Anda di halaman 1dari 32

Metabolisme Empedu beserta Organ Terkait

Dibuat oleh :
Mendy
102011413
B2
mendy.gotama@hotmail.com

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


JL. ARJUNA UTARA NO.6
JAKARTA BARAT

0 | Page

DAFTAR ISI

BAB I
Latar Belakang

Hal 2

Tujuan

Hal 2

BAB II
Pengertian Sistem Pencernaan

Hal 3

Skenario

Hal 3

Pembahasan Skenario

Hal 3 - 30

Struktur Makroskopis

Struktur Mikroskopis

Organ Pencernaan Tambahan

Mekanisme Kerja dan Fungsi Organ Pencernaan

Enzim Sistem Pencernaan

Penyerapan makanan

BAB III
Kesimpulan

Hal 31

BAB IV
Daftar Pustaka

Hal 32

1 | Page

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem pencernaan untuk memproses serta memecah makanan dari masuk hingga keluar
dari tubuh, pencernaan ini sangat berfungsi bagi tubuh terutama untuk membentuk energy.
Karena sumber energy didapat dari makanan. Proses pemecahan ini melibatkan enzim-enzim
pencernaan pada organ pencernaan. Adapun tujuan dari pemecahan ini adalah molekul-molekul
tersebut dapat diabsorpsi oleh usus dan masuk ke dalam sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke
sel-sel.
B. Tujuan
Adapun menulis makalah ini bertujuan untuk :

Mendalami sistem pencernaan manusia,

Menambah pengetahuan tentang cara kerja sistem pencernaan,

Mengetahui hal-hal yang dapat menghambat kerja sistem pencernaan serta akibat
dari gangguan tersebut.

2 | Page

BAB II
ISI
A. Pengertian Sistem Perncernaan
Sistem pencernaan merupakan sistem yang mengatur pemecahan molekul-molekul
organik besar seperti karbohidrat, protein, dan lemak yang berasal dari makanan menjadi
molekul-molekul kecil. Proses pemecahan ini melibatkan enzim-enzim pencernaan pada
organ pencernaan. Adapun tujuan dari pemecahan ini adalah molekul-molekul tersebut
dapat diabsorpsi oleh usus dan masuk ke dalam sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke
sel-sel.
B. Skenario
Seorang perempuan usia 30 tahun datang ke poliklinik mengeluh mual, kembung,
sembelit, dan buang air besarnya bewarna putih deperti dempul kayu. Dokter
mendiagnosa pasien itu ada gangguan pada metabolisme empedunya.
C. Pembahasan skenario
I.

Struktur makrokopis sistem pencernaan


1. Mulut

diunduh dari : www.google.com/mulut

3 | Page

Mulut adalah struktur yang kompleks dimana makanan dipecah secara


mekanis dan secara kimia. Makanan yang dimasukan ke dalam mulut
diiris menjadi potongan kecil oleh gigi tajam di depan, melainkan
kemudian dibuat menjadi lembek oleh gigi bagian belakang mulut.
Mengunyah makanan merubah makanan menjadi potongan kecil dan hal
ini mempermudah proses penyerapan. Hal ini memudahkan enzim
pencernaan dalam lambung dan usus kecil, di mana pencernaan makanan
yang paling banyak terjadi, untuk memecah makanan menjadi lebih
sederhana. Semakin kecil partikel makanan, semakin mudah enzim dan
molekul makanan bereaksi.1

2. Faring

diunduh dari : www.google.com/faring

Pharynx seperti yang tertera pada gambar 2 adalah suatu pipa musculofascial yang kontraktil. Sesuai dengan ruang-ruang yang terletak di
depannya, pharynx dibagi dalam 3 bagian, yaitu (1) nasopharynx yang
berfungsi untuk pernapasan; (2) Oropharynx yang berfungsi untuk
pencernaan (3) Laryngopharynx. Otot-otot melingkar pharynx terdiri atas
m. Constrictor pharyngis superior, m. Constrictor pharyngis medius, dan
m. Constrictor pharyngis inferior (m. Laryngopharyngeus).1,2
3. Esophagus

4 | Page

diunduh

dari

www.google.com/osephagus

Makanan yang sudah dikunyah dan ditelan berlanjut ke esophagus


sebelum sampai di lambung. Makanan di transpor dengan kontraksi
involunter oleh dinding otot dari esophagus, kontraksi involunter dari otot
ini disebut dengan gerak peristaltik. Gerakan ini begitu kuat kita masih
dapat menelan walau sedang bergelantungan terbalik. Makanan yang
sudah sampai di ujung esophagus tertahan oleh sphincter esophageal, yang
kemudian berelaksasi untuk memberi jalan untuk makanan ke lambung
dan kemudian berkontraksi lagi untuk mencegah makanan kembali ke arah
yang berlawanan.2
4. Gaster

diunduh dari : www.google.com./gaster

5 | Page

Gaster yang diliputi oleh peritoneum terletak di bagian atas abdomen.


Gaster dibagi menjadi tiga bagian besar, yakni (1) cardia yang terletak di
sebelah kiri bidang tengah, setinggi vertebra thoracalis X, di belakang
rawan iga 7; (2) fundus mengisi kubah diafragma sebelah kiri dan puncak
fundus terletak di sela iga 5 di bawah apex cordis; (3) pylorus merupakan
muara distal lambung ke dalam duodenum, proyeksi pylorus terletak
setinggi vertebra L1. Sebagian besar gaster terletak di bawah costae
bagian bawah. Secara kasar gaster berbentuk huruf J dan mempunyai dua
lubang, yakni ostium cardiacum dan ostium pyloricum; dua curvatura,
yakni curvatura major dan curvatura minor; dan dua dinding, yakni paries
anterior dan paries posterior.3 Persarafan gaster termasuk serabut-serabut
simpatis yang berasal dari plexus coeliacus yang membawa rasa nyeri dan
serabut parasimpatis dari nervus vagus dextra dan sinistra membawa
serabut secretomotoris untuk glandulae gastricae dan serabut motoris
untuk tunica muscularis gaster.1,2
5. Intestinum

Diunduh dari : www.google.com/intestinum

Intestinum terbagi atas:1,2


-

Duodenum

6 | Page

Duodenum merupakan bagian teratas intestinum tenuae yang berliku di sekitar caput
pankreas.

