Anda di halaman 1dari 32

UNIVERSITAS INDONESIA

Final Report-Tas Swa Bersih dan Anti Polutan

Kelompok 1
Kharis Mukhifullah (1006679705)
Mohammad Sofa Khodi (1106068453)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingginya kebutuhan akan tas pada zaman sekarang sudah tidak bisa
dipungkiri lagi. Hampir untuk semua kegiatan outdoor, orang akan menggunakan
tas sebagai salah satu sarana meletakkan barang-barangnya. Bahkan tidak jarang,
tas merupakan mode untuk menunjukkan keanggunan pemakainya.
Terlepas dari semua fungsi tas, ada beberapa keluahan yang biasa dialami
oleh pemilik tas yang ada. Keluhan tersebut adalah kotor dan bau. Adapun
penyebab dua hal ini adalah kegiatan outdoor yang memungkinkan kontak dengan
polusi dan zat pengotor lainnya, seperti debu ataupun pewarna. Hal inilah yang
membuat para pemakai tas akan segera mencucinya atau dalam kasus terburuk
membeli tas yang baru.
Selain itu, di zaman yang serba modern ini, kita tidak akan pernah terlepas
dari polusi yang ada di sekitar, terutama polusi udara. Setiap ada kendaraan
bermotor lewat, pasti terdapat polusi yang bisa terhirup oleh hidung. Selain itu,
banyaknya perokok yang ada disekitar turut menyumbang dalam masalah polusi
udara. Polusi udara ini dapat menimbulkan banyak gangguan kesehatan.
Sebagian besar produk tas yang beredar di pasaran, tidak dapat mengatasi
permasalahan di atas. Ternyata, ada satu tas yang telah dikembangkan di Jepang
yang memiliki kemampuan untuk menghilangkan bau dan anti-bakteri dengan
harga 350rb. Namun, hal tersebut belum mempunyai fitur self-cleaning dan juga
mendegradasi polutan sekitar.
Dari permasalahan-permasalah di atas, maka timbul lah suatu gagasan
mengenai modifikasi kain tas sehingga memiliki fungsi swa bersih (selfcleaning), anti-bau dan anti polutan.

1.2 Rumusan Masalah


Masalah yang akan diteliti adalah apakah kain yang telah dilapisis dengan TiO 2
yang diakan memiliki kemampuan untuk miliki sifat swa bersih dan juga
mendegradasi senyawa organic dari asap rokok.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Melakukan pelapisan kain kanvas dengan TiO2
2. Menguji Aktivitas kain kanvas berlapis katalis TiO2 untuk uji decolorization
methyl orange, degradasi asap rokok dibawah sinar matahari.
1.4 Batasan Masalah
1.4.1

Kain yang digunakan adalah kain kanvas

1.4.2

Katalis menggunakan TiO 2 murni tanpa dopant

1.4.3

Asap yang digunakan adalah asap rokok

1.4.4

Pewarna yang digunakan adalah Metyl Orange

1.4.5

Uji dilakukan di bawah sinar matahari pada pukul 11.00-14.00

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan kali ini adalah sebagai berikut:
BAB 1
PENDAHULUAN
Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penelitian, batasan masalah dan sistematika penulisan.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tinjauan pustakan yang membahas, teori serta penelitian yang
telah dilakukan mengenai penelitian yang terkait, seperti, fenomena
fotokatalis, swa-bersih, oksidasi NOx, penggunaan TEOS, dan lainlain.

BAB 3

METODE PENELITIAN
Berisi tentang diagram alir penelitian, variable penelitin, alat dan
bahan, serta prosedur pernelitian, pengol ahan dan analisis data, dan
cara penyimpulan serta penafsiran hasil penelitian.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berisi tentang hasil penelitian yang bersifat kualitatif serta analisis
mengenai hasil yang didapat. Di bagian ini juga terdapat analisis
ekonomi berdasarkan hasil survey.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN


Berisi kesimpulan yang didapat dari penelitian dan juga saran yang
patut diperhatikan jika penelititan ini dilanjutkan.

DAFTAR PUSTAKA
Berisi semua referensi yang telah diapakai dalam menyusun laporan
ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Prinsip Dasar Fotokatalis
Fenomena fotokotalisis pertama kali dilakukan oleh Renz pada tahun 1921.
Dalam

penelitiannya

dia

melaporkan

fenomena

fotokatalisis

pada permukaan

semikonduktor metal-oksida. Akan tetapi, penelitian tersebut bersifat stagnan karena


pada saat itu masih kurang diminati. Kemudian pada tahu 1972, dengan adanya isu
krisis energi maka fotokatalis ini pun semakin popular karena dapat
hidrogen

yang

menghasilkan

lebih ramah lingkungan. Fujishima dan Honda mempublikasikan

fenomena fotokatalisis dimana terjadi pemecahan H2 O menjadi hidrogen dan oksigen


dengan input sinar UV yang memiliki energi yang rendah. Aplikasi teknologi untuk
fenomena ini menjadi lahan penelitian yang terus berkembang. Salah satu aplikasi
yang banyak berkembang dari teknologi material fotokatalis TiO 2 adalah upaya untuk
untuk meminimalkan zat organic berbahaya

yang

disebabkan

oleh

pencemaran

limbah industri maupun limbah rumah tangga.


