Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Otitis Media Supuratif Kronik atau yang biasa disingkat OMSK merupakan infeksi
kronik pada telinga tengah dengan adanya perforasi membran timpani dan sekret yang keluar
dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental,
bening atau berupa nanah. OMSK di dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan
istilah congek, teleran atau telinga berair.
OMSK mempunyai potensi untuk menjadi serius karena komplikasinya yang dapat
mengancam kesehatan dan dapat menyebabkan kematian. Biasanya komplikasi didapatkan
pada pasien OMSK tipe bahaya, namun demikian OMSK tipe aman pun dapat menyebabkan
suatu komplikasi apabila terinfeksi kuman yang virulen. Komplikasi ke intrakranial
merupakan penyebab utama kematian pada OMSK di negara sedang berkembang, yang
sebagian besar kasus terjadi karena penderita mengabaikan keluhan telinga berair.
Berdasarkan data WHO pada tahun 2004, meningitis

atau radang selaput otak adalah

komplikasi intrakranial OMSK yang paling sering ditemukan di seluruh dunia, biasanya
mempunyai gejala demam, sakit kepala serta adanya tanda-tanda perangsangan meningen
seperti kejang. Kematian terjadi pada 18,6 % kasus OMSK dengan komplikasi intrakranial.
Dari data-data diatas , penting sekali untuk mendiagnosa penyakit omsk sejak awal
,sehingga penatalaksanaan yang tepat bisa segera dilakukan,agar tidak terjadi komplikasi
yang serius.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Anatomi Telinga
Telinga luar atau pinna (aurikula=daun telinga) merupakan gabungan dari rawan
yang diliputin kulit. Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang
disebelah medial, seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang rawan ini.
Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga
sementara prosesus mastoideus terletak di belakang nya.1
Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk kerucut
dengan puncaknya, umbo, mengarah kemedial. Membrane timpani umumnya bulat. Penting
untuk disadarin bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung
korpus maleus dan inkus, meluas melampaui batas atas membrane timpani. ,membrane
timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis dibagian luar, lapisan fibrosa dibagian tengah
dimana tangkai maleus dilekatkan dan mukosa bagian dalam. Lapisan fibrosa tidak terdapat
diatas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrane timpani yang disebut
membrane sharpnell menjadi lemas (flaksid) . 1
Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam
sisi. Dinding superior telinga tengah berbatasan dengan lantai fosa kranii media. Pada bagian
atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di bawahnya adalah saraf
fasialis. Dasar telinga tengah adalah bulbus jugularis yang di sebelah superolateral menjadi
sinus sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Batas depan terdapat tuba
eustachius, batas luar nya adalah membrane timpani. Tuba estachius menghubungkan rongga
tengah dengan nasofaring. Bagian lateral tuba eustachius adalah tulang sementara dupertiga
bagian medial bersifat kartilaginosa. Tuba eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan
tekanan udara pada kedua sisi membrane timpani. 1
Bentuk telinga dalam sedemikian kompleks nya sehingga disebut sebagai labirin.
Derivate vesikel otika membetuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membrane yang terisis
endolimfa, satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah
natrium. Labirin membrane dikelilingi oleh cairan perilimfe (tinggi natrium rendah kalium)
yang terdapat dalam kapsula otika bertulang. Labirin tulang dan membrane memiliki bagian
vestibular dan bagian koklea. Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua
setengah lingkaran dan vestibular yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau
2

