Anda di halaman 1dari 16

1

MODIFIKASI LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN


HASIL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) VARIETAS PALU

THE ENVIRONMENTAL MODIFICATION TO INCREASE


THE YIELD OF SHALLOT (Allium ascalonicum L.) CV. PALU

Bahrudin
Mahasiswa Program Pascasarjana Unibraw, Malang/
Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu.

Syekhfani , T. Wardiyati , dan M. Santoso


Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.

ABSTRAK

Lingkungan pertumbuhan yang optimal terutama intensitas radiasi matahari


dan suhu merupakan faktor penting untuk mencapai hasil tanaman bawang merah
yang maksimal. Di Indonesia rata-rata hasil nasional 8.8 ton ha-1., Di Sulawesi
tengah hasil rata-rata 4,3 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik 2000). Berkaitan dengan
rendahnya hasil tersebut, maka perlu dicari teknologi budidaya untuk peningkatan
hasil bawang merah varietas Palu. dinamika pertumbuhan dan hasil tanaman bawang
merah di Kabupaten Donggala. Penelitian bertujuan: Mendapatkan taraf naungan
dan jenis mulsa terhadap dinamika pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah
di Kabupaten Donggala.
Penelitian dilakukan di dataran rendah 20 meter dpl., Kabupaten Donggala
Sulawesi Tengah, sejak bulan Juli 2001 sampai April 2002. Suhu udara selama
percobaan adalah 32 – 37 oC di siang hari dan 22 – 23,2 oC di malam hari,
kelembaban nisbi 71 – 77 %. Penelitian terdiri dari 4 tahap.
Percobaan di Lapangan: Modifikasi lingkungan dengan perlakuan jenis
mulsa serta naungan untuk peningkatan hasil. Metode percobaan disusun dalam
rancangan acak kelompok faktorial, terdiri dari dua faktor yang diulang 4 kali.,
Faktor Pertama: jenis mulsa (tanpa mulsa, mulsa plastik hitam perak dan mulsa
jerami), Faktor kedua: naungan polynet (tanpa naungan, naungan 30 % dan naungan
60 %).
Hasil percobaan modifikasi lingkungan dengan pemberian naungan dan
mulsa, dapat meningkatkan hasil bobot segar umbi. Pada perlakuan naungan 30
persen dengan mulsa plastik hitam perak memberikan hasil bobot segar umbi 1,048
kg/m2 setara dengan 10,48 ton.ha-1 sedangkan pada perlakuan kontrol sebesar
0,453 kg/m2 atau setara dengan 4,53 ton ha-1.

Kata-kata kunci: Modifikasi lingkungan, shallot, Naungan dan Mulsa

________________________________
2

ABSTRACT

Optimal growth environment particularly solar radiation intensity and


temperature are the important factors to reach maximum yield of shallot crop. The
low average production of shallot crop at central Sulawasi (4,3 ton ha-1) compare to
the national production (8,8 ton ha-1). (Board of Statistic Center, 2000) is the reason
to improve technology to get the best yield for Palu local shallot. The objective of
this research is: to get shading level and mulch on the growthand the yield of shallot
in Donggal regency
The research was conducted on a low altitude, 20 meters above sea level,
Sidera district, Sigi Biromaru, Donggala regency, start on July 2001 until April
2002. The average temperature of the area is 34 -37 °C during day and 22 – 23,2 ºC
during night, with the relative humidity 71 – 77 %.
The field experiment on environmental modification using polynet
shading and mulch. Second experiment arranged also in Randomized Complete
Block Design with two factors: (1) Mulch application: without mulch, black silvery
plastic mulch and (2) Polynet shading: without shading, 30 % shading and 60 %
shading.
The result of experiment is application with black silvery plastic mulch
and 30 % shading produce bulb fresh weight 1.048 kg/m2 equal to 10,48 tons ha-1
higher then control treatment which is produce 0,453 kg/m2 equal to 4,53 tons ha-1.

Key words: Environmental modification, shallot, shading and mulch.

PENDAHULUAN

Luas panen bawang merah (Allium ascalonicum L.) di Indonesia pada


tahun 1994 mencapai 83.422 ha dengan rata-rata hasil nasional 6,99 ton.ha -1 (Biro
Pusat Statistik, 1994). Sedangkan pada tahun 1999, luas panen tanaman menjadi
36.882 ha. dengan produksi umbi 323.86 ton yang berarti rata-rata hasil naik
menjadi 8,8 ton ha-1 (Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1999). Di Sulawesi
Tengah luas panen bawang merah pada tahun 1998, 1353 ha, dengan produksi 3488
ton dan hasil 2,58 ton ha-1, sedang pada tahun 1999, luas areal panen turun menjadi
92 ha dengan produksi 394 ton, tetapi hasilnya naik menjadi 4,3 ton ha -1 (Biro
Pusat Statistik, 2000).
Berdasarkan data tersebut diatas luas panen bawang merah di Sulawesi
Tengah menurun drastis, namun hasil per hektarnya meningkat dari 2,58 ton
menjadi 4,3 ton ha-1. Menurunnya luas panen bawang merah di Sulawesi Tengah
disebabkan karena, pada saat tersebut awal memasuki krisis ekonomi, menyusul
meningkatnya harga sarana produksi yang tidak ditunjang dengan harga pasaran
bawang merah, sehingga petani lebih memilih untuk tidak menanam bawang merah
dan digantikan dengan tanaman lainnya. Selain itu disebabkan rendahnya
pengetahuan petani tentang teknologi budidaya dan pengaruh faktor tanah dan
lingkungan tumbuh tanaman. Bawang merah merupakan salah satu komoditi
hortikultura berupa sayuran umbi yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup
tinggi.Bawang merah banyak dimanfaatkan sebagai bumbu penyedap masakan
maupun sebagai bahan baku obat-obatan, sehingga komoditi ini mempunyai peranan
cukup penting dalam perdagangan. Di Sulawesi Tengah, tanaman bawang merah
3

