Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

KONJUNGTIVITIS VERNAL

Pembimbing:
dr. Herman Nur, Sp.M

Disusun Oleh:
Putri Ayu Puspasari
1410221002

Kepaniteraaan Klinik Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional
Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto
Jakarta

2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan karunia-Nya sehingga referat yang berjudul Konjungtivitis Vernal ini dapat
diselesaikan.
Adapun tujuan referat ini adalah untuk mengetahui secara lebih dalam
mengenai salah satu penyakit mata yaitu konjungtivitis vernal. Pada referat ini
akan dibahas berbagai segi mengenai konjungtivitis vernal mulai dari definisi,
epidemiologi, klasifikasi, patofisiologi, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan,
komplikasi, prognosis.
Tak lupa penulismengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
banyak membantu dalam penyusunan laporan kasus ini, khususnya kepada dr.
Herman Nur, SpM sebagai pembimbing dalam penulisan referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa referat ini masih jauh dari
sempurna.Oleh karena itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila
terjadi kesalahan dalam penulisan maupun dalam pembahasan materi.Penulis juga
mengharapkan kritik dan saran sebagai masukan untuk perbaikan demi
kesempurnaan referat ini.
Demikianlah kata pengantar dari penulis.Semoga referat ini bermanfaat
untuk menambah wawasan kita semua.Sekian dan terima kasih.

Jakarta, 11 Januari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................ 1
KATA PENGANTAR ...................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................... 3
1.1 LATAR BELAKANG .............................................................. 4
1.2 TUJUAN PENULISAN ........................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... 6
II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA ................... 6
II.2 HISTOLOGI .............................................................................. 8
II.3 PERDARAHAN DAN PERSARAFAN .................................. 9
II.4 KONJUNTIVITIS VERNAL ................................................... 10
II.4.1 DEFINISI ............................................................................... 10
II.4.2 BATASAN ............................................................................. 10
I.4.3 SINONIM ................................................................................ 10
II.4.4 EPIDEMIOLOGI................................................................... 11
II.4.5 INSIDENSI............................................................................ 11
II.4.6PATOFISIOLOGI.................................................................... 11
II.4.7 ETIOLOGI.............................................................................. 13
II.4.8 GAMBARAN KLINIS........................................................... 13
II.4.9 PEMERIKSAAN LABORATORIUM.................................. 15
II.4.10 DIAGNOSIS........................................................................

15

II.4.11 DIAGNOSIS BANDING.....................................................

16

II.4.12 PENGOBATAN................................................................... 16
II.4.13 KOMPLIKASI ....................................................................

17

II.4.14 PROGNOSIS........................................................................ 17

BAB III KESIMPULAN ................................................................ 19


DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG


Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis adalah penyakit
mata paling umum di dunia. Penyakit ini bervariasi dari hiperemi ringan dengan
berair mata sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.
Penyebabnya umumnya eksogen namun dapat endogen. Konjungtivitis dapat
disebabkan oleh bakteri, klamidia, virus, ricketsia, fungi, parasit, imunologi
(alergi), kimiawi (iritatif), tidak diketahui, bersamaan dengan penyakit sistemik,
sekunder terhadap dakriosistitis atau kanalikulitis.1,2
Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat
berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari
kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi
antibodi humoral terhadap antigen. Biasanya dengan riwayat atopi.2
Dikenal

beberapa

macam

bentuk

konjungtivitis

alergi

seperti

konjungtivitis flikten, konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi, konjungtivitis


alergi bakteri, konjungtivitis alergi akut, konjungtivitis alergi kronik, sindrom

Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom Syogren. 2 Di bawah ini akan
dibahas salah satu dari bentuk konjungtivitis alergi yaitu konjungtivitis vernal.

I.2 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penyusunan referat ini adalah untuk mengetahui secara umum
mengenai anatomi konjungtiva, definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi,
diagnosis,

penatalaksanaan,

komplikasi,

prognosis

hingga

pencegahan

konjungtivitis vernal.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI KONJUNGTIVA


II.1.1 Anatomi Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak
bagian belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva
ini. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.
Musin

bersifat

membasahi

bola

mata

terutama

kornea.

