Anda di halaman 1dari 32

PENGOLAHAN LIMBAH PADAT

Komposisi Kimia Tankos


Komponen

Dasar Kering (%)

Selulose

45,95 %

Hemiselulose

22,84 %

Lignin

16,49 %

Abu

1,23 %

Nitrogen

0,53 %

Minyak

2,41 %

Sumber : Darnoko et al (1993)

Komposisi nutrisi tandan kosong


sawit
No.

Parameter

Nilai

C (kg/ton.bk)

C/N

N (kg/ton.bk)

7,4 9,8

P (kg/ton.bk)

0,6 0,7

K (kg/ton.bk)

20,1 21,8

Ca (kg/ton.bk)

1,6 - 4

Mg (kg/ton.bk)

1,3 1,5

B (kg/ton.bk)

pH

10

Density (ton/m3)

480 - 490
50 65

5,5 7,7
0,340

Cara Aplikasi TKS


TKS dapat diaplikasikan dengan dosis 30-40
ton/ha. Cara aplikasi yang biasa dilakukan :
1) disusun pada gawangan mati 3 deret
tandan 1 lapis sepanjang gawangan mati
2) disusun 80 120 tandan diantara pohon
kelapa sawit dalam barisan
3) disusun di pinggir piringan pohon 80 120
tandan per pohon. Penebar TKS 1 lapis untuk
menghindarkan berkembangnya hama
Oryctes.

Aplikasi TKS untuk


replanting
TKS dapat diaplikasikan pada sistem
tanam lubang besar. Prinsip aplikasi
pada lubang besar adalah pemberian
bahan organik agar dapat
meningkatkan kondisi tanah di sekitar
lubang tanam. Sebaiknya TKS
diaplikasikan beberapa waktu (2-3
bulan) sebelum penanaman kelapa
sawit agar TKS melapuk terlebih
dahulu.

Pelapukan TKS
TKS melapuk bergantung pada
kelembaban dan kecepatan proses
pelapukannya. Pada areal lembab, TKS
dapat segera melapuk (3 bulan).
Penambahan nitrogen (urea) dapat
mempercepat perkembangan mikroba
dan akhirnya mempercepat proses
pelapukan.

Manfaat TKS Sebagai Mulsa


Meningkatkan kapasitas tukar kation
tanah
Mempertahankan kelembaban tanah
Meningkatkan efektifitas pemupukan
dan sumber hara tambahan,
terutama kalium
Mengurangi evaporasi
Memperbaiki sifat fisik tanah

KEUNTUNGAN

Menghemat pupuk 50%


Meningkatkan

produksi TBS 10 - 34%


stabilitas
aktivitas mikroba tanah
kapasitas penahanan air
aerasi tanah K, Mg, dan Ca

KEUNTUNGAN
Memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah
Tidak mencemari air tanah di sekitar lokasi
aplikasi
Aplikasi LCKS pada tanaman umur 21 th
dengan dosis 12,66 mm ECH LCKS/BLN
dan dosis pupuk 50% standar kebun dapat
meingkatkan produksi 36%
Menghemat biaya pemupukan sekitar 45%

APLIKASI TKS UNTUK MULSA


KETERSEDIAAN
120 ton/hari untuk PKS kap. 30 t TBS/jam
NILAI
1 ton TKS = 3 kg urea
0,6 kg RP
12 kg KCl
2 kg Kies

TKS42.8% C

2.9% K2O
0.8% N
0.22% P2O5 0.3% MgO
10 ppm B
23 ppm Cu
51 ppm Zn

PRINSIP PENGOMPOSAN.
Teknologi pembuatan Kompos Organik sebenarnya sudah dikenal sejak dahulu
kala tetapi dalam skala kecil.
Dalam skala besar dimana Tan Kos ditumpuk dan dibiarkan sampai membusuk
tidak akan menjadi kompos organik yang bermutu karena nilai C/N masih tinggi.
Pengomposan adalah penurunan rasio atau perbandingan antara karbohidrat
dan nitrogen dengan singkatan nilai C/N.
Bahan organik yang berasal dari tanaman atau hewan / kotoran hewan yang
masih segar mempunyai nilai C/N yang tinggi antara 50 400 (kayu yang tua)
.
Bahan organik dapat diserap tanah adalah mempunyai C/N yang sama dengan
tanah ialah sekitar 10 12 oleh karena itu limbah sawit (cair dan padat) yang
mempunyai nilai C/N tinggi harus diturunkan.

