Anda di halaman 1dari 72

Metode: Melakukan pemeriksaan kadar Hb donor dengan larutan CuSO4 BJ

1.053.
Prinsip : Penyumbangan darah yang aman bagi donor dan pasien.
Bahan :
- Sampel/ spesimen pasen
- Larutan CuSO4 BJ 1.053
- Alkohol 70%
Cara pemeriksaan:
1. Siapkan larutan CuSO4 BJ 1.053 di dalam Beaker kirakira 20 mL.
2. Desinfeksi ujung jari manis donor dengan kapas alkohol 70%
3. Tusuk jari manis dengan posisi vertikal, gunakan blood lancet.
4. Usap jari donor dengan kapas kering.
5. Ambil darah donor dengan menggunakan capillary tube.
6. Teteskan darah donor ke dalam larutan CuSO4 BJ 1.053, tunggu selama 15
detik.
Pembacaan Hasil:
Terapung < 12 g% (tidak memenuhi persyaratan)
Melayang = 12 g% (tidak memenuhi persyaratan)
Tenggelam 12 g% (memenuhi persyaratan donor)
1.6 Melakukan Pemeriksaan golongan darah
Metode : Slide Test
Prinsip : Antigen + Antibodi = aglutinasi
Bahan : Test sera anti A, anti B, anti D
Alkohol 70%
Cara Kerja:
1. Siapkan reagen di suhu kamar.
2. Tusuk jari manis dengan posisi vertikal, gunakan blood lancet
3. Usap jari donor dengan kapas kering
4. Ambil darah donor dengan menggunakan capillary tube.
5. Teteskan 1 tetes darah donor pada permukaan slide di tiga tempat.
6. Teteskan Anti-A, Anti-B, dan Anti-D masing-masing 1 tetes di atas tetesan
darah donor.
7. Aduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah donor dengan
Tes Sera.
Pembacaan Hasil:
- Aglutinasi : ada antigen pada sel darah merah donor
- Tidak aglutinasi : tidak ada antigen pada sel darah merah donor.
Interpretasi Hasil:
No. Anti- A Anti- B Golongan Darah Anti-D Rhesus
1 + - A + Positip
2 - + B - Negatip
3--O
4 + + AB
1.7 Melakukan Pemeriksaan tekanan darah

Cara Kerja:
1. Donor dipersilakan duduk dan status donor yang telah diisi dan
ditandatangani,
dievaluasi.
2. Lakukan tanya jawab tentang penyakit yang sedang diderita ataupun obat
yang sedang diminum.
3. Lengan donor dilihat an jika tidak ada kelainan lakukan perabaan nadi, nilai
pengisian dan keteraturannya dan hitung berapa nadinya.
4. Lakukan pemeriksaan tensi/ tekanan darah dengan cara:
a. Pasang manset 2/3 lengan atas
b. Taruh stetoskop di lipat siku dalam.
c. Pompa tensimeter sampai angka 200 mmHg, lalu kendorkan.
d. Bunyi pertama yang terdengar adalah sistole
e. Bunyi yang hilang pertama adalah diastole
f. Stetoskop diangkat dan lepaskan manset.
Hasil: Donor dikatakan sehat, apabila:
1. Pada formulir pendaftaran tidak ditemukan riwayat penyakit atau perilaku
yang berisiko tinggi untuk menjadi donor.
2. Pada tanya jawab, donor tidak sedang menderita penyakit atau tidak sedang
minum obat antibiotik atau aspirin.
3. Pada pemeriksaan secara inspeksi: tak ada kelainan pada jangan yang akan
diambil darahnya.
4. Pada pemeriksaan secara sederhana denyut nasi di pergelangan tangan
didapatkan nadi yang pengisiannya cukup dan teratur: 60-80x/ menit.
5. Pemeriksaan dengan menggunakan Tensimeter didapatkan tekanan darah :
Sistole: 90 170 mmHg dan Diastole: 60-110 mmHg

Pengambilan Darah Donor Untuk Transfusi


Proses seleksi donor dimulai sebelum donor datang menyumbangkan darah
mereka melalui program penyuluhan yang memberikan informasi kepada donor
potensial tentang apa dan bagaimana kondisi kesehatan atau perilaku berisiko
yang dapat membuat mereka tidak cocok untuk menjadi donor darah.
1. Pengambilan Darah
1.1. Teknik pengambilan darah dan sampel darah
Pengambilan darah donor dilakukan pada donor yang telah lolos seleksi. Seluruh
proses pengambilan darah harus terdokumentasi dengan baik. Pada saat akan
dilakukan pengambilan darah dan sampel darah perlu diperhatikan teknik
pengambilan darah dan sampel agar mendapatkan darah yang aman.
Teknik pengambilan darah dan sampel darah dilakukan dengan ketentuan
sebagai berikut:
1. Semua prosedur dilakukan secara aseptik, darah harus disadap secara aseptis
menggunakan alat-alat steril.
2. Petugas pengambilan darah adalah teknisi yang mempunyai kompetensi dan

terlatih dalam hal pengambilan darah.


3. Kantong darah harus dipilih yang sudah memiliki izin edar Depkes RI, layak
pakai dan lulus uji mutu oleh instansi/ unit yang berwenang. Untuk setiap
kantong harus ada sistem penomoran kantong darah. Nomor tersebut harus
tertera pada setiap kantong dan selang darah, tabung spesimen dan formulir
pengantar ke laboratorium
4. Aliran darah harus lancar
5. Pengambilan darah harus selesai dalam waktu kurang dari 6 menit.
6. Volume darah yang diambil harus sesuai dengan volume antikoagulan. Masih
dibenarkan apabila volumenya 10% dari volume ideal.
7. Pencampuran darah dan antikoagulan harus baik.
8. Selesai aftap segera simpan darah pada suhu 4oC 2oC
9. Petugas bagian penyadapan darah harus mengenali reaksi yang mungkin
terjadi pada donor setelah penyadapan. Harus ada pedoman penanganan
terhadap reaksi donor, penggunaan alat-alat dan obat-obatan yang mungkin
diperlukan.
10. Penyadapan darah untuk kepentingan pengobatan polisitemia vera
(Phlebotomi) dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
- Ada surat pengantar dari dokter dengan kejelasan volume darah yang harus
disadap.
- Darah tersebut tidak boleh digunakan untuk keperluan transfusi.
11. Label harus melekat pada kantong darah dan mudah dibaca. Tambahan
tulisan tangan harus dibuat dengan tinta permanen dan dapat dibaca.
12. Semua data kegiatan pengambilan darah harus didokumentasikan dan
diarsipkan dengan baik.
1.2. Peralatan dan bahan untuk pengambilan darah
1.2.1. Alat dan Bahan :
1.Tempat tidur
2. Tensi meter
3. Timbangan darah
4. Arteri klem/ pean
5. Hand sealer
6. Gunting
7. Spidol
8. Rak tabung
9. Pinset
10. Tempat Kapas
11. Tempat pinset, gunting, kassa
12. Kantong darah
13. Alkohol semprot
14. Tabung sampel darah dan penutup
15. Meditape
16. Kassa steril
17. Tensoplast

1.2.2. Persiapan petugas sebelum mulai bekerja:


1. Pakai jas laboratorium
2. Cuci tangan dengan sabun
3. Pakai sarung tangan.
1.2.3. Persiapan label/ stiker
1). Siapkan label/ stiker yang memuat:
Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pengambilan Tanggal kadaluarsa
Nama pengambil darah/ aftaper
2) Tempelkan label tersebut pada:
Plastik bag/ kantong darah
Tabung sampel darah donor
Formulir pemeriksaan donor
1.3. Identifikasi kantong darah
Kantong darah dipastikan dalam keadaan baik, tidak bocor, antikoagulan tidak
berubah warna, plastik tidak berjamur. Untuk setiap kantong harus ada sistem
penomoran kantong darah. Nomor tersebut harus tertera pada setiap kantong
dan selang darah, tabung spesimen dan formulir pengantar ke laboratorium.
1.4. Persiapan tusukan vena tangan
Ketika darah berada di luar tubuh, ia menjadi medium yang ideal bagi
pertumbuhan bakteri. Darah tidak dapat disterilkan tanpa menghancurkan
banyak komponennya. Sehingga sangat penting untuk mencegah kontaminasi
saat penyadapan darah. Persiapan terhadap kulit sebelum penyadapan
membutuhkan perhatian yang sama dengan prosedur bedah kecil.
Prosedur persiapan tusukan vena tangan:
1. Lakukan pada daerah yang telah dipilih untuk melakukan venapuncture
pembersihan lekuk lengan bagian depan dengan cara pola lingkaran konsentrik
yang membesar. Daerah yang dibersihkan sebaiknya 10x 10 cm. Gunakan kapas
pembersih yang diusap dengan isoprofil alkohol.
2. Tunggu hingga daerah lengan yang dibersihkan menjadi kering kembali.
Jangan menyentuh daerah yang telah dibersihkan kecuali bila tangan anda
bersih untuk operasi.
1.5. Tata cara pengambilan darah dan sampel darah
Pengambilan darah harus sesuai dengan Prosedur Kerja Standar (PKS) yang ada
pada Unit Transfusi Darah dengan cara kerja sebagai berikut:
1. Donor dipersilakan mencuci lengan dengan sabun antiseptik
2. Donor dipersilakan tidur di tempat tidur yang sudah disediakan dengan
posisi terlentang.
3.Tangan donor ditempatkan lurus di samping, di atas tempat tidur
dengan posisi menghadap ke atas.
4.Tensi meter dipasang dengan posisi slang/ pipa tensi meter di atas.
5. Kantong darah diidentifikasi dan tabung sampel darah sesuai dengan
formulir donor darah, yaitu:
Nomor kantong
Golongan darah

Tanggal pengambilan
Tanggal kadaluarsa
Nama pengambil darah
Jam pengambilan untuk komponen darah
6. Tensimeter dinaikkan sampai batas antara sistole dengan diastole, raba dan
tentukan letak vena dimana akan dilakukan penusukan, tensimeter diturunkan.
7. Kapas beralkohol diambil menggunakan pinset, untuk desinfeksi lokasi yang
akan ditusuk dari satu titik di tengah, dengan gerakan melingkar dari arah dalam
ke luar satu (1 kali). Hindarkan arah berlawanan karena dapat membawa kotoran
ke lokasi penusukan vena.
Kapas alkohol 70% diambil untuk desinfeksi vena dengan cara yang sama 3- 4
kali. Kapas baru digunakan untuk pengulangan.
8. Buatlah simpul longgar pada slang kantong darah 15 cm dari arah jarum.
9. Tempatkan kantong darah di atas timbangan darah. Timbangan darah berupa
timbangan berat atau timbangan khusus yang bergoyang.
10. Naikkan tensimeter kembali sampai batas sistole dan diastole.
11. Lakukan penusukan vena dengan cara:
Buka tutup jarum, posisi lubang jarum di sebelah atas
Tekan secara pelan lengan donor di bawah lokasi di bawah lokasi penusukan
dengan tangan kiri.
Tusukkan jarum 1 atau 2 cm dari vena, dorong sampai berada di tengah vena.
JANGAN SAMPAI MENEMBUS SISI VENA YANG LAIN, BISA TERJADI HEMATOM PADA
LENGAN DONOR.
Aturlah posisi jarum searah dengan vena setelah darah keluar.
Turunkan tensimeter antara 40 mmHg 50 mmHg.
12. Lakukan fiksasi silang di lengan donor dengan menggunakan meditape di 2
(dua) tempat agar kedudukan jarum tidak berubah
13. Kocoklah darah secara perlahan-lahan dan sesering mungkin agar darah
tercampur sempurna dengan antikoagulan.
14. Apabila volume darah sudah tercapai sesuai dengan jenis kantong darah
yang dipakai , jepitlah slang dengan klem A 5 cm dari arah jarum.
15. Serut slang kantong darah dari klem A ke arah kantong darah dengan
menggunakan hand sealer sepanjang 5 cm, kemudian jepit slang kantong
darah dengan klem B 2cm dari klem A. JANGAN MENYERUT SLANG KANTONG
DARAH KE ARAH TUBUH DONOR KARENA BERBAHAYA BAGI DONOR.
16. Potong slang kantong darah di antara klem A dengan klem B, kemudian
kencangkan simpul pada slang.
17. Tempatkan tabung/ botol sampel di ujung potongan slang, buka klem A dan
isilah tabung / botol sampel tersebut dengan darah vena donor langsung dari
slang yang masih ada di tangan donor tersebut.
18. Tutup Klem A.
19. Turunkan tensimeter sampai batas nol.
20. Ambil kapas alkohol 70%, letakkan di atas tusukan vena dengan sedikit
ditekan, kemudian cabutlah jarum dari tubuh donor secara perlahan.
21. Minta donor menekan bekas tusukan pada vena dengan kapas alkohol 70%
tadi dan mengangkat tangan ke atas.
22. Masukkan ke dalam tabung/ botol sampel, darah yang masih tersisa di dalam

slang darah. Tutup jarum kembali, buang slang ke dalam tempat sampah
infeksius.
23. Serut slang kantong darah dengan hand sealer hingga darah masuk ke dalam
kantong darah yang telah tercampur antikoagulan. Ulangi 2-3 kali. Slang
dirapikan.
Cara menyerut slang kantong darah dengan menggunakan hand sealer dan
mengocoknya secara perlahan.
24. Cocokkan nomor sampel dengan nomor kantong dan nomor pada formulir.
Simpan darah dalam blood bank pada suhu 4 oC 2 oC atau biarkan di suhu
kamar bila darah tersebut diperuntukkan untuk komponen trombosit.
25. Periksa luka tusukan pada vena donor, bila tidak ada perdarahan, tutup
dengan tensoplast. Amati 1 menit.
26. Persilakan donor ke ruang istirahat bila tidak ada keluhan dari donor.
2. Pelayanan Donor
Setelah selesai donasi, para donor harus diberi kesempatan untuk beristirahat
minimum duapuluh menit, sehingga tubuh mereka bisa menyesuaikan terhadap
berkurangnya darah. Dalam waktu ini, sekedar minuman dan makanan ringan
perlu diberikan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Donor yang
merasa lemah atau pusing harus dibantu tiduran, dengan kaki lebih tinggi untuk
membantu penyaluran darah ke kepala. Sebelum meninggalkan UTD/ mobil unit,
mereka harus dilihat oleh staf yang telah dilatih untuk memastikan bahwa
mereka telah merasa pulih dan telah mendapat perhatian sebagaimana
mestinya.
3. Pengelolaan kantong darah donor dan sampel
1.Segera setelah penyadapan, darah harus disimpan pada lemari pendingin
karantina, dengan suhu 2 oC -6 oC, kecuali darah yang akan diolah menjadi
trombosit pekat harus disimpan pada suhu antara 20 oC - 24 oC.
2. Spesimen darah donor untuk pemeriksaan serologi
Persiapan untuk Pemeriksaan Serologi:
- Spesimen darah untuk pemeriksaan serologi IMLTD dan konfirmasi golongan
darah masing-masing ditampung di dalam tabung dengan anti koagulan
berpenutup ulir dan diberi identitas yang sama dengan kantong darah asalnya.
- Spesimen untuk uji silang harus disediakan dalam segmen- segmen selang
kantong darah yang telah di seal (minimal 5 segmen). Darah dalam selang
kantong tersebut harus tercampur dengan antikoagulan. Setiap segmen selang
kantong darah harus terdapat nomor kantong darah.
Pengolahan Darah
Pengolahan komponen darah adalah tindakan memisahkan komponen darah
donor dengan prosedur tertentu menjadi komponen darah yang siap pakai.
Dalam proses tersebut aspek kualitas dan keamanan harus terjamin untuk
mendapatkan produk akhir yang diharapkan. Satu unit darah terdiri dari elemenelemen selular dan non selular yang memiliki fungsi beragam. Terapi transfusi
ditujukan untuk mengganti komponen- komponen yang berkurang pada pasien
simptomatik. Setiap produk selalu memiliki risiko terkait, dan perbandingan
risiko/ keuntungan harus selalu dipertimbangkan.. Manfaat darah diolah menjadi

komponen darah di antaranya : pasien memperoleh hanya komponen darah


yang diperlukan, mengurangi reaksi transfusi, mengurangi volume transfusi,
meningkatkan efisiensi penggunaan darah, mengurangi masalah logistik darah,
memungkinkan penyimpanan komponen darah pada suhu simpan yang optimal.
Prinsip pemisahan komponen darah yaitu dengan menggunakan alat steril,
bebas pirogen. Dilakukan dengan cara aseptik. Menggunakan kantong darah
ganda, kantong darah tunggal dengan transfer bag. Ketentuan umum
pengolahan darah diantaranya sebagai berikut:
1. Sterilitas harus diperhatikan pada saat menyiapkan komponen darah.
Komponen darah harus dibuat secara aseptis dengan menggunakan alat-alat dan
cairan steril yang bebas pirogen serta harus menggunakan kantong ganda.
Pembuatan eritrosit cuci sebaiknya menggunakan laminar air flow.
2. Darah untuk pembuatan komponen disimpan pada suhu yang sesuai,
kemudian diolah menjadi komponen maksimal dalam waktu 8 jam sesudah
pengambilan darah.
3. Unit darah yang akan diolah menjadi trombosit harus disimpan pada suhu 20
oC - 24 oC.
4. Untuk menghasilkan trombosit dan Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma)
yang baik untuk mencegah aktivasi dan pembekuan darah, darah harus diambil
dengan trauma minimal. Lama waktu pengambilan darah 4-15 menit.
5. Proses pembuatan Plasma Segar Beku (FFP) dengan sistem tertutup maksimal
dalam waktu 8 jam setelah penyadapan. Apabila komponen tersebut dicairkan
maka komponen dapat disimpan pada suhu 1oC - 6 oC dan harus ditransfusikan
dalam waktu 24 jam, untuk mempertahankan faktor pembekuan yang labil
(Faktor V dan VIII).
6. Segel penutup kantong darah harus dalam keadaan utuh dan tertutup.
1. Definisi darah lengkap dan komponen darah
Darah Lengkap (Whole Blood) adalah cairan yang mengandung bermacammacam sel darah yang bergabung dalam cairan kekuningan yang disebut
plasma. Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(lekosit) dan keping darah pembeku (trombosit). Plasma mengandung
bermacam-macam protein, zat kimia, faktor-faktor pembekuan dan kaya dengan
zat metabolik.
Komponen darah adalah bagian-bagian darah yang dipisahkan dengan cara fisik/
mekanik tanpa menambahkan bahan kimia ke dalamnya ( dengan cara
pengendapan/ pemutaran). Derivat darah/ plasma adalah bagian-bagian darah
yang dipisahkan dengan cara kimiawi (dengan menambahkan bahan kimia pada
proses pembuatannya). Produk darah mencakup keduanya.
Fungsi darah adalah sebagai pengangkut berbagai komponen menuju organorgan di dalam badan. Sel eritrosit dibentuk dalam sumsum tulang, setelah
mengalami pematangan memasuki peredaran darah dengan masa hidup 120
hari., kemudian eritrosit akan pecah dan oleh sel-sel tertentu diangkut ke sistem
retikuloendotelial. Sel-sel pengangkut terdapat di sumsum tulang, hati, limfa dan
kelenjar getah bening.
Sel darah merah mengandung hemoglobin yang mempunyai fungsi utama
sebagai pembawa oksigen menuju jaringan-jaringan di seluruh tubuh.

Hemoglobin merupakan molekul yang komplek dan besar. Terbentuk dari molekul
yang berisi besi (hem) yang berikatan dengan rantai polipeptida (globin).
Hemoglobin adalah cairan kemerahan dalam sel darah merah. Hemoglobin
mempunyai kemampuan untuk mengikat oksigen dan karbondioksida. Peran
utamanya adalah mengangkut oksigen menuju ke jaringan tubuh sehingga tubuh
mendapatkan daya dan panas yang diperlukan. Oksigen diperoleh dari paruparu, lalu dipompakan jantung ke seluruh jaringan tubuh, kemudian oksigen
dalam darah digantikan dengan karbondioksida yang dibawa ke paru-paru,
dilepaskan dan diganti lagi dengan oksigen yang baru untuk diedarkan lagi ke
jaringan-jaringan tubuh. Kadar Hemoglobin (Hb) laki-laki antara 13,5 g/dL sampai
17 g/dL dan wanita 12,0 g/dL sampai 16 g/dL. Kadar Hb dapat diukur dengan
menggunakan metode kolorimetri atau fotometri. Kadar Hb dapat ditaksir
dengan membandingkan berat jenis zat ini dengan berat jenis tembagasulfat
(CuSO4) yang telah diketahui sebelumnya. Kadar minimum: laki-laki yaitu 13,5
g/dL sedangkan wanita 12,5 g/dL, ditentukan dengan meneteskan setetes darah
ke dalam larutan tembaga sulfat (CuSO4) dengan berat jenis 1.053.
Sel darah putih (lekosit), merupakan kelompok sel-sel darah berinti, terdiri dari:
sel sel granulosit dan sel agranulosit. Sel Granulosit terdiri dari netrofil, eosinofil
dan basofil berasal dari sumsum tulang. Sel agranulosit terdiri dari limfosit dan
monosit. Limfosit sebagian kecil dibentuk di sumsum tulang dan sebagian besar
dari jaringan limfe dan thymus. Monosit berasal di suatu jaringan
retikuloendotelial khususnya limpa. Jumlah sel darah putih pada orang dewasa
antara 4.000 sampai 11.000 lekosit/mm3 darah.
Sel trombosit merupakan sel yang lebih kecil dari sel darah merah dan sel darah
putih. Pada orang dewasa jumlahnya antara 150.000 sampai 500.000/mm3 .
Trombosit berperan penting dalam mekanisme pembekuan darah, yaitu dengan
melepaskan zat di tempat luka bersama dengan faktor pembekuan lainnya
dalam plasma akan membentuk anyaman protein yang kuat (fibrin). Fibrin dapat
menangkap sel darah merah sampai terbentuk bekuan yang menghentikan
perdarahan lebih lanjut. Trombosit dapat disimpan selama kurang lebih 5 hari
apabila disimpan dengan baik.
Serum adalah cairan yang di sekeliling sel-sel darah merah yang dibiarkan
membeku. Sedangkan plasma adalah cairan di sekeliling sel-sel darah merah
yang dicegah proses pembekuannya dengan penambahan antikoagulan (zat anti
beku). Mekanisme pembekuan darah terdiri dari jalur intrinsik (kontak
permukaan) dan jalur ekstrinsik (cedera jaringan). Setiap kerusakan atau luka
terhadap pembuluh darah akan mencetuskan jalur pembekuan darah atau
rentetan proses yang akan mengubah fibrinogen yang mudah larut menjadi
fibrin, sehingga terbentuk bekuan yang mantap/stabil untuk mencegah
perdarahan berlangsung.
2. Macam Dan Guna Komponen Darah
Macam-macam komponen darah terdiri dari komponen seluler , misalnya: Sel
darah merah pekat (DMP = PRC (Packed Red Cells) ), sel Darah Merah Pekat
Miskin Lekosit (DMP ML), Lekosit pekat (Buffy Coat) dan Trombosit pekat.
Komponen darah lainnya yaitu non seluler, misalnya: Plasma donor tunggal,
Plasma segar beku (Fresh Frozen Plasma= FFP) dan Kriopresipitat.
Plasma mengandung berbagai protein pembekuan, albumin, imunoglobulin, dan

banyak konstituen lain. Fraksionasi plasma memungkinkan kita secara terpisah


mengambil albumin, gamaglobulin, dan faktor pembekuan (Faktor VIII pekat,
Faktor IX pekat) serta sebagian serin protease seperti alfa 1-antitripsin dan
antitrombin III dari kumpulan plasma donor dalam jumlah besar.
2.1. Darah Lengkap (DL) = Whole Blood (WB)
Darah Lengkap (Whole Blood) adalah cairan yang mengandung bermacammacam sel darah yang bergabung dalam cairan kekuningan yang disebut
plasma. Sel-sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(lekosit). Setelah darah diambil dari donor, ditambahkan larutan pengawet
antikoagulan untuk mencegah pembekuan selama penyimpanan. Komponen
yang terbentuk terdiri sekitar 450 mL darah, diencerkan dengan 63 mL
pengawet antikoagulan. Karena trombosit dan lekosit tidak dapat bertahan hidup
lama pada suhu dingin (1 sampai 6oC), maka darah lengkap (whole blood) yang
disimpan pada suhu 4 2 oC secara fungsional (isi utama) terdiri dari sel darah
merah dan plasma. Albumin dan sebagian besar globulin bertahan selama
penyimpanan, tetapi faktor-faktor pembekuan yang labil mengalami
kemerosotan secara tidak terduga.
2.2. Konsentrat Sel Darah Merah = Darah Merah Pekat (DMP) = Packed Red Cells
(PRC)
Isi utama dalam sel darah merah pekat adalah eritrosit. Darah Merah Pekat
mengandung nilai hematokrit 70%. Suhu simpan 4 2 oC. Pelayanan darah
merah pekat dilakukan melalui uji cocok silang serasi antara darah donor dan
pasen. Apabila dibuat dengan sistem terbuka, maka lama simpan selama 24
jam., sedangkan apabila darah merah pekat dibuat dengan sistem tertutup,
maka masa simpan sama dengan Darah Lengkap asalnya.
Darah merah pekat (DMP) berguna untuk meningkatkan jumlah eritrosit.
Peningkatan Hb dan hematokrit post transfusi DMP yang berasal dari 450 mL
sama dengan Darah Lengkap. DMP bermanfaat untuk mengurangi volume
transfusi, memungkinkan transfusi cocok serasi tidak identik ABO pada keadaaan
darurat (seperti: DMP golongan O). Sel- sel darah merah dapat dipisahkan dari
bagian darah lainnya dengan pemusingan.
Sediaan sel darah merah yang terbentuk tetap memiliki semua kapasitas
mengangkut oksigen darah semula tanpa banyak plasma yang mengencerkan
efek teurapetiknya. Hal ini terutama penting untuk pasen dengan anemia kronis,
gagal jantung kongestif, atau orang lain yang mengalami kesulitan mengatur
volume darahnya. Sel darah merah lebih efektif dibandingkan dengan sel darah
lengkap dalam menyediakan kapasitas mengangkut oksigen dan meningkatkan
hematokrit pasen. Seperti darah lengkap , sel darah merah dengan dengan
Citrate Phosphat Dextrose- Adenin (CPD-A) yang disimpan di dalam lemari
pendingin memiliki waktu simpan 35 hari. Dengan pemakaian larutan
antikoagulan aditif (Aditif solution (AS-1), Adsol dan Nutricel), waktu simpan
dapat diperlama menjadi 42 hari. Jumlah plasma dan sel darah putih yang tersisa
dalam sel darah merah yang disimpan di lemari pendingin tidak cukup untuk
melakukan fungsi yang secara fisiologik bermanfaat, tetapi cukup untuk memicu
imunisasi atau menimbulkan reaksi imun pada resipien.
2.3. Konsentrat Sel Darah Merah Miskin Lekosit = Darah Merah Pekat Miskin
lekosit (DMPML) = Leucopoor PRC

