Anda di halaman 1dari 10

TUGAS ARTIKEL BIOMATERIAL

PERLAKUAN PADA PERMUKAAN TITANIUM IMPLAN


UNTUK MENDAPATKAN OSSEOINTEGRASI

Disusun Oleh:

Fathoni Ahmad

3334122566

JURUSAN TEKNIK METALURGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015

Titanium murni maupun paduannya merniliki sifat biokompatibilitas dan


biomekanis (sifat mekanis yang sesuai dengan jaringan tubuh) yang lebih baik dari
logam lain serta secara biologi bersifat inert, dan memiliki ketahanan korosi yang
sangat tinggi yaitu dengan spontan dapat membentuk lapisan titanium oksida (Ti02)
di permukaannya. Pembentukan lapisan ini dapat terjadi baik di lingkungan udara
maupun elektrolit. Lapisan ini mempunyai biokompatibilitas yang baik di dalam
tubuh manusia, dan mencegah lepasnya (leaching) material di bawahnya ke dalam
tubuh pasien. Apabila lapisan ini terkelupas akibat gaya mekanis atau penyebab lain
di permukaan titanium maka segera material titanium membentuk lapisan titanium
oksida yang baru dalam orde nano-second (seljhealing) sehingga dapat menghambat
korosi. Keunggulan yang dimiliki oleh titanium seperti yang dijelaskan di atas
menyebabkan titanium lebih terpilih dikembangkan sebagai bahan implant daripada
jenis logam lainnya.
Performa implan ditunjukkan oleh mekanisme interaksi antara bahan irnplan
dengan jaringan sekitamya. Mekanisrne interaksi ini terjadi di interface impIan
dengan jaringan hidup di dalam tubuh. Beberapa hasil penelitian yang meneliti
interaksi

interface

antara

implan

dengan

jaringan

hidup

di

sekitamya

menginformasikan bahwa komposisi, energi permukaan, dan kekasaran permukaan


(topografi) bahan implan sangat menentukan perforrna implan di dalarn jaringan
tubuh agar terjadi oseointegrasi, atau dengan kata lain perrnukaan bahan irnplan harus
bersifat bioaktif.
Bahan yang bersifat biokompatibilitas belum tentu bersifat biaoktif untuk
memberikan kemampuan jaringan hidup beregenerasi di sekitar permukaan implant.
Suatu bahan dikatakan bersifat bioaktif tidak hanya memberikan osteoconductive
tetapi juga mampu memberikan osteoinductive. Meskipun titanium memiliki sifat
biokompatibilitas sehingga memenuhi syarat untuk digunakan di dalam tubuh atau
implantasi, namun lapisan ini terbukti kurang bersifat bioaktif untuk menginduksi
pengendapan calcium phosphate (CaP) pada saat implantasi di dalam tubuh, sehingga
dapat mengurangi oseointegrasi tulang dengan bahan implan.