Duodenum

terletak

retroperitoneal

kecuali

bagian

pertama

adalah

intraperitoneal, adapun pembagiannya sebagai berikut:

Bagian pertama berukuran kurang lebih 5 cm

Bagian kedua merupakan pars descendens yang terletak di sekeliling caput


pankreas. Di sini terdapat tonjolan kecil pada lapisan mucosa, yakni papilla duodeni.
Disini tempat masuknya ductus biliaris dan ductus pancreaticus santorini yang
berukuran lebih kecil lewat di atasnya.

Bagian ketiganya merupakan pars transversa, didepannya dilewati pangkal


mesenterium dan a. Mescunterica superior.

Bagian keempat merupakan pars ascendens berakhir pada duodenojejenal junction


ujung bawah ditandai lipatan peritoneal dari crus dexter diaphragma ligamentum
suspensorium Treitz.

Intestinum tenue
Intestinum tenue terdiri atas 2/5 bagian jejunum dan 3/5 bagian ileum. Intestinum tenue
terletak di intraperitoneal dan berkelok-kelok. Jejunum mengisi rongga perut kiri atas
sedangkan ileum mengisi rongga perut kanan bawah. Kelokan ileum mengisi sampai ke
pelvis minor dan bermuara pada coecum. Jejunum dan ileum memiliki perbedaan, yakni
pada jejunum arcadenya setingkat dan vasa recta panjang, sedangkan pada ileum arcade
bertingkat dan vasa recta pendek.

Intestinum Crassum
Intestinum crassum berbentuk seperti huruf U kebalik dan terdiri atas:

Coecum
Bagian intestinum crassum yang buntu, terletak pada fossa iliace dextra di atas
ligamentum Inguinale dan berlanjut ke colon ascendens. Coecum diperdarahi oleh a. Ileo
colica cabang a. Mesenterica superior serta a. Coeliacalis anterior dan posterior.

Colon Ascendens

7 | Page

Panjang 13 cm dari caecum ke facies inferior lobus dextra hepatis, membelok ke kiri
sebagai flexura coli dextra. Colon ini diperdarahi oleh a. colica dextra cabang a.
mesenterica superior.
-

Appendix Vermiformis
Suatu diverticulum coecum pada dinding posteromedial, di bawah orificium ileocoecalis,
di fossa iliaca dextra. Appendix vermiformis diperdarahi oleh Aa. Appendiculares yang
merupakan cabang dari a. Ileocolica.

Colon Transversum
Colon ini terletak intraperitoneal, menyilang abdomen dari flexura dextra ke flexura
sinistra. Colon ini diperdarahi oleh a. Colica media yang merupakan cabang a.
Mesenterica superior dan a. Colica sinista yang merupakan cabang dari a. Mesenterica
inferior.

Colon Descendens
Panjang 25 cm dari flexura coli sinistra sampai colon sigmoideum berjalan vertikal dan
kemudian belok melintas ke medial di atas m. Psoas major pada pintu masuk pelvis dan
diteruskan ke colon sigmoideum. Colon ini diperdarahi oleh a. coli sinistra yang
merupakan cabang dari a. mesenterica inferior.

Colon Sigmoideum (colon pelvicum)


Panjang 5cm dari pintu masuk pelvis menjadi rectum. Membentuk pipa berkelok
menggantung pada bagian dalam pelvis melintas vesica urinaria dan uterus. Colon ini
digantung pada ligamentum mesocolon sigmoideum dan ditutupi intestinum tenue. Colon
ini diperdarahi oleh aa. Sigmoidae yang merupakan cabang a. Mesenterica inferior.

Rectum
Panjang (10-15cm) sebagai lanjutan colon sigmoideum mengikuti lengkung sacrum
berakhir pada canalis analis. Di depan os.coccygis tiba-tiba berbelok ke belakang menjadi
kanalis analis. Bagian ujung bawah mengalami dilatasi disebut ampularecti yang di
sebelah lateralnya didukung oleh m. Levator ani.
8 | Page

Bagian dari rectum ini diperdarahi oleh a. Rectalis superior (cabang a.Mesenterica
inferior), a. Rectalis medialis dan a. Saceralis media cabang kecil dari bagian belakang
aorta. Sedangkan pembuluh baliknya, yakni v. Rectalis superior dan v. Rectalis medialis
yang bermuara ke v. Iliaca interna.
6. Pankreas

Diunduh dari : www.google.com/pankreas

Pankreas terdiri atas caput, corpus, cauda. Terletak retroperitoneal di


sepanjang bidang transpilorik. Caput terikat pada lekuk duodenum dan
cauda memanjang ke hilus lienalis pada ligamentum lienorenalis. Caput
pankreas mendapat aliran dari aa. Pancreaticum duodeni superior dan
inferior. Corpus menerima dari a.Lienalis yang berasal dari a.Pancreatica
magna. Sedangkan persarafan yang terdapat pada pankreas yakni N. X dan
n. Splanchnicus.2

7. Hepar

9 | Page

Diunduh dari : www.google.com/hepar

Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh. Secara anatomis terdiri atas
lobus dextra yang besar dan lobus sinistra yang lebih kecil. Hepar
dipisahkan di anterosuperior oleh ligamentum falcitorae hepatis dan
postero inferior oleh fissura ligamentum venosum serta ligamentum teres
hepatis. Klasifikasi anatomis lobus dextra terdiri atas lobus kaudatus dan
lobus quadratus. Tetapi secara fungsional lobus kaudatus dan sebagian
besar lobus quadratus merupakan bagian lobus sinister karena mendapat
darah dari a.epigastrica sinistra dan aliran empedunya menuju ductus
hepatictus sinister. Karenanya klasifikasi fungsional menyatakan bahwa
batas antara lobus dexter dan sinister terlatak pada bidang vertical yang
berjalan ke posterior dari kantong empedu menuju v.cava interior.
Pendaharan hepar terbagi menjadi (1) pembuluh nadi oleh a. Hepatica
communis cabang a.Coeliaca, a. Hepatica propria merupakan cabang a.
Hepatica communis, a. hepatica dextra dan sinistra merupakan cabang a.
Hepatika propia; (2) pembuluh balik akan menampung darah balik dari
alat-alat tractus gastrointestinal melalui v. porta.1-3
8. Vesica Fellea

10 | P a g e

Vesica fellea yang diliputi oleh peritoneum terletak pada perpotongan


batas lateral

m. Rectus abdominis dan arcus costae dextra. Saluran

empedu berupa uctus cysticus, mukosa ductus cysticus mempunyai lipatan


berbentuk spiral yang dinamakan valvula spiralis Heisteri. 1-3
II.

