Anda di halaman 1dari 16

Hormon Genitalia mempengaruhi Siklus Menstruasi

Dibuat oleh :
Mendy
102011413
D3
mendy.gotama@hotmail.com

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


JL. ARJUNA UTARA NO.6
JAKARTA BARAT

DAFTAR ISI
BAB I
Latar Belakang

Hal 2

Tujuan

Hal 2

BAB II
Pengertian Organ Reproduksi dan Siklus Haid

Hal 3

Skenario

Hal 3

Pembahasan Skenario

Hal 3 - 12

Pembentukan Sel Telur

Hormon Genitalia

Endometrium

Siklus Haid

Perkembangan Pubertas

Jalan Keluarnya Darah Haid

BAB III
Penutup

Hal 13

BAB IV
Daftar Pustaka

Hal 14 - 15

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ovarium akan menghasilkan sel telur setiap bulannya. Kemudian sel telur akan
dibawa ke dinding endometrium melalui tuba fallopi, bila tidak terjadi pembuahan maka
dinding akan meluruh dan menyebabkan siklus haid.
B. Tujuan
Adapun menulis makalah ini bertujuan untuk :

Mengetahui siklus haid pada wanita,

Mengetahui organ reproduksi wanita serta organ yang berkaitan pada saat
menstruasi,

Mengetahui hormone genitalia,

Serta mengaitkan siklus haid dengan perkembangan pubertas.

BAB II
ISI
A. Pengertian Organ Reproduksi Wanita dan Siklus Haid
Organ reproduksi wanita memiliki beberapa fungsi seperti menghasilkan sel telur,
tempat terjadinya fertilisasi, membawa sel yang sudah dibuahi ke dinding endometrium
serta meluruhkan dinding endometrium bila tidak terjadi pembuahan. Peluruhan dinding
endometrium akan mengeluarkan darah proses ini disebut proses menstruasi (siklus haid).
B. Skenario
Seorang mahasiswi berusia 19 tahun merasa risau karena dalam 6 bulan terakhir
haidnya tidak teratur, kadang-kadang dalam 1 bulan ia tidak mendapat haid, tetapi bulan
berikutnya bisa 2 kali mendapat haid. Kemudian ia memutuskan untuk memeriksakan diri
ke dokter.
C. Pembahasan skenario
Pada hakikatnya setiap bulan seorang wanita akan mengalami proses menstruasi,
dimana vagina akan mengeluarkan darah dari meluruhnya dinding endometrium
( dinding yang kaya pembuluh darah dan saraf). Proses ini terjadi bila tidak ada
pembuahan sehingga sel telur yang menempel di dinding endometrium akan ikut
terbuang melalui siklus haid.
I.

Pembentukan Sel Telur


Pembentukan sel telur terjadi di dalam ovarium. Fungsi utama ovarium adalah
menghasilkan hormone dan pertumbuhan ovum. Ovarium memiliki bentuk oval dengan
ukuran 4 x 2 cm. Ovarium terletak dalam fossa ovarii waldeyer pada dinding lateral
pelvis dengan perbatasan sebagai berikut :1
Cranial : a.v iiliaca interna
6

Distal : a. uterine
Dorsal : a.v iiliaca interna dan n.obturatorius
Ventral : perlekatan dengan ligamentum latum
Ovarium memiliki penggantung supaya ia tidak bergerak kesana-kemari yaitu
mesovarium. Ovarium diperdarahi oleh a.ovarica yang dipercabangkan oleh aorta
abdominalis setinggi vertebrae lumbal I, dan memiliki aliran pembuluh balik dari
v.ovarica dextra dialirkan ke dalam v.cava inferior serta v.ovarica sinistra dialirkan ke
dalam v. renalis sinistra. Pembuluh getah bening mengikuti a.v ovarica menuju nnll. Para
aoarae setinggi vertebrae lumbal I dengan persyarafan plexus aorticus yang terletak
sekitar a.ovarica.

