Anda di halaman 1dari 18

Pendahuluan

Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal. Definisi lain menyebutkan, sinusitis
adalah inflamasi dan pembengkakan membrana mukosa sinus disertai nyeri lokal. Sesuai
anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maxilla, sinusitis ethmoid, sinusitis
frontal, dan sinusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan
bila mengenai semua sinus disebut paranasal sinusitis.1,2
Yang paling sering ditemukan adalah sinusitis maxilla dan sinusitis ethmoid, sedangkan
sinusitis frontal dan sinusitis sphenoid lebih jarang ditemukan. Pada anak hanya sinus maxilla
dan sinus ethmoid yang berkembang sedangkan sinus frontal dan sinus sphenoid mulai
berkembang pada anak berusia kurang lebih 8 tahun.2
Sinus maxilla merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, oleh karena (1) merupakan
sinus paranasal terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sehingga sekret dari sinus
maxilla hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maxilla adalah dasar akar gigi
(processus alveolaris), sehingga infeksi pada gigi dapat menyebabkan sinusitis maxilla, (4)
ostium sinus maxilla terletak di meatus medius, di sekitar hiatus semilunaris yang sempit,
sehingga mudah tersumbat.2
Klasifikasi sinusitis dapat dikategorikan sebagai akut iaitu gejala berlangsung kurang dari
4 minggu dimana dengan pengobatan yang tepat dan cepat pasien bisa sembuh sepenuhnya.
Sinusitis subakut merupakan perkembangan gejala selama 4 hingga 12 minggu dan dinyatakan
sinusitis kronis bila gejala berlangsung melebihi 3 bulan.3
Terdapat beberapa gejala dan tanda yang bisa membedakan antara sinusitis akut, sinusitis
subakut dan sinusitis kronis. Seperti radang-radang akut timbul sebagai gejala sinusitis akut,
hilangnya tanda radang akut dan perubahan histologik mukosa sinus masih reversible adalah
tanda bagi sinusitis subkutan dan dikatakan sinusitis kronis ditandai dengan perubahan histologik
mukosa irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan granulasi atau polipoid.2

Anatomi Sinus Paranasalis


Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena
bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari
yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri
1

Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga
di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung. Semua sinus
dilapisi oleh epitel saluran pernafasan bersilia yang mengalami modifikasi dan mampu
menghasilkan mukus serta sekret yang disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada orang sehat,
sinus terutamanya berisi udara.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan sempit,
dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang terdapat di
belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid anterior dengan
ostiumnya dan ostium sinus maksila.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontal dan sinus sfenoid.
Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal berkembang
dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih delapan tahun. Pneumatisasi
sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga
hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun.1,2
Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Sinus maksila disebut juga antrum
Highmore. Saat lahir, sinus maksila bervolume 6-8 ml. Sinus ini kemudian berkembang dengan
cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus maksila
berbentuk piramid. Dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksila yang disebut fossa
canina, dinding posteriornya adalah permukaan infratemporal maksila, dinding medialnya adalah
dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita, dan dinding inferiornya
adalah prosesus alveolaris dan palatum.
Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara ke
hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Menurut Soetjipto dan Mangunkusomo (2007)
dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah

Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar (P1
dan P2), molar (M1 dan M2), dan kadang-kadang juga gigi taring dan gigi M3, bahkan

akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga infeksi gigi rahang atas

mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.


Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.
Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase hanya
tergantung dari gerak silia, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum yang
sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat
radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan
selanjutnya menyebabkan sinusitis.1,2

Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke-empat fetus, berasal dari
sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai
berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada lainya dan
dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya
mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih lima persen sinus frontalnya tidak berkembang.
Ukuran sinus frontal adalah mempunyai tinggi 2.8 cm , lebarnya 2.4 cm dan dalamnya 2 cm.
Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya gambaran
septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi
sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase
melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum
etmoid1,2
Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling penting karena dapat merupakan fokus
infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid dengan
dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2.4 cm dan
lebarnya 0.5 cm di bagian anterior dan 1.5 cm di bagian posterior.
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media dan
3

dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid
dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara ke meatus media dan sinus etmoid posterior
bermuara ke meatus superior. Sel-sel etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya
di depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral
(lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan sedikit
jumlahnya dan terletak di posterior dari lamina basalis.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal,
yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah
etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya
ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan
sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa. Dinding
lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga
orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.1,2
Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid dibagi
dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya, dalamnya
2.3 cm dan lebarnya 1.7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7.5 ml. Saat sinus berkembang,
pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan
rongga sinus.
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa superior serebri media dan kelenjar hipofisa,
sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan
arteri karotis interna dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di
daerah pons.1,2

