Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Calculous disease of the biliary tract adalah istilah umum yang digunakan
kepada penyakit gall bladder dan biliary tree yang merupakan akibat langsung batu
empedu.Penyakit batu empedu merupakan penyakit yang paling lazim mempengaruhi
sistem biliary. Tingkat kelaziman yang benar sulit ditentukan karena calculous disease
bisa terjadi sering berupa simtomatik.
Terdapat perubahan besar berkenaan dengan kelaziman penyakit batu empedu
di seluruh dunia. Tingkat kemunculan yang tinggi terjadi di Amerika Serikat, Chili,
Swedia, Jerman, dan Austria.Kelaziman antara masyarakat Masa Afrika Timur adalah
0%

sedangkan pada wanita Indian Pima mendekati 70%. Populasi orang Asia

tampaknya memiliki kemunculan penyakit batu empedu terendah. Di AmerikaSerikat,


kira-kira 10 15% populasi dewasa memiliki batu empedu, dengan perkiraan satu juta
kasus terjadi tiap tahun. Batu empedu merupakan penyakit gastrointestinal yang paling
umum membutuhkan perawatan di rumah sakit. Biaya tahunan batu empedu di
Amerika Serikat diperkirakan sebesar 5 miliar dolar.
Gambar 1.Letak biliary tree di dalam tubuh

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1 Definisi
Batu empedu, atau cholelithiasis, merupakan massa padat yang terbentuk dari
endapan empedu. Batu-batu ini terjadi di kandung empedu atau saluran empedu (
saluran yang bermula dari liver ke usus kecil). Ada dua tipe batu empedu: batu
kolesterol dan pigmen. Keduanya memiliki epidemiologi dan factor risiko unik
tersendiri. Batu kolesterol berwarna kuning-hijau dan terutama terbuat dari kolesterol
yang mengeras. Batu kolesterol, sebagian besar ditemukan pada wanita dan orang
gemuk, berhubungan dengan empedu supersaturated (sangat jenuh) dengan kolesterol.
Sebanyak 80% batu empedu dan lebih sering menyebabkan obstruksi dan inflamasi.
Batu pigmen bias berupa batu hitam atau cokelat. Batu pigmen hitam terbuat dari
bilirubin atau kalsium murni atau campuran dari kalsium, tembaga, dan banyak
glycoprotein. Batu empedu ini secara khas terbentuk dalam kondisi stasis (sebagai
contoh, nutrisi parenteral) atau kelebihan bilirubin yang tak terkonjugasi (sebagai
contoh hemolysis atau sirhosis). Batu pigmen hitam lebih besar kemungkinan tetap di
gall bladder.Batu pimen cokelat tersusun dari garam kalsium bilirubin yang tak
terkonjugasi dengan sejumlah kecil kolesterol dan protein. Batu-batu ini sering berada
di saluran empedu menyebabkan obstruksi dan biasanya ditemukan dalam kondisi
dimana terdapat empedu yang terinfeksi. Batu pigmen cokelat sering ditemukan di
negara-negara Asia dan jarang terlihat pada pasien di AmerikaSerikat (Gambar 2).
Gambar 2.Gambar batu kolesterol dan pigmen

Batu empedu terbentuk ketika empedu, yang

tersimpan di gall bladder,

mengeras menjadi potongan-potongan material padat. Proses ini membutuhkan tiga


kondisi. Kondisi pertama adalah empedu harus supersaturate dengan kolesterol. Ini
mungkin terjadi ketika ada kelebihan kolesterol dengan penurunan jumlah garam
empedu normal atau tingkat kolesterol normal dengan penurunan jumlah garam
empedu. Kondisi kedua adalah meningkatnya cholesterol crystal nucleation atau
transisi cepat dari cairan menjadi Kristal. Ini terjadi ketika ada kelebihan faktor-faktor
nucleation atau ketiadaan penghambat nucleation. Kondisi ketiga untuk pembentukan
batu empedu adalah hipomotilitas kandung empedu, sebuah kondisi yang mana Kristal
tersisa di gall bladder cukup panjang untuk membentuk batu.
Gambar 3.Susunan empedu dengan hubungan yang menghasilkan susunan batu
empedu

Penyakit batu empedu bisa jadi tidak simtomatik hingga ada komplikasi.
Komplikasi ini sering disebabkan oleh inflamasi, infeksi, atau obstrucksi duktus.
Komplikasi penyakit calculous termasuk: acute cholecystitis, choledocholithiasis,
cholangitis, pancreatitis, emphysematous cholecytitis, Mirizziz syndrome, dan
porcelain gall bladder.

