Anda di halaman 1dari 8

I.

JUDUL PERCOBAAN

: Pengaruh pH dan konsentrasi

Enzim terhadap Aktivitas Enzim


II.

HARI, TANGGAL PERCOBAAN : Jumat, 06 November 2015

III.

SELESAI PERCOBAAN

: Jumat, 06 November 2015

IV.

TUJUAN PERCOBAAN

: Membuktikan bahwa pH dan

konsentrasienzim mempengaruhi aktivitas enzim


V.

OLEH

: MARATUS SHOLIKHAH

VI.

DASAR TEORI
Enzim adalah golongan protein yang paling banyak terdapat dalam
sel hidup dan mempunyai fungsi penting sebagai katalisator reaksi
biokimia yang secaara kolektif membentuk metabolisme perantara
(intermediary metabolism) dari sel.
Enzim adalah protein yang mengkatalisis reaklsi-reaksi biokimia.
Enzim biasanya terdapat dalam sel dengan konsentrasi yang sangat rendah,
dimana mereka dapat meningkatkan laju reaksi tanpa mengubah komposisi
kesetimbangannnya; artinya, baik itu laju reaksi maju maupun laju reaksi
kebalikannya ditingkatkan dengan kelipatan yang sama. Kelipatan ini
biasanya disekitar 103 sampai 1012
Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan
penting dalam proses aktivitas biologis. Enzim ini berfungsi sebagai
katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas. Dalam jumlah yang sangat
kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan
normal tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan hasil akhir reaksinya.
Enzim ini akan kehilangan aktivitasnya akibat panas, asam atau basa kuat,
pelarut organik, atau apa saja yang menyebabkan denaturasi protein.
Enzim dikatakan mempunyai sifat khas, karena hanya bekerja pada
substrat tertentu dan bentuk reaksi tertentu.
Enzim atau biokatalisator adalah katalisator organik yang
dihasilkan oleh sel. Enzim sangat penting dalam kehidupan, karena semua
reaksi metabolisme dikatalis oleh enzim. Jika tidak ada enzim, atau
aktivitas enzim terganggu maka reaksi metabolisme sel akan terhambat
hingga pertumbuhan sel juga terganggu. Reaksi-reaksi enzimatik
dibutuhkan agar bakteri dapat memperoleh makanan/ nutrient dalam

keadaan terlarut yang dapat diserap ke dalam sel, memperoleh energi


Kimia yang digunakan untuk biosintesis, perkembangbiakan, pergerakan,
dan lain-lain.
Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk
menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik
yang membutuhkan energi aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan
reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi
membutuhkan waktu lebih lama. Sebagai contoh:
X + C XC

(1)

Y + XC XYC

(2)

XYC CZ

(3)

CZ C + Z

(4)

Meskipun senyawa katalis dapat berubah pada reaksi awal, pada


reaksi akhir molekul katalis akan kembali ke bentuk semula. Sebagian
besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya
dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini
disebabkan perbedaan struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap.
Sebagai contoh, enzim -amilase hanya dapat digunakan pada proses
perombakan pati menjadi glukosa.
Enzim Amilase
Enzim amilase adalah sekelompok enzim katalis yang berfungsi
untuk menghidrolisis gula dan pati, amilase mencerna karbohidrat
(polisakarida) menjadi unit-unit disakarida yang lebih kecil dan akhirnya
mengubahnya menjadi monosakarida seperti glukosa.
Pada Enzim amilase dapat memecah ikatan pada amilum hingga
terbentuk maltosa.Ada tiga macam enzim amilase, yaitu amilase,
amilase dan amilase. Yang terdapat dalam saliva (ludah) dan pankreas
adalah amilase. Enzim ini memecah ikatan 1-4 yang terdapat dalam
amilum dan disebut endo amilase sebab enzim ini bagian dalam atau
bagian tengah molekul amilum (Poedjiadi, 2006).
Enzim amilase berfungsi dalam proses pencernaan makanan
khususnya ketika berada di dalam mulut. Enzim amilase berfungsi untuk
memecah molekul karbohidat menjadi senyawa yang lebih sederhana
sehingga memudahkan untuk proses pencernaan berikutnya. Enzim

amilase dapat bekerja maksimal pada suhu, pH, serta konsentrasi yang
optimum. Mengetahui suhu, pH, serta konsentrasi optimum menjadi hal
penting dalam mempelajari enzim karena terkait dengan kemampuannya
dalam mempercepat reaksi dalam tubuh. Cepat lambatnya reaksi dalam
tubuh berpengaruh besar dalam penyerapan zat gizi. Selain itu reaksi
enzimatik juga berdampak terhadap kesehatan. Abnormalitas sintesis
enzim dapat menimbulkan

berbagai penyakit. Oleh karena itu,

mempertahankan optimalitas kerja enzim sangat penting bagi tubuh.


