Anda di halaman 1dari 12

Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara

Cekungan Jawa Barat Utara telah dikenal sebagai hydrocarbon province. Cekungan ini terletak
diantara Paparan Sunda di Utara, Jalur Perlipatan Bogor di Selatan, daerah pengankatan Karimun
Jawa di Timur dan Paparan Pulau Seribu di Barat. Cekungan Jawa Barat Utara dipengaruhi oleh
sistem block faulting yang berarah Utara-Selatan. Patahan yang berarah Utara-Selatan membagi
cekungan menjadi graben atau beberapa sub-basin, yaitu Jatibarang, Pasir Putih, Ciputat, Rangkas
Bitung dan beberapa tinggian basement, seperti Arjawinangun, Cimalaya, Pamanukan, KandanghaurWaled, Rengasdengklok, dan Tangerang. Menurut Soejono (1989), berdasarkan stratigrafi dan pola
strukturnya, serta letaknya yang berada pada pola busur penunjaman dari waktu ke waktu, ternyata
Cekungan Jawa Barat Utara telah mengalami beberapa kali fase sedimentasi dan tektonik sejak Eosen
sampai dengan sekarang.

(Lokasi Cekungan Jawa Barat Uara)


Cekungan Jawa Barat Utara terdiri dari beberapa sub-cekungan (Jatibarang, Ciputat, dan Pasir Putih
yang masing-masing dipisahkan satu dengan yang lainnya oleh tinggian-tinggian (Pamanukan,
Rengasdengklok, Tangerang, dan Arjawigangun). Konfigurasi sub-cekungan dan tinggian-tinggian ini
sangat dipengaruhi oleh penyebaran fasies batuan sedimen berumur Tersier baik sebagai batuan induk
(Source Rock) maupun sebagai reservoir. Hydrocarbon yang ditemukan di Cekungan Jawa Barat
Utara sebagian besar dihasilkan oleh batugampig Formasi Baturaja, Formasi Cibulakan, Formasi
Parigi dan Formasi Jatibarang. Ketebalan sedimen berkisar antara 3000m 4000m pada sub-cekungan
dan kurang dari 1000m pada tinggian-tinggian (Reminton and Nasir, 1986).

(Fisiografi Cekungan Jawa Barat Utara)


Tektonik dan Struktur Geologi Cekungan Jawa Barat Utara
Cekungan Jawa Barat Utara terdiri dari dua area, yaitu laut (offshore) di Utara dan Barat (onshore) di
Selatan (Sidi dkk, 2000). Seluruh area didominasi oleh patahan ekstensional (extensional faulting)
dengan sangat minim struktur kompresional. Cekungan didominasi oleh rift yang berhubungan
dengan patahan yang membentuk beberapa struktur deposenter (half graben), deposenter utamanya
yaitu Sub-Cekungan Pasirputih. Deposenter-deposenter itu didominasi oleh sikuen Tersier dengan
ketebalan melebihi 5500m. Struktur yang penting pada cekungan tersebut terdiri dari bermacammacam area tinggian yang berhubungan dengan antiklin yang terpatahkan dengan blok tinggian (horst
block), lipatan pada bagian yang turun pada patahan utama, dan keystone folding yang mengenai
tinggian pada batuan dasar, struktur kompresional hanya terjadi pada awal pembentukan rift pertama
yang berarah relatif Barat Laut Tenggara pada perione Paleogen. Sesar ini akan aktif kembali pada
Oligosen.

(Kondisi Tektonik Cekungan Jawa Barat Utara)