Dalam proses pengomposan terjadi perubahan sebagai berikut :


a. Karbohidrat, Selosa, Hemiselulosa, lemak, lilin menjadi CO2 dan air.
b. Zat putih telur menjadi Amonia, CO2 dan air.
Proses pengomposan yang akan diterapkan ialah proses Aerobic dalam keadaan
adanya O2 bukan proses Anaerobic dalam keadaan tanpa O2 seperti halnya
dikolam limbah yang banyak diterapkan di PKS.
Kompos adalah bahan organik yang mengalami degradasi / penguraian sehingga
berubah bentuk secara biologi dalam suhu tinggi dan setelah selesai terjadilah
nilai C/N yang sama dengan tanah 10 12, sehingga dapat diserap oleh tanaman.

Dalam pembuatan kompos organik proses Aerobic akan menghasilkan CO2, air
dan panas, maka yang perlu dijaga ialah kelembaban sekitar 40 60% agar
micro organisme dapat bekerja secara optimal dengan suhu optimal 30 50C
(hangat), oleh karena itu tumpukan kompos perlu dibalik (1 sampai 5 kali
seminggu).
Dalam proses pengomposan bekerja bakteri, fungi, actinomycetes dan protozoa
dan dapat dipercepat dengan aktivator antara lain EM4, Orga Dec, Stardec, Fix
Up Plus, Harmony dan Mikrorganisme.
Mikroorganisme akan lebih aktif apabila PH berada antara 6,5 7,5 oleh karena
itu dalam proses pengomposan sering ditambahkan kapur atau abu maka perlu
tumpukan kompos dibalik.

Bahan kompos organik berupa cacahan Tan Kos ditambah limbah cair
dari PKS.
PKS kapasitas 30 T. TBS/Jam akan menghasilkan tandan kosong
sebanyak 23% x 30 T. TBS/Jam x 20 Jam operasi sehari = 23% x 30 x 20
= 138 Ton Janjangan Kosong.
Slurry / bubur Limbah dari minyak mentah Non Deluted Decanter
menghasilkan Raw Oil dan bubur limbah / slurry bukan solid sebanyak
6,9 T/Jam x 20 Jam sehari = 6,9 x 20 = 138 Ton slurry / hari dan slurry
tersebut yang akan dicampur kecacahan Tandan Kosong untuk diperam
menjadi Kompos Organik.
Jumlah bahan kompos = 138 T + 138 T = 276 Ton / Hari.

Proses pencacahan dan pencampuran limbah cair.


Cacahan Janjangan Kosong yang keluar dari Mesin Pencacah
disalurkan ke saluran (Conveyor) dimana slurry yang keluar dari
Decanter jatuh ke saluran / Conveyor yang sama sehingga teraduk
bercampur menjadi satu secara merata.
Campuran cacahan Janjangan Kosong dan slurry yang terkumpul di
lantai beton selanjutnya disekop dengan Loader dimuat ke Dump Truck
diangkut ke lapangan pemeraman kompos.
Proses Pemeraman.
Campuran Cacahan Janjangan Kosong dan Bubur Limbah (Slurry)
digelar dilapangan terbuka dalam barisan berukuran 2,5 tinggi 1,5m
panjang 50 m. barisan kompos ditutup dengan plastik oleh mesin
Pembalik (Turning Machine) yang dilengkapi dengan rol penggulung
plastik.

Pengadukan Kompos dan Pematangan Kompos.


Apabila suhu kompos naik sampai lewat 60C maka diaduk oleh mesin pembalik
sambil disemprot dengan limbah Condensat Rebusan. Kegiatan membuka plastik,
mengaduk, menyemprot, menutup kembali dengan plastik dilakukan 1 2 kali
seminggu. Kompos akan matang setelah diproses selama 50 hari tanpa tambahan
additive (Aktivator untuk mempercepat pembusukan yang banyak beredar dipasaran
yaitu : Stardex, EM4 dan lain - lain).
Penggudangan dan Pengepakan Kompos.
Kompos yang sudah masak di muat ke Dump Truck oleh Loader dan digudangkan
dalam bangunan berlantai beton, beratap seng, dinding setengah terbuka berukuran
lebar 8 m panjang 80 m.
Di dalam gudang tersebut dilakukan pengayakkan dengan saringan pasir dan
digonikan untuk selanjutnya dipasarkan.

Luas Lapangan Pemeraman.