Fungsi Sinus Paranasal


Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara lain : 2
4

a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)


Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk mamanaskan dan mengatur
kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih
1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam untuk
pertukaran udara total dalam sinus.
b. Sebagai penahan suhu (thermal insulators)
Sinus paranasal berfungsi sebagai (buffer) panas, melindungi orbita dan fossa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan
tetapi, bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan pertambahan
berat sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini tidak dianggap bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi udara dan mempengaruhi
kualitas udara.Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif.
e. Sebagai peredam perubahan tekanan suara
Fungsi ini akan berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,
misalnya pada waktu bersin dan beringus.
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untukmembersihkan partikel yang turut
masuk dalam udara.2

Insidensi dan epidemiologi


Setiap 1 dari 7 orang dewasa di Amerika Serikat dideteksi positif sinusitis dengan lebih
5

dari 30 juta manusia didiagnosa sinusitis setiap tahun. Sinusitis lebih sering terjadi dari awal
musim gugur dan musim semi. Insiden terjadinya sinusitis meningkat seiring dengan
meningkatnya kasus asma, alergi, dan penyakit traktus respiratorius lainnya. Perempuan lebih
sering terkena sinusitis dibandingkan laki-laki karena mereka lebih sering kontak dengan anak
kecil. Angka perbandingannya 20% perempuan dibanding 11.5% laki-laki. Sinusitis lebih sering
diderita oleh anak-anak dan dewasa muda akibat rentannya usia ini dengan infeksi Rhinovirus.3

Etiologi
Seperti yang diketahui, terdapat banyak faktor menjadi penyebab sesuatu penyakit timbul,
antaranya faktor internal seperti daya tahan tubuh yang menurun akibat defisiensi gizi yang
menyebabkan tubuh rentan dijangkiti penyakit dan faktor eksternal seperti perubahan musim
yang ekstrim, terpapar lingkungan yang tinggi zat kimiawi, debu, asap tembakau dan lain-lain. 3
Faktor-faktor lokal tertentu juga dapat menjadi predisposisi penyakit sinusitis, berupa deformitas
rangka, alergi, gangguan geligi, benda asing dan neoplasma. Adapun agen etiologinya dapat
berupa virus, bakteri atau jamur.

Virus, sinusitis virus biasanya terjadi selama infeksi saluran napas atas, infeksi virus
yang lazim menyerang hidung dan nasofarin juga. menyerang sinus. Mukosa sinus
paranasalis berjalan kontinyu dengan mukosa hidung dan penyakit virus yang menyerang
hidung perlu dicurigai dapat meluas ke sinus. Antara agen virus tersering menyebabkan
sinusitis antara lain: Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus dan adenovirus.

Bakteri, organisme penyebab tersering sinusitis akut mungkin sama dengan penyebab
otitis media. Yang sering ditemukan antara lain: Streptococcus pneumonia, Haemophilus
influenza, Branhamella cataralis, Streptococcus alfa, Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pyogenes. Penyebab dari sinusitis kronik hampir sama dengan bakteri
penyebab sinusitis akut. Namun karena sinusitis kronik berhubungan dengan drainase
yang kurang adekuat ataupun fungsi mukosiliar yang terganggu, maka agen infeksi yang
terlibat cenderung bersifat opportunistik, dimana proporsi terbesar merupakan bakteri
anaerob (Peptostreptococcus, Corynobacterium, Bacteroides, dan Veillonella).

Jamur, biasanya terjadi pada pasien dengan diabetes, terapi immunosupresif, dan
immunodefisiensi misalnya pada penderita AIDS. Jamur penyebab infeksi biasanya
berasal dari genus Aspergillus dan Zygomycetes.
6

Alergi Rinitis adalah suatu reaksi alergi yang diperantarai oleh imunoglobulin. Reaksi ini
melibatkan suatu antibodi, biasanya IgE, yang mana bagian Fc antibodi melekat pada
suatu sel yang mengandung mediator atau prekursornya (sel mast, basofil, eosinofil,
makrofag). Bagian Fab dari antibodi ini berinteraksi dengan alergen spesifik dan
akibatnya terjadi aktivasi beberapa enzim membran. Hasil pembelahan enzimatik
menyebabkan pelepasan mediator seperti histamin, prostaglandin dan leukotrien.
Mediator ini menyebabkan suatu reaksi tipe segera yang timbul misalnya edema. Selain
itu, juga akan terjadi reaksi lambat yang selanjutnya cenderung terjadi akibat pelepasan
mediator dari sel mast dan demikian pula eosinofil, makrofag dan trombosit.