Fotokatalis

dapat

difenisikan

sebagai

suatu

proses

reaksi

kimia

yang

melibatkan cahaya dan katalis padat seperti semikonduktor. Proses reaksi kimia
tersebut

dapat digunakan sebagai media untuk mengubah zat-zat berbahaya

menjadi

zat-zat

permukaan

yang

yang

lebih

bersifat

ramah

sebagai

lingkungan.

pengoksidasi

Fotokatalisis
yang

kuat

menghasilkan

sehingga

dapat

digunakan untuk mengurangi zat-zat yang berbahaya seperti senyawa organik atau
bakteri ketika dikenakan cahaya matahari atau lampu yang berpijar. Fotokatalis dapat
terjadi pada material semikonduktor antara lain zink oksida (ZnO), Titanium
Oksida (TiO 2 ), Zink Sulfida (ZnS), Tungsten Oksida (WO 3 ), Stronsium Titanat
(SrTiO 3 ),

dan

(-Fe2 O3 ).

hematite

Fotokatalis semikonduktor sudah banyak

menarik perhatian pada pengolahan air limah dalam beberapa dekade ini, karena
semikonduktor dapat menghasilkan radikal hidroksil bebas (OH)
memineralisasi
sumber

zat-zat

oksidator

yang

kuat

berbahaya. Radikal

sekaligus

akselator

hidroksil
proses

yang dapat

(OH) merupakan

penyisihan kontaminan

dalam limbah. Pemilihan Radikal hidroksil (OH)

sebagai oksidator kuat adalah

karena memiliki potensial oksidasi relatif paling tinggi, yaitu 2.8 V. Tabel

2.1

menunjukkan bahwa potensial radikal OH ini merupakan oksidator yang paling


kuat.

Potensial oksidasi yang tinggi tersebut membuat radikal OH mampu

mengoksidasi senyawa-senyawa reduktor lain yang ada disekitarnya.


Tabel 2.1. Potensial Oksidasi dari beberapa Senyawa
Senyawa
Radikal OH
Radikal Sulfat
Ozon
H2 O2
Ion Permanganat
Chlorin
Hyposclorous Acid
O2

Potensial Oksidasi (V)


2.8
2.6
2.1
1.77
1.67
1.36
1.5
1.23

Mekanisme Fotokatalis
Proses reaksi pada fotokatalisis melibatkan kehadiran pasangan elektron dan
hole (e- dan h+) dan pasangan tersebut akan tercipta akibat penyinaran pada material
semikonduktor. Jika semikonduktor TiO 2 dikenai cahaya yang sama atau lebih besar
dari energi celah pita, maka elektron pada TiO 2 akan tereksitasi dari pita
valensi menuju pita konduksi, pasangan
terbentuk

pada

elektron

(e-)

dan lubang (h+) akan

permukaan fotokatalis. Elektron akan berkombinasi dengan

oksigen membentuk O 2- dan lubang (h+) akan berkombinasi dengan air membentuk
radikal hidroksil. Sebagian dari pasangan elektron-hole ini akan berkombinasi
kembali dan sebagian lagi akan bertahan pada permukaan semikonduktor. Pasangan
elektron-hole yang bertahan pada permukaan dapat mereduksi dan mengoksidasi zat
kimia yang berbahaya yang berada disekitarnya.
Pada prinsipnya, reaksi oksidasi pada permukaan semikonduktor dapat
berlangsung melalui donor elektron dari subsrat ke h+.

Apabila potensial oksidasi

yang dimiliki oleh h+ pada pita valensi ini cukup besar untuk mengoksidasi air pada

permukaan partikel, maka akan dihasilkan gugus hidroksil. Berikut adalah reaksi
kimia yang terjadi pada fotokatalis TiO ::
TiO2 + hv

eCB- + hVB+

(1)

hVB+ + H2 O(ads)

OH(ads) + H+

(2)

hVB+ + OH(ads)

OH(ads)

(3)

dimana:

Di

hv

: sinar ultra violet dengan panjang gelombang < 400 nm

hVB+

: lubang positif pada pita valensi

eCB-

: elektron pada pita konduksi

antara

berbagai

macam

semikonduktor

oksida

logam,

Titanium

dioksida atau titania atau TiO 2 merupakan salah satu semikonduktor oksida yang
telah

dipelajari

secara

ekstensif

sebagai

fotokatalis

sejak

ditemukan

efek

sensitisasi cahaya oleh Honda dan Fujishima pada tahun 1971 karena memiliki sifat
kimia fisik yang menguntungkan, biaya rendah, mudah untuk didapatkan, kestabilan
dan
ini

ketahanan
memiliki

terhadap korosi pada media air. Akan tetapi, semikonduktor


kelemahan

yakni

membutuhkan

energi

UV

yang tinggi untuk

mengeksitasi elektron dan laju transfer elektron yang rendah untuk oksigen dan laju
rekombinasi yang tinggi antara pasangan elektron-hole, dan laju oksidasi nanopartikel
TiO2 yang terbatas. Pada beberapa tahun belakangan ini, nanopartikel ZnO
merupakan alternatif yang dapat menggantikan semikonduktor TiO2 . Subtitusi TiO 2
dengan ZnO

sebagai fotokatalis memiliki mekanisme degradasi foton yang sama

dengan TiO 2 . K. Gouvea et al. Melaporkan bahwa ZnO memberikan efisiensi yang
lebih baik dibandingkan dengann TiO 2 sebagai fotokatalisis dalam larutan air.
Aplikasi Fotokatalis
Fotokatalis yang dikenai cahaya UV dapat digunakan untuk mengoksidasi
polutan organik menjadi material yang tidak berbahahaya dan dapat membasmi
bakteri. Fotokatalis TiO 2 mempunyai sifat self-cleaning yaitu daya membersihkan
sendiri seperti debu pada kaca yang dapat dibersihkan dengan air hujan dan

membuat eksterior bangunan tetap bersih. Selain itu, fotokatalis dapat juga
digunakan untuk mereduksi atau mengeleminasi senyawa-senyawa polutan pada
udara seperti NO x dan asap rokok.
2.2 TiO2
Titanium dioksida, dikenal juga sebagai titanium (IV) oksida atau titania,
adalah oksida dari titanium dengan rumus molekul TiO 2 . TiO 2 memiliki indeks bias
2,49 dan kerapatan 3,83 gr/cm3 dengan berat molekulnya 79,89 gr/mol dan struktur
kristal tetragonal. TiO 2 merupakan bubuk berwarna putih yang digunakan secara luas
sebagai pewarna putih pada makanan dan kosmetik. Berdasarkan struktur kristalnya,
TiO2 dibagi menjadi tiga jenis (Fujishima, et al., 1999) yaitu:
1. Rutile

: stabil pada suhu tinggi, bentuk kristalnya tetragonal, dan

terdapat pada batuan beku.


2. Anatase

: stabil pada suhu rendah, bentuk kristalnya tetragonal.

3. Brookite

: biasanya hanya terdapat pada mineral, dengan struktur

kristalnya orthorombik.

a. Rutile

b. Anatase
Gambar 2.1. Struktur Kristal TiO 2

c. Brookite

(Sumber: http://ruby.colorado.edu/~smyth/min/tio2.html)

Dari ketiga jenis kristal TiO 2 di atas, hanya rutile dan anatase yang
keberadaannya cukup stabil dan banyak dipakai untuk reaksi fotokatalisis. TiO 2 jenis
rutile lebih stabil secara termodinamika daripada jenis anatase tetapi TiO 2 jenis
anatase menunjukkan fotoaktivitas yang lebih tinggi daripada jenis rutile. Struktur
anatase dan rutile digambarkan dalam bentuk rantai oktahedral TiO 6 . Struktur kedua
kristal dibedakan oleh distorsi oktahedron dan pola susunan rantai oktahedronnya.
Setiap

ion

Ti4+

dikelilingi oleh

enam atom O 2-.

Oktahedron

pada

rutile

memperlihatkan sedikit distorsi ortorhombik, sedangkan oktahedron pada anatase


memperlihatkan distorsi yang cukup besar sehingga relatif tidak simetri. Jarak Ti-Ti
pada anatase lebih besar yaitu 3.79 dan 3.04 serta 3.57 dan 2.96 untuk
rutile,sedangkan jarak ion Ti-O lebih pendek dibandingkan rutil yaitu 1,937 dan
1,966 pada anatase dan 1,946 dan 1,983 untuk rutile. (Linsebigier, et al., 1995)
TiO2 jenis anatase umumnya menunjukkan fotoaktivitas yang lebih tinggi
daripada jenis rutile karena luas permukaan anatase lebih besar daripada rutile,
sehingga sisi aktif per unit anatase lebih besar dibandingkan rutile. Pada rutile setiap
oktahedronnya mengalami kontak dengan 10 oktahedron tetangganya, sedangkan
pada anatase setiap oktahedron mengalami kontak dengan 8 oktahedron tetangganya.
Perbedaan dalam struktur kisi ini menyebabkan perbedaan massa jenis dan struktur
pita elektronik antara dua bentuk TiO 2 yaitu anatase memiliki daerah aktivasi yang
lebih luas dibandingkan rutile sehingga kristal tersebut menjadi lebih reaktif terhadap
cahaya dibandingkan rutile. Selain itu karena perbedaan dalam struktur pita energi.
(Linsebigier, et al., 1995)
Kristal rutile memiliki struktur yang lebih padat dibandingkan anatase,
karenanya memiliki densitas dan indeks refraktif yang lebih tinggi dimana massa
jenis anatase: 3,894 gr/cm3; rutil: 4,250 gr/cm3; indeks bias anatase dan rutile
berturut-turut adalah 2,5688 dan 2,9467. (Gunlazuardi, 2001)
TiO2 jenis anatase mempunyai energi celah 3,2 elektron Volt (eV) yang
sebanding dengan cahaya UV ( = 388 nm). Sedangkan, energi celah pita untuk TiO2

