Anda di halaman 1dari 10

Fraktur Antebrachii mengakibatkan Compartment Sindrom

Dibuat oleh :
Mendy
102011413
A2
mendy.gotama@hotmail.com

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


JL. ARJUNA UTARA NO.6
JAKARTA BARAT

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Compartment sindrom adalah suatu keadaan peningkatan tekanan jaringan
dalam ruang anatomis yang berbatas menyebabkan penurunan aliran darah yang
menimbulkan iskemi disfungsi mioneural yang ada di dalamnya.
Penyebab terjadinya perisitiwa ini dikarenakan trauma, fraktur, perdarahan
tertutup, kompresi eksternal, circumferential burn. Tanda- tanda klinis yang dirasakan
pasien adalah merasakan pembengkakan dan ketegangan, pain, pallor, parestesia,
paralisis, dan pulselessness.

B. Tujuan
Adapun menulis makalah ini bertujuan untuk :

Mengetahui langkah-langkah dalam pemeriksaan

Mengetahui gejala klinis yang terdapat pada fraktur antebrachii,

Mengetahui jenis, klasifikasi, mekanisme trauma pada fraktur,

Mengetahui penatalaksanaan yang tepat pada kasus ini,

BAB II
ISI
A. Pengertian Fraktur
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, biasanya diakibatkan oleh trauma, fraktur
dibagi beberapa dan masuk seperti klasifikasi fraktur sederhana yang tidak merusak
kulit, kemudian fraktur kompleks yang merusak kulit serta fraktur komplet dan
inkomplet dimana fraktur pada tulang terjadi seutuhnya atau hanya sebagian.
B. Skenario
Seorang laki-laki berusia 30 tahun dibawa ke UGD RS dengan keluhan nyeri pada
lengan kanannya setelah terjatuh dari sepeda motornya 1 hari yang lalu. Setelah
kecelakaan tersebut keluarga pasien membawanya ke dukun patah tulang untuk
diurut. Saat dibawa ke UGD, pasien mengeluh lengan kanannya sangat nyeri dan
tangan kanannya terasa baal. Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda vital dalam batas
normal, regio antebrachii dekstra 1/3 tengah tampak edema, hyperemia, deformitas.
Pada palpasi, nyeri tekan (+), teraba krepitasi, pulsasi a.Radialis melemah, jari-jari
tangan kanan masih dapat digerakan, akan tetapi terasa sangat nyeri apabila
diekstensikan.
C. Pembahasan skenario
I.
Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap
pasien (auto-anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (aloanamnesis).1
Identitas: menanyakan nama, umur, jenis kelamin, pemberi informasi
(misalnya pasien, keluarga,dll), dan keandalan pemberi informasi.
Keluhan utama: pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang
sedang dihadapinya.
Riwayat penyakit sekarang (RPS): jelaskan penyakitnya berdasarkan kualitas,
kuantitas, latar belakang, waktu termasuk kapan penyakitnya dirasakan,

faktor-faktor apa yang membuat penyakitnya membaik, memburuk, tetap,


apakah keluhan konstan, intermitten. Informasi harus dalam susunan yang
kronologis, termasuk test =antibody yang dilakukan sebelum kunjungan
pasien. Riwayat penyakit dan pemeriksaan apakah ada demam, nyeri kepala,
pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan
tidak enak di perut, batuk dan epistaksis.
Riwayat Penyakit Dahulu : Pernahkah pasien mengalami fraktur antebrachii
sebelumnya.
Riwayat Keluarga: umur, status anggota keluarga (hidup, mati) dan masalah
kesehatan pada anggota keluarga.
Riwayat psychosocial (sosial): stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat
tinggal), faktor resiko gaya hidup (makan makanan sembarangan).
Anamnesis terarah dalam kasus :
Keluhan Utama :
o Lengan kanan sangat nyeri dan terasa baal.
Keluhan Tambahan:
o Jari-jari tangan masih dapat digerakan, akan tetapi terasa sangat nyeri
apabila diekstensikan.
II.

Pemeriksaan Fisik
Tanda vital: Suhu (oral, =ntibo, =ntib atau telinga), nadi, respirasi, tekanan darah
(mencakup lengan kanan, lengan kiri, berbaring, duduk, berdiri), tingkat
kesadaran.1

Pemeriksaan inspeksi, palpasi, dan false movement


o Terlihat adanya pembengkakan pada regio antebrachii 1/3 tengah dekstra,
o Terdapat pula deformitas,
o Pada palpasi terdapat nyeri tekan
o Pada false movement dapat digerakan jari tangannya

III.

Pemeriksaan penunjang
Sebelum sampai rumah sakit, menghindari nyeri serta kerusakan
jaringan lunak maka sebaiknya menggunakan bidai yang bersifat radiolusen
untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis2
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip :

Dua posisi proyeksi : dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada

anteroposterior dan lateral


Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal

dan distal sendi yang mengalami fraktur


Dua anggota gerak, pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada

kedua anggota gerak terutama pada fraktur epifisis.