Cara kerja -amilase terjadi melalui dua tahap yaitu pertama,
degradasi amilosa menjadi maltosa dan maltoriosa yang terjadi secara
acak. Degradasi ini terjadi sangat cepat dan diikuti dengan menurunnya
viskositas dengan cepat. Tahap kedua relatif lambat yaitu pembentukan
glukosa dan maltosa sebagai hasil akhir secara tidak acak. Keduanya
merupakan kerja enzim -amilase pada molekul amilosa saja. Kerja amilase pada molekul amilopektin akan menghasilkan glukosa, maltosa,
dan berbagai jenis limit dekstrin yaitu oligosakarida yang terdiri dari
empat atau lebih residu gula yang semuanya mengandung -1,6glikosidik.
Enzim tertentu dapat bekerja secara optimum pada kondisi tertentu
pula. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah sebagai
berikut:
1.

Suhu (temperatur)
Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim, namun

enzim tidak dapat bekerja. Dengan kenaikan suhu lingkungan, enzim


mulai bekerja sebagian dan mencapai suhu maksimum pada suhu tertentu.
Bila suhu ditingkatkan terus, jumlah enzim yang aktif akan berkurang
karena mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik mencapai
puncaknya pada suhu optimum. Enzim dalam tubuh manusia mempunyai
suhu optimum sekitar 37 C. Sebagian besar enzim menjadi tidak aktif
pada pemanasan sampai 60 C, karena terjadi denaturasi.
Suhu campuran reaksi juga berpengaruh terhadap laju reaksi
enzimatik. Jika reaksi tersebut dilangsungkan dalam berbagai suhu, kurva
hubungan tersebut akan menunjukkan suhu tertentu, yang menghasilkan
laju reaksi yang maksimum. Dengan demikian, dalam hal ini merupakan

kondisi optimum yang disebut sebagai suhu optimum. Makin besar


perbedaan suhu reaksi dengan suhu optimum, makin rendah pula laju
reaksinya. Akan tetapi, keadaan yang menyebabkan rendahnya suhu di
luar suhu optimum berbeda antara suhu yang lebih rendah dengan suhu
yang lebih tinggi. Pada suhu yang lebih rendah penyebab kurangnya laju
reaksi enzimatik yaitu kurangnya gerak termodinamik, yang menyebabkan
kurangnya tumbukan antara molekul enzim dengan substrat. Jika kontak
antara kedua jenis molekul itu tidak terjadi, kompleks ES tidak terbentuk.
Padahal kompleks ini sangat penting untuk mengolah S menjadi P. Oleh
karena itu, makin rendah suhu, gerak termodinamik tersebut akan makin
berkurang.
Pada daerah suhu yang lebih tinggi gerak termodinamik akan lebih
meningkat, sehingga tumbukan antara molekul akan lebih sering. Akan
tetapi laju reaksi tidak terus meningkat, melainkan malah menurun dengan
cara yang lebih kurang sebanding dengan selisih nilai dan suhu optimum.
Dalam peningkatan suhu ini, selain gerak termodinamik meningkat,
molekul protein enzim juga mengalami denaturasi, sehingga bangun tiga
dimensinya berubah secara bertahap. Jika suhu jauh lebih tinggi dari suhu
optimum, maka makin besar deformasi struktur tiga dimensi tersebut dan
makin sukar bagi substrat untuk menempati secara tepat di bagian aktif
molekul enzim. Akibatnya, kompleks E-S akan sukar terbentuk, sehingga
produk juga makin sedikit.

2.

Perubahan pH
Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino, kunci
pada sisi aktif enzim, sehingga menghalangi sisi aktif yang bergabung
dengan substratnya. Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH optimum,
masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda. Sebagai
contoh enzim amilase akan bekerja optimum pada pH 7. Pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim amilase dapat digambarkan dalam grafik dibawah
ini:

Pada grafik diatas menunjukkan antara selisih absorbansi (blanko


dengan uji) dengan pH. Enzim amilase memiliki kemampuan mengubah
pati menjadi disakarida dan monosakarida, yang ditunjukkan dengan
memudarnya warna biru/ungu (dari KI dan pati). Jadi, warna biru/ungu
yang semakin memudar menunjukkan semakin optimumnya kerja enzim
amilase. Sehingga ketika diukur absorbansinya maka akan semakin kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa pada grafik, kerja enzim pada pH optimum
ditunjukkan pada nilai A yang terbesar.
3.