2.2 Anatomi
Gall bladder berada di bawah permukaan hati, dikelilingi oleh pembuluh darah,
jaringan penghubung, dan limfe. Gall bladder memiliki empat bagian ; fundus, body,
infundibulum, dan leher. Gall bladder mengakhiri diduktus sistikus dan kemudian
memasuki percabangan extra hepatic biliary. Fundus adalah organ bulat, bertepi
tumpul. Fundus tersusun dari jaringan fibrotik dan tepat di lobus kanan hati. Fundus
mengarah ke bagian body gall bladder, bagian terbesar.Permukaan superior body
dilekatkan pada permukaan visceral hati, kecuali jika mesentery ada. Hubungan dekat
ini memudahkan penyebaran langsung inflamasi, infeksi, atau neoplasia ke dalam
parenkim hati. Infundibulum merupakan daerah empedu yang meruncing di antara
body dan leher kandung empedu. Bagian ini dan permukaan bebas body kandung
empedu membentang dekat dengan bagian pertama dan kedua duodenum dan dekat
dengan fleksura hepatik kanan dan sepertiga bagian kanan kolon transversal.
Infundibulum melekatkan permukaan bagian kanan kolon transversal pada bagian
kedua duodenum oleh ligamen cholecystoduodenal. Diameter bagian leher kandung
empedu berukuran 5 7 mm dan sering berbentuk huruf S; di bagian superior dan ke
kiri, dipisahkan batas sempit dengan duktus sistikus.
Gambar 4. Anatomi sistem billary

Duktus hepatis kanan dan kiri bergabung pada posisi ekstrahepatik di beberapa kasus.
Panjang duktus lobus hepatik bervariasi dari 0,5 1,5 cm. Biasanya, duktus lobus
ekstrahepatik kananmenggabungkan duktus kiri yang lebih panjang pada dasar cabang
kanan. Duktus hepatis komunis dibentuk oleh penyatuan duktus hepatis kanan dan kiri.
Pada kasus yang jarang segmen kanan duktus menyatu dengan duktus hepatis kiri
membentuk duktus ketiga. Mungkin saja ada banyak variasi di sistem duktus kiri.
Gambar 5. Variasi dalam anatomi pembuluh darah hepar

Dua puluh persen populasi memiliki duktus hepatikus aksesorius. Pada individu ini
duktus

yang

menyimpang

duktus

yang

menyimpang

(duktus

aberrant)memasukicommon hepatic duct biasa di berbagai lokasi sepanjang bagiannya.


Pada beberapa kasus langka duktus aberrant atau sebuah duktus di lobus yang
berlawanan. Biasanya, bagaimanapun, duktus aberrant ini ini berada pada sisi kanan.

Level hepatocyte-cholangiocyte adalah permulaan system drain se empedu dan


dimana bagian-bagian membrane hepatosit membentuk kanalikuli (saluran-saluran
kecil). Empedu mengalir dari tempat ini keduktus intrahepatik. Sistem pembuluh
canaliculi dan proximal bertemu di terusan Hering. Duktus yang lebih kecil bergabung

