Anda di halaman 1dari 15

(GANTUNG)

1. APAKAH DEFINISI GANTUNG ?


Gantung (hanging) adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi pada leher oleh alat
penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh tubuh atau sebagian. (1)
2. BAGAIMANA EPIDEMIOLOGI KASUS GANTUNG ?
Pada tahun 2003, WHO mengungkapkan bahwa satu juta orang bunuh diri setiap
tahunnya atau satu orang setiap 40 detik. Bunuh diri merupakan satu dari tiga penyebab
utama kematian pada usia 15 - 34 tahun, selain karena kecelakaan. Menurut WHO,
pada tahun 2005 sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan bunuh diri dan
diperkirakan 150 orang di Indonesia melakukan bunuh diri setiap hari. (2,3,4)
Angka bunuh diri di Jakarta sepanjang tahun 1995 - 2004 mencapai 5,8 per 100.000
penduduk. Mayoritas dilakukan oleh kaum pria. Dari 1.119 korban bunuh diri, 41% di
antaranya gantung diri, 23% dengan minum racun dan 356 orang sisanya karena
overdosis obat terlarang. Menurut data dari Polres Gunung Kidul pada tahun 2004,
angka bunuh diri di wilayah Kabupaten Gunung Kidul mencapai 31 orang, sekitar 95 %
diantaranya dilakukan dengan gantung diri.
Gantung diri merupakan cara kematian yang paling sering dijumpai pada
penggantungan, yaitu sekitar 90 % dari seluruh kasus. (2,3,4,5,6)
3. SEBUTKAN JENIS - JENIS GANTUNG !
1). Menurut Letak Simpul
a. Typical hanging
Adalah peristiwa gantung yang terjadi bila titik gantung terletak di atas daerah
oksiput dan terjadi penekanan paling besar pada arteri karotis dan vena
jugularis.
b. Atypical hanging
Adalah peristiwa gantung yang terjadi bila titik gantung terletak di samping,
sehingga leher dalam posisi sangat miring (fleksi lateral) yang akan
mengakibatkan hambatan pada arteri karotis dan arteri vertebralis. (7)

Gambar 1. Typical Hanging

Gambar 2. Atypical Hanging

2). Menurut Posisi Tubuh


a. Incomplete hanging
Istilah yang digunakan jika berat tubuh tidak sepenuhnya menjadi kekuatan
daya jerat tali, misal pada korban yang tergantung dalam posisi berlutut. Pada
kasus tersebut, berat tubuh tidak seluruhnya menjadi gaya berat sehingga
disebut penggantungan parsial, akibatnya lebam mayat terjadi pada tungkai atas
bagian bawah dan jari-jari tangan sampai pergelangan tangan. Namun, hal ini
bergantung pada posisi korban.
b. Complete hanging

Istilah yang digunakan jika berat tubuh sepenuhnya menjadi kekuatan daya jerat
tali, misal pada korban dalam posisi seluruh tubuh menggantung di atas. Pada
kasus tersebut, berat tubuh seluruhnya menjadi gaya berat sehingga disebut
penggantungan total, akibatnya lebam mayat akan terjadi mulai dari jari-jari
kaki sampai 1/3 tungkai bagian bawah, jari-jari tangan sampai pergelangan
tangan, dan bagian lain seperti genitalia eksterna. (4,8)

Gambar 3. Incomplete Hanging

Gambar 4. Complete Hanging

4. APA YANG DITEMUKAN PADA SAAT PEMERIKSAAN LUAR DAN


DALAM KORBAN GANTUNG ?
a. Pemeriksaan Luar

Sianosis

Terlihat pada daerah bibir, ujung-ujung jari, dan kuku dimana terdapat banyak
pembuluh darah kapiler. Akibat kekurangan oksigen, darah menjadi encer dan
lebih gelap. Warna kulit dan mukosa terlihat lebih gelap. Sianosis mempunyai
arti bila mayat masih baru, jika pemeriksaan dilakukan setelah 24 jam post
mortal maka sianosis biasanya merupakan perubahan post mortal sehingga
tidak mempunyai arti diagnostik.