Untuk mengatasi perrnasalahan tersebut, berbagai modifikasi permukaan


implan titanium dan paduan titanium telah dilakukan agar bersifat osteocottductive
dan osteoinductive sehingga terjadi oseointegrasi, di antaranya adalah membuat
permukaan titanium menjadi bioaktif melalui modifikasi komposisi kimia dan
topografi permukaan impIan yang bersesuaian sebagai retensi sel tulang pada
permukaan implan titanium. Dalam makalah ini akan dibahas berbagai modifikasi
permukaan bahan implan titanium agar menjadi bioaktif untuk mendapatkan
osseointegrasi yang lebih baik,
A. LOGAM TITANIUM UNTUK IMPLAN
Perkembangan pemakaian logam dan paduannya dalam bidang medis selama
tujuh puluh tahun terakhir ini mengarah pada titanium dan paduannya dibandingkan
dengan logam lain. Titanium mumi memiliki densitas rendah sekitar 4,5 glem3,
biokompatibilitas yang baik, tahan korosi, dan sifat mekanis yang sesuai dengan
tulang yaitu ringan, modulus elastic rendah, high strength, dan high resilient.
Titanium dan paduannya secara Iuas digunakan pada aplikasi biomedis yaitu untuk
hip cup shells, dental crowns dan bridge, orthopedic, endosseous dental implant dan
pelat untuk oral maxillofacial surgery. Biokompatibilitas yang baik dan kemampuan
oseointegrasi titanium sangat berhubungan dengan bentuk dan sifatnya yang
menguntungkan, I untuk menghasilkan intimate contact dengan jaringan tulang yang
baru terbentuk sehingga memberikan stabilitas dan keberhasilan implantasi
perrnanen.
Biokompatibilitas titanium dan paduannya terutama diberikan oleh kemampuan
terbentuknya lapisan pasif (passive layer) sangat tipis (TiO2) yang memiliki kelarntan
rendah (electrochemical degradation). Lapisan ini memberikan perlindungan pada
logam di bawahnya dari oksidasi dan korosi akibat interaksi dengan lingkungan luar,
Selain itu, titanium dan paduannya mampu membentuk kembali lapisan pasif (selfhealing) dalarn orde nano-sekon ketika pengaruh gaya mekanis dari luar maupun
lingkungan yang mernsak lapisan pasif ini.

Sebagai bahan implan temyata dalam aplikasinya paduan titanium memiliki


perforrna yang lebih baik dibandingkan dengan titanium murni. Paduan titanium
memiliki sifat mekanis lebih baik dari titanium murni karena terbentuknya solid
solution oIeh logam-logam paduannya. Selain itu dalam pabrikasi paduan titanium
Iebih mudah dibandingkan titanium murni. Titanium murni memiliki titik leleh
1700C sehingga sangat sukar untuk dileburkan karena pada temperatur tinggi
menyebabkan titanium mudah berinteraksi dengan oksigen, hidrogen dan nitrogen.
Pemaduan dengan logam-Iogam lain dapat menurunkan temperatur lebumya menjadi
temperatur lebur paduan, Paduan titanium yang umum digunakan sebagai bahan
implan adalah Ti-6AI-4V, NiTi, Ti-6AI-4V extra low interstitial (ELI), Ti-13Nb-13Zr
dan Ti-15Mo-2,8Nb.11.
Secara umum performa bahan-bahan implan diberikan oleh mekanisme
interaksi alami antara bahan implan dengan sel-sel hidup di dalam tubuh pasien,
sehingga akan terjadi oseointegrasi jaringan hidup dengan bahan implan. Seperti yang
telah disebutkan sebelumnya perkembangan bahan implan telah mengaeu pada logam
titanium dan paduannya. Hal ini didukung oleh sifat-sifat istimewa yang dimiliki oleh
titanium dan paduannya sebagai bahan implan. Akan tetapi permukaan titanium
implan memiliki sifat oseointegrasi yang rendah sehingga kurang memberikan
kehidupan sel tulang disekitarnya. Penelitian-penelitian lebih lanjut terhadap titanium
dan paduannya untuk aplikasi implan mengarah pada modifikasi permukaan titanium
dan paduannya agar lebih bersifat bioaktif. Modifikasi yang dilakukan antara lain
modifikasi komposisi dan topografi permukaan bahan implan melalui perlakuan
permukaan secara fisika, kimia dan biokimia.
B. PERLAKUAN FISIKA
Perlakuan fisika yang umum dilakukan adalah perlakuan mekanis di permukaan
impIan melalui cutting, turning, smoothing dan blasting. Tujuannya adalah untuk
mendapatkan retensi sel-sel tulang ketika mengalarni proliferasi disekitar bahan.
implan.