jenis rutile adalah 3,0 elektron Volt (eV) yang sebanding dengan cahaya UV ( = 413
nm) (Fujishima, et al., 1999).
Dalam terminologi yang lebih teknis, energi celah pita untuk semikonduktor
menunjukkan energi cahaya minimum yang diperlukan untuk menghasilkan elektron
pada pita konduksi, sehingga menghasilkan konduktivitas listrik dan hole pada pita
valensi yang mengalami kekosongan elektron. Hole ini dapat bereaksi dengan air atau
gugus hidroksil untuk menghasilkan radikal hidroksil (OH). Radikal hidroksil
merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat, sehingga dapat digunakan untuk
mengoksidasi sebagian besar material organik (Fujishima, et al., 1999).
TiO2 banyak diaplikasikan pada pengolahan air limbah dikarenakan:

Proses fotokatalisis dapat berlangsung pada kondisi normal, yaitu pada


temperatur kamar dan tekanan atmosfer.

Pembentukan produk intermediet hasil fotokatalisis, tidak seperti pada teknik


fotolisis langsung dapat dapat dihindari.

Oksidasi substrat menjadi CO berlangsung sempurna.

Harga TiO 2 tidak mahal dan dapat diregenerasi.

TiO2 dapat diimmobilisasikan pada substrat reaktor yang sesuai


2.2 Tetraethyl orthosislicate (TEOS)
TEOS digunakan sebagai prekursor atau sumber silika dalam pembuatan material
mesopori. TEOS termasuk jenis senyawa silikon alkoksi yang terdiri dari atom

Si

yang berikatan dengan gugus organik (OR) dengan rumus kimia Si(OC2H5)4.
Sifat fisik TEOS dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Sifat fisik TEOS
Berat Molekul
208,33
Berat Jenis
0.94 gr/cc3
Titik Didih
189 o C
Titik Lebur
-88 o C
Senyawa yang banyak digunakan dalam sintesis material mesopori adalah
tetramethylorthosilicate (TMOS, Si(OCH3 )4 ) dan tetraethylorthosilicate (TEOS,

Si(OCH2 CH3 )4 ). Pada penelitian ini, prekursor yang digunakan adalah TEOS.
Gambar 2.2 menunjukkan struktur TEOS.

Gambar 2.2. Struktur kimia TEOS


Alasan pemilihan TEOS dikarenakan TEOS dapatmenjadi binder pada
substrat yangakan dilapisi oleh TiO2 seperti pada gambar 2.3.

Gambar 2.3. Binding Reaction TEOS pada substrat dan TiO 2


Selain itu, dengan adanya binder ini, TiO 2 akan tersebar lebih merata dan
kemungkinan akan terbentuknya aggregate pada substratae akan menjadi kecil.
2.3 Kain Kanvas
Kain kanvas adalah sejenis kain buatan pabrik yang berserat tebal dan sangat
kuat. Bahan ini awalnya digunakan untuk membuat lukisan. Pada perkembangannya
kain kanvas mulai digunakan untuk membuat tas, sepatu, jaket, tenda, terpal, penutup
truk, payung taman, dan berbagai macam aksesoris. (Fiinline.com, 2013).
Bahan kanvas yang pada jaman dahulu terbuat dari jerami memang terkenal
sebagai kain yang sangat kuat dan kokoh. Walaupun saat ini kanvas banyak terbuat
dari kapas atau linen, namun tidak mengurangi kekuatan dari kain kanvas itu sendiri.

Terdapat juga kain kanvas yang terbuat dari bahan sintetis misalnya dari polyester,
namun biasanya bahan polyester tersebut dicampur dengan katun.