Tektonik Jawa Barat Utara dibagi menjadi tiga fase tektonik yang dimulai dari Pra-Tersier hingga
Plio-Pleistosen, yaitu :
1. Tekonik Pertama
Pada zaman Akhir Kapur awal Tersier, Jawa Barat Utara dapat diklasifikasikan sebagai Fore Arc
Basin dengan dijumpainya orientasi struktural mulai dari Cileutuh, Sub-Cekungan Bogor, Jatibarang,
Cekungan Muriah, dan Cekungan Florence Barat yang mengindikasikan kontrol Meratus Trend.
Periode Paleogen (Eosen-Oligosen) dikenal sebagai Paleogene Extensional Rifting. Pada periode ini
terjadi sesar geser mendatar kanan kraton Sunda akibat dari prestiwa tumbukan lempeng hindia
dengan lempeng Eurasia. Sesar-sesar ini mewakili pembentukan cekungan-cekungan Tersier di
Indonesia bagian Barat dan membentuk Cekungan Jawa Barat Utara sebagai pull apart basin.
Tektonik ekstensi ini membentuk sesar-sesar bongkah (half graben system) dan merupakan fase
pertama rifting. Sedimen yang diendapkan pada fase rifting pertama disebut sebagai sedimen synrift.
Cekungan awal rifting terbentuk selama fragmentasi, rotasi dan pengerakan dari kraton sunda. Dua
trend sesar normal yang diakibatkan oleh perkembangan rifting fase pertama memiliki arah N 060o W
N 040 o W dan hampir N-S yang dikenal sebagai pola sesar sunda.
Pada masa ini terbentuk endapan lakustrin dan volkanik dari Formasi Jatibarang yang menutup
rendahan-rendahan yang ada. Proses sedimentasi ini terus berlangsung dengan dijumpainya endapan
transisi Formasi Talangakar. Sistem ini kemudian diakhiri dengan diendapkannya lingkungan
karbonat Formasi Baturaja

2. Tektonik Kedua
Fase tektonik kedua terjadi pada permulaan Neogen (Oligosen-Miosen) dan dikenal sebagai Neogen
Compressional Wrenching. Ditandai dengan pembentukan sesar-sesar geser akibat gaya kompresif
dan tumbukan Lempeng Hindia. Sebagian besar pergeseran sesar merupakan reaktifitasi dari sesar
normal yang terbentuk pada periode Paleogen.
Jalur penunjaman baru terbentuk di Selatan Jawa. Jalur volkanik periode gunung api ini menghasilkan
endapan gunung api bawah laut yang sekarang dikenal sebagai old andesite yang tersebar disepanjang
Selatan Pulau Jawa. Pola tektonik ini disebut Pola Tektonik Jawa yang mengubah pola tektonik tua
yang terjadi sebelumnya menjadi berarah Barat-Timur dan meghasilkan suatu sistem sesar naik,
dimulai dari Selatan (Cileutuh) bergerak ke Utara. Pola sesar ini sesuai dengan sistem sesar naik
belakang busur atau yang dikenal dengan trust fold belt system.
3. Tektonik Ketiga
Fase tektonik ketiga adalah fase tektonik terakhir yang terjadi pada Pliosen-Pleistones, dimana terjadi
proses kompresi kembali dan membentuk perangkap-perangkap struktur berupa sesar-sesar naik
dijalur Selatan Cekungan Jawa Barat Utara. Sesar-sesar naik yang terbentuk adalah sesar naik
Pasirjadi dan sesar naik Subang, sedangkan dijalur Utara Cekungan Jawa Timur Utara terbentuk sesar
turun berupa sesar turun Pamanukan. Akibat adanya perangkap struktur tersebut terjadi kembali
proses migrasi hidrokarbon.
Sedimentasi Cekungan Jawa Barat Utara
Peiode awal sedimentasi di Cekungan Jawa Barat Utara dimulai pada kala Eosen Tengah Oligosen
Awal (fase transgresi) yang menghasilkan sedimentasi vulkanik darat sampai laut dangkal Formasi
Jatibarang. Pada saat itu aktivitas vulkanisme meningkat. Hal ini berhubungan dengan interaksi antara
lempeng disebelah selatan Pulau Jawa, akibatnya daerah-daerah yang masih labil sering mengalami
aktifitas tektonik. Material-material vulkanik dari arah timur mulai diendapkan.
Periode selanjutnya merupakan fase transgresi yang berlangsung pada kala Oligosen Akhir Miosen
Awal yang menghasilkan sedimen trangresif dilingkungan transisi sampai delta hingga laut dangkal
yang setara dengan Formasi Talang Akar (Equivalent Formasi Talang Akar). Pada awal periode,
daerah cekungan terdiri dari dua lingkungan pengendapan yang berbeda, yaitu bagian Barat berupa
paralic water sedangkan bagian Timur berupa laut dangkal. Selanjutnya aktifitas vulkanik semakin
berkurang sehingga daerah-daerah menjadi agak stabil, hanya sub-cekungan Ciputat yang masih aktif.
Kemudian air laut menggenangi daratan yang berlangsung pada kala Miosen Awal mulai bagian Barat
Laut terus ke arah Tenggara menggenangi beberapa tinggian kecuali Tinggian Tangerang. Tinggiantinggian inilah sedimen-sedimen klastik yang dihasilkan setara dengan Formasi Talang Akar.
Pada akhir Miosen Awal seluruh daerah cekungan relative stabil. Daerah Pamanukan sebelah Barat
merupakan paparan laut dangkal, tempat sedimen karbonat berkembang dengan baik sehingga
membentuk kesetaraan dengan Formasi Baturaja (Equivalent dengan Formasi Baturaja), sedangkan
pada bagian timur merupakan dasar cekungan yang lebih dalam.
Pada kala Miosen Tengah yang merupaka fase regresi, Cekungan Jawa Barat Utara diendapkan
sedimen-sedimen laut dagkal dari Formasi Cibulakan Atas. Sumber sedimen yang utama Formasi