Selain perlakuan mekanis langsung di permukaan bahan implan untuk


mendapatkan topografi yang kasar sebagai retensi sel-sel tulang, topografi yang kasar
dapat juga diperoleh melalui sintering seperti yang dilaporkan oleh Kutty dkk. Hasil
penelitiannya menyatakan bahwa suksesnya sebuah implan diantaranya harus bersifat
biokompatibel, kuat dan mengandung porus-porus untuk terjadinya oseointegrasi.
Porus-porus ini pada penelitiannya dihasilkan dari suatu proses sintering microwave
(a one-step microwave sintering) serbuk titanium tanpa perlakuan mekanis lainnya.
Hasil sintering dengan microwave memberikan gradien porositas pada permukaan
implan. Bagian dalam implan lebih padat (dense) daripada di permukaan sehingga
dengan sendirinya di permukaan implan akan terbentuk porus-porus sebagai retensi
sel-sel

tulang

ketika

implantasi,

Lamanya

waktu

sintering

akan

mempengaruhikepadatan dan ukuran porositas yang terbentuk di permukaan implan,


Lapisan oksida (Ti02) di permukaan titanium dan paduannya disebutkan
sebelumnya memberikan sifat biokompatibel dengan melindungi bagian di bawahnya
dari korosi dan leaching namun kurang bersifat bioaktif untuk terjadi pengendapan
calsium phosphate (CaP) di dalam tubuh, Wei dkk melaporkan bahwa secara in vitro
nukleasi apatite efektif diinduksi oleh struktur anatase dari kelompok Ti-OH,IS Total
area permukaan, ukuran dan volume porus merupakan parameter terpenting untuk
menentukan kinetik nukleasi apatite. Hasil penelitian Hwang dkk, yang melakukan
annealing pada titanium mendapatkan bahwa struktur rutile mulai terbentuk di
permukaan pada temperature 700C untuk ambien udara, dan 650C untuk ambien
argon.12Struktur

kristalin

titanium

oksida

terbukti

kurang

mengkonduksi

pengendapan kalsium fosfat dibandingkan dengan struktur amorfus. Oleh karena itu
annealing yang efektif untuk titanium impIan yaitu pada temperatur dimana rutile
belum terbentuk.
C. PERLAKUAN KIMIA
Setiap metode pelapisan yang bertujuan untuk mendapatkan ikatan dan
topografi yang baik pada bahan implan memiliki kelebihan dan kekurangannya

masing-masing. Berbagai metode pelapisan material aktif pada implan dapat


dilakukan untuk menghasilkan ikatan yang lebih baik di antaranya dengan plasma
spray, laser, electrophoretic, sputtering, chemical deposition, slurry dipping, dan
flame spraying. Material bioaktif yang digunakan untuk pelapis implan kedokteran
gigi dapat dibuat melalui ikatan kimia antara bahan implan dengan tulang, kadangkadang juga diikuti dengan proses blasting, atau tidak melalui perlakuan kimia untuk
menghasilkan topografi yang cocok untuk memungkinkan terjadinya ikatan mekanis
yang baik antara irnplan-tulang.
Perendaman di dalam larutan asam setelah perlakuan mekanis (cutting, turning,
smoothing dan blasting) akan menghasilkan defect yang merata dipermukaan substrat
yang dihasilkan oleh reaksi redoks antara asam dengan permukaan substrat. Substrat
akan melarut dan gas hidrogen melekat di permukaan substrat. Selanjutnya
perendaman dengan larutan alkaline akan membentuk kelompok -OH di atas TiO 2 di
permukaan, sehingga terbentuk titanate salt yang menutupi permukaan titanium,
Kelompok -OH dapat berfungsi sebagai pengikat molekul-molekul lain di dalam
tubuh.' Metode lain yaitu elektrokirnia dan deposisi. Metode elektrokimia dapat
dibagi atas electro-erosion, electro-polishing dan anodisation.
Penambahan komposisi lain (deposisi) di permukaan substrat implan agar
membentuk sistem implan yang lebih bersifat bioaktif merupakan modifikasi
permukaan impIan yang sering dilakukan. Penambahan komposisi baru ini yang lebih
bersifat bioaktif sebelumnya memerlukan perlakuan mekanis di permukaan implan,
tujuannya adalah sebagai retensi agar komposisi baru ini tidak terkelupas dan dapat
berikatan secara fisika maupun kimia dengan substrat titanium Jenis pelapis senyawa
logam oksida dan keramik sering diaplikasikan dalam bentuk uap ke permukaan
substrat implan untuk mendapatkan sifat bioaktif pada bahan implan. Selanjutnya
dengan pertimbangan substrat berinteraksi dengan jaringan tulang, akhir-akhir ini
substrat dilapisi dengan hidroksiapatit (HA) untuk memperbaiki integrasi implan
dengan lingkungan biologi sekitamya. Oh dkk menyatakan pelapisan hidroksiapatit