Gambar 2.4. Kain Kanvas


Kanvas terbuat serat kapas yang diolah sedemikian rupa sehingga memiliki tebal
yang lebih dibandingkan kain pada umumnya, misal katun. Karena terbuat dari serat
kapas, maka sifat-sifat fisika dan kimia pada kain kanvas akan hampir sama dengan
kain pada umumnya, meskipun dalam segi ketahana terhadap ragangan akan berbeda
karena tenunan untukjenis-jenis kain berbeda.
Bahan kanvas stabil terhadap regangan dan kekuatannyaakan meningkat seiring
dengan ditambahkannya pewarna (swewe.net, 2012). Namun, performa kain kanvas
akan sedikit menurun dengan ditambahnya suatu asam, terutama asam kuat.
2.4 Mekanisme Swa Bersih
Mekanisme swa bersih dari suatu substrate yang telah dilapisis oleh fotokatalis
sangat berkaitan erat dengan sifat superhidrofilik dari suatu substrate tersebut setelah
tersinari oleh cahaya.
Mekanismenya adalah sebagai berikut :

Oksigen vacen inilah kemudian yang diisi oleh atom Oksigen (O) pada air, sedangkan
atom H air yang tersisa akan mempunyai ikatan hydrogen dengan molekul air di
atasnya. Seperti terlihat pada gambar dibawah ini :

2.5 Mekanisme degradasi polutan (asap putih)


Mekanisme degradasi polutan merupakan terdegradasi senyawa-senyawa polutan
seperti NOx,VOC dll. Dikatakan bahwa asap putih dari rokok adalah senyawa air
yang berfasa uap akibat dari pambakaran ditambah dengan senyawa NOx dan juga
VOC. Oleh karena itu, penting untuk mengetahuibagaimana mekanisme yang terjadi
untuk menghilangkan asap putih tersebut mengingat percobaan yang dilakukan
adalah secara visual.

Mekanismenya adalah:

Oksidasi menggunakan radikal OH

Oksidasi menggunakan radikal O 2 -

Sedangkan untuk degradasi VOC, mekanismenya adalah :


TiO2 + h (UV)

TiO 2 (eCB- + hVB+) .(1)

TiO 2 (hVB+) + H2 O

TiO2 + H+ + OH-

(2)

TiO2 (hVB+) + OH-

TiO2 + OH.

(3)

TiO2 (eCB-) + O 2

TiO2 + O2 .-

..(4)

Dye or VOC + O2 .-

Dye or VOC + OH.

Degradation of Product (CO2 +H2O).(5)

Degradation products (CO2 +H2O) .(6)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Diagram Alir Proses
Preparasi kain berlapis TiO 2

Uji Kinerja Kain

Uji Swa Bersih

Uji Degradasi Asap

Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian


Gambar 3.1 menjelaskan gambaran besar penelitian yang dilakukan.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
3.2.1. Bahan
1. TiO2 P2 Degussa 2g
2. TEOS 1.2 ml
3. HNO 3
4. Tanah
5. Asap Rokok
6. Kain Kanvas
7. Air
8. Methyl Orange
3.2.2. Peralatan
1. Beaker Glass 500ml dan 100ml
2. Pipet
3. Kaca Arloji

4. Sonicator Probe
5. Timbangan Analitik
6. pH indikator
7. Magnetic stirrer
8. Labu Ukur
9. Hair Drier
3.3 Prosedur Preparasi

Setelah melakukan pelapisan, barulah kita melakukan pengujian.


3.4 UJi Kinerja Kain terlapisis Katalis
a.
Degradasi Pewarna
Pencelupan Kain berlapis TiO2 dan tidak
pada larutan MeO 5 dan 20 ppm

Penjemuran kain dibawah sinar matahari


selama 4 jam

Menganalisa Hasil

b.

Swa Bersih
Menjemur kain di bawah sinar matahari
selama 2 jam

Memasukkan kain dalam tanah yang


tersuspensi dalam air

Mengangakat kain dan menganalisa hasil

c.

Degradasi Polutan
Menjemur kain di bawah sinar matahari
selama 2 jam

Memasukkan kain dalam dalam syringe

Mengisi syringe dengan udara bebas

Mengisi dengan Asap rokok

Menunggu selama 20 menit dan


menganalisis hasil

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Departemen Teknik KimiaFakultas Teknik
Univerisitas Indonesia dan juga outdoor disamping gedung Departemen Teknik
Kimia.
4.1. Hasil Preparasi Kain berlapis TiO 2
Pada penelitian ini, seperti yang telah dipaparkan pada prosedur, katalis
dipreparasi dengan membuat sol TiO2 kemudian di sonikasi. Setelah disonikasi
barulah diberi TEOS dan kemudian dilapiskan pada kain dengan hasil sebagai
berikut:

Gambar 4.1. kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan)
Terlihat pada gambar di atas bahwa kain yang terlapisis dengan fotokatalis akan
terlihat lebih putih dibandingkan dengan kain yang tidak terlapisi. Hal ini karena
sudah terdapat TiO 2 yang berwarna putin yang menempel. Hal in imenunjukkan
bahwa pelapisan katalis yang digunakan cukup berhasil. Kain yang telah terlapisi
oleh TiO2 akan diuji cobakan sebanyak 3 kali percobaan.
4.2. Penngujian Swa Bersih dengan 2 pengotor
Pada percobaan kali ini, kain akan diuji dengan menggunakan dua pengotor yaitu
zat warna dan juga tanah/debu pengotor yang tersuspensi dalam air.