untuk membentuk duktus empedu segmental. Duktus duktus segmental di dalam hati
membentuk duktus hepatic kanan dan kiri. Kesatuan duktus di segmen hepar II, III,
dan IV membentuk duktus lobar kiri. Duktus hepatik kanan mengaliri segmen V, VI,
VII, dan VIII.
Pembatas duktus intrahepatic adalah cholangiosit (sel-selepithelial). Jaringan
kompleks kolangiosit saling menghubungkan lobus yang terlibat dalam proses sekresi
dan absorpsi. Kolangiosit dapat berbentuk kuboid di duktus yang lebih kecil.
Berbentuk kolumnar pada struktur yang lebih besar dan berisi mikrovili yang
meluaskan area permukaan. Sel sel ini dipercaya memainkan peranan dalam fungsi
transportasi (protein dari limf atau plasma ke empedu). Memungkinkan juga bahwa sel
sel ini terlibat dalam transpor dan metabolisme asam empedu. Biasanya sel sel ini
merupakan tanggung jawab hormon.
Arteri hepatic timbuldari celiac axis yang berjalan melewati bagian atas
pancreas menuju hati. Arteri hepatik memberi kenaikan pada arteri gastroduodenal
posterior dan superior keduodenum. Arteri hepatik terbagi menjadi cabang kanan dan
kiri kemudian kecabang-cabang yang lebih kecil. Di banyak kasus, sepertiga arteri
memenuhi bagian-bagian segmen IV dan lobus kanan hati.
Vena hepatik kanan, tengah, dan kiri mengalirkan bagian terbesar dari aliran
hepatik ke vena kava inferior. Masing-masing memiliki segmen extrahepatic yang
pendek. Vena terbesar, hepatik kanan, mengaliri lobus kanan hati. Vena di bagian
tengah mengaliri segmen medial lobus kiri dan beberapa segmen anterior kanan.
Bagian tengah vena hepatik bergabung dengan hepatic vein kiri dengan variabilitas di
satu titik. Vena hepatik kiri mengaliri ke segmen lateral kiri hati.
Sistem vena portal memanjang dari intestinal capillaries ke hepatik sinusoids.
Sistem vena ini membawa darah dari traktus gastrointestinal abdomen, pancreas, gall
bladder, dan limpa kembali kejantung (mengalir lewat hati). Pembuluh terbesar di
system ini adalah portal vena porta, yang dibentuk oleh kesatuan vena splenika dan
vena mesenterika superior. Vena gaster kanan dan kiri dan bagian vena posterior
pancreaduodenal superior mengalir secara langsung ke vena porta. Vena porta berjalan

dari arah posterior ke pancreas, dan panjang ekstrahepatiknya dapat berukuran 5 9


cm. Pada porta hepatika,pembuluh darah dibagi menjadi vena porta kanan dan kiri di
hati. Dan vena sistikus mengaliri cabang hepatik kanan.
Vena porta menyuplai 70% aliran darah kehati, tapi hanya 40% suplai oksigen
kehati. Sisa darah berasal dari arteri hepatik, dan darah dari kedua pembuluh darah ini
yang bercampur di sinusoid.

2.3 Etiologi
Usia
Timbulnya penyakit batu empedu meningkat dengan usia. Sejumlah gejala penyakit
saluran empedu jarang terjadi pada usia di bawah 20 tahun, dan ketika ditemukan pada
kelompok ini, biasanya di antara pasien dengan kondisi seperti fibrosis atau hemolytic
anemia.
Obat-obatan
Banyak obat telah mengimplikasi penyakit batu empedu. Penyebab paling umum
termasuk ceftriaxone, clolibrate, oral contraceptives, pengganti estrogen, progestogens,
octreotide. Beberapa obat disekresikan kedalam empedu dan bias mengendap, dan
membentuk batu. Campuran lain dapat menghasilkan gall bladder stasis

seiring

dengan peningkatan pada sekresi kolesterol kedalam empedu.


Jenis kelamin
Batu empedu biasanya terjadi lebih sering pada wanita daripada pria. Penelitian telah
menunjukkan bahwa penyakit batu empedu umumnya terjadi pada wanita muda namun
jarang pada pria muda. Bagaimanapun, perbedaan nya menyempit seiring
bertambahnya usia. Diperkirakan bahwa alasan untuk perbedaan jenis kelamin ini
adalah hormonal. Serum estrogen
meningkatkan

kolesterol

jenuh

meningkat (khususnya selama kehamilan)

empedu

bisamenjadihambatankontraksi gallbladder.