dengan plasma spraying pada substrat titanium memberikan modulus Young's yang
sama dengan tulang manusia.
Ma dkk. melaporkan berdasarkan hasil penelitiannya mengenai karakterisasi
koloidal dan deposisi elektroporesis hidroksiapatit di atas permukaan substrat
titanium. Hasil uji geser menunjukkan bahwa dihasilkan ikatan interface yang lebih
baik, dan interface yang sangat tipis mencapai 400llm antara substrat titanium dengan
hidroksiapatit." Hasil pengamatan dengan SEM dilaporkan tidak terdapat adanya
keretakan akibat sintering pada temperatur 1000, 1150 dan 1300C.Sintering
membuat permukaan hidroksiapatit semakin padat, dan menyebabkan terjadinya pem
bukaan porus-porus di permukan sehingga menguntungkan sebagai tempat penetrasi
jaringan hidup di dalam tubuh serta berperan untuk memberikan biointegrasi dan
stabilitas mekanis di interface. Metode elektroporesis juga memberikan deposisi
hidroksiapatit yang merata diseluruh permukaan substrat implan titanium.
Spriano dkk juga menyatakan bahwa logam titanium dan paduannya dapat
berikatan dengan tulang tanpa perlakuan pelapisan apatit terlebih dahulu di
permukaan bahan implan. Melalni perlakuan kimia dan pemanasan terhadap logam
implan terbukti setelah diuji dalam rendaman cairan tubuh terdapat pengendapan
apatit. Apatit yang mengendap terikat dengan kuat sehingga menjadi inisiasi untuk
berikatan dengan sel-sel tulang di dalam tubuh.
D. PERLAKUAN BIOKIMIA
Perlakuan biokimia merupakan salah satu langkah yang bertujuan untuk
mengontrol dan memandu tahap-tahap kompleks fenomena biokimia di interface
antara implan dengan jaringan biologi agar terjadi oseointegrasi. Pada langkah ini
penting untuk diketahui tentang deskripsi bagaimana fenomena interaksi terjadi diinterface dan mengetahui molekul apa saja yang terlibat dalam interaksi ini.
Permukaan implan sangat menentukan jumlah sel yang melekat,: proliferasi,
diferensiasi dan terakhir kualitas sel yang berkembang. Dalam hal ini performansi

biokimia pada piranti implan sangat tergantung terhadap sifat perrnukaannya


diantaranya komposisi kimia dan kekasaran.
Pemberian biomolekul spesifik di perrnukaan implan dilakukan untuk
memperoleh perrnukaan yang bersifat bioaktif. Molekul-molekul ini berperan sebagai
faktor penumbuh dan protein pelekat secara normal terdapat pada membran sel dan
matrik ekstra seluler. Berdasarkan hasil penelitian diantaranya adalah famili TGF-p
(transforming growth factors beta) dan BMPs (bone morpho genetic proteins).
Stabilitas kimia dan kelarutan dalam lingkungan biologi protein merupakan hal
terpenting. Akhirakhir ini telah diperkenalkan suatu "bioactive peptide" yang
memberikan stabilitas dan kelarutan yang lebih baik, serta dapat diproduksi dengan
cara sintesa kimia dan harganya relatif lebih murah. Salah satu peptida aktif yang
dapat dipakai adalah asam amino Arg-Gly-Asp (RGD). Secara umum terdapat tiga
metode perlakuan biokimia di permukaan logam implan diantaranya adalah: adsorpsi
fisika kimia molekul aktif di permukaan, berikatan kovalen (secara langsung atau
terdapat jarak), meningkatkan pembawa biokompatibel dan bioresorbarble melalui
molekul aktif.
Hasil penelitian Subhaini dan Ellyza menyatakan bahwa beberapa faktor yang
harus diperhatikan pada bahan implan di antaranya adalah harus bersifat
biokompatibel, biomekanis dan yang terakhir adalah harus dapat memberikan
oseointegrasi di dalam tubuh. Biokompatibilitas dan biomekanis merupakan sifat
dasar yang harus dimiliki oleh bahan implan. Sedangkan oseointegrasi merupakan
sifat yang dapat diperoleh dari material dasar implan maupun dari hasil perlakuan
pada bahan implan untuk dapat memberikan interaksi yang baik antara bahan implan
dan sel-sel tulang setelah implantasi. Tujuan perlakuan di permukaan implan adalah
untuk menambah sifat osseointegrasi yang ditunjukkan oleh osteokonduksi dan
osteoinduksi bahan implan, yang dapat diperoleh melalui perlakuan permukaan di
antaranya perlakuan fisika, kimia dan biokimia.
Osteokonduksi suatu bahan implan merupakan kemampuan membentuk ikatan
antara bahan implan dengan sel-sel jaringan tulang di sekitarnya dalam tubuh

