Anda di halaman 1dari 7

75

BAB IV
PEMBAHASAN

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar merupakan rumah sakit
tipe A dan juga merupakan rumah sakit (RS) pendidikan yang dipergunakan oleh
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana sebagai tempat pendidikan calon
dokter, dan dokter spesialis. Selain Universitas Udayana, RSUP sanglah juga
merupakan sarana praktek kerja apangan maupun profesi bagi lembaga
pendidikan kesehatan lain seperti apoteker, tenaga teknis kefarmasian,
keperawatan, gizi, dan sanitasi.
Dari segi kepemilikan, RSUP Sanglah merupakan rumah sakit umum milik
pemerintah pusat dan berada di bawah Kementrian Kesehatan yaitu merupakan
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementrian Kesehatan dengan Pola Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum (PPK BLU). PPK BLU ini merupakan suatu
instansi di lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa. BLU sendiri tidak
mengutamakan

keuntungan dan didasarkan pada prinsip efisiensi dan

produktivitas.
RSUP Sanglah merupakan rumah sakit yang memberikan pelayanan baik
terhadap masyarakat umum maupun masyarakat yang memiliki Jaminan
Kesehatan Bali Mandara (JKBM), dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). RSUP
Sanglah memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap sesuai dengan
peraturan standar pelayanan kesehatan RS yang berlaku.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, pelayanan
kefarmasian merupakan bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari
pelayanan kesehatan itu sendiri. Di RSUP Sanglah sendiri dalam pelayanan
kefarmasian dilaksanakan dan dikelola oleh instalasi farmasi yang dipimpin oleh
seorang kepala instalasi farmasi dan dibantu oleh beberapa koordinator, apoteker,
tenaga teknis tefarmasian dan staf lainnya.

76

Sebagai salah satu lembaga pendidikan kesehatan di bidang farmasi, yang


mencetak tenaga teknis kefarmasian, Akademi Farmasi Saraswati Denpasar
bekerjasama dengan RSUP Sanglah dalam hal kegiatan Praktek Kerja Lapangan
(PKL) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), agar dapat mengetahui secara
langsung bagaimana kegiatan pelayanan kefarmasian di rumah sakit. Kegiatan ini
dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu dari tanggal 1 April 2015 sampai dengan
tanggal 30 April 2015.
IFRS Sanglah dalam pelayanan kesehatan di RS mempunyai 2 (dua) kegiatan,
yaitu kegiatan yang bersifat manajerial yaitu berupa pengelolaan sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan kegiatan pelayanan farmasi
klinik yang didukung oleh sumber daya manusia, sarana, dan peralatan.
Dalam PKL ini, mahasiswa melakukan pekerjaan kefarmasian di depo-depo
farmasi yang ada di RSUP Sanglah dan di gudang farmasi/medis RSUP Sanglah.
Depo-depo tersebut antara lain: depo sentral, depo Instalasi Gawat

Darurat

(IGD), depo Instalasi Rawat Jalan (IRJ), depo angsoka, depo sitostatika, depo OK
Instalasi Bedah Sentral (IBS), dan depo OK IGD . Disini mahasiswa dapat
mengetahui secara langsung bagaimana tugas, wewenang dan tanggung jawab
tenaga kefarmasian, baik apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian terkait
dengan pelayanan kefarmasian dan pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan
dan bahan medis habis pakai di RS.
Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di
RSUP Sanglah Denpasar, dimulai dari kegiatan pemilihan, perencanaan,
pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan dan pelaporan. Pemilihan
dilakukan oleh tim khusus yang dibentuk oleh rumah sakit yaitu Tim Farmasi dan
Terapi (TFT) yang terdiri dari dokter yang mewakili dari semua spesialisasi yang
ada di RS, Apoteker dan tenaga kesehatan lainnya.
Perencanaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di
RSUP Sanglah dilakukan dengan metode gabungan antara metode epidemiologi
(penyebaran pola penyakit) dan metode konsumsi (pemakainan pada periode
sebelumnya). Perencanaan ini dilakukan oleh koordinator sebagai penanggung
jawab gudang. Perencanaan dilakukan secara periodik satu tahun sekali dan