dan

progesterone

yang

meningkat

Geografis dan Etnis


Bangsa Indian Pima Arizona memiliki prevalensi kejadian batu empedu tertinggi di
dunia. Sembilan puluh persen wanita Pima berusia lebih dari 65 mengidap penyakit
batu empedu. Wanita Indian Miomac Kanada, Hispanics, dan Meksiko juga memiliki
prevalensi penyakit batu empedu yang lebih tinggi, sebagai mana baik pria maupun
wanita di Norwegiadan Chili. Risiko atas penyakit ini kelihatannya lebih rendah pada
orang berkulit hitam. Tidak ada manusia yang gennya telah teridentifikasi terkait
dengan perkembangan batu empedu secara meyakinkan.
Obesitas
Obesitas merupakan factor risiko signifikan untuk penyakit batu empedu, khususnya
pada wanita. Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita dengan berat badan lebih
dengan indeks massa tubuh lebih besar dari atau sama dengan 30kg/m2 memiliki risiko
penyakit batu empedu dua kali lebih besar dibandingkan wanita dengan berat badan
normal kurang dari 25kg/m2. Hipersekresi kolesterol (berhubungandenganobesitas)
adalah factor patogenik utama. Penyakit batu empedu juga dikaitkan dengan distribusi
lemak regional. High central atau truncal adiposity dihubungkan secara positif dengan
risiko penyakit batu empedu. Aktivitas fisik dan diet telah diteliti secara terpisah
sebagai factor risiko untuk penyakit batu empedu. Peningkatan aktivitas fisik yang
sangat tinggi dan aktivitas rekreasi tampaknya mengurangi risiko penyakit batu
empedu.

Penurunan Berat Badan


Peningkatan risiko penyakit batu empedu bias ditemukan di antara individu yang
mengalami penurunan berat badan dengan cepat pada diet yang sangat rendah kalori.
Susunan batu empedu merupakan satu dari komplikasi paling signifikan dari rencana
penurunan berat badan. Dalam hal ini, kolesterol diaktifkan dari jaringan adipose
disekresikan kedalam empedu. Ini mengakibatkan kejenuhan kolesterol dan penurunan
kontraksi gall bladder, menghasilkan stasis. Penelitian telah menunjukkan bahwa

orang-orang dengan rencana penurunan berat badan, baik secara dramatis mengurangi
diet kalori atau prosedur penurunan berat badan melalui operasi, memiliki pengaruh
perkembangan penyakit batu empedu yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka
yang tidak melakukan diet. Fluktuasi berat badan juga bias menjadi faktor risiko.

2.4 Diagnosis
Pemeriksaan fisik pasien dengan gejala terkait batu empedu sering benar-benar
normal.Bagaimanapun, kadang-kadang gall bladder dapat diraba dan mungkin ada
kelembutan subcostal dengan Murphys sign, yang mana bernada cholecytitis akut.
Uji Laboratorium
Uji biokimia atas fungsi hati abnormal hanya ketika ada komplikasi batu empedu. Pada
cholecytitis akut, mungkin ada leukocytosis dengansebuah left shift. Batu empedu
menyebabkan pancreatitis akut dengan peninggian bersamaan dalam tingkat amylase
dan lipase.Batu empedu yang menyebabkan gangguan saluran empedu biasa akan
menghasilkan peninggian hepatic transaminases dan alkalin fosfat.
Pemeriksaan radiologis
Kebanyakan batu empedu, khususnya yang berupa asimtomatik, secara tidak sengaja
ditemukan ketika pasien menjalani imaging untuk masalah lain. Dalam situasi dimana
indeks kecurigaan atas batu empedu yang rumit tinggi berdasarkanpada riwayat dan uji
fisik pasien, terdapat prosedur invasive dan non invasive.Prosedur-prosedur ini
digunakan untuk menentukan ada tidaknya batu empedu serta lokasinya di gallbladder
dan/atau biliary tree.
Ultrasonografi
Uji non invasive terbaik untuk mendeteksi batu empedu di gall bladder adalah
ultrasonografi abdominal karena kekhususan dan sensitivitas yang tinggi (90-95%)
(Gambar 8).Ultrasonografi merupakan prosedur yang mana gelombang suara
digunakan untuk menciptakan gambaran organ. Ini merupakan prosedur sederhana,

tidak membutuhkan persiapan khusus, tidak menggunakan radiasi ionisasi, dan


memberikan informasi anatomi yang akurat. Gas intramural dan kumpulan cairan
perichocysitic menunjukkan inflamasi atau infeksi gall bladder aktif.Ultrasound
mungkin juga menunjukkan hambatan jarak dengan penemuan saluran empedu
intrahepatic atau extrahepatic yang meluas. Pengujian ini kurang berguna untuk
mengeluarkan batu empedu yang menghalangi saluran empedu biasa.

CT Scan
Penemuan penyakit calculous bias menggunakan computed tomography (CT)Scan.
CT scan berguna dalam menunjukkan massa dan saluran empedu yang meluas,
walaupun CT scan ini tidak bias diandalkan untuk diagnosis penyakit calculous.
Penggunaan dasarnya adalah deteksi komplikasi batu empedu seperti cairan
perichocysiti, gas di dinding gallbladder, perforasi gallbladder, dannanah.Uji
noninvasive

inimungkinbisamembentumenentukanpasienmana

yang

membutuhkanintervensioperasimendesak.

