Anda di halaman 1dari 24

KASUS

SINUSITIS
Disusun Oleh :
Komalah Ravendran
11 2014 176

Dokter Pembimbing :
dr. Benhard SpTHT

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT
RUMAH SAKIT FAMILY MEDICAL CENTRE
13 OKTOBER 2014 22 NOVEMBER 2014

Pendahuluan
Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia . Data dari
DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan
ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di
rumah sakit. Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh
Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data
penyakit hidung dari 7 propinsi .Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM JanuariAgustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435
pasien, 69%nya adalah sinusitis.
Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri.
Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang
berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini
terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari.
Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal diatas.
Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi, mukosa polipoid dan atau
terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi1
Anatomi Sinus Paranasal
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit dideskripsi karena
bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari
yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri
Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk
rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.
Semua sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan bersilia yang mengalami modifikasi dan
mampu menghasilkan mukus serta sekret yang disalurkan ke dalam rongga hidung. Pada
orang sehat, sinus terutamanya berisi udara.
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus media, ada muara-muara
saluran dari sinus maksila, sinus frontal, dan sinus etmoid anterior. Daerah ini rumit dan
sempit, dan dinamakan kompleks ostio-meatal (KOM), terdiri dari infundibulum etmoid yang
terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus frontalis, bula etmoid dan sel-sel etmoid
anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus maksila.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung
dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus frontal dan sinus
sfenoid. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir, sedangkan sinus frontal

berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih delapan tahun.
Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara
15-18 tahun.1,2

Gambar 1 Sinus Paranasal2


Sinus Maksila
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Sinus maksila disebut juga antrum
Highmore. Saat lahir, sinus maksila bervolume 6-8 ml. Sinus ini kemudian berkembang
dengan cepat dan akhirnya mencapai ukuran maksimal, yaitu 15 ml saat dewasa. Sinus
maksila berbentuk piramid. Dinding anterior sinus adalah permukaan fasial os maksila yang
disebut fossa canina, dinding posteriornya adalah permukaan infratemporal maksila, dinding
medialnya adalah dinding lateral rongga hidung, dinding superiornya adalah dasar orbita, dan
dinding inferiornya adalah prosesus alveolaris dan palatum.
Ostium sinus maksila berada di sebelah superior dinding medial sinus dan bermuara
ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid. Menurut Soetjipto dan Mangunkusomo
(2007) dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah

Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar
(P1 dan P2), molar (M1 dan M2), dan kadang-kadang juga gigi taring dan gigi M3,
bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus sehingga infeksi gigi

rahang atas mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis.


Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi orbita.

Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase hanya
tergantung dari gerak silia, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum yang
sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan
akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila
dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.1,2

Sinus Frontal
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke-empat fetus, berasal
dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal
mulai berkembang pada usia 8-10 tahun dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia
20 tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar daripada lainya dan
dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya
mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih lima persen sinus frontalnya tidak
berkembang.
Ukuran sinus frontal adalah mempunyai tinggi 2.8 cm , lebarnya 2.4 cm dan dalamnya 2
cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berlekuk-lekuk. Tidak adanya
gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan
adanya infeksi sinus.
Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior,
sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini. Sinus frontal berdrainase
melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang berhubungan dengan infundibulum
etmoid1,2
Sinus Etmoid
Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling penting karena dapat merupakan fokus
infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etmoid seperti piramid
dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2.4
cm dan lebarnya 0.5 cm di bagian anterior dan 1.5 cm di bagian posterior.
Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang
terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media dan
dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi. Berdasarkan letaknya, sinus etmoid
dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara ke meatus media dan sinus etmoid