Lapangan pemeraman kompos akan memerlukan luas 3 4 Ha. Berisi 115
jalur kompos ukuran lebar 2,5 tinggi 1,5 m panjang 80 m.
Apabila disekitar pabrik tidak ada lapangan kosong, maka pemeraman dapat
dilakukan dibawah pohon sawit dewasa tanpa penumbangan.
Penimbunan kompos tersebut ditempatkan pada gawangan mati.
Satu hektar (Ha) tanaman sawit dewasa dapat diisi 9 jalur kompos di
gawangan mati.
Luas tanaman sawit dewasa untuk ditempati jalur kompos dengan siklus
pemeraman 50 Hari = 22 - 25 Ha.

Pemanfaatan Tandan Kosong Sawit


Dan Limbah Cair Untuk Kompos
PABRIK KELAPA
SAWIT
(30 tons TBS/Jam)

TKS
(138 tons/hari)

LCPKS
(360 m3/hari)

KOMPOS TKS
(70 ton/hari)
Proses Produksi Kompos
TKS ini dilindungi oleh UU
dengan

Proses Produksi Kompos TKS

Pencacahan
Pembentukan tumpukan
Pembalikan
Penyiraman dengan LCPKS
Pengeringan & pengemasan

Pencacahan TKS
Kapasitas mesin 6 ton TKS/jam
Ukuran cacahan 4 - 6 cm

Pembentukan Tumpukan
Ukuran : 3 x 1.2 x 50 m
Menggunakan skip loader

PEMBALIKAN
Untuk aerasi dan penyiraman
Mempermudah penguapan air limbah
Mencegah pertumbuhan Oryctes
rhinoceros di dalam tumpukan
Menghancurkan TKS
Untuk menghasilkan kompos dengan
kualitas yang homogen

PENYIRAMAN
Penyiraman dengan LCPKS segar

Pengeringan Dan
Pengemasan
Pengeringan udara dengan matahari
atau pengeringan dengan mesin
pengering
Pengayakan
pengemasan

Apa Limbah Cair Dapat Terpakai


Semua ?
Untuk PKS 30 ton TBS/jam dan yang bekerja 20
jam/hari :
TBS diolah 600 ton/hari
Produksi LCPKS 360 m3/hari (0,6 m3/ton TBS)
Produksi TBS 138 ton/hari (23%)
Waktu pengomposan 42 hari + 14 hari
pengeringan
Kebutuhan LCPKS = 42 x 138 x 0.07 = 405
m3/hari

Pabrik Kompos
(untuk PKS 30 ton TBS/jam)
Lantai pengomposan
Area 3 ha (100 x 300 m2)
Lantai cor 12 cm
Kolam buffer (3600 m3, 10 WPH)
Bangunan pengolahan kompos
Peralatan:
1 unit mesin chipper kap. 6 ton/jam
1 unit mesin pembalik
1 unit mesin skid loader
1 unit dump truck
1 unit mesin pengayak
1 unit sludge pump kapasitas 30 m3/h

Keuntungan Teknologi
Kompos
Memanfaatkan semua limbah cair (LCPKS) dan
TKS > zero waste
Tidak perlu penambahan biokativator/mikroba
dan bahan kimia
Tidak berbau
Tidak perlu atau tutup kecuali untuk pengeringan
Waktu pengomposan relatif singkat
Kebutuhan tenaga kerja rendah
Hasil kompos berkualitas tinggi dan seragam
Ramah lingkungan

Kualitas Kompos
Parameter
Air

Nilai, %
45 50

Abu

12,60

23

35,10

0,2 0,4

46

Ca

12

Mg

0,8 1,0

C/N

15,03

Pemanfaatan Kompos
Pemberian kompos 3 % pada media
pasir sama dengan tanpa kompos
pada tanah subsoil

Pemanfaatan Kompos
Untuk Tanaman Jeruk
Produksi
Tanpa kompos
11 kg/phn
Dengan 30 kg kompos/phn
18 kg/phn
(
63 % )

Pemanfaatan Kompos
Untuk Tanaman Cabai
Produksi
Tanpa kompos
1,66 kg/phn
Dengan 30 kg kompos/phn
2,41 kg/phn
(
45 % )

Pemanfaatan Kompos
Untuk Tanaman Tomat
Produksi
Tanpa kompos
1,7 kg/phn
Dengan 30 kg kompos/phn
1,9 kg/phn
(
53 % )