Anda di halaman 1dari 16

TRAUMA

AKUSTIK AKUT

Demas Dwi Janitra


201010330311006

PENDAHULUAN
Sistem pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi
oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui
udara atau tulang ke koklea (Efiaty et al., 2007).

Trauma akustik akut adalah gangguan pendengaran sensorineural


secara tiba-tiba akibat paparan bising berlebihan terhadap organ
pendengaran (Kahraman et al., 2012).

Trauma akustik akut terjadi karena suara yang berfrekuensi tinggi


namun tidak menutup kemungkinan pada keseluruhan frekuensi
berpengaruh pada organ pendengaran (Kahraman et al., 2012).

ANOTOMI DAN
FISIOLOGI
Telinga terdiri atas tiga bagian dasar, yaitu telinga
bagian luar, telinga bagian tengah dan telinga bagian
dalam. Setiap bagian telinga bekerja dengan tugas
khusus untuk mendeteksi dan menginterpretasikan
bunyi (Efiaty et al., 2007).

TELINGA LUAR

TELINGA TENGAH

Batas-batas telinga tengah

- batas luar: membran timpani


-batas dalam: dari atas ke
bawah kanalis semi sirkularis,
kanalis fasialis, tingkap lonjong,
tingkap bundar
-batas depan: tuba eustachius
-batas belakang: aditus ad
antrum, kanalis asialis pars
ventrikularis
- batas atas: tegmen timpani
- batas bawah: vena jugularis

TELINGA DALAM

Telinga dalam terdiri


dari koklea (rumah
siput) yang berbentuk
setengah lingkaran
dan vestibuler yang
terdiri dari tiga buah
kanalis semisirkularis.
Koklea memiliki dua
fungsi yaitu; sebagai
sistem pendengaran
dan sistem
keseimbangan.

Pada irisan melintang


koklea, tampak skala
vestibuli di sebelah
atas, skala timpani di
sebelah bawah, dan
skala media (duktus
koklearis) di antaranya.
Skala vestibuli dan skala
timpani berisi perilimfa,
sedangkan skala media
berisi endolimfa.

FISIOL
OGI

Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara mencapai
membran tympani, membran tympani bergetar menyebabkan tulang-tulang
pendengaran bergetar. Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar dari tingkat oval
menimbulkan getaran pada perilymph di scala vestibule
Getaran yang bernada tinggi pada perilymp scala vestibuli akan melintasi membrana
vestibularis yang terletak dekat ke telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan
menggetarkan bagian membrana basilaris di daerah apex. Getaran ini kemudian akan
turun ke perilymp scala tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga
tengah untuk diredam (Guyton et al., 2006).
Sewaktu membrana basilaris bergetar, rambut-rambut pada sel-sel rambut bergetar
terhadap membrana tectoria, hal ini menimbulkan suatu potensial aksi yang akan
berubah menjadi impuls. Impuls dijalarkan melalui saraf otak statoacustikus (saraf
pendengaran) ke medulla oblongata kemudian ke colliculus Persepsi auditif terjadi
setelah proses sensori atau sensasi auditif.

TRAN D UKSI SUA RA

Gelombang suara
Getaran membrana
timpani
Getaran tulang-tulang
pendengaran
Getaran jendela oval

Gerakan cairan dalam


koklea

Getaran membrana
basilaris

Pembengkokan sel-sel rambut sewaktu pergerakan


membrana basilaris menyebabkan perubahan posisi
rambut-rambut tersebut dalam kaitannya dengan
membrana tektorial di atasnya tempat rambut-rambut
tersebut terbenam
Perubahan potensial
berjenjang (potensial
reseptor) di sel-sel
reseptor
Perubahan kecepatan
pembentukan
potensial aksi yang
terbentuk di saraf
auditorius
Perambatan potensial aksi ke
korteks auditorius di lobus
temporalis otak untuk persepsi
suara

DEFINISI DAN ETIOLOGI


Definisi
Trauma akustik akut adalah hilangnya fungsi pendengaran
secara tiba-tiba akibat paparan suara yang sangat intens dan
berlebihan terhadap organ pendengaran (Dhammadejsakdi et
al., 2009).
Etiologi
Insiden trauma akustik akut biasanya paparan suara senjata
api adalah sekitar 28% dan di Inggris 20%-30% sedangkan di
Thailand terdapat sekitar 64,35% tentara mengalami
kehilangan pendengaran sensorineural serta pada frekuesi
3000-8000Hz dapat menyebabkan gangguan pendengaran
pada orang yang hobi olahraga menembak (Kahraman et al,
2012).

PATOFISIOLOGI
Paparan
suara
keras

sel-sel rambut
dalam
serta saraf
pendengaran
vakularisasi
stria

iskemik reperfusi,
pengeluaran glutamat
peningkatan radikal
bebas di mitokondria

membran lipid,
protein
Nucleus
mitokondria
DNA.

Stres
oksidatif

Reactive oxygen
species (ROS),
reactive nitrogen
species (RNS)
lipid peroksida

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis dapat ditanyakan penyebab
sebelum terjadinya ketulian. Pernahkah terpapar atau mendapatkan trauma
pada kepala maupun telinga baik suara bising, suara ledakan yang memicu
terjadinya gangguan pendengaran (Efiaty et al., 2007).
Pada pemeriksaan fisik telinga tidak ditemukan adanya kelainan dari telinga
luar hingga membran timpani.
Pada tes dengan garpu tala menunjukkan adanya tuli sensorineural.
Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tulisensorineural pada
frekuensi antara 3000-6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat
takik(notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian akibat taruma akustik.
Ambang dengar paling peka pada nada diantara 1000Hz dan 3000Hz dan
dari hasil penelitian dikatakan bahwa ketulian yang paling dini terjadi pada
sekitar satu oktaf di atas skala frekuensi nada stimulator (Sulistyanto et al.,
2009).

PENATALAKSANAAN
Pemberian antioksidan N-acetylcysteine (NAC) dari
penelitian yang telah dilakukan, N-acetylcysteine (NAC)
mempunyai mekanisme kerja sebagai pengikat radikal
bebas yang ditimbulkan oleh trauma akustik akut
(Kahraman et al., 2007).
Penderita dapat diberikan kortikosteroid sistemik,
contohnya dengan pemberian deksametason
(10mg/kg/hari) selama 5 hari berturut-turut (Colombari
et al., 2014).
Apabila penderita sampai pada tahap gangguan
pendengaran maka dapat menggunakan alat bantu
dengar.

PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap trauma akustik akut antara
laindengan menghindari suara bising, berhati-hati
dalam aktivitas yang berisiko seperti latihan tembak
militer.Langkah terakhir dalam pengendalian
kebisingan adalah dengan menggunakan
alatpelindung pendengaran (earplug, earmuff)
(Dhammadejsakdi et al., 2009).

TERIMA KASIH