MRI dan MRCP


Magnetic

resonance

Cholangio pancreatography (MRCP) adalah

aplikasi yang relative baru yang memanfaakan gambaran MRI


dengan software khusus. MRCP mampu menghasilkan gambar yang
sama

dengan

ERCP

tanpa

risiko

sedation,

pankreacitis,

atau

perforasi. MRCP berguna dalam memeriksa anatomi hambatan


biliary dan saluran pancreas. Hal itu telah ditunjukkan untuk menjadi
efektif dalam mendeteksi batu empedu dan untuk mengevaluasi gall
bladder untuk adanya cholecycitis.Saat ini kekurangan utama MRCP
berada pada pengalaman interpretasi dokter.Selainitu, prosedur
tersebut tidak membolehkan intervensi therapeutic seperti ERCP.

Oral cholecystography
Oral cholecystography adalah uji non invasive yang lain, walau pun
jarang digunakan. Dalam mempersiapkan prosedur ini, pasien harus
mencerna satu dosis contrast agent pada sore hari sebelum
pengujian. Contrast ini diserap dan di sekresikan kedalam empedu.
Iodine di dalam contrast menghasilkan opasifikasi gall bladder. Batu
empedu

tampak

sebagai

kerusakan.

Kegunaan

utama

oral

cholecystography adalah untuk membangun dari saluran alami.


Informasi ini dibutuhkan sebelum mencoba lithotripsy atau metode
medis untuk melarutkan batu empedu.Kekurangan utama oral
cholecystography adalah bahwa hal tersebut membutuhkan 48 jam
perform, yang membatasi kegunaan pada pasien dengan cholecstitis
akut dan komplikasi batu empedu.
Cholecystography
Cholecystography

menggunakan

manfaat

dari

intravenous

radioactive iminodiacetic acid derivative. Derivative yang dilabeli ini


diserap

dengan

cepat

oleh

hati

dan

dikeluarkan

keempedu.Pengamatan berturut-turut menunjukkan radioaktivitas di


dalam gall bladder, saluran empedu biasa, dan bowel kecil dalam 30
60 menit. Gall bladder yang tidak berfungsi merupakan diagnose
dari cholecytitis akut (Gambar 10). Cholescintigraph bias jadi dapat
digunakan untuk menentukan apakah cholecystectomy empiris akan
menguntungkan pasien dengan sakit empedu kronis tanpa batu
empedu.

Pemanjangan

puasa

dan

cholecytitis

menghasilkan hasil positif yang salah.


Endoscopic diagnosis
Endoscopic RetrogadeCholangiopencreatography (ERCP)

akut

dapat

ERCP adalah standar emas untuk deteksi batu empedu pada saluran
empedu biasa dan memiliki keuntungan menjadi cara pengobatan
pilihan untuk membuang batu saluran empedu.
ERCP merupakan teknik endoskopi untuk visualisasi empedu dan saluran pancreas.
Selama prosedur ini, dokter menempatkan sebuah side-viewing endoscope
(duodenoscope) dalam usus dua belas jari menghadap papilla utama (gambar
11).Duodenoscope secara khusus didesain untuk memfasilitasi penempatan asesoris
endoskopik kedalam saluran empedu dan pancreas. Asesoris endoskopik mungkin
dijalankan lewat terusan biopsy kedalam saluran empedu dan pancreas (Gambar
12).Kateter digunakan untuk menyuntikkan dye kedalam kedua saluran empedu dan
pancreas untuk memperoleh gambar x-ray menggunakan fluoroscopy. Selama prosedur
ini, dokter dapat melihat dua gambar, gambar endoskopi usus dua belas jari dan major
papila, dan gambar fluoroscopic saluran biliary dan pancreas.