Gambar 1. Ovarium2

Ovarium akan menghasilkan ovum (sel telur). Ovum memiliki dua fase dalam
pembentukannya yaitu fase folikular dan fase luteal. 3 Fase folikular merupakan fase
pembentukan folikel, dimana terbagi menjadi empat folikel yaitu folikel primer, folikel
sekunder, folikel tersier, dan folikel de Graaf.
Folikel primer
Oogonia (oosit primer) mengandung 46 kromosom diploid, sebelum lahir
dikelilingi oleh satu lapisan sel granulose kemudian akan berkembang dan
menjadi folikel primer

Folikel sekunder
Lingkungan

hormone

pada

fase

folikular

mendorong

terjadinya

pembesaran dan pengembangan kemampuan sekresi sel-sel folikel,


mengubah folikel primer menjadi folikel sekunder ( folikel antrum).
Folikel tersier
Memiliki epitel torak rendah bergranulosa, memiliki rongga-rongga kecil
disebut sel granulose dan ditengah terdapat badan calexner. Disini
memiliki oosit I dan dilapisi oleh zona pelusida.
Folikel De Graff
Memiliki antrum folikuli yang sangat besar dan lebar di dalam terdapat
liquor folikuli yang didapat dari gabungan teka interna dan eksterna.
Membrana granulose akan didesak ke pinggir, terdapat oosit II yang
dilapisi korona radiate.
Setelah terbentuknya folikel de graff maka dengan bantuan hormone estrogen
akan terjadi ovulasi (pelepasan ovum). Ovum yang masih dikelilingi oleh zona pelusida
yang lekat dan sel-sel granulosa (korona radiata) akan tersapu keluar dari folikel yang
pecah dan mudah tertarik ke dalam tuba uterine tempat fertilisasi terjadi.3,4
Fase luteal ditandai oleh keberadaan korpus luteum, folikel yang tertinggal di
dalam ovarium pada saat pecah akan mengalami perubahan. Sel-sel granulosa dan sel
teka yang tertinggal di sisa folikel mula-mula kolaps ke dalam ruang antrum yang kosong
dan telah terisi sebagian oleh bekuan darah.3
II.

Hormon Genitalia
Ovarium merupakan organ yang mengontrol serta menyintesis estrogen dan
progesteron secara siklik. Kedua hormone ini penting dalam persiapan sistem reproduksi
wanita, untuk menerima telur yang telah dibuahi.4

Konsentrasi hormon kelamin wanita di urine pada masa reproduksi bervariasi sesuai
dengan fase siklus haid. Selama kehamilan, ekskresi estrogen di urine meningkat. Dengan
majunya ilmu pengetahuan, sekarang terdapat bermacam sediaan hormone kelamin
sintetis yang dapat digunakan untuk pengobatan dan kontrasepsi.

Estrogen

Di dalam ovarium asetat akan diubah menjadi kolestrol dan melalui reaksi
enzimatik yang nantinya akan diubah menjadi hormone steroid. Pembentukan
estrogen di folikel ovarium dipengaruhi oleh FSH (Follicle Stimulating
Hormone). Estrogen juga dibentuk di dalam plasenta, korteks adrenal, dan
testis.4

Sekresi estrogen secara siklis menimbulkan perubahan berkala yang disebut


siklus haid. Pada fase folikuler siklus haid, mukosa vagina dan uterus
berproliferasi, sekresi kelenjar serviks bertambah, mamae terasa kencang dan
penuh. Pada siklus haid masa reproduksi penurunan kadar progesterone
merupakan faktor terpenting yang menimbulkan pendarahan haid. Namun
selama pubertas dan menopause ketika pendarahan haid berlangsung
anovulatorik (tidak menghasilkan ovum) yang menyebabkan pendarahan haid
adalah kadar estrogen.4

Progesteron

Hormon ini terutama disekresikan oleh korpus luteum pada bagian kedua
siklus haid. Juga disekresikan dalam jumlah kecil oleh testis dan korpus
adrenal laki-laki, serta sejumlah besar disekresikan oleh plasenta. Sintesis dan
sekresi progesterone dirangsang oleh LH ( Luteizing Hormone). Sekresi
hormon ini dimulai tepat sebelum ovulasi dan pada pertengahan fase luteal
kadarnya mencapai puncak, pada akhir siklus haid kadarnya paling rendah.4

Progesteron mempengaruhui traktus urogenitalis yang menyebabkan fase


luteal atau fase sekretroris endometrium dan pada akhir siklus haid dengan
penurunan kadar hormone ini secara mendadak menyebabkan pendarahan
6

haid. Kemudian dari pertengahan siklus sampai datangnya haid, suhu pada
seorang wanita meningkat kira-kira 0,5 0C hal ini terkait dengan terjadinya
ovulasi.4
III.

