Anda di halaman 1dari 20

BAB I.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Perkembangan masyarakat dunia yang semakin cepat secara langsung ataupuntidak
langsung mengakibatkan perubahan besar pada berbagai bangsa di dunia.Gelombang besar
kekuatan internasional dan transnasional melalui globalisasitelah mengancam, bahkan mengasai
eksistensi Negara-negara kebangsaan, termasuk Indonesia. Akibat yang langsung terlihat adalah
terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan kebangsaan karena adanya perbenturan
kepentingan antara nasionalisme dan internasionalisme. Permasalahan kebangsaan dan
kenegaraan di Indonesia menjadi semakin kompleks dan rumit manakala ancaman internasional
yang terjadi di satu sisi, pada sisi yang lain muncul masalah internal, yaitu maraknya tunttan
rakyat, yang secara objektif mengalami suatu kehidupan yang jauh dari kesejahteraan dan
keadilan sosial. Paradoks antara kekuasaan global dengan kekuasaan nasional ditambah komplik
internal seperti gambaran di atas, mengakibatkan suatu tarik menarik kepentingan yang secara
langsung mengancam jati diri bangsa. Nilai-nilai baru yang masuk, baik secara sujektif maupun
objektif, serta terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat yang pada akhirnya mengancamprinsip-prinsiphidup berbangsa masyarakat Indonesia. Prinsip dasar yang telah ditemukan oleh
peletak dasar (The founding fathers) Negara Indonesia yang kemudian diabstraksikan menjadi
suatu prinsip dasar filsafat bernegara, itulah pancasila. Dengan pemahaman demikian,
maka pancasila

sebagai

filsafat

hidup

bangsa

ancamandengan munculnya

nilai

nilai

yang terjadiSecara

harus

disadari

ilmiah

baru

dari

bahwa

Indonesia
nuar
suatu

dan

saat

ini

mengalami

pergeseran

masyarakat

suatu

nilai-nilai
bangsa,

senantiasanmemeliki suatu pandangan hidup atau filsaat hidup masing-masing, yang berbeda
dengan bangsa lain didunia. Inilah yang disebut sebagai local genius (kecerdasan/kreatifitas

lokal) dan sekaligus sebagai local wisdom (kearifan local) bangsa. Dengan demikian, bangsa
Indonesia tidak mungkin memiliki kesamaan pandangan hidup dan filsafat hidup dengan bangsa
lain.Ketika para pendiri Negara Indonesia menyiapkan berdirinya Negara Indonesiamerdeka,
mereka sadar sepenuhnya untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental di atas dasar
apakah Negara Indonesia merdeka ini didirikan? jawaban atas pertanyaan mendasar ini akan
selalu menjadi dasar dan tolak ukur utama bangsa ini meng-Indonesia. Dengan kata lain, jati diri
bangsa selalu bertolak ukur pada nilai-nilai pancasila sebagai filsafat bangsa. Pancasila yang
terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistim filsafat. Pemahaman demikian
memerlukan pengkajian lebih lanjut menyangkut aspek ontology, epistemology, dan aksiologi
dari kelima sila pancasila.

TUJUAN
Adapun Tujuan Umum dan Khusus dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.

Agar kami mendapatkan nilai dari tugas Dosen mata kuliah

2.

mengetahui aspek dari isi pencasila sebagai filsafat

MANFAAT
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah:
a.

Guna menambah wawasan para mahasiswa mengenai materi yang dibahas dalam makalah
ini.

b.

Mengembangkan agar kami bisa mengetahui tujuan khusus pancasila

c.

Meningkatkan keterampilan para mahasiswa dalam membuat makalah dengan benar

BAB II.

PERMASALAHAN

RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, terdapat beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian sistem dan unsur unsur sistem ?
2. Bagaimana kesatuan sila sila Pancasila sebagai suatu kesatuan yang sistematis, hirarkis,
dan logis ?
3. Apa saja unsur unsur Pancasila sebagai suatu sistem filsafat ?
4. Bagaimana perbandingan filsafat pancasila dengan sistem filsafat lainnya yang didunia?