Konjungtiva

divaskularisasi oleh arteri konjungtiva posterior dan arteri siliaris anterior,


dipersarafi oleh nervus trigeminus (N.Opthalmicus).2
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian, yaitu:2
Konjungtiva palpebra, hubungannya dengan tarsus sangat erat. Gambaran
dari glandula Meibom yang ada di dalamnya tampak membayang sebagai
garis sejajar berwarna putih. Permukaan licin, dicelah konjungtiva terdapat
kelenjar Henle. Histologis: terdiri dari sel epitel silindris. Di bawahnya
stroma dengan bentuk adenoid dengan banyak pembuluh darah.
Konjungtiva forniks, strukturnya sama dengan konjungtiva palpebra.
Tetapi hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan
membentuk lekukan-lekukan. Juga mengandung banyak pembuluh darah.

Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi, bila
terdapat peradangan mata. Dengan berkelok-keloknya konjungtiva ini
pergerakan mata menjadi lebih mudah. Di bawah konjungtiva forniks
superior terdapat glandula lakrimal dari Kraus. Melalui konjungtiva
forniks superior juga terdapat muara saluran air mata.
Konjungtiva bulbi, tipis dan tenbus pandang meliputi bagian anterior
bulbus okuli. Di bawah konjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon.
Strukturnya sama dengan konjungtiva palpebra, tetapi tak mempunyai
kelenjar. Dari limbus, epitel konjungtiva meneruskan diri sebagai epitel
kornea. Di dekat kantus internus, konjungtiva bulbi membentuk plika
semilunaris yang mengelilingi suatu pulau kecil terdiri dari kulit yang
mengandung rambut dan kelenjar yang disebut caruncle.

Gambar 1. Anatomi konjungtiva

Konjungtiva forniks struktumya sama dengan konjungtiva palpebra. Tetapi


hubungan dengan jaringan dibawahnya lebih lemah dan membentuk lekukanlekukan. Juga mengandung banyak pembuluh darah. Oleh karena itu,
pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi bila terdapat peradangan mata.
II.2. Histologi
1) Lapisan epitel konjungtiva
Terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat,
superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas
karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata
terdiri dari sel-sel epitel skuamosa bertingkat.
2) Sel-sel epitel superficial
Mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus.
Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi
lapisan air mata secara merata diseluruh prekornea.Sel-sel epitel basal
berwarna lebih pekat daripada sel-sel superficial dan di dekat limbus
dapat mengandung pigmen.
3) Stroma konjungtiva
Dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superficial) dan satu lapisan fibrosa
(profundus):
Lapisan adenoid
Mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat mengandung
struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid
tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini

menjelaskan mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat


papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian menjadi folikuler.
Lapisan fibrosa
Tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus.
Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang konjungtiva.
Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
4) Kelenjar air mata asesori ( kelenjar Krause dan wolfring )
Struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma.
Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas,dan sisanya
diforniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas.
II.3 Perdarahan dan Persarafan
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteria siliaris anterior dan arteria
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama dengan
banyak vena konjungtiva membentuk jaringan vaskular konjungtiva yang sangat
banyak. Konjungtiva juga menerima persarafan dari percabangan pertama nervus
V dengan serabut nyeri yang relatif sedikit .1

II.4. KONJUNGTIVITIS VERNAL


II.4.1 Definisi
Konjungtivitis vernal adalah keradangan bilateral konjungtiva yang
berulang menurut musim dengan gambaran spesifik hipertropi papiler di
daerah tarsus dan limbus.3

II.4.2 Batasan
Konjungtivitis vernal termasuk dalam konjungtivitis imunologik (alergika)
yang terbagi dalam dua kategori menurut patofisiologinya yaitu reaksi
hipersensitivitas humoral segera dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Konjungtivitis dengan reaksi hipersensitivitas hmoral segera terdiri dari
konjungtivitis hay fever, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis
vernal dan konjungtivitis papiler raksasa (giant papillary keratoconjunctivitis).
Sedangkan konjungtivitis reaksi hipersensitivitas tipe lambat terdiri dari
fliktenulosis, konjungtivitis ringan sekunder akibat blefaritis kontak. Pada
makalah ini hanya membahas konjungtivitis vernal.1

II.4.3 Sinonim
Penyakit ini, juga dikenal sebagai catarrh

musim semi dan

konjungtivitis menahun atau konjungtivitis musim kemarau. Dinamakan

10

spring catarrh karena banyak didapatkan pada musim bunga di daerah yang
mempunyai empat musim.4