Struktur mikrokopis sistem pencernaan


1) Cavum Oris

Labium Oris (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9. Dalam: Sistem


pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Rongga mulut terdiri dari bibir atau labium oris yang terdiri atas (1) area
cutanea yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk
serta terdapat folikel rambut, kelenjar sebasaea, dan kelenjar keringat; (2)
area intermedia yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
tanduk serta terdapat arteri labialis; (3) area cutanea yang dilapisi oleh
epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk serta terdapat m. Orbicularis
oris, gl. Labialis, dan a. Labialis. Di dalam rongga mulut, makanan
ditampung, dikunyah, dan dilumasi dengan air liur agar mudah ditelan.4,5
Empat jenis papilla lidah, yaitu papilla filiformis, fungiformis,
sirkumvalata, dan foliata. Papila yang paling banyak adalah papilla
filiformis yang berbentuk kerucut lancip. Papila ini menutupi seluruh
permukaan dorsal lidah. Yang lebih sedikit, namun lebih besar adalah
papilla fungiformis. Papila ini berbentuk seperti jamur dan lebih banyak di
11 | P a g e

bagian anterior lidah. Papila sirkumvalata jauh lebih besar daripada papila
fungiformis atau filiformis dan hanya berjumlah 8 sampai 12 buah terletak
di posterior lidah. Papila ini dikelilingi alur dalam. Banyak duktus
ekskretorius kelenjar serosa von Ebner di bawahnya, terletak di dalam
jaringan ikat lidah, bermuara ke dalam dasar alur ini. Papila foliata
berkembang baik pada hewan tertentu, namun tidak pada manusia.
Pada epitel papilla fungiformis dan pada sisi lateral papila sirkumvalata,
terdapat bangunan berbentuk tong yang disebut kulikulus gustarius atau
pori kecap. Di dalam setiap kuncup kecap, terdapat reseptor sel kecap dan
sel penyokongnya (sel sustentakular).
Lidah adalah struktur berotot. Bagian dalamnya terdiri atas jaringan ikat di
pusat diantara berkas-berkas serat otot rangka. Penyebaran dan orientasi
serat-serat otot rangka lidah yang acak memungkinkan lidah bergerak
bebas selama mengunyah dan menelan makanan, serta berbicara. Saluran
cerna adalah struktur berongga panjang yang meluas dari oesophagus
hingga rektum. Pada lapisan saluran cerna terdapat empat lapisan, yaitu
mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Namun, empat lapis saluran
cerna itu menunjukkan variasi histologik yang nyata. Variasi ini
tergantung pada lokasi saluran cerna dan fungsi spesifik yang dilakukan
selama proses pencernaan. Ciri khas setiap lapis pada saluran cerna serta
fungsi nya dibahas pada setiap organ pada pencernaan yang berbeda.5
2) Pharynx
Pharynx terdiri dari tiga bagian, yaitu (1) nasopharynx yang merupakan
perluasan rongga hidung ke posterior. Faring, rongga mulut, dan rongga
laring tersusun atas epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet dikelilingi
jaringan limfoid yang dikenal dengan nama tonsila tuba; (2) oropharynx
yang terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah
tersusun atas epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. (3)
laringopharynx yang terletak di belakang laring tersusun atas epitel
12 | P a g e

bervariasi di mana sebagian besar epitel berlapis gepeng tanpa lapisan


tanduk.5
3) Oesophagus

Mikroskopik Oesophagus (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9.


Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Dapat dilihat gambaran mikroskopik oesophagus. Oesophagus adalah


suatu saluran panjang dan lunak yang panjangnya kira-kira 10 inci, yakni
meluas dari pharynx sampai ke lambung. Saluran ini terletak di posterior
trakea dan sebagian besar ditemukan di dalam mediastinum rongga toraks.
Lumen oesophagus dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan
keratin.5

4) Gaster

13 | P a g e

Mikroskopik Fundus Gaster (Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9. Dalam:


Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Mikroskopik Pylorus Gaster (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9.


Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Gaster atau lambung adalah perluasan organ berongga yang terletak


diantara oesophagus dan usus halus. Pada permukaan luminal gaster,
terlihat banyak pembukaan kecil yang disebut foveola gastrika atau pit
gaster. Submukosa jaringan ikat padat yang terletak di bawah mukosa
gaster mengandung banyak pembuluh darah dan saraf gaster. Dinding
muskular tebal gaster yaitu muskularis eksterna. Lapisan luas gaster
ditutupi oleh serosa atau peritoneum viseral.5
5) Usus halus

14 | P a g e

Mikroskopik Pylorus-Duodenum (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi


9. Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Mikroskopik Usus Kecil (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9. Dalam:


Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Pylorus-duodenum dan usus halus. Usus halus (intestinum tenue)


merupakan saluran panjang berkelok-kelok, panjangnya kira-kira 5 meter.
Usus ini terbentang dari batas lambung sampai ke batas usus besar atau
kolon. Untuk keperluan deskriptif, usus halus dibagi dalam tiga bagian,
yakni duodenum, jejunum, dan ileum. Peralihan dan perbedaan
mikroskopik segmen hanya sedikit.5
15 | P a g e

Mukosa usus halus menampakkan struktur khusus untuk memperluas


permukaan absorpsinya. Struktur ini adalah plika sirkularis, vili
intestinalis, dan mikrovili. Plika sirkularis adalah lipatan atau peninggian
mukosa permanen, berjalan berpilin dan terjulur ke dalam lumen usus. Vili
intestinalis adalah tonjolan permanen mirip jari pada lamina propria
mukosa yang terjulur ke dalam lumen. Vili ditutupi epitel selapis silindris
dan lebih banyak terdapat di bagian proksimal usus halus. Epitel yang
membatasi permukaan gaster hanya terdiri aras satu jenis sel penghasil
mukus. Usus halus juga mengandung banyak kelenjar intestinal (kripti
Lieberkuhn).5
6) Usus Besar

Mikroskopik Usus Besar (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9.


Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Usus besar terdapat diantara anus dan ujung terminal ileum. Usus besar
terdiri atas segmen awal (sekum) dan kolon asendens, transversum,
desendens, sigmoid, rectum, dan anus. Sisa makanan yang tidak dicerna
dan tidak diabsorpsi di dalam usus halus didorong ke dalam usus besar
oleh gerak peristaltic kuat otot muskularis eksterna usus halus. Residu
yang memasuki usus besar itu berbentuk semicair saat mencapai bagian
16 | P a g e

akhir usus besar residu ini telah menjadi semisolid sebagaimana feses
umumnya. Meskipun terdapat di usus halus, sel-sel goblet pada epitel usus
besar jauh lebih banyak dibandingkan dengan di usus halus. Sel goblet ini
juga bertambah dari bagian sekum ke kolon sigmoid. Usus besar tidak
memiliki plika sirkularis maupun vili intestinalis, dan kelenjar intestinal
terletak lebih dalam daripada di usus halus. Kelenjar intestinal usus besar
juga tidak memiliki sel paneth, namun memiliki berbagai sel
enteroendokrin (APUD).4,5
7) Rektum Anus

Mikroskopik Rektum-Anus (sumber: Fiore D. Atlas histologi. Edisi 9.


Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC; 2003.h.147-229.)

Pada lapisan mukosa, epitel selapis torak dengan sel goblet menjadi epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk yang semakin ke distal dapat
dijumpai adanya lapisan tanduk. Pada lapisan muskular, lapis otot
melingkar rektum menebal membentuk otot lingkar, yaitu otot sfingter ani
internus. Selain itu pada lapisan ini didapati otot sfingter eksternus.
III.

Lapisan serosa atau adventisia terdiri dari jaringan ikat jarang.4,5


Organ Pencernaan Tambahan
Organ pencernaan tambahan mencakup hepar, kantung empedu, dan pankreas.
Organ-organ ini terletak di luar saluran cerna, namun berhubungan dengan usus
halus melalui saluran keluarnya. Duktus biliaris komunis atau duktus koleodukus
17 | P a g e

dari hepar dan duktus pankreatikus utama dari pankreas menyatu pada lengkung
duodenum dan membentuk satu saluran bersama bagi kedua organ. Duktus ini
kemudian menembus dinding duodenum dan memasuki lumen usus halus.
Kandung empedu bergabung dengan duktus biliaris komunis melalui duktus
sistikus. Empedu memasuki usus halus dari kandung empedu dan enzim
pencernaan dari pankreas melalui duktus komunis. Pembahasan mengenai organ
pencernaan adalah sebagai berikut:6
a) Pankreas :
Pankreas adalah organ memanjang lunak, yang letaknya posterior terhadap
lambung. Kaput pankreas terletak di lengkung duodenum dan kaudanya
menjurus ke limpa. Pankreas mengandung sel-sel eksokrin dan endokrin.
b) Hepar :
Hepar terletak pada lokasi strategis yang penting. Produk pencernaan yang
diserap harus melalui kapiler-kapiler hepar yang disebut sinusoid, setelah
diantar melalui vena porta hepatica sebelum produk pencernaan itu dapat
memasuki sirkulasi umum.
Hepar terdiri atas satuan heksagonal disebut lobulus hati. Di pusat setiap
lobulus, terdapat sebuah vena sentral yang dikelilingi lempeng-lempeng
sel hati, yaitu hepatosit dan sinusoid secara radial.
c) Vesica fellea :
Kantung empedu adalah organ berongga kecil yang melekat pada
permukaan bawah hepar. Empedu dari hati disimpan di dalam kantung
empedu. Empedu keluar dari kandung empedu melalui duktus sistikus dan
memasuki duodenum melali duktus koleodukus.
IV.

Mekanisme Kerja dan Fungsi Organ Pencernaan

18 | P a g e

Organ-organ pencernaan Manusia (sumber: Cambridge Communication Limited. Anatomi


Fisiologi. Edisi 2. Dalam: Sistem Pencernaan. Jakarta: EGC; 2005.h.57.)

Organ-organ ini membentuk saluran pencernaan. Saluran pencernaan bertanggung jawab


untuk memecah makanan menjadi berbagai bagian komponen sehingga dapat diabsorpsi oleh
tubuh. Saluran pencernaan berfungsi untuk menyekresikan cairan ke dalam saluran
pencernaan dan absorpsi makanan. Berbagai region yang berbeda pada saluran pencernaan
berkaitan dengan motilitas, penyimpanan, pencernaan, absorpsi, dan eliminasi sisa
pencernaan. Fungsi-fungsi saluran pencernaan ini dikontrol melalui mekanisme regulasi
neuronal, hormonal, dan lokal.7
Saluran pencernaan berawal dari mulut, tempat makanan pada awalnya dikunyah atau
dimastikasi dan dicampur dengan sekresi saliva. Mastikasi adalah proses pemecahan
makanan secara mekanik yang sistematik di mulut. Jumlah mastikasi yang diperlukan untuk
menelan makanan bergantung pada jenis makanan yang diingesti. Mastikasi melibatkan
aktivitas terkoordinasi dari gigi, otot-otot, rahang, sendi, temporomandibula, lidah, serta
struktur-struktur lain seperti bibir, palatum, dan kelenjar saliva.
Selama mastikasi, tiga pasang kelenjar yaitu kelenjar parotis, submandibula, dan
sublingual menyekresi saliva. Fungsi utama saliva adalah melembapkan dan melubrikasi
mulut pada saat istirahat, tetapi terutama setelah makan dan bicara, untuk melarutkan
molekul-molekul makanan sehingga bisa bereaksi dengan reseptor gustatorik dan
menghasilkan sensasi rasa, mempermudah menelan, dan memulai bagian awal dari
pencernaan polisakarida (gula kompleks), serta melindungi rongga oral dengan melapisi gigi
19 | P a g e