Endometrium
Ovum yang dilepas dari ovarium akan dibawa ke dalam tuba fallopi / tuba uterine,
disini merupakan tempat terjadinya fertilisasi. Tuba fallopi dimulai dari fimbriae sampai
fundus uteri, dan memiliki beberapa bagian sebagai berikut :5
Isthmus tuba fallopi : bagian tuba yang paling sempit
Ampulla tuba fallopi : bagian tuba yang paling lebar dan merupakan tempat
terjadinya proses fertilisasi
Infundibulum : bagian tuba berbentuk corong dan mempunyai fimbriae
Pars intertitialis : bagian tuba yang terdapat dalamn dinding uterus
Tuba fallopi diperdarahi oleh a.uterina cabang dari a. illiaca interna dan a.ovarica
cabang dari aorta abdominalis dan aliran pembuluh balik mengikuti aliran pembuluh
nadi.5

Gambar 2. Tuba fallopi6

Bila ovum dibuahi maka akan menempel di dinding uterus. Uterus berbentuk oval
dan berkonsistensi kenyal, ukuran pada nullipara adalah 7,5 x 5 x 2,5 cm. Terdapat tiga
bagian pada uteri, yaitu :

Fundus uteri : bagian uterus yang terletak di muara tuba


Corpus uteri : bagian uterus yang terdapat di bawah muara tuba, corpus
merupakan bagian terbesar. Ke arah distal akan menciut/mengecil dan berubah
menjadi cervix
Cervix uteri : uterus bagian bawah yang menyempit dan menembus dinding
vagina
Portio supra vaginalis cervicis uteri, merupakan bagian cervix yang
menonjol di atas vagina
Portio vaginalis cervicis uteri, bagian cervix uteri yang menonjol ke dalam
vagina.
Lapisan dinding uterus terdiri dari endometrium, myometrium, dan perimetrium.
Lapisan terluar adalah perimetrium, myometrium adalah lapisan otot polos yang banyak
mengandung pembuluh darah dan terletak anatara endometrium dan myometrium.
Endometrium merupakan lapisan paling dalam, memiliki fungsi untuk mempersiapkan
resepsi blastokista, untuk berperan dalam implantasi dan nutrisinya, dan untuk bagian
maternal plasenta. Dari pubertas sampai menopause, endometrium mengalami perubahan
siklus bulanan pada strukturnya. Pada akhir setiap siklus bila ovum tidak dibuahi bagian
ketebalan endometrium yang lebih besar mengelupas, disertai ekstravasasi darah dari
pembuluh darah pada stromanya.7
Pada siklus dengan ovum yang tidak dibuahi, perubahan vaskular yang nyata
terjadi pada endometrium 2 minggu setelah ovulasi. Endometrium memucat selama
sejam pada satu waktu, karena kontraksi a.spiralis yang menghilangkan fungsionalis
darah teroksigenasi. Pewarnaan endometrium lebih pekat dan tampak selular karena
kehilangan banyak cairan interstitialnya. Kelenjar berhenti mensekresi dan stroma
diinvasi oleh leukosit dalam jumlah besar. Setalah 2 hari aliran darah berlanjut ke bagian
dua per tiga endometrium atas kontriksi a.spiralis berlanjut mengakibatkan iskemik
fungsional, sedangkan darah tetap mengalir di basalis. Selang beberapa jam arteri yang

mengalami kontriksi terbuka kembali sehingga darah keluar melalui tempat iskemik,
dinding pembuluh darah ruptur kemudian pecah ke dalam lumen uterus.7
Kelompok endometrium nekrotik yang tenggelam di dalam darah melepaskan diri
meninggalkan ujung kelenjar yang sobek dan membuka ujung pembuluh darah yang
terekspose di permukaan. Darah terus memancar dari ujung vena yang terbuka,
membantu aliran menstrual. Normalnya darah ini tidak membeku, darah kehilangan
sekitar 35 ml. Pada hari ketiga keempat seluruh fungsional akan terkelupas, namun
basalis endometrium akan intak dan bisa terlihat sebelum aliran menstruasi seluruhnya
berhenti sel epitel basalis akan mengalami fase proliferasi untuk siklus yang berikutnya.7

Gambar 3. Lapisan uterus (endometrium,

Gambar 4. Uterus potongan melintang9

myometrium, perimetrium)8

IV.