telah lama diusahakan oleh petani sebagai tanaman yang bersifat komersil, yaitu
dicirikan oleh
sebagian besar hasil produknya ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar baik
pasar lokal maupun antar pulau. Disamping itu juga terdapat bawang merah
varietas lokal yang telah lama dibudidayakan oleh petani khususnya di daerah
Tinombo, Kabupaten Donggala (daerah pantai Timur). Jenis bawang merah ini
dikenal dengan nama daerah; bawang Batu, bawang Tinombo, atau bawang
Gontarano (Maskar, et al., 1999). Di Palu varietas yang sama dinamakan varietas
lokal Palu. Hal tersebut memberikan gambaran masih besarnya peluang untuk
peningkatan produksi apabila kendalanya bisa diatasi.
Bawang merah varietas Palu memiliki keunikan dan sifat yang spesifik
yaitu tidak mudah gosong apabila digoreng, sehingga bawang ini khusus digunakan
untuk pembuatan bawang goreng. Bawang merah varietas Palu keunikan lainnya
dibanding dengan bawang merah biasa, yaitu daya simpannya lebih lama. Bawang
yang sudah digoreng dan dikemas dengan kemasan plastik dapat disimpan dengan
waktu 1 sampai 2 tahun. Dengan ciri spesifik tersebut maka bawang merah varietas
Palu mempunyai prospek untuk industri rumah tangga.
Rendahnya hasil bawang merah varietas Palu (4,3 ton ha-1) karena masih
rendahnya penerapan teknologi budidaya, sedangkan potensi genetik varietas lokal
Palu 8,2 - 12 ton ha-1.
Teknologi yang sudah diterapkan di Palu diduga masih belum mampu
mengoptimalkan pertumbuhan dan hasil bawang merah varietas Palu, sehingga perlu
adanya penelitian tentang lingkung- an optimal bagi tanaman bawang merah. Selain
rendahnya teknologi juga di-sebabkan karena faktor tanah dan faktor lingkungan.
Dari segi lingkungan, terutama iklim seperti suhu udara dan kelembaban udara yang
tidak mendapat perhatian oleh petani. Fluktuasi suhu udara dan radiasi surya pada
gilirannya berpengaruh terhadap kelembaban dan suhu tanah yang sangat erat
hubungannya dengan pembentukan umbi bawang merah.
Berdasarkan permasalahan ter- sebut, maka perlakuan jenis mulsa dan taraf
naungan perlu dilakukan untuk peningkatan hasil bawang merah varietas Palu, perlu
diteliti.
Penelitian ini bertujuan untuk Mendapatkan taraf naungan dan jenis mulsa
terhadap dinamika pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di Kabupaten
Donggala.
Kegunaan penelitian: (1). Menam-bah kasanah ilmu pertanian, bidang
hubungan antara perubahan lingkungan dengan pertumbuhan dan hasil tanaman
bawang merah khususnya di Kabupaten Donggala.(2). Menemukan dan mengem-
bangkan alternatif teknik peningkatan hasil bawang merah varietas Palu, di
Kabupaten Donggala. (3). Dengan mendapatkan teknologi tepat guna pada budidaya
tanaman bawang merah, diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pengambilan
kebijakan dalam pengembangan budidaya tanaman bawang merah varietas Palu.
Hipotesis: Pengurangan radiasi dan pemberian mulsa yang sesuai akan
meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah di Kabupaten
Donggala.
4

METODE PENELITIAN

Tempat dan waktu penelitian: Untuk menguji hipotesis, percobaan


dilakukan di lokasi kebun percobaan Balai Benih Induk (BBI) Sidera, Kecamatan
Sigi Biromaru Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah. Tinggi tempat 20
meter di atas permukaan laut, dengan jenis tanah aluvial. Kisaran suhu maksimum
di Lembah Palu adalah 32 - 35,4 oC, suhu udara minimum rata-rata untuk periode
10 tahun adalah 22,4 o C, jumlah curah hujan periode 10 tahun rata-rata 94,1
mm/bulan atau 1130 mm/tahun dan kelembaban udara rata-rata periode 10 tahun
adalah 77 %. Waktu pelaksanaan penelitian, dilakuan pada bulan Nopember 2001
sampai bulan Pebruari 2002.
Penelitian ini dilakukan di lapang dalam bentuk percobaan yang disusun
berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial, yang terdiri dari
dua faktor. Faktor pertama adalah: Perlakuan jenis mulsa dan Faktor ke dua adalah:
perlakuan taraf naungan paranet, yang di ulang 4 kali, sebagai berikut:
Faktor Pertama: Perlakuan Jenis Mulsa: 1. Tanpa Mulsa (M0), 2. Mulsa Plastik
(M1) dan 3. Mulsa Jerami (M2: 10 ton.ha.-1) dan Faktor Ke dua: Perlakuan
Naungan Paranet: 1. Tanpa naungan (N0) 2. Naungan 30 % ( N1 ) dan 3. Naungan
60 % ( N2).
Pengamatan dilakukan dengan cara destruktif dan non destruktif, dari data
pengamatan tanaman dihitung: Panjang daun, luas daun, laju pertum-buhan
tanaman, indeks luas daun, bobot kering tanaman, bobot basah, bobot segar
tanaman dan bobot segar umbi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman
Intensitas cahaya yang optimal selama periode tumbuh penting untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada tanaman tertentu jika menerima
cahaya yang berlebihan maka akan berpengaruh terhadap pembentukan buah atau
umbi. Sebaliknya berkurangnya radiasi sebagai akibat keawanan atau ternaung akan
mengurangi laju pembentukan buah atau umbi dan menyebabkan pertumbuhan
vegetatif berlebihan.
Penutupan tanah atau lebih dikenal dengan sistem pemulsaan misalnya,
pemberian mulsa plastik dan mulsa jerami atau sisa tanaman pada tanaman tertentu
telah banyak dilakukan balai penelitian maupun pengalaman petani ternyata
memberi manfaat seperti, kestabilan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Mekanisme
yang terjadi dalam proses konservasi lengas tanah dari pemberian mulsa yaitu mulsa
dapat menghambat proses penguapan lengas tanah. Kandungan lengas tanah sebagai
cadangan air di dalam tanah yang sangat penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman akan semakin tinggi. Mulsa dapat menghambat perkem-
bangan tanaman pengganggu (gulma). Dengan adanya mulsa maka sebagian dari
permukaan tanah akan terlindung dari cahaya matahari, dimana cahaya matahari ini
akan bertindak sebagai perangsang bagi perkecambahan, pertum-buhan dan per-
kembangan biji gulma yang biasanya mengalami masa dormansi tertentu (Thamrin
at al., 1992).