Isi utama darah merah pekat miskin lekosit (DMPML) adalah eritrosit. Suhu
simpan 4 2 oC. Lama simpan selama 24 jam dengan sistem terbuka.
Sedangkan dengan metode tertutup lama simpannya sama dengan Darah
Lengkap asal. Berguna untuk meningkatkan jumlah eritrosit pasen yang sering
memerlukan transfusi darah. DMPML bermanfaat untuk mengurangi reaksi panas
dan alergi. Satu unit sel darah merah biasanya mengandung lebih dari 109
lekosit. Lekosit harus disingkirkan dari konsentrat sel darah merah melalui
pemusingan, pemisahan mekanis dengan menggunakan penyaring, atau
tindakan-tindakan pencucian menggunakan salin atau gliserol.
Gliserol digunakan sebagai zat cryopreservative (pengawet beku) pada sel-sel
darah merah yang dibekukan, tetapi kemudian dicuci dan disingkirkan pada saat
pencairan (thawing) dari penyimpanan. Efisiensi pengurangan lekosit berbedabeda sesuai metode yang digunakan.Apapun metodenya, komponen harus
mempertahankan paling sedikit 80% dari sel darah merah semula. Pengeluaran
lekosit diindikasikan pada orang yang pernah mengalami demam karena reaksi
transfusi non hemolitik terhadap sel darah putih pencemar. Indikasi lain
mencakup pencegahan infeksi sitomegalovirus (CMV) atau aloimunisasi HLA.
Pemusingan adalah cara paling sederhana untuk menyingkirkan lekosit sebelum
transfusi, namun metode ini juga paling tidak efisien. Filtrasi mikroagregat
adalah metode penyingkiran lekosit yang sangat praktis, tetapi juga relatif
inefisien. Saringan deplesi lekosit yang baru merupakan alat paling efektif.
Saringan ini harus digunakan secara empiris apabila pasen pernah mengalami
dua kali reaksi transfusi non hemolitik dengan demam (Febrile nonhemolytic
transfusion reaction, FNHTR). Untuk mencegah FNHTR komponen harus
mengandung lekosit kurang dari 5x 108, sedangkan untuk mencegah CMV dan
aloimunisasi HLA (FNHTR), lekosit yang tersisa harus kurang dari 5x106.
Komponen sel darah merah yang sudah dicuci diindikasikan untuk pasen dengan
defisiensi IgA yang pernah mengalami reaksi anafilaktoid terhadap plasma.
2.4. Konsentrat Sel darah putih = Lekosit Pekat
Isi utama Lekosit Pekat adalah granulosit. Lekosit pekat disiapkan dalam bentuk
Buffy Coat. Volume berkisar antara 50-80 mL. Suhu simpan berkisar antara 20
2 oC. Lama simpan: segera ditransfusikan dalam 24 jam. Lekosit pekat berguna
untuk meningkatkan jumlah granulosit. Pelayanan melalui uji cocok serasi darah
donor dan pasen. Efek samping urtikaria, menggigil, demam. Lekosit pekat
jarang digunakan.
Pada orang dewasa, data yang menunjukkan pemakaian transfusi sel darah putih
pada pasen granulositopenik septik kurang memuaskan, tetapi granulosit buffy
coat segar yang dikumpulkan dari satu atau dua unit darah segar mungkin
bermanfaat dalam penatalaksanaan sepsis pada bayi baru lahir. Cairan ini adalah
suspensi granulosit dalam plasma yang dibuat dengan sitaferesis, yang lebih
tepat disebut granulosit, feresis (granulositoferesis). Komponen ini, sebaiknya
mengandung minimal 1 x 1010 granulosit.

2.5. Konsentrat Trombosit = Trombosit Pekat = Platelet Concentrate


Isi utama Trombosit pekat adalah trombosit. Volume sekitar 50 mL. Suhu simpan

berkisar antara 20 2 oC . Lama simpan: 3 hari tanpa goyangan dan 5 hari


dengan goyangan. Trombosit pekat berguna untuk meningkatkan jumlah
trombosit. Peningkatan post transfusi pada dewasa, rata-rata 5.000-10.000/uL.
Efek samping yang mungkin timbul setelah transfusi trombosit pekat : urtikaria,
menggigil, demam, aloimunisasi antigen trombosit donor.
Saat ini tersedia dua jenis preparat trombosit, yaitu:
1. Konsentrat unit tunggal yang disebut trombosit dari darah lengkap yang
mengandung trombosit lebih dari 5,5 x 1010 yang tersuspensikan dalam
sejumlah kecil plasma.
2. Konsentrat tromboforesis (platelet pheresis consentrates) disiapkan dari
sitaferesis, mengandung minimal 3 x 1011 Trombosit (trombosit, feresis).
Konsentrat tromboforesis dari satu donor mengandung eqivalen 6 8 unit
trombosit yang berasal dari 6-8 donor acak darah lengkap. Prosedur hemaferesis
memungkinkan kita memproses sejumlah besar darah dari satu donor karena sel
darah merah dan elemen lain segera dikembalikan ke donor. Sejumlah besar
plasma, trombosit atau sel darah putih juga dapat diolah dengan teknik ini.
Konsentrasi tromboferesis berasal dari satu donor sehingga mengurangi jumlah
pajanan donor dibandingkan dengan konsentrat yang dikumpulkan secara acak
dan berasal dari darah lengkap. Akibatnya, risiko imunisasi atau infeksi terkaittransfusi berkurang.
Seperti dijelaskan terdahulu, satu unit konsentrat trombosit acak mengandung
trombosit yang dikumpulkan dari satu unit darah lengkap (450 mL darah).
Trombosit dipisahkan dari darah lengkap setelah dimasukkan ke dalam multipack
dan diresuspensikan dalam 50 sampai 75 mL plasma. Trombosit dapat disimpan
sampai 5 hari pada suhu 22oC pada agitator trombosit untuk mencegah
penggumpalan trombosit. Trombosit memiliki masa hidup yang lebih singkat
daripada sel darah merah dan bertahan hidup hanya 8 sampai 10 hari invivo,
dibandingkan 120 hari pada sel darah merah. Kelangsungan hidup in vitro
bahkan lebih singkat. Trombosit memiliki waktu simpan maksimum 5 hari, tetapi
kelangsungan hidup dan efektivitas pascatransfusi sangat menurun selama
penyimpanan.
2.6. Trombosit dengan Pengurangan Lekosit
Apabila diinginkan komponen trombosit dengan jumlah lekosit yang sudah
dikurangi (indikasi sama dengan indikasi sel darah merah), sel-sel darah putih
harus dieliminasi dengan efisiensi yang sama seperti untuk sel darah merah
(yaitu 5 x 108 untuk FNHTR dan < 5 x 10 . untuk pencegahan CMV dan
aloimunisasi).
2.7. Plasma Donor Tunggal
Isi utama plasma donor tunggal adalah plasma. Selain itu berisi pula faktor
pembekuan stabil dan protein plasma. Volume berkisar antara 150-220 mL. Suhu
simpan 4 2 oC dan lama simpan sampai dengan 5 hari setelah tanggal
kadaluarsa darah lengkap asal. Apabila disimpan pada suhu -18 oC atau lebih
rendah, maka penyimpanan bisa sampai 5 tahun. Plasma donor tunggal berguna
untuk meningkatkan volume plasma, meningkatkan faktor pembekuan stabil
(Faktor pembekuan II, VII, X dan XI). Pelayanan yaitu cocok golongan ABO
dengan eritrosit pasen. Efek samping pemberian plasma donor tunggal di
antaranya: urtikaria, menggigil, demam dan hipervolemia.

2.8. Fresh Frozen Plasma (FFP) = Plasma Beku Segar (PSB)


Isi utama fresh frozen plasma (FFP) adalah plasma dan faktor pembekuan labil.
Volume FFP berkisar antara 150 sampai 220 mL. Suhu simpan Fresh Frozen
Plasma (FFP) adalah -18 oC atau lebih rendah. Lama simpan satu (1) tahun. FFP
berguna untuk meningkatkan faktor pembekuan labil apabila faktor pembekuan
pekat/ kriopresipitat tidak ada. Pelayanan untuk FFP adalah cocok golongan
darah ABO dengan eritrosit pasen. Ditransfusikan dalam waktu 6 jam setelah
dicairkan. FFP berguna untuk meningkatkan faktor pembekuan. Efek samping
pemberian FFP adalah urtikaria, menggigil, demam, hipervolemia.
Fresh Frozen Plasma (FFP) merupakan bagian cair dari unit darah lengkap yang
diambil dan dibekukan dalam 6 sampai 8 jam dan disimpan pada suhu -18oC.
Karena diproses sedemikian cepat, plasma beku segar juga mengandung faktor
koagulasi labil (VIII, V), semua faktor pembekuan lainnya, dan protein plasma.
Indikasi utama pemakaian plasma beku segar adalah pada defisiensi faktor
pembekuan dengan gangguan hemostatik di mana masih belum diketahui faktor
pembekuan apa yang menjadi penyebab atau terjadi defisiensi multipel. Plasma
beku segar seyogyanya jarang, kalaupun pernah, diberikan untuk ekspansi
volume. Namun larutan ini dapat secara memuaskan digunakan untuk
rekonstitusi sel drah merah untuk transfusi tukar pada bayi baru lahir.
Plasma yang dibekukan dalam 24 jam setelah pengambilan dan plasma yang
kurang mengandung kriopresipitat adalah produk sampingan persiapan
komponen dan sering lebih murah daripada FFP. Kadar faktor-faktor koagulasi
yang labil lebih bervariasi daripada FFP, tetapi produk ini memiliki kadar faktor
koagulasi stabil, albumin, zat bakterisidal, opsonin dan konstituen lain yang
sama dengan pada FFP. FFP yang kurang mengandung kriopresipitat
(Cryoprecipitate-poor FFP) merupakan komponen pilihan yang digunakan untuk
pengobatan Purpura Trombositopenik Trombotik (PTT) karena tidak mengandung
multimer faktor von Willebrand (vWF) yang diperkirakan penting dalam
patogenesis PTT dan berisi aktivitas protease pemecah vWF.
2.9. Kriopresipitat = Cryoprecipitate
Isi utama kriopresipitat adalah faktor pembekuan VIII, Faktor pembekuan XIII,
Faktor von Willebrand dan Fibrinogen. Suhu simpan -18 oC atau lebih rendah.
Lama simpan selama satu (1) tahun. Kriopresipitat berguna untuk meningkatkan
faktor VIII, XIII, Faktor von Willebrand dan fibrinogen. Pelayanan Kriopresipitat
adalah cocok golongan ABO dengan eritrosit pasen. Ditransfusikan dalam waktu
6 jam setelah dicairkan. Efek samping setelah pemberian kriopresipitat adalah
demam dan alergi.
Kriopresipitat merupakan bagian plasma yang dingin dan tidak larut yang
diproses dari FFP. Kriopresispitat adalah residu gelatinosa yang diperoleh dengan
membekukan dan mencairkan secara lambat plasma yang baru diambil.
Kriopresipitat mengandung 80 sampai 100 IU faktor VIII, vWF dan sekitar 250 mg
fibrinogen (minimum 150 mg) dalam volume 10-15 mL/ unit.
Kriopresipitat bermanfaat untuk mengobati perdarahan ringan sampai sedang
pada pasen dengan penyakit von Willebrand. Apabila diperlukan konsentrasi vWF
yang sangat tinggi, seperti pada perdarahan yang mengancam nyawa atau
untuk prosedur bedah, lebih baik digunakan beberapa konsentrat komersial yang
mengandung vWF.

2.10. Konsentrat Faktor VIII


Komponen ini adalah suatu konsentrat liofilisasi plasma yang berasal dari sampai
30.000 donor, yang terutama mengandung faktor VIII, tetapi juga sejumlah kecil
fibrinogen dan protein lain. Tersedia preparat dengan kemurnian sedang,
kemurnian tinggi dan kemurnian sangat tinggi yang sesuai dengan metode
pemurniannya. Sebagian besar prosedur pemurnian antibodi monoklonal
(afinitas) menghasilkan konsentrasi yang kemurniannya sangat tinggi dengan
hanya sedikit protein pencemar. Kandungan faktor VIII spesifik (unit aktivitas
faktor VIII per mg protein berbeda-beda dan hal ini dicantumkan di setiap
vialnya. Rentang aktivitas faktor VIII total biasanya adalah 800 sampai 1600
IU/mg.
3. Tata cara memisahkan komponen darah
Pemisahan darah menjadi komponen darah, bisa dilakukan dengan cara manual,
sentrifusing/ pemutaran atau dengan Hemaferesis.
3.1. Tata cara memisahkan komponen darah dengan cara manual
3.1.1 Metode open system dengan menggunakan kantong tunggal (single bag)
Komponen darah yang dihasilkan hanya sel darah merah pekat ((Packed Red
Cells= PRC) dengan cara :
- Darah didiamkan dengan posisi tegak selama 24 jam
- Setelah sel darah merah mengendap pada dasar kantong , letakkan kantong
tersebut pada plasma ekstraktor secara perlahan-lahan agar darah tidak
tercampur kembali.
- Slang transfer bag di jepit dengan klem, lalu dilakukan penusukan pada tempat
penusukan yang telah tersedia (outlet port)
- Buka klem dan alirkan plasma ke dalam transfer bag, tinggalkan plasma dalam
kantong utama 2 cm dari permukaan sel darah merah pekat
- Jepit kembali dengan klem slang tersebut.
- Seal slang transfer bag dengan electric sealer atau hand sealer
- Lepaskan kantong utama berisi PRC dari transfer bag
- PRC yang dihasilkan harus segera disimpan dalam blood refrigerator dan harus
ditransfusikan sebelum 6 jam.
- Transfer bag yang telah terisi Liquid plasma tidak dapat digunakan dan harus
dimusnahkan.
3.1.2. Metode Close System dengan Menggunakan Kantong Ganda Dua (Double
Bag)
Komponen Darah yang dihasilkan adalah Sel Darah Merah Pekat (Packed Red
Cells) dan Liquid Plasma (Fresh Frozen Plasma) dengan cara:
1. Kantong satelit diidentifikasi dengan :
Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pengambilan
Tanggal pembuatan
Tanggal kadaluarsa Jenis komponen darah
Suhu simpan
Volume

Petugas
2. Darah didiamkan dengan posisi tegak selama 24 jam
3. Setelah sel darah merah mengendap pada dasar kantong , letakkan kantong
tersebut pada plasma ekstraktor secara perlahan-lahan agar darah tidak
tercampur kembali.
4. Slang penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit di jepit
dengan klem, lalu buka click tip antara kantong utama dengan kantong satelit.
5. Buka klem dan alirkan plasma ke dalam kantong satelit, tinggalkan plasma
dalam kantong utama 2 cm dari permukaan sel darah merah pekat
6. Jepit kembali dengan klem slang penghubung tersebut.
7. Seal slang penghubung dengan electric sealer atau hand sealer
8. Lepaskan kantong utama berisi PRC dari kantong satelit
9. PRC yang dihasilkan segera disimpan dalam blood refrigerator
10. Liquid plasma dalam kantong satelit dapat disimpan dalam blood refrigerator
dan harus digunakan sebelum 6 jam.
3.2. Tata cara memisahkan komponen darah dengan Sentrifusing/Pemutaran
Pilihan Komponen Darah:
A. Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Cells) dan Liquid Plasma (Fresh Frozen
Plasma) dengan cara:
1. Kantong satelit diidentifikasi .
2. Darah berikut mangkok sentrifuge diseimbangkan pada balance
3. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan ke dalam sentrifuge
dengan posisi berhadapan dan kantong darah sejajar kuping cup.
4. Pemutaran darah dilakukan dengan kecepatan 1.500 xG, pada suhu 4 oC
selama 30 menit.
5. Mangkok sentrifuge diangkat perlahan , darah ditempatkan pada kantong
utama pada plasma ekstraktor dengan perlahan agar darah tidak tercampur
kembali, jepit, buka slang penghubung antara kantong utama dengan kantong
satelit.
6. Plasma dialirkan ke dalam kantong satelit, plasma ditinggalkan dalam kantong
utama 3 cm dari permukaan sel darah merah pekat.
7. Selang penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit diseal
dengan elektrik sealer. Slang penghubung digunting. Didapatkan komponen
darah Packed Red Cells (PRC) dan Liquid Plasma (LP). Tulis volume komponen
darah pada label/ identitas.
8. Packed Red Cells (PRC) dan Liquid Plasma ( LP) disimpan dalam lemari
pendingin darah (blood bank refrigerator) pada suhu 2-6 oC.
B. Pembuatan LP menjadi Fresh Frozen Plasma (FFP)
1. Campuran alkohol 96% ditambah Dry Ice disiapkan ke dalam wadah termos
sehingga mencapai suhu -55 oC.
2. Liquid Plasma (LP) dimasukkan ke dalam campuran tersebut selama 30 menit,
atau dimasukkan ke dalam freezer suhu -20 oC atau -30oC.
C. Pengolahan Komponen Darah Dalam kantong Ganda Tiga
Pilihan Komponen Darah:
1. Sel Darah Merah Pekat (Packed Red Cells) , Trombosit pekat (Thrombocyte
Concentrate), Plasma Segar Beku (Fresh Frozen Plasma)/ Plasma Cair (Liquid

Plasma)
2. Sel darah Merah Pekat (Packed Red Cells ) dan Anti Hemophili Faktor (Cryo)
dan Plasma cair (Liquid Plasma)
3. Sel Darah Merah Pekat, Buffy coat (BC) dan Plasma Cair (Liquid Plasma )/ FFP
Ad 1. Sel Darah Merah Pekat (PRC) , Thrombosit pekat (TC), Plasma Segar Beku
(FFP)/ Plasma Cair (Liquid Plasma)
1. Kantong satelit diIdentifikasi terhadap:
Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pengambilan
Tanggal pembuatan
Tanggal kadaluarsa Jenis komponen darah
Suhu simpan
Volume
Petugas
2. Darah berikut mangkok sentrifude diseimbangkan pada balance.
3. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan ke dalam sentrifuge
dengan posisi berhadapan kantong sejajar kuping cup.
4. Putar 375 XG pada suhu 22 oC selama 15 menit.
5. Mangkok sentrifuge diangkat perlahan, kantong utama (Whole Blood)
ditempatkan pada plasma ekstraktor dengan perlahan agar darah tidak
tercampur kembali , jepit, klem plastik/ aluminium ring dipasang pada slang
penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit.
6. Plasma dialirkan ke dalam kantong satelit , plasma ditinggalkan dalam
kantong utama 2 cm dari permukaan sel darah merah pekat.
7. Slang penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit di seal
dengan electric sealer. Kantong utama berisi PRC dilepaskan dari rangkaian.
Pembuatan Plasma menjadi Trombosit konsentrat
1. Plasma Rich Platelet (PRP) berikut mangkok centrifuge diseimbangkan pada
balance.
2. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan pada sentrifuge
dengan posisi berhadapan.
3. Plasma diputar 1500 XG pada suhu 22 oC selama 15 menit.
4. Cup sentrifuge diangkat dengan perlahan, kantong plasma (Platelet Rich
Plasma) ditempatkan pada plasma ekstraktor, jepit dan klem selang penghubung
dilepaskan.
5. Supernatan (Platelet Poor Plasma= PPP) ke dalam kantong satelit II, plasma
ditinggalkan sebanyak 30-50 mL dalam kantong satelit I (Thrombocyte
Concentrate=TC).
6. Slang penghubung PPP dengan TC di seal dengan electric sealer, gunting.
Didapatkan komponen darah PRC, TC dan LP.
Ad.2. Sel darah Merah Pekat (PRC) dan Anti Hemophili Faktor (Cryo) dan Plasma
cair (LP)
1. Kantong satelit diidentifikasi terhadap:

Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pengambilan
Tanggal pembuatan
Tanggal kadaluarsa Jenis komponen darah
Suhu simpan
Volume
Petugas
2. Darah berikut mangkok sentrifude diseimbangkan pada balance.
3. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan ke dalam sentrifuge
dengan posisi berhadapan kantong sejajar kuping cup.
4. Darah (Whole Blood) diputar 1500 XG pada suhu 4 oC selama 30 menit.
5. Mangkok sentrifuge diangkat perlahan, kantong utama (Whole Blood)
ditempatkan pada plasma ekstraktor dengan perlahan agar darah tidak
tercampur kembali , jepit, klem plastik/ aluminium ring dipasang pada slang
penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit.
6. Plasma dialirkan ke dalam kantong satelit, plasma ditinggalkan dalam kantong
utama 3 cm dari permukaan sel darah merah pekat
7. Slang penghubung antara kantong utama dengan kantong satelit di seal
dengan electric sealer. Kantong utama berisi PRC dilepaskan dari rangkaian.Tulis
volume komponen darah pada label identitas.
8. Simpan PRC dalam Blood Bank refrigerator pada suhu 2 oC - 6 oC.
9. Campuran alkohol+ Dry Ice disiapkan dalam wadah termos sehingga suhu
mencapai -55 oC.
10. Masukkan plasma dalam campuran alkohol 96% + Dry Ice dalam wadah
termos selama 30 menit, kantong satelit II ditempatkan di luar termos.
11. FFP disimpan dalam blood bank refrigerator suhu 2 oC - 6 oC selama 12-14
jam.
12. Plasma yang sudah cair berikut mangkok sentrifuge diseimbangkan pada
balance.
13. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan pada sentrifuge
dengan posisi yang berhadapan.
14. Plasma yang sudah cair diputar 1.500 XG pada suhu 4 oC selama 30 menit.
15. Mangkok centrifuge diangkat perlahan, kantong plasma ditempatkan pada
plasma ekstraktor, jepit dan klem slang penghubung dilepaskan.
16. Supernatan dialirkan ke kantong satelit II, plasma ditinggalkan sebanyak 15
20 mL dalam kantong satelit I ( yang berisi AHF).
17. Slang penghubung AHF dengan LP di seal kemudian rangkaian dilepaskan.
18. Tulis volume komponen darah pada label/ identitas.
19. Simpan LP dalam lemari pendingin darah pada suhu 2 oC - 6 oC atau dapat
disimpan beku dalam freezer suhu -20 oC atau -30 oC.
20. Campuran alkohol 96% + Dry Ice disiapkan dalam wadah termos sehingga
suu mencapai -55 oC.
21. AHF dimasukkan dalam campuran alkohol 96% + Dry Ice dalam wadah
termos selama 30 menit atau dimasukkan dalam freezer -50 oC.
22. AHF disimpan dalam Freezer -50 oC.