Kongesti vena
kongesti yang terjadi berbentuk kongesti sistemik pada kulit dan organ-organ
selain paru. Kongesti sistemik dan pulmoner serta dilatasi jantung kanan
dianggap sebagai tanda klasik kematian karena asfiksia, namun dilatasi
ventrikel kanan dan kongesti pulmoner dapat dijumpai pada berbagai
kematian dan tidak spesifik pada kematian yang diakibatkan gangguan
pernapasan.
Kongesti yang dimulai segera di atas jejas pada leher mempunyai arti
signifikan dalam menentukan penyebab jejas, waktu, dan kekuatan tekanan
pada leher.

Bintik perdarahan
Akibat kongesti vena maka terjadi peningkatan tekanan intravaskuler
mendadak dan diikuti overdistensi yang mendadak pula sehingga terjadi
ruptur pembuluh darah kecil, khususnya venula kecil. Bintik perdarahan yang
disebut tardieu spot terjadi pada jaringan longgar dan organ-organ yang
memiliki membran transparan. Pada asfiksia yang hebat dapat terlihat pada
faring atau laring. Pada pemeriksaan luar tampak pada konjungtiva palpebra
dan sklera, sedangkan pada pemeriksaan dalam tampak pada pleura viseralis
dan epikardium.

Busa halus pada hidung dan mulut


Timbul akibat peningkatan aktivitas pernapasan yang disertai sekresi selaput
lendir saluran napas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam

saluran sempit akan menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah


akibat pecahnya kapiler. (1,6)
b. Pemeriksaan dalam

Pada kematian yang cepat, darah akan tetap cair. Salah satu keadaan
tersebut terdapat pada asfiksia, walaupun masih dipertentangkan karena darah
yang tetap cair ini sering dihubungkan dengan aktivitas fibrinolisin. Menurut
pendapat lain, hal ini dihubungkan dengan faktor-faktor pembekuan yang ada
di ekstra vaskuler, dan tidak sempat masuk ke dalam pembuluh darah oleh
karena cepatnya proses kematian.

Edema paru
Kekurangan oksigen yang berlangsung lama akan mengakibatkan kerusakan
pembuluh darah kapiler sehingga permeabilitas kapiler meningkat. Keadaan
ini menimbulkan edema, terutama edema paru.

Busa halus di dalam saluran pernapasan

Pembendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam menyebabkan organ dalam


menjadi lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada pengirisan banyak
mengeluarkan darah.

Petekie
Dapat ditemukan pada mukosa usus halus, epikardium bagian belakang
(daerah aurikuloventrikular), subpleura viseralis paru terutama lobus bawah
pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala sebelah dalam terutama
otot temporal, mukosa epiglottis, dan daerah subglotis.

Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan seperti fraktur laring


langsung atau tidak langsung, perdarahan faring terutama bagian belakang
tulang rawan krikoid. (1,6,12)

5. BAGAIMANA MEKANISME KEMATIAN GANTUNG ?


a. Kerusakan batang otak dan medula spinalis
Terjadi akibat dislokasi atau fraktur vertebra ruas leher, misal pada judicial
hanging (hukum gantung). Terhukum dijatuhkan dari ketinggian dua meter
secara mendadak dengan menghilangkan tempat berpijaknya sehingga
mengakibatkan terpisahnya C2-C3 atau C3-C4 yang juga terjadi akibat
terdorong oleh simpul besar yang terletak pada sisi leher. Medula spinalis
bagian atas akan tertarik atau teregang atau terputar dan menekan medula
oblongata. Kadang-kadang medula oblongata pada batas pons terputar sehingga
menyebabkan hilang kesadaran, tetapi denyut jantung dan pernapasan masih
berlangsung sampai 10-15 menit. Saat otopsi sering ditemukan luka pada faring
dan biasanya tidak ada pembendungan, sedangkan arteri karotis terputar
sebagian atau seluruhnya.
b. Asfiksia
Penyebab kematian yang paling sering, mengakibatkan proses anoksik anoksia
sampai terjadi iskemi karena terjadi sumbatan jalan napas yang disebabkan oleh
jerat tali yang menutupi jalan napas. Selain tekanan pada trakea, sumbatan dapat
disebabkan elevasi dan pergeseran lidah dan atap rongga mulut ke posterior,
yaitu bila jerat terletak di atas laring.
c. Iskemia otak
Terjadi akibat penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri yang mendarahi
otak.
d. Reflek vagal
Perangsangan sinus karotikus menyebabkan henti jantung. Inhibisi vagal sering
diikuti

fibrilasi

ventrikel.