Panjang tanaman
5

Panjang daun pada pengamatan umur 7 minggu, dipengaruhi oleh interaksi


antara jenis mulsa dengan taraf naungan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian
mulsa dan taraf naungan yang berbeda akan menghasilkan panjang daun yang
berbeda (Tabel 1).

Tabel 1. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap panjang
daun pada umur 7 minggu

Naungan (%) Panjang daun (cm)


0 30 60
Mulsa

Tanpa mulsa 29,40 a 34,16 c 35,45 c

Mulsa plastik hitam perak 31,40 ab 40,18 d 36,10 c

Mulsa jerami 33,33 bc 34,78 c 34,48 c

Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05

Tabel 1 menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak


maupun mulsa jerami dapat menaikkan panjang daun dibanding tanpa mulsa dan
tanpa naungan, tetapi mulsa plastik hitam tidak berbeda dengan tanpa mulsa. Namun
demikian jika naungan ditingkatkan menjadi 30 %, maka penggunaan mulsa plastik
hitam perak menunjukkan panjang daun pada umur 7 minggu terbesar dibanding
tanpa mulsa maupun mulsa jerami. Kenaikan panjang daun pada naungan 30 %
dibanding tanpa naungan mencapai berturut-turut 16 %, 27,96 % dan 4,35 %.
Panjang daun akan menurun apabila naungan ditingkatkan menjadi 60 % baik mulsa
plastik maupun mulsa jerami, kecuali tanpa mulsa.
Luas daun
Pada umur 7 minggu setelah tanam diperoleh interaksi antara jenis mulsa
dan naungan terhadap luas daun. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian jenis mulsa
dan taraf naungan yang berbeda akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap
luas daun tanaman bawang merah varietas Palu, (Tabel 2).

Tabel 2. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap luas
daun pada umur 7 minggu

Naungan (%) luas daun (cm)


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 307,76 a 491,67 b 461,62 b
Mulsa plastik hitam perak 424,66 b 652,14 c 469,72 b
Mulsa jerami 467,95 b 449,67 b 421,9 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.
6

Tabel 2. terlihat bahwa peng-gunaan mulsa plastik hitam perak maupun


mulsa jerami dapat menaikkan luas daun dibanding tanpa mulsa dan tanpa naungan.
Kenaikan luas daun tersebut mencapai 37,98 % dan 52,1 %. Namun demikian
apabila naungan ditingkatkan menjadi 30 %, maka penggunaan mulsa plastik hitam
perak menujukkan luas daun terbesar dibanding dengan tanpa mulsa maupun
memakai mulsa jerami. Luas daun ini akan menurun lagi apabila naungan
ditingkatkan menjadi 60 % baik tanpa mulsa maupun mulsa plastik hitam dan mulsa
jerami. Penurunan tersebut mencapai jumlah 29,2 %, 27,97 dan 35,31 % berturut-
turut. Data ini menunjukkan bahwa naungan 30 % akan memberikan nilai tambah
bila dikom-binasikan dengan mulsa plastik hitam perak.

Laju pertumbuhan tanaman


Laju pertumbuhan tanaman, umur 7 minggu setelah tanam, menunjukkan
pengaruh antara perlakuan jenis mulsa dan perlakuan taraf naungan. Hal ini
memberikan arti bahwa, pemberian jenis mulsa dan taraf naungan yang berbeda,
akan memberikan hasil laju pertumbuhan tanaman yang berbeda (Tabel 3).

Tabel 3. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan ter-hadap laju
pertumbuhan tanam-an pada umur 7 minggu

Naungan (%) Laju pertumbuhan tanaman


(g/m2 /hari)
Mulsa 0 30 60
Tanpa mulsa 0,76 a 1,72 bc 1,64 bc
Mulsa plastik hitam perak 1,52 b 3,00 d 1,64 bc
Mulsa jerami 1,84 bc 2,02 c 1,55 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.

Tabel 3 menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak


maupun mulsa jerami dapat meningkatkan laju pertumbuhan tanaman dibanding
tanpa mulsa dan tanpa naungan. Peningkatan laju pertumbuhan tanaman tersebut
mencapai 100 % dan 142 %. Diperoleh laju pertumbuhan tanaman terbesar pada
penggunaan mulsa plastik hitam perak dibanding mulsa jerami dan tanpa mulsa
apabila naungan ditingkatkan menjadi 30 %.
Namun demikian apabila naungan ditingkatkan lagi menjadi 60 % maka
terjadi penurunan laju pertumbuhan tanaman, baik mulsa plastik hitam perak, mulsa
jerami maupun tanpa mulsa. Penurunan laju pertumbuhan tanaman berturut-turut
mencapai 46 %, 45 % dan 23 %. Hal ini menggambarkan bahwa naungan 30 %
akan laju pertumbuhan bila dikombinasikan dengan mulsa plastik hitam perak.
Bobot kering total
Bobot kering total tanaman umur 7 minggu, menunjukkan terjadi pengaruh
akibat perlakuan jenis mulsa dan pemberian taraf naungan. Hal ini memberikan arti,
bahwa pemberian jenis mulsa dan taraf naungan yang berbeda akan memberikan
pengaruh yang berbeda terhadap peningkatan hasil bobot kering tanaman bawang
merah (Tabel 4).
7

Tabel 4. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap bobot
kering total tanaman pada umur 7 minggu

Naungan (%) Bobot kering total (g)


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 1,65 a 3,40 b 2,98 b
Mulsa plastik hitam perak 2,78 b 5,27 c 3,16 b
Mulsa jerami 3,30 b 3,23 b 2,90 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.