dengan protein kaya prolin atau pelikel yang dapat berfungsi sebagai sawar pelindung
permukaan gigi. Saliva juga mengandung immunoglobulin yang berperan sebagai pelindung
untuk mencegah infeksi bakteri.
Menelan terjadi dalam beberapa fase. Fase pertama bersifat volunteer dan meliputi
pembentukan bolus makanan dengan gerakan mengunyah dan gerakan lidah yang mendorong
makanan ke pharynx. Fase selanjutnya bersifat tidak volunteer, tetapi merupakan respon
refleks.6,7
Selama fase esophageal, sfingter oesophagus atas akan berelaksasi dan memungkinkan
bolus makanan dapat lewat, setelah itu sfingter akan menutup kembali. Sesampai di
oesophagus, bolus akan didorong ke lambung melalui proses yang disebut peristaltis, yaitu
suatu gelombang relaksasi di depan bolus dan kontraksi di belakang bolus oleh lapisan otot
sirkular dan longitudinal oesophagus yang terkoordinasi, sehingga mendorong makanan
memasuki lambung dalam waktu sekitar 5 detik. 7
Sebelum memasuki lambung, bolus harus melewati sfingter lainnya, yaitu sfingter
oesophagus bawah, yang dibentuk dari cincin otot polos yang akan berelaksasi jika
gelombang peristaltis mencapainya. Pusat telan di medula memproduksi urutan kejadian
yang menyebabkan aktivitas eferen ke saraf somatic (mempersarafi otot rangka) dan saraf
otonom (mempersarafi otot polos).6,7
Begitu melewati sfingter oesophagus bawah, bolus makanan akan langsung memasuk ke
lambung. Fungsi utama lambung adalah sebagai tempat penyimpanan makanan sementara
sampai pencernaan secara kimia dan mekanik menggunakan asam, enzim, dan gerakan untuk
meregulasi pelepasan kimus ke usus halus, dan untuk menyekresi zat-zat yang disebut faktor
intrinsik ytang esensial untuk absorpsi vitamin B12. Dalam keadaan kosong, volume lambung
sekitat 50 ml, jika terdistensi penuh, volume lambung bisa mencapai 4 L. Di lambung,
protein dalam makanan dipecah menjadi polipeptida oleh enzim pepsin. Enzim ini diproduksi
dari bentuk inaktifnya, yaitu pepsinogen oleh sel chief mukosa lambung, dan diubah menjadi
pepsin aktif oleh lingkungan yang asam dalam lambung. Asam lambung adalah asam klorida
dan diproduksi oleh sekelompok sel terspesialisasi, yaitu sel parietal. Lambung bisa
menyekresi sampai 2 L asam per hari.8
20 | P a g e

Sekresi lambung pada dasarnya terbagi dalam tiga fase, yakni fase sefalik, fase lambung,
dan fase intestinal. Fase sefalik dimunculkan oleh melihat, mencium, mengecap, dan
mengunyah makanan. Pada tahap ini, tidak ada makanan di lambung, dan sekresi asam
distimulasi oleh aktivasi vagus dan kerja pleksus enteric. Serabut parasimpatis pascaganglion
dan pleksus mienterikus akan melepaskan asetilkolin (Ach) dan menstimulasi pelepasan
getah lambung.6-8
Jika makanan mencapai lambung, makanan tersebut akan menstimulasi fase lambung di
mana terjadi sekresi asam, pepsinogen, dan mukus. Stimulasi utama fase ini adalah distensi
lambung dan komposisi kimiawi makanan. Mekanoreseptor di dinding lambung akan
teregang dan mencetuskan reflex mienterikus lokal dan juga memperpanjang reflex vasovagal. Kedua hal ini menyebabkan pelepasan Ach yang kemudian menstimulasi pelepasan
gastrin, histamine, dan kemudian asam, enzim, dan mukus. Stimulasi vagus juga melepaskan
peptide spesifik yaitu peptide pelepas gastrin (gastrin-releasing peptide,GRP), yang bekerja
langsung terutama pada sel G untuk melepaskan gastrin. 7,8
Protein utuh tidak mempengaruhi sekresi lambung secara langsung, tetapi produk
pemecahan protein, seperti peptida dan asam amino bebas, secara langsung menstimulasi
sekresi gastrin. pH rendah di lambung akan menginhibisi sekresi gastrin sehingga jika
lambung kosong atau setelah makanan memasuki lambung dan asam telah disekresi untuk
beberapa waktu, akan terjadi inhibisi produk asam. Namun demikian, pada saat pertama kali
makanan masuk lambung, pH meningkat dan hal ini menyebabkan pelepasan inhibisi dan
kemudian menyebabkan sekresi maksimum gastrin. Oleh karena itu, sekresi asam lambung
bersifat regulasi mandiri.8
Fase lambung normalnya berlangsung selama sekitar 3 jam dan makanan di lambung
diubah menjadi kimus, suatu zat dengan kekentalan seperti lumpur. Kimus akan melewati
sfingter pylorus dan memasuki bagian pertama usus halus, yaitu duodenum. Adanya kimus di
antrum pylorus akan mendistensi antrum pylorus dan menyebabkan kontraksi antral dan
terbukanya sfingter. Laju pengosongan lambung bergantung pada volume dalam antrum dan
turunnya pH kimus, keduanya meningkatkan pengosongan. Akan tetapi, distensi duodenum ,
adanya lemak, dan penurunan pH pada lumen duodenum akan menyebabkan inhibisi
pengosongan lambung. Mekanisme ini mengatur dengan tepat jumlah pasokan dan laju
21 | P a g e