posterior bermuara ke meatus superior. Sel-sel etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan
banyak, letaknya di depan lempeng yang menghubungkan bagian posterior konka media
dengan dinding lateral (lamina basalis), sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya
lebih besar dan sedikit jumlahnya dan terletak di posterior dari lamina basalis.
Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal,
yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di
daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat
bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat
menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan
sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoidalis berbatasan dengan lamina kribrosa.
Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid
dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus
sfenoid.1,2
Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid
dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cm tingginya,
dalamnya 2.3 cm dan lebarnya 1.7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7.5 ml. Saat sinus
berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat
berdekatan dengan rongga sinus.
Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa superior serebri media dan kelenjar
hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus
kavernosus dan arteri karotis interna dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa
serebri posterior di daerah pons.
Fisiologi Sinus Paranasal
Menurut Drake (1997) dan Soetjipto dan Mangunkusomo (2007) sampai saat ini belum ada
persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Ada yang berpendapat bahwa sinus
paranasal ini tidak mempunyai fungsi apa-apa, karena terbentuknya sebagai akibat
pertumbuhan tulang muka.
Menurut Lund (1997) beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasal antara
lain adalah:
a. Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)

Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur


kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang
lebih 1/1000 volume sinus pada tipa kali bernapas, sehingga dibutuhkan beberapa jam
untuk pertukaran udara total dalam sinus.
b. Sebagai penahan suhu (thermal insulator)
Sinus paranasal berfungsi sebagai penahan (buffer) panas, melindungi orbita dan fosa
serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya sinussinus yang besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.
c. Membantu keseimbangan kepala
Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka, akan
tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan
pertambahan berat sebesar satu persen dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap
tidak bermakna.
d. Membantu resonansi suara
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi
kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, posisi sinus dan ostiumnya tidak
memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonansi yang efektif. Lagi pula tidak ada
korelasi antara resonansi suara dan besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.
e. Sebagai perendam perubahan tekanan udara
Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.
f. Membantu produksi mukus
Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan
dengan mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang
turut masuk dengan udara inspirasi kerana mukus ini keluar dari meatus media,
tempat yang paling strategis.
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia dan
palut lendir di atasnya. Di dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk mengalirkan
lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalur-jalur yang sudah tertentu polanya.
Pada dinding lateral hidung terdapat dua aliran transport mukosiliar dari sinus. Lendir
yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum etmoid
dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba Eustachius. Lendir yang berasal dari
kelompok sinus posterior bergabung dengan resesus sfenoetmoidalis, dialirkan ke
nasofaring di postero-superior muara tuba. Inilah sebabnya pada sinusitis didapati
sekret pasca-nasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada sekret di rongga hidung1,2
Klasifikasi Sinusitis

Konsensus internasional tahun 1995 membagi rinosinusitis hanya akut dengan batas sampai
delapan minggu dan kronik jika lebih dari delapan minggu.
Konsensus tahun 2004 membagi rinosinusitis menjadi akut dengan batas sampai empat
minggu, subakut antara empat minggu sampai tiga bulan dan kronik jika lebih dari tiga bulan
atau berdasarkan jenis atau tipe inflamasinya yaitu infectious atau non-infectious.
Klasifikasi secara klinis untuk sinusitis dibagi atas sinusitis akut, subakut dan kronis.
Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis dibagi kepada sinusitis tipe rinogen dan
sinusitis tipe dentogen. Sinusitis tipe rinogen terjadi disebabkan kelainan atau masalah di
hidung dimana segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan
sinusitis. Sinusitis tipe dentogen pula terjadi disebabkan kelainan gigi serta yang sering
menyebabkan sinusitis adalah infeksi pada gigi geraham atas yaitu gigi pre molar dan
molar.1,3
Predisposisi dan Penyebab
Sinusitis lebih sering disebabkan adanya faktor predisposisi seperti :
1. Gangguan fisik akibat kekurangan gizi, kelelahan, atau penyakit sistemik.
2. Gangguan faal hidung oleh karena rusaknya aktivitas silia oleh asap rokok, polusi
udara, atau karena panas dan kering.
3. Kelainan anatomi yang menyebabkan gangguan saluran seperti :
Atresia atau stenosis koana
Deviasi septum
Hipertroti konka media
Polip yang dapat terjadi pada 30% anak yang menderita fibrosis kistik
Tumor atau neoplasma
Hipertroti adenoid
Udem mukosa karena infeksi atau alergi
Benda asing
4. Berenang dan menyelam pada waktu sedang pilek
5. Trauma yang menyebabkan perdarahan mukosa sinus paranasal
6. Kelainan imunologi didapat seperti imunodefisiensi karena leukemia

dan

imunosupresi oleh obat.