Tabel 4 terlihat bahwa penggu-naan mulsa plastik hitam perak dan mulsa
jerami dapat meningkatkan bobot kering total tanaman dibanding, tanpa mulsa dan
tanpa naungan.

Indeks luas
Indeks luas daun tanaman bawang merah varietas Palu umur 7 minggu,
menunjukkan bahwa terjadi pengaruh antara perlakuan kombinasi jenis mulsa dan
tingkat naungan. Hal ini menunjukkan perbedaan indeks luas daun tanaman, dengan
pemberian jenis mulsa dan taraf naungan yang berbeda akan menghasilkan indeks
luas daun yang berbeda (Tabel 5).

Tabel 5. Interaksi antara perlakuan Jenis mulsa dan taraf naungan terhadap indeks
luas daun pada umur 7 minggu

Naungan (%) Indeks luas daun


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 1,03 a 1,64 b 1,54 b
Mulsa plastik hitam perak 1,42 b 2,13 c 1,57 b
Mulsa jerami 1,55 b 1,50 b 1,40 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.

Tabel 5 menunjukkan adanya pengaruh interaksi antara perlakuan jenis


mulsa dan naungan terhadap indeks luas daun pada umur 7 minggu. Penggunaan
mulsa jerami maupun mulsa plastik hitam perak dapat menaikkan indek luas daun
dibanding tanpa mulsa dan tanpa naungan. Kenaikan indeks luas daun tersebut
mencapai 37,9 % dan 50,5 %. Akan tetapi bila naungan ditingkatkan menjadi 30 %
maka akan terjadi peningkatan indek luas daun terbesar pada perlakuan mulsa
plastik hitam perak dibanding dengan mulsa jerami dan tanpa mulsa. Namun
penurunan indeks luas daun terjadi bila naungan ditingkatkan lagi menjadi 60 %.
Penurunan tersebut berturut-turut 6 %, 26,3 % dan 6,6 %.
8

Bobot segar tanaman


Bobot segar tanaman bawang merah saat panen, terjadi interaksi antara
perlakuan jenis mulsa dan naungan. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan hasil
bobot segar tanaman bawang merah varietas Palu (Tabel 6).

Tabel 6. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap bobot
segar tanaman setelah panen

Naungan (%) Bobot segar tanaman (g)


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 18,44 a 24,66 b 26,10 b
Mulsa plastik hitam perak 24,74 b 35,35 d 24,13 b
Mulsa jerami 21,68 ab 29,17 c 19,46 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.

Tabel 6 menunjukkan bahwa penggunaan mulsa plastik hitam perak


maupun mulsa jerami dapat meningkatkan bobot segar tanaman dibanding tanpa
mulsa dan tanpa naungan. Peningkatan laju pertumbuhan tanaman tersebut mencapai
34 % dan 17,6 %. Diperoleh bobot segar tanaman terbesar pada penggunaan mulsa
plastik hitam perak dibanding mulsa jerami dan tanpa mulsa apabila naungan
ditingkatkan menjadi 30 %. Namun demikian apabila naungan ditingkatkan lagi
menjadi 60 %, maka terjadi penurunan bobot segar tanaman, baik mulsa plastik
hitam perak, mulsa jerami kecuali tanpa mulsa,. Penurunan bobot segar tanaman
mencapai 31,7 %, 33,3 % kecuali tanpa mulsa meningkat 5,8 %, namun tidak
berbeda.

Jumlah siung
Jumlah siung per rumpun tanaman bawang merah varietas Palu saat panen,
terjadi interaksi antara perlakuan kombinasi jenis mulsa dan pemberian taraf
naungan. Hal ini menunjukkan perbedaan hasil jumlah umbi per rumpun, dengan
pemberian jenis mulsa dan taraf naungan yang berbeda akan menghasilkan jumlah
siung yang berbeda (Tabel 7).

Tabel 7. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap jumlah
siung setelah panen

Naungan (%) Jumlah siung


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 3,98 a 6,47 b 6,00 b
Mulsa plastik hitam perak 6,18 b 9,42 c 6,25 b
Mulsa jerami 6,80 b 6,66 b 5,83 b
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.
9

Data Tabel 7 menunjukkan adanya interaksi antara perlakuan jenis mulsa


dengan taraf naungan. Penggunaan mulsa plastik hitam perak maupun mulsa jerami
dapat meningkatkan jumlah siung bawang merah dibanding tanpa mulsa dan tanpa
naungan. Peningkatan jumlah umbi pada perlakuan mulsa plastik dan mulsa jerami
dibanding dengan tanpa mulsa dan tanpa naungan tersebut mencapai 55,3 %, 70,9
%. Terjadi peningkatan jumlah umbi terbesar pada perlakuan mulsa plastik hitam
perak dan tanpa mulsa, namun penurunan pada mulsa jerami apabila naungan
ditingkatkan menjadi 30 %. Namun demikian jika naungan ditingkatkan lagi
menjadi 60 % jumlah umbi menurun, baik pada perlakuan mulsa plastik hitam
perak, mulsa jerami maupun tanpa mulsa. Penunrunan mencapai 7,2 %, 33,7 % dan
12,5 %. Dari semua perlakuan yang diberikan, terlihat bahwa perlakuan mulsa
plastik hitam yang dikombinasikan dengan naungan 30 % memberikan pengaruh
terbaik terhadap peningkatan jumlah umbi tanaman bawang merah.