II.4.4 Epidemiologi
Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah
dingin. Penyakit ini hampir selalu lebih parah selama musim semi, musim
panas dan musim gugur daripada di musim dingin. 1 Di daerah yang panas,
didapatkan sepanjang masa, terutama pada musim panas.4

II.4.5 Insidensi
Penyakit ini merupakan penyakit alergi bilateral yang jarang, biasanya
mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun. Penyakit
ini lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada perempuan. 1 Tendensi
untuk diderita anak-anak dan orang usia muda.3 Terbanyak mengenai usia
antara 5-25 tahun terutama laki-laki. Bila didapatkan pada usia lebih dari 25
tahun, kemungkinan suatu konjungtiva atopi.4

II.4.6 Patofisiologi
Menurut lokalisasinya dibedakan tipe palpebral dan tipe limbal.2,3
Tipe palpebra.

Pada beberapa tempat akan mengalami hiperplasi

sedangkan di bagian lain mengalami atrofi. Terdapat pertumbuhan


papil yang besar (Cobble stone) yang diliputi sekret yang mukoid.
Perubahan mendasar terdapat di substansia propia. Substansia propia

11

terinfiltrasi sel-sel limfosit, plasma dan eosinofil. Pada stadium lanjut


jumlah sel-sel limfosit, plasma dan eosinofil akan semakin meningkat,
sehingga terbentuk tonjolan jaringan di daerah tarsus, disertai
pembentukan pembuluh darah baru. Degenerasi hyalin di stroma
terjadi pada fase dini dan semakin menghebat pada stadium lanjut.
Tipe ini terutama mengenai konjungtiva tarsal superior.

Gambar 2. Gambaran cobble stone pada konjungtiva tarsalis


superior.

Tipe limbus. Hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat


membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Horner-Trantas dots
yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di bagian
epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.

12

Gambar 3.
Hipertrofi papiler
pada limbus
superior

II.4.7

Etiologi
Alergi

merupakan kemungkinan terbesar penyebab konjungtivitis vernal. Hal ini


berdasarkan pada : 2
-

tendensi untuk diderita anak-anak dan orang usia muda

kambuh secara musiman

pemeriksaan getah mata didapatkan eosinofil

Alergen spesifiknya sulit dilacak, namun pasien kadang-kadang menampakkan


manifestasi alergi lainnya yang berhubungan dengan sensitivitas tepung sari
rumput.1
II.4.8 Gambaran Klinis
Gambaran klinis konjungtivitis vernal adalah sebagai berikut 1,3,4

Keluhan utama : gatal


Pasien pada umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat. Keluhan gatal
ini menurun pada musim dingin.

Ptosis
Terjadi

ptosis

bilateral,

kadang-kadang

yang

satu

lebih

ringan

dibandingkan yang lain. Ptosis terjadi karena infiltrasi cairan ke dalam sel13

sel konjungtiva palpebra dan infiltrasi sel-sel limfosit plasma, eosinofil,


juga adanya degenarasi hyalin pada stroma konjungtiva.

Kotoran mata
Keluhan gatal umumnya disertai dengan kotoran mata yang berserat-serat.
Konsistensi kotoran mata/tahi mata elastis ( bila ditarik molor).

Kelainan pada palpebra


Terutama mengenai konjungtiva palpebra superior. Konjungtiva tarsalis
pucat, putih keabu-abuan disertai papil-papil yang besar (papil raksasa).
Inilah yang disebut cobble stone appearance. Susunan papil ini rapat
dari samping tampak menonjol. Seringkali dikacaukan dengan trakoma. Di
permukaannya kadang-kadang seperti ada lapisan susu, terdiri dari sekret
yang mukoid. Papil ini permukaannya rata dengan kapiler di tengahnya.
Kadang-kadang konjungtiva palpebra menjadi hiperemi, bila terkena
infeksi sekunder.

Horner Trantas dots


Gambaran seperti renda pada limbus, dimana konjungtiva bulbi menebal,
berwarna putih susu, kemerah-merahan, seperti lilin. Merupakan
penumpukan eosinofil dan merupakan hal yang patognomosis pada
konjungtivitis vernal yang berlangsung selama fase aktif.

Kelainan di kornea
Dapat berupa pungtat epithelial keratopati. Keratitis epithelial difus khas
ini sering dijumpai. Kadang-kadang didapatkan ulkus kornea yang
berbentuk bulat lonjong vertikal pada superfisial sentral atau para sentral,

14

yang dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatrik yang ringan.