Aktivator
Aktivator merupakan molekul yang mempermudah ikatan antara
enzim dengan substratnya, misalnya ion klorida yang bekerja pada enzim
amilase. Inhibitor merupakan suatu molekul yang menghambat ikatan
enzim dengan substratnya. Inhibitor akan berikatan dengan enzim
membentuk kompleks enzim-inhibitor.
4. Konsentrasi enzim dan substrat
a.

Konsentrasi enzim
Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, makin besar

konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain
konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi.

b.

Konsentrasi substrat
Peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan

reaksi bila jumlah enzim tetap. Namun pada saat sisi aktif semua enzim

berikatan

dengan

substrat,

penambahan

substrat

tidak

dapat

meningkatkan kecepatan reaksi enzim selanjutnya.

Pati (Amilum)
Larutan pati merupakan larutan yang tidak berwarna. Pati
mengandung dua jenis polimer glukosa, amilosa, dan amilopektin.
Amilosa terdiri dari rantai unit-unit D-glukosa yang panjang dan tidak
bercabang, digabungkan oleh ikatan (1-4). Rantai ini beragam dalam berat
molekulnya, dari beberapa ribu sampai 500.000. Amilopektin juga
memiliki berat molekul yang tinggi, tetapi strukturnya bercabang tinggi.
Ikatan glikosidik yang menggabungkan residu glukosa yang berdekatan di
dalam rantai amilopektin adalah ikatan (1-4), tetapi titik percabangan
amilopektin merupakan ikatan (1-6).
Spektrofotometer Uv-Vis
Spektrofotometer Uv-Vis adalah alat yang digunakan untuk
mengukur transmitansi, reflektansi dan absorbsi dari cuplikan sebagai
fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer sesuai dengan namanya
merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer
menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan
fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau
yang diabsorbsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi
cahaya secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau
diemisikan

sebagai

fungsi

dari

panjang

gelombang.

Suatu

spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang


sinambung dan monokromatis. Sel pengabsorbsi untuk mengukur
perbedaan absorbsi antara cuplikan dengan blanko ataupun pembanding.
Cara kerja spektrofotometer Uv-Vis
Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut.
Tempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam sel pertama
sedangkan larutan yang akan dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih
foto sel yang cocok 200nm-650nm (650nm-1100nm) agar daerah yang
diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup
nol galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current.

Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada
blangko dan nol galvanometer didapat dengan memutar tombol
sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitansi, kemudian atur
besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang
akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel.
Larutan pati merupakan larutan yang tidak berwarna, sehingga
untuk melakukan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer
larutan pati harus dijadikan larutan kompleks agar menjadi berwarna dan
dapat diukur absorbansinya. Jika larutan pati tidak dikomplekskan maka
tidak dapat diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer, karena
larutan pati tersebut tidak menyerap warna komplementer dari sinar putih
sehingga tidak ada warna yang diteruskan.

Warna Radiasi Elektromagnetik Yang Diserap Dan Diteruskan Pada


Daerah Visible
yang diserap (nm)

Warna yang diserap

Warna yang diteruskan

380-450

Ungu

Kuning-hijau

450-495

Biru

Kuning

495-570

Hijau

Ungu

570-590

Kuning

Biru

590-620

Oranye

Hijau-biru

620-750

Merah

Biru-hijau

Pada percobaan ini untuk pengukuran absorbansi semuanya


dilakukan pada panjang gelombang 680 nm. Sesuai dengan tabel di atas
pada

panjang

gelombang

tersebut yang

diserap

larutan

pati

terkomplekskan untuk mengahasilkan warna Biru-Hijau (yang dilihat oleh


mata kita) terletak pada rentang = 620-750 nm.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2014.

Penghgaruh

Ph

Dan

Suhu

Terhadap

Aktivitas

Enzim.

(Online).(http://repo.unair.ac.id, diakses pada 04 November 2015 pukul


19.46 WIB).
Irsyad, Tri Oktiana. 2013. Enzim. (Online). (https://www.academia.edu/9831419/,
diakses pada 04 November pukul 23.45 WIB).
Isbeanny Lfh, Jeanne. 2013. 2015. Pengaruh Suhu dan pH Terhadap Aktifitas Enzim.
(Online). (https://www.academia.edu/, diakses pada 04 November 2015 pukul
19.55 WIB).