat. Tiap wilayah secara idealnya harus
mengandung titik-titik hanya dari satu kelas.
Pendekatan lain adalah klasifikasi tidak tersedia yang tidak memakai sampel latihan.
Pembagian ruang kenampakan dilaksanakan dengan metode analisis Muster yang dapat
mengidentifikasi kelompok-kelompok pola alam. Sifat setiap kelompok kemudian ditentukan
dengan uji lapangan. Klasifikasi tidak tersedia umumnya tidak seefektif klasifikasi tersedia,
karena tidak adanya kelompok contoh uniuk mengontrol hasil, khususnya apabila kelas-kelas
hanya bisa dipisahkan secara marginal. Namun, klasifikasi tersedia masih terlalu lambat guna
menangani arus data satelit multispektral secara besar-besaran. Untuk analisis yang optimal,
telah dilakukan prosedur paduan dengan penggabungan keuntungan klasifikasi tersedia
dengan tidak tersedia (Swain dan Davis, 1978). Hasil klasifikasi ini dengan pendekatan bantuan
komputer dapat berupa keluaran seperti peta-peta printer garis atau tayangan pada tabung
sinar katoda. Informasi numerik atas daerah yang kelas-kelasnya terpetakan atau frekuensi
peristiwa setiap kelas dan data statistik lain yang bermanfaat dapat pula ditayangkan dengan
komputer, apabila diperlukan.
Bidang aplikasi utama fotografi udara untuk hidrologi terletak pada perekaman dan
pemantauan sejumlah air di lingkungan permukaan dan bawah permukaan. Bagian spektrum
elektromagnetik tampak (0,4-0,7 m) khususnya cocok untuk mendelineasi daerah banjir,
mendeteksi turbiditas air atau wama, memantau perubahan kedalaman permukaan air dan
mengidentifikasi salju dan es di permukaan litosfer.
Pada pembicaraan sebelumnya, fotografi udara pankromatik hitam-putih telah dikerjakan.
Namun, menguntungkan menggunakan fotografi berwarna dan inframerah berwarna untuk
interpretasi geologi, geomorfologi dan hidrologi, khususnya bila memakai pendekatan
kualitatif. Hal ini disebabkan karena mata manusia mampu membedakan lebih banyak
kombinasi hue, value dan chroma pada fotografi berwarna daripada bayangan abuabu/fotografi hitam-putih (Strandberg, 1968), sehingga membuat sejumlah kenampakan
permukaan yang lebih besar dapat diidentifikasi melalui wamanya. Namun, pada ketinggian
tinggi pelemahan wama disebabkan oleh pencaran dan serapan atmosfer telah
mengakibatkan pengurangan kontras pada foto berwarna asli, namun pada foto udara
inframerah berwarna karena panjang gelombangnya lebih panjang (0,7 m) kembali
menunjukkan kontras warna yang baik dan telah diketahui paling baik untuk pemetaan
geologi (Pressman, 1968).