Siklus Haid
Kadar estrogen dan progesterone selama siklus ovarium menimbulkan perubahan
mencolok di uterus menghasilkan siklus haid. Karena mencerminkan perubahan hormon
selama siklus ovarium maka siklus haid berlangsung rata-rata 28 hari namun pada beberapa
orang memiliki variasi terhadap rata-rata ini. Perubahan yang jelas terlihat adanya perdarahan
haid sebulan sekali, tetapi perubahan yang relative kurang jelas berlangsung sepanjang siklik
adalah uterus bersiap untuk implantasi seandainya ovum yang dibebaskan dibuahi jikalau
tidak maka akan terjadi pembersihan lapisan tersebut untuk memulihkan dirinya dan bersiap
untuk ovum yang akan dibebaskan pada siklus berikutnya.

Siklus haid terdiri dari tiga fase yaitu fase haid, fase proliferatif, dan fase sekretorik
atau progestasional.

Fase Haid
Ditandai oleh pengeluaran darah dan sisa endometrium, hari pertama haid
dianggap sebagai permulaan siklus baru. Saat ini bersamaan dengan pengakhiran fase
luteal ovarium dan dimulainya fase folikular. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi
karena tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum maka kadar progesterone dan
estrogen darah menurun dengan drastis. Penurunan drastis dari kedua hormon ini
mengakibatkan lapisan dalam uterus yang kaya vascular dan nutrient kehilangan
hormon penunjangnya.
Turunnya kadar hormon ovarium juga merangsang pembebasan suatu
prostaglandin

uterus

yang

menyebabkan

vasokontriksi

pembuluh-pembuluh

endometrium dan menghambat aliran darah ke endometrium. Kuranganya suplai O 2


akan mengakibatkan endometrium beserta pembuluh darah mati. Perdarahan yang
terjadi karena kerusakan lapisan akan membilas jaringan endometrium yang mati ke
dalam lumen uterus. Sebagian besar lapisan dalam uterus akan terbuang, yang tersisa
akan menjadi asal regenerasi endometrium.
Prostaglandin merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium uterus. Kontraksi
ini membantu mengeluarkan darah dan sisa endometrium dari rongga uterus keluar
melalui vagina. Kontraksi yang terlalu kuat akibat produksi berlebihan prostaglandin
akan menyebabkan kram haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita.
Pengeluaran darah rata-rata 50 -150 ml. Darah yang berdegenerasi akan
membeku di dalam rongga uterus dibantu oleh fibrin yang akan membentuk anyaman
bekuan dalam proses fibrinolisin. Oleh karena itu darah haid tidak membeku karena
telah membeku di dalam uterus dan bekuan tersebut telah larut sebelum keluar
vagina. Selain darah dan sisa endometrium, darah haid mengandung jumlah leukosit
yang berguna mencegah infeksi pada endometrium yang terbuka.
Haid biasa berlangsung selama lima sampai tujuh hari setelah degenerasi korpus
luteum, bersamaan dengan fase folikular ovarium. Turunnya sekresi gonad akan

menghilangkan pengaruh inhibitorik dari hypothalamus dan hipofisis anterior


sehingga sekresi LH dan FSH menigkat dan fase folikular baru dapat dimulai
kembali. Setelah lima sampai tujuh hari folikel sudah cukup menghasilkan estrogen
untuk mendorong pertumbuhan dan perbaikan endometrium.
Fase Proliferatif
Fase dimulai bersamaan dengan bagian terakhir fase folikular ovarium ketika
endometrium mulai memperbaiki diri dan berproliferasi di bawah pengaruh estrogen
dari folikel-folikel yang baru berkembang. Saat aliran darah haid berhenti, yang
tersisa di dalam lapisan endometrium tipis dengan ketebalan kurang dari 1mm.
Estrogen merangsang proliferasi sel epitel, kelenjar, dan pembuluh darah di
endometrium serta meningkatkan ketebalan lapisan ini menjadi 3-5 mm. Fase
proliferatif yang didominasi oleh estrogen ini berlangsung dari akhir haid hingga
ovulasi. Kadar puncak estrogen memicu lonjakan LH yang menjadi penyebab
ovulasi.
Fase Sekretorik atau Progestasional
Fase bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum
mengeluarkan sejumlah progesteron dan estrogen. Progesteron mengubah
endometrium tebal yang telah dipersiapkan oleh estrogen menjadi kaya vascular
dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik karena kelenjar endometrium
aktif mengeluarkan glikogen atau fase progestasional (sebelum kelahiran)
merujuk pada lapisan subur endometrium yang mampu menopang kehidupan
janin. Jika pembuahan tidak terjadi maka korpus luteum akan berdegenerasi dan
fase folikular baru dimulai kembali.

V.