BAB III.

PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN SISTEM DAN UNSUR UNSUR SISTEM


Pengertian Sistem
Istilah sistem paling sering digunakan untuk menunjuk pengertian metode atau cara
dan sesuatu himpunan unsur atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain menjadi
satu kesatuan yang utuh. Sebagai suatu himpunan, system pun didefinisikan bermacam-macam
pula.
A.

Berbagai penggunaan istilah sistem


Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani systema yang mempunyai pengertian demikian :

1.

Suatu keseluruhan yang tersusun dari sekian banyak bagian (whole compounded of several

partsShrode dan Voich, 1974 : 115).

2.

Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur (an

organized, functioning relationship among units or components Awad, 1979 : 4)


Jadi, dengan kata lain systema itu mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang
saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan (a whole).
Penggunaan istilah sistem itu diantaranya :
1.

Sistem yang digunakan untuk menunjuk suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang

disatukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling hubungan atau saling ketergantungan yang
teratur dan yang tergabungkan secara alamiah maupun oleh budi daya manusia sehingga menjadi
suatu kesatuan yang bulat dan terpadu ; suatu yang berfungsi, bekerja atau bergerak serentak
bersama-sama mengikuti suatu kontrol tertentu. Contohnya sistem tata surya dan ekosistem.
2.

Sistem yang menyangkut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus

memberikan sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat
vital.
Misalnya sistem syaraf.
3.

Sistem yang menunjuk sehimpunan gagasan, prinsip, doktrin, hukum dan sebagainya yang

membentuk suatu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah pikiran filsafat tertentu,
agama atau bentuk pemerintahan tertentu.
Contohnya : Sistem Teologis Agustinus, sistem pemerintahan demokratis dan sistem masyarakat
islam.
4.

Sistem yang digunakan untuk menunjuk suatu teori atau hipotesis (yang dilawankan

dengan praktek).
Misalnya pendidikan sistematik.
5.

Sistem yang digunakan dalam arti metode atau tata cara.

Misalnya sistem mengetik sepuluh jari, sistem modul dalam pengajaran, pembinaan pengusaha
ekonomi lemah dan sistem anak angkat.
6.

Sistem yang digunakan untuk menunjuk metode pengaturan organisasi atau susunan

sesuatu, atau mode tata cara dan dalam pengertian metode pengelompokkan, pengkodifikasian
dan sebagainya.
7.

Misalnya sistem pengelompokkan bahan pustaka menurut Dewey.


Jika diperhatikan dengan seksama, pemakaian sistem dapat digolongkan secara garis besar

pemakaian sistem itu digolongkan menjadi 2, yaitu :


1.

Sistem sebagai suatu wujud (entitas)


Suatu sistem bisa dianggap suatu himpunan bagian yang saling berkaitan membentuk satu

keseluruhan yang rumit atau komplek. Sistem sebagai suatu wujud, suatu entitas, sebagai suatu
benda, pada dasarnya bersifat deskriptif, bersifat menggambarkan. Pola seperti ini berguna
sekali, yakni dalam hal memberikan kemungkianan untuk menggambarkan dan membedakkan
antara benda yang satu dengan yang berlainan guna kepentingan panganalisaan dan untuk
mempermudah pemecahan masalah.
2.

Sistem sebagai suatu metode


Kata-kata sistem mempunyai makna metodologik, Sistem yang dipergunakan menunjuk tata

cara (prosedur), jadi bersifat preskriptif bukan deskriptif. Sistem dalam arti wujud (entitas)
bersifat deskriptif.
Contoh Deskriptif ( ini program investasi ) dan Preskriptif ( Ini program investasi yang akan
meningkatkan deviden )
Contoh-contoh tersebut masing-masing menunjukan wujud barang ( deskriptif ) sedangkan
( preskriptif ) yaitu suatu metode atau cara untuk mencapai sesuatu.

