Anda di halaman 1dari 9

Tinjauan Pustaka

Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh, Mekanisme Demam dan Tingkatan


Demam
Alvin Wijaya Rustam
NIM : 102011239
Kelompok E1
AlvinWijayaa@yahoo.com
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta

Pendahuluan
Manusia merupakan mahluk homeotermik. Mahluk berdarah panas yang dimana suhu
tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan suhu disekitarnya. Suhu manusia dipertahankan
pada keadaan normal yaitu sekitar 36,7-37,1oC. Pada tubuh manusia, suhu tubuh bisa berada
diatas normal. Hal ini dapat dikarenakan oleh berbagai hal, salah satunya adalah ketika kita
sedang beraktivitas, secara umum ketika kita beraktivitas tubuh kita bekerja lebih keras untuk
mengontrol suhu tubuh kita supaya tetap dalam keadaan normal.
Suhu tubuh normal bukan hanya dipengaruhi tubuh yang mengatur agar tetap dalam
keadaan normal, tetapi juga pada lingkungan sekitar kita, contohnya ketika kita berada di
lingkungan yang panas, cenderung suhu tubuh kita naik dengan sendirinya. Salah satu hal yang
dapat terjadi ketika tubuh kita mencapai suhu yang terlalu panas adalah demam. Untuk lebih
mengerti saya akan menjelaskan sedikit tentang mekanisme pengaturan suhu tubuh dan
mekanisme demam.

Mekanisme Pengaturan Suhu Tubuh


Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan koordinasi
yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu tubuh inti melawan perubahan suhu
dingin atau hangat.
Sistem pengaturan suhu tubuh ini melibatkan keseimbangan antara pembentukan panas
dalam tubuh dan pengeluaran panas(kehilangan panas). Panas dalam tubuh kita terus-menerus
dibentuk sebagai hasil metabolisme, dan secara terus-menerus pula panas kita dikeluarkan dari
tubuh ke lingkungan. Keseimbangan panas dapat terjadi ketika kecepatan pembentukan panas
sama dengan kecepatan pengeluaran panas. Tetapi ketika keduanya melewati dari kadar
keseimbangan yang seharusnya, panas tubuh dan suhu tubuh akan jelas meningkat atau menurun.
Faktor-faktor yang memegang peranan adalah kecepatan metabolisme basal semua sel
tubuh, peningkatan kecepatan metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas otot, peningkatan
metabolisme berdasarkan tiroksin, peningkatan metabolisme berdasarkan epinefrin, peningkatan
metabolisme yang disebabkan oleh meningkatnya suhu sel-sel tubuh.1
Pembentukan Panas
Makanan yang kita makan dalam tubuh kita tidak selalu diubah menjadi ATP tetapi
sebagian diubah menjadi panas. Rata-rata 50% energi dalam makanan menjadi panas selama
pembentukan ATP, kemudian sebagia energi masih menjadi panas sewaktu ditransfer menjadi
ATP ke sistem fungsional sel sehingga pada keadaan terbaik pun tidak lebih dari 20-25% dari
seluruh energi makanan yang akhirnya dipakai oleh sistem fungsional. 25% energi yang dapat
mencapai sistem fungsional sel pun hampir semuanya diubah menjadi panas salah satunya
dikarenakan oleh sintesis protein, sejumlah besar ATP dipakai untuk membentuk rantai peptida,
dan energi disimpan dalam rantai ini. Tetapi terdapat pergantian protein secara terus-menerus
yang menyebabkan ada protein yang dipecah dan ada protein yang dibentuk, sewaktu protein
dipecah maka energi yang terdapat pada rantai polipeptida ini dilepaskan dalam bentuk panas
dalam tubuh.
Panas tubuh juga dibentuk dari aktivitas otot, sebagian besar energi dipakai hanya untuk
melawan sifat liat dari otot untuk bergerak. Ketika otot itu bergerak terjadi gesekan, gesekan ini

menimbulkan panas. Begitu pula energi yang digunakan jantung untuk memompa darah, aliran
darah yang melalui pembuluh perifer menyebabkan gesekan antara beberapa lapisan yang juga
menghasilkan panas.1,2