Secara

eksperimental

pada

binatang

yang

dimanipulasi sehingga berada dalam keadaan obstruktif asfiksia, setelah


beberapa menit akan diikuti penurunan detak jantung, kemudian setelah
beberapa saat terjadi takikardi sampai mengakibatkan kematian.
e. Apopleksia (kongesti pada otak)

Tekanan pada pembuluh vena menyebabkan kongesti pembuluh darah otak dan
mengakibatkan kegagalan sirkulasi.
f. Kompresi pada arteri karotis
Karena letaknya sebagian tertutup oleh muskulus sternokleidomastoideus, arteri
karotis mudah terhambat oleh kompresi langsung pada bagian depan leher. Jika
terjadi oklusi bilateral maka dapat segera menimbulkan gangguan kesadaran
karena suplai darah arteri ke otak oleh sirkulasi vertebral tidak mampu
mempertahankan fungsi korteks yang tergantung oleh pasokan dari arteri serebri
anterior dan media yang merupakan cabang arteri karotis. Penekanan arteri
karotis selama kurang lebih 10 detik dapat menyebabkan hilang kesadaran.
Apabila tekanan dilepas, kesadaran akan kembali dalam 10-12 detik. Jika
sirkulasi karotis tersumbat secara total selama lebih dari 4 menit maka dapat
terjadi kerusakan otak irreversibel.
Arteri vertebralis lebih tahan terhadap tekanan langsung, tetapi dapat tersumbat
apabila leher difleksikan atau dirotasikan berlebihan, seperti kasus atypical
hanging. Pada kasus incomplete hanging, vena jugularis juga tertutup, tetapi
kepala tetap mendapat suplai dari arteri vertebralis, sehingga wajah tampak
sembab dan timbul petekie. Demikian pula pada kasus gantung yang
menggunakan jerat lebar dan lunak.
Sedangkan pada kasus dimana terjadi hambatan total arteri leher, muka akan
tampak pucat dan tidak terdapat petekie. Hal ini dapat ditemukan pada kasus
complete hanging, typical hanging, atau bila penggantungan dilakukan dengan
menggunakan jerat yang kecil dan keras. (6,7,10,11)
6. APA SAJA CARA KEMATIAN KORBAN GANTUNG ?
a. Kecelakaan
Kecelakaan (accidental hanging) dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

Mati tergantung sewaktu bermain. Umumnya terjadi pada anak-anak dan


tidak membutuhkan penyidikan yang sulit karena biasanya kasus sangat
jelas, contoh tersangkut pada cabang batang pohon.

Mati tergantung sewaktu bekerja, contoh pekerja bangunan yang jatuh dari
ketinggian dan tersangkut tali.

Auto-erotic hanging merupakan kasus penyimpangan seksual yang


menggunakan cara gantung untuk mendapatkan kepuasan, namun korban
terlambat mengendurkan tali atau sukar melepaskan diri. Diperlukan
pemeriksaan yang teliti dalam mempelajari dan menguraikan tali-tali yang
dipakai yang seringkali diikatkan pada banyak tempat (ikatan pada daerah
genitalia, lengan, tungkai, leher, dan mulut) untuk mendapatkan orgasme.

b. Bunuh diri
Merupakan bentuk yang paling sering dari peristiwa gantung. Sekitar 90 %
dari seluruh kasus. Gantung diri dapat dilakukan dalam posisi complete
hanging, duduk, berlutut, atau berbaring. Alat yang digunakan dapat berupa
tambang, kabel listrik, sabuk, atau bahkan sobekan pakaian seperti yang
sering terjadi di penjara. Pada saat korban menggantung dirinya, jerat
biasanya tersangkut di atas laring dan di bawah dagu.
Pada kematian akibat bunuh diri, korban umumnya menempatkan jerat di
leher dengan berdiri pada bangku atau benda lain untuk pijakan guna meraih
tali penjerat. Jerat akan menjadi kuat ketika korban melangkah keluar dari
pijakan sehingga tubuhnya tergantung bebas dari lantai. Korban juga dapat
melaksanakan niatnya dengan tergantung pada posisi setengah berlutut dari
posisi berdiri, jadi hanya sebagian dari berat tubuh yang memperkuat simpul
penjerat. Cara lain adalah posisi duduk, menyandarkan badan dalam posisi
terlungkup atau terlentang dengan tali yang menahan kepala dari lantai.
c. Homicidal hanging
Pembunuhan dengan metode menggantung korban relatif jarang dijumpai,
cara ini dapat dilakukan bila korbannya anak-anak atau orang dewasa yang
dalam kondisi lemah, baik karena sakit, di bawah pengaruh obat bius,
alkohol, atau korban sedang tidur.