Konsep sistem sebagai metode ini dikenal dalam pengertian umum sabagai Pendekatan
sistem. Pendekatan tersebut merupakan penerapan metode ilmiah di dalam usaha memecahkan
masalah. Mempergunakan pendekatan sistem menuntu pemahaman bahwa setiap sistem itu
berada dari sistem yang lebih besar atau lebih luas sehingga semua benda dengan sesuatu cara
saling berkaitan.
B.

Definisi-definisi sistem
Kebanyakan definisi sistem lebih menujuk sebagai suatu wujud benda jarang yang mengenai

sistem sebagai metode. Karena itu definisi yang dikutip di sini umumnya menunjuk wujud
benda.
Definisi yang apling sederhana di kemikakan oleh Johnson, Kast dan Rosenzweig sebagai
berikut Suatu sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu
himpunan

atau

perpaduan

hal-hal

atau

bagian-bagian

yang

membentuk

suatu

kebulatan/keseluruhan yang kompleks/utuh .


Definisi yang lebih lengkap menunjukkan adanya tujuan sesuatu sistem. Misalnya menurut
Campbell (1979 : 3), Sistem merupakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang
bersama-sama berfungsi untuk mencapai sesuatu tujuan .
Sedangkan menurut Awad, sistem merupakan sehimpunan komponen yang terorganisasikan
dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai tujuan tertentu .
Definisi tersebut nampak terlampau rumit. Untuk memperejelasnya beberapa contoh
diberikan Murdick dan Ross sebagai berikut :
1.

Sistem Pabrik. Sekelompok orang, mesin dan fasilitas (sehimpunan unsur) melakukan

kegiatan atau bekerja untuk menghasilkan produk tertentu (mencapai tujuan bersama) dengan
mendayagunakan persyaratan produk, jadwal, bahan mentah dan daya listrik yang diubah

menjadi daya mekanik (mengolah data, bahan dan energi) guna menghasilkan hasil karya/produk
dan informasi yang telah direncanakan atau diterapkan pada para langganan ( guna menghasilkan
barang pada saat yang telah ditetapkan).
2.

Sistem Informasi Manajemen. Sekumpulan orang, seperangkat pedoman dan alat

perlengkapan pegolah data (sekumpulan unsur) memilih, menyimpan, mengolah dan memanggil
kembali data (mengolah data dan bahan) untuk mengurangi ketidakpastian di dalam pembuatan
keputusan (mencapai tujuan bersama) dengan menghasilkan informasi bagi pimpinan.
3.

Sistem Organisasi Usaha. Sekumpulan orang (sehimpunan unsur) mencari dan mengolah

sumber-sumber material dan informasi (membuat kegiatan) untuk mencapai berbagai macam
tujuan bersama.
C.

Sistem, unsur-unsur sistem dan tujuan sistem

Secara sederhana sistem itu merupakan sehimpunan unsur-unsur yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan bersama. Pengertian ini dapat digambarkan dengan beberapa contoh sistem,
unsur-unsurnya dan tujuannya seperti yang terlihat dalam bagan berikut (berdasarkan Murdick
dan Ross, 1982 : 2 dan Winardi, 1980 : 2)
SISTEM
Tubuh manusia
Klab rekreasi
Pabrik
Sistem peluru kendali (rudal)
Kepolisian
Komputer
Cakrawala
Filsafat

Unsur-Unsur Sistem Dan Ciri-Ciri Sistem

UNSUR-UNSUR
Organ-organ, susunan urat syaraf, sistem peredaran darah dan seb
Anggota
Orang, mesin, bangunan, bahan material
Peluru kendali, dan tempat pelontarannya, manusia, jaringan pelac
Manusia, perlengkapan, bangunan, jaringan komunikasi
Komponen fisik dan hubungan
Bintang, planit, energi
Ide-ide (buah pikiran)

Unsur-unsur dalam sistem meliputi hal-hal berikut:


a.

Seperangkat komponen, elemen, bagian

b.

Saling berkaitan dan tergantung

c.

Kesatuan yang terintegrasi (terkait dan menyatu)

d.

Memiliki peranan dan tujuan tertentu.

Jadi, sistem merupakan satu kesatuan yang saling terkait.