Pengeluaran Panas
Tubuh dapat dengan berbagai cara untuk mengeluarkan panas dari tubuh itu sendiri. Caracara tersebut meliputi radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi. Radiasi, panas dalam tubuh
kita dikeluarkan 60% dengan cara radiasi, dengan memancarkan panas dari dalam tubuh keluar
tubuh, radiasi infra merah panas yang keluar dari tubuh kita memliki panjang gelombang 5
sampai 20 mikron. Konduksi, hanya sejumlah panas yang hilang dari tubuh kita melalui
konduksi langsung dari permukaan tubuh ke benda-benda lain seperti kursi, tempat tidur.
Konveksi, konveksi merupakan panas yang hilang dari tubuh kita yang dibantu oleh udara, jadi
ketika panas dalam tubuh kita dikonduksikan ke kulit kita, udara yang mengenai tubuh kita bisa
membawa panas yang ada di kulit kita ke lingkungan. Evaporasi, evaporasi adalah mekanisme
pendinginan pada suhu udara yang sangat tinggi, ketika suhu kulit kita masih lebih tinggi
daripada suhu lingkungan, panas yang keluar(hilang) adalah panas yang dikeluarkan dengan cara
konduksi dan radiasi, tetapi ketika keadaan suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu kulit,
tubuh yang secara normal harus mengeluarkan panas, menjadi tidak dapat mengeluarkan panas,
malah memperoleh panas melalui konduksi dan radiasi, dalam keadaan seperti ini cara tubuh
melepaskan panas adalah dengan evaporasi(berkeringat).1,2

Mekanisme Penurunan Suhu


Sistem termostat menggunakan 3 mekanisme penting untuk menurunkan panas tubuh
ketika suhu tubuh menjadi sangat tinggi antara lain, vasodilatasi, berkeringat, dan penurunan
pembentukan panas. Vasodilatasi terjadi pada hampir semua area tubuh, hal ini dapat terjadi
karena hambatan dari pusat simpatis di hipotalamus yang menyebabkan vasokonstriksi,
vasodilatasi penuh akan meningkatkan kecepatan pemindahan panas ke kulit sebanyak delapan
kali lipat. Berkeringat, merupakan efek peningkatan suhu yang menyebabkan peningkatan

produksi keringat untuk mengeluarkan panas(evaporasi). Penurunan pembentukan panas,


mekanisme yang menyebabkan pembentukan panas berlebihan dihambat.1

Mekanisme Peningkatan Suhu


Ketika suhu tubuh terlalu dingin, sistem pengaturan tubuh pun melakukan prosedur yang
sangat berlawanan dengan mekanisme penurunan tubuh, mekanisme tersebut antara lain:
vasokonstriksi, piloereksi, dan peningkatan pembentukan panas.1

Kelainan Pengaturan Suhu Tubuh


Demam yang berarti suhu tubuh berada di atas batasan normal, hal ini dapat disebabkan
oleh kelainan otak atau oleh kelainan bahan-bahan toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan
suhu. Dalam keadaan demam banyaknya hasil pemecahan protein dan beberapa bahan tertentu
lain, terutama toksin liposakarida yang di sekresi oleh bakteri dapat menyebabkan meningkatnya
set-point thermostat hipotalamus. Bahan-bahan yang menimbulkan efek seperti ini disebut
pirogen. Pirogen yang disekresi oleh bakteri dan oleh degenerasi jaringan tubuh dapat
menyebabkan demam selama keadaan sakit. Ketika set-point thermostat di hipotalamus lebih
tinggi daripada batas normal, maka semua mekanisme untuk meningkatkan suhu terlibat,
termasuk pengubahan panas dan peningkatan pembentukan panas.1

Sifat-sifat Keadaan Demam


Menggigil, hal ini terjadi ketika termostat hipotalamus berubah tiba-tiba dari tingkat
normal ke tingkat lebih tinggi dari normal akibat dari penghancuran jaringan, zat pirogen, atau
dehidrasi yang menyebabkan suhu darah yang lebih rendah dari set-point suhu termostat
hipotalamus mengalami proses peningkatan suhu yang terjadi karena vasokonstriksi yang
menyebabkan kulit menjadi dingin. Dalam keadaan seperti ini, orang akan mengalami menggigil
walaupun suhu tubuh nya sudah diatas normal, dan kulit tubuh juga menjadi lebih dingin

dikarenakan oleh vasokonstriksi. Kemudian ketika suhu tubuh mencapai nilai suhu tertinggi di
termostat, orang tersebut tidak lagi merasa dingin atau panas.
Krisis atau Flush, yaitu ketika faktor-faktor yang menyebabkan suhu meninggi
disingkirkan dan suhu set point pada termostat hipotalamus tiba-tiba turun ke nilai yang lebih
rendah(mungkin kembali ke nilai normal).1,3
Kecepatan Metabolisme Basal
Metabolisme tubuh secara sederhana berarti semua reaksi kimia di dalam semua sel tubuh
dan kecepatan metabolisme dalam keadaan normal dapat ditentukan dengan jumlah panas yang
dibebaskan selama reaksi kimia tersebut terjadi.
Kecepatan metabolisme basal(BMR) berartik kecepatan pemakaian energi dalam tubuh
selama istirahat absolut, tetapi keadaan orang tersebut dalam keadaan bangun. Keadaan yang
diperlukan untuk mengukur BMR adalah seseorang tidak boleh makan paling sedikit 12 jam
terakhir, tidur yang penuh pada malam hari, tidak bekerja berat setelah istirahat penuh(tidur
malam hari), semua faktor fisik dan psikis yang merangsang harus dihilangkan, dan suhu kamar
harus menyenangkan berkisaran antara 20oC.3