Kelainan anatomi dan struktur hidung Kelainan anatomi hidung dan sinus dapat
mengganggu fungsi mukosiliar secara lokal. Jika permukaan mukosa yang saling
berhadapan mendekat atau bertemu satu sama lain, maka aktivitas silia akan terhenti.
Deviasi septum, polip, konka bulosa atau kelainan struktur lain di daerah kompleks
osteomeatal dan ostium sinus dapat menghalangi transportasi mukosiliar.

Hormonal Pada penelitian Sobot et al didapati bahwa 61% wanita yang hamil pada
trimester pertama menderita nasal congestion. Namun patogenesisnya masih belum jelas.

Lingkungan Perubahan mukosa dan kerusakan silia dapat terjadi apabila terpapar pada
oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering. Kebiasaan merokok juga
memicu hal yang sama.4,5

Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari
mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung
substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga
menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus
yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang
7

ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang
dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini
akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah
menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika
terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan
semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi,
polipoid atau pembentukan polip dan kista.1,6
Tabel 1. Kerangka Patofisiologi Sinusitis

DIAGNOSIS
Gejala Klinik
Penegakan diagnosis sinusitis secara umum:
1. Kriteria Mayor :
Sekret nasal yang purulen
Drenase faring yang purulen
Purulent Post Nasal Drip
Batuk

Foto rontgen (Waters radiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih 50% dari
antrum
Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus
2. Kriteria Minor :
Edem periorbital
Sakit kepala
Nyeri di wajah
Sakit gigi
Nyeri telinga
Sakit tenggorok
Nafas berbau
Bersin-bersin bertambah sering
Demam
Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri
Ultrasound
Kemungkinan terjadinya sinusitis jika :
Gejala dan tanda : 2 mayor, 1 minor dan 2 kriteria minor
Pemeriksaan penunjang
1. Transiluminasi
Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya. Transiluminasi akan
menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus penuh dengan cairan)
2. Rontgen sinus paranasalis
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa
Penebalan mukosa,
Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)
Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada
foto waters.
Bagaimanapun juga, harus diingat bhwa foto SPN 3 posisi ini memiliki kekurangan
dimana kadang kadang bayangan bibir dapat dikacaukan dengan penebalan mukosa
sinus.Pada sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui
adanya abses gigi.
3. CT Scan
CT Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik akan
adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk mendiagnosis
sinusitis kronis maupun akut. Walaupun demikian, harus diingat bahwa CT Scan
menggunakan dosis radiasi yang sangat besar yang berbahaya bagi mata.
9

4. Sinoscopy
Sinoscopy merupakan satu satunya cara yang memberikan informasi akurat tentang
perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak dan keadaan
dari ostium sinus. Yang menjadi masalah adalah pemeriksaan sinoscopy memberikan
suatu keadaan yang tidak menyenangkan buat pasien.
5. Pemeriksaan mikrobiologi
Biakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan nasofaring biasanya lebih akurat
dibandingkan dengan biakan yang berasal dari hidung bagian anterior. Namun demikian,
pengambilan biakan hidung posterior juga lebih sulit. Biakan bakteri spesifik pada
sinusitis dilakukan dengan mengaspirasi pus dari ingus yang terkena. Seringkali
diberikan suatu antibiotik yang sesuai untuk membasmi mikroorganisme yang lebih
umum untuk penyakit ini.
6. Laboratorium
Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis sinusitis
akut.1,4,7

Klasifikasi Sinusitis
1) Sinusitis akut
Sinusitis akut biasanya dimulai dari infeksi saluran pernafasan atas oleh virus yang
melebihi 10 hari. Organisme yang umum menyebabkan sinusitis akut termasuk
Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis. Diagnosis
dari sinusitis akut dapat ditegakkan ketika infeksi saluran nafas atas oleh virus tidak
sembuh selama 10 hari atau memburuk setelah 5 7 hari.
Penyebab utamanya adalah salesma (common cold) yang merupakan infeksi virus,
terdapat transudasi rongga rongga sinus, mula mula serous yang biasanya sembuh
dalam beberapa hari tanpa pengobatan. Selanjutnya diikuti oleh infeksi bakteri, yang bila
kondisi ini menetap, secret yang terkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk
tumbuhnya dan pultiplikasi bakteri, sehingga secret menjadi purulent.6
Dari anamnesis didapatkan keluhan utama sinusitis akut adalah hidung tersumbat
disertai rasa nyeri atau rasa tekanan pada muka dan ingus purulent, yang sering sekali turun
ke tenggorok (post nasal drip). Dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu.
Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena, merupakan ciri khas sinusitis
10