Pemahaman tentang pengertian sistem sangat diperlukan dalam rangka memperjelas pelaksanaan
tugas dan fungsi masing-masing komponen yang ada di dalam suatu sistem. Semua komponen
tersebut didayagunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Ciri-ciri umum sebuah sistem adalah sebagai berikut:
a.

Cenderung ke arah entropi lamban, menua, mati

b.

Hadir dalam ruang dan waktu yang tidak bisa dihentikan

c.

Mempunyai batas-batas yang dapat berubah

d.

Mempunyai lingkungan proksimal dan distal

1)

Lingkungan proksimal adalah lingkungan yang disadari oleh sistem)

2)

Lingkungan distal adalah lingkungan yang berada di luar sistem)

e.

Mempunyai variabel dan parameter

1)

Variabel adalah faktor-faktor dalam sistem

2)

Parameter adalah faktor-faktor di luar sistem

f.

Mempunyai subsistem

g.

Mempunyai subrasistem

2. KESATUAN SILA-SILA PANCASILA SEBAGAI SUATU KESATUAN YANG


SISTEMATIS, HIRARKIS, & LOGIS
1. Kesatuan Yang Sistematis
Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sitem filsafat Sistem
adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang : saling berhubungan, saling bekerja sama, untuk suatu
tujuan tertentu, dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Jadi Pancasila yang
terdiri atas bagian-bagian, yaitu sila-sila Pancasila, setiap sila pada hakikatnya :
a. merupakan suatu asas sendiri
b. fungsi sendiri-sendiri
Namun secara keseluruahan merupakan suatu kesatuan yang sistematis.

2. Kesatuan Yang Bersifat Organis


Pancasila merupakan suatu kesatuan yang majemuk tunggal dan bersumber pada hakikat
manusia monopluralis yakni :
-susunan kodrat, jasmani rohani
-sifat kodrat, individu- makhluk sosial
-kedudukan kodrat, pribadi berdiri sendiri-makhluk Tuhan YME

3. Kesatuan Yang Bersifat Hirarkis, Berbentuk Piramidal


Dilihat dari intinya, urut-urutan lima sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat dalam luasnya,
dan isi sifatnya merupakan pengkhususan dari sila-sila di mukanya. Sila I menjadi basis dari Sila
II, III,IV dan V Ketuhanan YME adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan, berpersatuan,
berkerakyatan, serta berkeadilan sosial, sehingga setiap sila terkandung sila-sila lainnya.

1. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan suatu sistem filsafat.
Pengertian sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling
bekerjasama untuk satu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang
utuh. Lazimnya sistem memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. suatu kesatuan bagian-bagian
b. bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri
c. saling berhubungan dan saling ketergantungan
d. kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem)
e. terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks.
Pada hakikatnya setiap sila Pancasila merupakan suatu asas sendirisendiri, fungsi sendiri-sendiri
namun demikian secara keseluruhan adalah suatu kesatuan yang sistematis dengan tujuan
(bersama) suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

2. a. Susunan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Yang Bersifat Organis Isi sila-sila Pancasila pada
hakikatnya merupakan suatu kesatuan peradaban, dalam arti, setiap sila merupakan unsur (bagian
yang mutlak) dari kesatuan Pancasila. Oleh karena itu, Pancasila merupakan suatu kesatuan yang
majemuk tunggal, dengan akibat setiap sila tidak dapat berdiri sendiri-sendiri terlepas dari silasila lainnya. Di samping itu, di antara sila satu dan lainnya tidak saling bertentangan. Kesatuan
sila-sila yang bersifat organis tersebut pada hakikatnya secara filisofis bersumber pada hakikat
dasar ontologis manusia sebagai pendukung dari inti, isi dari sila-sila Pancasila yaitu hakikat
manusia monopluralis yang memiliki unsur-unsur susunan kodrat jasmani-rohani, sifat kodrat
individu-mahluk sosial, dan kedudukan kodrat sebagai pribadi berdiri sendiri-mahluk Tuhan
Yang Maha Esa. Unsur-unsur itu merupakan suatu kesatuan yang bersifat organis harmonis.