Bobot segar umbi


Bobot segar umbi tanaman bawang merah varietas Palu, pada saat panen
menunjukkan pengaruh interaksi antara jenis mulsa dan taraf naungan. Hal ini
menggambar- kan bahwa pemberian jenis mulsa dan taraf naungan akan
memberikan hasil yang berbeda terhadap bobot segar umbi tanaman bawang merah
(Tabel 8).

Tabel 8. Interaksi antara perlakuan jenis mulsa dan taraf naungan terhadap bobot
segar umbi setelah panen

Naungan (%) Bobot segar umbi (g)


0 30 60
Mulsa
Tanpa mulsa 0,45 a 0,80 c 0,71 bc
Mulsa plastik hitam perak 0,74 bc 1,05 d 0.64 b
Mulsa jerami 0,54ab 0,80 c 0,51 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama tidak berbeda nyata pada taraf
uji BNJ = 0.05.

Data Tabel 8 menunjukkan bobot segar umbi tanaman bawang merah


dipengaruhi oleh perlakuan mulsa dan naungan.. Penggunaan mulsa plastik hitam
perak dapat menaikkan bobot segar umbi dibanding mulsa jerami, tanpa mulsa dan
tanpa naungan. Peningkatan bobot segar umbi mencapai 63,8 %. Bobot segar umbi
tanaman tampaknya lebih besar dibanding perlakuan mulsa jerami dan tanpa mulsa
apabila naungan ditingkatkan menjadi 30 %. Namun jika naungan ditingkatkan lagi
menjadi 60 %, maka bobot segar umbi akan menurun, penurunan tersebut berturut-
turut 12,7%, 38,9 % dan 36,4 %.

Modifikasi lingkungan Iklim mikro


Iklim mikro adalah iklim yang berada di antara kanopi tanaman dan
permukaan tanah (Monteith et al., 1980) atau iklim di dalam tanaman (Haines,
1982). Iklim mikro yang diamati adalah radiasi, suhu udara, kelembaban udara dan
suhu tanah.
10

Pengertian modifikasi lingkungan adalah usaha mengubah iklim mikro


dengan tujuan untuk mengoptimalkan lingkungan tumbuh bagi tanaman. Modifikasi
tersebut hanya dapat diarahkan pada unsur iklim tertentu atau kombinasi dari
beberapa unsur iklim. Unsur iklim yang dimodifikasi adalah unsur iklim yang
menjadi faktor pembatas utama dalam kegiatan budidaya tanaman (Tabel 9).
Data hasil modifikasi lingkungan (iklim Mikro) pada Tabel 45, dapat
dijelaskan bahwa radiasi (X1) yang dapat terdeteksi dengan menggunakan alat Lux
Meter. Radiasi yang terdeteksi pada perlakuan tanpa mulsa dan tanpa naungan
sebesar (2493,33 Lux), tetapi tidak berbeda dibanding dengan perlakuan mulsa
plastik, mulsa jerami dan tanpa naungan, tetapi berbeda dengan perlakuan naungan
30 % yang mendapat radiasi sebesar (1723,5 Lux), namun tidak berbeda diantara
perlakuan naungan 30 %. Demikian pula diantara perlakuan naungan 60 % radiasi
tidak berbeda, tetapi berbeda dibanding dengan perlakuan naungan 30 % dan tanpa
naungan.

Tabel 9. Data komponen lingkungan sebelum dan sesudah modifikasi serta


pengaruhnya terhadap hasil bawang merah varietas Palu.

Radiasi Suhu Kelem- Suhu


No Perlakuan cahaya udara baban Tanah
. (X1) (X2) (X3) (X4)
( Lux ) ( oC) (%) ( oC )

1. Tanpa Mulsa + Tanpa Naungan 2493,3 c 34.2 d 76 a 32,10 e


2. Mulsa Plastik Hitam + Tanpa 2494,5 c 34.2 d 76 a 32,10 e
3. Naungan 2492,0 c 34.2 d 76 a 32,10 e
4. Mulsa Jerami + Tanpa Naungan 1717,8 b 30.6 c 79 b 30,12
5. Tanpa Mulsa + Naungan 30 % 1723,5 b 30.3 79 b a-d
6. Mulsa Plastik Hitam + 1718,5 b abc 80 bc 29,60
7. Naungan 30 % 1214,2 a 30.1 82 c a-d
8. Mulsa Jerami + Naungan 30 % 1230,0 a abc 84 c 29,30
9. Tanpa Mulsa + Naungan 60 % 1215,7 a 28.1 ab 86 c a-c
Mulsa Plastik Hitam + 28.3 28,40
Naungan 60 % abc a-b
Mulsa Jerami + Naungan 60 % 28.0 a 28,30 a
28,30 a
Keterangan: Angka yang diikuti huruf sama pada kolom yang sama tidak berbeda
nyata pada taraf uji BNJ = 0.05.