Cibulakan Atas diperkirakan berasal dari arah Utara Barat Laut. Pada akhir Miosen Tengah kembali
menjadi kawasan yang stabil, batugamping berkembang dengan baik. Perkembagan yang baik ini
dikarenakan aktivitas tektonik sangat lemah dan lingkungan berupa laut dangkal.
Kala Miosen Akhir Pliosen (fase regresi) merupakan fase pembentukan Formasi Parigi dan Cisubuh.
Kondisi daerah cekungan mengalami sedikit perubahan tempat kondisi laut berubah kelingkungan
paralik.
Pada kala Pleistosen, sedimen berupa alvium menandai sebagai pengangkatan sumbu utama/panjang
Pulau Jawa. Pengankatan ini juga diikuti oleh meningkatnya aktivitas vulkanisme dan diikuti
pembentukan struktur utama Pulau Jawa. Pengangkatan sumbu utama Jawa tersebut berakhir secara
tiba-tiba sehingga mempengaruhi kondisi laut. Sedimentasi berbutir kasar diendapkan secara tidak
selaras diatas Formasi Cisubuh.
Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara
Sedimentasi Cekungan Jawa Barat Utara mempunyai kisaran umur mulai kala Eosen Tengah sampai
Kuarter. Sedimen tertua berumur Eosen Tengah, Formasi Jatibarang yang diendapkan secara tidak
selaras diatas batuan dasar/basement.

(Penampang Geologi Cekungan Jawa Barat Utara)

Urutan stratigrafi regional dari yang paling tua berturut-turut: basement, Formasi Jatibarang,
Formasi Cibulakan Bawah (Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja), Formasi Cibulakan Atas