b. Susunan Kesatuan Yang Bersifat Hirarkhis Dan Berbentuk Piramidal. Hirarkhis dan piramidal
mempunyai pengertian yang sangat matematis yang digunakan untuk menggambarkan hubungan
sila-sila Pancasila dalam hal urut-urutan luas (kuantitas) dan juga dalam hal isi sifatnya.
Susunan sila-sila. Pancasila menunjukkan suatu rangkaian tingkatan luas dan isi sifatnya dari
sila-sila sebelumnya atau diatasnya. Dengan demikian, dasar susunan sila-sila Pancasila
mempunyai ikatan yang kuat pada setiap silanya sehingga secara keseluruhan Pancasila
merupakan suatu keseluruhan yang bulat. Oleh karena itu, sila pertama yaitu Ketuhanan Yang
Maha Esa menjadi basis dari sila-sila Pancasila berikutnya. Secara ontologis hakikat Pancasila
mendasarkan setiap silanya pada landasan, yaitu : Tuhan, Manusia, Satu, Rakyat, dan Adil. Oleh
karena itu, hakikat itu harus selalu berkaitan dengan sifat dan hakikat negara Indonesia. Dengan
demikian maka, sila pertama adalah sifat dan keadaaan negara harus sesuai dengan hakikat
Tuhan; sila kedua sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat manusia; sila ketiga sifat

dan keadaan negara harus satu; sila keempat adalah sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan
hakikat rakyat; dan sila kelima adalah sifat dan keadaan negara harus sesuai dengan hakikat adil.
Contoh rumusan Pancasila yang bersifat hirarkis dan berbentuk pyramidal adalah : sila pertama,
Ketuhanan Yang Maha Esa adalah meliputi dan menjiwai sila-sila kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan-perwakilan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

c. Rumusan Hubungan Kesatuan Sila-Sila Pancasila Yang Saling Mengisi Dan Saling
Mengkualifikasi Kesatuan sila-sila Pancasila yang majemuk tunggal, hirarkhis pyramidal juga
memiliki sifat saling mengisi dan salng mengkualifikasi. Hal itu dimaksudkan bahwa setiap sila
terkandung nilai keempat sila lainnya, dengan kata lain, dalam setiap sila Pancasila senantiasa
dikualifikasi oleh keempat sila lainnya. Contoh rumusan kesatuan sila-sila Pancasila yang
mengisi dan saling mengkualifikasi adalah sebagai berikut : sila Ketuhanan Yang Maha Esa
adalah berkemanusiaan yang adil dan beradab, berpersatuan Indonesia, berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan berkeadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. UNSUR-UNSUR PANCASILA SEBAGAI SUATU SISTEM FILSAFAT


1.

Unsur Ketuhanan
Secara ontologik ada manusia sebagai yang diciptakan menunjukkan adanya pencipta yaitu

Tuhan. Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna, mempunyai sifat sebagai individu
sebagai makhluk sosial. Karena Tuhan adalah sempurna maka manusia tidak sempurna. Namun
diantara makhluk, manusia adalah yang paling sempurna.
pengalaman sejarah sebelum datangnya agama Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Bangsa
Indonesia telah mempunyai kepercayaan. Karena keadaan alam sedemikian rupa maka bangsa
Indonesia berusaha mempertahankan dan mengembangkan hidupnya untuk bisa mengatasi
tantangan alam tersebut. Salah satu jawaban yang diberikan berupa pandangan hidup atau
kepercayaan bahwa alam ini ada yang menciptakan. Karena pengalaman hidup mereka seharihari dan karena kemampuan yang mereka miliki, maka bentuk kepercayaan yang menguasai
alam, adanya kekuatan gaib yang terdapat pada alam ini dan lain sebagainya. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itupun sudah percaya kepada Tuhan Yang
Maha Esa. Setelah agama Hindu dan Budha datang di Indonesia, bangsa Indonesia banyak
memeluk agama-agama tersebut. Demikian pula agama islam yang telah dipeluk oleh sebagian
besar bangsa Indonesia dengan penuh keyakinan. Pada masa itu pengaruh agama dalam
kehidupan sehari-hari terbukti adanya pengaruh agama dalam kehidupan sehari-hari terbukti
adanya peninggalan, tulisan dan adat istiadat.
2.

