Anda di halaman 1dari 2

Nama : Akbar Restu Illahi

NIM : 15.8483
Kelas : 1C

RANGKUMAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008
TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (atau dikenal dengan UU ITE) merupakan UU yang dibuat dengan
mempertimbangkan bahwa teknologi informasi telah berkembang pesat dan menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sehingga dibutuhkan suatu peraturan
untuk mengelola informasi dan transaksi elektronik di Indonesia agar ada landasan
hukum yang tegas dan mengikat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pemanfaatan
teknologi ITE.
Dalam Bab I UU ITE didefinisikan bahwa informasi elektronik adalah satu atau
sekumpulan data elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar,
peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic
mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, kode akses,
simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh
orang yang mampu memahaminya. Sedangkan yang dimaksud dengan transaksi
elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan komputer,
jaringan komputer, dan/atau media elektronik lainnya.
Dijelaskan dalam Bab II bahwa kemanfaatan teknologi ITE dilaksanakan
berdasarkan asas kepastian hukum, manfaat, kehati-hatian, iktikad baik, dan kebebasan
memilih teknologi atau netral teknologi. Tujuan pemanfaatan teknologi ITE yang ada di
UU ini antara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik, dan memberikan
kepastian hukum bagi pihak-pihak pemanfaat teknologi ITE.
Dalam Bab III dinyatakan bahwa informasi elektronik dan/atau dokumen
elektronik merupakan alat bukti hukum yang sah selama menggunakan sistem
elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU ITE dan informasi yang
tercantum di dalamnya dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat
dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.

Bab IV membahas tentang sertifikasi elektronik dan tanda tangan elektronik, di


mana dinyatakan bahwa setiap orang berhak menggunakan jasa penyelenggara
sertifikasi elektronik untuk pembuatan tanda tangan elektronik baik itu dengan jasa
penyelenggara sertifikasi elektronik Indonesia maupun asing.
Bab V mengatur tentang transaksi elektronik di mana transaksi elektronik dapat
dilakukan dalam lingkup publik maupun privat. Dalam pelaksanaannya harus
berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terlibat (pengirim dan penerima) serta harus
mematuhi peraturan yang telah dibuat pemerintah.
Dalam Bab VI dikatakan bahwa siapapun berhak memiliki nama domain
berdasarkan prinsip pendaftar pertama serta dalam pemilikan dan pemanfaatannya harus
didasarkan pada iktikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat,
dan tidak melanggar hak orang lain.
Dalam Bab VII diterangkan tentang perbuatan yang dilarang sehubungan dengan
pemanfaatan teknologi ITE, antara lain dilarangnya muatan yang melanggar kesusilaan,
mengandung perjudian, penghinaan, pencemaran nama baik, pemerasan, ancaman,
berita bohong dan menyesatkan, rasis, melakukan intersepsi, mengakses yang bukan
haknya, melakukan penyadapan, mempublikasikan informasi rahasia dan larangan
menyediakan bantuan dilakukannya pelanggaran-pelanggaran tersebut.
Apabila terjadi pelanggaran terhadap UU ITE maka pelakunya dapat dituntut
baik pidana maupun perdata, di mana yang berhak menjadi penyidik adalah pejabat
POLRI atau PNS yang diberi wewenang untuk melakukan penyidikan terhadap
pelanggaran UU ITE. Ancaman hukumannya berupa pidana penjara dan denda uang.
Tuntutan juga dapat diajukan jika terjadi persengketaan antara dua atau lebih pihak.
Dalam UU ITE dijelaskan pula peran pemerintah dalam ITE yaitu antara lain
memfasilitasi pemanfaatan teknologi ITE, melindungi kepentingan umum dari berbagai
gangguan sehubungan dengan ITE, dan menetapkan instansi atau institusi yang
memiliki data elektronik strategis yang wajib dilindungi. Dijelaskan pula peran
masyarakat yang antara lain melakukan peningkatan pemanfaatan teknologi ITE melalui
pemanfaatan teknologi ITE sesuai dengan aturan dalam UU ITE serta dalam rangka
pemanfaatan tekologi ITE dapat diselenggarakan melalui lembaga yang dibentuk
masyarakat di mana lembaga tersebut dapat memiliki fungsi konsultasi dan mediasi.