(Massive, Main, Pre-Parigi), Formasi Parigi dan Formasi Cisubuh. Urutan stratigrafinya sebagai
berikut:
1. Batuan Dasar
Batuan dasar adalah batuan beku andesitik dan basaltik yang berumur Kapur Tengah sampai Kapur
Atas dan batuan Metamorf yang berumur Pra Tersier (Sincalir, et, al, 1995). Lingkungan
Pengendapannya merupakan satu permukaan dengan sisa vegetsi tropis yang lapuk (Koesumadinata,
1980).
2. Formasi Jatibarang
Satuan ini merupakan endapan early synrift, terutama dijumpai dibagian tengah dan Timur dari
Cekungan Jawa Barat Utara. Pada bagian Barat cekungan ini kenampakan Formasi Jatibarang tidak
banyak (sangat tipis) dijumpai. Formasi ini terdiri dari tuff, breksi, aglomerat, dan konglomerat alas.
Formasi ini diendapkan pada fasies fluvial. Umur formasi ini adalah Eosen Akhir sampai Oligosen
Awal. Pada beberapa tempat di Formasi ini ditemukan minyak dan gas pada rekahan-rekahan tuff
(Budiyanti, et. al,1991).
3. Formasi Talang Akar
Formasi ini terendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Jatibarang. Litologi penyusunnya pada
bagian bawah terdiri dari serpih gampingan dengan sedikit kandungan pasir, batulanau dengan sisipan
batupasir terkadang juga dijumpai konglomerat secara lokal. Pada bagian atas disusun oleh batuan
karbonat. Formasi ini terbentuk pada lingkungan delta sampai laut yang merupakan hasil dari fase
transgresi kedua pada Neogen (Sinclair, et.al, 1995). Adapun pembentuk formasi ini terjadi dari kala
Oligosen sampai dengan Miosen Awal. Pada formasi ini juga dijumpai lapisan batubara yang
kemungkinan terbentuk pada lingkungan delta. Batubara dan serpih tersebut merupakan batuan induk
(source rock) untuk hidrokarbon. Ketebalan formasi ini berkisar antara 50 300m (Budiyanti, et.al,
1991).
4. Formasi Baturaja
Formasi ini terendapkan secara selaras diatas Formasi Talang Akar. Adapun litologi penyusunnya
berupa batugamping terumbu dengan penyebaran tidak merata. Pada bagian bawah tersusun oleh
batuagamping massif yang semakin ke atas semakin berpori. Selain itu juga ditemukan dolomit,
interklasi serpih glaukonitan, napal, rijang, dan batubara. Formasi ini terbentuk pada kala Miosen
Awal Miosen Tengah (terutama asosiasi foraminifera). Lingkungan pembentukan formasi ini adalah
pada kondisi laut dangkal, air cukup jernih, sinar matahari (terutama dari melimpahnya foraminifera
Spriroclypeus sp.) ketebalan formasi ini berkisar pada 50m (Budiyani, et.al, 1991).
5. Formasi Cibulakan Atas
Formasi ini terdiri dari perselingan antara serpih dengan batupasir dan batugaming. Batugamping
pada satuan ini umumnya merupakan batugaming klastik serta batugamping termbu yang berkembang
secara setempat-setempat. Batugamping ini dikenali sebagai Mid Main Carbonate (MMC). Formasi
ini diendapkan pada kala Miosen Awal Miosen Akhir.

Formasi ini terbagi menjadi 3 anggota formasi, yaitu Massive, Main, dan Pre-Parigi sebai berikut :
Massive Unit
Satuan ini terendapkan secara tidak selaras diatas Formasi Baturaja. Litologi penyusun satuan ini
adalah perselingan antara batulempung dengan batupasir yang mempunyai ukuran butir halus-sedang.
Pada formasi ini dijumpai kandungan hidrokarbon, terutama pada bagian atas. Selain itu, terdapat
fosil foraminifera planktonik seperti Globigerina trilobus, foraminifera bentonik seperti Amphistegina
(Arpandi dan Patmosukismo, 1975).
Main Unit
Satuan ini terendapkan secara selaras diatas Massive Uinit. Litologi penyusunnya adalah batulempung
berselingan dengan batupasir yang mempunyai ukuran butir pasir halus-sedang (bersifat glaukonitan).
Pada awal pembentukannya, berkembang betugampin dan terdapat lapisan tips betupasir yang pada
bagian ini dibedakan dengan Main Unit itu sendiri, sehingga disebut sebagai Mid Main Carbonate
(Budiyanti, et.al, 1991).
Pre-Parigi Unit
Satuan ini terendapkan secara selaras diatas Main Unit. Adapun litologi penyusunnya adalah erselinga
batugamping, dolomit, batupasir, dan batulanau. Formasi ini terbetuk pada kala Miosen Tengah-Akhir.
Lingkungan pengendapannya adalah neritik tengah-dalam (Arpandi dan Patmosukismo, 1975), hal ini
dapat ditafsirkan dari dijumpainya adanya biota laut dangkal dan juga kandungan batupasir
glaukonitan.
6. Formasi Parigi
Formasi ini terendapkan secara selaras diatas Formasi Pre-Parigi. Litologi penyusunnya sebagian
besar adalah batugamping abu-abu terang, berfosil dan berpori dengan sedikit dolomit. Adapun
litologi penyusun yang lain adalah serpih karbonatan, napal yang dijumpai pada bagian bawah.
Kandungan koral, alga cukup banyak dijumpai selain juga bioherm dan biostrom. Selain itu juga
dijumpai foraminifera besar seperti Alveolina quoyi, foraminigera bentonik kecil seperti
Quiquelculina korembatira, foraminifera plangtonik seperti Globigerina siakensis. Lingkungan
pengendapan formasi ini adalah laut dangkal-neritik tengah (Arpandi dan Patmosukismo, 1975).
Batugamping pada formasi ini umunya dapat menjadi reservoir yang baik karena mempunyai
porositas sekunder dan permeabilitas yang besar. Ketebalan formasi ini lebih kurang 400 m. dari hasil
penelitian terdahulu, tidak semua karbonat pada formasi ini menghasilkan hidrokarbon, hanya pada
puncak tutupan dari sembulan karbona yang terbentuk didaerah shoal dan juga karena tutupan
tersebut berasosiasi dengan sesar yang berfungsi sebagai jalan migrasi (Sinclair, et.al, 1995).
7. Formasi Cisubuh