Beragam alat dapat digunakan lewat duodenoscope (Gambar 13) seperti kateter,
sphinder phones, wire baskets, brushes, biopsy forcept, danslent. Alat lithotripsy, untuk
tujuan mekanik atau elektrohidrolik litotripsi. Peralatan ini digunakan ketika batu
empedu berukuran besar dan harus dihancurkan ke dalam bentuk yang lebih kecil
untuk memfasilitasi perpindahan atau ketika duktus empedu terlalu sempit dan
menunjukkan perpindahan yang lamban. Gambar dapat diambil sebagai dokumentasi.
Kamera video juga dapat digabungkan dengan perubahan gambar gerak berwarna
selama prosedur endoskopi
Endoscopic Ultrasonography
Endoscopic Ultrasonography (EUS) sangatlahteknis, prosedurdiagnosarisikorendah
yang menggunakan frekuensi ultrasound tinggi selama endoskopi untuk mengevaluasi

dan mendiagnosa kelainan saluran pencernaan. EUS dapat digunakan untuk


pemeriksaan duktus biliaris komunis dan kandung empedu. EUS menggunakan
deudenoskop dengan ultrasound yang dapat digunakan untuk mencitrakan organ,
pembuluh darah, pembuluh limfe, dan duktus biliaris. Dari sebuah posisi di perut atau
duodenum, endoskopi memvisualisasikan pankreas dan batas batasnya.
EUS dapat dengan akurat mendiagnosa keberadaan atau ketiadaan batu empedu pada
saluran empedu biasa namun kurang kegunaan therapeutic ERCP . EUS lebih besar
kemungkinan untuk digunakan ketika probabilitas pengujian awal dalam menemukan
batu empedu rendah, terutama pada pasien beresiko tinggi. EUS lebih disukai pada
situasi ini karena EUS kurang komplikasi potential ERCP.
2.5 Penatalaksanaan
Terdapat sejumlah opsi penanganan pasien dengan batu empedu simtomatik.
Setiap opsi penanganan memiliki hasil yang berbeda untuk pasien dengan karakteristik
klinis berbeda. Pasien simtomatik harus ditangani untuk meringankan gejala-gejala dan
mencegah perkembangan komplikasi di masa yang akan datang. Tidak ada keuntungan
untuk propilaksis yangditangani; pasien dengan gejala asimtomatik harus dirawat.
Terapi Medis
Beberapa opsi penanganan medis tersedia untuk batu empedu simtomatik.
Terputusnya terapi oral melibatkan sejumlah agen yang menganggu perkembangan
batu empedu di dalam gall bladder. Kedua penghambat urodeoxycholic acid
daninhibitor HMG CoAreduktasemenekansintesis kolesterol hepatik de - novo. Hal ini
menghasilkan sekresi empedu tersaturasi, mempermudah disolusi batu. Pemilihan

pasien dengan teliti merupakan penentu utama hasil. Agen-agen ini hanya berguna
pada batu kolesterol non kalsifikasi kecil yang memiliki gall bladder fungsional.
Hanya 15% pasien memenuhi syarat, terapi memakan waktu selama 6 12 bulan, dan
batu empedu muncul lagi pada 50% pasien dalam 5 tahun.
Terapi Pembedahan
Cholecystectomy adalah satu-satunya penanganan definitive untuk batu empedu
simtomatik. Tiap tahun, kira-kira 500.000 orang Amerika melakukan cholecystectomy.
Pada awalnya cholecystectomy merupakan standar pilihan pembedahan untuk pasien
di masalalu, cholecystectomy laparoskopi telah menggantikan prosedur terbuka
sebagai opsi penanganan dalam semua pilihan kecuali beberapa hal. Cholecystectomy
laparoskopi adalah prosedur invasif minimal yang mana ahli bedah membuat beberapa
insisi kecil di abdomen dan menggunakan kamera video kecil untuk memperbesar
organ rongga perut. Menggunakan monitor video untuk menuntun tindakannya, ahli
bedah mengidentifikasi, mengisolasi, dan memindahkan gall bladder dari hubunganyya
kehati dan saluran empedu lewat laparoskop (gambar 15). Prosedur tersebut tidak
melibatkan insisi abdominal yang besar dan rasa sakit yang lebih sedikit, waktu
opname yang lebih pendek,dan lebih sedikit cuti. Sesekali ahli bedah mungkin
memulai prosedur menggunakan pendekatan laparoskopi dan kemudian mungkin harus
mengganti ke prosedur terbuka karena adanya luka, infeksi, atau anatomi empedu yang
berbeda. Tingkat penggantian yang dilaporkan sekitar 5% dan lebih biasa dengan
prosedur darurat. Komplikasi paling sering pada prosedur adalah luka pada saluran
empedu (kejadian ini dapat sering ditangani secara efektif dengan ERCP dan memulai