Dua trauma, pada trauma yang lebih sering menyebabkan fraktur pada
dua daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka

perlu dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang


Dua kali dilakukan foto, pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan
foto berikutnya 10-14 hari kemudian.
Pemeriksaan laboratorium meliputi :

Pemeriksaan darah rutin untuk mengenai keadaan umum, infeksi


akut/menahun
Indikasi tertentu, diperlukan pemeriksaan kimia darah, reaksi
imunologi, fungsi hati/ginjal
Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan sensitivity test
IV.

Klasifikasi fraktur humerus


Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, biasanya diakibatkan oleh
trauma, Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang , tulang rawan
sendi,tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada
tulanghumerus. Fraktur dibagi beberapa dan masuk seperti klasifikasi fraktur
sederhana yang tidak merusak kulit, kemudian fraktur kompleks yang merusak
kulit serta fraktur komplet dan inkomplet dimana fraktur pada tulang terjadi
seutuhnya atau hanya sebagian.2,3
Bila trauma menghancurkan sampai tiga atau lebih fragmen disebut
fraktur kominut. Pada fraktur impak ada fragmen yang terpendam pada
substansi lain. Fraktur kompresi yang biasa terjadi pada tulang vertebra, dan
fraktur depresi yang biasa terjadi pada tulang tengkorak dan masuk ke dalam.
Penyembuhan luka bersifat kontinu dan sekuensial. Keadaan ini
dikaitkan dengan immobilisasi tidak adekuat, suplai darah buruk, distraksi
fragmen, interposisi terhalang jaringan lunak, atau infeksi.
Klasifikasi fraktur humerus adalah sebagai berikut :4
Fraktur proksimal humerus

o Pada fraktur jenis ini insidensinya meningkat pada usia yang


lebih tua yang terkait dengan osteoporosis. Perbandingan antara
wanita dan pria 2: 1
o Mekanisme trauma pada orang dewasa tua biasa dihubungkan
dengan kerpauhan tulang. Pada pasien dewasa muda, fraktur ini
dapat rejadi karena high-energy trauma, con. Kecelakaan lalu
lintas sepeda motor.
o Gejala klinis pada fraktur ini adalah nyeri, bengkak, nyeri
tekan, nyeri pada saat digerakan, dan dapat teraba krepitasi.
Ekimosis dapat terlihat dinding dada dan pinggang setelah
terjadi cedera. Hal ini harus dibedakan dengan cedera toraks.
Fraktur shaft humerus
o Fraktur ini adalah fraktur yang sering terjadi. 60% kasus adalah
fraktur sepertiga tengah diafisis, 30 % fraktyur sepertiga
proksimal

diafiosis

dan

10% sepertiga

distal

diafisis.

Mekanisme terjadinya trauma dapat secara langsung maupun


tidak langsung.
o Gejala klinis pada jenis fraktur ini adalah nyeri bengkak,
deformitas, dan dapat terjadi pemendekan tulang pada tangan
yang fraktur. Pemeriksaan neurovaskuler adalah penting
dengan memperhatikan fungsi n.radialis.
Fraktur distal humerus
o Fraktur ini jarang terjadi pada dewasa. Kejadiannya hanya
sekitar 2% untuk semua kejadian fraktur dan hanya sepertiga
bagian dari seluruh kejadian fraktur humerus.
o Mekanisme cedera untuk fraktur ini dapat terjadi karena trauma
langsung atau trauma tidak langsung. Trauma langsung
con.apabila terjatuh atau terpeleset dengan posisi siku tangan
menopang tubuh atau bisa juga karena siku tangan terbentur
benda tumpul. Trauma tidak langsung apabil jatuh dalam posisi
tangan menopang tubuh namun posisi siku dalam posisi tetap
lurus
o Gejala klinis dari fraktur ini antara lain pada daerah siku dapat
terlihat bengkak, kemerahan, nyeri, kaku sendi dan biasanya
pasien akan mengeluhkan siku lengannya seperti akan lepas.

Kemudian dari perabaan terdapat nyeri tekan, krepitasi dan


neurovaskuler dalam batas normal.
V.