pengaliran kimus agar bisa dicerna dengan baik. Usus halus adalah tempat utama pencernaan
makanan dan absorpsi produk hasil pencernaannya. Usus halus berbentuk seperti selang,
berdiameter 2,5 cm dengan panjang sekitar 4 m, tersusun dari duodenum, jejunum, dan
ileum.6-8
Begitu kimus pertama kali memasuki duodenum, sekresi lambung akan terus berlanjut
mungkin karena aktivasi sel G mukosa usus. Hal ini hanya sementara karena duodenum
semakin terdistensi dengan pengosongan lambung lebih lanjut. Serangkaian refleks diinisiasi
sehingga akan menginhibisi pelepasan getah lambung lebih lanjut. Sekretin dilepaskan
sebagai respon terhadap stimulasi asam, sekretin ini sampai ke lambung melalui aliran darah
dan menginhibisi pelepasan gastrin. Adanya asam lemak, hasil pemecahan lemak di
duodenum akan melepas dua hormon polipeptida, disebut peptida penginhibisi gaster dan
kolesistokinin yang akan menginhibisi pelepasan gastrin maupun asam. Namun demikian,
baik sekretin maupun CCK juga menstimulasi pelepasan pepsinogen dari sel chief sehingga
membantu pencernaan protein. Bersama dengan mekanoreseptor di duodenum melalui jalur
reflex vagal dan lokal, pelepasan sekretin dan CCK juga berimplikasi dalam pengosongan
lambung. Kimus yang awalnya memasuki duodenum bersifat asam, hipertonik, dan baru
sebagian tercerna. Pada tahap awal ini, nutrien-nutrien yang terbentuk masih belum bisa
diabsorpsi. Terdapat gerakan osmotik air melintasi dinding permeabel bebas yang
menyebabkan kandungan kimus menjadi isotonik. Keasaman ini dinetralkan oleh
penambahan bikarbonat yang disekresi oleh pankreas maupun empedu dari hati, dan
pencernaan kimus lebih lanjut akan dilakukan oleh enzim-enzim tambahan dari pankreas,
hati, dan usus itu sendiri.6-8
Dinding usus halus berlipat-lipat menjadi banyak tonjolan-tonjolan kecil seperti jari yang
disebut vili. Diantara vili-vili ini terdapat sejumlah kelenjar kecil, disebut kripta yang bisa
menyekresi 3L cairan hipotonik setiap harinya. Usus halus terutama diadaptasikan untuk
absorpsi nutrien. Usus halus memiliki area permukaan yang luas, dan kimus akan didorong
untuk bergerak secara sirkular saat melewati saluran, untuk memfasilitasi pencampuran
sehingga membantu pencernaan dan absorpsi. Pergantian sel epitel saluran pencernaan terjadi
secara konstan, di mana epitel usus halus akan seluruhnya mengganti sendiri kira-kira setiap
6 hari.
22 | P a g e

Usus halus mengabsorpsi air, elektrolit, karbohidrat, asam amino, mineral, lemak, dan
vitamin. Mekanisme pergerakan dari lumen ke sirkulasi bervariasi. Nutrien bergerak diantara
saluran pencernaan dan darah yang melewati dan mengitari sel-sel epitel. Karena isi usus
bersifat isotonic dengan cairan tubuh dan sebagian besar memiliki konsentrasi yang sama
dengan elektrolit utama, maka absorpsi terjadi secara aktif. Air tidak bisa berpindah secara
langsung, tetapi mengikuti gradien osmotik yang muncul karena adanya transport ion.
Kontributor utama gradien osmotic ini adalah pompa natrium. Na+-K+ basolateral. K+ keluar
sel, sekali lagi melalui membran basolateral, menuruni gradien konsentrasinya. Perpindahan
K+ keluar ini berhubungan dengan pergerakan Cl- keluar, melawan gradien konsentrasinya,
setelah sebelumnya Cl- masuk menuruni gradien konsentrasinya seperti Na+ melalui membran
lumen. Pergerakan ion-ion ini memunculkan gradien osmotik antara lumen dengan darah,
menyebabkan absorpsi air mengikuti pergerakan Na+ dan Cl- dari lumen ke dalam sel,
melintasi membran lumen usus.4,7-8
1) Dua mineral yang sangat penting yang diabsorpsi dari makanan adalah kalsium dan besi.
Konsentrasi kalsium intraselular rendah dan setiap kalsium bebas dari makanan bisa
melintasi membran lumen menuruni gradien konsentrasi yang curam melalui kanal kalsium
atau melalui mekanisme pembawa (karier). Di dalam sel, kalsium akan berikatan dengan
protein yang membawanya ke membran basolateral, di mana kalsium akan ditranspor secara
aktif melawan gradien konsentrasi oleh Ca2+-ATPase dengan hidrolisis ATP, atau dengan
antriporter Na+-Ca+ yang berhubungan dengan pergerakan Na+ menuruni gradien
konsentrasinya ke dalam sel dan keluarnya Ca2+ dari dalam sel.
Pencernaan lemak hampir seluruhnya terjadi di usus halus. Enzim utamanya adalah
enzim pankreas yang disebut lipase yang memecah lemak menjadi monogliserida dan asam
lemak bebas. Akan tetapi sebelum lemaj dapat dipecah, lemak harus diemulsifikasi terlebih
dahulu, sutu proses di mana droplet lipid yang lebih besar dipecah menjadi droplet yang jauh
lebih kecil. Zat pengemulsi utamanya adalah asam lemak bebas dan monogliserida dengan
asam empedu akan membentuk partikel-partikel kecil yang disebut misel. Bagian luar misel
bersifat hidrofilik sedangkan inti bagian dalam misel berisi bagian hidrofobik. Susunan ini
memungkinkan misel memasuki lapisan aqueous yang mengelilingi mikrovili, dan
monogliserida, asam lemak bebas, kolestrol, dan vitamin larut lemak dapat berdifusi secara
23 | P a g e