Pengamatan suhu udara (x2) pada perlakuan tanpa naungan adalah rata-rata
(34,2 oC), sedangkan pada perlakuan tanpa mulsa dan naungan 30 % suhu udara
sebesar (30,6 oC), perlakuam mulsa plastik dan naungan 30 suhu udara sebesar
(30,3 oC) dan pada perlakuan mulsa jerami dan naungan 30 % suhu udara sebesar
(30,1 oC) tetapi tidak berbeda diantara perlakuan. Pengamatan kelembaban udara
(X3) pada perlakuan tanpa mulsa, mulsa plastik dan mulsa jerami dengan tanpa
naungan kelembaban udara rata-rata 76 %., sedangkan pada perlakuan naungan 30
% dengan kombinasi mulsa plastik, mulsa jerami dan tanpa mulsa kelembaban udara
sebesar berturut-turut (79, 79 dan 80 %), dan pada perlakuan naungan 60 % ke-
lembaban udara sebesar (82, 84 dan 86 %). Pengamatan suhu tanah pada perlakuan
11

tanpa mulsa, mulsa plastik hitam dan mulsa jerami dan tanpa naungan suhu tanah
rata-rata sebesar 32 oC., pada perlakuan tanpa mulsa, mulsa plastik, dan mulsa
jerami yang diberi naungan sebesar 30 % suhu tanah berturut-turut 30, 29,6 dan
29,30 oC. Sedangkan perlakuan tanpa mulsa, mulsa plastik hitam perak dan mulsa
jerami yang diberi naungan 60 % suhu tanah mencapai berturut-turut 28,40, 28,30
dan 28,30 oC.

Pembahasan
Pertumbuhan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor genetik
maupun lingkungan. Pada percobaan dilakukan perlakuan modifikasi lingkung-an
untuk meningkatkan hasil bawang merah, dengan memberikan mulsa dan naungan.
Awal pertumbuhan tanaman bawang merah varietas Palu, menunjuk-kan
bahwa perlakuan taraf naungan dan jenis mulsa tidak berpengaruh terhadap panjang
daun, jumlah daun, luas daun, berat kering total tanaman dan indeks luas daun
masing-masing pada umur 3 minggu. Hal ini terjadi karena pada awal pertumbuhan,
perkembangan tanaman masih relatif rendah, sehingga tidak terjadi perbedaan antar
perlakuan. Sedangkan peubah nisbah luas daun, laju asimilasi bersih dan luas daun
spesifik tidak berbeda pada semua umur pengamatan. Hasil pengamatan panjang
daun tanaman, luas daun dan indek luas daun menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan pertumbuhan yang sama pada pengamatan umur 5 dan 7 minggu
setelah tanam. Hal ini terjadi karena karakteristik bawang merah dalam proses
perkembangannya begitu pesat sampai pada pembentukan umbi kemudian
memasuki pertumbuhan maksimum.
Pertumbuhan panjang daun tanaman diikuti oleh bertambahnya luas daun
demikian juga pertambahan indeks luas daun. Daun merupakan organ yang sangat
berperanan dalam proses pertumbu-han tanaman, karena daun adalah tempat
berlangsungnya proses fotosintesis. Adanya perbedaan ukuran luas daun akan
berpengaruh terhadap jumlah hasil asimilat yang terbentuk sebagai simpanan
cadangan untuk pertumbuhan suatu tanaman. Peningkatan luas daun diikuti dengan
peningkatan indeks luas daun. Hal ini dapat terjadi karena pada tanaman bawang
memiliki karakteristik morfologi yang berbeda dengan tanaman lain, dimana
tanaman bawang memiliki letak daun yang tegak sehingga tidak saling menaungi
satu sama lain. Berbeda dengan tanaman yang memilki letak daun horizontal yang
dapat mengakibatkan terjadinya saling menaungi terutama daun bagian bawah.
Terjadinya perbedaan antara perlakuan mulsa plastik hitam perak yang dikombinasi
dengan taraf naungan 30 % dan mulsa plastik hitam perak kombinasi dengan taraf
naungan 60 % terhadap panjang daun tanaman, disebabkan karena pada taraf
naungan 60 % intensitas radiasi matahari yang sampai ke permukaan tanaman relatif
rendah, sebab semakin besar taraf naungan yang diberikan maka jumlah radiasi yang
diterima tanaman bawang semakin kecil, suhu semakin rendah dan kelembaban
udara semakin tinggi, mengakibatkan unsur iklim tersebut tidak optimum untuk
pertumbuhan tanaman. Apabila kondisi lingkungan tidak mendukung berarti tidak
ada aktivitas terutama fotosintesis tidak berlangsung. Hal ini sejalan dengan
pendapat Gardner at al. (1985) menyatakan bahwa meningkatnya naungan
cenderung meningkatkan jumlah auksin yang akan mempengaruhi pemanjangan sel,
untuk pembentukan tunas-tunas samping sehingga tanaman lebih tinggi.
Pemanjangan sel ini sering disebut etiolasi, etiolasi ini berkaitan dengan produksi
dan distribusi auksin. Perlakuan jenis mulsa tanpa menggunakan naungan (cahaya
12

penuh) kelihatan tinggi tanaman lebih rendah dan berbeda dengan perlakuan jenis
mulsa dengan taraf naungan 30 % dan 60 %. terutama perlakuan kontrol.
Modifikasi lingkungan dengan pemberian jenis mulsa dan taraf naungan
menunjukkan pengaruh terhadap iklim mikro tanaman bawang merah. Pengaruh
iklim mikro seperti radiasi, suhu udara dan kelembaban udara disajikan pada
(Gambar1).

Gambar 1. Hubungan antara hasil umbi dengan faktor lingkungan (Radiasi, Suhu
udara dan Kelembaban udara)