Ad.3. Sel Darah Merah Pekat, Buffy coat (BC) dan Plasma Cair (LP)/ FFP
1. Kantong satelit diidentifikasi terhadap:
Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pembuatan Tanggal pengambilan
Jenis komponen darah
Suhu simpan Tanggal kedaluarsa
Volume
Petugas
2. Darah berikut mangkok sentrifude diseimbangkan pada balance
3. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan ke dalam sentrifuge
dengan posisi berhadapan kantong sejajar kuping cup.
4. Darah (Whole Blood) diputar 1500 XG pada suhu 4 oC selama 30 menit.
5. Mangkok sentrifuge diangkat perlahan, kantong utama (Whole Blood)
ditempatkan pada plasma ekstraktor dengan perlahan agar darah tidak
tercampur kembali , jepit, klem slang penghubung antara kantong satelit,
gunakan klem plastik atau aluminium ring, buka slang penghubung antara
kantong utama dengan kantong satelit I.
6. Plasma dialirkan ke kantong satelit II sebanyak mungkin, jangan sampai
terbawa sel darah merah.
7. Slang penghubung kantong utama dengan kantong satelit I diseal dengan
klem plastik atau aluminium ring.
8. Alirkan lekosit/ Buffy Coat ke dalam kantong satelit II, klem slang antara
kantong II dengan kantong utama.
9. Klem slang penghubng kantong utama dengan kantong satelit I dibuka, alirkan
plasma ke kantong utama sehingga didapatkan PRC dengan hematokrit tidak
lebih 70%.
10. Slang penghubung kantong utama dengan kantong satelit I diseal dengan
elektric sealer . PRC dilepaskan dari rangkaian.
11. Slang penghubung kantong satelit I, dengan kantong satelit II dibuka. Plasma
dialirkan ke dalam kantong satelit II, sehingga buffy coat tidak terlalu pekat
(berwarna merah muda).
12. Slang penghubung kantong satelit I, dengan kantong satelit II diseal dengan
electric sealer. Rangkaian dilepaskan.
13. Diperoleh komponen darah PRC+ BC + LP.
Volume komponen darah ditulis pada label/ identitas.
Komponen darah ini disimpan dalam blood bank refrigerator pada suhu 2 oC - 6
oC
14. Campuran alkohol 96% + Dry Ice disiapkan dalam wadah termos sehingga
mencapai suhu -55 oC.
15. Liquid Plasma (LP) dimasukkan dalam campuran alkohol 96% + Dry Ice
dalam wadah termos selama 30 menit atau dimasukkan ke dalam freezer -50oC.
Simpan FFP dalam freezer pada suhu -20oC atau -30oC.
D. PENGOLAHAN KOMPONEN DARAH MERAH CUCI (WASHED RED BLOOD CELLS=

WE )
1. Kantong satelit diidentifikasi terhadap:
Nomor kantong
Golongan darah
Tanggal pembuatan Tanggal pengambilan
Jenis komponen darah
Suhu simpan Tanggal kedaluarsa
Volume
Petugas
2. Semua jarum dijepit dengan klem plastik atau aluminium ring.
3. Klem jarum besar satu buah dibuka, pindahkan PRC ke dalam Washing bag.
4. NaCl 0,9% ditambahkan ke dalam washing bag, sampai mencapai volume/
kapasitas dari kantong tersebut, gunakan jarum kecil yang berpasangan dengan
jarum besar tadi.
5. Slang jarum yang sudah terpakai diseal dengan electric sealer, lepaskan dari
rangkaian.
6. Darah dihomogenkan dengan NaCl 0,9%.
7. Darah berikut mangkok sentrifuge diseimbangkan dengan balance.
8. Mangkok sentrifuge yang sudah seimbang ditempatkan di dalam sentrifuge
dengan posisi berhadapan sejajar kuping cup.
9. Putar 1.500 XG pada suhu 4 oC selama 30 menit.
10. Mangkok sentrifuge diangkat perlahan, kantong darah ditempatkan pada
plasma extractor dengan perlahan agar darah tidak tercampur kembali, jepit,
klem jarum besar dibuka.
11. Supernatan dibuang ke dalam wadah yang sudah ada larutan desinfektan di
dalamnya.
12. NaCl 0,9% ditambahkan ke dlam washing bag tadi, sampai mencapai
volume/ kapasitas dari kantong tersebut, gunakan jarum kecil yang berpasangan
dengan jarum besar tadi.
13. Slang jarum yang sudah terpakai diseal dengan electric sealer, lepaskan dari
rangkaian.
14. Lakukan pencucian sampai tiga kali.
15. NaCl 0,9% ditambahkan ke dalam kantong Darah Merah Cuci, sehingga nilai
hematokritnya tidak melebihi 70%. Tulis volume WE pada label/ identitas.
16. WE disimpan di dalam lemari pendingin darah pada suhu 2 oC - 6 oC.
GAMBAR CENTRIFUSING DAN KOMPONEN DARAH
1. Darah donor diputar, kemudian dipisahkan menjadi komponen:
Darah Merah Pekat
Trombosit Pekat
Plasma

2. Darah Lengkap (Whole Blood)

3. Komponen Darah Merah Pekat (Packed Red Cells)

4. Komponen Trombosit Pekat

5. Komponen Plasma Segar Beku


6. Komponen Plasma Cair (Liquid Plasma) dan Kriopresipitat
Penyimpanan Darah Invitro
Penyimpanan darah invitromerupakan upaya untuk mengurangi perubahanperubahan yang terjadi pada sel darah selama disimpan, karena bagaimanapun
suasana invitro sangatlah berbeda dengan lingkungan invivo.
2. Ulasan tentang metabolisme darah invivo dibandingkan dengan darah invitro
1.1. Metabolisme Darah Invivo
Di dalam tubuh manusia normal atau invivo, sel darah terdapat dalam
keseimbangan yang dinamis, yaitu keseimbangan antara pembentukan
(produksi) dan penghancuran (destruksi), sintesis dan pemecahan protein dan
lain-lain. Sel darah memerlukan energi untuk mempertahankan bentuk sel dan
melakukan fungsi sel. Untuk mendapatkan energi, maka sel memerlukan bahanbahan serta oksigen untuk metabolisme. Metabolisme dalam eritrosit merupakan
proses glikolitik (pemecahan glukosa), memerlukan hampir 20 macam enzim,
memerlukan 2 mol ATP, memproduksi 4 mol ATP dengan hasil akhir 2 mol ATP.
ATP merupakan sumber energi, hasil akhirnya asam laktat.
1.2. Metabolisme darah invitro
Umur eritrosit dalam tubuh adalah 120 hari, sehingga setiap hari sekitar 1%
eritrosit hancur dan diikuti pembentukan sel baru. Dalam darah invitro, seeperti
dalam kantung darah, tidak ada keseimbangan antara produksi dan destruksi,
sintesis dan pemecahan protein. Hanya ada destruksi tanpa ada produksi.Di
samping itu kondisi-kondisi lainpun tidak sama, maka penghancuran terjadi lebih
cepat. Sel darah memerlukan energi. Untuk mendapatkan energi perlu
metabolisme yang memerlukan bahan-bahan serta oksigen. Dengan demikian
tujuan penyimpanan darah secara invitro dengan proses yang khusus adalah
untuk memperlambat proses penghancuran untuk mengimbangi ketiadaan

proses peremajaan. Cara yang paling penting untuk penyimpanan darah invitro
yaitu menyimpan darah pada suhu rendah (2 oC - 6 oC) sehingga
metabolismenya diperlambat dan pemberian cadangan kalori yaitu dextrose.
2. Syarat-syarat penyimpanan darah invitro
Cara penyimpanan darah invitroharus dapat harus dapat memenuhi syaratsyarat sebagai berikut:
1. Mempertahankan sel darah tetap hidup
2. Mempertahankan sel darah tetap berfungsi
Harus diperhatikan 2 faktor penting:
1. Suhu simpan
2. Pengawet/ pelindung.
3. Antikoagulan dan cairan pengawet darah
Dalam perkembangannya pengawet dipakai untuk menyimpan darah dalam
bentuk cair, makin lama makin dilengkapi komposisinya dengan tujuan agar
masa simpan darah invitro dapat diperpanjang.
3.1. Pengertian Antikoagulan Dan Cairan Pengawet
Antikoagulan adalah zat yang mencegah terjadinya pembekuan darah.
Antikoagulan yang digunakan untuk kepentingan transfusi adalah sitrat.
Antikoagulan sitrat digunakan sebagai antikoagulan, karena mempertahankan
darah tetap dalam keadaaan cair dengan mengikat kalsium (Ca2+) dalam darah,
aman bagi manusia, efek samping keracunan terjadi apabila konsentrasi tinggi
dengan gejala semutan sekitar mulut dan rasa tertekan pada diafragma akibat
dari turunnya kadar kalsium (Ca2+) dalam darah. Netralisasi sitrat dengan
memberikan kalsium glukonas 10% sebanyak 10 mL untuk dewasa dan 4-6 mL
untuk bayi. Keracunan dapat terjadi pada keadaan transfusi banyak dan cepat,
transfusi pada pasen gangguan hati, transfusi tukar pada bayi 5 mL/ unit.
3.2. Macam-macam antikoagulan dan cairan pengawet
Jenis- jenis antikoagulan dan pengawet darah dalam penyimpanan bentuk cair:
1. Natrium Sitrat konsentrasi 3,4 -3,8%
Merupakan antikoagulan yang paling sederhana, dimana hanya dapat
mengawetkan darah pada 4oC selama 2-3 hari saja.
2. ACD = Acid Citric Dextrose
Dengan penambahan dekstrosa, mas simpan darah dapat diperpanjang menjadi
3 minggu (21 hari). Dekstrose merupakan bahan energi untuk sintesa senyawa
Phosphat organik terutama difosfogliserat (DPG) dan Adenosin triphosphat (ATP).
3. CPD = Citric Phosphate Dextrose
Dengan penambahan senyawa phosphat, maka sel darah mendapat tambahan
sumber energi, kondisi darah dalam larutan CPD umumnya lebih baik dari pada
dalam larutan ACD, yaitu hemolisis yang terjadi lebih ringan, juga viabilitas sel
post transfusi juga lebih baik karena fungsi transpor oksigen lebih baik. Jadi CPD
merupakan penyempurnaan dari ACD. Masa simpan darah dalam larutan CPD
adalah 28 hari.
4. CPD-A= Citric Phosphate Dextrose- Adenin
Dengan menambahkan 17 mg Adenin ke dalam komposisi larutan CPD, masa
simpan darah dapat diperpanjang jadi 35 hari (5 minggu), ini lebih sempurna

lagi, karena adenin jadi menambah kadar ATP darah simpan.


3.3. Sistem Aditif
Sistem aditif atau pengawet penting untuk menjaga daya hidup sel darah merah,
umumnya terdiri dari glukosa (gula) dan adenosine triphosphat (ATP). Sangat
penting untuk menjaga keseimbangan antara ATP, glukosa dan pH. Sistem aditif
yang umum digunakan adalah CPDA, larutan ini mengandung dektrose dan
adenin yang bersama-sama membantu sel darah mempertahankan ATP selama
penyimpanan, serta sitrat yang menjaga agar darah tidak menggumpal.
Penyimpanan pada suhu antara 2 oC sampai 6 oC sangat penting untuk menjaga
agar dekstrose tidak cepat habis.
Penyimpanan darah dalam bentuk cair dan beku
Cara Penyimpanan Darah:
1. Penyimpanan dalam bentuk cair
2. Penyimpanan dalam bentuk beku
4.1. Penyimpanan dalam bentuk cair
Suhu Simpan
1. Komponen komponen darah mempunyai suhu simpan optimal yang berbedabeda.
2. Eritrosit dalam bentuk cair:
Suhu optimal : 4 2 oC
Metabolisme:1/40 x pada 37 oC
Suhu maksimum menyimpan darah adalah 10 oC, di atas suhu tersebut
perusakan eritrosit berlangsung cepat. Suhu 0 oC merusak, karena terjadi
pembekuan air yang dapat merusak membran sel kecuali dengan proses
tertentu.
Suhu simpan komponen darah dalam bentuk cair
Suhu Jenis Komponen
4 oC 2 oC Darah Lengkap
Darah Merah Pekat (PRC)
Plasma
22 oC 2 oC Trombosit Pekat
Leukosit Pekat
4.2. Penyimpanan dalam bentuk beku
Tujuan penyimpanan darah dalam bentuk beku adalah untuk memperpanjang
masa simpan darah invitro.
Komponen darah yang bisa disimpan dalam bentuk beku di antaranya: eritrosit,
trombosit, sel induk darah. Di samping itu Kriopresipitat dan FFP juga disimpan
dalam bentuk beku. Penyimpanan beku trombosit dinilai kurang efisien karena
kerusakan trombosit pada penyimpanan beku lebih dari 5%.
Pelindung: Untuk menyimpan beku eritrosit, dipakai pelindung gliserol Dalam
kadar yang kecil gliserol tidak toksik bagi tubuh. Untuk menyimpan beku sel
induk darah dan trombosit dipakai DMSO (Dimetil Sulfoksida)
Suhu Jenis Komponen
-18 oC 30 oC Plasma Segar Beku
Kriopresipitat
-85oC Darah Merah Pekat

Sel induk darah (Stem cells)


-196oC Sel induk darah (Stem cells)
6.2. Lama simpan darah: bentuk cair/ bentuk beku
1. Lama Simpan Darah Lengkap dalam bentuk cair berdasarkan Jenis Pengawet
Darah
Pengawet Darah Lama simpan
ACD : Acid Citric Dextrose
21 hari
CPD : Citric Phosphate Dextrose
21 hari
CPD-A : Citric Phosphate Dextrose- Adenine
35 hari
2. Lama simpan: Eritrosit maupun sel induk darah dapat disimpan beku selama 3
tahun. Saat ini yang dilaksanakan di sini hanya penyimpanan beku kriopresipitat
dan FFP.
6. Alat-alat dan melakukan cara penyimpanan darah invitro serta kondisi yang
diperlukan
7.1 Alat Penyimpanan Darah
Darah sebaiknya disimpan dalam lemari es khusus untuk darah yang mampu
menjaga suhunya antara 2-6 oC. Apabila tempat anda tidak memiliki lemari es
khusus, dapat digunakan lemari es biasa dengan memperhatikan beberapa hal
berikut:
- pintu lemari es hanya boleh dibuka saat menyimpan dan mengeluarkan darah.
- Penempatan darah harus sedemikian rupa sehingga terjadi sirkulasi udara di
antara kantung-kantungnya. Kantung darah dapat diposisikan berdiri dalam
keranjang atau mendatar di atas rak lemari es.
- Jangan menyimpan darah pada pintu lemari es.
Jangan menyimpan darah di dekat lemari pembeku (freezer)
- Jangan menyimpan makanan dan minuman bersama darah.
7.2. Cara menyimpan darah: bentuk cair/beku,
7.3. Tanda pada alat penyimpan darah,
7.4. Monitoring suhu,
7.5. Penggunaan dan perawatan alat yang baik,
7. Tujuan, manfaat dan kendala penyimpanan darah dalam bentuk beku.
Tujuan penyimpanan darah dalam bentuk beku adalah untuk memperpanjang
masa simpan darah invitro.
Kegunaan:
Penyimpanan beku eritrosit, berguna untuk:
1. Penyimpanan darah langka
2. Menyimpan darah otologus
3. Menyimpan persediaan darah di negara maju
4. Penyimpanan beku sel induk darah berguna untuk keperluan transplantasi
sumsum tulang

Apabila ditemukan suhu penyimpanan tidak berada di antara 2oC sampai 6 oC,
kemungkinan penyebabnya adalah:
- Insulator kotak tersebut tidak bagus atau bocor, sehingga kotak harus diganti.
- Kotak es yang ada tidak cukup banyak.
- Kotak es yang ada kurang dingin atau belum membeku, sehingga lemari
pembeku (freezer) perlu diperiksa.

DISTRIBUSI DARAH
Pengambilan darah dari Lemari Penyimpanan
- Sistem FIFO (First in first out)
- Ambil golongan darah resipien yang ditetapkan.
- Keadaan darah harus baik (tidak hemolisis, tidak berubah warna).
- Kelengkapan dan kejelasan label kantong darah.
3.4. Ketidaksesuaian golongan darah pada pemeriksaan ulang dengan
pemeriksaan pendahuluan harus diinformasikan kepada bagian yang terkait dan
harus diselesaikan/ dikonfirmasikan sebelum darah tersebut dikeluarkan untuk
transfusi.
3.5.Pemeriksaan Kecocokan darah Donor dan Darah Penderita (Reaksi Silang)
Pemeriksaan uji silang serasi adalah suatu rangkaian prosedur yang diperlukan
sebelum darah diberikan kepada resipien. Tujuan pemeriksaan ini untuk
memastikan ada tidaknya aloantibodi pada darah resipien yang akan bereaksi
dengan darah donor bila ditransfusikan atau sebaliknya.
Walaupun golongan ABO dan Rhesus resipien dan donor telah diketahui, mutlak
dilakukan uji silang serasi, karena masih dimungkinkan terjadinya reaksi
transfusi.
a. Spesimen donor
Diambil dari potongan selang kantong darah donor.
b. Pemeriksaan Golongan darah ABO
Golongan darah ABO donor harus diperiksa ulang, walaupun darah tersebut
sudah berlabel golongan darah yang sama dengan golongan darah pasen.
c. Pemeriksaan golongan darah Rhesus (D)
Bila resipien bergolongan Rhesus positip (D+), pemeriksaan ulang Rhesus (D)
darah donor tidak dilakukan. Bila spesimmen bergolongan Rhesus negatip(D-),
pemeriksaan ulang golongan Rhesus (D) dan faktor Du darah donor harus
dilakukan. Hanya darah donor Rhesus negatip (D-), dengan faktor Du negatif
yang dapat diberikan pada penderita golongan darah Rhesus negatif (D-).
d. Ketidaksesuaian golongan darah donor pada pemeriksaan konfirmasi, harus
dilaporkan pada bagian pemeriksaan pendahuluan dan bagian terkait. Hal ini
harus diselesaikan dengan tuntas sebelum darah tersebut dikeluarkan untuk
transfusi.
1. Uji Silang Serasi
Uji silang serasi adalah mereaksikan darah donor dengan darah resipien invitro.
a. Reaksi silang dilakukan antara darah donor dan darah pasien yang sesuai

golongan darah ABO dan Rhesus (D) nya.


b. Reaksi silang Mayor dan Minor
Reaksi silang Mayor, Minor dan Auto kontrol harus dilakukan secara bersamaan
dalam 3 (tiga) fase:
Fase I, fase suhu kamar di dalam medium saline
Fase II, fase inkubasi suhu 37oC di dalam medium Bovine Albumin 22%.
Fase III, Fase Uji Antiglobulin.
b.1 Uji Silang mayor
Dilakukan dengan cara mereaksikan serum pasien dengan sel darah merah
donor. Tujuannya untuk memeriksa ketidakcocokkan karena adanya aloantibodi
regular dan iregular dalam serum pasen terhadap antigen sel drah merah donor.
b.2 Uji Silang Minor
Dilakukan dengan cara mereaksikan plasma donor dengan sel darah merah
pasen. Tujuannya untuk memeriksa ketidakcocokkan karena adanya aloantibodi
regular dan iregular dalam plasma donor terhadap antigen sel darah merah
pasien
b.3 Uji silang autokontrol
Dilakukan dengan cara mereaksikan serum pasien dengan sel darah merah
resipien. Tujuannya untuk memeriksa ketidakcocokkan karena adanya
aloantibodi regular dan iregular dalam serum pasen terhadap antigen sel darah
merah pasen.
2. Hasil Reaksi Silang
a. Bila reaksi silang mayor, Minor, dan Auto kontrol fase I sampai fase III tidak
menunjukkan reaksi hemolisis dan aglutinasi, darah donor tersebut
diinterpretasikan kompatibel (cocok), dan darah dapat ditransfusikan.
b. Bila reaksi silang mayor, Minor, dan Auto kontrol fase I sampai fase III
menunjukkan adanya reaksi hemolisis dan aglutinasi, darah donor tersebut
diinterpretasikan inkompatibel (tidak cocok), dan darah tidak dapat
ditransfusikan.
c. Bila reaksi silang inkompatibel pada minor, darah donor tidak dapat
ditransfusikan. Pemeriksaan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Direct
Coombs Test (DCT) dan uji saring aloantibodi.
3. Kontrol negatip uji Silang
Hasil uji silang negatip harus dilanjutkan dengan penambahan Coombs Control
Cells (CCC). Hasil penambahan CCC harus positip. Jika hasil tetap negatip dan
dinyatakan invalid dan uji silang harus diulang kembali.
4. Uji silang terhadap beberapa unit darah donor
a. Uji silang Mayor
Uji Silang Mayor harus dilakukan dengan mereaksikan serum resipien dengan
masing-.masing sel darah merah donor (tidak boleh di pool)
b. Uji Silang Minor
Uji Silang minor harus dilakukan dengan mereaksikan masing-masing plasma
donor dengan sel darah merah pasien (tidak boleh dipool).
c. Uji Silang Auto kontrol darah pasen
Mereaksikan darah pasen dengann darah merah pasen.
d. Uji silang Auto Pool Darah Donor
Mereaksikan plasma pool donor dengan pool sel darah merah donor. Darah donor

dapat dipool maksimum 3 donor.