Kadang juga didapatkan panus, yang tidak menutupi seluruh permukaan
kornea, sering berupa mikropanus, namun panus besar jarang dijumpai.
Penyakit ini mungkin juga disertai keratokonus. Kelainan di kornea ini
tidak membutuhkan pengobatan khusus, karena tidak tidak satu pun lesi
kornea ini berespon baik terhadap terapi standar.

II.4.9 Pemeriksaan Laboratorium


Pada pemeriksaan sekret atau kerokan konjungtiva dengan pewarnaan
Giemsa di daerah tarsus atau limbus didapatkan sel-sel eosinofil dan eosinofil
granul.

II.4.10 Diagnosis
Berdasarkan atas pemeriksaan klinik dan laboratorium.3
Pemeriksaan Klinis:
1. Anamnesa : adanya keluhan gatal, mata merah kecoklatan (kotor).
2. Pemeriksaan Fisik :

Palpebra : didapatkan hipertropi papiler, cobble stone appearance,


Giants papillae.

Konjungtiva bulbi: warna merah kecoklatan dan kotor, terutama di


area fisura interpalpebralis.

Limbus : Horner Trantas dots

3. Pemeriksaan Laboratorium:

15

Pada pemeriksaan kerokan konjungtiva atau getah mata didapatkan


sel-sel eosinofil dan granula eosinofil granul dari pulasan Giemsa
(eksudatnya)

Pemeriksaan darah : eosinofilia dan peningkatan kadar serum IgE.

II.4.11 Diagnosis Banding3

II.4.12 Pengobatan
Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati, dan perlu diingat
bahwa medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangkapendek, berbahaya jika dipakai jangka-panjang.1,2
Oleh karena dasarnya alergi, diberi larutan kortikosteroid, yang pada
stadium akut diberikan setiap 2 jam 2 tetes, atau dalam bentuk salep mata. Steroid
topikal atau sistemik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengaruhi
penyakit kornea ini, dan efek sampingnya (glaukoma, katarak, ulkus kornea,dan

16

komplikasi lain) dapat sangat merugikan. Sekali penderita memakai kortikosteroid


dan merasa keluhan-keluhannya menjadi sangat berkurang, ada kecenderungan
untuk memakai kortikosteroid secara terus-menerus. Sebaiknya kortikosteroid
lokal diberikan setiap 2 jam selama 4 hari, untuk selanjutnya digantikan dengan
obat-obatan yang lain. Kalau ada kelainan kornea, jangan diberikan kortikosteroid
lokal, kalau perlu dapat diberikan secara sistemik, disamping ditambah dengan
sulfas atropin 0,5 % 3 kali sehari 1 tetes. Cromolyn topical adalah agen profilaktik
yang baik untuk kasus sedang sampai berat. Vasokonstriktor, kromolin topikal
dapat mengurangi pemakaian steroid. Kompres dingin selama 10 menit beberapa
kali sehari dapat mengurangi keluhan-keluhan penderita. Tidur (jika mungkin juga
bekerja) di ruang sejuk ber AC sangat menyamankan pasien. Bila terdapat tukak
kornea, maka diberi antibiotik lokal untuk mencegah infeksi sekunder disertai
dengan sikloplegik. Pada kasus-kasus berat, kortikosteroid dan antihistamin
peroral dapat dianjurkan. Bila pengobatan tidak ada hasil dapat diberikan radiasi,
atau dilakukan pengangkatan giant papil. 1,2,3,4
Alergen yang telah diketahui sebaiknya dihindari, yaitu bulu bebek,
kelemumur binatang dan protein makanan tertentu (misalnya albumin, dll).
Alergen spesifik sangat sulit ditemukan pada penyakit vernal, walaupun diduga
bahwa sustansi seperti tepung sari rumput-rumputan sejenis gandum hitam (rye
grass pollens) mungkin berperan sebagai penyebabnya. Jika dari segi ekonomi
memungkinkan, sangat bermanfaat jika pasang AC di rumah atau pindah ke
tempat beriklim sejuk, dingin dan lembab. Pasien yang melakukan ini sangat
tertolong bahkan dapat sembuh total.1,3,4,5