Perkembangan Pubertas
Pada saat di dalam kandungan, seorang bayi perempuan sudah mengalami oogenesis
(pembentukan ovum) hanya saja proses berhenti sampai oosit primer. Kemudian ovum
tersebut akan diproses kembali menjadi ovum pada saat pubertas.
Pubertas pada wanita rerata dari umur 12-14 tahun. Terjadinya pubertas dapat terlihat
dari ciri kelamin sekunder yaitu pengeluaran darah dari vagina (siklus haid), kulit lebih halus,

payudara membesar, pinggul memiliki bentuk lebih lebar, tumbuh rambut di daerah ketiak
dan kemaluan. Perubahan ini dipengaruhi hormone estrogen, progesterone, dan androgen.
Pada beberapa remaja terjadi keterlambatan pubertas, yang dimaksud dengan
keterlambatan pubertas adalah tidak muncul tanda-tanda awal pubertas sampai usia 14 tahun.
Pubertas terlambat lebih sering menjadi keadaan yang diturunkan disebut sebagai
keterlambatan pertumbuhan dan pubertas yang bersifat konstitusional dan biasanya ada
riwayat keluarga dengan keterlambatan pubertas. Sebagian kecil keterlambatan diakibatkan
lingkungan maupun kesehatan anak yang bersangkutan, bila tidak berkaitan dengan riwayat
keluarga maka dapat dilakukan test yang berhubungan dengan gangguan regulasi pelepasan
gonadotropin di hipothalamus-hipofisis atau gangguan respon gonadal. 10

VI.

Jalan keluarnya darah haid


Setelah darah yang meluruh dari dinding endometrium dibawa ke dalam lumen
uterus, selanjutnya darah haid akan melewati vagina. Vagina memiliki selaput tipis berbentuk
bulan sabit dan berada di sekitar orificium vagina disebut hymen. Hymen memiliki sedikit
lubang yang berguna untuk pengeluaran darah, dan pada saat coitus pertama kali hymen akan
robek di bagian posterior.
Bagian eksternal terdapat labia mayora yang merupakan lipatan yang besar dari mons
pubis kea rah peritoneum, pada bagian ini berambut sedangkan bagian dalam licin
mengandung kelanjar sebasea. Di pertengan ruang antara labium mayora kanan dan kiri
terdapat vulva. Terdapat juga labium minor yang merupakan lipatan kecil pada vulva, labia
minora kanan dan kiri membatasi ruang yang disebut vestibulum.

BAB III
PENUTUP
Dapat diketahui seorang anak perempuan mengalami pubertas dengan terjadinya
siklus haid pertama kali, pubertas ini terjadi rerata umur 12 14 tahun. Selain siklus haid
juga dapat dilihat pertumbuhan seks sekunder seperti payudara membesar, tumbuh
rambut di daerah ketiak dan kemaluan, kulit menghalus serta bentuk pinggul yang
membesar.
Siklus haid sendiri merupakan proses peluruhan dari dinding endometrium di
uterus, hal ini terjadi karena sel telur yang dilepaskan dari ovarium tidak dibuahi pada
proses perjalannya di tuba fallopi. Mengakibatkan dinding endometrium yang siap
menopang dan mengimplantasi ovum yang dibuahi membersihkan dindinya dan siap
untuk memulai siklus baru, dalam proses ini ovum yang tidak dibuahi juga ikut terbuang.
Peluruhan dinding endometrium yang kaya vascular akan mengeluarkan darah
yang sering disebut darah haid, nantinya akan dikeluarkan melalui hymen di vagina. Hal
ini merupakan hal yang bisa dilihat secara fisik. Sedangkan hal internal yang terjadi
adalah fase folikular, yaitu fase pembentukan ovum di ovarium. Di dalam ovarium selain
fase folikular juga terdapat fase luteal, fase luteal adalah fase setelah ovum dikeluarkan
dari ovarium yang nantinya akan membentuk korpus luteum. Bila ovum tidak dibuahi
maka korpus luteum akan berdegenerasi.
Seluruh proses ini dipengaruhi oleh hormon genitalia, yaitu estrogen dan
progesteron. Hormon progesteron akan disekresi LH, hormone estrogen akan disekresi
FSH. Rerata hormone yang lebih banyak berperan adalah hormone estrogen dari
penebalan dinding endometrium sampai mencapai fase ovulasi. Sedangkan hormone
progesterone berperan dalam fase folikular dan memperkaya dinding endomterium
dengan vascular sertas glikogen setelah dinding dipersiapkan oleh hormone estrogen.
6