Unsur Kemanusiaan
Sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa dengan sendirinya bangsa kita

mempunyai rasa kemanusiaan yang luhur. Pada hakekatnya kemanusiaan adalah bawaan kodrat
manusia. Perikemanusiaan adalah nilai khusus yang bersumber pada nilai kemanusiaan.

Perikemanusiaan adalah yang bersumber pada kemanusiaan, jiwa yang membedakan manusia
dengan makhluk lain. Berdasarkan pengertian tersebut sebenarnya semua bangsa mesti
mempunyai kemanusiaan, begitu pula bangsa Indonesia bahkan kemanusiaannya adalah adil dan
beradab. Adil berarti memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya dan tahu apa
haknya sendiri. Beradab artinya mempunyai adab, mempunyai sopan santun, mempunyai susila,
artinya ada kesediaan menghormati bangsa lain, menghormati pandangan pendirian dan sikap
Bangsa lain. Sejak dahulu bangsa Indonesia selalu menerima bangsa lain dengan ramah tamah,
karena suatu bangsa tidak akan hidup sendirian terlepas dari bangsa lain.
3.

Unsur Persatuan
Bangsa Indonesia dengan ciri-cirinya rukun, bersatu dan kekeluargaan, bertindak bukan

semata-mata atas perhitungan untung rugi dan pamrih serta kepentingan pribadi. Oleh karena itu
unsur persatuan sudah terdapat didalam kehidupan masyarakat Indonesia bahkan sudah
dilaksanakan oleh mereka.
4.

Unsur Kerakyatan
Istilah kerakyatan berarti bahwa yang berdaulat atau yang berkuasa adalah rakyat. Dalam

bahasa lain Kerakyatan disebut Demokrasi berasal dari kata Yunani Demos yang berarti Rakyat
Kratos yang berarti Berdaulat. Demokrasi bukan hal yang baru bagi bangsa Indonesia. Meskipun
sebelum tanggal 17 Agustus 1945 di Indonesia belum pernah ada pemerintahan yang bersifat
Demokratik seperti sekarang ini namun sebenarnya unsur-unsurnya sudah ada, yang selama itu
tidak pernah dimanfaatkan secara Nasional formal.

5.

Unsur Keadilan
Istilah adil yaitu menunjukkan bahwa orang harus memberi kepada orang lain apa yang

menjadi haknya dan tahu mana haknya sendiri serta tahu apa kewajibannya kepada orang lain
dan dirinya. Sosial berarti tidak mementingkan diri sendiri saja, tetapi mengutamakan
kepentingan umum, tidak individualistik dan egoistik, tetapi berbuat untuk kepentingan bersama.
Sebenarnya istilah gotong royong yang berarti bekerja sama dan membagi hasil karya bersama
tepat sekali untuk menerangkan apa arti Keadilan Sosial.
Istilah

sistem sering

digunakan

dalam

menyebutkan

sesuatu,

misalnya

sistem

pemerintahan , sistem pendidikan dan lain sebagainya. Namun dalam hal ini pengertian system
dikaitkan dengan sistem pancasila.Sebelum membahas pancasila sebagai suatu system ada
baiknya kita pahami pengertian sistem terlebih dahulu. Sistem adalah bekerjanya masing-masing
unsure atau elemen yang berbeda dalam suatu kelompok dimana yang satu dan yang lainya
saling terkait dan saling bergantungan untuk mencapai tujuan tertentu demi mencapai kesuksesan
bersama. Misal sepeda merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat nsure-unsur yang
satu dan yang lain saling terkait, Unsur tersebut velg. Ban luar, ban dalam, pentil, rantai, stang
dan bagian yang lainya. Masing masing unsure tersebut saling terkait sehingga sepeda tersebut
dapat digunakan sebagai alat transportasi untuk mengantarkan manusia dari suatu tempat
ketempat yang lain. Jika salh satu nsure tidak ada, misalnya pentil yang berpungsi sebagai utuk
menahan udara yang berda di dalam ban maka banya akan kempes, sistem sepeda tadi bisa
berjalan akan tetapi perjalananya tidak normal seperti biasanya. Nah dari situ terlihat betapa
pentingnya setiap nsure yang memiliki pungsi dan tugas masing-masing.