Selain tanda asfiksia, ditemukan juga luka-luka pada tubuh korban seperti
abrasi jari tangan, kulit siku atau pundak sebagai tanda-tanda perlawanan.
Agar pembunuhan dapat berlangsung, pelaku harus lebih kuat dari korban.
Alat penjerat biasanya sudah dipersiapkan oleh pelaku atau bisa juga benda
yang ada di sekitarnya. Dalam melaksanakan niatnya, seringkali leher
korban mendapat trauma dan tidak jarang tampak luka lecet tekan berbentuk
bulan sabit yang berasal dari tangan pelaku; memar hebat dapat ditemukan
pada jaringan otot dan organ di dalam leher atau tulang lidah; kartilago
tiroid dapat patah karena tekanan yang hebat dari alat penjerat. Semakin
jauh jarak antara kaki korban dengan lantai, semakin kuat dugaan
pembunuhan; semakin dekat jarak antara simpul dengan tiang tumpuan
untuk menggantung, semakin kuat dugaan bahwa kasus yang dihadapi
adalah pembunuhan. Pembunuhan dengan laso merupakan contoh yang baik
untuk kasus homicidal hanging, yaitu setelah laso menjerat leher korban,
kemudian ditarik ke atas. (6)
7. APA SAJA YANG DAPAT DITEMUKAN PADA PEMERIKSAAN TKP
KORBAN GANTUNG ?
Pemeriksaan langsung di TKP membantu menentukan cara kematian. Pada kasus
gantung diri, dimana korban ditemukan biasanya tenang, dalam ruang tersembunyi
atau tempat yang sudah digunakan. Posisi korban yang tergantung lebih mendekati
lantai, pakaian korban rapi, sering ditemukan surat peninggalan pada saku yang
berisi alasan mengapa korban melakukan tindakan tersebut. Pada leher, tidak jarang
diberi alas sapu tangan atau kain sebelum alat penjerat dikalungkan ke leher.
Seringkali korban mengikat tangannya ke belakang agar tidak berubah pikiran.
Jumlah lilitan bisa saja hanya satu kali; semakin banyak lilitan, dugaan bunuh diri
semakin besar. Simpul alat penjerat biasanya simpul hidup dan letak simpul dapat
di mana saja. Pemeriksaan di tempat kejadian perkara untuk memperkirakan cara
kematian memberikan gambaran:
a. Kasus pembunuhan

Alat penjerat
a. Simpul biasanya simpul mati

b. Jumlah lilitan hanya satu


c. Arah jeratan mendatar
d. Jarak titik tumpu ke simpul dekat

Korban
a. Jejas jerat berjalan mendatar
b. Terdapat luka perlawanan
c. Terdapat luka-luka lain, sering di daerah leher
d. Jarak dari lantai: jauh

TKP
a. Lokasi bervariasi
b. Kondisi tidak teratur
c. Pakaian tidak teratur, robek

Alat dari si pembunuh

Tidak ditemukan surat peninggalan

Ruangan tidak teratur, terkunci dari luar

b. Kasus bunuh diri

Alat penjerat
a. Simpul biasanya simpul hidup
b. Jumlah lilitan satu atau lebih
c. Arah jeratan serong ke atas
d. Jarak titik tumpu ke simpul: jauh

Korban
a. Jejas jerat berjalan meninggi ke arah simpul
b. Tidak terdapat luka perlawanan
c. Biasanya tidak ada luka, mungkin terdapat luka percobaan lain
d. Jarak dari lantai dekat, dapat tidak tergantung