Sinusitis bisa bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis
(berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun).4
Penyebab sinusitis akut:

1. Infeksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian
atas (misalnya pilek).
2. Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat
akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya
akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus
akut.
3. Infeksi jamur
Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut. Aspergillus merupakan jamur
yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistem kekebalan. Pada
orang-orang tertentu, sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur.
4. Peradangan menahun pada saluran hidung.
Penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya pada
penderita rinitis vasomotor.
5. Penyakit tertentu.
Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan
penderita kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik).
Penyebab sinusitis kronis:
1. Asma
2. Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika)
3. Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.
Patofisiologi
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari
mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung
substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernafasan.
Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga
menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga
sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal
yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non
bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang

tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi
bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang
membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan
terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan
perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.4,5

Tabel 1 Kerangka teori patofisologi sinusitis5

DIAGNOSIS

Penegakan diagnosis sinusitis secara umum:


1. Kriteria Mayor :
Sekret nasal yang purulen
Drenase faring yang purulen
Purulent Post Nasal Drip
Batuk
Foto rontgen (Waters radiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih 50%
dari antrum
Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus
2. Kriteria Minor :
Edem periorbital
Sakit kepala
Nyeri di wajah
Sakit gigi
Nyeri telinga
Sakit tenggorok
Nafas berbau
Bersin-bersin bertambah sering
Demam
Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri
Ultrasound
Kemungkinan terjadinya sinusitis jika :
Gejala dan tanda : 2 mayor, 1 minor dan 2 kriteria minor5,6
Pemeriksaan penunjang
1. Transiluminasi
Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya. Transiluminasi akan
menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus penuh dengan cairan)
2. Rontgen sinus paranasalis
Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa
Penebalan mukosa,
Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi)
Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat
pada foto waters.
Bagaimanapun juga, harus diingat bhwa foto SPN 3 posisi ini memiliki kekurangan
dimana kadang kadang bayangan bibir dapat dikacaukan dengan penebalan mukosa
sinus.Pada sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui
adanya abses gigi.
3. CT Scan

CT Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik
akan adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk
mendiagnosis sinusitis kronis maupun akut. Walaupun demikian, harus diingat bahwa
CT Scan menggunakan dosis radiasi yang sangat besar yang berbahaya bagi mata.
4. Sinoscopy
Sinoscopy merupakan satu satunya cara yang memberikan informasi akurat tentang
perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak dan
keadaan dari ostium sinus. Yang menjadi masalah adalah pemeriksaan sinoscopy
memberikan suatu keadaan yang tidak menyenangkan buat pasien.
5. Pemeriksaan mikrobiologi
Biakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan nasofaring biasanya lebih akurat
dibandingkan dengan biakan yang berasal dari hidung bagian anterior. Namun
demikian, pengambilan biakan hidung posterior juga lebih sulit. Biakan bakteri
spesifik pada sinusitis dilakukan dengan mengaspirasi pus dari ingus yang terkena.
Seringkali diberikan suatu antibiotik yang sesuai untuk membasmi mikroorganisme
yang lebih umum untuk penyakit ini.
6. Laboratorium
Tes sedimentasi, leukosit, dan C-reaktif protein dapat membantu diagnosis sinusitis
akut5-7
DIAGNOSIS MENURUT KLASIFIKASI
Sinusitis Akut
A. Gejala Subyektif
Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak
kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari.
Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal
yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post
nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang
terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain
1. Sinusitis Maksilaris
Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh
karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari
dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia,

(3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi
dapat menyebabkan sinusitis maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius di
sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat
Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang
terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke
alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga
Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya
sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan
menusuk. Sekret mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk
iritatif non produktif seringkali ada6
2. Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, seringkali bermanifestasi sebagai
selulitis orbita. Karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea) seringkali
merekah dan karena itu cenderung lebih sering menimbulkan selulitis orbita.
Pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai
penyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dielakkan.
Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang
nyeri di bola mata atau belakangnya, terutama bila mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis,
post nasal drip dan sumbatan hidung
3. Sinusitis Frontalis
Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-sama dengan infeksi sinus etmoidalis anterior.
Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya
pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda
hingga menjelang malam.6
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat
pembengkakan supra orbita.
4. Sinusitis Sfenoidalis

Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola mata
dan di daerah mastoid. Namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis,
sehingga gejalanya sering menjadi satu dengan gejala infeksi sinus lainnya
B. Gejala Obyektif
Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal, maksila dan ethmoid anterior) terkena secara
akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat periostitis. Palpasi
dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti meraba beludru.
Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis
frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul
pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila,
sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius,
sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari
meatus superior. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip, tumor maupun komplikasi
sinusitis. Jika ditemukan maka kita harus melakukan penatalaksanaan yang sesuai.6,7
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip).
Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit dan
provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet hidung pasien
kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat, jika positif
sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung.
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak
lebih suram dibanding sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak
perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara (air fluid level) pada sinus
yang sakit.
Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau meatus
superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di

hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus, streptococcus, staphylococcus dan


haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur.6,7
Sinusitis Subakut
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit
kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda.
Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi
posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus
yang sakit, suram atau gelap.
Sinusitis Kronis
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar
disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan
faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung.
Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik, sehingga
mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis
akut tidak sempurna.6-8
A. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post
nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat.
Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba
eustachius.
Ada nyeri atau sakit kepala.
Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau
bronkhiektasis atau asma bronkhial.
Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.8
B. Gejala Objektif

Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan
pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental, purulen dari meatus
medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau komplikasi sinusitis.
Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.
Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis kronis yang
hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis ini dapat
menyertai poliposis hidung kronis.
Pada pemeriksaan mikrobiologi, terdapat infeksi campuran oleh bermacam-macam mikroba,
seperti

kuman

aerob S.

aureus,

S.

viridans,

H.

influenzae dan

kuman

anaerob

Peptostreptococcus dan fuso bakterium.8


Sinusitis Tipe Dentogen
Etiologi
Penjalanan infeksi gigi seperti infeksi periapikal atau abses apikal gigi dari gigi
kaninus sampai gigi molar tiga atas. Biasanya infeksi lebih sering terjadi pada kasuskasus akar gigi yang hanya terpisah dari sinus oleh tulang yang tipis, walaupun
kadang-kadang ada juga infeksi mengenai sinus yang dipisahkan oleh tulang yang
tebal.
Prosedur ekstraksi gigi. Pencabutan gigi ini dapat menyebabkan terbukanya dasar
sinus sehingga lebih mudah bagi penjalanan infeksi
Penjalaran penyakit periodontal yaitu dijumpai adanya penjalaran infeksi dari
membran periodontal melalui tulang spongiosa ke mukosa sinus
Adanya benda asing dalam sinus berupa fragmen akar gigi dan bahan tambahan akibat
pengisian saluran akar yang berlebihan
Osteomielitis pada maksila yang akut dan kronis
Kista dentogen yang seringkali meluas ke sinus maksila, seperti kista radikuler dan
folikuler9
Gejala
Sinusitis maksilaris dari tipe odontogen harus dapat dibedakan dengan rinogen karena terapi
dan prognosa keduanya sangat berlainan. Pada sinusitis maksilaris tipe odontogenik ini hanya
terjadi pada satu sisi serta pengeluaran pus yang berbau busuk. Di samping itu, adanya
kelainan apikal atau periodontal mempredisposisi kepada sinusitis tipe dentogen. Gejala
sinusitis dentogen menjadi lebih lambat dari sinusitis tipe rinogen

Patofisiologi
Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi bakteri
(anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi dan
sekitarnya rusak (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009). Pulpa terbuka maka kuman akan
masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa sehingga membentuk gangren pulpa. Infeksi
ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan periodontitis dan iritasi akan
berlangsung lama sehingga terbentuk pus. Abses periodontal ini kemudian dapat meluas dan
mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar. Tulang alveolar membentuk dasar
sinus maksila sehingga memicu inflamasi
mukosa sinus. Disfungsi silia, obstruksi ostium sinus serta abnormalitas sekresi mukus
menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis maksila (Drake,
1997).
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan dengan tiga
faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung. Perubahan salah satu
dari faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis.9
Sinusitis Maksilaris Rinogen
Etiologi
Obstruksi dari ostium Sinus (maksilaris atau paranasalis) yang disebabkan oleh : Rinitis Akut
(influenza), Polip, Septum deviasi.