Pancasila sebagai suatu sistem memiliki unsur-unsur yang berbeda, hal ini dapat kita lihat
dalam sila-sila pancasila yang memiliki ragam makna yang berbeda, namun system dalam
pancasila mempunyai suatu kesatuan yang utuh dan bulat. Sila-sila dalam pancasila saling
berhubungan satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Diantaranya pancasila
sebagai dasar Negara mempunyai fungsi sepagai pedoman di dalam berbangsa dan bernegara
juga sebagai moral bangsa Indonesia dalam membentuk suatu Negara.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas pancasila sebagai suatu sistem yang dimana silasilanya mencakup seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila sudah diatur
sedemikian rupa sehingga membentuk suatu susunan yang teratur dan tidak bisa dibolak balik.
Dalam sila pancasila memiliki suatu makna yang beruntun. Artinya, sila pertama lebih luas
makanya sehinga menjiwai sila-sila dibawahnya. Itulah makna pancasila sebagai suatu system.

4. PERBANDINGAN SISTEM FILSAFAT PANCASILA DENGAN SISTEM FILSAFAT


LAIN DI DUNIA
Sistem Filsafat Pancasila
Sistem adalah suatu kesatuan prosedur atau komponen yang saling berkaitan satu dengan
yang lainnya, bekerja sama sesuai dengan aturan yang diterapkan, sehingga membentuk suatu
tujuan yang sama.Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang
merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.
Sistem Filsafat adalah kumpulan atau kesatuan pemikiran/ajaran yang saling berhubungan
dan mampu menjangkau seluruh realitas yang ada, mencakup pemikiran teoritis tentang realitas
adanya

tuhan,

alam,

dan

manusia,

untuk

mencapai

tujuan

tertentu.

Perbandingan Filsafat Pancasila Dengan Sistem Filsafat Lainnya Di Dunia Secara


filosofis, Pancasila sebagai suatu kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis, dasar
epistemologis dan dasar aksiologis sendiri yang berbeda dengan sistem filsafat yang lainnya
misalnya materialisme, liberalisme, pragmatisme, komunisme, idealisme dan lain-lain paham
filsafat di dunia.
1.

Dasar Antologis Sila-sila Pancasila


Dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak,

oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis. Subjek pokok
pendukung sila-sila Pancasila adalah manusia.
2.

Dasar Epistemologis Sila-sila Pancasila


Pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu sistem pengetahuan. Kalau manusia

merupakan basis ontologi Pancasila maka dengan demikian mempunyai implikasi terhadap
bangunan epistemologis dari Pancasila. Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam
epistemologis, yaitu : pertama tentang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori
kebenaran

pengetahuan

manusia,

ketiga

tentang

watak

pengetahuan

manusia.

Pancasila mendasarkan pada pandangannya bahwa ilmu pengetahuan pada hakikatnya tidak
bebas nilai karena harus diletakkan pada kerangka moralitas kodrat manusia serta moralitas
religius dalam upaya untuk mendapatkan suatu tingkatan pengetahuan yang mutlak dalam hidup
manusia.
3.