Gambar 1 menunjukkan bahwa pada perlakuan mulsa plastik hitam perak


dengan tarap naungan 30 persen memperlihatkan terjadinya respon tanaman
terhadap faktor lingkungan (radiasi, suhu udara dan kelembaban). Terlihat bahwa
hasil umbi tertinggi pada perlakuan mulsa plastik hitam perak dan naungan 30 %
dibanding semua perlakuan. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan bobot
segar tanaman, bobot kering angin tanaman, bobot umbi kering angin, jumlah siung
dan bobot segar umbi. Perlakuan taraf naungan 30 persen dengan mulsa plastik
hitam perak memberikan pengaruh terhadap komponen hasil, terutama
menghasilkan bobot segar umbi terbesar (1,048 kg m-2) atau setara dengan 10,48
ton ha-1 sedangkan hasil bobot segar pada perlakuan kontrol sebesar 0,45 kg m-2
atau setara dengan 4,53 ton ha-2. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 45, dimana pada
perlakuan taraf naungan 30 persen kombinasi mulsa plastik hitam perak dipengaruhi
oleh radiasi, suhu udara dan kelembaban udara berada pada kondisi optimum
sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal. Baswarsiati (1997) menyatakan
13

bahwa kemampuan bawang merah untuk beradaftasi sangat ditentukan oleh faktor
lingkungan.
Salah satu komponen hasil yang mendukung meningkatnya hasil bobot
segar umbi adalah jumlah umbi per rumpun. Jumlah siung rata-rata bawang merah
varietas Palu, 9,42 per rumpun akibat perlakuan naungan 30 % dikombinasi dengan
mulsa plastik hitam perak, memperlihatkan hasil tertinggi dibanding dengan semua
perlakuan yang dicobakan, dan terendah pada perlakuan tanpa naungan dan tanpa
mulsa. Peningkatan jumlah umbi diduga karena didukung oleh faktor lingkungan
yang optimum mengakibatkan pembentukan umbi akan berkembang lebih baik.
Hasil penelitian Hanada (1991) menyebutkan bahwa salah satu faktor lingkungan
yang mendukung perkembangan umbi kelompok bawang adalah suhu udara.
Ditambahkan oleh Foyer (1996) bahwa ada hubungan antara terciptanya lingkungan
iklim mikro yang baik terhadap pertumbuhan optimal tanaman. Tanaman yang
cukup unsur hara, air dan iklim mikro mendukung, maka daun akan dapat
melakukan proses fotosintesis dengan optimal.
Pada perlakuan taraf naungan 30 persen kombinasi jenis mulsa plastik
hitam perak., dimana peranan mulsa plastik hitam perak dapat memantulkan cahaya
matahari, akibatnya radiasi matahari tersedia untuk fotosintesis tanaman akan cukup
besar. Di lain pihak permukaan mulsa dari mulsa plastik hitam perak (MPHP) akan
menyebabkan radiasi matahari yang diteruskan menjadi kecil, keadaan ini
mengakibatkan suhu tanah akan tetap rendah (Umbo, 2000).
Rendahnya bobot segar umbi akibat perlakuan cahaya penuh diduga
karena lokasi penelitian di Lembah Palu memiliki kondisi iklim yang spesifik yang
agak ekstrim, terutama radiasi matahari. Radiasi matahari yang terlalu tinggi akan
dapat merusak sistem fotosintesis, karena energi cahaya yang ditangkap berlebihan
sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara penuh. Intensitas cahaya yang ditangkap
oleh tanaman secara berlebihan tidak mempunyai kapasistas untuk membuang
kelebihan energi (Jones, 1992). Besarnya radiasi cahaya pada perlakuan tanpa
naungan dan tanpa mulsa dapat dideteksi dengan angka 2493,3 Lux , diikuti dengan
meningkatnya suhu udara 34,2 oC kondisi iklim mikro tersebut melampaui batas
kebutuhan suhu optimum. Menurut Wibowo (1992) suhu udara yang optimum untuk
pertumbuhan bawang merah adalah 29 - 30 oC. Bila suhu meningkat terlalu tinggi,
dapat menyebabkan membran sel kehilangan kemampuannya untuk mengatur
metabolisme dan mengatur pergerakan zat-zat atau ion dalam sel. Suhu tinggi dapat
mengakibatkan turunnya aktifitas fotosintesis disertai dengan respirasi tinggi
membatasi bahan kering yang dapat diakumulasi, seperti terbukti pada hasil bobot
segar tanaman bawang dengan perlakuan tanpa naungan dan mulsa.
Pada perlakuan naungan 60 persen kombinasi mulsa jerami mengakibatkan
suhu udara turun hingga mencapai 28 oC dengan kelembaban udara 86 %. Bila suhu
rendah membran tidak dapat berfungsi secara baik, (Sugito, 1994).

Kandungan klorofil daun


Klorofil merupakan salah satu molekul dalam daun yang berperan dalam
penyerapan spektrum energi. Kandungan klorofil daun akan berbeda apabila
mendapat intensitas radiasi yang berbeda (Gambar 2).
14

444,42
450 428,89
440
430
Jumlah 420
Klorofil 410 394,89
Daun (μg/g) 400
390
380
370
0 30 60
Naungan ( % ).

Gambar 2. Hasil analisa kadar klorofil daun pada umur 5 minggu.

Gambar 2 menunjukkan bahwa kandungan klorofil daun pada tanaman


bawang merah varietas Palu umur 5 minggu, dipengaruhi oleh pemberian perlakuan
naungan yang berbeda. Pada saat pertumbuhan vegetatif, perlakuan naungan 0 %
(cahaya penuh) kandungan klorofil daun mencapai 428,89 μg/g daun. Namun
apabila naungan ditingkatkan sebesar 30 %, maka kandungan klorofil daun
meningkat menjadi 444,42 μg/g daun atau terjadi peningkatan sebesar 3,6 %.
Kandungan klorofil ini akan menurun lagi apabila naungan ditingkatkan menjadi 60
%. Penurunan tersebut menjadi 394,89 μg/g daun (11,2 %). Data tersebut
menggambarkan bahwa apabila tanaman bawang merah mendapat radiasi penuh
akan mengalami penurunan jumlah kandungan klorofil daun dibanding tanaman
yang mendapat naungan 30 %, sedangkan jika naungan ditingkatkan sebesar 60 %,
maka kandungan klorofil menjadi menurun. Kandungan lorofil daun yang tertinggi
pada perlakuan naungan 30 %. Hal ini dibuktikan dengan hasil pengamatan luas
daun (LD) dan indek luas daun (ILD) pada umur 5 minggu, tertinggi dibanding
tanpa naungan dan naungan 60 %. Sejalan dengan pernyataan Pearce et al., (1987)
tingkat naungan berhubungan dengan indeks luas Daun (ILD) dan luas daun (LD)
dan distribusi daun dalam kanopi tanaman, sedangkan kedua komponen tersebut
merupakan faktor utama yang menentukan intersepsi cahaya yang berpengaruh
terhadap proses fotosintesis, transpirasi dan akumulasi bahan kering. Juhaeti (2001)
melaporkan hasil penelitian terhadap tanaman keladi bahwa pemberian naungan 25
% dapat meningkatkan kandungan klorofil menjadi 130,31 μg/g daun. Pada
penelitian ini pemberian naungan 60 % mengakibatkan terjadinya penurunan
kandungan klorofil daun. Hal ini terjadi karena tidak terjadinya penerimaan cahaya
yang efektif sehingga pembentukan klorofil menjadi rendah. Levit (1980)
menyatakan tanaman yang tumbuh pada tempat yang lebih terlindung mempunyai
titik kompensasi hasil asimilasi yang lebih rendah dibanding dengan tanaman yang
tumbuh pada tempat yang lebih banyak menerima cahaya matahari.
15