peletakan di sisi lain papilia untuk memungkinkan penyembuhan daerah saluran


empedu yang terluka).
Gambar 15. A, B, Tehnik cholecystectomy

Extracorpeal Shock Wave Lithotripsy


Extracorpeal shock wave lithotripay (ESWL) merupakan alternatif nonbedah untuk
mengatasi batu empedu. Tidak ada anastesi umum yang dibutuhkan dan pasien
mungkin hanya perlu rawat jalan. Metode ini menggunakan gelombang suara berenergi
tinggi yang menghasilkan gelombang kejut. Gelombang kejut ini dipancarkan lewat air
dan jaringan dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan gelombang dengan daya
rentang tertentu. Disintegrasi dan fragmentasi terjadi dengan menghasilkan tenaga
yang cukup kuat untuk menghancurkan batu.

ESWL mungkin menjadi opsi bagi para pasien yang merupakan calon pasien bedah
yang miskin dengan gall bladder yang berfungsi, memiliki duktus sistikus, memiliki
batu kolesterol non kalsifikasi dengan diameter antara 4 30 mm, dan kurang dari
atau sama dengan 3 batu.Kehamilan, cholangitis, penghambatan saluran empedu biasa,
pancreas, dan coagulopathy adalah kontra indikasi untuk ESWL. Dikarena kan criteria
pemilihan yang ketat, kurangdari 15% pasien dengan penyakit calculous biliary tract
akan menjadi kandidat yang sesuai untuk gelombang kejut extracorponal. Efek
samping dari prosedur ini termasuk perubahan dinding dan kulit perut (aechymosis,
petachiae), rasa sakit, hematuria, nausea, emesis, dankolik bilier. Fragmentasi batu
besar oleh fluoroscopically menuntun alat mekanis dapat dicapai pada kebanyakan
kasus dan melengkapi clearance

ductal sering berhasil. Karena laparoscopic

cholecystectomy diterima secara luas dan mungkin bias dilakukan pada pasien rawat
jalan, lithotripsy gelombang kejut extracorpornal belum memperoleh ketenaran yang
baik.
Terapi Percutaneous
Pada pasien beresiko tinggi dengan beberapa penyakit akut, intervensi pembedahan
mungkin berhubungan dengan meningkatnya ketidaksehatan dan kematian
Pendekatan percutaneous sebagai terapi mungkin kurang invasive dari pada
pembuangan gallbladder. gallbladder mungkin bias diakses secara perkutaneus dan
mungkin batu empedu dibuang atau dipecahkan. Pendekatan percutaneous

pada

gallbladder melibatkan dua jalur: transperitoneal dan transhepatik. Penelitian telah


menunjukkan bahwa pendekatan terhadap gallbladder lebih sulit karena menempatkan
kolon kanan atau hati, dan akibatnya, pendekatan ini digunakan pada kurang dari 20%

pasien. Pendekatan transhepatik digunakan kira-kira 80% karena mudah dan aman.
Percutaneous cholecystectomy melibatkan kebocoran pada gall bladder, tract, dan
membuang batu empedu dengan cholecyscope. Keuntungan prosedur ini adalah
pembuangan segera batu empedu yang tidak hancur, produksi pecahan batu empedu
dan pengurangan bahaya berkaitan dengan endapan yang memasuki duktus sistikus.
Percutaneous cholecystectomy mengacu pada disintegrasi batuempedu yang terlalu
besar untuk dibuang menggunakan satu dari dua alat; ultrasonografi, electrohydraulic
Terputusnya terapi mungkin dilakukan dengan perkutaneus dengan menginjeksikan
pelarut langsung kedalam gall bladder via kateter dianggap memiliki aktivitas in vitro
yang tinggi dalam melarutkan batu kolesterol namun kurang dalam Disolusi memakan
waktu 1- 3 minggu dan hasilnya tidak selalu konsisten. Methyl bias membersihkan
batu kolesterol dalam hitungan jam hingga hari tapi ini membentuk racun, anastetik
inflamasi dengan efek samping dan masih merupakan prosedur percobaan yang
digunakan dalam pusat-pusat khusus. Tingkat kekambuhan batu empedu tidak
diketahui dengan sisi sebaliknya. Kedua pelarut mungkin memiliki beberapa peran
dalam perawatan pasien dengan batu empedu simtomatik yang merupakan pasien
bedah yang kurang mampu.
Endoscopic Gallbladder Stenting
Endoscopic gall bladder stenting adalah pendekatan non-bedah lain untuk penanganan
batu empedu yang berguna bagi pasien berisiko tinggi. Prosedur ini menggunakan
endoscopic retrograde cholangio pancreatography (ERCP) untuk memasukkan stent
dari gall bladder ke duodenum guna meringankan gejala dan komplikasi pada pasien