akut, serta kadang kadang nyeri juga dirasakan di tempat lain (reffered pain). Nyeri pipi,
gigi, dahi dan depan telinga menandakan sinusitis maksilaris. Nyeri di dahi atau seluruh
kepala menandakan sinusitis frontalis. Pada sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di vertex,
oksipital, belakang bola mata, dan daerah mastoid. Gejala lain adalah sakit kepala,
hiposmia, anosmia, halitosis, post nasal drip yang menyebabkan batuk dan sesak pada
anak.
2) Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda tanda radang
akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda. Pada rinoskopi
anterior tampak secret meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior
tampak secret purulent nasofaring. Pada pemeriksaan transluminasi tampak sinus
yang sakit, suram, atau gelap.6
3) Sinusitis Kronik
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek,
umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus
dicari factor penyebab dan factor predisposisinya. Polusi bahan kimia
menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan
tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik, sehingga
mempermudah terjadinya infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut
tidak sempurna.7
Gejala yang timbul diantaranya (1) terdapat skeret pada hidung dan post
nasal drip yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat,
(2) rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan, (3) pendengaran terganggu
karena adanya sumbatan tuba eustachius, (4) nyeri atau sakit kepala, (5) gejala
pada mata klarena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis, (6) gejala di
saluran cerna karena mukopus tertelan sehingga menyebabkan gastroenteritis.
Temuan pemeriksaan fisik tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pemebengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan secret
kental, purulen dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan
polip, tumor, atau komplikasi sinusitis lainnya. Rinoskopi posterior tampak secret
purulent di nasofaring atau turun ke tenggorok.7

11

Sinusitis Dentogen
Merupakan salah satu penyebab penting sinusitis akut. Dasar sinus maksial adalah
processus alveolaris tempat akar gig rahang atas sehingga rongga sinus maksilla Cuma
dipisahkan oleh tulang tipis bahkan kadang-kadang tanpa pembatas. Infeksi gigi rahang atas
seperti infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal mudah menyebar secara
langsung ke sinus atau melalui pembuluh darah dan limfe. Untuk mengobati sinusitis dentogen,
gigi yang terinfeksi harus dicabut atau dirawat dan pemberian antibiotik yang mencakup bakteri
anaerob.1
Sinusitis Jamur
Perlu disangka sinusitis jamur kalau sinusitis unilateral yang sukar disembuhkan dengan
penggunaan antibiotik. Adanya gambaran kerusakan tulang dinding sinus atau bila ada membran
berwarna putih keabu-abuan pada irigasi antrum.
Sinusitis jamur invasif akut, ada invasi jamur ke jaringan dan vaskuler. Sering terjdi pada
pasien diabetes yag tidak terkontrol, pasien dengan imunosupresi seperti leukemia dan
neutropenia, pemakaian steroid yang lama dan terapi imunosupresan. Imunitas yang rendah dan
invasi pembuluh darah menyebabkan penyebaran jamur sangat cepat dan dapat merusak dinding
sinus, jaringan orbita dan sinus kavernous. Di kavum nasi mukosa berwarna biru-kehitaman dan
ada mukosa konka atau septum yang nekrotik. Sering berakhir dengan kematian
Sinusitis jamur invasif kronis biasa terjadi pada pasien dengan gangguan metabolik atau
imunologik. Bersifat kronis dan invasif sampai ke orbita dan kranial tetapi tidak sehebat
fulminan. Gejala seperti sinusitis bakterial tetapi sekret hidungnya kental dengan bercak-bercak
kehitaman dengan mikroskop terlihat koloni jamur.
Sinusitis jamur non invasif (misetoma) merupakan kumpulan jamur yang tidak invasi ke
mukosa dan dektruksi tuang. Gejala klinis berupa sinusitis kronik berupa rinore purulen, post
nasal drip dan napas bau. Pada operasi ditemukan jamur berwarna coklat kehitaman dan kotor
dengan atau tanpa pus.
Terapi sinusitis jamur invasif adalah pembedahan, debridemen, anti jamur sistemik dan
pengobatan penyakit dasar. Obat standar adalah ampoterisin B bisa ditambahkan rifampisin dan
flusitosin agar lebih efektif. Pada misetoma tidak diperlukan anti jamur sistemik.1