KESIMPULAN DAN SARAN

Pengurangan radiasi matahari dengan pemberian naungan sebesar 30 %


(1723,57 Lux) dan mulsa plastik hitam perak mampu menurunkan suhu menjadi
30,3 oC (dari 34,2 oC), menaikkan kelem-baban udara menjadi 79 % (dari 76 %)
dan menurunkan suhu tanah menjadi 29,60 oC (dari 32 oC), sehingga mampu
meningkatkan hasil umbi menjadi 10,48 ton ha-1 (dari 4,3 ton ha-1) meningkat
(131,35 %). Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan Indeks luas daun 2,13
meningkat (106 %), Bobot kering tanaman 28,77 g/tan. meningkat (219 %), dan
Laju pertumbuhan tanaman 3 g/m2/ha. meningkat (294,7 %) dibanding dengan
perlakuan kontrol.
Pengurangan radiasi 30 % dan pemberian mulsa plastik hitam perak
mampu menekan kehilangan air menjadi 16.600 liter/ha/hari, ( 63,7 %) dibanding
tanpa perlakuan mulsa dan naungan, kehilangan air sebesar 45.800 liter/ha/hari.

DAFTAR PUSTAKA

Baswarsiati, L. Rosmahani, E. Korlina, E.P. Kusumainderawati, D. Rachmawati,


S.Z. Saa’dah. 1997. Adaftasi beberapa varietas bawang merah di luar
musim.Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan Pengkajian Komoditas
Unggulan. BPTP Karangploso. Malang, pp 210 – 225.
Biro Pusat Statistik. 1994. Statistik Indonesia. Jakarta, p 202.
Biro Pusat Statistik. 2000. Sulawesi Tengah dalam angka. BPS Kerjasama Kantor
Statistik dengan BAPPEDA Propinsi Sulawesi Tengah, p 102.
Direktorat Bina Produksi Hortikultura. 1999. Bercocok tanam hortikul-tura.
Dirjentan, Jakarta. p 25.
Foyer, C.H. 1996. Source-sink interaction and communication in leaves. In.
Schaffer.Photoasi-milate Distribu-tion in plants and crops. Source-Sink
Relationships. Dept. of Veg. Crops. Volcani Center. Agric. Res.
Organization Ministry of Agric. State of Israel Bet Dagan, Israel. pp.311-
421.
Gardner, F.P; R.B. Pearc dan R.L. Mitchell. 1985. Fisiologi Tana-man Budidaya.
(terjemahan Herwati dan Subiyanto). U. I. Press. Jakarta, pp. 205 – 176.
Hanada, T. 1991. The effect of mulching and row covers on vegetable production.
Exten-sion Bulletin, ASPAC. 32: 22.
Jones, H.G. dan Mann. 1992. Plant and microclimate. Aquantitative approach to
Environmental plant physiology. 2nd edition. Cabridge Univ. Press.
Juhaeti T. 2001. Anatomi dan kandu-ngan klorofil daun keladi tikus
{Thyponium flageliforme (lodd.) BI.} pada berbagai iIntensitas cahaya.
Anatomy and Chlorophyll Content of Rodent Tuber Under Various Light
Intensity. Berita Bio.
Levitt, J. 1980. Respons of plants to environmentals stresses. Dept. ofPlant Biology.
Camergie Inst. Of Washington Stanford. Ca. Vol II. Acad. Press. N.Y. p 25-
507.
16

Maskar., Chatijah dan A. Asni. 1999. Pengujian paket tehnologi budidaya bawang
merah varietas lokal di lahan kering. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Biromaru. TA. 1998/1999. pp. 25-28.
Monteith, J. L., E.J.W. Edwarnold, F.R.S. Barrington, and A.R. Williseed. 1980.
Principle of environmental physics. Edward Arnold, London.
Pearce, R.B., R.H. Brown, and R.E. Blaser. 1987. Photosynthesis in plant
communities as influence by leaf angle. Crop Sci. 7:321-324.
Sugito, Y. 1994. Ekologi tanaman. Diktat Kuliah. Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya, pp. 35 - 44.
Thamrin M., dan H. Hanafi. 1992. Peranan mulsa sisa tanaman terhadap konservasi
lengas tanah pada sistem budidaya tanaman semusim. Pertanian Lahan
Kering dan Konservasi Tanah. Prosiding Seminar Hasil Penelitian P3HTA,
pp. 5 – 12.
Umbo, A. H. 2000. Petunjuk penggunaan mulsa. Penebar swadaya, Jakarta, pp.
62-65.
Wibowo, S. 1992. Budidaya bawang. Seri Pertanian: IXXX/270/88. Penebar
Swadaya. Jakarta. p 201.