e. Uji Silang antar Pool Donor
Mereaksikan plasma pool 1 donor dengan sel darah merah pool 2 donor. Uji
silang antar pool donor dilakukan apabila jumlah donor minimal 6 orang.
f. Uji silang transfusi tukar pada Bayi lahir dengan hemolitik (HDN).
f.1 Uji silang pertama untuk Transfusi tukar (Exchange Transfusion pada bayi)
dilakukan dengan mereaksikan serum bayi dengan sel darah merah donor.
f.2 Lakukan uji direct Coombs Test terhadap sel darah merah bayi.
f.3 Uji silang kedua untuk transfusi tukar. (Exchange Trnasfusion pada bayi)
dilakukan dengan mereaksikan serum bayi dengan sel darah merah donor.
5. Penanganan darah inkompatibel
Darah inkompatibel adalah darah resipien yang pada uji silang serasi
memberikan hasil ketidakcocokkan dengan darah donor, dengan demikian darah
donor tidak dapat ditransfusikan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan
untuk mencari penyebab inkompatibel.
Apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan lanjutan, UTDRS harus merujuk ke
UTD yang mampu melakukan pemeriksaan lanjutan.
Hal-hal yang dapat menyebabkan reaksi inkompatibel antara lain:
1) Kesalahan dalam menetapkan golongan darah
Kesalahan sering terjadi dalam pemeriksaan golongan darah dengan hasil positip
atau negatip palsu, karena:
a. Teknik kerja yang tidak memenuhi PKS
b. Kondisi reagensia dan sel uji ABO yang tidak memenuhi persyaratan
c. Masalah pada kondisi sel darah merah spesimen, yang didapat dari resipien
dengan kondisi:
pasca transfusi darah atau transplantasi sumsum tulang
Antigen lemah, misalnya: subgrup lemah dari antigen A dan Acquired B
(misalnya pada Ca colon, Ca paru, dll).
Penyakit Leukemia atau penyakit keganasan yang lain.
Konsentrasi serum protein yang tidak normal, misalnya: infus makromolekul,
multipel myeloma.
Konsentrasi substansi A dan B yang tinggi dalam serum.
Antibodi yang reaktif pada suhu dingin.
d. Masalah pada kondisi serum spesimen, yang didapat dari resipien dengan
kondisi:
- gumpalan fibrin
- Konsentrasi protein yang abnormal misalnya: formasi Rouleaux, ratio serum
protein, makromolekul plasma expander.
- Terdapat antibodi selain anti-A dan anti-B.
- Bahan pengencer sebagai pengawet sel A dan B mengandung antibodi.
- Kadar imunoglobulin yang rendah.
- Darah bayi usia < 4-6 bulan (tidak terlihat serum typing).
- Titer komplemen yang tinggi pada Anti-A dan anti-B
- Transplantasi dengan ABO berbeda.
Pemeriksaan lanjutan pada ketidakcocokan golongan darah ABO:
1. Periksa ulang dengan memakai sampel darah yang baru. Serum harus
mengandung komplemen, sehingga antibodi yang mengikat komplemen dapat

terdeteksi.
2. Lakukan pemeriksaan darah dengan teknik pre warmed (pemanasan 37C),
untuk kasus Auto Immune Haemolytic Anaemia (AIHA) tipe dingin.
3. Lakukan pemeriksaan Direct Coombs Test (DCT).
6. Kesalahan pada uji silang serasi.
Kesulitan-kesulitan sering terjadi pada uji silang serasi.Untuk mendapat hasil uji
silang yang sempurna, harus dilakukan 3 fase:
Fase 1 : Fase suhu kamar di dalam medium salin.
Fase ini dapat mendeteksi:
Antibodi komplit yang bersifat IgM (Antibodi dingin),misalnya:
- Ketidakcocokkan pada golongan darah ABO.
- Adanya antibodi komplit, seperti: anti M, anti Lewis, anti-N, anti P-1, anti-A1,
anti-H, anti-I.
Fase II: Fase inkubasi 37oC di dalam medium Bovine albumin
Fase ini akan dapat mendeteksi beberapa antibody sistem Rhesus, seperti: anti
D, anti-E, anti-c, dan antibodi lainnya seperti anti-Lewis.
Pada fase ini antibodi inkomplit dapat mengikat sel darah merah sehingga pada
fase III dengan bantuan penambahan Coombs serum terjadi reaksi positip.
Antibodi inkomplit adalah anti-D, anti-E, anti-e, anti-C, anti-c, anti-Duffy, anti-Kell,
anti-Kidd, anti-S, dan lain-lain.
Fase III: Fase Uji Antiglobulin
Semua antibodi inkomplit yang terikat pada sel darah merah di fase II akan
beraglutinasi (positip) setelah penambahan Coombs serum.
Uji silang dapat memberikan hasil negatif palsu, oleh karena itu:
1. NaCl 0,9% (saline) harus bersih, jernih, tidak berwarna dan tidak
terkontaminasi dengan serum.
2. Suhu inkubator harus 37oC.
3. Waktu inkubasi harus tepat.
4. Pencucian sel darah merah harus bersih.
5. Hasil negatip harus dikontrol dengan menggunakan Coombs Control Cells.
Uji silang dapat memberikan hasil positip (inkompatibel), karena:
1. Antibodi inkomplit
2. Autoantibodi dalam serum pasen
3. Antibodi yang tidak termasuk dalam sistem golongan darah
4. Tidak ditemukannya kelainan immunolodi dalam serum pasen.
Langkah lanjutan bila didapatkan hasil darah inkompatibel:
1. Inkompatibel pada Mayor
Darah donor tidak boleh diberikan pada pasen. Lakukan pemeriksaan lanjutan
Skrining dan Identifikasi Antibodi terhadap darah pasen. Bila didapatkan irregular
aloantibodi yang spesifik pada serum pasen, maka dapat dicarikan darah donor
yang tidak melawan antibodi yang ada pada pasen.
2. Inkompatibel pada Minor
Dalam keadaan darurat pasen dapat diberikan darah donor berupa Packed Red

Cells (sel darah merah pekat), bila uji silang mayor negatip.
3. Pada pasien penderita Auti Immune Hemolityc Anemia (AIHA) type hangat,
hasil uji silang serasi selalu inkompatibel.
Dalam keadaan mendesak dapat diberikan darah donor yang hasil reaksi Uji
Silang Serasinya inkompatibel pada mayor dan minor yang hasil reaksinya lebih
lemah dibandingkan reaksi sel darah merah pasien (auto kontrol). Dalam
pemberian transfusi harus berhati-hati, karena ada reaksi aloantibodi yang tidak
terdeteksi dalam pemeriksaan skrining dan identifikasi antibodi. Oleh karena itu
pemberian transfusi harus di bawah pengawasan dokter. Kadar Hb pasien pasca
transfusi tidak boleh melebihi 8 g/dL.
4. Pada pasen penderita AIHA type dingin, transfusi umumnya tidak diperlukan.
Dalam keadaan mendesak transfusi dapat diberikan, dengan cara : darah
sebelum ditransfusi dihangatkan terlebih dahulu, agar sel darah merah donor
tidak disensitisasi atau dirusak oleh auto antibodi penderita. Pemberian transfusi
harus dibawah pengawasan dokter. Washed Red Cell tidak dianjurkan, karena
komplemen dalam darah donor sudah tidak aktif lagi setelah penambahan
stabilisator ACD-A
Ringkasan
1. Setiap orang dewasa sehat yang memenuhi syarat dapat menyumbangkan
darahnya.
2. Darah sebaiknya dipisahkan menjadi komponen-komponen darah.
3. Pemberian komponen darah lebih bermanfaat bagi semua (Pasien, UTD dan
donor darah).
4. Untuk menjaga kualitas darah, petugas harus memakai metode rantai dingin
secara benar, baik dengan metoda sederhana maupun metoda yang kompleks.
Daftar Pustaka
Modul 4, Buku Pedoman Pelayanan Transfusi Darah
SEROLOGI GOLONGAN DARAH
DAFTAR ISTILAH
Aglutinasi : Perlengketan serentak dari se-sel darah merah
Antibodi : Suatu protein pelindung yang dibuat oleh respon imun pada setiap
individu yang distimulasi oleh protein asing. Ia dapat mengenali antigen dari selsel darah merah asing, dan bisa berakibat aglutinasi invivo, serta selanjutnya
terjadi hemolisis
Antibodi yang timbul secara alamiah : Suatu antibodi yang ditemui dalam aliran
darah tanpa rangsangan suatu antigen manapun yang dikenal.
Antigen : Setiap zat yang dikenali sebagai benda-asing oleh tubuh, sehingga
terjadi stimulasi sistem imun untuk menimbulkan respon terhadapnya.
Antiglobulin reagen (AHG) : Suatu reagen pengelompok darah yang bereaksi
spesifik dengan globulin manusia.
Direk antiglobulin test (DAT) : Suatu test yang digunakan untuk mencari adanya
globulin manusia pada permukaan sel-sel yang telah disensitasi
Fenotip : Efek yang terlihat dari gen-gen yang diturunkan; misalnya golongan
darah itu sendiri.
Gen : Unit dasar dari keturunan yang dibawa oleh kromosom

Genotip : Gen-gen yang diturunkan dari tiap orang tua yang berada dalam
kromosom
Hemolisis : Pecahnya (lisis) dari dinding sel-sel darah merah yang akan
melepaskan isinya: haem dan globin. Hemolisis merupakan akibat dari reaksi
antara antibodi-hemolitik dan antigen-spesifik sel darah merahnya, bilamana
terdapat komplemen.
Heterozigot : Suatu keadaan dimana allel gen yang tidak identik membawa
kromosom yang sama
Homozigot : Keadaan dimana dua allel gen identik membawa kromosom yang
sama.
Imunoglobulin : Suatu molekul antibodi yang dibuat oleh sel-sel plasma sebagai
respon terhadap adanya antigen
Invitro : Suatu reaksi yang terjadi diluar tubuh, misalnya reaksi dalam tabung
percobaan.
Invivo : Suatu reaksi yang terjadi didalam tubuh, contohnya pada anemia
hemolitik autoimun
Indirek AntiglobulinTest (IAT) : Suatu cara aglutinasi darah ditabung, biasa
disebut sebagai test Coombs, dimana antibodi-antibodi yang tidak mampu
secara langsung mengaglutinasi dapat terlihat dengan menggabungkannya
kepada reseptor-reseptor sel darah merah dengan cara menguji terhadap serum
antiglobulin.
Komplemen : Suatu protein yang ada dalam serum manusia normal. Ia seringkali
terlibat dengan reaksi-reaksi grup darah, dan kelainan-kelainan imunologi.
Kromosom : Suatu bentuk yang seperti jalinan yang membawa gen. Dia ada
dalam inti sel tubuh.
Low Ionic Strength Solution (LISS) : Titer dari kebanyakan grup antibodi darah
diperkuat jika kekuatan ion dari larutan garam faali diturunkan dari kekuatan
normalnya menjadi 0.2% larutan garam faali didalam larutan 7% glukosa.
Larutan garam faali dengan kekuatan ion yang rendah saat ini telah tersedia
secara komersial.
Plasma : Bagian cair dari darah, sebagai wahana sel-sel dan zat-zat lainnya
seperti protein-protein, faktor-faktor pembekuan dan zat-zat kimia.
Serum grouping : Suatu test untuk mencari antibodi-antibodi ABO didalam serum
atau plasma
Sekretor : Orang yang memiliki gen sekretor yang dominan, dan membuat zat
spesifik golongan darah didalam sejumlah cairan badannya.
Sel yang tersensitisasi : Suatu sel yang diselubungi oleh antibodi, tetapi bukan
teraglutinasi
Serum : Cairan disekeliling sel-sel darah merah yang dibiarkan membeku
Test antiglobulin : Suatu test yang memakai reagen antiglobulin untuk
mengetahui keberadaan globulin manusia pada sel-sel darah merah yang telah
disensitisasi
Uji silang serasi
Suatu istilah yang digunakan untuk menguji serum pasien terhadap sel-sel darah
donor, dan serum donor terhadap sel-sel darah merah psien, sebelum dilakukan
transfusi.

PEMERIKSAAN PRE TRANSFUSI


Tujuan pemeriksaan pretransfusi adalah memilih darah atau komponen darah
yang kompatibel, sehingga dapat menyelamatkan jiwa seseorang dengan tidak
merusak sel darah merah resipien atau merugikan resipien.
Prosedur permintaan darah
Bila memerlukan darah untuk transfusi, maka sekitar 5-10 ml darah resipien
diambil dan dimasukkan kedalam tabung kering untuk memastikan serum yang
cukup banyak untuk melakukan uji silang serasi.
Sampel darah harus diberi pengenal yang jelas dengan nama lengkap pasien,
nomor registrasi rumah sakit serta nama bangsal, kemudian dikirim secepatnya
ke laboratorium bersamaan dengan formulir permintaan darah lengkap.
Formulir permintaan darah
Sebaiknya disertai keterangan tentang pasien, dan harus ditandatangani oleh
dokter yang merawat pasien. Formulir permintaan darah harus berisikan
informasi sebagai berikut :
1. Tanggal permintaan
2. Nama lengkap resipien
3. Tanggal lahir atau usia
4. Jenis kelamin
5. Nomor registrasi rumah sakit
6. Ruang rawat / bangsal
7. Alamat resipien
8. Diagnosis resipien
9. Golongan darah bila sudah diketahui
10. Keberadaan setiap antibodi, bila sudah diketahui
11. Riwayat transfusi sebelumnya
12. Riwayat reaksi transfusi sebelumnya, bila ada
13. Jumlah dan jenis darah atau produk darah yang dibutuhkan
14. Tanggal dan waktu darah dibutuhkan
15. Tanda tangan dokter yang meminta darah
Contoh darah
Pengambilan contoh darah resipien dengan pemberian label yang benar dari
resipien yang akan ditransfusikan merupakan hal yang kritis untuk keselamatan
transfusi darah.
Petugas yang mengambil contoh darah harus mengidentifikasi resipien dengan
membandingkan informasi yang ada didalam formulir permintaan darah dengan
informasi pada tanda pengenal resipien yang ada di rumah sakit tersebut.
Keadaan contoh darah
Untuk pemeriksaan pretransfusi dapat digunakan serum atau plasma. Darah
yang hemolisis tidak dapat digunakan. Hemoglobin yang bebas dalam serum
dapat menutupi hemolisis yang diakibatkan oleh antibodi.
Usia contoh darah
Uji silang serasi harus dilakukan dengan contoh darah yang diambil dalam waktu
<3 hari untuk menghindari inaktivasi komplemen dan kesalahan pendataan.

Konfirmasi identitas contoh darah di bank darah


Bila contoh darah sudah diterima di bank darah, petugas yang berkompeten
harus mengkonfirmasikan kesesuaian contoh darah dengan formulir permintaan
darah. Bila ada keragu-raguan, bank darah harus memperoleh contoh darah
baru. Tidak diperkenankan seseorang memperbaiki atau menyalahkan contoh
darah tersebut.
Penyimpanan contoh darah
Contoh darah resipien dan donor harus ditutup dan disimpan dengan baik pada C
minimal 7 hari setelah transfusi untuk pemeriksaan ulang bilasuhu 2-6 ada
laporan terjadinya reaksi transfusi.
Pendataan
Setiap permintaan darah dan pemeriksaan darah harus ada pendataan yang
lengkap agar dapat dilakukan penelusuran kembali bila dibutuhkan sewaktuwaktu.
Pemeriksaan serologis
Untuk darah lengkap (whole blood) dan komponen darah lainnya seperti sel
darah merah cuci (washed erythrocyte), eritrosit konsentrat, atau thrombosit
konsentrat yang mengandung 5 ml sel darah merah harus di uji silang serasi
dahulu antara darah donor dengan darah resipien.

Pemeriksaan Golongan darah.


Darah adalah suatu suspensi yang terdiri atas plasma dan sel-sel darah. Antigen
(aglutinogen) golongan darah terikat pada sel darah merah sedangkan antibodi
(aglutinin) terdapat dalam plasma darah. Sifat golongan darah adalah
diturunkan, terikat somatik kromosom dan bersifat abadi (kebakaan). Baik
antigen maupun antibodi dari golongan darah terdapat dalam darah kita dalam
bentuk ketidak sesuaian. Pada golongan darah sistem ABO dibagi menjadi 4
golongan yaitu A; B; AB dan O. golongan A terdapat antigen A dan antibodi anti
B; golongan B terdapat antigen B dan antibodi anti A; golongan AB terdapat
antigen AB dan tidak terdapat antibodi; serta golongan O tidak terdapat antigen
dan terdapat anti- A dan anti-B.
Tujuan pemeriksaan :
1. Menentukan adanya antigen A; B; Rhesus pada sel darah merah serta adanya
anti-A dan anti-B pada serum atau plasma / darah.
2. Untuk memastikan tidak ada antibodi-antibodi pada darah pasien yang akan
bereaksi dengan darah donor bila di transfusikan atau sebaliknya.
I. Persiapan
Bahan dan Reagen :
1. Darah pasien
2. Darah donor
3. Anti-A
4. Anti-B
5. Anti-D IgM

6. Anti-D IgG
7. Bovine albumin 22%
8. Coombs serum 9.Larutan saline (NaCl 0,9 %)
10.Aquadest
11.Larutan alsever
12.Low Ionic Strenght Saline (LISS) : 0,2 % larutan garam faali dan larutan 7%
sukrosa.
13.Reagen gel tes.
14.Desinfektan (hipochlorit 0.5%)
15. Detergent
Peralatan yang digunakan pada pemeriksaan golongan darah :
1. Sentrifus untuk pemisahan darah menggunakan tabung reaksi.
2. Serofus untuk pemeriksaan golongan darah metoda tabung.
3. Sentrifus untuk pemeriksaan metoda gel tes.
4. Inkubator 37 C
5. Inkubator 37 C untuk pemeriksaan metoda gel tes.
6. Refrigerator (lemari es)
7. Tabung reaksi ukuran 12 x 75 mm
8. Rak tabung reaksi
9. Pipet pasteur
10. Bloodgrouping plate
11. Pipet adjustable ukuran 200 - 1000 L
12. Pipet adjustable ukuran 5 - 50 L
13. Tissue
14. Objek glass
15. Mikroskop
16. Tips kuning
17. Tips biru
18. Label
19. Spidol white board
20. Wadah melamin untuk mencuci pipet
21. Sarung tangan
22. Masker
23. Jas laboratorium
24. Gunting
25. Kantong plastik hitam untuk limbah
Pemisahan Serum / Plasma dari Sel Darah Merah
Prinsip : Darah sitrat dengan pemutaran akan terjadi pemisahan antara plasma
dan sel-sel darah.
Tujuan : memisahkan plasma dari sel-sel darah.
Kegunaan :
1 Persiapan pembuatan suspensi sel darah merah.
2 Persiapan penentuan antigen golongan darah.
Cara Kerja :
1. Darah dimasukkan ke dalam tabung sentrifius.

2. Putar 3300 rpm selama 1,5-2 menit.


3. Supernatan diambil dengan pipet tetes dan pindahkan ke dalam tabung lain
dan diberi label plasma kemudian disimpan terpisah.
4. Sel darah merah terdapat pada bagian bawah tabung.

Label
sdm plasma
DIPUTAR diberi label
3300 rpm disimpan terpisah
selama 1.5 2 menit
Gambar 9 : Skema pemisahan serum / plasma dari sel darah merah
Pencucian Sel Darah Merah.
Prinsip : Dengan penambahan larutan saline dan pemutaran maka antibodi di
sekitar sel darah merah akan hilang.
Tujuan : Menghilangkan antibodi yang ada di sekitar sel darah
Kegunaan :
1 Persiapan pembuatan suspensi sel darah merah
2 Persiapan penentuan antigen golongan darah
Cara Kerja :
1. Sel darah yang telah dipisahkan ditambah larutan salin sebanyak plasma yang
dibuang.
2. Putar 3300 rpm selama 1,5 2 menit.
3. Supernatan dibuang.
4. Lakukan pencucian sebanyak 3x.
5. Endapan sel darah merah yang telah dicuci merupakan suspensi sel 100 %.

Campur Diputar 3000 rpm


Selama 1,5 2 Menit

Gambar 10: Skema pencucian sel darah merah.


Pembuatan suspensi sel darah merah
% Suspensi Endapan Sel Medium
(Lar Saline) Penggunaan
5%
(1/20)

10%
(1/10)
40%
(2/5) 1 Bagian

1 Bagian

2 Bagian 19

Bagian

9 Bagian

Pemeriksaan Gol. Darah (tube test)3 Bagian


Pemeriksaan silang serasi
Pemeriksaan gol.darah (slide test)
Pemeriksaan gol. Darah Rhesus
Pembuatan suspensi sel darah merah golongan A, B, O dan sel
darah merahnya sendiri

Susp
Susp
Susp
Susp

sel
sel
sel
sel

A : Sel darah gol. A atau pool dari 3 gol A atau lebih


B : Sel darah gol. B
O : Sel darah gol. O
sendiri : Sel darah merah yang akan diperiksa

Gambar 11 : Skema pembuatan suspensi sel A, B, O dan yang akan


Diperiksa.
Pemeriksaan golongan darah sistem ABO.
Pemeriksaan :
1. Cell grouping / cell typing
Memeriksa antigen sel darah merah dengan cara menambahkan anti- A, anti-B
2. Serum grouping / serum typing
Memeriksa antibodi dalam serum dengan cara mereaksikannya dengan sel
golongan A,B dan O
3. Auto kontrol
Memeriksa antibodi dalam serum dengan cara mereaksikannya dengan sel darah
merahnya sendiri

3.1.1 Metoda : Slide / Bloodgrouping plate


Prinsip : Antigen + Antibodi Aglutinasi.
Bahan pemeriksaan : Contoh darah yang akan diperiksa.
Reagensia : 1. Tes serum anti A, anti B
2. Suspensi tes sel gol A, B dan O
3. Suspensi sel darah merahnya sendiri
Alat : 1. Bloodgrouping plate untuk pemeriksaan
golongan darah
2. Pipet pasteur
Cara kerja :
I. Cell grouping / typing
1. Darah diteteskan pada bloodgrouping plate masing-masing satu tetes pada 2
tempat.
2. Pada tetes darah pertama tambah anti A, pada tetes darah ke dua tambah
anti B. Goyangkan bloodgrouping plate dengan gerakan keatas dan kebawah
hingga tercampur dengan baik.
3. Baca ada tidaknya aglutinasi.
II. Serum grouping /
ping
1. Serum / plasma diteteskan pada bloodgrouping plate masing-masing satu
tetes pada 4 tempat.
2. Pada tetes serum pertama di tambah sel A 10%, pada tetes serum ke dua di
tambah sel B 10%, pada tetes serum ke tiga di tambah sel O 10% dan pada tetes
serum ke empat di tambah sel contoh darah yang diperiksa.
3. Goyangkan bloodgrouping plate dengan gerakan keatas dan kebawah hingga
tercampur dengan baik
4. Baca ada tidaknya aglutinasi
Hasil pengamatan :
Cell grouping/typing
Gol darah Anti A Anti B
A+B-+
O-AB + +

Serum grouping/typing
Gol darah Sel A Sel B Sel O Auto kontrol
A-+-B+---

O++-AB - - - -

Gambar 13 : Skema pemeriksaan golongan darah metoda Slide

Contoh gambar dari bloodgrouping plate

Metoda : Tabung reaksi.


Prinsip : Antigen + Antibodi Aglutinasi.
Bahan pemeriksaan : Contoh darah yang akan diperiksa.
Reagensia : 1. Tes serum anti A, anti B
2. Suspensi tes sel 5 % A, B, O dan sel darah yang akan diperiksa
Cara kerja :
1) Pisahkan plasma dari sel darah
2) Cuci sel darah 3 kali dan buat suspensi sel 5% dalam salin
3) Cell grouping/typing :
1. Ke dalam 3 tabung pertama , teteskan berturut-turut :
1 tetes anti A, 1 tetes anti B.
2. Dengan pipet pasteur , teteskan masing-masing 1 tetes supensi sel 5% dari
darah yang diperiksa pada setiap tabung berisi anti serum di atas.
4) Serum grouping/typing :
1. Ke dalam 4 tabung berikutnya teteskan masing-masing 2 tetes serum / plasma
darah yang diperiksa.
2 Pada masing-masing tabung berisi serum / plasma di atas teteskan berturutturut : 1 tetes tes sel A, 1 tetes tes sel B , 1 tetes sel O , dan 1 tetes suspensi sel
5% dari darah yang diperiksa.
5) Kocok dengan baik sampai isinya tercampur .
6) Putar 3400 rpm 15 detik / 1000 rpm 1 menit baca
+ terjadi aglutinasi / hemolisis.
- tidak terjadi aglutinasi / hemolisis.