Pada kasus ini seorang perempuan 19 tahun mengalami siklus haid yang tidak
teratur bisa dikarenakan memiliki gangguan regulasi pelepasan gonadotropin (FSH dan
LH) di hipothalamus-hipofisis atau gangguan respon gonadal (progesterone dan
estrogen), atau karena faktor turunan dimana dalan riwayat keluarga juga terjadi hal
seperti ini.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Benson RC, Pernoll ML. Buku saku obstetri dan ginekologi. Jakarta: EGC, 2009. h 3940.
2. Gambar diunduh dari www.google.com (http://www.google.co.id/imgres?
q=tuba+fallopi&num=10&hl=id&biw=1024&bih=442&tbm=isch&tbnid=VW
UtJNiGiQsozM:&imgrefurl=http://www.daviddarling.info/encyclopedia/F/Fallopi
an_tube.html&docid=bEIDt8y6zbFv_M&imgurl=http://www.daviddarling.info/i
mages/Fallopian_tube.gif&w=464&h=362&ei=rXxcUOekJsfVrQe9ioDQBw&zoo
m=1&iact=hc&vpx=532&vpy=112&dur=9830&hovh=198&hovw=254&tx=1
37&ty=146&sig=109382939357866118934&sqi=2&page=1&tbnh=97&tbnw
=124&start=0&ndsp=13&ved=1t:429,r:10,s:0,i:97)

3. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 6. Dalam: Sistem pencernaan. Jakarta: EGC;


2011,h 834-7.
4. Staff pengajar departemen farmakologi FKUSriwijaya. Kumpulan kuliah farmakologi.
Jakarta: EGC, 2009, h 687-95.
5. Wibowo DS. Anatomi tubuh manusia. Jakarta: EGC, 2004, h 107-16.
6. Gambar diundur dari www.google.comhttp://www.google.co.id/imgres?
q=tuba+fallopi&num=10&hl=id&biw=1024&bih=449&tbm=isch&tbnid=YdG
sW9_3RBVXaM:&imgrefurl=http://availsanitary.wordpress.com/bahayadioxin/&docid=nmUpbt_7miTmM&imgurl=http://availsanitary.files.wordpress.com/2009/03/scan00021.jpg%253Fw
%253D780&w=496&h=389&ei=lR5dUIS4MNHMrQeB7IGoCQ&zoom=1&iact=

hc&vpx=492&vpy=165&dur=1393&hovh=199&hovw=254&tx=122&ty=87&
sig=109382939357866118934&page=1&tbnh=98&tbnw=125&start=0&nds
p=12&ved=1t:429,r:3,s:0,i:78

7. Fawcett, Don W. Buku ajar histologi. 12th Ed. Jakarta: EGC, 2002, h 740-52.
8. Gambar diunduh dari www.google.com http://www.google.co.id/imgres?
q=uterus&um=1&hl=id&sa=N&biw=1024&bih=485&tbm=isch&tbnid=Rekc
ZQeMUo4NjM:&imgrefurl=http://www.uterus.com/&docid=5TvMSMF2qqxDqM
&imgurl=http://www.uterus.com/member_files/files/X2604-U10.png&w=400&h=307&ei=qChdULf4O4KQrgegyYDwCw&zoom=1&iact=rc&
dur=869&sig=109382939357866118934&page=1&tbnh=129&tbnw=168&st
art=0&ndsp=10&ved=1t:429,r:2,s:0,i:73&tx=85&ty=68

9. Gambar diunduh dari www.google.com http://www.google.co.id/imgres?


q=uterus&um=1&hl=id&sa=N&biw=1024&bih=485&tbm=isch&tbnid=eRBB
PM4GTHC7WM:&imgrefurl=http://browngirlmagazine.com/2012/07/mahilafacts-femaleanatomy/&docid=e0cN5mqZ7Mbx_M&imgurl=http://browngirlmagazine.com/
wpcontent/uploads/2012/07/uterus_parts.jpg&w=400&h=320&ei=qChdULf4O4K
QrgegyYDwCw&zoom=1&iact=hc&vpx=428&vpy=94&dur=1611&hovh=201
&hovw=251&tx=169&ty=170&sig=109382939357866118934&page=1&tbn
h=139&tbnw=174&start=0&ndsp=10&ved=1t:429,r:7,s:0,i:89

10. Hull D, Johnston DI. Dasar-dasar pediatri. Ed 3. Jakarta: EGC,2008, h 224-36.