Formasi ini terendapkan secara selaras diatas Formasi Parigi. Litologi penyusunnya adalah
batulempung berselingan dengan batupasir dan serpih gampingan, mengandung banyak
glaukonit,lignit, sedikit rijang, pirit, dan fragmen batuan beku vulkanik. Pada bagian bawah terdapat
kandungan fosil yang semakin keatas semakin sedikit. Umur formasi ini adalah Miosen Akhir sampai
Plio-Pleistosen. Formasi Cisubuh diendapkan pada fase regresi pada Neogen, hal ini dapat dilihat dari
semakin keatas formasi ini semakin bersifat pasiran dengan dijumpai batubara. Formasi ini
diendapkan pada lingkungan laut dangkal yang semakin keatas menjadi lingkungan litoral-paralik
(Arpandi dan Patmosukismo, 1975). Hidrokarbon tidak pernah ditemukan pada formasi ini. Ketebalan
formasi ini berkisar anara 1000m 1200m (Budiyani, 1991).

(Penampang Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara)

Petroleum Sistem Cekungan Jawa Barat Utara


Hampir seluruh formasi di Cekungan Jawa Barat Utara dapat menghasilkan hidrokarbon yang
mempunyai sifat berbeda, baik dari lingkungan pengendapan maupun porositas batuannya.
1.

Batuan Induk

Pada Cekungan Jawa Barat Utara terdapat tiga tipe utama batuan induk, yaitu lacustrine shale (Oil
Prone), fluvio deltaic coals, fluvio deltaic shales (Oil and Gas Prone) dan marine claystone (bacterial
gas) (Gordon,1985). Studi geokimia dari minyak mentah yang ditemukan di Pulau Jawa dan
Lapangan Lepas Pantai Ardjuna menunjukan bahwa fluvio deltaic coals dan serpih dari Formasi
Talang Akar bagian atas berperan dalam pembentukan batuan induk yang utama. Beberapa peran serta
dari lacustrine shale juga ada terutama pada sub cekungan Jatibarang. Kematangan atuan induk di
Cekungan Jawa Barat Utara ditentukan oleh analisa batas kedalaman minak dan kematangan batuan
induk pada puncak gunung Jatibarang atau dasar puncak dari Formasi Talag Akar atau bagian bawah
Formasi Baturaja (Reminton dan Pranyoto, 1985).
1.a.

Lacusrine Shales

Lacrustrine Shale terbentuk pada suatu periode syn rift dan berkembang dalam dua macam fasies
yang kaya material organic. Fasies petama adalah fasies yang berkembang selama iniial-roft fill.
Fasies ii berkempbbang pada Formasi Banuwati dan ekuivalen Formasi atibarang sebagai lacustrine
clastic dan vulkanik klastik (Noble, et.al, 1997). Fasies kedua adalah fasies yang terbentuk selama
akhir syn rift dan berkembang pada bagian bawah ekuivalen Formasi Talang Akar pada formasi ini
batuan indukk dicirikan oleh klastika non marine berukuran kasar dan interbedded antara batupasir
dengan lacustrine shale.
1.b.

Fluvio Deltaic Coal & Shale

Batuan induk ini dihasilkan oleh ekuivalen Formasi Talang Akar yang diendapkan selama post rift
sag. Fasies ini dicirikann leh coal bearing sediment yang terbentuk pada system fluvial pada Oligosen
Akhir. Batuan induk tipe ini menghasilkan mnyak dan gas (Moble, et.al, 1991).
1.c.

Marine Lacustrine

Batuan induk ini dihasilkan oleh Formasi Parigi dan Cisubuh pada cekungan laut. Batuan ini dicirikan
oleh proses methanogenic bacterina yang menyebabkan degradasi material organik pada lingkungan
laut.
2.