12

Diagnosis banding
Fibrosa kistik
Pada gambaran CT Scan, lebih dari 90% pasien fibrosa kistik juga terdapat gambaran
seperti sinusitis kronik yaitu tampak gambaran perselubungan dan displacement dari dinding
lateral cavum nasi pada meatus medius. Tampak pula pembengkakan pada dinding lateral cavum
nasi dengan penumpukan mucus pada sinus maxillaris.4
Polip Nasi
Pada gambaran CT Scan tampak pembesaran/ penebalan dinding nasal lateral, polip
antral-choanal juga dapat memberikan gambaran perselubungan pada sinus maxillaris dengan
lesi yang menonjol ke atas dari antrum maxillaris ke choanae.4

Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi dan
mencegah akut menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di kompleks ostiomeatal (KOM) sehingga drainase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.
Penatalaksanaan Medis
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial untuk
menghlangkan infeksi dan pembengkakan mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus.
Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seeprti amoksilin. Jika diperkirakan kuman
telah resisten atau memproduksi beta laktaamse maka dapat dberikan amoksislin kalvulanat atau
jenis sefalosporin generasi ke 2. Pada sinusitis diberikan antibiotik 10-14 hari walaupun gejala
klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang sesuai gram negatif atau
anaerob.
Selain dekongestan dan antibiotik dapat diberikan analgetik, mukolitik, steroid oral atau
topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl. Antihistamin tiddak rutin diberikan. Irigasi sinus
maksila atau Proetz displacement therapy juga bermanfaat sebagai terapi tambahan.Imunoterapi
dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi berat.1,2,4
Penatalaksanaan Bedah
13

Harus dipertimbangkan penatalaksanaan bedah untuk mempermudah drainase sinus yang


terkena serta mengeluarkan mukosa yang sakit. Hal ini diperlukan (1) bila terancam komplikasi,
(2) untuk menghilangkan nyeri hebat, dan (3) bila pasien tidak berespon terhadapat terapi medis.
a) Pembedahan Radikal
Pembedahan radikal yaitu pengangkatan mukosa yang patologik dan membuat
drainase dari sinus yang terkena. Untuk sinus maxillaris dilakukan operasi Caldwell-luc,
sedangkan untuk sinus ethmoidalis dilakukan ethmoidektomi yang bisa dilakukan dari dalam
hidung (intranasal) atau dari luar (ekstranasal). Drainase sekret pada sinus frontalis dapat
dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dari luar (ekstranasal) seperti dalam operasi
Kilian. Drainase sinus sphenoidalis dilakukan dari dalam hidung (intranasal).2
b) Pembedahan Non-Radikal
Akhir-akhir ini dikembangkan metode operasi sinus paranasal dengan menggunakan
endoskop yang disebut Bedah Sinus Endoskop Fungsional (BSEF). Prinsipnya ialah
membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal yang menjadi sumber sumbatan
dan infeksi, sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali melalui ostium alami.
Dengan demikian mukosa sinus akan kembali normal.2

Komplikasi
Komplikasi sinusitis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila tidak
mendapatkan penanganan yang baik dan adekuat. Letak sinus paranasal yang berdekatan dengan
mata dan kranial sangat berperan pada infeksi sinusitis akut ataupun kronik.2
Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya komplikasi antara lain karena :

terapi yang tidak adekuat,

daya tahan tubuh yang rendah

virulensi kuman dan

penanganan tindakan operatif (yang seharusnya) terlambat dilakukan.2

Komplikasi yang sering ditimbulkan antara lain sebagai berikut:

14

1. Komplikasi ke mata
Secara anatomi perbatasan daerah mata dan sinus sangat tipis : batas medial sinus
ethmoid dan sphenoid, batas superior sinus frontal dan batas inferior sinus maxilla. Sinusitis
merupakan salah satu penyebab utama infeksi orbita. Pada era pre antibiotik hampir 50 % terjadi
komplikasi ke mata, 17 % berlanjut ke meningen dan 20 % terjadi kebutaan.4
Komplikasi ke orbita dapat terjadi pada segala usia, tetapi pada anak-anak lebih sering.
Intervensi tindakan operatif lebih banyak dilakukan pada anak-anak yang lebih besar dan
dewasa. Ethmoiditis sering menimbulkan komplikasi ke orbita, diikuti sinusitis frontal dan
maxilla.2
2. Komplikasi intrakranial
Komplikasi intrakranial dapat terjadi pada infeksi sinus yang akut, ekaserbasi akut
ataupun kronik. Komplikasi ini lebih sering pada laki-laki dewasa diduga ada faktor predileksi
yang berhubungan dengan pertumbuhan tulang frontal dan meluasnya sistem anyaman pembuluh
darah yang terbentuk.4
Beberapa tahap komplikasi intrakranial yang dikenal :

Osteomielitis : penyebaran infeksi melalui anyaman pembuluh darah ke tulang kranium


menyebabkan osteitis yang akan mengakibatkan erosi pada bagian anterior tulang frontal.
Gejala tampak odem yang terbatas pada dahi di bawah kulit dan penimbunan pus di
superiosteum.

