Anda di halaman 1dari 3

Bukti.

Dalam literature, hanya terdapat satu penelitian yang pernah menerbitkan pemeriksaan
dengan menggunakan azathioprine dan steroid (Tabel 5). Goumenos et al mengumumkan
penelitian retrospektif pada tahun 1995 yang menggunakan azathioprine dan prednisolon
pada 66 pasien. Mereka memperlihatkan bahwa regimen tersebut dapat memberikan
keuntungan dalam memperlambat progresifitas IgAN dibandingkan dengan 48 pasien yang
tidak diterapi. Namun, pada penelitian tingkat 4 ini, pasien yang mendapat terapi mempunyai
perubahan histologikal yang lebih berat pada presentasi, dan keputusan untuk memberikan
terapi didasarkan pada perubahan ini. Percobaan kontrol dibutuhkan untuk mengkonfirmasi
data ini sebelum terapi ini direkomendasikan.
Rekomendasi 5. Pada pasien dengan IgAN yang mempunyai perjalanan penyakit yang
progresif, terapi yang didasarkan pada bukti tidak dapat direkomendasikan pada stadium ini.
Bukti. Bentuk progresif dari IgAN adalah hematurina. Yang untungnya jarang terjadi. Klinis
dikarakteristikan oleh penurunan laju filtrasi glomerulus sebanyak 50% atau lebih dalam
peride waktu 3 bulan dan biasanya berhubungan dengan bentuk kresen pada biopsi. Pada
pasien dengan tipe penyakit ini, hanya sedikit penelitian dengan jumlah pasien yang sedikit
yang telah dipublikasi.
Dua penulis melaporkan hasil yang baik dengan penggunaan plasmaferesis dalam
menstabilkan pasien saat fase akut penyakit ini; namun laporan ini merupakan anekdot dan
tidak terkontrol. Pada 1995, Roccatello et al, melaporkan terapi kombinasi dengan steroid,
siklofosfamid, dan pertukaran plasma pada enam pasien didapatkan setidaknya 40% kresen.
Mereka membandingkan hasil yang diperoleh dengan tiga pasien yang tidak diberikan terapi.
Hasil biopsi ulang menunjukkan adanya kresen akut persisten pada kebanyakan glomerulus,
pada tiga pasien yang tidak melakukan dialisis setelah lima tahun dibandingkan dengan
kelompok yang tidak diberikan terapi dimana dua pasien menjalani dialisis dan satu
meninggal setelah tiga tahun.
Rekomendasi 6. Tonsilektomi mungkin memberikan keuntungan pada IgAN pasien dengan
tonsilitis berulang (Tingkat D; gambar 3)

Bukti. Hematuria makroskopik didapatkan pada IgAN, yang umumnya dipicu oleh stimulasi
mukosa (faringitis, gastroenteritis), hal ini dapat dijelaskan melalui reaksi hipersensitivitas
sistem IgA terhadap infeksi atau antigen dari makanan. Hal ini, berdampingan dengan
pembersihan ginjal yang tidak baik dapat menyebabkan deposit mesangial dan respon
inflamasi ginjal. Tonsil, sebagai bagian dari sistem IgA sistemik, mungkin berperilaku
sebagai aktivator disregulasi dari IgA pada pasien tersebut. Tonsilektomi telah menunjukkan
adanya kaitan dengan penurunan proteinuria, hematuria dan total konsentrasi IgA serum,
tanpa menujukkan adanya efek pada fungsi ginjal, pada 34 pasien dengan infeksi berulang
(level 5). Tonsilektomi mungkin dapat direkomendasikan pada pasien dengan episode
hematuria makroskopik berulang dalam kaitannya dengan tonsilitis.
Rekomendasi 7. Pada pasien dengan IgAN, hipertensi seharusnya diterapi dengan sebaikbaiknya, jika mungkin, dengan angiontensin-converting enzyme inhibitor (tingkat B).
Bukti. Tekanan darah tinggi berperan penting sebagai pertanda prognosis negatif pada IgAN
dan harus diterapi secara dini pada episode penyakit ini. telah dibuktikan bahwa angiotensin
II memiliki aksi hipertropik secara langsung pada beberapa sel, termasuk sel glomerular, dan
sebuah faktor mungkin yang memulai sklerosis. Hal ini juga dapat menyebabkan sklerosis
melalui pengeluaran komponen matriks ekstraseluler, sebagaimana yang telah dibuktikan
pada kultur sel mesangial.
Pada pasien penelitian dengan gangguan ginjal sedang, administrasi dari angiontensinconverting enzyme inhibitor memberikan hasil yang lebih baik, dan terdapatnya perubahan
dalam penurunan fraksi filtrasi, dibandingkan dengan yang ditemukan pada pasien dengan
fungsi ginjal yang normal dan sehat terkontrol (Tabel 6). Penulis menyarankan bahwa
perubahan ini sebagai refleksi hiperaktivitas lokal dari sistem renin-angiotensin pada pasien
dengan IgAN.