77

bulanan (3 bulan, 6 bulan) disesuaikan dengan anggaran yang tersedia, penetapan


prioritas, sisa persediaan, data pemakaian periode yang lalu, waktu tunggu
pemesanan dan rencana pengembangan. Perencanaan pengelolaan sediaan
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai di RSUP Sanglah sudah
berjalan

sesuai dengan standar yang berlaku dan didukung dengan sistem

komputerisasi, sehingga ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan


medis habis pakai dapat dipantau dengan mudah.
Untuk merealisasikan perencanaan kebutuhan, dilakukan kegiatan pengadaan
yang efektif untuk menjamin ketersediaan, jumlah, dan waktu yang tepat dengan
harga yang terjangkau dan sesuai standar mutu serta dilakukan secara
berkesinambungan. Dalam pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan
medis habis pakai, RSUP Sanglah mempersyaratkan kepada pemasok untuk
mencantumkan sertifikat analisa produk, Material Safety Data Sheet (MSDS),
nomor ijin edar dan masa kadaluarsa minimal 2 tahun kecuali untuk sediaan
farmasi, alat kesehatan dan bahan habis pakai tertentu seperti vaksin, reagen dan
lain-lain. Pengadaan di RSUP Sanglah dilakukan oleh bagian lain di luar instalasi
farmasi yaitu Unit Layanan Pengadaan (ULP) yang melibatkan tenaga
kefarmasian guna menjamin sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai sesuai dengan mutu dan spesifikasi yang dipersyaratkan. Pengadaan
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai, dilakukan dengan
cara pembelian yaitu melalui tender dan penunjukan langsung, selain itu dengan
cara sumbangan/dropping/hibah seperti obat anti retroviral, vaksin rabies, obat
untuk rehabilitasi kecanduan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza)
serta obat tuberkulosis.
IFRS mengajukan spesifikasi barang berdasarkan kebutuhan, yang kemudian
diproses oleh bidang pelayanan medik, direktur medik dan keperawatan, bagian
anggaran, bagian akuntansi, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), kemudian ke
ULP, untuk dibuatkan surat pesanan atau kontrak dengan Pedagang Besar Farmasi
(PBF) atau Pedagang Besar Alat Kesehatan (PBAK). Untuk memperlancar
kegiatan pengadaan, maka diperlukan adanya kerjasama antara unit-unit yang

78

terkait, sehingga ketersediaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis
habis pakai dapat tercapai dan tidak terjadi kekosongan stok digudang,
IFRS Sanglah mempunyai 2 tempat penyimpanan/gudang sehingga
penerimaan dilakukan pada masing-masing gudang sesuai dengan jenis dan
spesifikasi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai. Dalam
penerimaan perlu diperhatikan kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, waktu
penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat pesanan dengan
kondisi fisik yang diterima. Jika telah sesuai, dokumen kemudian di tanda tangani
untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Barang yang telah diterima selanjutnya disimpan dengan baik dimana kualitas
dan keamanan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dapat
terjamin sesuai dengan persyaratan kefarmasian. Penyimpanan di IFRS Sanglah
dilakukan berdasarkan kekuatan sediaan (multiple strength), bentuk sediaan, dan
jenis sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan disusun
secara alfabetis dengan menerapkan prinsip First Expired First Out (FEFO) dan
First In First Out (FIFO). Penyimpanan untuk sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai yang mempunyai penampilan dan penamaan yang
mirip atau Look Alike Sound Alike (LASA) tidak ditempatkan berdekatan dan
diberi penandaan khusus untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan.
Begitu juga untuk obat yang mempunyai konsentrasi pekat ( High Alert )
ditempatkan terpisah dari sediaan farmasi lainnya dan diberi penandaan High
Alert. Untuk obat yang mempunyai kekuatan dosis lebih dari satu (Multiple
Sstrength), obat-obat ini diberi penandaan pada tempat penyimpanan sesuai
dengan tingkatan dosisnya yaitu : warna hijau untuk dosis terendah, warna kuning
untuk dosis sedang dan warna merah untuk dosis tertingginya. Untuk
penyimpanan bahan yang mudah terbakar dan gas medis disimpan di ruang
terpisah dan diberi penandaan khusus.
Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehtan dan bahan medis habis pakai di
RSUP Sanglah terdiri dari distribusi dari gudang ke depo-depo farmasi dan
distribusi dari depo ke pasien baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap.
Sistem pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis

79

pakai selalu dicatat dengan baik menggunakan sistem komputer, sehingga mudah
dilakukan pengecekan terhadap stok di masing-masing depo. Pendistribusian
sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dari gudang ke depo
dilakukan

berdasarkan permintaan secara online dari depo ke gudang.