4.2.1 Zat Warna Methyl Orange (MeO)


Kain yang terlapisi dengan TiO 2 dan juga kain pembanding yang tidak dilapisi
oleh TiO 2 akan dicelupkan pada dua buah larutan MeO berbeda konsentrasi yaitu
20 ppm dan 5 ppm. Hasil pencelupannya adalah sebagai berikut.

Gambar 4.2. kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
MeO 5 ppm

Gambar 4.3. Kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
MeO 20 ppm
Setelah itu, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari selama 4 jam dari jam
11.00 sampai jam 14.00. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Gambar 4.4. kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
MeO 5 ppm setelah penjemuran

Gambar 4.5. Kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
MeO 20 ppm setelah penjemuran
Dari gambar 4.4 dan 4.5, terlihat bahwa, kain yang terlapisi dengan TiO 2 akan
terlihat lebih bersih.Hal ini karena pewarna (MeO) akan terdegradasi sehingga
warna yang ada pada kain akan kembali seperti semula. Dari eksperimen ini pula
bahwa untuk konsentrasi yang cukup tinggi, TiO 2 tidak mendegradasi secara
sempurna terlihat dari kain yang masih terdapat sedikit pewarnayang tersisa
padagambar 4.5.

4.2.2 Tanah tersuspensi dalam air


Kain yang terlapisi dengan TiO 2 dan juga kain pembanding yang tidak dilapisi
oleh TiO 2 akan dicelupkan pada tanah yang tersuspensi dalam air.

Gambar 4.6. Kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
sebelum dicelupkan pada suspensi tanah

Gambar 4.7. Tanah tersuspensi dalam air

Gambar 4.6. Kain tidak berlapis TiO 2 (kiri) dan Kain berlapis TiO 2 (kanan) pada
setelah dicelupkan pada suspensi tanah

Terlihat dari gambar di atas bahwa kain yang terlapisi oleh TiO2 akan terlihat
lebih bersih dari partikulat. Hal ini karena sifat superhidrofilik yang dimiliki oleh
kain berapis TiO2 menyebabkan kain tersebut memiliki sifat superhidrofilik
sehingga akan menghalangi partikulat-partikulat untuk langsung menyentuh kain
sehingga kain tidak mudah kotor.
4.3. Degradasi Polutan (Asap)
Pada percobaan kali ini, kain akan diujicobakan untuk mendegrdasi asap rokok
yang berwarna putih. Penyebab rokok berwarna putih dikarenakan air dalam
vasa uap akibat terbakarnya senyawa organic. Hal ini juga ditambah dengan
adanya NOx dan juga VOC yang menambah pekat asap yang ada. Oleh karena
itu, parameter percobaan ini berhasil adalah menghilangnya asap yang ada pada
ruang yang telah diberi kain berlapis TiO 2 . Percobaan ini dilakukan pada syringe
50 ml. Sebelum kain dimasukkan pada syringe, kain terlebih dahulu disinari
dibawah sinar matahasi selama 3 jam.

Gambar 4.7. Syringe berisi kain berlapis TiO2 (kiri), tidak berlapis (tengah), dan
tanpa kain (kanan) sebelum diisi asap

Gambar 4.8. Syringe berisi kain berlapis TiO2 (kiri), tidak berlapis (tengah), dan
tanpa kain (kanan) setelah diisi asap.
Langkah selanjutnya adalah menunggu sampai 20 menit kemudian melihat hasil
yang terjadi.

Gambar 4.9. Syringe berisi kain berlapis TiO2 (kiri), tidak berlapis (tengah), dan
tanpa kain (kanan) setelah ditunggu selama 20 menit.
Dari gambar di atas,terlihat bahwa syringe yang telah diberi kain yang
berlapi katalis TiO2 akan lebih cepat jernih dibandingkan dengan yang tidak
dilapisi serta yang tidak diberi kain. Hal ini menunjukkan bahwa TiO2 yang
berada pada katalis yang ada permukaan kain akan mengoksidasi air menjadi
radikal OH, radikal OH ini akan mndegradasi NOx dan VOC yang ada dalam
asap rokok tersebut. Terdegradasinya NOx dan VOC dan terpakainya H2O yang
ada asap akan menghilangkan warna asap rokok lebih cepat dibandingkan
dengan yang tanpa katalis TiO 2 .