Batuan Reservoir

Semua formasi dari Jatibarang hingga Prig merupakan interval dengan sifat fisik reservoir yang baik,
banyak lapangan mempunyai daerah timbunan cadangan yang terlipat. Cadangan terbesar
mengandung batupasir main atau massive dan Formasi Talang Akar. Minyak diproduksi dari rekahan
volkanclastic dari Formasi Jatibarang (Amril, et.al, 1991). Pada daerah dimana batugamping Baturaja
mempunyai porositas yang baik kemungkinan menghasilkan akumulasi endapan yang agak besar.
Timbunan pasokan sedimen dan laju sedimentasi yang tingg pada daerah shelf, diidentifikasikan dari
clinoforms yang menunjukkan adanya progradasi. Pemasukan sedimen ini disebabkan oleh

pembauran ketidak stabilan tektonik yang merupakan akibat dari subsidence yang terus menerus pada
daerah foreland dari Lempeng Sunda (Hamilton, 1979). Pertambahan yang cepat dalam sedimen
klastik dan laju subsidence pada Miosen Awal diinterpretasikan sebagai akibat dari perhentian
deposisi Batugamping Baturaja. Anggota Main dan Massive menjadi dasa dari sequence transgressive
marine yang sangat lambat, kecuali yang berdekatan dengan akhir dari deposisi anggota Main.
Ketebalan seluruh sedimen bertambah dari 400 feet pada daerah yang berdekatan dengan
paaleoshorline menjadi lebih dari 5000 feet pada Sub cekungan Ardjuna (Noble, et.al, 1997).
3. Jenis Jebakan
Jenis jebakan hidrokarbon pada semua system petroleum di Jawa Barat Utara hamper sama, hal ini
disebabkan evolusi tektonik dari semua cekungan sedimen sepanjang batas Selatan dari Kraton Sunda,
tipe struktur geologi dan mekanisme jebakan yang hampir sama. Bentuk utama struktur geologi
adalah dome anticlinal yan lebar dan jabakan dari blok sesar yang miring. Pada beberapa daerah
dengan reservoir reefal built-up, perangka stratigrafi juga berperan. Perangkap stratigrafi yang
berkembang uumnya dikarenakan terbatasnya penyebaran batugamping dan perbedaan fasies.
4.

Jalur Migrasi

Migras hidrokarbon terbagi menjadi dua, yaitu migrasi primer dan sekunder, migrasi primer adalah
perpindahan hidrokarbon dari batuan induk kemudian masuk de dalam reservoir melalui lapisan
penyalur (Kosoemadinata, 1977). Migrasi sekunder dapat dianggap sebagai pergerakan fluida dalam
batuan penyalur menujju trap.
Jalur untuk perpindahan hidrokarbon mungkin terjadi daei jalr keluar yang lateral dan atau vertical
dari cekungan awal. Migrasi lateral mengambil tempat didalam unit-unit lapisan dengan permeabilitas
horizontal yang baik, sedangkan migrasi vertical terjadi ketika migrasi yang utama dan langsung yang
tegak menuju lateral. Jalur migrasi lateral berciri tetap dari unit-unit permeable. Pada Cekungan Jawa
Barat Utara saluran utama utuk migrasi lateral lebih banyak berupa celah batupasir yang mempunyai
arah Utara-Selatan dari anggota Main maupun Massive (Formasi Cibulakan Atas). Sesar menjadi
saluran utama untuk migrasi vertical dengan transportasi yang cepat dari pergerakan sesar (Noble,
et.al, 1997).
5.

Lapisan Penutup

Lapisan penutup atau tudung merupakan lapisan impermeable yang dapat menghambat atau
menghentikan jalannya hidrokarbon. Litologi yang sangat baik sebagai lapisan penutup ialah
batulempung dan batuan evaporit. Pada Cekungan Jawa Barat Utara, hampir setiap Formasi memiliki
lapisan penutup yang efektif. Namun formasi yang bertindak sebagai laposan penutup uatama adalah
Formasi Cisubuh, karena Formasi ini memiliki litologi yang baik sebagai lapisan penutup
(impermeable).

(Hydrocarbon Play Cekungan Jawa Barat Utara)