Manifestasi Klinis
Task Force yang dibentuk oleh American Academy of Otolaryngology (AAOA) dan
American Rhinologic Society (ARS) membuat klasifikasi rinosinusitis pada dewasa berdasar
kronologi penyakit.
Rinosinusitis akut (RSA) bila gejala berlangsung sampai dengan 4 minggu, rinosinusitis akut
berulang (rekuren) gejala sama dengan yang akut tetapi akan memburuk pada hari ke 5 atau
kambuh setelah mereda. Rinosinusitis subakut gejala berlangsung lebih dari 4 minggu,

merupakan kelanjutan RSA yang tidak menyembuh tetapi gejala yang tampak lebih ringan.
Rinosinusitis kronik bila gejala telah berlangsung lebih dari 12 minggu. Rinosinusitis kronik
eksaserbasi akut adalah keadaan dimana terjadi serangan/infeksi akut pada infeksi kronik.
Berdasarkan kualitas gejala RSA dapat dibagi : ringan, sedang dan berat. Gejala RSA ringan :
adanya rinore, hidung buntu, batuk-batuk, sakit kepala atau wajah tergantung lokasi sinus
yang terkena. Sakit kepala daerah dahi menunjukkan adanya infeksi daerah sinus frontal, rasa
sakit daerah rahang atas, gigi dan pipi menunjukkan sinusitis maksila, sedangkan etmoiditis
menyebabkan odem di sekitar mata dan nyeri diantara dua mata dengan atau tanpa disentuh,
pada sfenoid lokasi nyeri di puncak kepala dan sering disertai sakit telinga, sakit leher,
demam. Pada keadaan yang berat gejala seperti tersebut di atas tetapi lebih berat (rinore
purulen, hidung buntu, sakit kepala/wajah berat tergantung lokasi, odem periorbita dan
demam tinggi).9,10
Patofisiologi
Rinosinusitis pada umumnya didahului dari infeksi saluran nafas atas akut yang disebabkan
virus, biasanya infeksi bakteri merupakan lanjutan infeksi virus. Infeksi virus tidak
menunjukkan gejala sinusitis, tetapi menyebabkan inflamasi pada mukosa sinus, dan akan
membaik tanpa terapi setelah 2 minggu.
Infeksi tersebut menyebabkan inflamasi mukosa termasuk mukosa komplek osteo meatal
sehingga terjadi obstruksi ostium sinus yang menyebabkan gangguan aerasi dan drainase
sinus. Keadaan ini menyebabkan perubahan tekanan O2 didalamnya, terjadi tekanan negatif,
permeabilitas kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkat dan terjadi transudasi yang
menyebabkan fungsi silia terganggu, retensi sekret yang terjadi merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan kuman.
Virus yang sering menjadi penyebab adalah virus influenza, corona virus dan rinovirus.
Seringkali infeksi virus ini diikuti infeksi kuman terutama kuman kokus (steptokokus
pneumonia, stapilokokus aureus) dan Haemophilus Influenza. Kadang infeksi jamur dapat
menyebabkan rinosinusitis terutama pada orang-orang dengan imunodefisiensi.9,10
Therapi
Therapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa.
1. Analgetik

Rasa sakit yang disebabkan oleh sinusitis dapat hilang dengan pemberian aspirin atau
preparat codein.
Kompres hangat pada wajah juga dapat menbantu untuk mengjilangkan rasa sakit tersebut
2. Antibiotik
Secara umum, dapat diberikan antibiotika yang sesuia selama 10 14 hari walaupun gejala
klinik telah hilang.
Antibiotik yang sering diberikan adalah amoxicillin, ampicillin, erythromicin plus
sulfonamid, sefuroksim dan trimetoprim plus sulfonamid
3. Dekongestan
Pemberian dekongestan seperti pseudoefedrin, dan tetes hidung poten seperti fenilefrin dan
oksimetazolin cukup bermanfaat untuk mengurangi udem sehingga dapat terjadi drainase
sinus.
4. Irigasi antrum
Indikasinya adalah apabila ketiga terapi di atas gagal, dan ostium sinus sedemikian
udematosa sehingga terbentuk abses sejati.
Irigasi antrum maksiilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat melalui fossa
incisivus kedalam antrum maksillaris. Caian ini kemudian akan mendorong pus untuk keluar
melalui ostium normal.
5. Diatermi gelombang pendek
6. Menghilangkan faktor predisposisi
Prinsip utama penanganan sinusitis kronik adalah :
Mengenali faktor penyebab dan mengatasinya
Mengembalikan integritas dari mukosa yang udem
Pengembalian ventilasi sinus dan koreksi mukosa akan mengembalikan fungsi lapisan
mukosilia.
1. Antibiotika