Gambar 14 : Skema pemeriksaan golongan darah metoda Tabung Reaksi

Pemeriksaan golongan darah Rhesus


Metoda : Slide dengan bloodgrouping plate
Bahan : Tes serum anti D IgM
Bovine Albumin 22% (kontrol reagen)
Contoh darah yang akan di periksa.
Alat : Bloodgrouping plate
Pipet pasteur
Cara Kerja :
1. Buat suspensi sel 40% dari darah yang diperiksa dalam salin atau serum /

plasmanya.
2. Teteskan 1 tetes anti D IgM pada bloodgrouping plate di sebelah kiri dan 1
tetes bovine albumin (BA) 22% pada bagian lain di sebelah kanan.
3. Dengan pipet pasteur teteskan masing-masing 1 tetes suspensi sel 40% pada
tetesan anti-D IgM dan BA 22%.
4. Goyangkan bloodgrouping plate keatas dan kebawah hingga tercampur dan
diamati apakah terjadi reaksi aglutinasi.
Anti D IgM BA 22% Gol. darah
Pembacaan : + - Rh Positif (D+)
- - Rh Negatif (D-)

Metode : Tabung reaksi (Tube test)


Bahan :
1. Test serum anti D IgM
2. Bovine Albumine 22 %
3. Contoh darah yang akan diperiksa
Alat :
1. Tabung reaksi ukuran 12 x 75 mm
2. Pipet pasteur
3. Water bath 370 C
4. Sentrifius
Cara Kerja :
1. Buat suspensi sel 5% dari darah yang diperiksa
2. Sediakan 2 buah tabung reaksi =
tabung I: isi dengan 1 tetes anti D IgM
II: isi dengan 1 tetes Ba 22 %
3. Teteskan ke dalam setiap tabung suspensi sel 5 % darah yang diperiksa
4. Kocok-kocok kedua tabung agar isinya tercampur.
5. Biarkan 5 menit pada suhu kamar atau pada suhu 370 C
6. Putar kedua tabung di dalam centrifiuse dengan kecepatan 3400 rpm 15 detik
atau 1000 rpm 1 menit.

7. Baca Reaksi yang terjadi.


Pembacaan :
Tb I Tb II Golongan Darah
+ - Antigen D (+) = Rhesus positif
- - Antigen D (-) = Rhesus negatif
Semua sampel darah dengan Rhesus negatip harus dilanjutkan kedalam
pemeriksaan Du
Pemeriksaan antigen Du
Bahan :
1. Semua sampel darah Rh neg (D-)
2. Salin (Nacl 0,9%)
3. Serum coombs
4. Test serum anti D Blend
5. Bovine Albumine 22 %
Alat :
1. Tb reaksi ukuran 12 x 75 mm
2. Pipet pasteur
3. Water bath 370 C
4. Sentrifius
Cara Kerja :
1. Lakukan pemeriksaan dengan metode tabung seperti pada pemeriksaan
Rhesus (lihat 3.2.2.).
2. Cuci sel darah sebanyak 3 kali dengan salin. Pencucian terakhir buang seluruh
supernatan salin.
3. Tambah 2 tetes serum coombs pada endapan sel dalam setiap tabung,
putar 3400 rpm 15 detik.
4. Baca reaksi secara makroskopis dan mikroskopis.
Tabung I Tabung II Golongan Darah
+ - Rhesus (-) , Du Positif
- - Rhesus (-) , Du negatif
5. Bila hasil tes coombs tetap negatif, teteskan 1 tetes sel uji coombs,
putar 3400 rpm 15 detik atau 1000 rpm 1 menit.
6. Pembacaan hasil reaksi :
- Hasil positif menunjukan bahwa pemeriksaan benar dan berlaku.
- Hasil negetif menunjukan bahwa pemeriksaan tidak benar, tidak berlaku dan
harus di ulang.
Gambar 15 : Skema pemeriksaan golongan darah sistem Rhesus.

POKOK BAHASAN 5

Pembuatan Coombs Control Cells (CCC).


Coombs control cells adalah sel darah merah yang diselimuti antibodi IgG.
Kegunaan : - Mengontrol hasil tes Coombs negatif.
- Menguji Coombs serum ( baik / rusak ).
Bahan / reagen tambahan : 1. Anti D IgG
2. Darah sitrat gol. O Rhesus positif.
Cara Kerja :
1. Sel darah merah gol. O Rh positif dicuci 3x.
2. Dibuat suspensi sel 5 %.
3. Pada tabung lain teteskan anti D IgG 1 tetes, kemudian tambah lar. salin 63
tetes dan suspensi sel 32 tetes.
4. Campur merata.
5. Simpan pada inkubator 37oC selama 30 menit.
6. Putar 3400 rpm selama 15 detik.
7. Buang supernatan, kemudian kemudian sel dicuci x.
8. Suspensi sel 5 % tadi ditambah lar. salin 32 tetes adalah sel uji Coombs. Tahan
1 minggu pada suhu 2-6C.

Gambar 12 : Skema pembuatan Coombs Control Cells

PEMERIKSAAN UJI SILANG SERASI


Metoda Bovin Albumin.
Fase I
I : Mayor : Darah donor di test dengan serum R.
II : Minor : Darah resipien di di test dengan serum D.
Serum / plasma = 2 tetes
Suspensi sel 5% = 1 tetes
Putar 1000 rpm 1 menit
Positif = Algutinasi / hemolisis : inkompatibel
Negatif = Tidak ada aglunitasi / tidak hemolisis : lanjutkan F II
Fase II
Tambah masing-masing 2 tetes BA 22% kemudian kocok
Inkubasi 37 c 15 menit
Putar 1000 rpm 1 menit
Positif = Inkompatibel
Negatif = F III
Fase III
Cuci dengan salin 3 kali, buang supernatan .
Tambah 2 tetes serum coombs kemudian kocok.
Putar 1000 rpm 1 menit.
+ inkompatibel
- lakukan tes vadilitas
Test Validitas :
Tambah 1 tetes sel CCC pada ke 2 tabung
Putar 1000 rpm 1 menit
Hasil :
- reaksi silang serasi tidak benar dan tidak berlaku (invalid) harus ulang.
+ reaksi silang serasi benar dan berlaku ( valid), darah cocok dan boleh
diberikan sesuai permintaan.

Gambar 16: Skema persiapan reaksi silang serasi.

Gambar 17 : Skema Fase I

Gambar 18 : Skema Fase II

Gambar 19 : Skema Fase III

Metoda Gel Test


Bahan :
Darah donor.
Darah pasien.
Reagen :
LISS ( Low Ionic Strength Solution )
Gel untuk pemeriksaan Uji Silang Serasi Metoda Gel Test
Alat :
Pipet otomatis 5 ul
Dispenser 500 ul
Gunting
Sarung tangan
Tip kuning
Tabung reaksi 12 x 75 mm & raknya.
Sentrifius untuk pemeriksaan gol darah Metoda Gel Test
Inkubator 370 C untuk pemeriksaan gol darah Metoda Gel Test
Tissue
Cara kerja :
1. Siapkan 2 buah tabung ukuran 12 x 75 mm.
i. Tabung 1. diisi dengan 5 ul sel darah merah donor
tambah 500 ul larutan pengencer ( LISS )
ii. Tabung 2. diisi dengan 5 ul sel darah merah pasien
tambah 500 ul larutan pengencer ( LISS )
2. Suspensi sel dari tabung 1 diambil 50 ul kemudian, masukkan ke dalam
tabung gel 1 (Mayor) kemudian, tambahkan plasma pasien sebanyak 25 ul.
3. Suspensi sel dari tabung 2 diambil 50 ul kemudian, masukkan ke dalam
tabung gel 2 (Minor) kemudian, tambahkan plasma donor sebanyak 25 ul.
4. Suspensi sel dari tabung 1 diambil 50 ul kemudian, masukkan ke dalam
tabung gel 3 (Auto k) kemudian, tambahkan plasma donor sebanyak 25 ul.
5. Tabung gel diketuk-ketuk sampai campuran sel darah dan plasma turun ke
dalam sel.
6. Tabung gel di inkubasi pada suhu 370 C selama 15 menit.
7. Tabung gel diputar 1000 rpm selama 10 menit.
8. Baca hasilnya.

Gambar 22 : Reagen Gel Test

Gambar 23 : Cara memasukkan bahan pemeriksaan ke dalam tabung gel.

Gambar 24 : Hasil positif atau negatif pada pemeriksaan Gel Test

Gambar 25 : Inkubator dan sentrifius untuk pemeriksaan Gel Test

ANTIGLOBULIN TEST
Pada tahun 1945 Mourant, Coombs dan Race menemukan pemeriksaan untuk
mendeteksi antibodi yang tidak beraglutinasi atau antibodi yang menyelimuti sel
darah merah dalam serum. Pemeriksaan yang sama dilakukan juga untuk
mendeteksi atau memperlihatkan penyelubungan (coating) sel darah merah
invivo dengan antibodi dan komplemen. Test ini disebut antiglobulin test
Antiglobulin test dalam imunohematologi ada 2 bentuk, yaitu :
1. Direkt Antiglobulin Test (DAT) atau yang disebut juga Direkt Coombs Test (DCT)
2. Indirekt Antiglobulin Test (IAT) atau Indirekt Coombs Test (ICT)
Direkt Antiglobulin Test (DAT) atau DCT
DAT digunakan untuk mendeteksi antibodi atau komplemen yang menyelubungi
sel darah merah invivo dengan menggunakan AHG, terutama IgG dan C3d.
Setelah sel darah merah dicuci dengan saline kemudian ditambahkan reagen
AHG. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi, misalnya penyakit Auto
Immune Hemolytic Anemia (AIHA), drug induced hemolysis, allo imun reaksi oleh
karena reaksi transfusi.
Indirekt Antiglobulin Test (IAT) atau ICT
Digunakan untuk mendeteksi reaksi antara sel darah merah dengan antibodi
atau komplemen yang melekat/menyelubungi pada sel darah merah invitro.
Serum pasien diinkubasikan dengan sel darah merah, kemudian sel darah merah
dicuci dengan saline dan ditambahkan AHG. Adanya aglutinasi setelah
penambahan AHG menandakan, bahwa serum tersebut mengandung antibodi
yang reaktif dengan antigen-antigen yang terdapat pada sel darah merah.
Pemeriksaan ICT dapat digunakan pada pemeriksaan skring, identifikasi antibodi

dan uji silang serasi.


Macam-macam reagen anti human globulin
1. Reagen AHG polyspesifik mengandung anti-IgG dan anti-C3d
2. Reagen AHG monospesifik mengandung hanya 1 macam antibodi, misalnya
anti-IgG, anti-C3d, IgM dll.
Polyspesifik AHG
Polyspesifik AHG digunakan untuk pemeriksaan uji silang serasi, mendeteksi
adanya allo antibodi dan direkt coombs test.
Polyspesifik AHG mengandung antibodi terhadap IgG manusia dan anti
komplemen C3d dari komplemen manusia. Selain mengandung anti-IgG dan antiC3d, mungkin juga mengandung, misalnya anti-C3b, antiC4b dan anti-C4d.
Antibodi yang mempunyai arti klinis yang penting adalah IgG, sehingga fungsi
yang paling penting dari AHG adalah mendeteksi adanya IgG. Reagen ini
disiapkan dan distandarisasi untuk mendeteksi berbagai macam IgG antibodi.
Aktivitas anti-C3d sangat penting artinya untuk pemeriksaan DCT pada
pemeriksaan AIHA, karena kemungkinan C3d merupakan globulin satu-satunya
yang dapat dideteksi pada sel darah merah penderita AIHA.
TEKNIK ANTIGLOBULIN
Teknik pemeriksaan DCT
1. Siapkan 2 buah tabung (tabung 1 dan 2) ukuran 12 x 75 mm, kemudian
masukkan kedalam masing-masing tabung 1 tetes suspensi sel darah merah 5%
yang akan diperiksa.
2. Cuci sel darah merah dengan saline dengan cara mengisi saline kedalam
tabung, kemudian diputar dengan sentrifus selama 1 menit pada 1000 rpm atau
3400 rpm selama 15 detik.
3. Buang saline dengan membalikkan tabung dengan cepat.
4. Lakukan hal diatas sebanyak 3-4 kali
5. Tambahkan 2 tetes AHG sesuai dengan petunjuk pemakaian dari perusahaan
yang mengeluarkan AHG pada tabung 1, sedangkan pada tabung 2 masukkan 2
tetes saline (sebagai negatip kontrol), kemudian putar kembali.
6. Baca hasil reaksi dengan menggoyangkan tabung perlahan-lahan
7. Hasil pembacaan :
Tabung 1 Tabung 2 Keterangan
+ - Ada antibodi yang melekat pada sel darah merah
- - Tidak ada antibodi yang melekat
+ - Pada hasil yang negatip tambahkan 1 tetes Coombs Control Cell dan putar
kembali dengan sentrifus
Teknik pemeriksaan ICT
1. Siapkan tabung ukuran 12 x 75 mm sesuai kebutuhan. Tambahkan 2 tetes
serum yang akan diperiksa kedalam masing-masing tabung
2. Tambahkan 1 tetes sel darah merah segolongan atau sel panel dengan

suspensi sel 5%
3. Putar selama 1 menit pada 1000 rpm atau 3400 rpm selama 15 detik. Baca
hasil reaksi (Fase I)
4. Tambahkan 2 tetes Bovine albumin kedalam setiap tabung, kocok-kocok
sebentar kemudian
C selama 15 menit5. Inkubasi 37
6. Putar baca hasil reaksi (Fase II = fase bovine albumin)
7. Cuci sel darah merah 3-4 x dengan saline
8. Tambahkan 2 tetes coombs serum dan putar kembali. Baca hasil reaksinya
9. Semua hasil reaksi yang negatip ditambahkan 1 tetes coombs control cells,
putar kembali, kemudian baca hasil reaksinya.

Sumber-sumber kesalahan
Penyebab hasil false negatip atau negatip palsu
1. Tidak mencuci sel darah merah dengan bersih dan baik, menyebabkan hasil
pemeriksaan menjadi false negatip, karena globulin yang bebas yang tidak
melekat pada sel darah merah akan menetralisir AHG
2. Reaksi false negatip dapat terjadi bila pemeriksaan tertunda. Pelaksanaan
proses pencucian harus dilakukan secepat mungkin untuk mengurangi
kemungkinan kehilangan antibodi yang terlepas dari sel.
AHG harus ditambahkan segera setelah proses pencucian selesai, kalau tidak
antibodi yang telah mengadakan ikatan akan terlepas kembali
3. Reagen dapat kehilangan reaktivitasnya bila penyimpanan reagen tidak benar
dan kontaminasi dengan bakteri atau serum manusia. AHG harus disimpan pada
C dan jangan dibekukan.suhu 2-8
4. Lupa menambahkan AHG. Hal ini dapat dicegah dengan menggunakan AHG
yang berwarna.
5. Penggunaan sentrifus yang tidak benar. Putaran sentrifus yang lambat,
membuat reaksi aglutinasi menjadi tidak optimal atau sebaliknya.
6. Jumlah sel darah merah yang terdapat pada pemeriksaan mempengaruhi
reaktivitas. Reaksi menjadi lemah bila menggunakan sel darah merah terlalu
banyak, atau sebaliknya.
7. Reaksi prozon kadang-kadang penyebab pemeriksaan antiglobulin menjadi
tidak reaktif.

Penyebab positip palsu atau false positip


1. Sel darah merah sudah beraglutinasi sebelum sel darah merah dicuci. Apabila
aglutinasi pada saat itu tidak terlihat, maka setelah penambahan AHG
pembacaan reaksi aglutinasi dapat disalah interpretasikan sebagai akibat
perselubungan IgG atau komplemen.
2. Tabung gelas atau plastik yang tidak bersih dan terkontaminasi dengan debu,
detergen atau material lain dapat mengakibatkan sel darah merah menggumpal
atau agregasi.
3. Putaran sentrifus yang berlebihan dapat memadatkan sel darah merah,

sehingga terjadi agregasi yang dapat disalahartikan sebagai aglutinasi.


4. Produksi reagen yang kurang baik.
5. Contoh darah mengandung silicone gel
6. Contoh darah diambil melalui selang infus, misalnya 5% atau 10% dextrose.
7. Darah pasien terkontaminasi oleh bakteri.
PENYAKIT AUTOIMMUNE HAEMOLYTIC ANAEMIA (AIHA)
Autoimmune hemolytic anemias (AIHA) disebabkan oleh antibodi yang diproduksi
oleh sistem imunnya sendiri. Terjadi pada anti-sel darah merah antibodi. Terdiri
atas warm antibodi dan cold antibodi. Warm antibodi, biasanya jenis Ig G dan
bereaksi terhadap sel darah merah pada suhu 37oC, sensitisasi terjadi pada
organ limpa. Sedangkan cold antibodi terutama jenis Ig M dan bereaksi terhadap
sel darah merah pada suhu tubuh normal tetapi lebih progresif pada suhu 0o,
sensitisasi terjadi pada organ hati. Contohnya pada Systemic Lupus
Erythematosis.
PENYAKIT HAEMOLYTIC DISEASE OF THE NEW BORN (HDN)
Pada hemolytic diseases of the new born (HDN) terjadinya hemolisis disebabkan
oleh antibodi maternal terhadap sel fetal. Kasus ini terjadi pada golongan darah
sistem rhesus. Pada golongan darah sistem rhesus di dalam plasmanya tidak
terdapat antibodi secara alamiah. Antibodi timbul akibat stimulasi antigen
misalnya manusia dengan golongan darah Rh negatif ditransfusi dengan
golongan darah Rh positif,maka resipien akan membentuk anti-Rh antibodi.
Pada wanita Rh negatif menikah dengan laki-laki Rh positif maka akan
mempunyai anak dengan golongan darah Rh positif. Pada saat kehamilan ketika
sel darah merah fetal masuk ke dalam plasenta, akan menstimulasi produksi
antibodi maternal terhadap antigen fetal. Ketika antibodi memasuki sirkulasi fetal
akan menyebabkan destruksi sel darah merah fetal, fenomena ini disebut
hemolytic diseases of the new born (HDN).

RINGKASAN
Transfusi darah adalah pemberian darah atau komponen darah dari donor yang
sehat kepada resipien yang membutuhkannya. Darah terdiri atas sel-sel darah
dan plasma. Sel-sel darah meliputi sel darah merah, sel darah putih dan kepingkeping darah.
Sistem golongan darah umumnya terikat pada sel darah merah, namun sistem
golongan darah Lewis mempunyai keistimewaan tersendiri. Antigen Lewis
merupakan antigen yang larut dalam serum, plasma atau cairan tubuh lainnya,
misalnya ASI, cairan lambung yang disebut, sebagai substance, sehingga antigen
Lewis terikat pada sel darah merah secara sekunder.
Untuk pemberian transfusi darah dan komponen darah membutuhkan
pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus (D) antara darah donor dan darah
resipien yang harus sama dan cocok untuk menghindari reaksi aglutinasi atau

hemolisis yang dapat membahayakan resipien hingga kematian.


Untuk menghindari terjadinya reaksi transfusi, maka pemeriksaan harus
dilakukan dengan baik dan teliti. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut meliputi
pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus (D) metode bloodgrouping plate
atau tabung. Yang dilanjutkan dengan pemeriksaan uji silang serasi metode
Bovine albumin 22% atau gel test. Uji silang serasi dilakukan pada setiap
pemberian transfusi darah dan komponen darah yang mengandung sel darah
merah 5 ml.
Untuk melihat reaktivitas reagen yang akan digunakan, maka sebelum
melakukan pemeriksaan, petugas laboratorium harus melakukan validasi reagen
yang akan digunakan 1 kali setiap hari. Semua kegiatan yang telah dilakukan
harus tercatat dan terdokumentasikan dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and Molecular Immunology. 4 ed.
Philadelphia. WB Saunders 2000.
2. Depkes RI, WHO, (Maret 2003) Buku Pedoman Pelayanan Transfusi Darah.
Modul 3 Serologi Golongan Darah.
3. Frey-Wettstein M., Barandun S., Bucher U., Die Blut Transfusion Ein
Vademecum. Karger Verlag
4. Kresno SB. Imunologi : Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Ed3. Jakarta.
FKUI 2000.
5. Lee GR, Bithell TC, Foerster J, Athens JW, Lukens JN. Wintrobes Clinical
Hematology. Ninth ed. Philadelphia. Lea & Febiger 1993.
6. Miller LE, Ludke FIR, Peacock JE, Tomar RH. Manual of Laboratory Immunology.
2 ed. Philadelphia Lea & Febiger 1991.
7. Mollison P.L., Engelfriet C.P., Marcela Contreras (tenth edition) Blood
Transfusion in Clinical Medicine. Blackwell Science
8. Mueller-Eckhardt (2. vollstndig berarbeitete und erweiterte Auflage)
Transfusionsmedizin. Springer Verlag.
9. Spielmann, Seidl (2. vllig neu bearbeitete Auflage) Einfhrung in die
Immunhmatologie und Transfusionskunde. Verlag Chemie
10. Technical Manual (13th Edition) American Association of Blood Banks
11. Unit Transfusi Darah PMI Pusat, (Edisi Ketiga 2007) Pedoman Pelayanan
Transfusi Darah.
LAMPIRAN
Lampiran 1. TEST VALIDASI REAGEN BOVINE ALBUMIN 22% & AHG
UNIT TRANSFUSI DARAH RUMAH SAKIT .