Metabolisme Karbohidrat
Hasil pencernaan karbohidrat dalam sistem pencernaan 80% adalah glukosa, dan sisanya
adalah fruktosa dan galaktosa. Setelah karbohidrat dicerna di usus, sebagian fruktosa dan hampir
semua galaktosa diubah menjadi glukosa. Dengan demikian, paling sedikit sekitar 90-95% dari
seluruh monosakarida yang beredar dalam darah merupakan hasil pengubahan akhir yaitu
glukosa.
Setelah diabsorbsi glukosa dapat langsung dipakai untuk melepaskan energi pada sel atau
dapat disimpan dalam bentuk glikogen pada otot dan hati, glikogen merupakan polimer besar
glukosa, proses pembentukan glikogen disebut juga dengan glikogenesis.
Glikogenesis secara simple merupakan molekul glukosa yang dibawa ke otot atau ke hati
untuk pembentukan glikogen, pertama-tama glukosa berikatan dengan posfat menjadi glukosa 6-

posfat, lalu diubah menjadi glukosa 1-posfat menjadi uridin difosfat glukosa, lalu baru diubah ke
dalam glikogen. Glikogenesis berlawanan dengan glikogenolisis, yaitu proses pemecahan
glikogen kembali lagi menjadi molekul glukosa.
Glikogenolisis tidak dapat terjadi dengan membalik siklus glikogenesis. Setiap glukosa
pada masing-masing cabang polimer dilepaskan dengan fosforilasi dengan enzim fosforilase.
Pada keadaan istirahat enzim fosforilase tidak aktif sehingga glikogen dalam otot dan hati tidak
dipecah, tetapi dalam keadaan beraktivitas jika glukosa darah tidak cukup untuk menyediakan
energi untuk tubuh maka terjadi reaksi pemecahan glikogen yaitu dengan berfungsinya hormone
glukagon dan epinefrin. Kedua hormon ini berfungsi untuk meningkatkan pembentukan siklik
adenosine monofosfat dalam sel, yang berfungsi untuk mengaktifkan enzim fosforilase lalu
digunakan untuk memotong rantai polimer glukosa pada glikogen, fungsi daripada glukagon
sendiri adalah untuk glikogenolisis terutama pada hati ketika kadar gula darah seseorang dalam
keadaan rendah, dan epinefrin berfungsi untuk glikogenolisis pada otot dan hati ketika manusia
melakukan aktivitas.
Proses ketika glukosa melepaskan energi untuk dipakai sel melakukan metabolisme adalah
glikolisis. Proses glikolisis ini juga disertai dengan terbentuknya asam piruvat. Secara singkat
proses glikolisis dapat digambarkan dengan Glukosa + 2ADP + 2PO4-

2 Asam piruvat

+ 2ATP + 4H. proses ini membutuhkan 2 ATP untuk mengubah glukosa menjadi glukosa 6 posfat
dan mengubah fruktosa 6 posfat menjadi fruktosa 1,6 bifosfat. Reaksi ini juga menghasilkan 4
ATP ketika pemecahan 2 gliseraldehid 3P menjadi 2 asam difosfogliserat, dan ketika pemecahan
fosfoenol piruvat menjadi asam piruvat. Total ATP yang dihasilkan pada proses glikolisis adalah
4 ATP dan total yang digunakan dalam reaksi ini adalah 2 ATP sehingga energi yang dihasilkan
ketika proses glikolisis adalah 2ATP.
Tahap berikutnya dalam degradasi glukosa adalah konversi asam piruvat menjadi asetil
KoA. Reaksi ini berfungsi juga untuk menghasilkan energi dengan rumus reaksi 2 Asam Piruvat
+ Koenzim A

2 asetil KoA + 2CO2 + 4H+. pada reaksi ini terbentuk 6 ATP, setiap

molekul menghasilkan 3 ATP.