Maschio et al, dalam penelitian multicenter, secara acak, dengan kontrol plasebo yang
dilakukan pada 39 pasien dengan biopsi yang membuktikan IgAN, fungsi ginjal normal, dan
hipertensi, menunjukkan angiontensin-converting enzyme inhibitor menurunkan proteinuria
bahkan pada pasien dengan normotensi (level 3). Periode pengkajian ulang selama tiga bulan
jelas terlalu singkat untuk memperlihatkan perubahan pada fungsi renal.
Cattran menerbitkan analisis perbandingan retrospektif, pemberian angiontensin-converting
enzyme inhibitor pada 27 pasien, pemberian terapi lain pada 55 pasien dan 33 pasien tidak
diberikan terapi. Rata-rata periode waktu pengkajian ulang adalah 29 bulan. Terapi dengan
angiontensin-converting enzyme inhibitor memberikan hasil dalam penurunan fungsi ginjal
yang lebih lambat yang diukur berdasarkan kemiringan pembersihan kretainin (-0.4
ml/min/bulan vs - 1.0 ml/min/bulan) dan presentasi yang lebih tinggi dalam pengurangan
protenuria (18.5 vs 1.8%, bukti level 4).
Bannister et al pada 1955 melaporkan sebagian hasil dari penelitian prospektif pada 23 pasien
hipertensi yang menjalani pengkajian ulang secara lengkap selama satu tahun,
membandingkan antara penggunaan nifedipine dengan enalapril. Tidak terdapat perbedaan
pada tingkat penurunan fungsi renal pada kedua kelompok, tetapi nifedipine tidak memiliki
efek yang baik pada proteinuria bila dibandingkan dengan angiontensin-converting enzyme
inhibitor (level 2).
Terapi Lain
Beberapa terapi lain telah diuji pada IgAN. Fenitoin, walaupun menekan kadar IgAN dalam
serum, tapi tidak memberikan efek yang baik pada lesi ginjal. Obat antiplatelet, urokinase,
danazol, sodium cromoglycate, pembatasan diet gluten, dan diet low-antigen-content tidak
menunjukkan pengaruh terhadap fungsi ginjal.
Berdasarkan abnormalitas dalam sistem imun IgA dan penemuan defisiensi IgG1 subkelas
pada IgAN, percobaan terbaru terapi immunoglobulin dosis tinggi secara sukses dibuktikan
pada 11 pasien dengan IgA berat atau purpura Henoch-Schnlein yang diberikan
selama lebih dari sembilan bulan. Penurunan laju filtrasi ginjal mendekati
4ml/min/bulan hampir diberhentikan, walaupun terjadi penurunan
hematuria dan proteinuria, selama lebih dari 14 bulan pengkajian ulang.
Kekambuhan timbul secara cepat jika terapi tidak dilanjutkan. Walaupun
immunoglobulin merupakan terapi immunomodulatori, namun percobaan
kontrol secara prospektif dibutuhkan.