Validasi Bovine Albumin 22% 1 tetes susp sel A 5% + 1 tetes susp sel B 5% + 1
tetes susp sel O 5% +
2 tetes Bovine albumin 22% 2 tetes Bovine albumin 22% 2 tetes Bovine albumin

22%
C selama 15 menitKocok agar homogen, kemudian inkubasi pada suhu 37
Putar 3000 rpm selama 15 detik baca reaksi
Hasil Pemeriksaan
Validasi Anti Human Globulin Cuci 3 kali dengan Saline kemudian reaksi
dilanjutkan dengan
Menambahkan kedalam masing-masing tabung 2 tetes Anti Human Globulin
Kocok perlahan-lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik Baca reaksi
Hasil Pemeriksaan
Coombs Control Cells (CCC)
Kontrol semua tabung bila hasil pemeriksaan negatip dengan CCC
Tambahkan kedalam masing-masing tabung dengan 1 tetes CCC
Hasil Pemeriksaan
Test Validasi Data reagen
Bovine Albumin 22% : Valid / tidak valid No. Lot / Exp. Bovine Albumin :
Anti Human Globulin : Valid / tidak valid No. Lot / Exp. A H G :
Nama pemeriksa : Dicek oleh :
Keterangan : Untuk test validasi AHG hanya dapat dilanjutkan, bila hasil validasi
Bovine albumin 22% baik/valid

Lampiran 2. Lembar Kerja Golongan Darah dan Cross Matching


UNIT TRANSFUSI DARAH RUMAH SAKIT .
Lembar Kerja Pemeriksaan Golongan Darah ABO dan Rhesus
Metode Slide Test dengan Bloodgrouping Plate

NAMA PASIEN :
TGL LAHIR / USIA :
DIRAWAT DI :

SEL GROUPING SERUM GROUPING/BACK TYPING Auto Kontrol RHESUS


Anti-A Anti-B Sel A Sel B Sel O Anti-D IgM Bov. Alb.
1 tetes 1 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 2 tetes 1 tetes 1 tetes
Anti-A Anti-B Serum OS Serum OS Serum OS Serum OS Anti-D IgM Bov.Alb 22%
++++++++
1 tetes 1 tetes 1 tetes 1 tetes 1 tetes 1 tetes 1 tetes 1 tetes
sel OS 10% sel OS 10% Sel A 10% Sel B 10% Sel O 10% Sel OS 10% Sel OS 40%
Sel OS 40%
No. Nama pasien/No. kantong Goyangkan Blood grouping plate keatas dan
kebawah perlahan-lahan Hasil Pemeriksaan
Diamkan sekitar 1-2 menit, kemudian baca reaksi dengan menggoyangkannya
perlahan-lahan
Urut

Test Validasi Data Reagen


Anti-A : No Lot / Exp. Anti-A
Anti-B : No Lot / Exp. Anti-B
Anti-D IgM : No Lot / Exp. Anti-D IgM
Bovine Albumin : No Lot / Exp. B. Alb 22%
Test sel A :
Test sel B :
Test sel O :
Nama pemeriksa : Dicek oleh :
UNIT TRANSFUSI DARAH RUMAH SAKIT .
Lembar Kerja Pemeriksaan Uji Silang Serasi Metode Bovine Albumin Untuk 1
Donor
NAMA PASIEN :
TGL LAHIR / USIA :
DIRAWAT DI :
Medium Saline (Fase 1)
Mayor test Minor test Auto kontrol
2 tetes serum OS + 2 tetes plasma dn + 2 tetes serum OS +
No. kantong Darah 1 tetes susp sel dn 5% 1 tetes susp sel 5% OS 1 tetes susp
sel 5% OS
Kocok perlahan-lahan agar homogen, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik
Baca reaksi dengan menggoyangkan tabung perlahan-lahan dan reaksi

dilanjutkan
Hasil Pemeriksaan
Medium Bovine Albumin 22% (Fase 2)
No. kantong Darah Tambahkan masing-masing tabung 2 tetes Bovine Albumin
22%
C selama 15 menitKocok agar homogen, kemudian inkubasi pada suhu 37
Putar 3000 rpm selama 15 detik baca reaksi
Hasil Pemeriksaan
Medium Anti Globulin Test (Fase 3)
No. kantong Darah Cuci 3 kali dengan Saline kemudian reaksi dilanjutkan dengan
Menambahkan kedalam masing-masing tabung 2 tetes Anti Human Globulin
Kocok perlahan-lahan, kemudian putar 3000 rpm selama 15 detik Baca reaksi
Hasil Pemeriksaan
No. kantong Darah Coombs Control Cells (CCC)
Kontrol semua tabung bila hasil uji silang serasi negatip dengan CCC
Tambahkan kedalam masing-masing tabung dengan 1 tetes CCC
Hasil Pemeriksaan
No. Kantong Darah HASIL AKHIR UJI SILANG SERASI
Hasil Pemeriksaan KOMPATIBEL / INKOMPATIBEL
Test Validasi Data reagen
Bovine Albumin 22% : No. Lot / Exp. Bovine Albumin :
Anti Human Globulin : No. Lot / Exp. A H G :
Nama pemeriksa : Dicek oleh :

INFEKSI MENULAR LEWAT TRANSFUSI DARAH

Definisi Penyakit Menular Lewat Transfusi Darah


PENYEBAB INFEKSI
Sampai saat ini telah dikenal 4 kelompok mikro organisme penyebab infeksi ,
yaitu :
- virus
- bakteri
- protozoa
- jamur
Dari ke-4 jenis mikro organisme tersebut, 3 diantaranya telah terbukti dapat
ditularkan melalui pelayanan transfusi darah, ketiga jenis mikro organisme
tersebut adalah virus, bakteri dan protozoa. Infeksi jamur serius biasanya
membuat orang menjadi terlampau sakit untuk diterima sebagai donor darah.
Dari ke-3 tipe tersebut, virus merupakan penyebab yang paling umum ditularkan
melalui transfusi.
Virus
Virus merupakan bentuk kehidupan yang paling sederhana ( lihat gbr 1 ), dan
dapat menginfeksi semua bentuk kehidpan. Virus tidak bersifat selular, karena
tidak memiliki komponen yang diperlukan untuk hidup dan tumbuh sendiri.
Untuk memperoleh komponen-komponen yang hilang ini, virus tergantung pda
sel pejamu yang mereka infeksi.
Setelah menginfeksi sel penjamu yang sesuai, virus tersebut mempengaruhi
fungsi-fungsi normal dalam sel bersangkutan. Asam nukleat virus menyebabkan
sel tersebut membuat partikel virus baru, yang disebut virion, dan akan
dilepaskan untuk menginfeksi sel-sel lain. Protein yang terdapat dalam lapisan
virus dan inti virus dikenali melalui respon kekebalan dari organisme tersebut.
Gambar 1 : Representasi diagram dari partikel virus

asam nukleat
Kapsul
(inti virus)
envelope
(lapisan virus)

Beberapa contoh virus yang umum adalah :


virus hepatitis A
virus hepatitis B human
immunodeficiency virus ( HIV ) virus campak
virus variella zoster
Bakteri
Bakteri merupakan sel individu yang memiliki dinding-dinding sel, meskipun
dengan struktur yang sangat sederhana dan kurang memiliki nukleus yang

sebenarnya ( lihat gambar 2 )


Gambar 2 : Representasi diagram dari bakteri
Membran sitoplastik flagela

dinding sel

Sel organelles sel nukleus


Banyak bakteri dilapisi oleh suatu kapsul yang terdiri bahan gula (polisakarid )
sederhana yang berbentuk mata rantai yang kompleks yang berperan penting
dalam respon kekebalan terhadap bakteri karena kapsul ini mengandung antigen
yang dapat menyebabkan timbulnya respon umum.
Contoh-contoh bakteri yang umum dan infeksi bakteri :
Treponema pallidum : syphilis
Vibrio chlolerae : cholera
Clostridium tetanii : tetanus
Protozoa
Protozoa merupakan organisme sel tunggal, yang diklasifikasikan sbagai
eukaryotes. Mereka memiliki struktur sel yang jelas dengan nukleus dan
organelles yang jelas. Sel ini umumnya dilapisi oleh membran sitoplasmik. Sel ini
dibungkus dalam lapisan luar sitoplasmik ( lihar gambar 3 ).
Gambar 3 : Representasi diagram dari protozoa
flagela

Membran sel
Organelles sel nukleus
Contoh-contoh infeksi protozoa yang umum :
Spesies Plasmodium : malaria
Spesies Trypanosoma : penyakit tidur
Spesies ini memiliki berbagai mekanisme yang memungkinkan adanya gerakan
bebas. Mereka berada dalam berbagai ragam bentuk dan ukuran, yang
diameternya berkisar antara 5 mm hingga 2 mm.
Protozoa terutama bersifat aquatik, hidup di tanah, kolam, sungai dan danau,
meskipun beberapa diantaranya hidup hanya sebagai parasit pada hewan.
Mereka dapat menyebabkan penykait pada manusia, terutama di wilayah tropis
di mana kondisinya sangat sesuai untuk kelansungan hidup mereka. Infeksi
protozoa pada manusia dapat terjadi melalui berbagai cara antara lain melalui
gigitan oleh vektor serangga. Meskipun demikian, sejumlah protozoa lain
ditularkan melalui makanan atau air yang tercemar, atau dengan kontak
langsung melalui kulit.

Penularan Penyakit Infeksi Lewat Transfusi Darah


Penularan penyakit lewat transfusi darah, harus didahului oleh adanya suatu
penyebab infeksi didalam darah yang didonasi. Oleh karena itu, setiap unit
transfusi darah harus menyaring terhadap semua kemungkinan infeksi khusus
yang ada di wilayahnya.
Terdapat 3 kondisi dasar yang dapat menentukan apakah suatu penyebab infeksi
mungkin ditularkan lewat transfusi.
1. Penyebab tersebut harus mampu menggunakan aliran darah sebagai cara
untuk masuk ke dalam pejamunya, yakni pasien.
2. Donor yang terinfeksi harus benar-benar bebas dari tanda dan gejala penyakit,
sebab jika tidak, mereka seharusnya sudah diidentifikasikan waktu seleksi donor
sehingga penyadapannya tidak jadi dilaksanakan.
3. Penyebab tersebut harus berada secara alamiah selama suatu periode, baik
secara bebas dalam plasma maupun berada dalam komponen sel dalam aliran
darah dari donor yang terinfeksi.
Suatu penyebab infeksi yang memenui semua keadaan tersebut dapat ditularkan
lewat transfusi darah. Meskipun demikian, apakah penularan benar-benar terjadi
atau tidak tergantung pada sejumlah faktor lain, seperti status kekebalan pasien
atau sejumlah penyebab infeksi yang ditransfusikan.
Meskipun transfusi darah dapat menjadi jalur penularan yang efisien dalam
keadaan normal transfusi bukan merupakan jalur utama infeksi. Hal ini
disebabkan karena sebagian besar orang tidak menjalani transfusi darah selama
hidup mereka. Oleh karena itu, suatu penyebab infeksi yang sepenuhnya
tergantung pada penularan lewat transfusi tidak akan dapat bertahan.

Pengantar Uji Saring bagi Penyebab Infeksi


Transfusi darah merupakan jalur ideal bagi penularan penyebab infeksi tertentu
dari donor kepada penerima darah. Meskipun demikian, resiko tersebut dapat
dikurangi dengan cara sebagai berikut :
1. Seleksi donor secara hati-hati untuk memastikan bahwa darah tidak
dikumpulkan dari orang yang mungkin merupakan pembawa infeksi. Membentuk
suatu kelompok donor sukarela yang teratur merupakan langkah pertama
menuju pasokan darah yang aman dan memadai. Di negara-negara di mana
banyak darah dikumpulkan dari keluarga atau donor pengganti, atau dari donor
komersial atau profesional, resiko infeksi penularan lewat transfusi lebih besar.
2. Uji saring langsung dari darah yang didonasi untuk membuktikan tidak adanya
penyebab infeksi.
3. Pengambilan komponen khusus dari darah yang dianggap menyembunyikan
penyebab infeksi; contohnya , dengan filtrasi darah untuk mengangkat sel darah
putih.
Tidak semua penyebab infeksi dapat dideteksi secara langsung pada darah yang
didonasi. Dalam uji saring darah biasanya dicara antibodi spesifik yang melawan
pembawa infeksi. Tetapi dalam kasus-kasus tertentu, dapat berarti bahwa darah
tersebut tidak terinfeksi. Tetapi dalam kasus-kasus lain dapat pula berarti bahwa

darah tersebut masih bisa menularkan infeksi.


Sebagaimana telah kami sebutkan, beberapa organisme memiliki sifat kelatenan.
Dalam kondisi seperti ini, meskipun antibodi telah dihasilkan dan infeksi akut
telah diatasi, organisme tersebut tetap dalam keadaan dormant ( tidak aktif ) di
dalam sel-sel pejamu. Meskipun tidak aktif, penyebab tersebut mampu muncul
kembali dan pada suatu waktu bisa menimbulkan infeksi akut. Oleh karena itu,
transfusi sel darah yang mengandung organisme llaten dapat menimbulkan
penularan infeksi.
Terdapat periode antara infeksi dengan berkembangnya antibodi (zat kekebalan
tubuh). Hal ini biasanya disebut dengan periode jendela (window period). Dalam
periode ini tidak mungkin dapat diidentifikasi sebagai terinfeksi atau tidak
terinfeksi sampai ditemukan antibodi pada dirinya.
Gejala dari adanya infeksi
Gejala dari adanya infeksi adalah adanya tanda-tanda infeksi yang dapat
dideteksi yang muncul dalam aliran darah selama, atau setelah terjadinya
infeksi. Tanda-tandanya dapat dideteksi melalui keberadaan dari penyebab
tersebut sendiri, tetapi yang lebih umum adalah melalui keberadaan antibodi
spesifik yang melawan penyebab infeksi yang dihasilkan oleh sistem kekebalan
sebagai akibat infeksi.
Dalam kasus Hepatitis B, uji saring terhadap suatu protein yang disebut antigen
permukaan ( surface antigen ) ( HbsAg ) dapat digunakan untuk mendeteksi
infeksi HBV. Dalam kasus HIV, adanya antibodi untuk HIV dapat digunakan untuk
menyaring darah yang didonasi dari infeksi HIV.
Pada infeksi HBV, virus menyebabkan pengelupasan sejumlah besar antigen
permukaan ke dalam aliran darah selama infeksi akut. Ini dapat bertahan hingga
suatu periode panjang. Oleh karena ini, deteksi terhadap HbsAg ini digunakan
untuk mengidentifikasi donor yang terinfeksi. Adanya antibodi untuk HbsAg
( HbsAb ) menandakan adanya kekebalan setelah infeksi dan melindungi
terhadap infeksi selanjutnya.
Pada infeksi HIV, meskipun terdapat suatu periode di mana hanya dapat
dideteksi antigen virus, periode ini sangat singkat; mungkin dalam beberapa
kasus tidak lebih dari beberapa hari. Oleh karena itu, deteksi terhadap antigen
virus umumnya bukan merupakan pendekatan yang sesuai. Adanya antibodi
untuk HIV ( anti-HIV ) merupakan pendekatan paling baik yang digunakan untuk
mengidentifikasi donor yang terinfeksi. Virus tersebut masih ada dalam sel darah
putih pada unit darah tersebut dan antibodi tidak dapat melindunginya terhadap
infeksi ulangan. Adanya antibodi ini, justru, berarti donor sedang terinfeksi HIV.

Penyakit-Penyakit yang Dapat Ditularkan Lewat Transfusi Darah


Prinsip-prinsip yang dibahas dalam modul ini berlaku untuk uji saring terhadap
semua penyebab infeksi yang ditularkan lewat transfusi darah. Sejumlah metode
uji saring komersial tersedia untuk sebagian besar tipe penyebab infeksi.
1. HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS ( HIV )

HIV adalah penyebab utama AIDS. Meskipun cara infeksi HIV yang menyebabkan
AIDS belum jelas, diketahui bahwa ia merusaka bagian sistem kekebalan. Hal ini
dapat menimbulkan infeksi serius oleh penyebab-penyebab yang secara normal
dapat diatasi dengan mudah oleh sistem kekebalan.
HIV pertama kali diisolasi dari sel-sel seorang pasien yang terinfeksi pada tahun
1983 ( HIV-1 ). Virus tersebut kemudian diidentifikasi sebagai unsur penyebab
AIDS. Pada tahun 1986 tipe kedua HIV ( HIV-2 ) diidentifikasikan di wilayahwilayah tertentu di Afrika. HIV-2 nampaknya menyebabkan penyakit yang sama
seperti HIV-1, tetapi kurang pathogenik. Secara morfologi HIV-2 serupa dengan
HIV-1. Kedua tipe tersebut dapat dibedakan melalui adanya atau tidak adanya
antibodi yang spesifik pada HIV-2. Meskipun reaktivitas silang ( cross reactivity )
terjadi antara protein inti dari kedua virus, protein pembungkus ( envelope )
mereka berbeda.
1.1. Gejala Klinis dari infeksi HIV dan AIDS
Pada mulanya diduga bahwa infeksi HIV hanya akan menimbulkan AIDS. Tetapi
kemudian ternyata bahwa infeksi HIV dapat menimbulkan keadaan yang berbeda
dengan tingkat keganasan yang berbeda, meskipun biasanya ( dan akhirnya )
infeksi tersebut menuju ke AIDS.
Pada individu-individu yang menderita AIDS, perjalanan penyakit utama adalah
terjadinya penyakit-penyakit infeksi sekunder, yakni infeksi-infeksi oportunistik.
Infeksi-infeksi oportunistik ini merupakan infeksi yang tidak terkontrol dari
penyebab infeksi yang biasanya ada, tetapi tidak dapat dikendalikan. Infeksiinfeksi umum mencakup :
pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis carinii
tuberkulosis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau
Mycobacterium avium / intracellularis
kriptosporidiosis kronis
toxoplasmosis
infeksi-infeksi viral, seperti cytomegalovirus
Kanker sekunder seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkins merupakan
kondisi lain yang kadangkala ditemukan pada pasien-pasien AIDS. Kanker ini
biasanya agresif dan tidak merespon secara baik pemberian kemoterapi standar.
Di banyak bagian dunia, didapati pasien yang mengidap ARC (AIDS Related
Complex) atau AIDS dengan diare berat.
1.2. Diagnosis laboratorium terhadap infeksi HIV
HIV menyebabkan infeksi yang menetap. Anti-HIV baru timbul bagi sebagian
besar orang yang terinfeksi pada 6 12 minggu setelah infeksi, tetapi
pembentukan antibodi bisa ditunda hingga satu tahun.
Adanya dua antibodi, yaitu anti p-24 (inti) dan anti-gp41 ( pembungkus ) menjadi
tanda yang paling tepat untuk membuktikan adanya infeksi. Selain itu, hal
tersebut adalah cara terbaik untuk memantau perkembangan infeksi.
Setelah infeksi dan sebelum antibodi diproduksi, terdapat suatu periode
jendela yang jangka waktunya berbeda, selama periode itu infeksi tersebut
menguat. Setelah selama suatu periode dimana tidak ada tanda klinis yang
dapat dideteksi, antigen virus (p24, gp41) dapat dideteksi. Jangka waktu untuk
mendeteksi antigen ini sangat singkat, tidak lebih dari 1-2 minggu. Meskipun
deteksi dari antigen HIV secara teoritis akan memberikan bukti infeksi pada

tahap awal, tetapi pengujian antigen komersial sangat sedikit dan tidak cukup
sensitif. Meskipun demikian, dalam beberapa hal dimana pengujian antigen telah
digunakan, antigen HIV telah dideteksi pada suatu tahap dimana anti-HIV baru
saja muncul. Oleh karena itu nampaknya dewasa ini pengujian antigen HIV
mungkin memiliki keterbatasan dalam hal manfaatnya pada transfusi darah.
Meskipun demikian, mungkin manfaat tersebut akan berkembang seiring dengan
meningkatnya prevalensi HIV pada populasi donor.
1.3. Epidemiologi infeksi HIV
Meskipun jumlah individu yang terinfeksi HIV dan menderita AIDS telah
meningkat secara drastis, namun kelompok-kelompok individu yang berisiko
terkena infeksi tetap sama dan dalam proporsi yang kira-kira sama. Meskipun
demikian, faktor-faktor resiko untuk infeksi HIV-AIDS berbeda dari negara satu
dengan negara lain. Sebagai contoh, di negara-negara maju dewasa ini sebagian
besar dari mereka yang terinfeksi adalah pria. Ini adalah akibat dari penularan
terutama melalui aktivitas homoseksual. Tetapi di Afrika, prevalensi HIV-AIDS
sama pada kedua jenis kelamin namun insidens dari penggunaan obat suntik
serta homoseksualitas yang rendah menunjukkan penularan bukan dari jalur
infeksi biasa. Diperkirakan penularan terutama melalui hubungan vagina.
Penularan ibu kepada anak juga sering terjadi.
1.4. Penularan infeksi HIV
Cara penularan infeksi HIV kini telah menjadi jelas. Meskipun virus dapat diisolasi
dar banyak sekresi tubuh, infeksi yang ditularkan hanya dalam beberapa cara
saja.
Terdapat tiga cara penularan utama dari infeksi HIV :
1. Hubungan seksual penetratif yang tidak terlindung dengan seseorang yang
terinfeksi, baik antara pria dan pria maupun antara pria dan wanita
2. Inokulasi dari darah yang terinfeksi, baik melalui transfusi darah maupun
sebagai akibat penggunaan jarum, sepmrit atau pisau yang terkontaminasi,
misal untuk menyuntik obat, pengorbanan ritual atau membuat tato.
3. Dari seorang ibu yang terinfeksi kepada anaknya dalam kandungan, pada
waktu melahirkan , atau melalui pemberian ASI.
Penularan HIV melalui hubungan seksual merupakan jalur yang sangat penting.
Di Afrika, dampak penularan secara heteroseksual dapat dilihat dengan jelas dan
meningkat karena wanita yang terinfeksi menularkan infeksinya ke anak-anak
mereka. Dengan demikian, infeksi populasi tersebut meningkat dari dua sisi.
pada orang dewasa ( penularan horizontal )
pada bayi ( penularan vertikal )
Dengan cara ini, HIV dapat menyebar secara cepat dalam suatu populasi.
Transfusi darah juga dapat merupakan jalur yang penting. Efisiensi penularan HIV
melalui transfusi darah diperkirakan lebih dari 90%. WHO melaporkan bahwa
dosis virus HIV dalam transfusi darah sedemikian besanya, sehingga satu
transfusi yang positip HIV rata-rata dapat menyebabkan kematian setelah jangka
waktu dua tahun pada anak-anak, dan lima tahun pada orang dewasa. Meskipun
demikian, sejauh mana transfusi darah merupakan jalur sebenarnya dari
penularan tergantung pada prevalensi dari individu yang terinfeksi dalam
populasi dan pada efektivitas dari program uji saring yang digunakan. Dalam
suatu populasi dengan prevalensi individu terinfeksi yang rendah dan suatu

program uji saring yang baik, maka penularan melalui transfusi darah tentu akan
jarang; dan dengan demikian transfusi tidak akan merupakan jalur penularan
yang penting.
1.5. Mencegah penyebaran infeksi HIV melalui transfusi darah
Penularan melalui transfusi darah, atau komponen darah harus dihindarkan.
Langkah pertama untuk mencegah penularan melalui transfusi darah adalah
dengan menyelekesi donor, sehingga mendapat donor yang memiliki resiko
rendah terhadap infeksi yang dapat ditularkan melalui transfusi. Perlu diingat
bahwa seorang donor yang aman akan memberikan darah donasi yang aman.
Oleh karena itu, sangat penting untuk :
mengidentifikasi kelompok donor beresiko rendah
menghindari donor darah yang tidak sesuai
merekrut pada donor sukarela yang tidak dibayar
tidak mengikutsertakan para individu yang beresiko untuk menjadi donor
melalui program pendidikan donor yang efektif
melakukan seleksi donor secara efektif melalui :
- konseling pra-donasi.
- Riwayat medis singkat,
- Pengecekan kesehatan dasar,
Meningkatkan donasi darah sukarela secara teratur.
Meskipun demikian, pada dasarnya diperlukan uji saring anti-HIV agar darah
yang terinfeksi dapat diidentifikasi dan dibuang.
2. VIRUS HEPATITIS B ( HBV )
HBV merupakan anggota dari hepadnaviridae. Sejumlah protein penting
ditemukan pada virus tersebut. Protein utama dikenal sebagai hepatitis B
surface antigen (HbsAg) dan ini dihasilkan dalam jumlah besar melalui sel-sel
yang terinfeksi dengan virus tersebut. Virion tersebut mengandung dua protein
tambahan, yakni B e antigen (HbeAg) dan hepatitis B core antigen (HBcAg).
Kedua protein ini dikaitkan dengan inti capsid dari virion tersebut. Partikelpartikel yang lebih kecil juga ditemukan dalam serum individu yang terinfeksi.
Partikel-partikel yang lebih kecil ini hanya mengandung protein virus utama,
yakni HbsAg, yang dihasilkan dalam jumlah yang lebih besar daripada yang
diperlukan untuk membentuk virion-virion baru. Oleh karena itu, partikel-partikel
ini dianggap tidak dapat menginfeksi, meskipun mereka bertindak sebagai
pembuat tanda infeksi yang ada.
2.1. Riwayat infeksi HBV
Pada dasarnya penularan HBV melalui jalur parenteral dimana ada hubungan
langsung dengan cairan-cairan tubuh. Dengan demikian jalur yang paling biasa
untuk infeksi adalah
kontak dengan darah yang terinfeksi, baik melalui luka maupun melalui jerumjarum, semprit atau pisau yang terkontaminasi, misalnya, dalam menyuntik
obat-obatan, membuat tato, melubangi daun telinga, akupuntur atau upacara
pengorbanan ritual.
Hubungan seksual
Penularan kepada neonatus atau perinatal, biasanya pada saat kelahiran
melalui sekresi serviks