Epidural abses terdapat timbunan pus diantara duramater dan ruang kranium yang sering
tampak pada tulang frontal dimana duramater melekat longgar pada tulang dahi. Gejala
sangat ringan, tanpa ada gangguan neurologi, ada nyeri kepala yang makin lama
dirasakan makin berat dan sedikit demam.

Subdural empiema, terjadi karena retrograde tromboplebitis ataupun penyebaran


langsung dari abses epidural. Gejala nyeri kepala hebat, ada tanda-tanda iskemik/infark
kortek seperti hemiparesis, hemiplegi, paralisis n.Facialis, kejang, peningkatan tekanan
15

intrakranial, demam tinggi, lekositosis dan akhirnya kesadaran menurun.

Abses otak. Lokasi di daerah frontal paling sering disebabkan sinusitis frontal dengan
penyebaran retrograde, septik emboli dari anyaman pembuluh darah. Bila abses timbul
perlahan, gejala neurologi tak jelas tampak, bila odem terjadi di sekitar otak, tekanan
intrakranial akan meningkat, gejala-gejala neurologi jelas tampak, ancaman kematian
segera terjadi bila abses ruptur.

Meningitis. Sinusitis frontal jarang menyebabkan meningitis tetapi seringkali karena


infeksi sekunder dari sinus ethmoid dan sphenoid. Gejala-gejala tampak jelas : adanya
demam, sakit kepala, kejang, diikuti kesadaran menurun sampai koma.

Prognosis
Sinusitis akut memiliki prognosis yang sangat baik, dengan perkiraan 70% penderita
sembuh tanpa pengobatan. Sedangkan sinusitis kronik memiliki prognosis yang bervariasi. Jika
penyebabnya adalah kelainan anatomi dan telah diterapi dengan bedah, maka prognosisnya
baik.lebih dari 90% pasien membaik dengan intervensi bedah, namun pasien ini kadang
mengalami kekambuhan.4

Kesimpulan
Sebagian besar infeksi virus penyebab pilek seperti common cold dapat menyebabkan
suatu sumbatan pada hidung, yang akan hilang dalam beberapa hari. Sinus atau sering pula
disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari
tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak.
Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Rasa sakit di bagian dahi, pipi, hidung atau
daerang diantara mata terkadang dibarengi dengan demam, sakit kepala, sakit gigi atau bahan
kepekaan indra penciuman kita merupaan salah satu gejala sinusitis. Terkadang karena gejala
yang kita rasakan tidak spesifik. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau
faktor predisposisi yang tak dapat dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis
ini menjadi penting karena hal diatas. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu
hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan
operasi.
16

Daftar Pustaka
1. Rusdy Ghazali Malueka, Sinus Paranasal (SPN). Sinusitis. Dalam: Radiologi Diagnostik,
Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press Yogyakarta, cetakan ketiga; april 2011, p. 116-118
2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI;
2011.hal.145-154
3. Itzhak

Brook,MD,MSc.

Epidemiology

of

http//emedicine.medscape.com/article/232670-overview#a0156

Acute
diunduh

Sinusitis.
tanggal

09

desember 2015
4. Hilger PA. Penyakit Sinus Paranasalis. Dalam: Adam GL, Boies LR, Higler PA. Buku
Ajar Penyakit THT (BOIES Fundamental of Otolaryngology). Edisi 6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran; 1997.hal.240-59.
5. Leignton S, Robson A, Russell J. Rhinosinusitis. In : Burton M. Hall &Colmans
Diseases of Ear, Nose and Throat.Fifteenth Edition. London:Churchill Livingstone;
17

2000.p.111-7
6. Anonim, Sinusitis, dalam ; Arif et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3, Penerbit
Media Ausculapius FK UI, Jakarta 2001, 102 106
7. Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. In advanced

Studies in Medicine. Vol 3 no.9. PP. 495-505

18