pasif ke dalam sel duodenum, meninggalkan garam empedu di lumen usus sampai zat-zat
tersebut direabsorpsi. Begitu sampai di dalam sel epitel, asam lemak, dan monogliserida akan
dirakit ulang menjadi lemak melalui sejumlah jalur metabolisme yang berbeda, Kemudian,
lemak memasuki sistem limfatik melalui lakteal dan akhirnya mencapai aliran darah melalui
duktus torasikus.
Vitamin larut lemak yakni vitamin A, D, E, dan K pada dasarnya akan mengikuti jalur
absorpsi terutama melalui difusi transport termediasi. Pengecualian pada vitamin B12 yang
harus terikat dulu dengan faktor intrinsik yang disekresi oleh sek parietal dinding lambung.
Begitu terikat, vitamin B12 akan melekat ke tempat spesifik pada sel epitel di ileum di mana
terjadi proses endositosis untuk absorpsi.
Eksokrin pankreas menyekresi cairan pencernaan utama yang disebut getah pankreas.
Getah pankreas ini diekskresi ke dalam duodenum melalui duktus pankreatikus yang
bermuara ke saluran pencernaan pada lokasi yang sama dengan duktus biliaris komunis. Jika
di duodenum terdapat makanan, maka sfingter oddi akan berelaksasi, sehingga
memungkinkan baik sekresi empedu maupun pankreas memasuki saluran pencernaan.
Getah pankreas dibentuk dari sejumlah enzim, disekresi oleh sel-sel asinar pankreas,
yang memecah konstituen utama dalam makanan. Enzim-enzim ini adalah amilase pankreas
yang memecah karbohidrat menjadi monosakrida, lipase pankreas yang memecah lemak
menjadi gliserol dan asam lemak, ribonuklease dan deoksiribonuklease yang terlibat dalam
pemecahan asam nukleat dan mononukleotida bebas, dan berbagai enzim proteolitik (tripsin,
kemotripsin, elastase, dan karboksipeptidase) yang memecah protein menjadi peptida-peptida
kecil dan asam amino. Hormon kolesistokinin yang dilepaskan sel epitel duodenum ke dalam
aliran darah sebagai respons terhadap adanya asam amino dan asam lemak dalam kimus,
bertanggung jawab terhadap sekresi enzim pankreas dari sel asinar pankreas. Sekresi utama
lainnya, selain enzim adalah air dan ion bikarbonat. Volume getah pankreas yang disekresi
akan dengan tepat menetralkan kandungan asam pada kimus yang dihantarkan oleh lambung
ke usus. Hal ini terjadi karena asam di duodenum menyebabkan pelepasan sekretin dari
dinding duodenum ke aliran darah. Sekretin akan menstimulasi produksi air dan ion
bikarbonat dari sistem duktus dan terutama dari sel epitel yang melapsi duktus.9
24 | P a g e

Hati adalah organ terbesar dalam tubuh, berat hati pada orang dewasa normak lebih dari 1
kg. Fungsi hati dapat dibagi menjadi dua kategori umum. Pertama, hati terlibat dalam proses
zat-zat yang diabsorpsi, baik nutrien maupun toksin. Dengan kata lain, hati bertanggung
jawab terhadap metabolisme berbagai zat yang dihasilkan dari pencernaan dan absorpsi
makanan dari usus. Kedua, hati memiliki fungsi eksokrin penting yang terlibat dalam (1)
produksi asam empedu dan cairan alkali yang digunakan untuk pencernaan dan absorpsi
lemak dan untuk netralisasi asam lambung di usus; (2) pemecahan dan produksi produk
buangan metabolisme setelah pencernaan; (3) detoksifikasi zat-zat beracun atau berbahaya;
(4) ekskresi produk buangan dan detoksifikasi zat-zat di empedu.10
Pembentukan cairan empedu distimulasi oleh garam empedu, sekretin, glukagon, dan
gastrin. Namun demikian, pelepasan cairan empedu yang disimpan di kandung empedu
distimulasi oleh sekresi CCK ke dalam aliran darah saat kimus memasuki duodenum, dan
sedikit distimulasi oleh sekresi CCK ke dalam aliran darah saat kimus memasuki duodenum,
dan sedikit distimulasi oleh kerja saraf vagus. Beberapa menit setelah makan, terutama jika
mengonsumsi lemak, otot empedu akan berkontraksi, kontraksi ini akan mendorong isinya ke
dalam duodenum melalui sfingter Oddi yang sudah berelaksasi. CCK akan merelaksasi
sfingter dan menstimulasi sekresi pankreas pada saat yang sama. Kandung empedu selesai
mengosongkan dalam waktu 1 jam setelah mengonsumsi makanan berlemak dan
mempertahankan kadar asam empedu di duodenum melebihi yang diperlukan untuk bekerja
terhadap misel. Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk ke dalam
usus besar. Bahan makanan yang sampai pada usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa.
Sisa tersebut terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak dpat tercerna,
misalnya selulosa. 8
Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan. Bila kadar air pada sisa
makanan terlalu banyak, maka dinding usus besar akan menyerap kelebihan air tersebut.
Sebaliknya bila sisa makanan kekurangan air, maka dinding usus besar akan mengeluarkan
air dan mengirimnya ke sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat banyak sekali
mikroorganisme yang membantu membusukkan sisa-sisa makanan tersebut. Sisa makanan
yang tidak terpakai oleh tubuh beserta gas-gas yang berbau disebut tinja (feses) dan
dikeluarkan melalui anus.8,9
25 | P a g e

V.

Enzim Sistem Pencernaan


Getah pankreas terdiri dari zat padat dan zat cair. Zat padat ditempati senyawa
anorganik (natrium, kalium, kalsium), serta zat cair diisi dengan senyawa organic
( protein dengan berat molekul lebih kecil). Enzim-enzim getah pancreas berupa
tripsin, kimotripsin, lipase, fosfolipase A, kolestrol ester hidrolase, RNA-ase,
DNA-se, dam kolagenase.10

Getah pankreas. diambil dari buku biokimia dasar A. Jakarta : FKUI, h 26.