17

II.4.13 Komplikasi
Climatic droplet keratopathy adalah gangguan degeneratif yang jarang
pada kornea, ditandai dengan agregat spherules berwarna kuningan keemasan
yang menumpuk di lapisan subepitel. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi faktorfaktor tertentu seperti paparan sinar ultraviolet, cuaca panas, dan mikrotrauma
sebagai faktor predisposisi. Deposit agregat spherules dapat mengakibatkan
elevasi epitel berbentuk seperti pita. Keratopati sering ditemukan pada
konjungtivitis vernal terutama pada konjungtivitis vernal tipe palpebral. Tanda dan
gejala erosi epitel pungtata superior ditandai dengan adanya lapisan mucus pada
kornea superior. Plak dan shield ulcer dapat berkembang pada konjuntivitis
vernal tipe palpebra atau tipe campuran dimana membran Bowman yang terkena
dilapisi oleh mukus dan kalsium fosfat, yang menyebabkan mata mnejadi kering
dan tertundanya proses re-epitelisasi. Perkembangan ini memerlukan perhatian
khusus untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Pseudogerontoxon dapat
terjadi pada konjuntivitis vernal tipe limbal yang berulang. Hal ini ditandai
dengan adanya jaringan parut berbentuk pita pada paralimbal yang menyerupai
arkus senilis, lokasinya berdekatan dengan segmen yang meradang sebelumnya
dari limbus.

II.4.14 Prognosis
Konjungtivitis vernal diderita sekitar 4-10 tahun, dengan remisi dan
eksaserbasi. Penyulit konjungtivitis vernal terutama disebabkan oleh pengobatan

18

dengan kortikosteroid lokal, yang tidak jarang mengakibatkan glaukoma kronik


simpel yang terbengkalai yang dapat berakhir dengan kebutaan.3

BAB III
KESIMPULAN

Konjungtivitis vernal merupakan bagian dari konjungtivitis alergi yang


disebut juga spring catarrh atau konjungtivitis menahun. Penyakit ini hampir
selalu terdapat di musim semi, musim panas dan musim gugur pada negara 4
musim dan sepanjang tahun di negara tropis atau subtropis. Biasanya penyakit ini
muncul mulai tahun-tahun prapubertas, berlangsung selama 5-10 tahun dan lebih
banyak pada laki-laki. Menurut lokalisasinya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
tipe palpebral (terbentuk cobble stone pada konjungtiva palpebralis diliputi sekret
mukoid) dan tipe limbal (hipertrofi papil pada limbus superior / Horner-Trantas
dots). Alergen penyebab konjungtivitis vernal biasanya berhubungan dengan
tepung sari rumput. Gambaran klinis dapat berupa gatal yang sangat berat pada
mata, ptosis bilateral, kotoran mata, gambaran cobble stone atau Horner-Trantas
dots. Pada pemeriksaan sekret atau kerokan konjungtiva dengan pewarnaan
Giemsa dapat ditemukan sel-sel eosinofil yang banyak. Konjungtivitis vernal
termasuk self-limiting disease. Pengobatan hanya diberikan jika gejala-gejala
sangat berat dan hanya dipakai dalam jangka pendek. Dapat diberikan
kortikosteroid, antihistamin, atau vasokonstriktor. Antibiotik lokal disertai

19

sikloplegik diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. Edukasi pasien untuk


menghindari alergen merupakan hal yang sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

1. Schwab IR, Dawson CR. 2000. Konjungtiva dalam: Oftalmologi Umum.


Edisi 14. Jakarta: Widya Medika. Hal: 99-101, 115-116.
2. Ilyas, Sidarta. 1999. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hal: 2-3, 124, 138-139.
3. Soewono W, Budiono S, Aminoe. 1994. Konjungtivitis Vernal dalam:
Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata. Surabaya:
RSUD Dokter Soetomo. Hal: 92-94.
4. Wijana, Nana. 1983. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. Hal: 43-44
5. Vaughan D, Asbury T. 1992. Oftalmologi Umum. Jilid 2. Edisi II.
Yogyakarta: Widya Medika. Hal: 81-82.
6. Takamura E, Eiichi U, Nobuyuki E, et al. Japanene guideline for allergic
conjunctival disease. Allergology International. 2011;60:191-203.
7. Meyer D. Current concepts in the therapeutic approach to allergic
conjunctivitis. Current Allergy and Clinical Immunology. June 2006;19:2.
65 68.

20