berisiko tinggi. Kabel hidriphilic dijalankan dari ampulla of Vater kedalam duktus
biliaris komunis ke gall bladder melalui duktus sistikus. Sebuah rasobiliary pigtail
catheter, atau double-pigtailed stent, dinaikkan melewati kabel hidrofilik ke gall
bladder. Prosedur ini telah berhasil pada pasien berisiko tinggi. Prosedur ini kurang
invasive daripada cholecystectomy dan pasien mungkin keluar dengan cepat. Selain
itu, tak seperti prosedur lain yang membiarkan gall bladder utuh, susunan batu
berikutnya tidak menghalangi keefektifan endoscopic stenting.

2.6 Komplikasi
Acute cholecystitis
Komplikasi batu empedu paling banyak adalah cholecystiti sakut. Cholecystitis
akut biasanya disebabkan oleh impakasi batu empedu pada duktus sistikus. Empedu
yang terjerat di gall bladder menyebabkan kerusakan mukosa gall bladder dan
inflamasi dinding gall bladder. Ciri khususnya adalah nyeri perut, kelembutan kuadran
atas kanan. demam (biasanya<1020F), dan leukocytosis (<16.000). Manajemen yang
optimal atas pasien dengan cholecytitis merupakan cholecystectomy. Terduga
cholecytitis akut dikonfirmasi dengan ultrasonografi dan cholescintigrafi kuadran
kanan atas.
Choledocholithlasis
Choledocholithlasis mungkin didiagnosa dan ditangani dengan endoskopik atau
percutaneous cholangiography. Ini merupakan komplikasi yang terjadi ketika batu

empedu dipindahkan keduktus biliaris komunis. Sedangkan batu empedu di gall


bladder biasanya bersifat jinak seperti kolik bilier atau cholecytitis akut yang berulang,
choledocholithilasis dapat menghasilkan kondisi yang mengancam hidup seperti
cholangitis (infeksibakteriempedu yang dihambat) atau pancreactis akut.
Choledocholithilasis disebabkan oleh migrasi batu kolesterol atau pigmen
hitam dari gall bladder kedalam duktus biliaris komunis. Gejala-gejala dikaitkan pada
tingkat serangan dan derajat hambatan dan kontaminasi bakteri yang berpotensi
mengobstruksi empedu. Kondisi tersebut sering berupa asimtomatik tapi, jika ada,
sama dengan kolik biliar. Temuan-temuan fisik sering tidak ada jika obstruksi
intermiten. Bagaimanapun, jika obstruksi dapat terjadi jaundice. Jika jaundice
dihubungkan dengan rasa nyeri, maka batu-batu tersebut kemungkinan penyebabnya.
Pengujian laboratorium menunjukkan peningkatan bilirubin dan alkaline phospase jika
obstruksi berada di duktus biliaris komunis, sedangkan peninggian di pancreatic lipase
dan amylase terjadi jika batu empedu menyebabkan obstruksi duktus pankreatikus.
Standar baku emas untuk diagnose dan penanganan obstruksi batu empedu pada
duktus biliaris komunis dan atau duktus pancreatic utama adalah ERCP.
Jika cholangitis terjadi, rasa nyeri, jaundice, demam, mental confussion,
letargidan delirium dapat terjadi. Terapi dengan antibiotic intravena dan pembuangan
batu yang mengobstruksi dengan ERCP diindikasikan. Pankreatitis dapat terjadi jika
batu mengobstruksi duktus biliaris komunis, duktus pankreatikus dapat diobati dengan
pembuangan batu yang mengobstruksi dengan ERCP. Jika ERCP tidak berhasil atau
sulit didapatkan dapat dilakukan pembuangan dengan menggunakan metode

perkutaneus, menggunakan perlengkapan yang sama dengan alat alat yang digunakan
pada metode endoskopi.