Pendistribusian sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dari
depo ke pasien rawat jalan dilakukan dengan sistem resep perorangan , sedangkan
untuk pasien rawat inap digunakan sistem unit dosis yang dimodifikasi, dimana
obat oral diberikan untuk tiga hari dan untuk injeksi diberikan satu hari. Hal ini
dilakukan untuk mempermudah pemantauan penggunaan obat dan menghindari
adanya kesalahan dalam pelayanan kefarmasian.
Setelah sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
didistibusikan, IFRS dan Tim Farmasi dan Terapi (TFT) melakukan pengendalian
terhadap sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai yang
meliputi : kesesuaian penggunaan obat dengan formularium rumah sakit,
kesesuaian penggunaan obat dengan diagnosa dan terapi Instalasi Farmasi RSUP
Sanglah dalam melakukan pelayanan farmasi klinik, mempunyai tujuan
keselamatan pasien (patient safety) dengan cara meningkatkan outcome terapi dan
meminimalkan resiko terjadinya efek samping obat. Pelayanan farmasi klinik
yang dilakukan IFRS meliputi pengkajian dan pelayanan resep, penelusuran
riwayat penggunaan obat, rekonsiliasi obat, Pelayanan Informasi Obat (PIO),
konseling, visite, Pemantauan Terapi Obat (PTO), Monitoring Efek Samping Obat
(MESO), Evaluasi Penggunaan Obat (EPO), dan dispensing sediaan steril.
Secara umum pelayanan kefarmasian yang diselenggarakan di Instalasi
Farmasi RSUP Sanglah sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di rumah
sakit. Semua kegiatan dilakukan berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO)
dan dijalankan secara teratur oleh seluruh staf instalasi farmasi, sehingga standar
pelayanan dapat tercapai.
Untuk mempermudah dan mempercepat pelayanam farmasi klinik, IFRS
mempunyai depo-depo yang akan mendistribusikan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai, antara lain depo sentral, depo IRJ, depo

80

IGD, depo OK IBS, depo Ok paviliun Amerta, depo Wing Amerta, depo Ok IGD,
dan depo Angsoka.
Instalasi Farmasi RSUP Sanglah mempunyai 2 sarana penyimpanan/gudang
yaitu gudang farmasi dan gudang medis. Gudang farmasi mendistribusikan
kebutuhan obat serta alat kesehatan untuk seluruh depo farmasi yang ada di RSUP
Sanglah, sedangkan gudang medis mendistribusikan sediaan farmasi, alat
kesehatan, dan bahan medis habis pakai selain untuk depo-depo instalasi farmasi
juga mendistribusikan untuk unit-unit lain di RS.
Setelah depo farmasi yang ada di ruang perawatan tutup, maka kegiatan
pelayanan kefarmasian untuk rawat inap dilakukan di depo farmasi sentral, baik
untuk pasien umum, ataupun pasien dengan jaminan kesehatan. Obat dipesan
melalui Kartu Instuksi Obat (KIO) untuk setiap pasien di masing-masing ruangan.
Kegiatan dispensing sediaan steril yang dilakukan instalasi farmasi RSUP
Sanglah adalah melakukan pencampuran obat suntik dan penanganan sediaan
sitostatika. Pencampuran obat suntik yaitu mencampur sediaan intravena kedalam
infus, melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang
sesuai dan mengemas menjadi sediaan siap pakai. Pencampuran obat suntik
dilakukan dalam ruang khusus.
Sedangkan penanganan sediaan sitostatika dikerjakan secara aseptis oleh
tenaga farmasi yang sudah terlatih. Penanganan sediaan sitostatika tersebut
meliputi : perhitungan dosis secara akurat, melarutkan sediaan sitostatika dengan
pelarut yang sesuai, melakukan pencampuran sediaan sitostatika dengan protokol
pengobatan, mengemas dalam kemasan tertentu, dan membuang limbah sesuai
prosedur yang berlaku. Penanganan sediaan sitostatika dilakukan dalam ruang
khusus yang dirancang dengan kondisi yang sesuai, dalam lemari pencampuran
(Biological Safety Cabinet), dilengkapi dengan HEPA filter serta memakai Alat
Pelindung Diri (APD).
Dengan penanganan seperti tersebut diatas Instalasi Farmasi RSUP Sanglah
telah melakukan pengendalian pada keamanan lingkunan, petugas, maupun
sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi.

81

Instalasi Farmasi RSUP Sanglah secara khusus memberikan pelayanan


farmasi klinik di ruang perawatan Gandasturi dimana farmasis akan memberikan
pelayanan informasi obat yang dibutuhkan.
Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi RSUP Sanglah
telah sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit seperti diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2014
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, namun masih ada
kegiatan pelayanan farmasi klinik yang belum dilakukan yaitu pada dispensing
sediaan steril belum melakukan penyiapan Nutrisi Parenteral dan ruang untuk
melakukan pencampuran obat suntik belum dilengkapi dengan Biological Safety
Cabinet dan HEPA filter, dalam mendistribusikan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai belum sepenuhnya dilakukan dengan sistem Unit
Dose Dispensing (UDD), serta belum dilakukannya Pemanantauan Kadar Obat
dalam Darah.(PKOD)