Enzim dalam getah intestine yaitu aminopeptidase, disakaridase spesifik (sukrase,


maltase, dan lactase), fosfatase, polinukleotidase (nukelinase), nukleosidase
(nukleosida fosoforilase) dan fosfolipase.10

26 | P a g e

Getah intestine. Gambar diambil dari buku biokimia dasar A, Jakarta: FKUI, h
27.

VI.

Penyerapan makanan
Terdapat tiga penyerapan yaitu kabohidrat, protein, dan lemak. Penyerapan
karbohidrat pada umumnya monosakarida diserap secara aktif kecuali fruktosa.
Penyerapan asam alfa-amino terdapat perbedaan diantara bentuk-bentuk isomer
asam amino. Isomer-L diserap secara aktif, sedangkan isomer D diserap secara
pasif (difusi biasa). Asam amino yang lebih banyak mendesak asam amino yang
jumlahnya lebih sedikit, bila seseorang menyerap sesuatu molekul secara utuh
maka protein ini dianggap sebagai benda asing di dalam tubuhnya. Hal ini
mengakibatkan tubuh orang itu akan membentuk senyawa antinya dan terjadilah
reaksi alergi.10
Pada kasus yang diberikan bahwa di diagnosa terjadi gangguan pada metabolisme
empedunya. Pertama tama saya akan mendefinisikan mengenai empedu,
empedu merupakan produk hati dan mempunyai peranan penting pada pencernaan
makanan terutama lemak. Empedu hati, sebelum disekresi ke lumen intestinal
terlebih dahulu disimpan di kantung empedu. Kantung empedu akan
mengkosongkan isinya selama proses pencernaan berlangsung di dalam intestine.
27 | P a g e

Pengosongan kantung empedu dirangsanga oleh hormone koleisistokinin salah


satu komponen Boyliss & Starling. Untuk itu saya akan lebih banyak membahas
di penyerapan lemak.
Garam empedu membantu pencernaan lemak melalui efek emulsifikasi dan
mempermudah penyerapan lemak dengan ikut serta dalam pembentukan misel
(micelle). Molekul garam empedu mengandung bagian yang larut lemak dengan
bagian larut air yang bermuatan negatif. Dengan terjadinya emulsifikasi lemak,
luas permukaan lemak akan semakin besar sehingga semakin banyak lemak yang
dapat dihidrolisis oleh lipase pankreas bersama dengan kolipase menjadi
monogriselda dan asam lemak bebas untuk selanjut dibawa ke bagian interior
misel yang larut air.10
Dalam suatu misel, garam empedu dan lesitin bergumpal dalam kelompokkelompok kecil dengan bagian larut lemak menyatu di bagian tengah membentuk
inti hidrofobik sementara bagian larut air membentuk selubung hidrofilik di
sebelah luar. Karena itu misel merupakan wadah yang dapat digunakan untuk
mengangkut bahan-bahan tak larut air melalui isi lumen yang cair. 7-9
Misel akan mendekati permukaan epitel absorptif dan kemudian asam lemak
meninggalkan misel dan secara pasif berdifusi menembus lapis ganda lemak
membran luminal. Monogliserida dan asam lemak bebas diresintesis menjadi
trigliserida di dalam sel epitel. Trigliserida-trigliserida ini menyatu dan dibungkus
oleh suatu lapisan lipoprotein untuk membentuk kilomikron yang larut air
kemudian dikeluarkan dengan eksositosis melalui membran basal sel. Kilomikron
tidak dapat menembus membran basal kapiler darah sehingga masuk ke pembuluh
limfe, lakteal sentra. Pembuluh-pembuluh limfe akhirnya menyatu untuk
membentuk duktus thorasikus yang mengalirkan isinya ke sistem vena di dada.
Dengan cara ini lemak akhirnya memperoleh akses ke darah, dibawa ke hati dan
jaringan tubuh lainnya.
Gangguan metabolisme lemak dapat menyebabkan pembentukan batu empedu.
Penumpukan kolesterol yang tinggi akibat konsumsi lemak berlebihan pada
28 | P a g e

akhirnya menyebabkan terjadinya pengendapan kolesterol membentuk kristal


yang menghambat saluran empedu ataupun mengendap di kandung empedu.
Adanya gangguan ini mengakibatkan timbulnya rasa nyeri yang merupakan
rangsang adanya kelainan pada kandung empedu.9,10

Pencernaan lemak
Diambil dari buku biokimia dasar A, Jakarta : FKUI, h. 31-2.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

29 | P a g e

Gangguan pada metabolisme empedu dapat menyebabkan buang air besar berwarna putih
sehingga hipotesis diterima

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

30 | P a g e

1) Chiras D.D. Human biology, edisi ke 7. USA: Jones & Bartlett Learning; 2012. h 104.
2) Watson R. Anatomi dan Fisiologi. Edisi 10. Dalam: Nutrisi dan eliminasi. Jakarta: EGC;
2002.h.372-8.
3) Rogers K. The Digestive system. New York: Britannica Educational Publishing; 2011. h 2831.
4) Alcamo I.E. Krumhardt B. Anatomy and physiology the easy way. USA: Barrons
Educational Series; 2004. h 384-7.
5) Cambridge Communication Limited. Anatomi Fisiologi. Edisi 2. Dalam: Sistem pencernaan.
Jakarta: EGC; 2005.h.50-62.
6) Dofka C.M. Dental terminology. USA: Delmar; 2000. h 61.
7) Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran, Edisi 11. Jakarta: Penerbit EGC; 2008.
h. 823,999-1059.
8) Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC;
2011.h.642-93.
9) Ward J, Clarke R, Linden R. At a glance fisiologi. Jakarta: Erlangga; 2004.h.74-81.
10) Hardjasasmita P. Ikthisar biokimia dasar A. Jakarta : FKUI, 2000, h. 22-33.

31 | P a g e