Transfusi dari darah atau komponen darah yang terinfeksi


2.2. Manifestasi klinis dari infeksi
Setelah terjadi infeksi, kemudian terdapat suatu masa inkubasi yang
berlangsung antara 50-180 hari. Selama waktu tersebut, tidak ada gejala yang
terlihat tetapi virus dapat dideteksi dalam aliran darah. Gejala-gejala seperti
demam, muncul bintik-bintik, sakit kuning dapat timbul selama fase akut dari
infeksi, tetapi keganasan dan lamanya infeksi sangat bervariasi. Dalam kasuskasus ringan, sakit kuning sering tidak berkembang. Kasus-ksus yang lebih berat
dapat menghasilkan penyakit serius.
Antibodi terhadap tiga protein utama HbsAg, HbeAg, HBcAg- muncul pada
waktu yang berbeda selama pemulihan dan dapat bertahan selama bertahuntahun, kadangkala selama hidup. Kekebalan biasanya kembali utuh setelah
pemulihan dari infeksi.
Pada 10-20% individu yang secara klinis didiagnosa terkena infeksi HBV, infeksi
tersebut tetap berlangsung dan mereka memasuki suatu periode infeksi kronis.
Ini dapat berlangsung hingga enam bulan dan kemudian berakhir, atau bertahan
selama hidup. Pada individu-individu inilah bisa ada konsekuensi infeksi yang
serius. Di negara-negara berkembang dengan insidens infeksi HBV yang tinggi,
90% bayi yang terinfeksi secara perinatal dan 20-30% dari anak-anak muda
mengidap infeksi yang kronis.
Pada beberapa individu yang terinfeksi secara kronis, tidak terlihat efek-efek
yang merugikan. Meskipun demikian, dalam banyak kasus penyakit hati kronis
akhirnya berkembang dan dapat menimbulkan kanker atau sirosis hati primer
dan kemudian menyebabkan kematian. Resiko kematian karena kanker atau
sirosis hati ada sekitar 40% pada pembawa HBV pria, dan setidak-tidaknya ada
250.000 kasus karsinoma hepatoselular yang dilaporkan setiap tahun.
2.3. Diagnosa laboratoris terhadap infeksi
Metode identifikasi infeksi HBV yang utama adalah dengan diagnose laboratoris
atas dasar pemeriksaan serologi virus yang dilakukan pada sampel-sampel
serum dari orang yang terkena infeksi. Perangkat pemeriksaan yang spesifik
tersedia untuk sebagian besar tanda-tanda infeksi HBV. Keadaan infeksi dan
perkembangan infeksi biasanya dapat ditentukan dengan mengidentifikasi
adanya petunjuk tanda-tanda yang terdapat pada sampel serum dan pada
sampel-sampel sekuensi. Tanda-tanda tersebut yang terlihat pada serum selama
infeksi akut dan kronis disajikan pada gambar 9.
2.4. Manfaat bagi pelaksanaan transfusi
Di masa lampau, transfusi darah dan komponen darah merupakan jalur
penularan yang penting dari infeksi HBV. Suatu contoh adalah kejadian di mana
sejumlah besar personel Angkatan Bersenjata Amerika Serikat yang divaksinasi
terhadap Demam Kuning dengan menggunakan vaksin yang didapat dari para
individu yang terinfeksi, setidak-tidaknya salah satu dari mereka yang
mengalami infeksi HBV akut. Hal ini kemudian ditularkan ke sebagian besar
penerima vaksin tersebut.
Uji saring darah donasi untuk menemukan HBsAg kini bersifat rutin di banyak
negara dan hal ini telah membantu menurunkan terjadinya hepatitis pascatransfusi secara besar-besaran. Telah ditunjukkan secara jelas bahwa keganasan
dari infeksi tergantung dari sejumlah faktor, yang salah satunya adalah jumlah

dosis yang menginfeksi. Oleh karena itu, transfusi darah dapat menjadi jalur
penularan akan dibawa secara langsung ke aliran darah penerima tersebut.
2.5. Penanggulangan infeksi
Di samping uji saring terhadap darah dan komponennya, vaksinasi merupakan
suatu tindakan pada saat ini yang digunakan dalam skala besar untuk
mengurangi tingkat penularan.
3. VIRUS HEPATITIS C (HCV))
3.1.1. Hepatitis C
Hepatitis NANB yang ditularkan secara parenteral merupakan penyebab paling
umum dari hepatitis pasca-transfusi, mencapai sekitar 90 % dari kasus-kasus di
negara maju. Belum lama berselang suatu penyebab virus yang dianggap
sebagai penyebab dari bentuk hepatitis ini telah diidentitifikasi, melalui teknik
kloning. Virus tersebut merupakan RNA beruntai tunggal. Jenis virus hepatitis ini
dinamakan virus hepatitis C.
Dari rangkaian asam nucleat telah dinyatakan adanya protein yang digunakan
untuk mengembangkan Enzim Imuno Assay(EIA) dalam mendeteksi adanya
antibodi terkahap virus tersebut. Metode ini sekarang diperkenalkan di banyak
negara dimana hepatitis NANB menjadi masalah yang semakin meningkat,
terutama dalam penggunaan komponen darah yang semakin berkembang dan
dukungan jangka panjang bagi pasien yang mungkin menerima ratusan unit
darah atau komponen darah, seperti mereka yang menderita hemofilia dan
talasemia..
Secara klinis, infeksi HCV akut menyerupai infeksi HBV, meskipun umumnya
lebih ringan. Akan tetapi diperkirakan 50 % dari para individu yang terinfeksi
HCV akan mengidap infeksi kronis, dan 20 % di antaranya mungkin akan
mengidap penyakit hati kronis yang akan membawa pada kematian akibat sirosis
hepatitis atau kanker hati primer.
4. SIFILIS (INFEKSI TREPONEMA PALLIDUM)
Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan ileh infeksi dari bakteri Treponema
pallidum. Pada dasarnya penyakit ini merupakan penyakit menular seksual,
mesekipun dapat menyebar melalui kontak erat dengan adanya luka lecet pada
selaput lendir. Dimasa lampau, transfusi darah merupakan jalur potensial untuk
infeksi, terutama jika darah segar yang ditransfusikan. Akan tetapi setelah darah
yang didonasi disimpan selama 24-28 jam pada suhu 4 C. Pada prinsipnya
resiko infeksi infeksi dibatasi karena organisme tersebut sangat sensitif terhadap
suhu dan dengan cepat dibunuh pada suhu yang rendah. Masih dilaporkan
adanya kasus-kasus infeksi setelah jari tertusuk tetapi tidak banyak.
Umumnya infeksi dari penyakit sifilis digunakan sebagai petunjuk kesesuaian
donor. Meskipun sifilis bukan merupakan petunjuk yang spesifik dari infeksi HIV,
penyakit ini meunjukkan adanya donor yang berisiko terhadap penyakit menular
seksual karena perilaku seksualnya, termasuk HIV. Sebaiknya donor yan ada pola
perilaku berisko demikian dihindari.
4.1. Riwayat Infeksi
Setelah infeksi awal, perkembangan normal dari sifilis dapat dibagi ke dalam tiga
tahap:

a. Sifilis primer : stelah kontak awal, bakteri menembus selaput lendir dan masuk
melalui sistem limfatik dan meninggalkan sebuah luka lecet pad tempat masuk.
b. Sifilis sekunder : sementara luka lecet primer itu sembuh, luka lecet sekunder
mulai nampak pada kulit dan selaput lendir. Hal ini sangat infeksius. Pada tahap
ini penyebaran infeksi secara nonvenereal dapat terjadi.
c. Sifilis tertier : dapat terjadi antara 5-40 tahun setelah infeksi awal. Luka lecet
pada terjadi pada sistem saraf sentral atau pada sistem kardiovaskular, yang
dapat menyebabkan kerusakan berat.
4.2. Diagnosa Laboratoris terhadap Infeksi
Meskipun dapat dilakukan observasi langsung terhadap bakteri yang ada dalam
cairan dari luka lecet dengan menggunakan miksroskopi bidang gelap, tetapi hal
ini hanya dapat dilakukan pada tahap-tahap tertentu dari infeksi. Oleh karena
itu, pemeriksaan serologi merupakan cara diagnostik yang utama. Terdapat dua
kelompok penyujian yang tersedia: pemeriksaan non-spesifik dan pemeriksaan
spesifik.
Pemeriksaan yang non-spesifik, seperti VDRL, menggunakan bahan yang disebut
cardiolipin utnuk mendeteksi adanya antibodi terhadap T.Pallidum. Cardiolipin
adalah komponen normal yang terdapat pada jaringan tubuh. Tidak satupun dari
pemeriksaan tersebut yang menggunakan cardiolipin yang bersifat sangat
spesifik. Sekitar 1 % orang dewasa normal dapat menghasilkan antibody yang
non-spesifik yang dapat menimbulkan reaksi positif palsu.
4.3. Manfaat bagi pelaksanaan transfusi
Di masa lampau, sifilis ditularkan melalui transfusi darah. Di beberapa negara
dengan insidens sifilis yang tinggi, kadang-kadang masih terjadi kasus-kasus
tularan sifilis. Akan tetapi, dengan mengeyampingkan donor-donor yang
beresiko, adanya uji saring untuks sifilis, dan adanya penyimpanan darah pada
suhu 4C sebelum transfusi, maka resiko sifilis pasca-transfusi umumnya sangat
rendah, dan di banyak negara hampir dapat diabaikan.

Metode Pemeriksaan Uji Saring IMLTD


Dalam mempertimbangkan masalah penularan penyakit lewat transfusi darah,
perlu diingat bahwa seorang donor yang sehat akan memberikan darah yang
aman. Donor yang paling aman adalah donor yang teratur, sukarela, dan tidak
dibayar. Jelasnya bahwa para donor yang beresiko terhadap penyakit infeksi
harus didorong agar tidak menyumbangkan darahnya.
Beberapa hal yang perlu diingat :
1. Ada resiko penularan penyakit infeksi jika darah yang diberikan tidak diuji
saring sebelum darah tersebut ditransfusi.
2. Donor yang beresiko terhadap suatu infeksi dapat juga membawa penyebab
infeksi lainnya yang dapat ditularkan, seperti sifilis, virus hepatitis B atau HIV.
3. Pengumpulan darah dari donor yang terinfeksi akan membuang-buang waktu,
tenaga dan dana.
4. Jika banyak donasi dengan positip ditemukan, jumlah uji saring ulangan dan
uji saring konfirmasi yang diperlukan akan meningkat. Hal ini akan meningkatkan
keseluruhan biaya pengujian kualitas darah.

1. PRINSIP-PRINSIP PENGUJIAN
Terdapat tiga jenis utama dari uji saring yang tersedia untuk mendeteksi
penyebab infeksi:
- Uji cepat khusus ( Rapid Test )
- Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay ( ELISA/EIA ) : Uji ELISA
- Uji aglutinasi partikel
Perlu dicatat bahwa singkatan ELISA sering diganti dengan singkatan EIA
( Enzyme Immuno Assay ).
1.1. PENGUJIAN RAPID TEST
Tipe terakhir dari pengujian untuk ditelaah adalah pengujian cepat khusus
(specialized rapid test) yang bersifat sederhana dan biasanya cepat untuk
dilakukan. Tipe ini menggabungkan kesederhaan pengujian aglutinasi partikel
dengan teknologi EIA.
Pengujian cepat khusus terdapat dalam sejumlah format. Format dasar adalah
antigen yang dilekatkan pada membran pori atau semi-pori atau pada selembar
strip, dan diberikan dalam bentuk modul tes tunggal di mana sampel tes dan
reagen lain ditambahkan. Kebanyakan pengujian cepat terdapat dalam bentuk
paket yang mengandung segala sesuatu yang diperlukan untuk melakukan
pengujian.
Metodologi
1. Sampel tersebut diterapkan pada modul pengujian dan antibodi yang ada
dibiarkan untuk mengikat antigen yang immobil. Pencairan sebelumnya dari
sampel mungkin diperlukan. Ini sering dicapai dengan menambahkan beberapa
tetes bahan pencair dan sampel ke dalam tabung yang sesuai. Sampel yang
dicairkan kemudian ditambahkan secara langsung ke modul.
Periode inkubasi singkat, biasanya hanya 5-10 menit. Waktu ini diperlukan bagi
sampel untuk menembus membran.
2. Modul biasanya dibilas dengan menambahkan larutan pembilas yang
diberikan. Beberapa pengujian tidak memerlukan langkah ini.
3. Konjugat kemudian ditambahkan ke modul tersebut; ini diberikan dalam
bentuk cair. Komposisi konjugat bervariasi dari pengujian yang satu dengan
lainnya. Beberapa pengujian menggunakan IgG anti-human enzim-konjugat
dengan cara yang serupa dengan apa yang dipakai dalam EIA tipe antiglobulin.
Bila tipe konjugat ini digunakan, maka diperlukan langkah pencucian lebih jauh
dan penambahan kromogen untuk memvisualkan hasil-hasil.
Suatu pendekatan lain adalah dengan mendeteksi adanya antibodi yang terikat
dengan menggunakan protein berlabel A dengan emas kolloid sebagai konjugat.
Emas kolloid adalah preparat emas yang terdiri atas partikel kecil yang identik
dan dapat membentuk penundaan dalam larutan. Meskipun partikel-partikel
individual terlampau kecil untuk dapat dilihat dengan mata, agregat dan
aglutinat dari partikel-partikel ini dapat dilihat dengan jelas.
Protein A adalah protein yang terjadi secara alamiah yang dihasilkan oleh
bakteri Staphylococcus aureus. Protein mempunyai sifat-sifat yang mampu
mengikat pada daerah Fc (fragmen konstan) dari molekul IgG normal.
Bila konjugat ini ditambahkan, maka protein A akan mengikat antibodi IgG
yang ada. Pengikatan ini akan menjadi jelas dengan warna merah dari emas

kolloid yang dikonjugasi pada protein A. Tipe konjugat ini lebih sederhana untuk
digunakan karena hanya melibatkan satu langkah dalam mendeteksi antibodi
yang terikat dan visualisasi dari reaksi tersebut.
Hasil akhir dibaca secara visual dan dibandingkan dengan hasil-hasil yang
diharapkan sebagaimana dilukiskan oleh pabrik pembuat. Pengujian tersebut
didasarkan pada prinsip-prinsp yang sama seperti EIA. Meskipun demikian, tidak
ada nilai OD yang dihasilkan. Hasil hanya dapat dibaca secara visual, tidak
diperlukan kontrol, dan tidak perlu membuat kalkulasi. Walaupun tidak perlu
kontrol, adalah gagasan yang baik untuk menetapkan paling tidak satu sampel
kontrol positif lemah dengan masing-masing kelompok tes. Idealnya, suatu
kontrol negatif juga ditetapkan.
1.2. EIA (ELISA)
Meskipun EIA merupakan tipe yang paling kompleks dari ketiga tipe pengujian
tersebut, kami akan mempertimbangkannya lebih dahulu karena prinsip-prinsip
yang berlaku pada dasarnya sama dengan prinsip-prinsip dalam kedua tipe
lainnya. Oleh karena itu, segera setelah anda memahami prinsip-prinsip EIA,
anda akan dengan cepat memahami prinsip-prinsip uji aglutinasi partikel dan uji
rapid ( rapid test ).
EIA tersedia dalam banyak bentuk dan dapat digunakan untuk mendeteksi baik
antigen maupun antibodi. Bentuk pengujian ini yang paling sederhana dan paling
umum digunakan adalah dengan memanfaatkan antiegn virus immobil yang
menangkap antibodi spesifik yang berada dalam sampel tes.
Terdapat dua cara EIA yang dipakai dengan prinsip-prinsip yang sama, tetapi
berbeda dalam metode melekatkan antigen virus tersebut :
pada sisi-sisi polystyrene microwell : 96 well microplate
pada paruh polystyrene kecil, berdiameter sekitar 4 mm : 20/60 well Abbot.
1.2.1. Pengujian microwell
Untuk membantu anda memahami prinsip-prinsip dasar dari EIA, kami akan
membahas tiga tipe dari EIA :
tipe EIA antiglobulin : adalah bentuk paling sederhana dari EIA, dimana
antibodi virus yang terdapat dalam sampel tes diikat pada antigen virus yang
immobil dan dideteksi dengan antibodi anti-human berlabel-enzim.
EIA kompetitif : sedikit lebih kompleks tetapi merupakan pengujian yang
digunakan secara luas, di mana antibodi alamiah yang mungkin terdapat dalam
sampel tes berkompetisi dengan antibodi spesifik berlabel-enzim untuk mengikat
tempat-tempat pada antigen yang immobil.
EIA sandwich : adalah tipe EIA yang sangat spesifik di mana antibodi virus
dalam sampel tes diikat pada antigen virus yang immobil dan kemudian
dideteksi melalui antigen virus berlabel-enzin bebas.
Tipe 1 : Metodelogi EIA tipe antiglobulin
Metodologi
1. Dasar dari sejumlah uji immunologi antibodi adalah antigen yang dilekatkan
yang terikat pada permukaan microwell .
Pengikatan ini hanya dapat dicapai dengan menambah larutan antigen dalam

buffer bikarbonat untuk setiap tabung dan menginkubasi pada suhu 4C selama
12-16 jam. Plastik yang digunakan untuk menghasilkan tabung mikro
(microwell) dirancang untuk mengikat protein. Setelah inkubasi, larutan antigen
harus dipindahkan, tabung dibersihkan dengan air suling atau suatu buffer
spesifik dan langsung dikeringkan. Kemudian disimpan pada suhu 4C untuk
periode yang panjang, tanpa kehilangan antigen. Tabung-tabung ini disediakan
oleh pabrik, dan telah distandarisasi untuk penggunaannya.
2. Serum atau serum yang diencerkan ditambahkan ke dalam tabung, atau
serum ditambahkan ke dalam tabung yang berisi larutan pengencer, dan
kemudian diinkubasikan selama suatu periode tertentu, pada suhu yang tepat
menurut petunjuk pabrik. Waktu dapat bervariasi dari 30 menit hingga 2 jam,
dan suhu dapat berkisar dari 18 hingga 45C. Uji kontrol positip dan negatip juga
ditambahkan ke sejumlah tabung pada setiap susunan plate. Kadang-kadang
digunakan kontrol positip rendah. Selama waktu itu, antibodi spesifik yang
terdapat dalam serum tes mengikat antigen virus.
3. Pada akhir periode inkubasi, untuk menghilangkan serum, tabung-tabung
dicuci dan disiapkan bagi tahap pengujian berikutnya .
Metode pencucian dan cairan pencuci yang digunakan bervariasi sesuai uji yang
digunakan. Meskipun demikian, pencucian mekanis yang menggunakan pencuci
plate otomatis merupakan cara terbaik untuk mencuci tabung-tabung. Jika anda
memiliki sebuah pencuci otomatis, bacalah cara pemakaian yang dibuat oleh
pabrik sebelum anda menggunakannya.
Pencucian manual merupakan metode yang dapat diterima untuk pengujian
dalam jumlah kecil, tetapi akan memakan waktu jika dilakukan pada jumlah
pengujian yang banyak dan dapat bervariasi menurut operator. Pencucian
manual dapat dilakukan dengan alat pencuci genggam, baik yang dihubungkan
dengan suatu vakum elektrik dan pompa tekan atau dengan cairan pencuci dari
wadah dan pengisap yang dilakukan dengan menggunakan pompa air. Alternatif
lain adalah pencucian manual dengan cairan pencuci menggunakan pipet mulrisaluran untuk mengisi dan kemudian mengosongkan tabung-tabung. Cairan
pencuci yang digunakan ialah air suling, salin, salin buffer dan buffer fosfat.
Beberapa buffer dapat menjadi larutan yang sangat kompleks yang memiliki
konsentrasi dan nilai pH yang spesifik.
Proses pencucian menghilangkan serum yang berlebihan dari tabung tanpa
memindahkan suatu antibodi yang diikat dan spesifik. Pencucian pertama
menghilangkan serum dan tabung kemudian diisi dengan cairan pencuci dan
dikosongkan lagi. Proses ini diulangi beberapa kali, sesuai dengan petunjuk
pabrik. Kadang-kadang cairan pencuci ditinggalkan dalam tabung hingga satu
menit sebelum dipindahkan dan diganti dengan cairan pencuci lain. Setelah
pencucian terakhir, cairaan pencuci dikeluarkan dan tabung-tabung dibiarkan
kosong. Tabung-tabung hendaknya dijaga sekering mungkin sebelum tahap
pengujian berikutnya. Plate dapat diletakkan secara terbalik dan secara hati-hati
dilap dengan tisue penyerap jika tabung-tabung tersebut masih basah.
4. Larutan konjugat ditambahkan pada semua tabung dan diinkubasikan pada
suhu tertentu dan selama periode waktu yang tepat. Larutan konjugat
mengandung antibodi immunoglobulin anti-human yang telah dilabel enzim.