Setelah asam piruvat dikonversi menjadi asetil KoA tahap berikutnya adalah siklus asam
sitrat, siklus yang paling banyak menghasilkan energi. Reaksi ini terjadi di mitokondria, atom

hydrogen yang dilepaskan kemudian di oksidasi, melepaskan sejumlah besar energi untuk
membentuk ATP. Pada permulaan siklus asam sitrat (SAS) ini asetil KoA bergabung dengan
asam oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Hasil akhir reaksi tiap molekul glukosa yaitu 2
Asetik KoA + 6H2O + 2 ADP

4CO2 + 16H + 2KoA + 2 ATP. Pembentukan ATP yang

terjadi adalah ketika mengalami fosforilasi oksidatif, yaitu ketika oksidasi hidrogen dilakukan
untuk memecah atom hidrogen menjadi ion hidrogen dan elektron lalu memakai elektron untuk
mengubah oksigen yang larut dalam cairan menjadi ion hidroksik. Kemudian ion hidroksik dan
hidrogen ini bergabung satu sama lain membentuk ait. Selama urutan reaksi oksidatif, sejumlah
besar energi dibebaskan untuk membentuk ATP.
Ketika simpanan karbohidrat tubuh berkurang(dibawah normal) cukup banyak glukosa
yang dibentuk dari asam amino dan bagian dari gliserol lemak, proses ini disebut
Glukoneogenesis.1,4,5

Metabolisme Lemak
Sumber energi kedua setelah karbohidrat dalam tubuh adalah lemak, lagipula sebagian
dari karbohidrat yang masuk dalam tubuh dari makanan diubah menjadi trigliserida, dan
kemudian di simpan di jaringan adiposa, dan di hati.
Tahap pertama dalam penggunaan trigliserida untuk energi adalah hidrolisis dari senyawa
trigliserida menjadi asam lemak. Degradasi dan oksidasi asam lemak terjadi hanya dalam
mitokondria, maka itu langkah pertama pemakaian asam lemak adalah mentranspor mereka ke
dalam mitokondria yang dibantu juga oleh karnitin sebagai zat carrier. Setelah berada didalam
mitokondria asam lemak berpisah dengan karnitin lalu kemudian di oksidasi. Molekul asam
lemak dalam mitokondria didegradasi dalam mitokondria dengan membebaskan 2 segmen
karbon dalam bentuk asetik KoA, proses ini disebut proses oksidasi beta untuk degradasi asam
lemak. Yang terjadi pada reaksi ini adalah, (1) beta karbon dari molekul asam lemak di oksidasi
dengan menambahkan molekul air dan mengeluarkan dua ion hidrogen yang menyisakan
molekul oksigen yang terikat dengan karbon beta, (2) molekul tersebut kemudian terpecah
menjadi karbon alfa dan beta, melepaskan satu molekul asetik KoA, dengan demikian molekul
asam lemak menjadi lebih pendek dua atom karbon, (3) kemudian proses terulang lagi dengan

sendirinya berkali-kali sampai seluruh rantai asam lemak dipecah menjadi beberapa molekul
asetil KoA, (4) untuk setiap molekul asetil KoA hasil pemecahan asam lemak, dilepaskan empat
atom hidrogen secara keseluruhan. Ini dioksidasi di mitokondria untuk membentuk sejumlah
besar ATP.
Lemak sendiri dapat dibuat atau disintesis dari karbohidrat yang diubah menjadi
trigliserida yang disimpan di jaringan lemak. Langkah pertama dalam pembentukan trigliserida
adalah konversi dari karbohidrat menjadi asetil KoA melalui glikolisis yang tadi sudah
dijelaskan. Pembentukan asam lemak bisa melalui dua langkah yaitu memakai malonil KoA dan
NADPH sebagai perantara utama dalam proses polimerasi.1,4,5

Penutup
Demam disebabkan karena terjadinya gangguan pengaturan suhu tubuh yang ditentukan
oleh termostat hipotalamus yang lebih tinggi daripada suhu normal. Ketika set point suhu pada
termostat hipotalamus lebih tinggi daripada suhu normal, yang terjadi adalah hipotalamus
menugaskan kepada tubuh kita untuk memproduksi panas sesuai dengan set point yang
diberikan, sehingga yang terjadi adalah pembentukan panas pada tubuh kita meningkat sampai
set point tersebut, yang berhubungan juga dengan kecepatan metabolisme basal. Ketika produksi
panas yang ditentukan oleh hipotalamus dan disebabkan oleh metabolisme tubuh meningkat,
maka BMR atau kecepatan metabolisme basal pun ikut meningkat.

Daftar Pustaka
1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th ed. Jakarta: EGC;
2006.p.403,1133-54.
2. Porth CM. Pathophysiology : concepts of altered health states. 7th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2004.h.198-210.
3. Sherwood L. Fisiologi manusia; dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2012.h.592-93.
4. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia harper. Edisi ke-27. Jakarta: EGC;
2009.h.204-17.
5. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia Kedokteran Dasar : sebuah pendekatan

klinis. Jakarta: EGC;2000.h.478-9,545-53.