puncak koklea disebut helikotrema menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala
vestibuli. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani
sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantarnya. Skala vestibuli dan skala
timpani berisi perilimfa sedangkan skala media berisi endolimfe. 1
Fisiologis pendengaran
Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energy bunyi oleh daun telinga
dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang koklea. Getaran tersebut
menggetarkan membrane timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membrane timpani dan tingkat lonjong . energy getar yang telah
diamplifikasikan ini akan diteruskan di stapes yang menggerakan tingkat lonjong sehingga
perilimfa pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrane reissner yang
mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membrane basilaris
dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan
terjadinya defleksi sterosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan
ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel
rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang menimbulkan
potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nekleus auditorius sampai ke korteks
pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.2,3
Definis
Otitis media supuratif kronik (OMSK) adalah radang kronik telinga tengah dengan
perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2
bulan, baik terus menerus atau hilang timbul.4
Etiologi
Faktor predisposisi kronisitas otitis media diduga karena disfungsi tuba auditoria
kronik, infeksi fokal seperti sinusitis kronik, adenoiditis kronik dan tonsilitis kronik yang
menyebabkan infeksi kronik atau berulang saluran napas atas dan selanjutnya mengakibatkan
udem serta obstruksi tuba auditoria. Beberapa kelainan seperti hipertrofi adenoid, celah
palatum mengganggu fungsi tuba auditoria. Gangguan kronik fungsi tuba auditoria
menyebabkan proses infeksi di telinga tengah menjadi kronik, perforasi membran timpani
yang menetap menyebabkan mukosa telinga tengah selalu berhubungan dengan udara luar.
3

Bakteri yang berasal dari kanalis auditorius eksterna atau dari luar lebih leluasa masuk ke
dalam telinga tengah menyebabkan infeksi kronik mukosa telinga tengah. Pseudomonas
aeruginusa dan Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang tersering diisolasi pada
OMSKB, sebagian besar telah resisten terhadap antibiotika yang lazim digunakan.
Ketidaktepatan atau terapi yang tidak adekuat menyebabkan kronisitas infeksi. Faktor
konstitusi, alergi merupakan salah satu faktor konstitusi yang dapat menyebabkan kronisitas. 5
Klasifikasi
Otitis media supuratif akut kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforata
(OMP) atau dalam sebutan sehari-hari congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis
ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi memberan timpani dan sekret yang
keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau
kental, bening ataupun bernanah. Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani
menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses
infeksi kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut. Beberapa faktor yang
menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi,
daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau hygiene buruk.2
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan tipe/jenis OMSK.
Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal atau atik. Oleh
karena itu disebutkan perforasi sentral, marginal atau atik. Pada perforasi sentral, perforasi
terdapat di pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membrane timpani.
Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan annulus atau sulkus
timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars flaksida. 2
OMSK dapat dibagi atas 2 jenis, yaitu OMSK tipe aman (tipe mukosa = tipe benigna)
dan OMSK tipe bahaya (tipe tulang = tipe maligna). Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar
dikenal juga OMSK aktif dan OMSK tenang. OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang
keluar dari kavum timpani secara aktif sedangkan OMSK tenang ialah yang keadaan kavum
timpaninya terlihat basah atau kering. Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas
pada mukosa saja dan biasa nya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di sentral. Umunya
OMSK tipe aman jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe aman
tidak terdapat kolesteatoma. Yang di maksud dengan OMSK tipe maligna ialah OMSK yang
disertai dengan kolesteatoma. OMSK ini dikenal juga dengan OMSK tipe bahaya atau
OMSK tipe tulang. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang4

kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar
komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya. 2
Mengingat OMSk tipe bahaya seringkali menimbulkan komplikasi yang berbahaya,
maka perlu ditegaskan diagnosis dini. Walapun diagnosis pasti baru dapat ditegakkan di
kamar operasi, namun beberapa tanda klinis dapat menjadi pedoman akan adanya OMSK tipe
bahaya, yaitu perforasi pada marginal atau atik. Tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari
OMSK tipe bahaya, sedangakan pada kasus yang sudah lanjut dapat terlihat abses atau fistel
retroaurikular (belakang telinga), polip atau jaringan granulasi di liang telinga luar yang
berasal dari dalam telinga tengah, terlihat kolesteatoma pada telinga tengah, sekret berbentuk
nanah dan berbau khas atau terlihat bayangan kolesteatoma pada rontgen mastoid. 2
Manifestasi klinik
1.

Telinga berair (otorrhoe)


Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti
a i r d a n e n c e r ) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus
dihasilkan

oleh

aktivitas

kelenjar s e k r e t o r i k

telinga

tengah

dan

m a s t o i d . P a d a O M S K t i p e j i n a k , c a i r a n y a n g k e l u a r mukopus yang
tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga
tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya secret
biasanya hilang-timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan
infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi
atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret
telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi
kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat kepingkeping kecil, berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur
mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya
lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan
adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya
kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa
nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.1

2.

Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah
yang sakit ataupun k o l e s t e a t o m , d a p a t m e n g h a m b a t b u n y i d e n g a n
e f e k t i f k e f e n e s t r a o v a l i s . B i l a t i d a k dijumpai kolesteatom, tuli
konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran
masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan
penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan
letak

perforasi

membran timpani

serta

keutuhan

dan

mobilitas

sistem

pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya


didapat

tuli

konduktif

berat

karena

putusnya

rantai

tulang

p e n d e n g a r a n , t e t a p i s e r i n g k a l i j u g a kolesteatom bertindak sebagai


penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang

didapat harus

diinterpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi


perlahan-lahan dengan berulangnya i n f e k s i k a r e n a p e n e t r a s i t o k s i n
m e l a l u i j e n d e l a b u l a t ( f o r a m e n r o t u n d u m ) a t a u f i s t e l labirin tanpa
terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan
3.

terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea. 1
Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada
merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena
terbendungnya drainase pus. N y e r i

dapat

komplikasi

pengaliran

akibat

hambatan

berarti

adanya

sekret,

ancaman
terpaparnya

durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan


absesotak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis
eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti
4.

Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. 1


Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan
vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat
erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya
akibat perubahan tekanan udarayang mendadak atau pada panderita yang
sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar
membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang
6

oleh

perbedaan

suhu. Penyebaran

infeksi

ke

dalam

labirin

juga

akan

meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi


serebelum.

Fistula

merupakan

temuan

yang

serius,

karena

infeksi

kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam
sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi
meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat
vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada
membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. 1
Diagnosis
Diagnosis OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT terutama
pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan pemeriksaan sederhana untuk
mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk mengetahu jenis dan derajat gangguan
pendengaran dapat di lakukan pemeriksaan audiometri nada murni, audiometric tutur (speech
audiometry) dan pemeriksaan BERA (brainstem evoked response audiometry) bagi
pasien/anak yang tidak kooperatif dengan pemeriksaan audiometric nada murni. Pemeriksaan
penunjang lain berupa foto rontgen mastoid serta kultur dan uji resistensi kuman dari sekret
telinga.2
Penatalaksanaan OMSK
Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang.
Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini antara lain
disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan, yaitu adanya perforasi membrane timpani yang
permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar, terdapat sumber infeksi
di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal, sudah terbentuk jaringan patologik yang
ireversibel dalam rongga mastoid dan gizi serta higiena yang kurang. Prinsip terapi OMSK
tipe aman ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus
menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa H 2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah
sekret berkurang, maka terapi di lanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang
mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes
yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotic yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu
penulis menganjurkan agar obat tetes telinga jangan diberikan secara terus menerus lebih dari
1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotik dari
golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadapat penisilin), sebelum hasil tes
7

resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigain karena penyebabnya telah resisten terhadapt
ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavukunat. Bila sekret telah kering tetapi perforasi
masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan, maka ideal nya dilakukan miringoplasti atau
timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen,
memperbaiki membrane timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau
kerusakan pendengaran yang lebih bera, serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat
sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada atau terjadinya infeksi berulang, maka
sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu melakukan pembedahan
misalnya adenoidektomi, tonsilektomi. Prinsip terapi OMSk tipe bahaya ialah pembedahan
yaitu mastoidektomi. Jadi, bila terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah
dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif
dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan
pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal retroaurikular, maka insisi abses sebaiknya
dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi. 2
Jenis pembedahan pada OMSK
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada
OMSK dengan mastioditis kronis , baik tipe aman atau bahaya antara lain mastoidektomi
sederhana (simple mastoidectomy), mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal dan
modikfikas, miringoplasti, timpanoplasti pendekatan ganda timpanoplasti (combined
approach tympanoplasty). 2
Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau
kolesteatom, sarana yang tersedia serta pengalaman operator. Sesuai dengan luasnya infeksi
atau luas kerusakan yang sudah terjadi, kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis
operasi itu atau modifikasinya. 2
Mastoidektomi sederhana
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan pengobatan konservatif
tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan pembersihan ruang mastoid dari
jaringan patologik. Tujuaannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. Pada
operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. 2

Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK bahaya dengan infeksi atau kolesteatom yang
sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid dan kavum timpani dibersihkan dari semua
jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan rongga
mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan
operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke
intracranial. Fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Kerugian operasi ini ialah pasien tidak
diperbolehkan berenang seumur hidupnya. Pasien harus datang dengan teratur kontrol,
supaya tidak terjadi infeksi kembali. Pendengaran berkurang sekali, sehingga dapat
menghambat pendidikan atau karier pasien. Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang
tandur (graff) pada rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar sehingga rongga
operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi yaitu meatus liang telinga luar
menjadi lebar. 2
Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi bony)
Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah atik tetapi belum
merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang
telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid, dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. 2
Miringoplasti
Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan, dikenal juga dengan
nama timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya dilakukan pada membrane timpani. Tujuan
operasi ialah untuk mencegah berulang nya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman
dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang sudah
tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membrane timpani. 2
Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan yang lebih berat atau
OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan
operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. Pada operasi
ini selain rekonstruksi membrane timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang
pendnegaran yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II. III, IV, dan V.
9

sebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum timpani dengan
atau tanpa mastoidektomi untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang pula operasi
ini terpaksa dilakukan dua tahap dengan jarak 6 sampai 12 bulan. 2
Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (Combined Approach Tympanoplasty)
Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus
OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan
operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan
tehnik mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang telinga).
Membersihkan kolesteatoma dan jaringan granulasi di kavum timpani, dikerjakan melalui
dua jalan (combined approach) yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan
melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe bahaya belum
disepakati oleh para ahli oleh karena sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali. 2
Komplikasi
Otitit media supuratif, baik yang akut maupun kronis mempunyai potensi untuk
menjadi serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan dan menyebabkan
kematian. Adams dkk(1989) mengemukakan klasifikasi komplikasi OMSK sebagai berikut: 2
Komplikasi di

Komplikasi di

Komplikasi

Komplikasi ke

telinga tengah

telinga dalam

ekstradural

susunan saraf pusat

1. Perforasi
membran
timpani
persisten
2. Erosi tulang

1. Fistula labirin
2. Labirinitis
supuratif
3. Tuli saraf
sensorineural

1. Abses
ekstradural
2. Trombosis
sinus lateralis
3. Petrositis

1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus
otitis

pendengaran
3. Paralisis
nervus
fasialis

BAB III
KESIMPULAN
10

Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah r a d a n g k r o n i s t e l i n g a t e n g a h


d e n g a n p e r f o r a s i m e m b r a n t i m p a n i d a n riwayat keluarnya sekret dari telinga
(otorea) lebih dari dua bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Gejala otitis media
supuratif kronis antara lain otorrhoe yang bersifat purulen atau mokoid, terjadi gangguan
pendengaran, otalgia, tinitus, rasa penuh di telinga dan vertigo. OMSK merupakan penyakit
yang dapat menyebabkan komplikasi yang berat sehingga pengobatan dini dan tepat dapat
mengurangi resiko komplikasi yang berat.

DAFTAR PUSTAKA

11

1. Adams GL,Boeis LR, Higler PA. Buku Ajar Penyakit THT BOEIS Edisi keenam:
Anatomi dan Fisiologi Telinga. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1997. p;
30-35, 107-108.
2. Efiaty Arsyad, Nurbiati, Jenny, Ratna Restuti. 2007. Otitis Media Supuratif Kronis.
Dalam: Kelainan Telinga Tengah, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Dan Leher. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI; 13,16, 6974,79.
3. Ganong W. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi ke-22. Jakarta: EGC; 2008.h.179
85.
4. Helmi. Panduan penatalaksanaan baku otitis media supuratif kronik di Indonesia.
Jakarta 2002: 4-13.
5. Utami TF, Sudarman K, Rianto BU. Christanto A. Rhinitis alergi sebagai faktor resiko
otitis media supuratif kronis. FK UGM. Penelitian. 2010.

12