10

TKP
a. Lokasi tersembunyi
b. Kondisi teratur
c. Pakaian rapi dan baik

Alat berasal dari yang ada di TKP

Ditemukan surat peninggalan

Ruangan terkunci dari dalam (7,10)

8. APA SAJA TEMUAN OTOPSI DARI KORBAN GANTUNG ?


Pemeriksaan Luar
a. Didapatkan tanda penjeratan pada leher, penjeratan ini dipengaruhi oleh :

Alat penjerat
Jika alat penjerat berbentuk keras dan berluas penampang kecil maka bekas
jeratan dalam dan menonjol, sebaliknya jika alat penjerat lembut dan berluas
penampang besar maka bekas jeratan kurang menonjol dan tidak dalam.

Lama penggantungan
Jika penggantungan terjadi semakin lama maka bekas jeratan akan semakin
tampak menonjol, semakin dalam, semakin kering, dan kasar pada perabaan
(parchmentised).

Tinggi penggantungan
Bekas jeratan tampak lebih dalam dan menonjol pada total hanging. Pada
kasus partial hanging, bekas jeratan tampak kurang menonjol atau hanya
menonjol pada satu sisi saja.

Ketatnya jeratan
Dengan bertambah ketatnya jeratan maka bekas jeratan akan tampak lebih
menonjol.

Tergesernya material jeratan

11

Jika jeratan semula berada di tempat yang lebih rendah, tetapi akibat
penggantungan badan bergeser ke bawah yang berakibat jeratan akan bergeser
ke posisi yang lebih tinggi. Hal ini akan menyebabkan terhalang atau tidak
terbentuknya bekas jeratan yang menonjol pada posisi jeratan semula, juga
berakibat terbentuknya luka lecet akibat perpindahan jerat tersebut. Bekas
jeratan yang dalam akan tampak pada posisi jeratan yang terakhir.

Jika jeratan dilakukan dengan beberapa putaran maka akan tampak bekas
jeratan yang multiple dan paralel terhadap satu sama lain.

b.

Ukuran leher memanjang


Hal ini dikarenakan lamanya korban tergantung. Jika korban segera
diturunkan, maka tanda ini tidak akan begitu jelas dijumpai.

c.

Arah jatuhnya leher


Biasanya akan difleksikan ke arah berlawanan dari posisi simpul. Posisi atau
arah jatuhnya leher akan dipertahankan sampai dimulainya fase pembusukan.

d.

Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian berlawanan dari tempat simpul, lidah
terjulur dan kadang tergigit. Temuan air liur ini dianggap sangat penting untuk
mendukung telah terjadinya kematian hanging antemortem karena salivasi
yang berlebih terjadi akibat reaksi antemortem (iritasi terhadap sekitar
kelenjar submandibular yang terjadi pada penekanan dan pergesekan dengan
alat penjerat).

e.

Perdarahan konjungtiva.

f.

Lebam mayat pada tungkai dan posisi tangan dalam keadaan tergenggam.
Tanda ini juga tidak jelas jika korban tidak segera diturunkan.

g.

Keluarnya urin dan faeces.

h.

Tanda-tanda asfiksia dapat ditemukan pada kuku; bibir dapat menunjukkan


tanda-tanda sianosis. (9)

Pemeriksaan Dalam
a.

Jaringan yang berada di bawah jeratan berwarna merah kecoklatan, berkilap dan
perabaan seperti perkamen karena kekurangan darah, terutama jika mayat
tergantung cukup lama.

12

b.

Platisma atau otot lain di sekitarnya mungkin memar atau ruptur. Kerusakan
otot lebih banyak terjadi pada kasus penggantungan yang disertai dengan
tindakan kekerasan.

c.

Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi atau
ruptur. Resapan darah hanya terjadi di dalam dinding pembuluh darah.

d.

Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur biasa terdapat pada penggantungan
dimana korban dijatuhkan dengan tali penggantung yang panjang sehingga
tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang vertebra. Adanya efusi darah
di sekitar fraktur menunjukkan penggantungan antemortem.

e.

Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi .

f.