manusia

agar

terjadi

oseointegrasi. Akan

tetapi

kesukseksesan

terjadinya

osteokonduksi pada bahan implan di dalam tubuh sangat ditentukan oleh kemampuan
osteoinduksi bahan implan terhadap sel-sel tulang, yaitu kemampuan suatu bahan
implan menginduksi sel-sel tulang untuk berpoliferasi dan berdiferensiasi di sekitar
bahan impIan.
Osteokonduksi bahan implan dapat diperoleh melalui perlakuan fisika dan
kimia, yaitu dengan mendapatkan struktur permukaan bahan implan yang kasar dan
berporus sebagai retensi sel-sel tulang yang tumbuh dan berkembang di sekitar bahan
implan. Perlekatan sel-sel tulang yang terbentuk di permukaan imp Ian dengan
adanya sifat osteokondusi adalah dengan cara fisika dan kimia. Sedangkan
osteoinduksi bahan implan dapat diperoleh melalui perlakuan kimia dan biokimia
yaitu dapat merangsang sel-sel tulang untuk tumbuh dan berkembang di sekitar bahan
implan.
Kemampuan oseointegrasi bahan implan sangat ditentukan oleh sifat
osteokonduksi dan osteoinduksi bahan implan pada aplikasinya di dalam tubuh.
Kedua sifat ini dapat diperoleh melalui perlakuan di permukaan bahan imp Ian di
antaranya perlakuan fisika, kimia dan biokimia.

DAFTAR PUSTAKA

Hwang KS, Lee YR, Kang BA, Kim SB. Effect of annealling titanium on in vitro
bioactivity. J Material in Med 2003; 14: 521-29.
Kutty MG, Bhaduri S, Bhaduri SB. Gradient surface porosity in titanium dental
implants: relation between processing parameters and microstructure.
J Material in Med 2004; 15: 145-150.
Ma J, Liang CH, Kong LB, Wang C. Colloidal characterization and electrophoretic
deposition of hydroxyapatite on titanium substrate,
J Material in Med 2003; 14:797-801.
Oh IH, Nomura N, Chiba A, Murayama Y, Masahashi N, Lee BT, et. al.
Microstructure and bond strengths of plasma-sprayed hydroxyl-apatite
coatings on porous titanium substrates. J Material in Med 2005; 16: 635-40.
Spriano S, Bronzoni M, Verne E, Maina G, Bergo V. Windler M. Characterization of
surface modified Ti-6AI-7Nb alloy. J Material in Med 2005; 16:301-12.
Spriano S, Bronzoni M, Rosalbino F, Verne E. New chemical treatment for bioactive
titanium alloy with high corrosion resistance.
J Material in Med 2005; 16: 203-11.
Wei M, Uchida M, Kim HM, Kokubo T. Apatite forming ability of CaO-containing
titania. J Biomaterials 2002; 23: 167-72