Tindakan enzim ini menyebabkan substrat menjadi tidak berwarna dan tidak
aktif mengembangkan warna pada waktu aktivasi. Kinjugat hanya mengikat
antibodi manusia yang telah diikat pada antigen yang dilumpuhkan pada tabungtabung. Dengan demikian konjugat yang pada awalnya tidak mengandung serum
antibodi positip tidak akan diikat dalam tabung-tabung tersebut.
5. Pada akhir periode inkubasi, tabung-tabung tersebut dicuci untuk
menghilangkan konjugat yang berlebihan dan tidak diikat serta dipersiapkan
untuk tahap pengujian berikutnya. Pencucian dilakukan dengan cara yang sama
sebagaimana dilukiskan dalam butir 3 diatas.
6. Segera larutan substrat ditambahkan pada semua tabung dan diinkubasikan
pada suhu tertentu, biasanya 18-25C, dan selama periode waktu yang tepat.
Larutan substrat mengandung bahan kimia yang disebut kromogen. Kromogen
adalah senyawa larut sintetik yang setelah oksidasi berubah warna, berkurang
atau ada modifikasi kimiawi oleh label enzim. Kadang-kadang kromogen yang
diaktivasikan menjadi tidak alrut dan terbentuk presipitasi berwarna. EIA yang
dilakukan di tabung-tabung mikro hanya dapat bekerja jika substrat tetap larut
pada setiap saat. Dalam hal ini, kromogen tidak berwarna dan dalam keadaan
tidak aktif, tetapi membentuk produk larutan berwarna bila diaktivasikan.
Bila larutan substrat ditambahkan ke dalam tabung-tabung yang mengandung
konjugat ikat, maka enzim yang ada mengaktivasikan substrat dan dengan
demikian menyebabkan pembentukan warna dalam tabung. Tabung-tabung yang
tidak mengandung konjugat ikat tidak merubah warna substrat yang
ditambahkan pada tabung tersebut. Dengan demikian tabung-tabung reaktif
(yang pada mulanya mengandung serum positip antibodi) diwarnai, sementara
tabung-tabung yang non-reaktif (yang pada mulanya mengandung serum
negatip antibodi ) menjadi tidak berwarna. Kontrol-kontrol menunjukkan
perubahan warna yang tepat.
7. Pada akhir periode inkubasi, larutan asam cair ditambahkan ke dalam semua
tabung untuk menghentikan reaksi. Asam tersebut meng-nonaktifkan enzim dan
menetapkan warna. Dengan substrat, asam tersebut juga meningkatkan warna
yang dihasilkan.
8. Densitas optik ( nilai OD ) dari larutan dalam tabung-tabung mikro dibaca dan
hasil-hasil pengujian ditentukan.
Tipe 2 : Metodologi EIA kompetitif
Prinsip-prinsip dasar dari EIA kompetitif sama dengan EIA tipe antiglobulin, yakni
antibodi mengikat antigen immobil dan keberadaan antibodi kemudian dideteksi.
Pengujian tersebut sedikit berbeda dalam cara di mana antibodi dideteksi.
Antigen dilekatkan pada permukaan tabung mikro dan ditambahkan serum tes.
Pada waktu yang sama, konjugat ditambahkan dan sampel serta konjugat
diinkubasi bersama-sama. Meskipun demikian, konjugat adalah antibodi berlabel
enzim, dan bukannya antibodi anti human berlabel non spesifik. Untuk tempattempat yang mengikat antigen, antibodi konjugat berkompetisi dengan antibodi
alamiah. Konsentrasi antibodi konjugat ditetapkan pada suatu tingkatan
sehingga sejumlah kecil antibodi yang terdapat dalam sampel tes cukup untuk
memastikan bahwa ia mengikat antigen lebih baik dari antibodi konjugat.
Metodologi

1. Antigen dilekatkan pada permukaan tabung mikro, sebagaimana diterangkan


di atas .
2. Serum ditambahkan ke tabung-tabung. Pengujian kompetitif menggunakan
serum yang tidak diencerkan.
3. Konjugat ditambahkan ke semua tabung. Konjugat terdiri atas antibodi
berlabel enzim yang spesifik untuk antigen pada tabung-tabung tersebut.
Tabung-tabung diinkubasi selama suatu waktu tertentu pada suhu yang tepat.
Selama waktu itu, suatu antibodi spesifik yang terdapat dalam serum tes
berkompetisi dengan antibodi konjugat untuk mengikat tempat-tempat pada
antigen virus .
4. Pada akhir periode inkubasi, tabung-tabung dicuci untuk menghilangkan
serum dan konjugat.
5. Larutan substrat ditambahkan dengan segera ke semua tabung dan
diinkubasikan pada suhu tertentu, biasanya 18-25C, dan selama periode waktu
yang tepat.
6. Pada akhir periode inkubasi, larutan asam cair ditambahkan ke semua tabung
untuk menghentikan reaksi tersebut.
7. Densitas optik (nilai OD) dari larutan dalam tabung mikro dibaca dan
ditentukan hasil-hasil pengujian.
Dengan tidak adanya antibodi dalam sampel tes, antibodi konjugat diikat dan
enzim yang ada mengaktivasikan substrat untuk menghasilkan warna. Dalam
tabung-tabung tersebut di mana terdapat antibodi dalam sampel tes, adanya
antibodi mencegah pengikatan antibodi konjugat dan terdapat sedikit atau tidak
ada ensim. Dengan demikian terdapat sedikit atau tidak ada aktivasi substrat
dan tidak ada warna yang dihasilkan.
Tipe 3 : Metodologi EIA Sandwich
Prinsip dasar dari EIA sandwich adalah sama dengan EIA antiglobulin, yakni
antibodi mengikat antigen immobil dan kemudian mendeteksi keberadaan
antibodi.
Pengujian berbeda dalam cara mendeteksi antibodi. Antigen diikat pada
permukaan tabung mikro. Serum tes ditambahkan ke tabung mikro dan
diinkubasi. Pada akhir periode inkubasi, serum tersebut dicuci dan konjugat
ditambahkan serta diinkubasi. Konjugat tersebut tidak berupa IgG anti-human
berlabel-enzim (sebagaimana dalam EIA antiglobulin), tetapi merupakan antigen
sintetik berlabel- enzim. Selama periode inkubasi, antigen konjugat mengikat
antibodi yang terikat pada antigen yang diikat pada tabung mikro. Suatu
sandwich disusun dari antigen-antibodi-antigen. Konjugat yang berlebihan
dihilangkan dan kromogen ditambahkan dengan cara yang sama sebagaimana
dalam pengujian immunoglobulin. Keuntungan utama dari tipe pengujian ini
adalah spesifisitasnya, dan mengurangi jumlah reaksi positip palsu.
Metodologi
1. Antigen diikat pada permukaan tabung mikro, sebagaimana dilukiskan di atas.
2. Serum atau serum cair ditambahkan ke tabung-tabung. Tabung-tabung
diinkubasi selama periode waktu tertentu dan pada suhu yang tepat. Selama
waktu itu, antibodi yang ada mengikat antigen.
3. Pada akhir periode inkubasi, tabung-tabung tersebut dicuci untuk

menghilangkan serum.
4. Konjugat ditambahkan kedalam tabung-tabung. Tabung-tabung tersebut
diinkubasi selama periode waktu tertentu dan suhu yang tepat. Selama waktu
itu, konjugat mengikat antibodi yang terikat pada tabung-tabung tersebut.
5. Pada akhir periode inkubasi, tabung-tabung tersebut dicuci untuk
menghilangkan konjugat yang tidak terikat.
6. Larutan substrat ditambahkan segera ke semua tabung dan diinkubasi pada
suhu tertentu, biasanya 18-25C, dan selama periode waktu yang tepat .
7. Pada akhir periode inkubasi, larutan asam cair ditambahkan ke tabung-tabung
untuk menghentikan reaksi.
8. Densitas optik (nilai OD) dari larutan dalam tabung mikro tersebut dibaca dan
ditentukan hasil-hasil pengujian.
Dalam tabung-tabung tersebut di mana antibodi terdapat dalam sampel tes,
konjugat diikat pada antibodi dan mengaktivasikan ensim untuk menghasilkan
warna.
1.2.2. Uji Elisa menggunaka
eads (butir-butir gelas)
Pengujian menggunakan bead berbeda dari pengujian menggunakan tabung
mikro dalam arti bahwa antigen tersebut dilekatkan pada permukaan bead
polystyrene. Sampel-sampel dan kontrol-kontrol dituang ke dalam wadah reaksi
plastik yang mengandung sejumlah tabung. Tabung-tabung ini semata-mata
merupakan tabung tes yang menampung berbagai reagen dan bead. Setelah
itu, bead-bead tersebut dicuci dalam tabung-tabung, dan semua zat lain
ditambahkan ke tabung. Reaksi terjadi pada permukaan bead. Zat dan prosedur
umum kemudian sama dengan pengujian tabung mikro.
Meskipun peralatan ini bekerja dalam cara yang sama pada pencuci tabung
mikro dan pembaca plate, ia dirancang untuk bekerja hanya dengan bead dan
reaksi mereka di bawah wadah.
Sebagian besar pengujian komersial memiliki presentasi tabung mikro; pengujian
yang diproduksi oleh Abbot Diagnostics adalah satu-satunya pengujian komersial
yang tersedia luas dan menggunakan format bead.
2.2.3. Uji saring untuk antigen
Uji saring untuk antigen dilakukan dengan menggunakan EIA sandwich.
Perbedaan antara uji saring antigen dan antibodi adalah bahwa uji saring antigen
menggunakan suatu sandwich antibodi-antiegn-antibodi, tidak seperti uji saring
antibodi yang mencakup sandwich antigen-antibodi-antigen (konjugat).
Antibodi (biasanya monoklonal) dilekatkan pada permukaan tabung mikro.
Serum tes ditambahkan pada tabung mikro dan diinkubasi. Pada akhir periode
inkubasi, serum tersebut dicuci dan konjugat ditambahkan serta diinkubasi.
Konjugat dalam antibodi spesifik berlabel-enzim (biasanya monoklonal). Selama
inkubasi, konjugat tersebut mengikat antigen yang terikat pada antibodi yang
dilekatkan pada tabung mikro. Suatu sandwich dibangun dari antibodi-antigenantibodi. Konjugat yang berlebihan dihilangkan dan kromogen ditambahkan
dengan cara yang sama seperti dalam pengujian antiglobulin.

Tahap pengujian dasar dijelaskan dibawah. Berbagai aspek dari teknologi EIA
umum ynag telah didiskusikan tidak diulangi disini.
1. Antibodi dilekatkan pada permukaan tabung mikro.
2. Serum atau serum cair ditambahkan ke tabung. Tabung-tabung diinkubasi
selama periode tertentu dan pada suhu yang tepat. Selama waktu itu antigen
yang terdapat pada sampel tes mengikat antibodi yang immobil.
3. Tabung-tabung dicuci untuk menghilangkan serum.
4. Konjugat ditambahkan ke tabung-tabung. Tabung-tabung tersebut diinkubasi
selama periode tertentu dan pada suhu yang tepat. Selama waktu tersebut,
konjugat mengikat antigen yang diikat ke tabung-tabung.
5. Pada akhir periode inkubasi, tabung-tabung dicuci untuk menghilangkan
konjugat yang tidak diikat.
6. Larutan substrat ditambahkan segera ke semua tabung dan diinkubasi pada
suhu tertentu, biasanya 18-25C, dan selama periode waktu yang tepat .
7. Pada akhir periode inkubasi, larutan asam cair ditambahkan ke semua tabung
untuk menghentikan reaksi.
8. Densitas optik (nilai OD) dari larutan dalam tabung mikro dibaca dan
ditentukan nilainya.
Dalam tabung-tabung di mana terdapat antigen pada sampel tes, konjugat diikat
pada antigen dan mengaktivasikan enzim untuk menghasilkan warna.
2.2.4. Menentukan hasil EIA
OD dan nilai cut-off
Densitas optik (nilai OD) dari tabung-tabung ditentukan dengan menyorotkan
seberkas cahaya dengan panjang gelombang tertentu ke dasar tabung dan
jumlah sinar yang diserap oleh larutan tersebut kemudian diukur. Ini dilakukan
pada peralatan khusus yang disebut plate reader yaitu, spectrophotometer
multi saluran yang kompleks. Plate reader dirancang untuk membaca nilai-nilai
OD dari mikro plate dengan membaca secara bergiliran nilai-nilai OD dari setiap
baris pada delapan tabung, atau membaca delapan tabung secara serentak.
Hasil-hasil dicetak secara langsung melalui plate reader dikirimkan ke mikrokomputer untuk pemrosesan data.
Hasil akhir dari EIA adalah sejumlah angka nilai-nilai OD- yang kemudian harus
dikonversi menjadi hasil-hasil positip dan negatip. Tabel 1 menunjukkan hasilhasil yang diperoleh dari pengujian anti-HIV yang dilakukan pada sampel serum
dari donor darah Inggris.
Agar dapat memanfaatkan nilai-nilai OD, nilai-nilai ini harus dibandingkan
dengan hasil standar. Ini diberikan oleh kontrol-kontrol yang ditetapkan dengan
sampel-sampel tes. Terdapat banyak cara untuk menghitung hasil, tetapi
setidak-tidaknya terdapat tiga kalkulasi yang perlu dilakukan untuk EIA. Dua
diantaranya adalah menemukan nilai rata-rata OD dari kontrol-kontrol positip
dan negatif yang agar nilainya sahih, maka harus berada dalam nilai-nilai yang
ditetapkan oleh pabrik. Akhirnya, agar dapat menentukan apakah suatu hasil
bersifat reaktif atau non-reaktif, suatu nilai yang dikenal sebagai nilai cut-off
harus dikalkulasi.
Dalam tipe EIA 1 (antiglobulin) dan tiep EIA 3 (sandwich), suatu nilai OD tinggi,
yang amenghasilkan warna, adalah hasil yang reaktif. Sementara suatu nilai OD

rendah tanpa warnam, adalah hasil non-reaktif. Oleh karena itu, nilai-nilai diatas
nilai pisah adalah hasil-hasil reaktif dan nilai-nilai di bawah nilai cut-off
adalah hasil-hasil non-reaktif.
Sampel ID A (nilai OD) B (hasil) C (rasio sinyal/cut-off)
1 0,141
2 0,158
3 0.903
4 0,161
5 0,148
6 1,321
7 1,201
8 1,098
9 0,139
10 0,173
11 0,169
12 0,145
Neg C 0,156
Neg C 0,167
Neg C 0,157
Pos C 1,352
Pos C 1,283
A = Nilai aktual OD dari sampel dan kontrol
B = Hasil-hasil positip dan negatip ( belum ditentukan
C = Rasio sinyal/pisah (cut-off) : sampel OD/pisah (cut-off) OD (belum
ditentukan)
Dalam tipe EIA 2 (kompetitif) suatu nilai OD tinggi, menghasilkan warna, adalah
hasil non-reaktif. Sementara nilai OD yang rendah, sedikit berwarna atau tidak
berwarna adalah hasil reaktif. Dengan demikian nilai-nilai di bawah nilai cut off
adalah hasil-hasil reaktif dan nilai-nilai di atas nilai cut off adalah hasil-hasil
non-reaktif.
Mimilih nilai cut off yang benar adalah sangat penting dalam mengembangkan
suatu EIA. Kalkulasi dari nilai cut off dari suatu pengujian sering didasarkan
pada nilai-nilai OD kontrol negatip. Nilai rata-rata dikalkulasi dari kontrol-kontrol
negatif rata-rata kontrol negatif (Ncm)- dan ini dimasukkan ke dalam rumus
sederhana untuk menghitung nilai cut off aktual untuk plate reader. Umumnya
rumus tersebut adalah :
Nilai cut off = Ncm + 0,2
Dalam contoh kami pada tabel 1, Ncm = 0,16. Dengan demikian hasil cut off
adalah 0,36 ( 0,16+ 0,2). Nilai-nilai OD di atas 0,36 dianggap sebagai hasil
reaktif dan nilai OD di bawah 0,36 dianggap sebagai hasil non-reaktif.
Suatu kalkulasi sederhana lebih jauh dapat dibuat yang mengkonversi nilai-nilai
OD individual ke dalam rasio standar. Ini digunakan untuk membuat
perbandingan langsung dari sejumlah piring sampel yang dites dengan
menggunakan pengujian yang sama, atau hasil pengujian kelompok sampel yang
sama dengan menggunakan pengujian yang berbeda. Rasio standar ini disebut

rasio sinyal/cut off dan dikalkulasi dengan membagi nilai OD sampel dengan
nilai pisah yang dikalkulasi. Nilai di bawah 1 menunjukkan hasil yang nonrekatif dan nilai di atas 1 menunjukkan hasil rekatif. Dalam hal EIA kompetitif,
rasio tersebut dikalkulasi sebagai rasio cut off ( nilai cut off dibagi dengan
nilai OD sampel).
2.3. PENGUJIAN AGLUTINASI PARTIKEL
Pengujian aglutinasi partikel mendeteksi adanya antibodi spesifik dengan
aglutinasi partikel yang dilapisi dengan antigen yang berkaitan. Aglutinasi
partikel telah berkembang dari hemaglutinasi, yang menggantikan sel darah
merah pembawa (carrier) dengan partikel pembawa (carrier) yang dibuat dari
gelatin atau lateks, dimana prinsipnya sama untuk hemaglutinasi dan pengujian
aglutinasi partikel. Pengujian tersebut umumnya dilakukan di mikro plate, tetapi
seperti EIA bead, tabung-tabung mikro tidak dilapisi tetapi hanya bertindak
sebagai tabung tes mini untuk membuat reaksi. Salah satu manfaat utama dari
tipe pengujian ini adalah tidak diperlukannya peralatan mahal. Pengujian ini
tidak memiliki sejumlah tahap yang berbeda, tidak memerlukan peralatan
mencuci dan dapat dibaca secara visual.
Metodologi
1. dasar dari tes adalah immobilisasi dari suatu antigen pada partikel, yang sama
seperti tabung mikro atau bead yang telah dilukiskan untuk EIA. Sumber dan tipe
antigen pada dasarnya sama untuk EIA, meskipun tidak digunakan peptida
sintetis.
2. Sampel tes dan kontrol diencerkan dengan bahan pengencer sampel. Semua
pengujian aglutinasi partikel memerlukan pengenceran terlebih dahulu dari
sampel-sampel untuk mengurangi reaksi positip palsu. Bahan pengencer dapat
menjadi sangat kompleks dalam beberapa macam pengujian dan selalu
diberikan sebagai bagian dari paket. Pengenceran dilakukan dalam tabungtabung mikro. Volume dari sampel yang diencerkan dengan tepat dipindahkan ke
suatu mikro plate yang baru untuk melakukan pengujian sebenarnya.
3. Partikel-partikel ditambahkan ke sampel yang diencerkan dan diinkubasi,
biasanya pada suhu ruang (18-25C), selama periode inkubasi yang ditetapkan,
biasanya selama 1-2,5 jam. Selama periode inkubasi, partikel-partikel
diaglutinasi dengan cara yang sama dengan sel-sel darah merah dan antibodi
kelompok darah melalui antibodi yang terdapat dalam sampel-sampel tersebut.
Pada beberapa macam pengujian, sampel-sampel dites secara duplo terhadap
partikel yang dilapisi dan kontrol. Partikel-partikel yang tidak dilapisi digunakan
untuk mengidentifikasi reaksi-reaksi non-spesifik.
4. Pada akhir periode inkubasi, hasilnya dapat dibaca. Pengujian aglutinasi
partikel umumnya dibaca dengan mata telanjang (visual) dan hasil-hasilnya
diberikan skor sebagai positip atau negatip. Pembacaan visual cocok untuk
pengujian-pengujian ini karena aglutinasi dari partikel dapat dilihat jelas dengan
mata telanjang. Jika digunakan sel-sel darah merah yang dilapisi, maka
aglutinasi sangat mirip dengan apa yang terlihat ketika serologi sel merah dibuat
di mikro plate. Jika digunakan partikel gelatin, maka mereka akan nampak
berwarna kebiru-biruan. Jika digunakan partikel lateks, maka mereka nampak

berwarna putih dan dapat dilihat jelas pada latar belakang gelap.
Suatu hasil reaktif nampak sebagai bidang datar dari partikel aglutinasi
sepanjang dasar tabung. Suatu hasil non-rekatif nampak sebagai sebuah kancing
atau cincin dari partikel aglutinasi yang berada pada pusat tabung . Hasil-hasil
ini diperoleh melalui apa yang dikenal sebagai metode diam (settle method)
dari aglutinasi partikel. Ini adalah metode yang dianjurkan oleh para pabrik
pembuat.
Metode putaran cepat
Suatu metode alternatif untuk melakukan pengujian aglutinasi partikel adalah
yang umumnya dikenal sebagai metode rapid test (rapid spin method) dari
aglutinasi partikel. Tahap-tahap awal dilakukan sebagaimana dilukiskan pada
butir 1-3 di atas dengan modifikasi. Konsentrasi partikel dikurangi sekitar 10 kali,
periode inkubasi dikurangi secara bermakna dan partikel-partikel mengalami
sentrifugasi untuk meningkatkan aglutinasi dan mengurangi waktu pengujian.
Mikro plate itu sendiri diputar pada kecepatan sedang dalam sentrifugasi standar
dengan menggunakan pembawa (carrier) piring mikro. Piring tersebut kemudian
ditempatkan pada sudut miring sekitar 70 dan dibiarkan selama 10-15 menit.
Setelah itu, hasilnya dibaca.
Meskipun demikian, dalam hal ini hasil-hasilnya berbeda. Suatu hasil reaktif
nampak sebagai suatu kancing partikel aglutinasi pada pusat tabung. Sementara
suatu hasil non-reaktif nampak sebagai suatu rangkaian partikel tidak
teraglutinasi sepanjang lereng tersebut . Meskipun metode ini bukan merupakan
prosedur standar pabrik pembuat, idapat menjadi modifikasi yang cepat, sensitif
dan murah, dan cocok bagi unit transfusi darah yang harus melakukan banyak
pengujian.
Apapun metode yang digunakan, sampel tes reaktif awal perlu diuji ulang untuk
memastikan reaksi yang sebenarnya. Pengujian tersebut harus diulangi, tetapi
dengan menggunakan partikel yang dilapisi dan tidak dilapisi. Hail-hasil yang
diperoleh adalah sama, kecuali bahwa terdapat dua tabung untuk dibaca bagi
setiap pengujian. Suatu hasil positif sebenarnya diidentifikasi melalui hasil reaktif
dengan partikel dilapisi dan hasil non-reaktif dengan partikel tidak dilapisi. Suatu
hasil negatif diidentifikasi melalui hasil-hasil non-reaktif dengan kedua tipe
partikel. Kombinasi hasil-hasil lain menunjukkan kemungkinan antibodi non
spesifik. Diperlukan kehati-hatian untuk memastikan bahwa suatu hasil nonspesifik tidak menyembunyikan hasil positif sebenarnya dalam sampel yang
sama.
Untuk memastikan agar sensitivitas maksimum dapat dicapai ketika membaca
pola-pola aglutinasi, penting untuk menyertakan sampel kontrol reaktif secara
mingguan. Sampel tersebut harus memberikan pola aglutinasi yang selemah
mungkin yang masih dapat dibaca sebagai hasil positif.
Adalah mungkin untuk membaca pengujian dengan menggunakan sistem
pembacaan otomatis. Beberapa plate reader yang digunakan untuk EIA juga
dapat dipakai untuk memantau sepanjang dasar tabung dan mendeteksi polapola reaksi dari partikel-partikel. Mesin pembaca tersebut kemudian dapat
menginterpretasikan pola-pola ini dan mengidentifikasi hasil-hasil sebagai reaktif
atau non-reaktif.

Dalam hal ini, sampel-sampel kontrol hanya digunakan untuk memberikan pola
reaksi yang sesuai. Nilai-nilai OD tidak digunakan dengan tipe pengujian ini,
bahkan bila hasil-hasil tersebut dibaca pada suatu sistem otomatis.

Validasi Reagen
1. Sampel pengawasan mutu
Setiap laboratorium yang melakukan uji saring harus juga menggunakan sampel
pengawasan mutu eksternal atau internal. Sampel-sampel ini penting dalam
usaha memantau kinerja suatu pengujian, baik dalam arti sensitivitas dan
spesifisitas keseluruhan maupun dalam memperjelas kecenderungan secara
bertahap dalam hasil-hasil yang biasanya tidak diperhatikan sehari-hari.
Sampel-sampel pengawasan mutu merupakan sampel-sampel stabil yang
disediakan oleh suatu laboratorium atau institusi independen. Sampel-sampel
pengawasan mutu internal disiapkan dalam laboratorium setempat. Sampelsampel ini merupakan serum dimana status antibodi diketahui dan memberikan
reaksi yang dapat direproduksi dan dibandingkan dengan berbagai pengujian.
Sampel-sampel pengawasan mutu HIV terdiri atas sampel-sampel negatif antiHIV, dan sampel-sampel positif reaktif lemah dan kuat. Yang penting adalah
bahwa sampel-sampel tersebut dapat distabilkan sehingga menghasilkan reaksi,
meskipun penyimpanan diperpanjang.
Sampel-sampel eksternal tidak tersedia di semua wilayah. Meskipun demikian,
sampel-sampel ini mungkin tersedia melalui pemasok perangkat pengujian. Jika
sampel-sampel pengawasan mutu diperoleh dari pemasok perangkat, maka yang
penting adalah untuk memastikan bahwa sampel-sampel tersebut tidak sematamata merupakan sampel komersial yang dapat diberikan untuk mensyahkan
pengujian pabrik pembuat. Sampel-sampel demikian mungkin tidak merupakan
sampel-sampel yang sebenarnya karena mereka mungkin telah diseleksi hanya
untuk memberikan serangkaian hasil yang berbeda dalam salah satu pengujian.
Oleh karena itu sampel-sampel tersebut mungkin tidak akan bereaksi dengan
pengujian lain yang sebenarnya lebih sensitif. Harus berhati-hati untuk
memastikan bahwa sampel yang disediakan tidak mengandung bahan pengawet
yang dapat mengganggu kinerja pengujian tersebut. Sebagai contoh, sodium
azide sering digunakan untuk mengawetkan sampel-sampel serum, khususnya
jika penyimpanan dalam jangka panjang pada suhu 4C, tetapi akan menonaktivasi peroksidase horseradish enzim yang umumnya digunakan sebagai
label enzim pada EIA komersial.
Jika sampel-sampel pengawasan mutu eksternal tidak tersedia, maka sampelsampel pengawasan mutu internal dapat dan harus disiapkan. Hal ini dapat
disiapkan dengan mudah dengan mencarikan serum positif antibodi. Serum
pengawasan mutu negatif standar juga harus dipersiapkan.
Suatu hal penting untuk diingat dalam mempertimbangkan sensitivitas dan
spesifisitas dari uji saring adalah bahwa kedua hal tersebut umumnya berkaitan

secara terbalik, yakni ketika sensitivitas meningkat, maka spesifisitas akan


menurun dan ketika spesifisitas meningkat, maka sensitivitas menurun.
Daftar Pustaka
1. Buku Pedoman Pelayanan Transfusi Darah Depkes
Modul 2 : Uji saring untuk Penyakit Infeksi
2. Buku Pedoman Pelayanan Transfusi Darah UTD PMI Pusat : Buku 4
( Lampiran ).
Kegiatan Unit Transfusi Darah Penanganan Donor dan Kepuasan Pelanggan.