Sinusitis kronis biasanya disebabkan oleh bakteri anaerob. Antibiotik yang biasanya
digunakan adalah metronidazole, co-amoxiclav dan clindamycin11
2. Mukolitik
Sinusitis kronis biasanya menghasilkan sekret yang kental. Terapi dengan mukolitik ini
biasanya diberikan pada penderita rinosinusitis. Sekret yang encer akan lebih mudah
dikeluarkan dibandingkan dengan sekret yang kental.
3. Nasal toilet
Pembersihan hidung dan sinus dari sekret yang kental dapat dilakukan dengan saline sprays
atau irigasi. Cara yang efektif dan murah adalah dengan menggunakan canula dan Higgisons
syringe
4. Kortikosteroid
Kortikosteroid merupakan obat yang paling efektif untuk mengurangi udem pada mukosa
yang berkaitan dengan infeksi. 6,11
5. Pembedahan
Pembedahan dilakukan apabila pengobatan sudah gagal.
Pembedahan radikal dilakukan dengan mengankat mukosa yang patologik dan
membuat drainase dari sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell
Luc, sedangkan untuk sinus ethmoid dilakukan etmoidektomi.
Pembedahan tidak radikal yang akhir akhir ini sedang dikembangkan adalah
menggunakan endoskopi yang disebut Bedah Sinus Endoskopi Fungsional.Prisnsipnya adalah
membuka daerah osteomeatal kompleks yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi
sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali melaui ostium alami.11,12
Teknologi balloon sinuplasty digunakan sebagai perawatan sinusitis, Teknologi ini,
sama dengan Balloon Angioplasty untuk jantung, menggunakan kateter balon sinus yang
kecil dan lentur (fleksibel) untuk membuka sumbatan saluran sinus, memulihkan saluran
pembuangan sinus yang normal dan fungsi-fungsinya. Ketika balon mengembang, ia akan
secara perlahan mengubah struktur dan memperlebar dinding-dinding dari saluran tersebut
tanpa merusak jalur sinus.

Komplikasi
1. Komplikasi orbita
Sinusitis ethmoidalis merupakan penyebab komplikasi pada orbita yang tersering.
Pembengkakan orbita dapat merupakan manifestasi ethmoidalis akut, namun sinus frontalis
dan sinus maksilaris juga terletak di dekat orbita dan dapat menimbulkan infeksi isi orbita.
Terdapat lima tahapan :

Peradangan atau reaksi edema yang ringan. Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus
ethmoidalis didekatnya. Keadaan ini terutama ditemukan pada anak, karena lamina
papirasea yang memisahkan orbita dan sinus ethmoidalis sering kali merekah pada

kelompok umur ini.


Selulitis orbita, edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif menginvasi isi

orbita namun pus belum terbentuk.


Abses subperiosteal, pus terkumpul diantara periorbita dan dinding tulang orbita

menyebabkan proptosis dan kemosis.


Abses orbita, pus telah menembus periosteum dan bercampur dengan isi orbita. Tahap
ini disertai dengan gejala sisa neuritis optik dan kebutaan unilateral yang lebih serius.
Keterbatasan gerak otot ekstraokular mata yang tersering dan kemosis konjungtiva

merupakan tanda khas abses orbita, juga proptosis yang makin bertambah.1,5,7
Trombosis sinus kavernosus, merupakan akibat penyebaran bakteri melalui saluran
vena kedalam sinus kavernosus, kemudian terbentuk suatu tromboflebitis septik.

Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari :


Oftalmoplegia.
Kemosis konjungtiva.
Gangguan penglihatan yang berat.
Tanda-tanda meningitis oleh karena letak sinus kavernosus yang berdekatan dengan

saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan juga dengan otak.
2. Mukokel
Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini
paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan
biasanya tidak berbahaya.
Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui
atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai
pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam

sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan
menekan saraf didekatnya.1,5,7
Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih
akut dan lebih berat.
Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang
terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.
3. Komplikasi Intra Kranial
Meningitis akut, salah satu komplikasi sinusitis yang terberat adalah meningitis akut,
infeksi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang saluran vena atau langsung
dari sinus yang berdekatan, seperti lewat dinding posterior sinus frontalis atau melalui

lamina kribriformis di dekat sistem sel udara ethmoidalis.


Abses dura, adalah kumpulan pus diantara dura dan tabula interna kranium, sering
kali mengikuti sinusitis frontalis. Proses ini timbul lambat, sehingga pasien hanya
mengeluh nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan

tekanan intra kranial


Abses subdural adalah kumpulan pus diantara duramater dan arachnoid atau

permukaan otak. Gejala yang timbul sama dengan abses dura.


Abses otak, setelah sistem vena, dapat mukoperiosteum sinus terinfeksi, maka dapat
terjadi perluasan metastatik secara hematogen ke dalam otak.

Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada
ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.
4. Osteomielitis dan abses subperiosteal
Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada tulang frontalis adalah infeksi
sinus frontalis. Nyeri tekan dahi setempat sangat berat. Gejala sistemik berupa malaise,
demam dan menggigil.1,5,7
Kesimpulan
Sebagian besar infeksi virus penyebab pilek seperti common cold dapat menyebabkan
suatu sumbatan pada hidung, yang akan hilang dalam beberapa hari. Sinus atau sering pula
disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga udara yang terdapat pada bagian padat dari
tulang tenggkorak di sekitar wajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak.
Rongga ini berjumlah empat pasang kiri dan kanan. Rasa sakit di bagian dahi, pipi, hidung

atau daerang diantara mata terkadang dibarengi dengan demam, sakit kepala, sakit gigi atau
bahan kepekaan indra penciuman kita merupaan salah satu gejala sinusitis. Terkadang karena
gejala yang kita rasakan tidak spesifik. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang
inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari. Tatalaksana dan pengenalan dini
terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal diatas. Awalnya diberikan terapi antibiotik
dan jika telah begitu hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka
dibutuhkan tindakan operasi

Daftar Pustaka
1. Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok kepala dan leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3
2. Ghorayeb B. Sinusitis. Dalam Otolaryngology Houston.

Diakses

dari

www.ghorayeb.com/AnatomiSinuses.html diunduh tanggal 12 October 2014


3. Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar
Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002,
115 119.
4. Anonim, Sinusitis, dalam ; Arif et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3,
Penerbit Media Ausculapius FK UI, Jakarta 2001, 102 106
5. Endang Mangunkusumo, Nusjirwan Rifki, Sinusitis, dalam Eviati, nurbaiti, editor,
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Balai
Penerbit FK UI, Jakarta, 2002, 121 125
6. Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. In
advanced Studies in Medicine. Vol 3 no.9. PP. 495-505
7. Peter A. Hilger, MD, Penyakit Sinus Paranasalis, dalam : Haryono, Kuswidayanti,
editor, BOIES, buku ajar Penyakit THT, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta,
1997, 241 258
8. Hamilos DL. Chronic sinusitis. Current revieuws of allergy and clinical immunology.
2000:106,213-27

9. Campbell GD. Pathophysiology of Rhinosinusitis. In: (Adult chronic sinusitis and its
complication). Pulmonary critical care update (PCCU), 2004 :16, lesson 20,7
10. Rhinosinusitis in adult. Ann Intern Med, 2001:134 (6), 498 505
11. Hickner JM, Bartlett JG, Besser RE, Gonzales R, Hoftman JR, Sande MA. Principles
of appropriate antibiotics use
12. PERHATI. Fungsional endoscopic sinus surgery. HTA Indonesia. 2006. Hal 1-6