Penatalaksanaan
Dapat dilakukan secara umum yaitu primary surgery terlebih dahulu,
sebelum penderita diangkut pasang bidai untuk mengurangi nyeri, mencegah
kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya kedudukan fraktur. Bila tidak
terdapat bahan untuk bidai, maka bila lesi di anggota gerak bagian atas untuk
sementara anggota gerak yang sakit dikebatkan ke badan penderita4
Pilihan terapi konservatif atau operatif, pilihan harus mengingat tujuan
pengobatan fraktur yaitu mengembalikan fungsi tulang yang patah dalam
jangka waktu sesingkat mungkin, sebagai contoh bila fraktur terjadi pada
proksimal humeri, pada fraktur ini tidak diperlukan reposisi. Lengan yang
cedera diistirahatkan dengan memakai gendongan (sling) selama 6 minggu.
Selama waktu itu penderita dilatih untuk menggerakan sendi bahu berputar
sambil membongkokan badan meniru gerakan bandul (pendulum exercise).
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kekauan sendi.
Teknik pemasangan gips yang lain yaitu dengan hanging cast, terutama
dipakai pada penderita yang dapat berjalan dengan posisi fragmen distal dan
proksimal terjadi contractionum (pemendekan).
Apabila fraktur diikuti dengan komplikasi cedera n.radialis, harus
dilakukan open reduksi dan internal fiksasi dengan plate-screw untuk humerus
disertai eksplorasi n.radialis.
Selain itu juga digunakan obat yang berfungsi mengurangi rasa sakit,
obat ini juga digunakan untuk anstesi dan melemas otot sehingga mudah untuk
di reposisi. Obat ini disebut obat pelumpuh otot.
Pelumpuh otot merupakan golongan amonium kuaterner, sehingga
tidak diserap dengan baik melalui usus. Namun tubokurarin diserap dengan
baik melalui pentuntikan intramuskular.3
2/3 dari dosis d-Tubokurarin disekresikan oleh urin. Walaupun efek
paralisis mulai menghilang dalam waktu 20 menit setelah suntikan intravena,
beberapa gejala masih terlihat sampai 2-4 jam atau lebih. Distribusi. Eliminasi
dan masa kera metokurin sama dengan tubokurarin.3
Pankuronium sebagian mengalami hidroksilasi di hati, tetapi juga
mempunyai masa kerja yang sama. Atrakurium dikonversi oleh estarase
plasma dan secara spontan menjadi metabolit uang kurang aktif sehingga

menyebabkan waktu paruhnya tidak meningkat pada pasien dengan gangguan


ginjal.3
VI.

Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi :5
Kekakuan sendi bahu (ankilosis), lesi pada n.sirkumfleksi aksilaris

menyebabkan paralisis m.deltoid


Apabila fraktur medial humerus diserta komplikasi cedera n.radialis
harus dilakukan operasi reduksi dan internal fiksasi dengan plate screw

untuk humerus disertai eksplorasi n.radialis


Sindroma kompartemen yang biasa disebut 5p (pain, pallor,
pulselessness, paraesthesia, paralysis), terjepitnya a.brakhialis yang

akan menyebabkan nekrosis otot-otot dan saraf.


Mal union cubiti varus (carrying angle berubah) dimana siku berbentuk
O, secara fungsi baik, tapi kosmetik kurang baik. Perelu dilakukan
koreksi dengan operasi meluruskan siku dengan teknik French

osteotomy.
Compartment sindrom adalah suatu keadaan peningkatan tekanan
jaringan dalam ruang anatomis yang berbatas menyebabkan penurunan
aliran darah yang menimbulkan iskemi disfungsi mioneural yang ada

di dalamnya. 4,5
Penyebab terjadinya perisitiwa ini dikarenakan trauma, fraktur,
perdarahan tertutup, kompresi eksternal, circumferential burn. Tandatanda klinis yang dirasakan pasien adalah merasakan pembengkakan
dan ketegangan, pain, pallor, parestesia, paralisis, dan pulselessness.4,5

BAB III
KESIMPULAN

Fraktur humerus adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi,


tulang rawan epifisial baik yang bersifat total maupun parsial pada tulang humerus
Etiologi fraktur humerus umumnya merupakan akibat trauma. Selain dapat
menimbulkan patah tulang (fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak
sekitar tulang tersebut. Mekanisme trauma sangat penting dalam mengetahui luas dan
tingkat kerusakan jaringan tulang serta jaringan lunak sekitarnya.
Diagnosis fraktur humerus dapat dibuat berdasarklan anamnesis yang baik,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Penatalaksanaan penderita fraktur humerus harus dilakukan secara cepat dan
tepat untuk mencegah komplikasi segera, dini, lambat

Bab IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Gleadle, Jonathan. Pengambilan anamnesis. dalam : at a glance anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Jakarta : Penerbit Erlangga; 2007. h.1-17.
2. Stannard JP, Schmidt AH, Kregor PJ. Surgical treatment of orthopedic trauma.
Germany : Thieme, 2007,h.44-6.
3. Setiawati A, Gan S. Farmakologi dan terapi. 5th Ed. Jakarta : Badan Penerbit FKUI ,
2012, h.105-14.
4. Tambayong J. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta : EGC, 2000, h.124-7.
5. Azar Frederick. Compartment syndrome in Campbell`s operative orthopaedics. Ed
10th. Vol 3. Mosby. USA. 2003. p : 2449-57