Dasar Aksiologis Sila-sila Pancasila


Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai, hanya nilai macam apa saja yang ada serta

bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Menurut Notonegoro, nilai-nilai tersebut
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

a. Nilai Material : segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.


b. Nilai Vital : segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk mengadakan suatu aktivitas atau
kegiatan.
c. Nilai Kerohanian : segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia yang dapat dibedakan
atas empat tingkatan sebagai berikut :
Nilai kebenaran : nilai yang bersumber pada akal, rasio, budi atau cipta manusia.
Nilai keindahan/estetis : nilai yang bersumber pada perasaan manusia.
Nilai kebaikan/moral : nilai yang bersumber pada unsur kehendak (will, wollen, karsa)
manusia
Nilai religius : nilai kerohanian tertinggi dan bersifat mutlak yang berhubungan dengan
kepercayaan dan keyakinan manusia serta bersumber pada wahyu Tuhan Yang Maha Esa.
Pengetahuan Sistem Filsafat Perbandingan dengan Sistem Filsafat lainnya
Secara ilmiah harus disadari bahwa suatu masyarakat suatu bangsa, senantiasa memeliki suatu
pandangan hidup atau filsaat hidup masing-masing, yang berbeda dengan bangsa lain didunia.
Inilah yang disebut sebagai local genius (kecerdasan / kreatifitas local ) dan sekaligus sebagai
local wisdom (kearifan local) bangsa. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak mungkin
memiliki kesamaan pandangan hidup dan filsafat hidup dengan bangsa lain. Ketika para pendiri
Negara Indonesia menyiapkan berdirinya Negara Indonesia merdeka, mereka sadar sepenuhnya
untuk menjawab suatu pertanyaan yang fundamental di atas dasar apakah Negara Indonesia
merdeka ini didirikan? jawaban atas pertanyaan mendasar ini akan selalu menjadi dasar dan
tolak ukur utama bangsa ini meng-Indonesia. Dengan kata lain, jati diri bangsa selalu bertolak

ukur pada nilai-nilai pancasila sebagai filsafat bangsa. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada
hakekatnya merupakan system filsafat.
1.

Filsafat: Secara etimologis cinta akan kebijaksanaan, tapi dapat pula diartikan sebagai

keinginan yang sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran yang sejati.


2.

Filsafat Pancasila: Kebenaran dari sila-sila Pancasila sebagai dasar negara atau dapat pula

diartikan bahwa Pancasila merupakan satu kesatuan sistem yang utuh dan logis.
Menurut Ruslan Abdul Gani, bahwa pancasila merupakan filsafat Negara yang lahir collective
ideologie (cita-cita bersama). Dari seluruh bangsa Indonesia. Dikatakan sebagai filsafat, karena
pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan olehthe founding
father bangsa Indonesia, kemudian dituangkan dalam suatu system yang tepat. Adapun
menurut Notonagoro, filsafat pancasila memberi pengetahuan dan pengertian ilmiah, yaitu
tentang hakikat pancasila.
Sistem Filsafat Lain Di Dunia
Filsafat Pancasila merupakan refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara
dan kenyataan bahwa budaya bangsa dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertian
secara mandasar dan menyeluruh. Adapun perbandingan Filsafat Pancasila dengan Filsafat
lainnya yaitu sebagai berikut:
1.

Filsafat Komunisme

Filsafat ini tidak mementingkan adanya hal-hal ketuhanan. Semua hal diatur oeh satu kelompok
yang paling berkuasa. Dalam filsafat ini, semua kebebasan dihapuskan. Semua hal diatur oleh
penguasa tunggal sehingga sumber dari segala sumber hukum yang berlaku tidak berasal dari
suara rakyat, namun dari penguasa tunggal yang ada dimana filsafat komunis itu berada.

2.

Filsafat Liberalisme

Dalam hal ini, semua hal tidak memiliki batasan, sehingga memungkinkan adanya benturanbenturan dalam masyarakat. Tidak ada yang mengatur tentang penanggulangan benturanbenturan tersebut,. masyarakat hanya akan menegur bila merasa teranggu oleh orang lain, namun
apabila tidak merasa terganggumaka mereka cenderung untuk bersikap masa bodoh.
3.

Filsafat Individualisme

Filsafat ini lebih cenderung lebih kekehidupan masing-masing orang dimana antara orang yang
saru dengan orang yang lain tidak mempunya ikatan sosial atau dengan kata lain, mereka berdiri
masing-masing. Tidak terdapat kebersamaan, persatuan atau tujuan bersama.

BAB.
KESIMPULAN
SARAN

KESIMPULAN DAN SARAN