4.2 Analisis Survey


Dari penyebaran survei, kami mendapatkan 76 orang responden dimana 43
orang responden laki-laki dan 33 orang sisanya responden wanita. Dari responden
tersebut, kami olah dalam bentuk grafik-grafik seperti dibawah ini:

Ti da k
Ta hu
8%

Ti da k
Ta hu
4%

Pria Dewasa

Mahasiswa

Ti da k
Penti ng
33%

Ti da k
Penting
33%

Penti ng
59%

Ti da k
Ta hu
4%

Penti ng
63%

Mahasiswi
Ti da k
Ta hu
25%

Wanita Dewasa

Penting
37%

Penti ng
44%
Ti da k
Penti ng
52%
Ti da k
Penti ng
38%

Grafik 1. Tingkat Kepentingan Kemampuan SWA Bersih Pada Tas


Dari grafik ini, dapat dilihat bahwa kemampuan SWA Bersih pada tas itu
cukup penting jika dibandingkan dengan responden yang memilih tidak penting di
kalangan mahasiswa dan pria dewasa. Berbeda dengan kalangan mahasiswi yang

menganggap kebanyakan tidak penting dan wanita dewasa yang hampir sama
persentasenya antara penting dan tidak penting.
Ti da k Di pikirka
Terta ri k
n
6%
Da hulu
10%
Tertari k
Aga r
Ti da k
Mencuci
42%
Terta ri k
Ingi n
Mencob
a
42%

Mahasiswa
Terta rik
Aga r
Ti da k
Mencuc
i
17%

Terta rik
Ingi n
Menco
ba
33%

Ti da k Pria
Terta rik
0%

Dewasa

Di pikirk
an
Da hulu
50%

Terta ri k
Aga r
Ti da k
Mencuci
28%

Ti da k
Terta ri k
4%

Tertari k
Ingi n
Mencob
a
56%

Mahasiswi
Terta ri k
Aga r
Ti da k
Mencuci
13%

Di pikirka
n
Da hulu
12%

Wanita Dewasa

Terta ri k
Ingi n
Mencob
a
50%

Ti da k
Terta ri k
25%

Di pikirka
n Da hulu
12%

Grafik 2. Ketertarikan pada Tas SWA Bersih


Sedangkan untuk ketertarikan pada Tas SWA Bersih atau self cleaning, ratarata tertarik di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi yang hampir seratus persen
dan wanita dewasa yang diatas lima puluh persen baik tertarik karena ingin mencoba
keampuhan teknologi ini(warna abu-abu) maupun tertarik karena nantinya tidak repot
untuk memikirkan kebersihan tas(warna kuning). Untuk pria dewasa, hanya lima
puluh persen yang tertarik dan sisanya masih ragu-ragu sehingga dipikirkan terlebih
dahulu.

500-1jt 50-100
3%
7%

50-100
16%

500-1jt
20%

300500
19%

300-500
16%

100300
71%

Mahasiswa

Wanita Dewasa

Pria Dewasa

500-1jt
300-50013%
0%

500-1jt 50-100
0%
8%

300-500
50%

100-300
48%

Mahasiswi

50-100
12%

100-300
42%

100-300
75%

Grafik 3. Harga Tas yang dipakai Responden


Harga tas yang dipakai responden mahasiswa maupun wanita dewasa rata-rata
berkisar antara seratus ribu rupiah sampai tiga ratus ribu rupiah. Sedangkan
mahasiswi dan pria dewasa, harga tas yang berkisar antara seratus ribu rupiah sampai
tiga ratus ribu rupiah hanya dipakai oleh kurang dari sebagian responden. Untuk pria
dewasa sendiri, sebagian dari responden memakai tas yang harganya berkisar antara
tiga ratus ribu rupiah sampai lima ratus ribu rupiah.

400
10%

400+
0%

Mahasiswa
400
13%

Mahasiswi

400+
4%

250
35%

250
48%

300
35%

300
55%

400+
0%

Pria Dewasa
250
27%

400
36%

Wanita Dewasa

300
14%

300
37%

400+
400
0%

250
86%

Grafik 4. Harga Tas SWA Bersih yang Kami Ajukan


Dari harga tas SWA Bersih yang kami ajukan, hasilnya sangat beragam. Ada
yang menyanggupi dengan harga dua ratus lima puluh ribu rupiah, tiga ratus ribu
rupiah, bahkan empat ratus ribu rupiah. Tapi, rata-rata dari responden banyak yang
memilih dua ratus lima puluh ribu rupiah dan tiga ratu ribu rupiah.
SPESIFIKASI PRODUK
Spesifikasi dari produk kami adalah:

Berbahan Kanvas

Memiliki kemampuan SWA Bersih dan Anti Polutan

Ukuran 17-19 liter

Dikhususkan untuk Kalangan Mahasiswa, Mahasiswi, dan Pria Dewasa.