Fraktur dua buah tulang vertebra servikal bagian atas. Fraktur ini sering terjadi
pada korban hukuman gantung. (11)

9. APAKAH PERBEDAAN GANTUNG DAN JERAT ?


Perbedaan penggantungan dengan penjeratan : (12)
NO
1.

KATEGORI

GANTUNG

JERAT

Miring,

Melintang,

lingkaran tidak utuh,

lingkaran utuh, letak di

Pinggiran jejas
Memar otot leher
Tulang hyoid
Arteri karotis

letak di atas kartilago tiroid


Batas tegas
Sedikit
Sering patah
Rusak, bila dijatuhkan dari

bawah/ di kartilago tiroid


Batas tidak tegas, memar
Banyak
Jarang patah
Sering rusak

6.
7.
8.

Kartilago tiroid
Perdarahan
Wajah

ketinggian
Jarang patah
Hidung, mulut, telinga
Pucat, jarang ada bintik

Sering patah
Sering
Kongesti, ada bintik

9.
10.
11.
12.

Tanda asfiksia
Air liur
Paru-paru
Inkontinensia urin dan

perdarahan
Tidak jelas
Menetes dari mulut
Sering ada bula emfisema
Jarang

perdarahan
Jelas
Tidak ada
Jarang
Sering

13.
14.

faeces
Cairan sperma
Jaringan bawah jejas

Sering ada di glans penis


Kecoklatan, keras,

Jarang
Lunak, kemerahan

2.
3.
4.
5.

Letak jejas

mengkilat

13

10.

SEBUTKAN

PERBEDAAN

GANTUNG

ANTEMORTEM

DAN

POSTMORTEM !
Perbedaan Gantung Antemortem dan Postmortem : (1,12)
NO

ANTE MORTEM

POST MORTEM

1.

Jejas

KATEGORI

Miring, lingkaran terputus

Agak sirkuler, lingkaran

2.
3.

Simpul tali
Wajah

Tunggal, di samping
Bengkak

utuh
Lebih dari 1, di depan
Tidak ada, kecuali cekik

4.

Mata

Kongesti

dan sufokasi
Tidak ada, kecuali cekik

5.

Lidah

Terjulur/

6.
7.
8.
9.

Sianosis
Ekimosis di sisi jerat
Liur
Penis

sama sekali
Jelas
Jelas
Menetes, arah vertikal
Ereksi
dengan
keluar

Tergantung sebab
Tidak jelas
Tidak ada
Tidak ada

10.

Faeces

cairan sperma
Sering keluar

Tidak ada

tidak

dan sufokasi
terjulur Tidak, kecuali cekik

DAFTAR PUSTAKA
1. Dahlan S. Ilmu kedokteran forensik: pedoman bagi dokter dan penegak hukum.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro; 2005. hal.107-23
2.

Anonim : Bunuh Diri Di Indonesia Cukup Tinggi, 41% Gantung Diri [cited 2007
oktober 08]
http://www.bkkbn.go.id/article_detail.php?aid=887

3. Anonim: Bunuh diri sebagai Fenomena [cited 2008 Feb 10]


http://kesehatan.blogspot.com/2008_04_03_archive.html
4. Anonim: Anonim: Kasus Bunuh Diri di Gunung Kidul 95 Persen dengan Cara
Gantung Diri [cited 2005 Feb 13]
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/jawamadura/2005/02/13/brk,2005021309,id.html
5. Anonim : Keluarga Tani Bunuh Diri [cited 2008 Feb 10]
http://www.solusihukum.com/kasus2.php?id=26

14

6. Munim I. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Jakarta: Bina Aksara; 1997


7. Budiyanto A, dkk. Ilmu kedokteran forensik. Edisi kedua. Jakarta: UI Press; 1997.
hal. 55-70
8. Anonim.
Kematian
akibat
asfiksia.
http://www.dundee.ac.uk/forensicmedicine/

[cited

2008

Feb

10]

9. Anonim, Asfiksia Forensik [cited 2008 Mei 10]


www.kabarindonesia.com
10. Di Maio V, et al. Forensic pathology. USA: CRC Press; 2001
11. Kokteith S, et al. Forensic medicine. London: Edward Arnold Ltd; 1979
12. Anonim. Kumpulan bahan Kuliah Forensik. Fakultas Kedokteran UKI

15