Modal yang kami dibutuhkan per tasnya berdasarkan asumsi kami yaitu:

Bahan Kanvas

Rp. 8.000,-

Biaya Modifikasi Kanvas

Rp. 7.000,-

Biaya Pernak-Pernik

Rp. 5.000,-

Ongkos Jahit

Rp. 5.000,-

Biaya Pemasaran

Rp. 5.000,-

Total

Rp. 30.000,-

Sedangkan Tas dapat dijual seharga Rp. 250.000,- sampai Rp. 300.000,-. Tentu ini
adalah bisnis yang sangat menguntungkan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
1. Kain berlapis TiO2 terbukti dapat mendegradasi senyawa organik MeO di bawah
sinar matahari.
2. Kain berlapis TiO2 mempunyai sifat sangat hidrofilik sehingga tidak mudah
kotor.
3. Kain berlapis TiO2 terbukti dapat mendegradasi senyawa organik dari asap rokok.
4. Lebih dari 50% masyarakat antusias terhadap produk tas Swa bersih dan Anti
Polutan.
5. Dari hasil survey yang ada, harga yang ditawarkan untuk produk tas berteknologi
fotokatalis adalah Rp. 250.000,- sampai Rp. 300.000 per 19 Liter.
5.2 SARAN
Dari hasil yang dihasilkan terlihat bahwa pelapisan pada kain kanvas dapat
memberikan efek swa bersih serta mendegradasi senyawa organic polutan. Dari
hasil ini terlihat potensi pengembangan kain jenis lain sebagai substrat kain yang
bersifat swa bersih,misal untuk aplikasi pakaian, jaket, karpet ataupun barangbarang lainnya yang membutuhkan sifat swa bersih dan juga anti polutan. Oleh
karena itu, perlu adanya pengkajian dan penelitian lebih lanjut mengenai kainkain jenis lain sehingga aplikasi dari fotokatalisis lebih meluas

DAFTAR PUSTAKA
Fujishima, A, and Honda, K. (1972). Electrochemical photolysis of water at a
semiconductor electrode. Nature 238, 37.
Subramani, A.K., Byrappa, K., Ananda, S., Ray, K.M.L., Ranganathaniah, C., and
Yoshimura, M. (2007). Photocatalytic Degradation of Indigo Carmine Dye
Using TiO2 Impregnated Activated Carbon. Bull.Mater. Sci, vol 31, Indian
Academy of Sciences, p 37-41.
Xiao Qi, Yao Chi. (2010). Preparation and visible light photocatalytic activity
of Zn1-xFexO nanocrystalline. School of Resourcess Processing and
Bioengineering, Central South University, Changsa 410083, China.
Andreozzi, R., Caprio, V., Insola, A., Marotta, R. and Sanchirici,. (200). Advanced
Oxidation Processes for the Treatment of Mineral Oil-Contaminated
Wastewater. Water Res. 34, 620-628.
Bauer,

M., Herrmann, R., Martin, A. and Zellmann, H. (1998).


Chemodynamics, Transport Behaviour and Treatment of Phthalic Acid
Esters in Municipal Landfill Leachates. Wat. Sci. Tech. 38, 185-192.

Parekh Bipin, et. al. (2007). Advance Photocatallytic Oxidation Techjiques for
Purification of Immersion Lithography Water. The Materials integrity
management company.
Bismo Setijo. 2006. Teknologi Radiasi Sinar Ulta-Ungu (UV) dalam Rancang
Bangun Proses Oksidasi Lanjut untuk Pencegahan Pencemaran Air dan Fasa
Gas: Departemen Teknik Kimia FTUI.
C. Chen, J. Liu, P. Liu, B. Yu. Investigation of Photocatalytic Degradation of Methyl
Orange by Using Nano-Sized ZnO Catalyst. Advance in Chemical
Engineering and Sceince, 2011, 1, 9-14.
K. Gouvea, F. Wypych, S. G. Moraes, N. Duran, N. Nagata and P. Peralta-Zamora,
Semiconductor-Assisted Photocatalytic Degradation of Reactive Dyes in
Aqueous Solution, Chemosphere, Vol. 40, 2000, pp. 433-440. doi:
10.1016/S0045-6535(99)00313-6.
Brinker C.J., Scherer G.W., Sol-Gel Science-The Physics and Chemistry of Sol-Gel
Processing ; Academic Press; San Diego; 1990.

Gunlazuardi, J. 2001. Fotokatalisis pada Permukaan TiO2 : Aspek Fundmental dan


Aplikasinya. Seminar Nasional Kimia Fisika II. Jurusan kimia, FMIPA,
Universitas Indonesia
Fujishima, A., K. Hashimoto, T. Watanabe. 1999. TiO2 Photocatalysis Fundamentals
and Applications. B.K.C, Inc. Japan.
Hutabarat, Romaida. 2012. Sintesis dan Karakteristik Fotokatalis Fe2+-ZnO Berbasis
Zeolit Alam. Depok.
Setiawan, Budi. 2012. Ekstraksi TiO2 Anatase Dari Ilmenite Bangka Melalui
Senyawa Antara Ammonium Perokso Titanat Dan Uji Awal
Fotoreaktivitasnya. Depok
Alfaruqi, M. Hilmy. 2008. Pengaruh Konsentrasi Hidrogen Klorida(HCl) dan
Temperatur Perlakuan Hidrotermal Terhadap Kristalinitas Material
Mesopori Silika. SBA-15. Depok